CHAPTER 5
.
.
Hari ini meja Baekhyun sudah dibersihkan dari bunga-bunga dan bingkai foto Baekhyun. Luhan membantu Kyungsoo membereskannya. Termasuk loker Baekhyun. Dan sepulang sekolah nanti Kyungsoo berjanji mengajaknya ke rumah duka dan pemakaman Baekhyun.
"Baekhyun pasti sangat senang jika mendapat teman baru sepertimu, Lu." Luhan tersenyum lembut dan mengacak pelan rambut Kyungsoo.
"Aku juga senang, bisa bertemu denganmu dan Baekhyun." Kali ini Kyungsoo tertawa.
"Andai kau benar-benar bertemu Baekhyun."
Luhan menatap Kyungsoo yang tersenyum ke arahnya. Aku memang bertemu Baekhyun.
Luhan kemudian melambai pada Kyungsoo yang memasuki kelasnya. Dia juga harus masuk kelas. Luhan membenahi poninya sembari berjalan menuju kelasnya. Dan di sanalah dia melihat Oh Sehun sedang memandang ke arahnya. Masih dengan ransel yang menggantung di bahunya. Luhan yakin Sehun baru saja datang.
Dengan kikuk Luhan berjalan ke arah Sehun. Tidak. Dia berjalan ke kelasnya. Dan iris hazel Sehun yang dingin masih terus memandangi Luhan. Membuat wajah Luhan tiba-tiba bersemu. Luhan tidak berani melihat ke arahnya ketika ia berjalan di depan Sehun. Dia hanya berlalu begitu saja, meninggalkan Sehun di ambang pintu.
Greb.
"Akh." Luhan memekik kesakitan saat Sehun dengan tiba-tiba menarik paksa lengan kirinya
"YA! Apa yang kau lakukan, eoh?" Luhan memberontak, tetapi kalah kuat dengan Sehun yang terus menahannya.
"Dari mana kau dapatkan ini?!" tanya Sehun dengan suara tegas namun dingin sembari menunjuk benda yang melingkar di jari manisnya.
"A-apa?"
Bel masuk berbunyi dan beberapa anak di sekitar kelas berbisik keras sambil memerhatikan mereka –yang berdiri di depan pintu masuk. Sehun menatap dingin ke arah teman-temannya sebelum menarik Luhan menjauh. Luhan hanya mengerang dan memberontak kecil ketika Sehun memperlakukannya dengan sangat kasar. Dia tidak tahu Sehun akan membawanya kemana atau akan diapakan ia oleh Sehun. Ini menjelaskan seberapa kasar seorang Oh Sehun sebenarnya. Mungkin lebih parah untuk Byun Baekhyun.
"Itu sakit, Oh Sehun! Lepas!"
Bruk!
Sehun mengurungnya di tembok. Luhan meneguk ludahnya karena wajah Sehun yang begitu dekat dengan wajahnya. Luhan hanya bisa menunduk dan mendorong kecil dada Sehun agar memberinya sedikit ruang. Hell! Pipinya kembali memanas.
"Tidak kusangka kau akan bertindak sejauh ini, Xi Luhan!"
"Apa yang kau katakan?"
Sehun kembali menarik tangan kiri Luhan.
"Kau bahkan mencuri cincinnya!"
"Mwo?"
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah menyukaimu, asal kau tahu!"
Luhan tertawa merendahkan. Dia mendorong bahu Sehun dengan keras hingga ia melepaskan kurungannya.
"YA! Kau pikir kau ini siapa, eh? Bangsawan hebat? Pewaris tahta kerajaan? Tch, Bahkan aku tidak lebih memandangmu sebagai anak kecil yang membutuhkan kasih sayang."
Deg.
Tangan Sehun mengepal. Dia benar-benar tidak menduga jika Luhan akan mengatakan hal semacam itu. Sehun menatap benci pada Luhan, begitupun sebaliknya.
"Dan oh, cincin ini? Jika aku bilang Baekhyun yang memberikannya padaku, apa kau percaya?" Luhan melipat tangannya di depan dada. Entah kenapa, moodnya dengan Sehun kembali memburuk. Tetapi tatapan mata Sehun saat ini jauh lebih buruk daripada moodnya.
"Hentikan semua bualanmu tentangnya!" Sehun berkata sedingin es. Luhan bisa merasakan betapa tajamnya suara Sehun. Tangan Sehun masih mengepal, seperti siap untuk melepaskan tinju kapan saja.
"Aku tidak berharap kau mau mempercayaiku. Tapi aku bukan orang yang seperti itu." ujar Luhan kemudian.
"Aku tidak sedang mengerjarmu untuk itu."
Kepalan tangan Sehun mengendur. Sehun masih diam dan memerhatikan kalimat yang keluar dari bibir mungil pemuda di depannya.
"Dia ada di sana saat ini."
Deg.
Sehun gemetar di tempatnya. Luhan menunjuk ke arah belakang Sehun dan Sehun menjauh beberapa langkah tanpa menoleh. Luhan kembali berdecih, kemudian maju untuk menarik kerah pemuda yang lebih tinggi di depannya. Mendekatkan bibirnya ke telinga pemuda pirang itu.
"Aku bisa melihat Baekhyun!" bisik Luhan di akhir sebelum memutuskan untuk meninggalkan Sehun sendirian.
.
Luhan tidak berbohong saat mengatakan jika ia melihat sosok Baekhyun yang berdiri di belakang Sehun. Baekhyun benar-benar berada di sana.
.
.
.
Luhan dan Sehun dipanggil ke ruang bimbingan konseling ketika jam istirahat. Ini semua karena mereka membolos jam pelajaran matematika Ahn Seonsaengnim. Dan ini semua salah Oh Sehun.
"Jika kalian membolos karena berkencan sekali lagi, aku tidak akan segan untuk memberikan sanksi berat kepada kalian!"
Luhan sempat mencuri pandang pada Sehun. Berkencan? Dengan orang bengis itu? Hell, no! Sehun memberikan glare pada Luhan dan Luhan membalasnya. Tapi setelahnya Sehun mencari jalan aman dengan memberi hormat kepada sosok paruh baya di depan mereka. Dan Luhan kembali mengikuti.
"Algeseumnida." Ujar mereka kemudian.
Sehun berjalan keluar lebih dulu. Luhan tahu anak itu pasti ingin berjemur di atap. Sedangkan Luhan memilih untuk kembali ke kelasnya. Tidak. Ada tempat yang lebih menyenangkan. Luhan menarik sudut bibirnya dan melesat pergi.
Luhan menyapu pandangannya ke setiap koridor yang ia lalui. Sepertinya dulu ia lewat sini saat..
"YA! Park Chanyeol!" Luhan melambai dengan senyum yang lebar. Dilihatnya Chanyeol sedang duduk santai di kursi tempat pertama kali Luhan melihatnya. Tidak ketinggalan sekaleng minuman ringan di tangannya. Luhan segera menghampirinya.
"Mau apa kau ke sini?" Chanyeol melipat tangannya di depan dada.
"Ya?" Luhan yang sudah duduk di samping Chanyeol mengernyit heran.
"Jangan berpikir jika kita ini berteman ya!"
"Apa?" mata Luhan membulat.
"Aku ini hanya empati melihatmu!"
"O-oh, baiklah!" Yang benar saja!
Luhan bangkit dari duduknya dan hendak pergi, tapi Chanyeol menahannya. Dan tawa bodoh itu kembali menggelegar dari mulut lelaki bermata bulat itu.
"Tapi aku mengizinkanmu duduk di singgasanaku kali ini!" Chanyeol mendudukkan Luhan kembali, tapi Luhan masih cemberut.
"Permaisuri yang dulu suka strawberry. Kau ingin apa?"
Luhan tertawa dan memukul pundak Chanyeol. Orang ini sudah gila.
"Aku mau melon."
Dan kemudian Chanyeol bangkit, merusak tatanan rambut coklat madu Luhan, lalu berjalan ke arah mesin penjual minuman otomatis di dekat sana.
"Satu kaleng jus melon segar untuk Xi Luhan yang cantik!"
Luhan merasakan pipinya memanas. Dia mudah sekali bersemu. Dia mengambil minuman dari tangan Chanyeol dan langsung meminumnya.
"Oh, Lu. Lupakan bagian akhirnya. Itu untuk permaisuri."
"Sial!" Luhan meninju bahu Chanyeol dan mereka tertawa bersama.
Mereka berdiaman beberapa saat. Lalu Luhan memecah kesunyian untuk sekedar bertanya. Pertanyaan yang sudah lama ingin ia tanyakan pada Chanyeol.
"Yeol, bolehkah aku bertanya?"
"Hm."
"Permaisurimu itu...apakah-"
"Namanya Byun Baekhyun. Kau pasti mengenalnya. Dia sekelas denganmu andai dia tidak-" Chanyeol menghentikan kalimatnya. Matanya mulai tidak fokus menatap rumput hijau di bawahnya. Ia menarik napas dalam lalu membuangnya.
"Haah~ sudahlah."
Luhan bisa melihat mata Chanyeol yang berkaca-kaca menahan tangis. Pemuda cantik itu mengelus punggung Chanyeol, memberi sedikit kekuatan. Mereka semua menyayangi Baekhyun.
"Hey, Yeol! Aku menyimpulkan kau ini mempunyai dua kepribadian. Aku menamakannya, Si Idiot yang menyebalkan dan Si Cengeng yang sangat menyebalkan."
"Sial!"
Dan mereka kembali tertawa seperti orang bodoh. Jadi, siapa lagi Chanyeol ini, Byun Baekhyun?
...
Flashback on.
"Dasar payah! Begitu saja sudah lelah."
"Apanya yang begitu saja? Kau berat sekali Hyung!"
"Tch, dasar bocah sialan! Cepat kayuh. Aku tidak mau Eommaku marah-marah lagi."
"Kalau begitu kau saja yang kayuh! Aku sudah lelah."
"Oh, baiklah. Dan jangan pernah mengajakku lagi bermain sepeda!"
Pemuda berkulit pucat itu kemudian diam. Dia tetap mengayuh sepedanya walau pipinya menggembung.
"Kau tidak mau menurunkanku? Katanya kau lelah?"
Sehun tidak menjawab. Dia tetap mengayuh sepedanya dengan sekuat tenaga dan peluh di pelipisnya. Dan di balik punggungnya, lelaki yang lebih tua beberapa bulan darinya itu mulai tersenyum lembut. Semakin mengeratkan pegangannya di perut Sehun dan menenggelamkan kepalanya di punggung Sehun. Membuat yang lebih muda berhenti menggembungkan pipinya. Dan tersenyum senang.
.
.
.
Kyungsoo mengajak Luhan ke pemakaman Baekhyun setelah lebih dulu mengunjungi rumah duka Baekhyun untuk menaruh beberapa barang pribadi milik Baekhyun. Luhan membawakan seikat Bunga Lily segar untuk Baekhyun dan menaruhnya di atas nisan. Kyungsoo terlihat sedang menyatukan kedua tangannya dan memejamkan mata. Dia sedang berdoa. Dan Luhan mengikuti.
Beberapa saat mereka lewati dalam hening. Bergelut dengan pemikiran masing-masing yang saling menutup matanya.
"Baek, Luhan ini teman sekelasmu." Luhan membuka matanya saat mendengar suara Kyungsoo. Pemuda itu menatap Kyungsoo dengan senyum terbaiknya. Ada sedikit air di sudut mata Kyungsoo. Matanya yang bening dan bulat itu tidak cocok untuk memancarkan kesedihan. Luhan benci melihatnya. Dan berpasang-pasang mata lainnya yang juga memancarkan kesakitan. Termasuk Sehun dan Chanyeol.
Kemudian ia beralih pada gundukan tanah di depannya. Memandangnya dengan tatapan hangat.
"Hai, Baekhyun-ah." Luhan bersimpuh di depan nisan Baekhyun, lalu berbisik pelan yang membuat kening Kyungsoo yang tidak dapat mendengarnya berkerut.
"Aku ingin bertemu denganmu."
.
.
.
Luhan menyesap kopi panasnya kembali. Lalu mendesah lelah. Ia memandangi kaleng kopinya yang entah mengapa lebih menarik daripada pemandangan senja di taman kota. Setelah dari pemakaman Baekhyun, Luhan tidak langsung pulang ke rumahnya. Berjalan-jalan di sore hari sepertinya tidak buruk, dan Luhan memilih menyendiri di salah satu bangku taman yang sepi pengunjung.
Luhan bersandar di leher kursi. Pandangannya beralih pada cincin di jari manisnya. Ia mengangkat tangannya, menerawang dalam cincin perak tanpa ukiran yang dia sendiri tidak mengerti mengapa bisa ada bersamanya. Pertanyaan-pertanyaan yang seperti benang kusut kembali berputar di dalam otaknya. Tentang bagaimana ia bisa melihat seseorang yang telah meninggal. Tentang bagaimana ia bisa mengenal jauh orang-orang yang bahkan baru ditemuinya. Tentang...tentang segala hal yang berkaitan dengan Byun Baekhyun yang bahkan tidak pernah dijumpainya di masa lalu. Di saat dirinya masih hidup dan tertawa dengan bahagia.
Hanya berjalan beberapa jam setelah ia resmi menjadi siswa kelas dua di SMA barunya dan hidupnya berubah.
Sinar jingga yang menyilaukan mata dari mentari senja merambat ke sekitar Luhan. Segalanya menjadi keemasan yang indah. Dan di sanalah tiba-tiba Luhan melihatnya dari balik sela-sela jarinya. Luhan menurunkan perlahan tangannya. Memandang fokus pada sosok bayangan manis yang memancarkan cahaya putih beberapa meter di depannya.
"B-Baekhyun?"
Luhan mengerjap kagum. Sosok yang bercahaya itu tersenyum lembut ke arahnya. Dengan bibir yang merah dan kulit seputih salju. Itu adalah Baekhyun. Benar-benar Baekhyun. Byun Baekhyun yang dicintai Sehun.
"Luhan-ah...aku membutuhkanmu." Suara Baekhyun yang begitu lembut seakan menggema di telinganya.
Tapi dia memudar, sesaat setelah mentari di balik tubuhnya tenggelam.
.
"Baekhyun-ah!"
Luhan mengerjabkan matanya. Meneliti sekeliling yang terlihat begitu gelap dengan hanya satu penerangan lampu taman. Tangannya masih menggenggam kaleng kopinya yang sudah dingin. Luhan menggeliat. Merenggangkan otot-ototnya yang kaku.
"Bagaimana bisa aku tertidur saat meminum kopi?" Luhan menggeleng heran kemudian beranjak dari kursi taman. Pemuda cantik itu mengeratkan ranselnya setelah membuang bekas kopinya ke tempat sampah. Tak lama ia menoleh, kemudian menggeleng pelan dan tersenyum.
...
Hari ini hujan. Jadi Luhan harus memakai mantelnya dan membawa payung ke sekolah. Hujannya cukup deras saat Luhan memandangnya dari balik jendela bus yang sedikit buram oleh titik-titik air. Bus yang membawanya ke sekolah juga berjalan lebih lambat dari biasanya. Pemuda cantik itu menikmati pemandangan luar yang dipenuhi oleh pejalan kaki yang membawa payung. Beberapa terlihat begitu kedinginan dengan mantel tipis dan jas hujan. Beberapa memasuki sebuah kedai kopi terkenal di dekat sana, mencoba mendapat sedikit kehangatan. Mereka semua berjalan tergesa-gesa di bawah guyuran hujan. Luhan mengeratkan mantelnya. Ia juga merasakannya. Pagi ini terasa begitu dingin.
Jemarinya yang dingin mengetuk-ketuk kaca jendela di sampingnya. Ia meneliti jam analog yang melingkar di lengannya sekilas, lalu kembali memandang ke luar jendela. Tiba-tiba matanya melebar saat melihat seseorang yang familiar berdiri di salah satu teras pertokoan yang baru saja buka. Luhan berdiri dan meminta agar segera diturunkan. Dia tidak berpikir lagi, hanya naluri yang menuntun langkahnya berdiri di atas genangan air saat pintu bus mulai terbuka.
Luhan membuka payungnya dan segera berlari menembus derasnya air hujan. Beberapa titik air mengenai wajah dan matanya, juga cipratan air bercampur lumpur yang mengenai celana panjangnya. Luhan tidak peduli. Ketika sosok itu semakin jelas di matanya, Luhan memanggilnya dengan lantang.
"OH SEHUN!"
Tak ada yang menggubris. Suaranya sedikit tertelan kerasnya deru air hujan yang menghantam aspal. Ia lihat Sehun menudukkan kepalanya. Tidak peduli dengan orang-orang yang mengumpat karena ditabraknya, Luhan semakin mempercepat langkahnya.
"YA! OH SEHUN!"
"SEHUN-AH!"
Tap.
Luhan berhenti di depan pemuda pucat itu. Tangannya mengerat di gagang payungnya. Sehun masih menunduk dan tidak menyadari kehadirannya. Beberapa helai rambut pirangnya basah. Mantel birunya juga sedikit basah. Luhan kemudian mendekat dan menurunkan payungnya, berlindung di atap toko yang sama dengan Sehun.
"Sehun-ah."
Sehun perlahan mengangkat kepalanya, membuat kedua pasang mata itu bertemu. Sehun tidak terkejut. Mereka hanya bertatapan satu sama lain. Entah kenapa dada Luhan serasa diremas. Ia yakin itu adalah air mata. Tapi tidak ada satu pun yang jatuh di pipinya. Sehun menahannya habis-habisan.
"Menangislah selagi kau bisa." Suara halus Luhan memecah keheningan yang mereka ciptakan beberapa menit yang lalu.
Telapak tangan Sehun mengerat. Tatapannya tetap dingin walau matanya sedikit memerah. Luhan kembali mendekat satu langkah.
"Menangislah, Sehun-ah!"
Sehun tidak mengerti kenapa tinjunya justru melunak. Ia memandang Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan. Hanya sorot matanya yang terlihat memohon. Sorot mata dinginnya yang terlihat kesakitan. Dia butuh tumpuan. Dia butuh..
Pemuda itu perlahan mendekat, lalu menarik pinggang sempit Luhan. Menenggelamkan kepalanya di bahu pemuda yang lebih cantik dan mengeratkan pelukannya. Semua hanya mengalir seperti air tanpa penolakan.
Luhan bisa mencium aroma mint khas Oh Sehun. Tubuhnya terasa lebih berat karena Sehun yang bertumpu padanya. Luhan melepas gagang payung yang sedari tadi dipegangnya dan mulai mengelus punggung pemuda yang lebih tinggi. Membiarkan payung kesayangannya terbang tersapu angin. Yang dia tahu hanyalah Oh Sehun yang menangis tanpa suara di bahunya.
"Aku bilang menangislah, Oh Sehun!"
Dan itulah pertama kalinya Luhan mendengar isakan pilu dari seseorang bernama Oh Sehun. Yang terlihat dingin di luar tapi rapuh di dalam, bagaikan selapis kristal es yang akan hancur kapan pun kau akan menyentuhnya.
Mereka lupa, pada perselisihan yang mereka buat beberapa hari yang lalu. Hanya saling menyamankan dekapan satu sama lain dan berbagi kehangatan, khususnya memberi kehangatan di hati Oh Sehun.
.
.
.
Sehun duduk terdiam tanpa menyentuh gelas latte-nya sama sekali. Bibirnya pucat, menyaingi kulitnya. Matanya masih tertunduk ke bawah. Enggan menatap anak yang duduk di seberang mejanya. Luhan hanya menggigiti bibirnya tanpa tahu harus berbuat apa. Lima belas menit yang lalu, setelah hujan reda, Luhan membawa pemuda itu ke kedai kopi kecil. Mereka duduk di sudut, dekat jendela besar dan belum memulai sebuah pembicaraan sampai saat ini. Luhan tidak berani membuka mulutnya untuk sekedar bertanya apa Sehun dalam keadaan baik saat ini. Itu adalah pertanyaan retoris. Pada akhirnya yang dilakukan pemuda cantik itu hanyalah menyesap kopi mocca-nya sampai habis.
"Kau masih memakainya?"
Luhan menoleh saat sebuah suara masuk ke dalam pendengarannya, "Ya?"
Sehun tidak lagi berujar apa pun, tetapi matanya mengarah pada jari manis Luhan. Luhan mengerti dan tersenyum getir.
"Ah, ini. Kalau begitu...biar kau saja yang simpan!" Luhan melepaskan cincin perak dari jemarinya dan memberikannya pada Sehun. Tetapi Sehun malah menatapnya heran. Pemuda pirang itu terlihat meremas jemarinya yang tersembunyi di bawah meja.
"Aku yakin Baek.. Errr, maksudku.."
"Apa dia sekarang di sini? Apa dia bersamamu?"
"A-apa?" Luhan terkejut. Sehun menatapnya tepat di mata, menunggu jawabannya.
"O-oh, itu..Dia, dia tidak ada di sini." Luhan menerawang dengan radius matanya. Dia tidak merasakan keberadaan Baekhyun. Ketika mata mereka bertemu, Sehun sudah tersenyum tipis. Ada guratan kecewa dan terluka di sana.
"Maaf, Sehun-ah." Ujarnya kemudian.
"Aku tahu."
"Kau tahu?"
Sehun tersenyum, kali ini lebih lebar. Tapi tetap menyakitkan. "Baekhyun benci aroma kopi."
Luhan terdiam. Ini pertama kalinya sejak mereka bertemu, Sehun mengucapkan nama Baekhyun. Luhan menarik sudut bibirnya sedikit. Menyadari jika pemuda di depannya mungkin sedang berperang batin saat ini. Luhan bisa merasakan jika Sehun sedang merindukan Baekhyun.
"Sehun-ah apa kau tahu di mana tempat bunga-bunga Lily tumbuh dengan subur? Ah, aku sedang ingin melihatnya." Mata Luhan melengkung dengan indah. Tanpa siapa pun tahu, sesuatu di dalam dada Sehun tiba-tiba menghangat.
"Hei, Oh Sehun! Jangan sampai sakit, karena besok kau harus masuk sekolah. Aku ingin melihatmu besok. Sampai jumpa!"
Luhan berlalu, dan Sehun menatapnya sampai Luhan benar-benar menghilang di balik pintu kaca itu. Sehun mengangkat tangannya ke atas meja. Mengernyit ketika mendapati sebuah cincin tergeletak di atasnya. Luhan meninggalkannya untuk Sehun.
.
.
.
"Kau tidak membencinya 'kan, Oh Sehun? Kau jelas-jelas sangat mencintainya." Luhan menghapus jejak air di pipinya yang entah sejak kapan terjatuh. Dia bahkan tidak tahu kenapa dia menangis. Luhan tetap berjalan cepat sambil mengantongi telapak tangannya di dalam saku mantel. Di sisi hatinya ia merasa lega mengetahui yang sebenarnya tentang perasaan Sehun pada Baekhyun. Tetapi sisi lainnya berdenyut nyeri.
Sehun dan Chanyeol sama-sama menyukai Baekhyun. Itu adalah kesimpulan sementara Luhan. Yang menjadi pertanyaan kusut di dalam hatinya adalah, kenapa Baekhyun memilihnya untuk mengetahui hal ini? Apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Sebenarnya aku ini siapa?
.
Siswa yang pindah ke sekolah Baekhyun sehari setelah kematiannya.
.
Apa itu spesial?
.
"Aku membutuhkanmu, Luhan-ah!"
TBC
Aduh, saya kenapa sih? ini ff juga kenapa? kenapa makin aneh? kenapa kenapa undatenya lelet banget -_-
Keterlaluan! huhu
saya benar2 lagi kacau (-_-)
Janji deh, untuk chapter selanjutnya lebih panjang, banyak hunhannya, chanbaek nyempil dikit.
tapi ga janji update kapan?
untuk yang tanya Sehun kenapa? itu orang kenapa sih? atau Sehun kenapa jauhin Baekhyun bakalan terungkap secepatnya.
Aku ngakak waktu ada yang bilang sehun cocok bgt jadi es batu, hahaha
semoga masih ada yang mau baca dan review, -.-V
kamsahamnida :)
