CHAPTER 3

Senin

Pria kecil itu kini menjauhiku. Dia bahkan pindah tempat duduk di dekat Jongin. Dia juga membuang bento buatanku. Dia hanya makan dan bermain bersama Jongin. Pria kecilku sudah benar-benar membuangku. Ha ha. Aku merindukan Sehun kecilku.

.

Luhan memegangi kepalanya yang berdenyut. Efek yang akan ia terima setiap kali selesai membaca tulisan Baekhyun. Ada satu hal yang tidak dimengerti Luhan yang membuat ia begitu tertarik dengan catatan hati Baekhyun di buku hariannya.

Besok adalah minggu keduanya di sekolah. Semua tulisan Baekhyun yang ia baca beberapa hari yang lalu membuat Luhan semakin penasaran dengan sosok Sehun. Semua tulisan itu menceritakan betapa Sehun sangat membenci Baekhyun. Bagaimana pun juga, Luhan yakin jika Sehun memang mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Baekhyun seperti yang dikatakan Yixing.

.

.

Lupa mengganti baterai jamnya yang mati, pagi ini Luhan mengerang di sepanjang jalan karena harus berlarian menuju sekolahnya yang akan dimulai sepuluh menit lagi. SEPULUH MENIT?

Siswa sekolah menengah atas itu semakin brutal berlari ketika mengintip jam tangan di lengan kirinya. Hell! Bisakah ia memberhentikan waktu untuk saat ini saja? Atau seseorang yang baik hati mau memberinya tumpangan ke sekolahnya. Oh, Luhan itu belum pernah terlambat datang ke sekolah sejak kepindahannya di Seoul. Itu sebabnya ia begitu panik dan khawatir. Ditambah lagi, sekolahnya yang sekarang terkenal sangat disiplin.

Seragam Luhan sudah dibasahi peluh dan lututnya sudah sangat sakit. Anak itu menyerah ketika melihat pintu gerbang sekolahnya ditutup rapat. Yap. Luhan terlambat. Dia menyeret langkahnya mendekati gerbang. Memukul-mukul kecil besi yang menjulang tinggi itu sambil memohon belas kasih dari ahjussi berseragam hitam di dalam.

"Ahjussi, bisakah kau bukakan pintu gerbangnya?! Aku ini anak baru. Ahjussi!"

Lelaki di balik pintu gerbang itu tak menggubris sedikit pun. Luhan mendesah kecewa. Menyandarkan punggunggnya di dinding sambil mengipasi lehernya.

"Ahjussi! Kumohon!"

"Ahjussi!"

"Ahjussi apa kau tidak kasihan padaku? Aku berlari sangat kencang untuk sampai ke sini."

Dug. Dug.

"Ahjussi!" Luhan mendengus sebal.

Luhan berpikir sebaiknya dia pulang saja. Pak tua di gerbang itu benar-benar tidak terlihat ingin membantunya. Luhan menekuk wajahnya dan menggerutu.

"Dasar menyebalkan." Cibirnya.

"Aku bisa membawamu masuk, jika kau mau."

"E-eh?" Luhan mendongak. Dilihatnya sosok jangkung berambut hitam berdiri di depannya. Luhan menoleh ke sisi kanan dan kirinya untuk memastikan jika sosok itu bicara dengannya.

"A-apa maksudmu?"

"Ikuti aku jika ingin masuk!" Belum sempat Luhan menjawab, si pria jangkung itu sudah berjalan mendahuluinya. Berjalan ke arah barat gedung sekolahnya. Tanpa pikir panjang, Luhan mengekor di belakangnya.

Aku pikir tadi itu guru. Luhan menggaruk tengkuknya dan tertawa kecil.

Awalnya Luhan kira anak itu akan menyogok si ahjussi tua itu supaya mau membukakan pintu. Tetapi dia malah membawanya berputar. Mungkin dia punya jalan rahasia, pikirnya. Tak lama, lelaki yang Luhan sinyalir sebagai siswa –dilihat dari baju seragamnya– itu berhenti. Dari balik punggung siswa itu Luhan mengintip. Sebuah gerbang kecil dengan cat yang memudar dan sedikit berkarat tersembunyi di balik semak-semak.

"Wuaah.." Luhan berkedip beberapa kali –takjub. Dia menduga siswa jangkung itu pasti sering sekali terlambat. Saat pria itu memberi glare, Luhan buru-buru menunduk. Apa dia membaca pikiranku?

Setelah Luhan masuk, siswa jangkung itu kembali menutup 'pintu rahasianya'. Dia kembali berjalan mendahului Luhan.

"H-hey!" Luhan menarik pelan ujung seragam siswa jangkung itu. Pemuda itu berbalik.

"Eum, terima kasih, ya..Park-Chan-Yeol-ssi." Ujar Luhan sambil mengeja tulisan di nametag siswa yang lebih tinggi darinya.

"Sebaiknya cepat naik ke kelasmu."

Luhan mengangguk dan tersenyum, "Aku berhutang padamu."

Luhan melambai saat tubuh pemuda itu kembali berbalik dan berjalan mendahuluinya.

"Cepat sekali jalannya." Siswa manis itu kemudian mengeratkan ranselnya dan menarik langkahnya cepat.

"Seonsaengnim pasti sudah masuk kelas."

.

.

.

"Lu? B-bagaimana kau bisa masuk?" Yixing menatapnya heran. Luhan kini sudah meletakkan bokongnya di atas kursi sambil mengibaskan tangannya di depan wajah.

"Maksudmu?"

"Kau terlambat tiga puluh menit-"

"Aku terlambat lima belas menit, Yixing!" potong Luhan.

"Sekarang sudah jam delapan, astaga!" Yixing memutar bola matanya.

Luhan melihat jam tangannya kemudian mengangguk, "Kau benar. Hehe."

"Dan pak tua itu mengizinkanmu masuk?"

"Aku tidak bilang dia mengizinkanku masuk." Luhan melonggarkan dasinya dan kerutan di kening Yixing semakin dalam.

"Ahjussi itu sangat menyebalkan!" Yixing mengangguk setuju. Selama ini tidak ada murid yang diizinkannya masuk jika sudah melewati pukul tujuh tiga puluh.

"Lalu?" Yixing menggaruk kepalanya. Omongan Luhan yang berbelit-belit semakin membuat otaknya keriting.

Siswa yang lebih cantik tersenyum jahil, menggerakkan jari telunjuknya –mengisyaratkan Yixing untuk mendekat.

"Kau ingin tahu?"

Yixing mengangguk dengan mata berbinar. Yixing berpikir, mungkin dia bisa melakukan cara yang sama dengan Luhan jika suatu saat ia terlambat.

"Itu..."

Yixing berkedip, menunggu Luhan menyelesaikan kalimatnya.

"Rahasia."

Yixing langsung menarik kepalanya menjauh. Ditatapnya Luhan yang tertawa puas dengan bibir mengerucut.

"Kau menyebalkan, Lu!"

"Hahaha, maaf, Xing-ah! Wajahmu lucu sekali saat sedang penasaran. Hehe."

Yixing menangkup wajahnya di atas meja. Keningnya berkerut lagi. Dia seperti telah merasakan peristiwa seperti ini sebelumnya. Bahkan sering.

"Luhan-ah!" Luhan itu..

"Kau seperti Baekhyun." Ujarnya kemudian.

"Eh?" Luhan mengangkat alisnya bingung.

"Dulu Baekhyun juga sering terlambat, tapi dia selalu selamat sampai ke kelas."

"Benarkah?"

Yixing mengangguk, "Aku juga baru ingat."

Luhan ingin sekali membalikkan tubuhnya, menghadap kursi Baekhyun yang ia punggungi. Tapi ia takut kalau-kalau Baekhyun muncul lagi seperti biasanya. Walau pun Baekhyun sudah sering menampakkan diri, tetapi Luhan tetap saja takut. Baekhyun yang ia lihat adalah hantu.

"Ah, omong-omong, di mana seonsaengnim?"

"Lee Seonsaengnim tidak masuk kelas karena sakit perut."

.

.

.

"Hey, Jong! Kemana Sehun?" siswa yang lebih pendek dari Jongin melingkarkan lengan kanannya di pundak pemuda tan itu.

"Tidak tahu. Pergi ke atap, mungkin." Jongin mengaduk makanannya tanpa selera. Duduk dan makan sendirian itu tidak enak, itu yang Jongin rasakan.

Kim Jongdae –pemuda itu– mengangguk mengerti. Ia menepuk pundak Jongin pelan sebelum mengeluarkan ponsel dari sakunya.

"Hey, Jongin-ah! Sehun yang sekarang, bukankah sangat menyebalkan?" Jongdae mengusap lehernya dengan tangan kiri, sedangkan tangan yang satunya sibuk berkutat dengan ponselnya. Jongin hanya tertawa kecut sebagai respon. Ia meraih jus apelnya dan menyesapnya sedikit. Jongin sungguh tidak tertarik dengan topik pembicaraan Jongdae.

"Oh Sehun berubah sedingin es semenjak kepergian Baekhyun." Kini Jongdae terlihat sibuk dengan ponselnya, mengabaikan Jongin yang mulai menatapnya tidak suka.

"Aneh sekali." Jongdae melirik Jongin sekilas dan tertawa kecil.

"Bukannya dia benci Baekh-"

"Kau tahu apa tentang Sehun, eh?"

Jongin menggebrak mejanya sebelum pergi meninggalkan Jongdae. Ucapan dan nada bicara Jongdae terdengar tidak menyenangkan. Dan Jongin tidak suka mendengarnya. Keributan itu menyebabkan beberapa pasang mata di kafetaria memperhatikan Jongdae. Jongdae mendengus sebal.

"Ada apa dengannya?"

.

.

"Kau tahu apa tentang Sehun, eh?"

Luhan menoleh. Jongin terlihat kesal dan pergi meninggalkan seorang siswa di mejanya. Luhan lihat tangan Jongin mengepal kuat saat berlalu di sampingnya.

Sehun?

Luhan hampir lupa dengan Sehun. Beberapa hari belakangan Sehun jarang menampakkan batang hidungnya. Terakhir kali, hari jumat yang lalu. Mereka saling melempar glare masing-masing saat berpapasan di tangga.

Lalu? Apa peduli Luhan? Luhan mengedikkan bahu dan beranjak dari kursinya. Menenggak softdrink gratis dari Yixing dan berjalan santai meninggalkan kantin menuju kelasnya.

"Kau seperti Baekhyun."

Luhan menarik sudut bibirnya. Sejak tadi, kata-kata Yixing terus berputar di pikirannya.

"Dulu Baekhyun juga sering terlambat, tapi dia selalu selamat sampai ke kelas."

Luhan tertawa kecil dan mengusap hidungnya.

"Lucu sekali. Apa Baekhyun juga tahu mengenai pintu rahasianya Chanyeol?" Luhan meremas kaleng softdrink-nya.

DEG.

"Astaga!"

Siswa yang meremas kaleng minuman waktu itu, bukankah Park Chanyeol?

Luhan menghentikan langkahnya. Mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Bukan, bukan! Siswa meremas kaleng minuman itu tidak spesial. Yang membuatnya berjengit adalah Byun Baekhyun. Waktu itu jelas sekali ia melihat Baekhyun berdiri di belakang Chanyeol.

Luhan buru-buru memutar langkahnya. Tetapi tubuh yang lebih kecil –yang tiba-tiba muncul dari balik pintu– menabrak atau ditabraknya.

"Ah, maafkan aku!"

Kaleng softdrink Luhan jatuh. Itu bukan masalah. Masalahnya adalah seragam anak yang ditabraknya itu kini terkena noda merah dari minumannya.

"M-maaf, aku tidak melihatmu." Luhan membantunya menepuk-nepuk noda merah di kemeja putihnya.

"Gwaenchana!" siswa mungil itu tersenyum.

"K-Kyungsoo?"

Pemuda mungil itu mendongak, menatap Luhan.

"Eoh? Kau mengenalku?"

Luhan mengangguk, "Aku siswa baru di kelas sebelah. Kau sangat familiar karena sering mondar-mandir di kelasku."

"Begitukah?"

Luhan kembali mengangguk, "Mari bersihkan di kamar mandi!" ajak Luhan dan Kyungsoo mengangguk.

.

.

"Jadi namamu Luhan?" Kyungsoo membuka kancing kemejanya setelah Luhan menyuruhnya.

"Yep."

Kyungsoo mengangguk. Melepaskan kemejanya dan memberikannya pada Luhan. Siswa cantik itu kemudian membasahi kemeja Kyungsoo yang terkena noda dengan air keran.

"Kyung...aku turut berduka atas Baekhyun." ujar Luhan pelan.

Kyungsoo tersenyum tipis sembari memasang blazer di bahunya.

"Terima kasih."

"Aku dengar Baekhyun adalah siswa yang baik. Pasti senang sekali jika bisa berteman dengannya."

Kyungsoo mengangguk. Merapatkan blazernya. Dia sudah hampir menangis mengingat Baekhyun. Semua ingatannya mengenai sahabatnya. Dia, merindukan Baekhyun.

"Aku pindah satu hari setelah- Astaga, Kyung? Kau menangis?" Luhan menangkup pipi Kyungsoo yang mulai basah.

"Maaf, Kyungsoo, aku..."

"Tidak, Lu! Aku baik." Kyungsoo menghapus air mata di pipinya kemudian tersenyum.

"Aku hanya merindukan Baekhyun."

Flashback on.

.

Siang itu Baekhyun menapaki anak tangga menuju atap. Kedua tangannya penuh memegang tempat makan dan botol air minum. Setelah berhasil memutar kenop pintu, ia berjalan pelan menapaki lantai beton di bawahnya. Semilir angin dan harum musim semi langsung menyambutnya, menggetarkan helai poni karamelnya.

Baekhyun menyeret langkahnya, mencari seseorang yang pasti sudah menunggunya di sana. Dia tersenyum lembut ketika menemukan sosok berambut pirang itu duduk membelakanginya sambil menekuk lutut. Menyembunyikan kepalanya di atas lutut. Baekhyun melangkahkan kakinya mendekati pemuda itu.

"Hiks.."

DEG.

Senyumnya yang manis menghilang. Baekhyun menarik kembali tangannya yang hendak menyentuh pundak pemuda itu.

"Hiks."

"Hiks."

Bahunya pemuda pirang itu bergetar. Menandakan jika pemiliknya tengah menangis saat ini.

"Hiks."

Baekhyun menggigit bibirnya. Matanya ikut bergetar. Dadanya sesak mendapati sosok yang lebih muda darinya itu terisak.

"Hiks."

Tanpa sadar, Baekhyun menarik langkahnya menjauh. Meninggalkan pemuda tampan itu sendirian.

"Hiks."

Maaf, Sehun-ah.

.

"Baekhyun hyung..Hiks."

.

.

TBC

Huuaaah, mian mian -/\- I'm so sorry for this late update :p

aku sebenernya udah mau update chapter ini dari kemaren-kemaren. tapi tunggu punya pulsa modem dulu. wkwk

Well, i'm so thankfull for you all that reviews this story. Ha ha. maafkan daku tidak bisa membalasnya satu per satu!

Then, review this too, Okeh?