Chapter 7
Malam itu, bus umum mereka tiba pukul tujuh lewat lima belas menit. Sehun turun tiga halte lebih dulu dari Luhan. Di sepanjang jalan hanya suara angin yang terdengar. Hening. Nyaman. Sampai kemudian Sehun berkata akan turun di halte berikutnya dan Luhan hanya membalasnya dengan senyum yang paling menawan.
Jelas itu bukan pertama kalinya ia pulang bersama dengan Sehun. Dulu, Sehun pernah mengantarnya pulang karena ia hampir mati ketakutan. Tetapi kali ini rasanya berbeda. Walaupun Sehun hanya mengajaknya berbicara barang beberapa menit, walaupun ia hanya berjalan beberapa meter di belakangnya, tetapi setidaknya mereka duduk bersebelahan di dalam bus, juga membeli bubble tea di kedai yang sama. Bagi Luhan hal itu sudah cukup untuknya.
Cukup untuk merasakan kehangatan Sehun.
"Kelihatannya kau sangat baik-baik saja. Aku dengar kau tidak masuk sekolah beberapa hari yang lalu?"
Kyungsoo dan Luhan bertemu tepat di depan gerbang sekolah pagi ini. Pemuda yang lebih kecil jelas kelihatan heran karena bisa menemukan Luhan di sekolah sepagi ini. Kyungsoo memang terbiasa datang lebih pagi dari teman-temannya, berhubung ayahnya yang pegawai negeri itu juga harus mengantar sekolah sang adik yang letaknya lebih jauh dari sekolahnya.
"Well, seharian itu aku tidak masuk sekolah bukan karena tidak enak badan." Luhan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Begitu ya. Lalu kenapa kau bolos?"
"Y-YA! Jangan bilang begitu." Luhan menggembungkan pipinya, tidak terima kalau dirinya dituduh membolos-walau kenyataannya memang begitu.
"Aku tidak sengaja membolos, Kyungsoo-ya."
Luhan menyentuh dinginnya besi penyangga di sisi tangga. Suara langkah kaki mereka terdengar menggema dalam keheningan. Entah sejak kapan Luhan mulai terbiasa dengan hening di koridor sekolah barunya.
"Kudengar Sehun juga."
Luhan mengangguk kelewat bersemangat, membuat Kyungsoo mengernyit di sampingnya.
"Kau tahu, karena hari itu ada pembagian kelompok tugas dan kami tidak masuk kelas, Ssaem memilihku dan Sehun menjadi satu kelompok. Menyebalkan!"
Bibirnya dibuat mengerucut. Cute. Kyungsoo membenahkan setumpuk buku di tangannya. Mereka berhenti sejenak di depan loker. Sementara Kyungsoo sibuk meletakkan buku-bukunya ke dalam loker, Luhan mulai tenggelam dengan fantasinya mengenai pemuda yang semalam duduk bersamanya di dalam halte. Larut dalam kata-kata Sehun yang memintanya bertemu di depan perpustakaan sepulang sekolah nanti.
"Tapi sepertinya tidak semenyebalkan itu, 'kan?"
"Hm?"
Luhan tidak mengerti makna dari kalimat yang dilontarkan Kyungsoo kepadanya. Tidak mengerti apakah itu ditujukan untuk meledeknya atau menyemangatinya. Awalnya memang Luhan merasa seperti ada sebongkah besar batu es yang menimpa kepalanya, satu kelompok dengan Sehun adalah bencana. Tidak, lebih parah dari itu. Dia akan berada dalam satu ruangan seharian penuh dengan satu-satunya orang yang bermasalah dengannya. Tetapi kemudian Luhan menemukan perubahan sikap Sehun yang berhati dingin begitu drastis terhadapnya. Semenjak pelukan hangat di pagi berhujan itu, saat pertama kalinya Luhan mendengar isak tangis memilukan dari pemuda dingin itu dengan telinganya sendiri.
"Kau selalu membawa novel-novel itu ke sekolah?"
"Hm-mm. Kau tahu, sendirian itu rasanya sangat tidak enak. Makanya setiap pagi aku berusaha menyibukkan diri dengan membaca novel sampai orang-orang di sekitarku datang."
Mereka masuk ke dalam kelas Kyungsoo. Tempat duduk pemuda mungil itu berada di dekat jendela di barisan depan. Luhan menyandarkan punggungnya pada kusen, membuka sedikit jendelanya agar dapat merasakan sengatan kecil udara pagi yang menusuk kulitnya.
"Kau tumben sekali datang pagi-pagi."
"Tahu dari mana kalau aku jarang datang pagi?"
Kyungsoo tertawa kecil, "Hanya menebak."
Luhan mencebikkan bibirnya. Melihat Kyungsoo sama sekali belum membuka novel di tangannya, membuat Luhan merasa sangat senang. Kehadirannya dapat menggantikan kekasih hati Kyungsoo ternyata.
Larut dalam obrolan ringan sampai-sampai mereka tidak menyadari jika setengah dari kelas mulai terisi oleh murid yang lain. Yang menyengat kulit Luhan kali ini bukan lagi dinginnya udara pagi yang menusuk tulang melainkan panas matahari pagi.
"Kyungsoo, aku sebaiknya pergi ke kelasku sekarang."
"Kenapa buru-buru?"
"Bukankah teman-temanmu sudah datang? A-aku merasa sangat asing berada di sini." Luhan mengusap tengkuknya. Menghindari beberapa tatapan dari murid-murid di ruang kelas Kyungsoo.
"Teman-temanku?"
Luhan menyadari air wajah Kyungsoo tiba-tiba berubah. Genggamannya pada novel di tangannya bahkan mengerat. Apa yang salah dengan perkataannya?
"Temanku hanya Baekhyun."
"Ya?"
Kyungsoo tersenyum memaksa, jelas sekali. Ada hal yang membuat Luhan kemudian bepikir jika Kyungsoo tengah menyembunyikan sesuatu yang sangat tidak ingin diketahui oleh Luhan. Ada makna yang terbesit dari kalimat samar yang dikatakan Kyungsoo.
"Anggap saja temanku hanya Baekhyun."
"Hey jangkung!"
"K-kau? Bagaimana bisa?"
"Apa?"
Luhan duduk di samping Chanyeol yang mulutnya sedikit terbuka karena keheranan.
Baiklah. Jadi setelah Luhan meninggalkan kelas Kyungsoo pagi tadi, secara tidak sengaja matanya menangkap tubuh tegap nan tinggi Chanyeol yang hendak memasuki ruang kelasnya. Dan akhirnya ingatan Luhan yang hilang karena amnesia mendadaknya kemarin selepas bertemu Jongdae, kembali.
"Aku mencarimu kemana-mana tadi. Ternyata benar kau ada di sini."
Alis Chanyeol masih bertaut, meminta Luhan menjelaskannya lebih lanjut.
"Oke, oke! Aku melihatmu berjalan ke arah sini kemarin. Ketika hendak kusapa, seseorang tiba-tiba saja mengajakku bicara dan membuatku lupa denganmu."
Chanyeol mencebikkan bibirnya, sedikit kesal dengan pemuda bersurai coklat madu yang kini bermain-main dengan tuts piano di depannya. Anak itu selalu seenaknya saja. Namun, ada perasaan aneh ketika setiap kali Luhan berada di dekatnya.
"Kau bisa main piano juga, Chanyeol-ah?"
"Kau lagi-lagi cerewet."
Pemuda yang lebih tinggi akhirnya bangkit dan berjalan mendekati jendela besar yang terbuka. Ia menghela napasnya sekali.
"Apa kau tidak punya teman di sekolah? Kau selalu saja sendirian. Padahal tampangmu itu sangat tidak cocok menjadi antisosial."
Luhan menekan tuts piano keras-keras dengan kesepuluh jarinya, membuat Chanyeol mengerang dengan keributan yang diperbuatnya. Luhan tertawa dan menghampiri Chanyeol.
"Kau itu harusnya menjadi pembuat onar atau semacamnya."
"Kenapa kau selalu menempel padaku?" Chanyeol menekan pelipis Luhan agar ia sedikit bergeser dari sisinya. Luhan mengerucutkan bibirnya lucu.
"Hey! Dari sini aku bisa melihat halaman belakang."
"YA! Jangan naik-naik ke atas, kau bisa jatuh, dasar bodoh!"
Flashback.
"Three point!"
"Ay."
"Good job, Yeol!"
Kedua pemuda di tengah lapangan itu melakukan tos diselingi tawa dan pukulan main-main. Jongin berlari lebih dulu ke pinggir lapangan, disusul beberapa temannya yang lain.
"Aku tidak akan takut menghadapi tim dari SMA K jika ada Chanyeol hyung."
"Tapi tidak, jika Sehun tidak bisa ikut main."
"Apa cideramu belum sembuh, Sehun-ah?"
"Entahlah, Baekhyun menyuruhku untuk istirahat lebih banyak."
"Hey, kalian! Tidak mau pulang? Aku dan Baekhyun akan pergi ke kedai bubble di samping sekolah."
.
.
.
.
.
Flashback off.
"Aku tidak melihatmu di kantin tadi. Kau kemana?" Yixing berbisik pada Luhan di sebelahnya.
"Aku pergi ke suatu tempat."
Yixing mendekatkan wajahnya pada Luhan seperti biasa. Anak ini mudah sekali penasaran, benak Luhan.
"Tempat rahasia? Dengan siapa? Sehun?"
"Aish, kenapa Sehun?" Luhan menaikkan buku cetaknya sebagai kamuflase, "Ya! Aku tidak pergi dengan Sehun."
Pipi Luhan bersemu tanpa disadari, membuatnya ribuan kali lebih menggemaskan. Yixing menyadari perubahan raut Luhan yang lucu.
"Aku pergi ke ruang musik."
"Untuk apa?"
"Bertemu seseorang."
Yixing menghela napas sebal. Dia tidak suka jika sudah bermain rahasia-rahasiaan dengan Luhan. Tidak asyik. Dia tahu Luhan tidak akan memberitahukannya seperti kenapa ia bisa selamat sampai kelas waktu ia terlambat dulu. Maka dengan raut kesal ia menarik dirinya dari Luhan dan kembali fokus dengan papan tulis.
"Lagi pula, kenapa mesti Sehun yang ada di pikiranmu?"
"Karena kau selalu saja bertanya tentang Sehun."
Yixing mengulas seringai di bibirnya, "Kau menyukai Sehun, bukan?"
"Ne?"
.
.
.
Apa terlihat begitu jelas?
.
.
.
.
"Ya! Kenapa tidak mau berhenti saat kupanggil?" Luhan menekan lututnya yang sakit. Ini semua gara-gara nekat berlari mengejar Sehun yang berjalan bak orang kesetanan.
Sehun mengabaikan anak yang mengomel di depannya dan sibuk mengeluarkan laptop dari dalam ranselnya.
"Dasar es!"
Luhan menarik satu kursi di dekatnya dan duduk di sana. Namun, belum sempat kepalanya menyentuh dinginnya permukaan meja, perintah Sehun yang mutlak membuat kepalanya kembali terangkat sepenuhnya.
"Kau bisa mulai membantu dengan mencarikanku buku-buku reverensi untuk tugas ini."
Luhan merengut, namun tak membantah. Ia dengan setengah hati menuruti perintah teman satu kelompoknya yang menyebalkan.
"Arra!"
Anak yang lebih pendek berjalan ke bagian rak di sudut paling kanan. Bukan karena ia hafal dengan letak semua buku-buku di sini, tetapi karena papan besar di atas salah satu raknya bertuliskan sastra dan bahasa.
Perpustakaan hari ini cukup ramai. Dan hari ini adalah pertama kalinya Luhan masuk ke dalam perpustakaan 'sungguhan' sekolahnya.
"Buku seperti apa yang bisa kujadikan reverensi?"
Pemuda itu berpikir sejenak sebelum pandangannya berakhir pada salah satu buku di dalam rak. Kakinya sedikit berjingkat berusaha mengambil salah satu buku di bagian rak yang tinggi.
Kakinya sedikit bergetar, namun enggan mengakui jika tinggi badannya sungguh tidak membantu sama sekali walau dibantu berjingkat beberapa senti.
Lalu tiba-tiba sebuah lengan berbalut kemeja menarik dengan mudah buku itu keluar dari rak.
"Dasar pendek!"
Suara dingin Sehun kemudian menyadarkan keterkejutannya. Luhan berbalik dan mendapati anak yang jauh lebih tinggi darinya berdiri seakan mengintimidasi tinggi tubuhnya.
"Memangnya setinggi apa kau sampai berani mengataiku?" Luhan melipat kedua tangannya di dada, merasa tangguh dan mengabaikan kenyataan jika Sehun memang jauh lebih tinggi darinya.
Tapi tiba-tiba saja Sehun menunduk dan membuat wajahnya berdekatan dengan Luhan.
"Yang pasti aku harus menunduk seperti ini agar bisa melihat wajahmu."
Deg deg deg.
Selepas itu Sehun berjalan meninggalkannya. Membiarkan Luhan dan jantungnya yang berdegup seperti orang gila. Membiarkan wajah manis Luhan dipenuhi semu merah.
"A-apa pendingin udara di sini rusak?"
Luhan mengibaskan satu tangannya ke depan wajah memerahnya.
deg deg.
'Apa yang dilakukannya barusan?!'
deg.
.
.
.
.
.
Mau sampai kapan membohongi diri sendiri?
Kau menyukainya Xi Luhan.
.
.
.
TBC.
A/N : Aku mau terimakasih banget sama yang masih setia (dan yang baru menemukan ff ini tentunya), karena ternyata masih inget (atau menunggu) ff absurd aku yang satu ini. Untuk pendatang baru salam kenal yaa :)) FF ini bakal aku lanjut, tapi karena keterbatasan waktu (dan otak) karena kesibukan kuliahku (yang minta ampun) aku nggak bisa menjanjikan akan update cepat. Kalo tamat di chapter berapa aku masih belum tau, soalnya FF ini masih diketik. Dan untuk reviewnya akan sangat membantu dalam pembuatan FF ini, sooo, RnR Juseyoo~
