"...semua itu kulakukan untuk menaklukan hatimu, dan menjadikanmu miliku selamanya. Keluarga kita akan semakin terasa lengkap bukan, ...?"
.
.
Title: Trapped In Love
Rated: T.
Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, Xi LuHan, Huang Zi Tao, and 'Someone'.
Pair: Kim JongIn & Oh SeHun.
Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].
Disclaimer: SMTown - EXO belongs to God, and their parents.
Warning: Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ untuk beberapa kata, SeKe untuk beberapa chapter -kedepan akan lebih jelas pairingnya, and etc.
.
.
Langit telah berganti dengan malam; berbalut dengan udara dingin dan gemerlip cahaya bintang di tubuhnya. Di dalam sebuah rumah –lebih tepatnya di kamar mandi rumah itu, seorang pemuda berkulit tan tengah menggosok giginya. Membersihkan sisa-sisa makanan di setiap sela giginya. Setelah 2 menit kemudian, pemuda bersurai pirang-pucat itu membersihkan mulutnya dengan air dan mengusapnya pelan dengan handuk kecil di sampingnya. Ia menatap wajahnya sejenak pada cermin hadapannya. Sebuah senyuman konyol di sunggingkannya.
"Kau memang tampan, Kim JongIn. Selalu."
"Tch! Butuh beribu-ribu tahun kau mengatakan dirimu sendiri tampan, padahal kenyataannya jauh dari kata itu. Masih terlalu dini kau mengucapkannya –apalagi untuk mengalahkan ketampannanku ini."
JongIn mengalihkan pandangannya dengan malas kearah sumber suara, yang sudah ia hapal di luar kepala. Si-bodoh-narsis-Oh-Kim-SeHun. SeHun menyeringai senang, tak apalah jika sore tadi dia kalah dengan orang hitam ini, lagipula itu semua terjadi akibat orang tuanya –orang yang selalu muncul tiba-tiba dalam skenario rumah tangannya dengan JongIn, dan merubah alurnya secara tiba-tiba. Dia berjalan mendekat kearah JongIn, dan menyentuh rambut pirangnya. JongIn mengangkat kedua alisnya; ada yang tidak beres disini.
"Ada apa?"
"Kau taukan ini malam apa?"Ucap SeHun mulai menggila, disertai dengan seringaian-idiotnya. Pemuda tan itu mulai mengernyit, mengingat-ngingat sesuatu yang dilewatkannya. Ah! JongIn menepuk dahinya pelan. Ini adalah malam minggu, malam dimana salah satu dari mereka bertugas untuk membacakan dongeng untuk LuHan. Aturan ini memang tercatat dalam daftar yang tidak boleh dilewatkan oleh mereka berdua, karena termasuk anjuran (lagi) dari orang yang berbeda namun masih terikat dengan mereka. Eomma JongIn. Yeah, terkadang, mereka berdua tidak yakin dengan semua aturan itu, lantaran ini adalah hidup mereka berdua, jadi mereka pula yang seharusnya mengatur bagaimana hidup mereka. Tapi layaknya hubungan antara sebuah pohon dan benalu –yang pada umumnya salah satu pihaknya dirugikan dan satunya lagi diuntungkan, kedua orang tua mereka selalu mencampuri urusan rumah tangga mereka dengan menambahkan aturan-aturan itu dan membuat mereka semakin sengsara.
Lalu apa maksud dari kata-kata 'membangun sifat dewasa dalam diri mereka'? Well, jika ada orang yang mengatakan lain dikata-lain ditindakan, maka itu benar. Kalau diperhatikan dari tindakan kedua orang tua mereka; sepertinya kedua orang tua mereka tidak sepenuhnya bisa melepas mereka berdua, dan yah, tidak sepenuhnya yakin dengan sifat anak-anaknya yang tergolong labil-dan-agresif. Takut-takut jika JongIn dan SeHun justru membunuh satu-sama-lain atau lebih parahnya menyakiti LuHan –mengingat bahwa mereka menikah karena faktor dijodohkan.
–Tapi, seingat JongIn minggu kemarin adalah gilirannya membacakan dongeng untuk LuHan. Lalu, kenapa justru dia yang mengingatkannya? Seharusnyakan hari ini adalah giliran SeHun. JongIn yakin, SeHun pasti memiliki rencana tersembunyi dibalik senyum-idiotnya itu.
"Aku tau kau memiliki maksud lain," SeHun terkekeh, dia mencolek hidung JongIn dengan jari telunjuknya, "Rupanya kau sudah mulai belajar menjadi istri yang baik, Tck! Aku tau kalau di rumah ini, aku yang akan menjadi pemimpinnya, dan… –Terimakasih sayang, karena kau sudah perhatian terhadapku."
What! Apa yang SeHun katakan!? Menjadi istri yang baik!? Perhatian!? O-oh! Sepertinya Oh-Kim-SeHun sedang mencari masalah.
Sebuah delikan tajam menghunus SeHun, JongIn memukul belakang kepala SeHun tanpa berperasaan; menghentikan kekehan pemuda pucat itu seketika, dan digantikan dengan suara 'mengaduh' kesakitan.
"Maka, butuh bermilyar-milyaran tahun, kau untuk mengucapkan kata-kata laknat itu! Aku tidak akan pernah menjadi istrimu –justru yang terjadi sebaliknya. Cepat! Katakan maksud tersembunyimu!"
SeHun mengusap belakang kepalanya. Sial, pukulannya lumayan juga. Ia menatap horror JongIn; yang dibalas dengan delikan mautnya. Hh, kalau seperti ini terus, bisa-bisa perang antar mata akan terjadi. SeHun mendengus kesal, "LuHan berada di depan kamar, dia sedang menungguku untuk membacakan dongeng Happily Ever After," JongIn memutar bola matanya bosan, "Bisakah kau langsung ke intinya? Aku bosan mendengarmu berbasa-basi."
"Kau tau, lama-lama kau seperti seorang ibu yang sedang mengandung, berhentilah mengoceh! Dan dengarkan aku.. –LuHan memang menungguku untuk membacakan dongeng itu, tapi aku mengatakan bahwa kaulah yang akan membacakan dongeng itu; dan yeah, dia senang sekali. So, temuilah dia, kau tidak maukan menjadi incaran polisi dengan status 'ibu-yang-tega-meninggalkan-anak-berumur-5-tahun-hingga-tertidur-di-kamarnya-nyaris-sekarat'?"
"Bodoh! Tidak mungkin hanya menungguku untuk membacakan dongeng, bisa membuatnya sekarat. Dan Hey! Aku bukan ibunya, sudah jelas dia memanggilku 'Appa'. Tck! Sebenarnya siapa yang memiliki IQ-150 disini? Lagipula itu tugasmu, jadi aku tidak mau tau, kau yang seharusnya bertanggung jawab. Kau juga laki-lakikan, SeHun? Kecuali jika kau, adalah seorang gadis yang menyamar jadi laki-laki,"JongIn berjalan melalui SeHun, tidak memperdulikan SeHun yang menggerutu sebal dengan ucapannya barusan. Tetapi, baru beberapa langkah, tiba-tiba saja SeHun menahan tangannya –dan semua itu terjadi sangat cepat; tercengang, shock, bingung, bagaimana mungkin seorang OH –aish, namanya sudah berganti, KIM SEHUN membopong tubuhnya di pundak kecilnya. Uh! Bayangkan-bayangkan!–lihat saja ekspresinya-menjijikan-idiot-sok-kuat-gentle-itu, dan jangan lupakan seringaiannya; membuat JongIn semakin ingin mengeluarkan isi perutnya sekarang. Tapi biarkanlah, lagipula ia jadi tidak perlu repot-repot untuk berjalan kaki ke kamarnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya SeHun menurunkan JongIn; sedetik, mimiknya menunjukkan kesakitan, tapi buru-buru dirubahnya. Melihat hal itu, JongIn tersenyum licik –lain kali, ia akan meminta SeHun untuk melakukan hal itu. Lumayanlah untuk menghemat tenaganya.
"Sudah selesai ya? Padahal, tadi itu sangat menyenangkan –berjalan tanpa harus menggunakan tenaga, dan tubuhku melayang; rasanya seperti… terbang."
"Kalau begitu, aku tidak akan segan-segan melakukan hal itu, jika aku menginginkannya, asalkan dengan kau yang berakhir di atas ranjang dan.. BOOM! Aku akan bertaruh, bahwa kau akan menginginkannya lagi-dan-lagi."
Dasar mesum. JongIn (lagi-lagi) memukul belakang kepala SeHun; dan sukses membuat SeHun (kembali) mengaduh kesakitan, "Bisakah kau menghentikan kebiasaan burukmu itu!? Bisa-bisa aku gagar otak karenamu! Kau mau memiliki suami yang gagar otak? Bagaimana aku bisa menghidupimu dan LuHan nanti!"
"Haruskah aku peduli? Dan ralat untuk perkataanmu barusan, tadi sore kau yang mengatakan bahwa aku adalah suamimu, ingat? Bahkan kau sampai membuatkanku teh hangat. Ouh.. dan apa kau lupa SeHun, bahwa eomma bahkan menyetujuiku untuk bekerja dan membiayai keluarga kecil kita. Jadi bisa dipastikan, sebenarnya akulah pemimpin keluarga ini,"Ujarnya panjang lebar, bangga. Betapa indahnya hidupmu, JongIn. Setiap kali SeHun merasa menang, pasti ia akan mengalahkannya; karena semboyannya adalah: 'hancurkan hidup, Oh-Kim-SeHun!', dan sepertinya misinya itu selalu berhasil –dengan memutar balikkan kemenangan SeHun menjadi kemenangannya.
Tersadar akan ucapan SeHun, bahwa LuHan menunggu mereka untuk dibacakan dongeng, dengan segera JongIn mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamarnya –dengan SeHun. Hingga pandangannya berhenti di sofa kamarnya. LuHan tengah tertidur pulas disana, dengan kedua tangannya yang mengapit buku–yang JongIn yakini berjudul 'Happily Ever After'. Wajah polosnya yang putih, rambut karamelnya yang terlihat sedikit berantakan, dan pipinya yang beberapa akhir ini berisi; membuat JongIn tersenyum tipis. LuHan adalah seorang malaikat kecil dalam hidupnya. Memberikan kebahagiaan lain, ketika dirinya dengan SeHun sedang berdebat.
SeHun memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Dia melirik JongIn sekilas. Mengagumi betapa indahnya wajah itu, ketika JongIn tersenyum –walaupun untuk LuHan. Ada sesuatu yang menjalar hangat di dalam dadanya. Ini bukan pertama kalinya; ia merasakan hal-hal yang diluar perkiraannya seperti ini. Tentu saja SeHun mengetahui perasaan apa itu, hanya saja dia masih menyangkalnya. Sedikit.
Mereka berdua memang dijodohkan tanpa didasari oleh rasa cinta, dan dengan santainya mereka menyutujui perjodohan itu tanpa berpikir –seolah perjodohan adalah hal yang biasa terjadi, tapi walaupun mereka berdua bodoh, saling membenci, dan menjatuhkan satu-sama-lain, mereka percaya –mereka percaya, bahwa kasih sayang itu ada. Cinta itu ada. Hanya saja, terkadang perasaan itu terlalu membingungkan; rumit, dan terlalu susah untuk dipahami, hingga akhirnya perasaan itu menjebak diri kita. Mengikat dengan kuat, seakan-akan tidak akan pernah melepaskannya, kecuali kalau diri kita sendiri yang melepaskan ikatan itu dengan perasaan yang sama. Dengan langkah pelan, SeHun mendekati LuHan, dia mengangkat tubuh mungilnya dan menaruhnya di tempat tidurnya dengan JongIn. Dia membenarkan beberapa helai rambut LuHan yang terjatuh, menutupi wajahnya, dan mencium dahinya pelan.
"Selamat tidur, LuHan."
JongIn terdiam di tempatnya. Ini pertama kalinya, ia melihat SeHun bersikap semanis itu dihadapannya. Jika saja kau selalu bersikap seperti itu, SeHun, mungkin aku tak akan segan-segan untuk menaruh hati padamu, pikir JongIn –yang berakhir dengan JongIn menampar pipinya pelan. Sadarlah Kim JongIn! Ingat semboyanmu!
"Kau masih memiliki hati rupanya."
Sayangnya, mereka berdua memang terjebak dalam perasaan itu.
"Sialan kau!"
Tawa JongIn terlepas, ketika melihat SeHun yang mengernyit tidak suka. Namun tak lama, tawanya terhenti ketika melihat SeHun mendekatinya dengan mimik yang err… entahlah. Rasanya baru pertama kali ini, SeHun menampilkan ekspresi seperti itu. SeHun mendekatkan wajahnya ke arah JongIn, dan berbisik sesuatu kepadanya; yang mampu membuat JongIn berdehem dan memalingkan wajahnya, malu.
"Tapi, semua itu kulakukan untuk menaklukan hatimu, dan menjadikanmu miliku selamanya. Keluarga kita akan semakin terasa lengkap bukan, Jonginnie? Jika didasari oleh cinta?"
Tch! Apa-apaan ucapannya barusan?
Kali ini SeHun yang tertawa, dia mengacak rambut pirang JongIn pelan dan menidurkan tubuhnya ke sofa tempat LuHan tadi tertidur, "Tidurlah di samping LuHan, aku akan disini."
.
.
Satu hal yang tergolong-sangat-mengganggu-dan-buruk, JongIn tidak bisa bangun pagi. Dan terkadang itu membuat SeHun frustasi. Bagaimana mau menjadi keluarga yang kokoh, jika ibu rumah tangga-nya –baiklah, itu hanya pemikiran SeHun, saja bangun paling terakhir? SeHun sudah melakukan berbagai cara untuk membuat JongIn terbangun dari hibernasi-nya, namun tetap saja hasilnya nihil. Hal itu membuat SeHun mau-tidak-mau harus bangun pertama kali–kecuali jika dia terlalu lelah, maka dia tak jauh berbeda dengan JongIn, dan memasak hal-hal kecil yang dia bisa –karena dia terlalu malas untuk berbelanja, apalagi jika mengikuti pelajaran memasak yang digandrungi oleh kaum hawa. Bisa-bisa ia tidak fokus, lantaran mereka (para gadis atau wanita) mengepungnya dengan tatapan genit; tentu saja, diakan tampan, dan seharusnya itu tugas JongIn, kemudian membangunkan LuHan, dan terakhir mengguyur JongIn dengan seember penuh air dingin. Biasanya itu sanggup membuat JongIn tersedak air pagi-pagi, dan bangun dengan keadaan kekurangan udara. Sampai sekarangpun hanya itu cara yang terbaik, tetapi itu tetap saja merugikannya. C'mon, air itu tidak gratis, kawan! Bisa-bisa ia diomeli oleh eommanya, karena ketika berkunjung ke rumahnya, air sedang dalam keadaan mati. Belum lagi keadaan selimut dan sprei-nya yang basah; membuat SeHun harus mengganti dengan yang baru. Tamatlah riwayatnya.
Sampai suatu hari, SeHun mendapatkan ide gila setelah membacakan dongeng untuk LuHan yang berjudul 'Snow White'. Ugh! Kenapa lama-lama ia merasa bahwa dialah ibu rumah tangga disini. Putri Salju terbangun dari tidur-setengah-mati-nya setelah bertemu dengan cinta sejatinya –ah! Maksudnya ciuman sejatinya. Kenapa dari dulu dia tidak terpikirkan dengan ide itu? Itu tidak memiliki efek rugi untuk dirinya, jadi kenapa tidak dicoba?
Kau sudah gila, Oh –Kim SeHun!
Esok paginya, setelah terbangun dari tidurnya, SeHun tersenyum setan. Dia memiringkan tubuhnya, dan menatap setiap inchi lekukan di wajah JongIn. Tampan –ah tidak! Cantik; Polos. Desiran hangat itu kembali datang. SeHun menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini tidak benar. Tanpa perlu berlama-lama lagi, SeHun mendekatkan wajahnya; mengikis jarak diantara mereka–hingga bibirnya tepat menempel di atas bibir JongIn. Bagaikan terkena sengatan listrik, JongIn membuka matanya. Melihat aksi konyol-nya berhasil, SeHun semakin bersemangat untuk melahap bibir tebal mengerjap-erjapkan matanya, Ia memandang buram kepala seseorang di atasnya dengan bingung.
Apa yang sedang dia lakukan?
Menemukan ada yang janggal dengan sosok yang berada di atasnya sekarang –apalagi ketika bibirnya terasa basah, JongIn mengucek kedua matanya. Hal pertama yang JongIn lihat dengan jelas adalah.. SeHun? Dan –bibirnya. Uh-Oh! Tidak, itu artinya..
DUAGH
"Arghh! Shit!"Umpat SeHun, mengusap-usap kepala dan punggungnya yang terasa nyeri. Dia menatap nyalang JongIn,"Kenapa kau menendangku, bodoh!"JongIn mengangkat kedua bahunya dan menyingkap selimutnya; seolah tidak terjadi apapun.
"Entahlah, insting buruk mungkin?"Ucapnya santai, dan berjalan melangkahi tubuh SeHun yang masih merana –mengusap punggung dan kepalanya, diiringi desisan kecil; akibat tendangan mautnya pada tubuh SeHun, dan telak membuat SeHun terjengkang dengan posisi punggung-dan-disusul-kepalanya yang terjatuh duluan.
"Sialan kau, JongIn!"
"Kuanggap itu sebagai pujian, babe."
Sebuah senyuman miring, menghiasi wajah SeHun, "Tapi paling tidak, aku sudah mengetahui obat yang tepat untuk membangunkanmu, Oh JongIn.. –Argh!"
.
.
Seorang pemuda berambut hitam tengah memainkan pensilnya di atas meja. Bosan menunggu sahabatnya tidak kunjung datang, padahal sebentar lagi bel sekolah berbunyi. Sekitar 4 atau 5 menit lagi. Tck! Jangan bilang orang itu tidak datang seperti beberapa hari yang lalu tanpa alasan yang jelas. Memang, dia mengatakan bahwa dirinya tidak berangkat karena masalah keluarga, tapi dia sudah mengenal sahabatnya semenjak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama; dan selama itu hubungan keluarganya selalu harmonis, walaupun dia tau bahwa sang ibu sangat cerewet –dan sedikit keras kepala.
Tiba-tiba saja, Pemuda berambut brunette terduduk di kursi kosong –tepat disamping pemuda bersurai hitam itu, napasnya terengah-engah. Tangannya memegang dadanya yang berdegup kencang; sesekali Ia mengusap keringat yang mengalir melalui pelipisnya. Pemuda bersurai hitam itu hanya menghela napasnya, dia terlalu hapal untuk mengingat siapa orang yang berada di sampingnya sekarang.
"Apalagi sekarang? Masalah keluarga? –atau masalah orang tuamu yang membuatmu kewalahan, lagi?"
Pemuda brunette itu melirik malas kearah pemuda di sampingnya. Bisakah hidupnya lebih tenang? Baru tadi pagi pemuda-bodoh-yang-telah-sah-menjadi-istri –atau-itu-hanya-pemikirannya, menendang tubuh seksinya –membuat moodnya turun, dan sekarang sahabatnya menanyai yang tidak-tidak saat ia baru saja menduduki kursi; belum ada 1 menit. SeHun menyisir rambutnya kebelakang dengan tangannya, ia merubah posisi duduknya menghadap samping.
"Ayolah Tao, apakah seperti itu caramu menyambut kedatanganku?"
Tao mendecih, namun tak lama senyumnya terukir di wajahnya. Ia melempar pensil di mejanya tadi kearah SeHun, "Bisakah kau tidak membuatku selalu khawatir?"
SeHun menaikkan sebelah alisnya, ia membuat pose seakan tengah berpikir keras, "Kurasa tidak, karena memang aku lebih menyukaimu mengkhawatirkanku,"Ucapnya santai. Tao memang sahabatnya yang entahlah, terkadang SeHun tidak selalu mengerti jalan pikiran Tao yang berubah-ubah. Sekilas Tao memang terlihat manly, cool, gentle, sexy, tapi jika kalian mengenal lebih dekat, mungkin kata-kata itu akan err.. sedikit menyimpang. Ingat! Hanya sedikit. Entah karena apa, tapi Tao adalah orang yang mudah menangis, apalagi kalau itu sudah menyangkut tentang hal-hal berbau negatif.
"Tch! Percaya diri sekali kau. Jadi jelaskan padaku sekarang, apa yang kau lakukan akhir-akhir ini? Kenapa kau bisa selalu-hampir-datang terlambat? Bahkan beberapa hari yang lalu kau tidak berangkat sekolah. Kali ini tidak ada jawaban yang singkat, Oh Se-Hun."
Pertanyaan yang sama. Orang yang sama. Dan Intonasi yang sama. Oh Tuhan, dosa apa yang telah dilakukan SeHun kali ini. Terdengar hembusan napas pelan dari bibir SeHun, "Bukankah aku sudah mengatakan, beberapa akhir ini keluargaku sedang tertimpa masalah, my 'cute' baby panda," Tao menendang kaki SeHun, "Kau mulai lagi, hentikan tingkah gilamu ketika kita sedang serius SeHun," SeHun terkekeh, ia mengusap surai hitam itu pelan. Baginya kebahagiaan Tao adalah senyumnya. Itulah tekadnya beberapa bulan lalu, tepat sebulan sebelum perjodohannya terjadi, ketika menemukan Tao terduduk di taman pada malam hari dengan keadaan kacau; akibat kepergian 'mantan' sahabat ter-idiot-nya itu. Si pemuda berbadan tinggi diatas rata-rata, serta ekspresinya yang itu-itu saja. Dingin. Tapi dibaliknya, tak jauh lebih idiot dari JongIn. Dia adalah Sang Duizhang. Wu Yi Fan atau lebih dikenal dengan Kris Wu. Mungkin menurut Tao, Kris adalah pahlawan kebahagiaannya di masa depan? Entahlah, SeHun tidak mau mengerti, bukannya karena dia tidak memperdulikan perasaan sahabatnya, hanya saja ia tidak ingin mencampuri urusan mereka berdua –yang entah memiliki ikatan apa sebenarnya. Aneh.
Geez, tidak sadarkah kau Oh –Kim SeHun, jika hubunganmu dengan Kim –Oh JongIn jauh lebih aneh daripada mereka?
"Baiklah, kau ingin aku mengatakan apa?"Sahutnya dengan senyum terkiller yang pernah ia punya –dan mungkin JongIn tidak pernah melihatnya, kalaupun pernah SeHun yakin jika JongIn akan bertekuk lutut dihadapannya; dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada SeHun, "Ceritakan yang sejujurnya SeHun."
"Oke, alasan kenapa beberapa akhir ini aku datang terlambat, karena beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya 7 bulan yang lalu–" SeHun memberikan sedikit jeda, saat Tao menundukan kepalanya. Tidak! Jangan pasang ekspresi itu lagi. Kumohon. SeHun mengangkat dagu Tao, "Bagaimana aku mau menceritakannya padamu, jika diawal cerita saja kau sudah memberikan ekspresi itu."
"Hei, Tao. Dengarkan aku –dengarkan, aku berada disini, disampingmu. Aku tidak akan pergi kemanapun. Jadi lupakan 'dia'. Kalau kau mempunyai masalah, ceritakanlah padaku, aku akan mendengarkannya dengan senang hati. Kalau kau dibully oleh seseorang atau di hadang oleh preman, panggil namaku tiga kali, maka aku akan datang untuk membantumu. Melidungimu."
Setitik cairan bening terjatuh dari sudut mata pemuda panda tersebut. Tao mengusapnya kasar, kemudian tersenyum. Dia memukul pundak SeHun pelan, "Kau membuatku terlihat rendah, SeHun. Apa perlu aku mewushu-mu, untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah itu? Tapi terima kasih, kau memang sahabatku paling aneh yang pernah kutemui."
"Ya! Ya! Aku tidak seaneh itu, jika aku dibandingkan dengan Si Hitam itu maka aku jauh lebih normal daripada dia."
Tao mengernyitkan dahinya, bingung. Si Hitam? Siapa? SeHun buru-buru terkekeh pelan, "Maksudku Si Hitam tetangga sebelah rumahku, dia baru pindah seminggu yang lalu, da-dan.. yah, kulitnya hitam sekali, ketika aku bertanya, dia menjawab dengan tarian aneh dan berkata bahwa dia dari tanah Afrika. Entahlah, aku tidak terlalu mengerti. Jadi bagaimana? Apa aku harus melanjutkan ceritaku kembali atau menyudahinya saja?"
"Ceritakan padaku serinci dan sedetail-detailnya."
"Baiklah, cerita itu bermula ketika kedua orang tuaku tengah menyambut kedatanganku ketika pulang sekolah. Jika kau berpikiran bahwa kedua orang tuaku sedang terlihat dalam mode cerewet, maka kali ini semua image itu hilang –mereka jauh lebih tenang, dan selalu tersenyum. Dan aku tersadar ada yang tidak beres disini. Melihat keanehan itu, aku mulai berjalan mendekati eomma dan bertanya tentang apa yang telah terjadi, selanjutnya yang terjadi eomma justru memelukku dan mengatakan bahwa aku akan dij–"
Sebuah suara yang jauh melengking dibandingkan milik SeHun menginterupsi kegiatan-menceritakan-kisah-hidup-SeHun-yang-beberapa-akhir-ini-aneh. Tao menutup kedua telinganya dan berdecak kesal. Siapa yang berani mengganggu mereka, ketika asyik seperti ini? Dia mengedarkan pandangannya keseluruh kelas, hingga berhenti di depan kelas, yang menampakkan seorang gadis –atau wanita, karena Tao tidak yakin orang yang sedang berkacak pinggang di depan kelasnya ini masih gadis, rambut coklat bergelombangnya terayun kebelakang, dengan mimik yang mengerikan. O-oh, bencana telah datang.
"Bahwa kalian berdua akan saya hukum untuk berlari keliling lapangan sebanyak 5 kali, ditambah dengan membersihkan toilet pria! Mengerti!"
GLUP
SeHun dan Tao berpandangan sejenak, kemudian mengangguk.
"Ne, Seonsaengnim."
.
.
Di sebuah ruangan, terlihat seorang pemuda tengah terduduk. Kedua tangannya berada di atas tuts piano. Matanya terpejam. Ia mulai memainkan tuts-tuts piano itu, dan menyanyikan sebuah lagu –yang beberapa akhir ini menghilangkan rasa sakit di dalam dadanya.
Have you ever fed a lover with just your hands?
Closed your eyes and trusted, just trusted
Have you ever thrown a fist full of glitter in the air?
Have you ever looked fear in the face and said "I just don't care"?
It's only half past the point of no return
The tip of the iceberg, the sun before the burn
The thunder before the lightning, and the breath before the phrase
Have you ever felt this way?
Have you ever hated yourself for staring at the phone?
Your whole life waiting on the ring to prove you're not alone
Have you ever been touched so gently you had to cry?
Have you ever invited a stranger to come inside?
It's only half past the point of oblivion
The hourglass on the table, the walk before the run
The breath before the kiss and the fear before the flames
Have you ever felt this way?
La, la, la, la, la, la, la, la
There you are, sitting in the garden
Clutching my coffee, calling me sugar
You called me sugar
Have you ever wished for an endless night?
Lassoed the moon and the stars and pulled that rope tight
Have you ever held your breath and asked yourself
Will it ever get better than tonight? Tonight
Pemuda itu mulai membuka kedua matanya perlahan. Memamerkan indahnya cipataan Tuhan itu. Sebuah senyuman, ia sunggingkan –namun senyuman itu tidak terlihat menyenangkan, justru sebaliknya, terlihat menyedihkan. Tangannya mencengkram kemeja putihnya; mencoba menghalau rasa sesak di dalam dadanya. Rasanya ia ingin menangis, namun apa daya, air matanya tidak terjatuh sedikitpun, dan itu lebih menyakitkan. Pemuda itu menghembuskan napasnya secara teratur, ia mulai beranjak berdiri dan meninggalkan ruangan itu. Ruangan yang telah menjadi saksi segala kisahnya; sedih ataupun senang. Tetapi baru beberapa langkah, pemuda itu menengok kebelakang. Berharap bahwa ada sosok lain di ruangan ini selain dirinya. Tapi bagaimanapun juga, ia tidak bisa membodohi dirinya sendiri, bahwa sejak tadi hanya dialah seorang yang berada disana.
"Aku merindukanmu. Sangat. Kim JongIn."
To Be Continued~
Hollaa... I'm back!
Saya sempet sport jantung (?) /Shock/ waktu liat antusias para review-ers, readers, silent readers, fav-ers (?), follow-ers. Serius, saya enggak nyangka kalau yang ngereview akan sebanyak itu. Terimakasih sebanyak-banyaknya.
Ini adalah chapter keduanya, bagaimana? Masih layak buat dibaca enggak?
Lagu diatas adalah lagu yang dipopulerkan oleh Pink - Glitter In The Air
Kira-kira siapa yang merindukan seorang JongIn?
Mind to Review?
Regards,
-Arcoffire-Redhair-
