Chapter 6

Aku Xi Luhan.

Hanya Xi Luhan si anak baru.

Aku bukan indigo yang bisa merasakan kehadiran ruh atau melihat hantu. Tetapi kemudian sesosok arwah menunjukkan eksistensinya di depanku. Arwah teman sekelasku yang bahkan belum pernah kutemui sebelumnya.

Dia bunuh diri satu hari sebelum aku memulai hari pertamaku di sekolah.

Byun Baekhyun.

.

.

.

Luhan menatap kosong buku harian di tangannya. Buku sederhana dengan gambar hati di sampul depannya. Luhan akhirnya mengerti, semua kejadian absurd yang dialaminya berawal semenjak ia membawa buku harian itu keluar dari perpustakaan tua di belakang sekolah.

Itu mungkin hanya salah satu dari kebodohan yang diperbuatnya. Tidak sebanding dengan kebodohannya yang lain. Ia kembali meletakkan buku harian Baekhyun ke dalam laci lalu berbaring di atas ranjangnya yang empuk. Pemuda manis itu hanya menatap langit-langitnya dengan mata kosong.

Kebodohannya yang lain..

Ia menggigit bibirnya kecil ketika sekelebat bayangan pemuda pirang yang memeluknya hangat pagi tadi kembali berputar di kepalanya. Pipinya hangat, dadanya, jantungnya. Luhan memaklumi efek dari sebuah pelukan memang dapat membuat seluruh tubuhnya menghangat. Tetapi tidak pernah sedahsyat ketika ia memeluk Sehun. Sesuatu meletup di dalam dadanya, yang dapat didengarnya hanya suara degup jantungnya sendiri, dan, suara tangis Sehun yang memilukan.

Awalnya Luhan kira ia hanya merasa simpati pada Sehun. Namun kemudian ia sadar jika perasaan yang dirasakannya saat itu bukanlah perasaan simpati. Bukan.

Itu adalah kebodohannya yang lain.

Aku, jatuh cinta dengan Sehun.


Suara decitan sepatu dan pantulan bola di lantai yang mengkilat mendominasi di dalam ruang olahraga. Teriakan murid perempuan di pinggir lapangan mampu menulikan Luhan dari suara hujan yang perlahan turun di halaman luar. Tapi tidak dapat membuyarkan wajah Sehun yang duduk di kursi penonton dari pandangannya. Luhan mengusap peluh di dahinya, meminta sedikit waktu untuk istirahat di pinggir lapangan. Mereka masih memiliki waktu beberapa menit sampai pelajaran olahraga benar-benar berakhir. Mr Wang, guru olahraga mereka hanya memakai sepertiga waktu olahraga untuk pengambilan nilai passing dan dribbling bola basket, setelah itu anak-anak bebas menghabiskan sisa waktu olahraga mereka.

Sesuatu yang membuat anak laki-laki itu berubah, pastilah sesuatu yang sangat berarti baginya. Entah itu cinta atau rasa sakit. Luhan nyaris terperanjat ketika -lagi-lagi- harus menyaksikan kehadiran arwah pemuda pucat itu dengan tiba-tiba. Baekhyun berdiri di hadapan Sehun. Hanya diam dan menatap pemuda tampan di depannya dengan sangat lekat. Iris matanya menyiratkan kesakitan dan penyesalan.

'Baekhyun adalah yang paling menderita'

"Luhan-ah." Jaebum, teman sekelasnya mengisyaratkan Luhan agar kembali bergabung ke lapangan. Namun bel berbunyi tepat ketika ia hendak merebut bola dari tangan Jaebum.

"Aku mencium bau sup kentang."

"Apa Ssaem akan masuk hari ini? Aku sedang tidak ingin mendengarnya marah-marah."

"Hey, Jung!"

Luhan melirik sekilas pada Sehun yang kini sudah meninggalkan tempatnya dan berjalan menuju pintu bersama Jongin. Dia juga tidak melihat keberadaan Baekhyun. Sejenak ia berpikir untuk kembali menemui Sehun atau mencoba berinteraksi dengan Baekhyun. Namun kemudian urung ia lakukan ketika sosok Chanyeol yang berjalan menuju lorong sepi seorang diri menarik seluruh perhatiannya.

"Pa-"

"Hey, Kau Xi Luhan?"

Kim Jongdae, tiba-tiba merangkulnya dengan santai. Pemuda itu sebelumnya tidak pernah mengajaknya berbicara.

"Kau ada waktu setelah pulang sekolah?"

Perlahan Jongdae melepaskan tangannya dari bahu Luhan dan berdiri di depannya. Pemuda itu tersenyum sangat bersahabat, membuat Luhan mau tidak mau membalasnya dengan senyum.

"Well, kau pasti mengenalku sebagai anggota klub jurnalistik sekolah. Ekhm, Kim Jongdae?" Jongdae mengangkat satu alisnya saat melihat Luhan tidak bereaksi. Luhan tentu saja mengenal Jongdae. Tetapi bukan karena namanya selalu tercantum di dalam tulisan yang dibuatnya di mading melainkan karena insiden Jongin yang berteriak ke arahnya di kantin waktu itu.

Jongdae membersihkan tenggorokannya sebelum kembali bersuara,

"Begini, Ketua Yoo memintaku untuk mewawancarai beberapa murid yang berasal dari luar Korea untuk penerbitan edisi bulan depan. Jadi,"

"Gunakan waktuku sebanyak yang kau perlukan, Kim Jongdae." Luhan tersenyum tulus, membuat Jongdae yang tadinya sempat ragu mengeluarkan pekikan girang yang sempat tertahan di ujung lidahnya.

"Senang berkenalan denganmu, Xi Luhan."

Setelahnya Jongdae berlalu secepat kilat dari hadapan Luhan, menuruni tangga dan menghilang seperti ditelan bumi.

Luhan sejenak blank. Apa yang hendak dilakukannya tadi dan apa yang akan ia lakukan sekarang menjadi dua pertanyaan konyol di otaknya. Lalu opsinya jatuh pada anak tangga yang barusan digunakan Jongdae. Perutnya yang kosong mampu menyaingi otaknya yang juga kosong saat ini, serta aroma sup kentang dari arah kantin perlahan menjeratnya.

Lupa akan pemuda setinggi tiang listrik yang barusan menghilang di balik tikungan lorong sepi di belakangnya.

.

.

.

.

Luhan baru saja selesai merapikan alat tulisnya ke dalam ransel ketika Sehun tiba-tiba menghampirinya di meja. Kening Luhan berkerut menandakan kebingungan.

"Hari ini kau ada waktu?"

"A-apa?" Rasanya seluruh wajah sampai telinganya memerah. Jantungnya mendadak berdetak seperti orang gila. Seperti habis berlarian puluhan kilometer.

"Aku harap kau tidak melupakan tugas kelompok kita." Sehun bersandar di atas meja di samping meja Luhan, mengantongi kedua tangannya ke dalam saku celana.

Kenapa Luhan berpikir jika Sehun terlihat sangat tampan saat ini? Aku pasti sudah gila.

Salahkan pada guru sastra Korea mereka yang menempatkan mereka di dalam satu kelompok. Salahkan Sehun karena kemarin berhasil membuatnya tanpa pikir panjang melompat dari dalam bus dan membolos satu hari penuh sehingga mereka tidak memiliki kesempatan memilih rekan satu kelompok di pelajaran sastra korea. Pokoknya salahkan Sehun kalau sampai membuat Luhan detik ini berpikir jika Sehun tampan. Salahkan Oh Sehun.

"O-oh, mengenai itu." Luhan menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab,

"Maaf, Sehun. Aku sudah lebih dulu janji dengan Jongdae."

Luhan menyadari ada yang salah dengan air wajah Sehun setelah dirinya mengucapkan nama Jongdae. Namun ia mengabaikannya dan menepuk bahu Sehun dengan sedikit perasaan menyesal.

"Aku janji akhir minggu ini tugas kita sudah selesai dengan sangat sempurna."

Luhan memberikannya senyuman lebar yang hanya dibalas dengan kedikan bahu dari Sehun.

"Aku harap begitu." ujar Sehun sebelum lebih dulu meninggalkan Luhan di dalam ruang kelas.

Luhan menggigit bibirnya. Kenapa ada secarik perasaan menyesal ketika ia harus menolak ajakan Sehun? Padalah hanya ajakan mengerjakan tugas. Bukan ajaka- Ah, Luhan pasti sudah gila memikirkan sesuatu yang tidak-tidak.

"Luhan?" seseorang menyembulkan kepalanya di depan pintu ruang kelas. Itu Jongdae. Luhan mengangguk sebelum menarik tas ranselnya ke bahu dan menghampiri Jongdae.

Jongdae mengajak Luhan ke dalam ruang klub jurnalistik berdasarkan kesimpulan jika hujan yang turun beberapa saat yang lalu membuat bangku-bangku taman di luar sana basah.

"Di mana semua anggota klubmu yang lain?" Luhan berjalan mendekati beberapa kertas artikel yang tertempel di dinding. Artikel-artikel lama, beberapa hasil foto, dan rancangan konsep dengan kertas warna-warni memenuhi seisi dinding ruangan ini.

"Hari ini tidak ada jadwal kegiatan klub. Jadi tidak ada anggota yang datang ke sini. Tapi, Youngjae bilang dia akan mampir untuk meletakkan beberapa bahan."

Pemuda itu meletakkan ranselnya di atas meja di tengah ruangan. Semua sisinya dikelilingi oleh kursi kayu dan Jongdae duduk di salah satu kursinya. Ia menyiapkan alat perekam dan buku kecil dari dalam tasnya.

"Bisa kita mulai?"

"O-oh, tentu."

Luhan menarik satu kursi di depan Jongdae. Membiarkan ransel tetap melekat di punggunggnya dan duduk dengan tenang sembari menunggu Jongdae memulai pertanyaannya.

Menit demi menit berlalu. Pembicaraan mereka tidaklah formal, hanya layaknya berbicara dengan teman sepermainan, terkadang diselingi derai tawa. Luhan akui Jongdae berbakat sebagai seorang jurnalis. Setidaknya Jongdae membuat Luhan bercerita apa adanya, nyaman, dan tidak membuatnya merasa tersinggung.

"Well, Luhan-ssi. Aku sangat berterima kasih atas waktumu."

"Bukan masalah. Aku senang setidaknya kau memuat namaku di artikel-mu."

Mereka kembali tertawa bersama. Luhan membantu Jongdae merapikan beberapa kertas yang berserakkan di atas meja.

"Um, Jongdae. Bolehkah aku menanyakan satu hal?"

Luhan hanya iseng. Ketika tiba-tiba ia teringat akan insiden yang menimpa Baekhyun jauh sebelum ia berada di sekolah ini. Awal dari petaka yang harus dihadapi pemuda itu seorang diri. Insiden foto Sehun dan Baekhyun yang dengan sangat tidak senonoh ditempelkan di dalam papan berlapis kaca selebar satu setengah meter.

"Setelah pertanyaan-pertanyaanku padamu, satu pertanyaan untukku kenapa tidak?" candaan kecil dari Jongdae sedikit banyak mengurangi beban ketengangan yang mendadak muncul di benaknya.

Luhan bersandar pada rak setinggi satu meter di dekatnya.

"Hanya ingin tahu, apa semua artikel atau foto yang dimuat di mading adalah pekerjaan tangan anggota klubmu?"

"Hm, yeah, begitulah." Jongdae menjawabnya dengan santai.

"Orang lain tidak bisakah menempelkan karyanya di sana?"

"Bukan sembarang orang yang bisa menempelkan karyanya di mading sekolah. Hanya anggota klub yang memegang kuncinya."

Luhan mengerutkan keningnya, sesuatu mulai menganggu pikirannya. Sesaat dirinya hanya dikelilingi oleh perkiraan-perkiraan buruk tentang anggota klub jurnalistik sekolahnya. Dan Jongdae yang pertama kali merasakan keheningan mendadak yang tercipta, lalu detik berikutnya ia tersenyum.

"Luhan, jika kau ingin menitipkan karyamu, kau bisa menghubungiku. Aku adalah pengurus aktif klub mading ini, lebih tepatnya wakil ketua klub jurnalistik, jika kau ingin tahu."

Luhan menarik senyum tipis di bibirnya, berharap dapat membantu menutupi sikap dirinya yang berubah derastis dalam waktu singkat.

"Ah, tidak. Aku hanya penasaran."

.

.

.

Hanya anggota klub yang bisa menempelkan karyanya di mading.

.

.

.

Luhan sungguh ingin menghilangkan kecurigaan buruk yang tiba-tiba bersarang di dalam pikirannya, namun sayangnya gagal. Orang licik mana yang mampu menghancurkan hidup orang tak bersalah seperti Baekhyun?

.

.

.

.

Sialan. Lagi-lagi Luhan tidak ingat waktu. Atau senja turun begitu cepat sampai ia tidak menyadarinya? Kilauan sinar matahari yang keemasan menabrak kaca-kaca di lorong sepi yang Luhan lewati. Sebentar lagi matahari akan menghilang di balik gedung sekolahnya. Jongdae tidak bisa mengantarnya sampai gerbang karena harus menunggu ketua klubnya, Yoo Youngjae, yang tadi berjanji akan datang memberikan beberapa bahan klub mereka.

Luhan setengah berlari menuruni tangga. Ia ingin cepat-cepat keluar dari gedung sekolahnya. Bagaimanapun lorong sepi sekolahnya pernah memberikan pengalaman buruk terhadapnya. Dia tetaplah Luhan si penakut, seberapa kalipun ia melihat arwah teman sekelasnya itu.

Udara lembab dan basah menyambutnya ketika ia sampai di koridor luar gedung sekolahnya. Aroma rumput dan dedaunan yang basah membuatnya jauh lebih tenang. Ia berhasil keluar dengan selamat.

Luhan mengeratkan tali ranselnya, berjalan dengan tenang menuju gerbang sekolahnya. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Hanya sekedar memastikan jika ia tidak akan pulang terlalu malam jika ia mampir ke sebuah toko bubble tea di dekat sekolah.

Yixing yang merekomendasikan toko bubble tea itu ketika mereka pulang bersama. Teman-teman satu sekolah mereka juga sering mampir untuk memesan satu gelas bubble tea ketika pulang sekolah.

Klinting.

Lonceng kecil yang dipasang di atas pintu masuk berbunyi ketika Luhan membuka pintu kaca itu. Seorang pramusaji wanita menyapanya dengan ramah. Ia berjalan menuju meja pesan. Meletakkan telunjuknya ke atas dagu sembari berpikir rasa apa sekiranya yang ingin ia cicipi saat ini.

"Taro."

Beberapa kali ia mencoba rasa choco dan vanila, tetapi Taro tetap menjadi yang terfavorit dari semua daftar menu bubble tea yang ada.

"Baik, Tuan. Silahkan tunggu sebentar."

Beberapa saat kemudian, loncengnya kembali berbunyi. Luhan menoleh ke arah pintu dan mendapati seseorang yang sangat familiar untuknya berdiri mematung dan balas menatapnya.

"Sehun?"

"Sedang apa kau?"

Sehun terlihat dua kali lipat terkejutnya dari Luhan. Pemuda yang lebih kecil menertawai ekspresi tidak terduga dari Sehun. Ia mengeluarkan selembar won dari dompetnya ketika pesanannya tiba. Menyadari pemuda itu kini berdiri di sampingnya dan berkedip dengan lucu padanya, Luhan kemudian bersuara.

"Aku membeli ini, Sehun." jawabnya sambil menunjukkan gelas bubble teanya.

"Ah, Sehunnie, kau datang? Sudah lama sekali rasanya. Kalau begitu, hari ini aku akan memberikan bonus topping untukmu." pramusaji yang barusan melayani Luhan menyapa Sehun dengan akrab. Bahkan ia menggunakan bahasa banmal.

"S-Sehunnie?"

Kali ini Luhan yang berkedip lucu ke arah Sehun. Sehun menyiapkan selembar won dari dalam saku, mengabaikan Luhan yang keheranan menatapnya. Posisinya saat ini adalah satu sama. Sehun seakan baru saja meniru sikapnya.

"Kau kenal dengan pramusajinya?"

"Tentu saja. Dia sudah sering mampir sejak kelas satu." Gadis itu menyela sebelum Sehun sempat membuka mulutnya. Ia kemudian tertawa melihat sikap dingin Sehun pada Luhan.

Sehun memberikan uang pada gadis itu setelah pesanannya selesai dibuat. Gadis itu juga tidak bercanda mengenai ia akan memberikan bonus topping untuknya. Lihat saja bagaimana Luhan memandang gelasnya dengan mata membulat dan perasaan iri.

"Curang! Kau dapat dua kali lipat dari punyaku."

Pemuda pirang itu sama sekali tidak menggubris keberadaannya, malahan langsung melengos pergi sehabis mendapatkan Bubble teanya. Mengantri di dekat pintu untuk bergantian dengan pengunjung lain yang hendak masuk ke dalam toko. Suara loncengnya berbunyi dua kali dalam waktu berdekatan.

"H-hey! Sehun-ah.."

.

.

Langit sudah mulai gelap saat Luhan keluar dari dalam kedai. Ia hanya berjalan beberapa meter di belakang Sehun. Meminum sedikit demi sedikit minumannya melalui sedotan. Sesekali menggigiti plastik sedotan di bibirnya yang mengerucut alami demi menghilangkan rasa canggung yang mendera dirinya seorang diri. Bukan maksudnya mengikuti Sehun dari belakang, tetapi memang kebetulan sekali arah jalan Sehun dengannya sama. Di depan sana, sekitar lima puluh meter darinya terdapat halte bus. Hanya spekulasi Luhan jika Sehun mungkin akan naik bus umum juga seperti dirinya karena parkiran sekolah berada di arah sebaliknya.

Brugh.

"Adu..duh!"

Luhan mengumpat pada Sehun yang dengan seenaknya saja tiba-tiba berhenti di depannya dan membuat wajahnya yang manis membentur mulus di punggung pemuda itu. Sehun mempertahankan posisinya. Di belakang, Luhan hanya mengerutkan kening sambil mengusap hidungnya yang mendadak nyeri.

"Apa Baekhyun masih sering mengganggumu?"

"Hmm?"

Luhan tersentak atas pertanyaan mendadak dari Sehun. Pemuda pirang itu masih setia membelakangi Luhan, tidak berniat sedikitpun memberitahukan raut wajahnya saat ini. Sehebat apa pemuda itu berperang dengan batinnya sebelum bertanya hal sesensitif itu padanya? Dua kali Sehun bertanya tentang Baekhyun padanya. Bukankah ini suatu kemajuan yang sangat pesat?

"Itu.." Luhan menggigit bibirnya, "Sepertinya bukan maksudnya menggangguku seperti yang kau pikirkan."

Sebisa mungkin Luhan ingin membuat Baekhyun tidak terlihat begitu buruk di hadapan Sehun. Kata 'mengganggu' sebenarnya terlalu kejam untuk dimasukkan ke dalam kasus ini. Luhan sedikit menghela napasnya sebelum mengulas senyum tipis di bibirnya.

"Sehun-ah. Belakangan ini aku mulai berpikir bahwa Baekhyun bukannya ingin menggangguku. Maksudnya bukan dengan sengaja."

Sehun berbalik, menatap pemuda manis yang kini menunduk mengamati ujung sepatunya.

"Aku rasa..dia hanya sedang meminta bantuanku."

Luhan sebenarnya menunggu Sehun mengeluarkan suaranya walaupun hanya desahan kecil tanpa arti, tetapi melihat pemuda itu tidak bereaksi sedikitpun membuat Luhan mulai berpikir jika Sehun mungkin tengah memasukkan dirinya ke dalam golongan orang yang mengidap sakit jiwa. Alasannya mungkin terdengar sangat tidak masuk akal dan mengada-ada. Tetapi jujur saja, Luhan memang berpikiran demikian semenjak Baekhyun masuk ke dalam mimpinya di taman sore itu. Perihal nyata atau mimpi, sampai saat ini Luhan masih belum sepenuhnya tahu.

"Kau indigo?"

"BUKAN!"

Nah! Akhirnya pertanyaan seperti itu muncul terhadap dirinya. Demi Tuhan, kehidupan Luhan seratus persen normal sebelum ini.

"Aku tidak bisa melihat hal-hal gaib semacam itu. Aku bahkan bukan orang yang terlalu peka untuk merasakan kehadiran sosok-sosok itu. A-aku, hanya bisa merasakan dan melihat Byun Baekhyun."

Luhan mengeratkan genggamannya di permukaan gelas plastik minumannya. Sejenak ia mulai ragu apakah ia benar-benar dilahirkan dengan normal ataukah sebenarnya memiliki kemampuan khusus.

"Kau juga bukan biksu atau pendeta, lalu untuk apa sebuah arwah datang menemuimu untuk meminta bantuan?"

Pertanyaan Sehun cukup logis, sangat malah. Tetapi mengingat dalam hal ini berhubungan dengan sosok gaib, bukankah logika manusia sedikit banyak tak berpengaruh?

"Aku tidak sependapat denganmu."

Entah sejak kapan mereka mulai berjalan di sisi masing-masing sembari mengobrol santai dengan topik seberat ini. Luhan bahkan mengesampingkan kenyataan bahwa hal yang mereka bahas adalah sesuatu yang sangat sensitif terhadap Sehun.

"Arwah bahkan bisa merasuki tubuh seseorang sekalipun dirinya bukan mediator arwah."

Mereka duduk bersebelahan di dalam halte yang tidak terlalu ramai, Luhan membantu Sehun membuang gelas plastik bekas minuman mereka ke dalam tempat sampah di luar halte sebelumnya.

"Aku sudah kehilangan seluruh logikaku sejak hari pertamaku bertemu dengannya."

"Hm. Aku juga baru saja kehilangan logikaku."

Raut wajah datar Sehun sungguh membuat Luhan frustasi menebak ke dalam apa yang sedang dipikirkan lelaki itu.

"Aku harus kehilangan logikaku untuk memahami kondisi saat ini."

.

.

.

.

Luhan mulai berpikir, haruskah ia memberitahu Sehun perihal buku harian Baekhyun yang ditemukannnya di perpustakaan tua itu? Berhakkah Sehun mengetahui privasi Baekhyun seperti dirinya?

.

.

.

TBC