Confession (?)

Liburan pun berakhir. Setelah istirahat 2 hari setelah wisata ke pantai itu, kami semua mulai bersekolah seperti biasa. Tidak ada yang spesial, hanya saja, ketika aku ke luar rumah, hujan masih turun. Debitnya memang tidak banyak, tapi tentu saja itu mempengaruhi diriku untuk melangkah keluar rumah.

"Setidaknya, biarkan aku istirahat lagi hari ini," aku membuka pintu dan segera ke luar rumah. Payung transparan yang dibelikan Kak Tomoe akhirnya kugunakan juga. Sebenarnya agak menakutkan menggunakan payung seperti ini, apalagi kalau hujan petir datang. Aku selalu kaget dengan kilatan cahayanya.

Dengan hujan yang terus turun ini, siswa sekolah kami banyak yang bersama-sama pergi ke sekolah. Beberapa rombongan melewatiku. Wajah mereka tidak menyiratkan kebosanan. Tampaknya malah menikmati suasana seperti ini.

Aku melangkah dengan malas ke dalam sekolah. Setelah menaruh sepatu dan menggantinya dengan uwabaki, dengan tergesa-gesa aku menuju kelas. Ketika aku masuk, sudah ada banyak anak yang mulai berkelompok. Mengobrol, bercanda atau bergosip.

Akhirnya aku sampai di mejaku sendiri. Setelah menaruh tas di gantungan meja, aku segera mengalihkan pandangan ke luar jendela kelas. Di langit, awan cumulonimbus berwarna abu-abu gelap bergumpal tinggi, hendak membawa hujan yang lebih besar. Aku menarik nafas.

"Sepertinya hujan akan turun lebih lebat dari kemarin. Tidak bisa pulang cepat ya," gumamku.

"Baru saja kau sampai sekolah. Kenapa tiba-tiba bilang ingin cepat pulang begitu," terdengar suara laki-laki dari depan tempat dudukku. Ia menaruh tasnya dan duduk di kursi. Ia berbalik dan tersenyum hangat.

"Oh kau sudah datang," Satoshi menyeringai. "Ada apa?"

"Tampaknya wajah bosan memang selalu menghias tampangmu itu ya, Houtarou."

Aku mengabaikannya dan melihat sekali lagi ke luar jendela. Rintik-rintik hujan turun lebih deras secara perlahan bertepatan dengan guru yang akan memulai pelajaran hari ini. Secara tiba-tiba seisi kelas hening dan menjadi kondusif.

Eru dengan wajah yang serius memerhatikan guru yang sedang membawakan mata ajar Bahasa Inggris. Ia sesekali mencatat vocabulary yang sulit dan menandainya dengan spidol warna. Terlihat indah. Namun, entah ada apa, pikirannya tidak bisa fokus dengan benar. Ada hal yang mengganggu pikirannya sejak kemarin. Ketika ia menelpon Mayaka di tengah hujan yang deras tersebut.

"Hari ini.. aku akan bertemu dengannya kan? Oreki-san, aku ingin tahu, apa perasaan ini benar tepat seperti yang dikatakan Ibara-san," ujarnya lirih di sela-sela belajar.

Enam jam pun berlalu, akhirnya sekolah selesai. Bunyi bel bergema di seluruh koridor gedung sekolah. Beberapa anak sibuk membereskan barang mereka dan memutuskan untuk pulang. Namun, karena hujan di luar belum berhenti sejak pagi. Mereka membatalkan niatnya dan memilih menunggu sembari mengobrol.

Setelah bunyi bel pulang, aku segera membereskan buku serta alat tulis yang masih ada di atas meja. Satoshi yang duduk di depanku pun berdiri dan mengatakan kalau ia ada urusan habis ini, jadi tidak bisa datang ke ruang klub. Aku mengangguk dan mengibaskan tangan seraya berkata, 'Segera pergi dari sini, Satoshi.'

Satoshi pun berlari kecil dan ke luar dari kelas. Wajahnya tampak senang sepertinya. Apa ada hubungannya dengan Mayaka ya? Gumamku dalam hati.

Setelah membuang segala pikiran itu, aku bergegas pergi dari ruang kelas dan menuju ruang klub untuk menunggu hujan berhenti. Setidaknya di sana akan lebih damai dan hening.

"Aku harus segera menyelesaikan buku ini dan mengembalikannya ke kak Tomoe hari ini. Ia sudah memperingatkanku soalnya."

Sepanjang lorong sekolah kini tidak ada orang sama sekali, anak-anak lebih memilih berdiam diri dalam ruang kelas atau klub dan mengobrol. Tidak buruk juga menjadi sepi seperti ini ya?

Tak terasa, aku sudah berada di depan pintu klub. Aku menarik nafas dan menarik pintu geser dari ruang klub. Di dalam, aku menemukan Eru yang tengah membaca sebuah buku. Wajahnya serius. Aku bertanya-tanya, apa buku itu memang butuh konsentrasi untuk dibaca ya?

Ia sama sekali tidak merasakan keberadaanku sepertinya. Aku duduk dan menaruh tas di bawah meja. Aku menatap sekeliling sebelum mulai membaca buku yang seharusnya sejak 2 hari lalu aku selesaikan.

Suasana di luar semakin mencekam. Terpaan angin dan air membuat udara lembab segera masuk ruangan. Tapi sepertinya tidak ada di antara kami yang peduli. Ia masih sibuk dengan bukunya, begitu juga denganku. Ini jarang terjadi. Sangat jarang terjadi.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore. Langit masih gelap dan hujan pun turun masih dengan deras. Tidak sedikit pun mengurangi debitnya. Aku menutup buku, melakukakn peregangan sejenak dan menguap. Tampaknya gadis di depanku ini masih belum selesai membaca ya. Aku kagum. Bahkan tidak ada tanda-tanda kalau ia bergerak seinchi pun dari tempat duduk itu. Masih tetap tenang seperti patung yang berada di samping pintu masuk kuil. Namun, sebelum aku menaruh buku ke dalam tas, dari sudut mataku, aku melihat ia menutup bukunya setelah sekian lama. Akhirnya selesai juga ya, Putri?

"Ah Oreki-san, sejak kapan kau ada di sana?" tanya Eru dengan polos.

"Satu jam yang lalu. Kau benar-benar tidak memperhatikan sekitar ya setelah asyik membaca."

"Ma-maaf," katanya dengan nada kekanak-kanakan.

Aku pun tidak mempedulikannya. "Umm.. Oreki-san, aku ingin bertanya satu hal kepadamu."

Aku menoleh ke arahnya dan mengangkat bahu, isyarat bahwa kau boleh bertanya sekarang.

"Kalau begitu aku akan memulainya," ia berdehem sebentar sebelum melanjutkan, "Oreki-san, entah apa yang terjadi kepada diriku sejak perjalanan tempo hari. Perasaanku selalu campur aduk ketika berada di dekatmu. Terkadang, wajahku pun memanas, diikuti dengan detak jantungku yang begerak lebih cepat. Kemarin aku bertanya kepada Ibara-san, kira-kira apa ya yang terjadi kepadaku. Ia diam sebentar lalu menjawab," ada jeda sejenak sebelum Eru melanjutkan. Wajahnya terlihat tidak tenang… bukan, maksudku gestur tubuhnya. Ia gugup? Ada apa ini. Matanya bergerak ke sana kemari. Apa yang mau ia katakan?

"Ia bilang, kalau aku menyukaimu, Oreki-san," katanya lugas.

Sekarang berganti diriku yang berubah menjadi tak tenang. Aku sedikit terlonjak dari tempat duduk. Aku menundukan wajah. Tampaknya Eru bingung dan bertanya kepadaku.

"Eh ada apa?" tanyanya bingung.

Ada apa? Harusnya aku yang bertanya padamu! Bisa-bisanya saja kau mengatakan itu dengan wajah tak bersalah. Harusnya ia tahu mengatakan itu di depan seorang laki-laki… hal yang canggung. Aku terbatuk sebentar dan mengangkat wajahku. Menatap sebentar wajah Eru lalu kembali menunduk.

"Celaka! Wajahku pasti memerah barusan!" gumamku dengan hati-hati.

Aku menarik nafas dan mengumpulkan keberanianku. Kini saatnya aku yang harus mengatakan sesuatu. Aku berdehem.

"Itu hanya perasaanmu saja. Ya, hanya perasaanmu saja," kataku dengan tidak yakin. Jantungku berdetak semakin cepat dan aku rasa sebentar lagi meledak berkeping-keping.

"Perasaanku saja ya… mungkin kau benar, Oreki-san. Maaf telah membuatmu mendengar hal yang tidak penting dariku."

Ia menunduk sekali dan tersenyum kepadaku.

Ah, aku tidak siap mendengar hal ini.

Sial kau Mayaka!