"...Aku tidak akan mudah terpesona padamu, apalagi jatuh cinta padamu, catat itu."

.

.

Title: Trapped In Love

Rated: T.

Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, Xi LuHan, Zhang YiXing, Kim MinSeok, Park ChanYeol, Byun BaekHyun, and 'Someone'.

Pair: Kim JongIn & Oh SeHun.

Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].

Disclaimer: SMTown - EXO belongs to God, and their parents.

Warning: Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ untuk beberapa kata, SeKe untuk beberapa chapter -kedepan akan lebih jelas pairingnya, and etc.


.

.

Di pagi yang cerah ini, seorang pemuda mungil bersurai karamel berlari-lari di tengah lapangan. Ini sudah memasuki jam istirahat, jadi pemuda imut itu bermain petak umpet dengan teman-temannya. LuHan menengok ke kanan dan ke kiri; mencari tempat persembunyian yang aman. Mata rusa indahnya meneliti seluruh halaman sekolahnya –hingga berhenti pada sebuah pohon berbatang lumayan besar. Sebuah lampu berpijar terang di atas kepalanya, A-ay! Dengan tergesa, LuHan berlari menuju batang pohon itu, dan bersembunyi di baliknya. Napasnya memburu, keringatnya bercucuran –tetapi setidaknya ia sudah aman. LuHan mendudukan tubuhnya di tanah, lengannya mengusap keringat yang mengalir dari pelipisnya. Ia menengok dari balik batang pohon itu; meneliti apakah ada temannya yang mendekati persembunyiaanya. Kosong. Hah! LuHan bisa bernapas lega sekarang.

Mencoba mengusir kebosanan, LuHan mencabuti rumput-rumput kecil yang berada di sekitar pohon itu. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya, sebuah sobekan daun kecil-kecil yang turun berjatuhan dari atas secara terus-menerus. LuHan mendekati tempat jatuhnya sobekan daun itu, tangan mungilnya mengambil salah satu helai daun yang sudah tidak terbentuk –mengamatinya sebentar, sebelum mendongak ke atas.

"Hai!"

SRAK

Seorang pemuda bertubuh mungil darinya, serta memiliki warna rambut yang aneh menurut LuHan –perpaduan antara pirang dan indigo, melompat dari sebuah dahan pohon, dan mendarat mulus di hadapan LuHan; hampir membuat LuHan terjengkang kebelakang, jika pemuda chubby dihadapannya tidak segera menarik tangannya. Pemuda itu tersenyum, "Hai! Apa yang sedang kau lakukan disini?"

LuHan menggeleng. Ini tidak mungkin terjadikan? Sekarang–saat ini, dihadapannya; berdiri seorang pemuda yang menggemaskan, dengan dua buah baozi yang menempel di sisi kiri-dan-kanan wajah babynya,"B-baozi?"

Pemuda itu memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan yang diucapkan orang di depannya, "Apa itu baozi?"

Tangan LuHan terulur dan menyentuh pipi chubby pemuda itu, lembut dan menggemaskan, bolehkan dia menggigitnya? –atau jika tidak menjilatnya sedikit saja? Perutnya sedikit bergejolak lapar; tadi Appa dan Papanya membuatkan bekal untuk LuHan, tapi belum sempat ia makan karena teman-temannya mengajaknya bermain berlari-dan-bersembunyi ini, "Apa aku bertemu dengan manusia baozi?"

"Aku tidak mengerti, sebenarnya kau berbicara apa?"Tanya pemuda itu lagi, kali ini dengan nada sedikit kesal. LuHan menjauhkan tangannya dari pipi chubby itu, dan membungkuk. Meminta maaf, "Ah! Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu. T-tadi aku sempat mengira kau adalah baozi –itu adalah makanan sejenis bakpao di China. Maafkan aku. Eum, kalau boleh tau, apa yang kau lakukan diatas pohon?"

"Ooh, apakah aku sechubby itu hingga secara tiba-tiba kau memanggilku baozi?"Ucapnya diikuti tawa renyah, "Pohon ini adalah tempatku beristirahat. Bagiku pohon ini adalah rumah keduaku. Hampir setengah hidupku berada di atas sana. Eum, aku lupa. Perkenalkan aku Kim MinSeok, kau boleh memanggilku XiuMin jika kau mau. Aku sekarang kelas 2. Kau sendiri belum memperkenalkan namamu?"

"Aku? Aku –Aku Lu.."Ujar LuHan terbata. Jadi MinSeok hyung bolehkah LuHan memanggilnya seperti itu? Lebih tua darinya satu tahun; dengan wajah semenggemaskan itu?

"Aku melihat LuHan!"

Sebuah suara menginterupsi kegiatan LuHan dan MinSeok. LuHan menoleh kebelakang; tepatnya dibalik pohon, teman-temannya sudah terkumpul disana. Salah satu temannya berlari ke arahnya dan menarik-narik tangannya, "LuHan! Darimana saja kau! Semuanya sudah berkumpul, hanya kau saja yang belum."

"Baiklah, aku akan segera kesana," LuHan membungkuk sekilas kepada MinSeok, dan tersenyum, "Aku Xi LuHan. Kelas 1. Annyeong.. MinSeok sun–"

"Hyung, panggil aku hyung saja."

"Baik, kalau begitu, aku pergi dulu. Bye-bye!"

MinSeok tersenyum lebar, ia melambaikan tangannya; membalas lambaian LuHan, "LuHan. Xi LuHan. Aku akan mengingat namanya. Dia lucu. Bao-zi. Baozi ya? Nama yang bagus."

Yeah, namanya adalah Xi LuHan; anak angkat dari Oh SeHun dan Kim JongIn. Dan alasan kenapa LuHan masih menggunakan nama keluarga China-nya, lantaran kedua orang tua barunya tidak pernah mengatakannya dengan benar –nama keluarga siapa yang harus ia pakai. Terkadang Oh LuHan, namun esoknya akan berganti menjadi Kim LuHan. Jadi, itulah alasan mengapa LuHan lebih memilih menggunakan marga China-nya daripada harus kena marah, ketika salah menyebutkan namanya dengan marga dari kedua ayahnya itu.

.

.

Di sebuah atap sekolah, seorang pemuda tengah memejamkan matanya. Tangan kanannya menjadi bantalan kepalanya. Kedua telinganya tersumpal oleh earphone. Baginya, tertidur di atas atap sekolah adalah yang terbaik; apalagi ketika hampir seluruh siswa sekolah heboh , dan menanyainya berbagai kalimat tanya yang membuat kepalanya berdenyut sakit. Ini semua salah Si Albino itu!

Yup! Semenjak SeHun datang, dan menyeretnya keluar kelas, seluruh sekolah tak henti-hentinya membicarakannya –termasuk ChanYeol dan BaekHyun yang selalu mengekorinya, karena tidak kunjung memberikan penjelasan tentang peristiwa mengagetkan waktu itu. JongIn bahkan masih ingat; saat suara-suara berisik itu bertanya beberapa hal yang menambahkan beban pikiran saja.

'Siapa orang itu?', 'O-oh, dan siapa LuHan?', atau 'Apa hubunganmu dengan keluarganya?'

Argh! Rasanya JongIn ingin kembali menjadi anak kecil yang menikmati hidupnya tanpa beban sedikitpun. Yeah, menjadi anak kecil dengan hidup tanpa beban. JongIn membuka matanya, ia melepas earphone-nya dan duduk –dengan kepala yang menatap langit biru tak berawan itu. Ini adalah salah satu kegiatan favoritnya ketika masih kanak-kanak; memandang langit biru bersama… –sahabatnya. Sahabatnya sekaligus he's first love. Betapa JongIn merindukan sosok itu disampingnya, mengusap-usap pundaknya, sesekali mengacak rambutnya pelan, ketika dirinya merasa bimbang dan sedih. Masa-masa itu jauh lebih indah daripada saat ini. Walaupun LuHan adalah kebahagiaanya sekarang. JongIn menghembuskan napasnya kasar. Ini tidak boleh terjadi, itu hanyalah masa lalunya, seharusnya itu tidak perlu ia ingat-ungkit kembali. Saat ini adalah saat ini, sekarang keluarganyalah prioritas utamanya –tidak peduli, mereka (SeHun dan JongIn) saling membenci atau membunuh. Tidak peduli, kisah cintanya yang dulu, terpisah dengan menyakitkan akibat perjodohan ini. Karena ini adalah permintaannya. Permintaan yang paling dalam dari lubuk hatinya. Kasihnya.

Dan itu alasan kenapa JongIn belum bisa merasakan-dan-atau-menaruh hatinya kepada SeHun.

Dengan sedikit gontai, JongIn beranjak dari atap sekolah dan berjalan menuju tangga; penghubung antara atap sekolah dan belakang kantin. Matanya memandang seluruh penjuru sekolah. Sepi. Sepertinya ini sudah memasuki pergantian jam pelajaran. Baru saja JongIn melangkahkan kakinya menuju ruang Unit Kesehatan Sekolah–ini sudah pergantian jam, jadi sekalian saja dia membolos, sebuah tangan –ah, tidak, dua buah tangan dari berbeda pemilik, menepuk kedua pundaknya. JongIn menghela napasnya dan membalikkan badannya.

"Kau mau kemana, huh?"

JongIn memutar bola matanya malas, memangnya ia pencuri apa? Sampai harus di kepung oleh 2 orang aneh ini dengan ekspresi yang seolah mengatakan bahwa 'kau telah mencuri, dan tertangkap basah oleh kami'. Si konyol bertubuh tinggi dan si berisik bertubuh mungil. Siapa lagi kalau bukan ChanYeol dan BaekHyun.

"Kau sudah mulai pandai bersembunyi, eoh?"

BaekHyun mendekati JongIn dan mengendus seragam JongIn, layaknya seoekor hewan peliharaan yang mencurigai orang yang baru dikenalnya. JongIn tentu saja risih, tapi ini sudah menjadi kebiasaan BaekHyun kalau dirinya akan menghilang dan datang tiba-tiba seperti ini, "Biar kutebak! Kau pasti dari atap!"

"Apa perlu aku jawab?"

ChanYeol tertawa, dan merangkul bahu JongIn, "Mencoba kabur dari para fansmu, Kai-ya? Kau tau, aku sudah mencarimu kemana-mana seharian ini, dan kau justru sedang bersantai di atap."

"Ohh, haruskah aku peduli?"

Kedua alis BaekHyun terangkat, ia menatap ChanYeol, begitu pula sebaliknya. Sejak kapan, Kai yang dikenalnya ini berubah menjadi dingin? Selama mereka mengenal Kai, Kai tidak pernah bersikap sedingin ini, kecuali ketika dia sedang patah hati; beberapa bulan silam –dan ketika ditanya, apa alasan mereka berpisah, Kai terus menjawabnya seputar itu-itu saja. Tidak memberitahukan kepada mereka dengan detail. Mungkin memang belum saatnya mereka tau, lagipula itu hak privasi setiap orang, jadi BaekHyun dan ChanYeol tidak bertanya lebih jauh –sebelum persahabatan mereka retak.

"A-apa kau merindukannya? –kekasihmu?" Dan selanjutnya ChanYeol merutuki mulutnya yang bicara seenaknya. BaekHyun mendelik, ia mencubit pinggang ChanYeol; membuatnya merintih kesakitan . Dasar Park-Dobi-Idiot, tidak bisakah dia membaca suasana? Ah! Dan dia bukan lagi kekasihnya, tiang!

"A–Eumm… maksudku mantan kekasihmu."

Park ChanYeol, kau memang bodoh.

Helaan napas terhembus dari bibir kissable itu. JongIn mengusap wajahnya kasar, sebelum menatap kedua sahabatnya, "Yah, kalian benar. Aku sedikit merindukannya,"lirihnya. BaekHyun mengusap pundak JongIn, mencoba memberikan ketenangan. Semua ini terjadi setelah, Kai dengan kekasihnya–yang BaekHyun dan ChanYeol sendiri tidak mengetahui namanya–berpisah, tidak! Bukannya mereka berdua menyalahkan kekasih –oke! Mantan kekasih Kai, hanya saja, semenjak hari menyakitkan itu, Kai sedikit berubah.

"Maafkan aku jika aku mengatakan yang ti–"

JongIn hanya tersenyum tipis, sebelum memukul pundak ChanYeol pelan, "Tidak apa-apa, lagipula itu hanya masa lalu. Tidak seharusnya aku mengingat-ingat hal itu kembali. Tidak ada gunanya. Belum tentu juga dia masih mengingatku. Setidaknya, aku bersyukur, kehidupanku yang sekarang lebih baik."

Kehidupan bersama keluarga kecilnya, tentu.

"Whoa, kau mulai belajar menjadi dewasa rupanya, hei–hei kau tidak sedang bermain teather-kan? Gaya bicaramu berubah. Terlihat seperti err.. orang tuaku," gerutu BaekHyun, diselingi dengan candaannya. JongIn tertawa kikuk. Sial! Hampir saja dia membocorkan the big secret-nya –walaupun nanti ujung-ujungnya juga terbongkar. ChanYeol menarik tangan JongIn, kemudian menaik-turunkan alisnya, "Jadi Kai-ya, berhubung sekarang moodmu telah membaik, bolehkah aku meminta sesuatu?"

Pemuda berkulit sexy itu hanya memiringkan kepalanya, hampir membuat ChanYeol mencubit kedua pipinya dan memeluk tubuh menggoda itu, "Memangnya kau mau meminta apa? Aku tidak sedang membawa uang banyak, ChanYeol."

"Tidak, cukup berikan jawabanmu, di…" ChanYeol mengeluarkan secarik kertas yang lusuhouh! Apakah itu masih pantas disebut dengan secarik kertas? Lalu memberikannya kepada JongIn, "–Cukup jawab beberapa pertanyaanku di kertas ini," lanjutnya dengan senyum terkembang lebar, sedangkan yang ditanya-atau-dipaksa-menjawab memutar bola matanya.

Mereka mulai beraksi kembali. Ya Tuhan…

.

.

Pukul 03.57 PM. Seseorang menghela napasnya, kemudian menaruh beberapa barang belanjaannya di samping pintu utama. Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu. Hari ini terlalu melelahkan. Berbelanja kebutuhan sehari-hari memanglah bukan keahliannya. Seharusnya pekerjaan ini, ia berikan kepada si hitam itu. JongIn membuka pintunya, lalu memandang jengah barang belanjaan yang baru saja dibelinya bersama SeHun, tergeletak sembarangan. Tck! SeHun hanya membawa 3 kantong belanja saja, coba bandingkan dengan dirinya; ia membawa 4 kantong! Aish.. kenapa anak itu terlalu berlebihan. Bertingkah seolah tidak melihat barang belanjaan di samping pintu utama, JongIn berjalan santai melewati SeHun –bahkan dengan sengaja menyenggol kakinya. SeHun menggerutu kesal. Namun baru saja, SeHun akan mengumpati JongIn dengan kata-kata mematikannya, sebuah tepukan halus mendarat di atas kepalanya. SeHun menoleh, sedikit terkejut memang, mendapati seseorang yang berada di rumahnya tanpa diundangnya, tetapi ketika melihat LuHan berada di gandengannya, semuanya tampak normal kembali.

"Hi kid! Apa kau tidak merindukanku, heum? Hingga harus JongIn yang menelponku duluan?"

SeHun menangkap LuHan yang berlari ke arahnya, lalu mendudukannya di pangkuannya, "Tentu saja aku merindukanmu, angel hyung. Tapi jadwal sekolahku yang bertumpuk-tumpuk, membuatku tidak sempat menghubungimu. Apakah JongIn yang menyuruhmu menjemput LuHan, hyung?"

"Kau berlebihan, SeHun; lantas kenapa kau bisa pergi belanja sekarang? Yup! Beberapa jam yang lalu, dia menelponku untuk menjemput LuHan. Katanya…" Pemuda yang SeHun panggil hyung itu tersenyum kepada JongIn; yang telah membuatkannya secangkir teh hangat untuknya, "Thank's JongIn, kau ternyata jauh lebih perhatian ya. Tidak seperti dia –bahkan untuk mengabari hyungnya saja tidak pernah," sambungnya dengan nada mengejek. SeHun menatap tajam hyungnya disamping, "Aigoo… bahkan dia saja menatap tajam padaku."

"Hyung!"

C'mon, dia tidak ingin dijelek-jelekkan di depan istrinya –atau suaminya? Oh! Tentu saja SeHun adalah suaminya.

"Okay-okay! Sampai mana aku tadi –ah! JongIn mengatakan bahwa kalian tidak sempat menjemput LuHan, karena akan membeli kebutuhan kalian untuk beberapa bulan kedepan, dan kebetulan sekali hari ini aku sedang senggang. Tidak banyak pembeli yang datang di cafeku. So, kenapa tidak? Sekalian aku mengunjungi kalian. Sudah lama aku tidak kemari, dan ternyata kalian masih sama seperti dulu. Yah, kuakui ada sedikit perubahan diantara kalian."

LuHan menarik-narik tangan JongIn untuk terduduk di samping SeHun. JongIn terkekeh pelan, lantas ia menuruti permintaannya; duduk disamping SeHun, dengan LuHan yang berada di pangkuan SeHun. Jari-jari mungilnya memainkan kedua tangan SeHun dan JongIn, hingga tak disengaja, menyebabkan kedua tangan mereka bertaut. LuHan bertepuk tangan; senang, seakan-akan telah menyelesaikan sebuah puzzle tanpa bantuan seseorang. Yixing menyunggingkan senyum angelnya saat memperhatikan perilaku LuHan terhadap SeHun dan JongIn, "Tidakkah kalian melihat? LuHan saja mendukung keakraban kalian? Dia ingin kalian benar-benar bersatu sebagai sepasang suami-eghm-suami, bukan hanya bersatu sebagai ikatan tertulis. LuHan membutuhkan ketulusan, kasih sayang, cinta, kalian berdua."

Dia ingin kalian benar-benar bersatu sebagai pasangan, bukan sebagai ikatan tertulis.

Kedua pemuda berbeda warna kulit itu terdiam. Hingga salah satu dari mereka tersenyum, menciptakan sebuah eye smile, yang selama ini hanya diperlihatkan kepada keluarganya saja. SeHun menggenggam erat tangan JongIn, hampir membuat JongIn terjungkal kebelakang sofa akibat tindakan tiba-tiba SeHun. Apalagi baru kali ini SeHun menanggapi ucapan tentang hubungan suami-eghm-suami-absurd mereka dengan serius. Dia tidak sedang beraktingkan? Sedangkan tangan yang satunya, memeluk tubuh mungil LuHan; sepintas terlihat seolah-olah dia akan melindungi keluarganya dari apapun.

"Aku mencintainya. Aku mencintai keluargaku, hyung. Bagiku mereka adalah segalanya. Mereka adalah pelepas semua penatku. Mereka adalah pemberi kebahagiaanku. Mereka adalah napasku. Mereka… tidak akan pernah tergantikan, hyung."

Rasa ini, memang tidak dapat dibohongi. Berapa kali 'pun dirinya menyangkal apa arti semua rasa sesak di dalam dadanya, membodohi otaknya untuk berhenti memikirkan tentang 'dia', dan tidak lagi memandanginya ketika pulas tertidur; tetap saja perasaan bernuansa merah muda itu selalu menghiasi hatinya.

Dia telah jatuh ke lubang itu. –Love.

Bangga. Yah, Yixing tidak peduli SeHun tulus atau tidak mengatakannya, namun dia yakin, SeHun telah berubah. Buktinya, dia tidak ragu-ragu mengeluarkan jurus senyumannya itu, selain sedang berada di rumah orang tuannya. Ia menaruh kembali cangkir tehnya yang sudah habis ke atas meja. Tubuhnya beranjak dari sofa ruang tamu itu, dan mengusap-usap surai karamel LuHan, "Sepertinya, aku memang tersisihkan ya, haha, " candanya, sebelum melambai ke arah pemuda mungil bermata rusa itu, dan tersenyum kepada JongIn dan SeHun, "Kurasa, aku harus pulang sekarang. Lagipula ini sudah sore. SeHun, JongIn, sampai berjumpa lagi. LuHan, bye! See you next time."

LuHan melambai-lambaikan tangannya, lalu berteriak, "Yixing samchon, sampai berjumpa lagi! Jangan lupa!"

Ibu jari Yixing teracung, ia mengedipkan sebelah matanya, "Siap! Aku tidak akan melupakannya, baby deer!"

Dahi JongIn berkerut memandang kedua pemuda berbeda umur itu, "Apanya yang lupa, dan apanya yang siap?"

Terdengar kekehan Yixing, yang perlahan menjauh, "Ini urusan anak muda! Orang tua tidak boleh ikut-ikut!" teriaknya, diikuti dengan tawanya, sebelum menghilang dibalik pintu utama rumah SeHun dan JongIn.

Hei! Dirinya tidak setua itu! Lagipula itu hanya statusnya yang berubah–menjadi orang tua–tapi tetap saja dia masih muda! –sexy dan tampan!

Drrtt drrtt drrtt

JongIn mengalihkan pandangannya ke arah smartphonenya, ia membaca pesan yang dikirimkan Yixing, lalu terkikik kecil. Seperti itukah?

"Apa yang Yixing hyung katakan?" tanya SeHun, penasaran. JongIn menolehkan kepalanya, ia memandang SeHun dengan tatapan remeh, kemudian melirik tangan mereka melalui sudut mata, "Mau sampai kapan kau menggenggam tanganku? Jika kau memang menyukaiku, katakan saja, tidak udah bertingkah seolah kau telah memenangkan permainan ini, SeHun."

Tetapi, lagi-lagi kutekankan; bahwa permainan cinta itu rumit. Dan membuat mereka terjebak, dan lebih memilih ego masing-masing.

Sebuah senyum sinis terpampang di paras putih SeHun, "Tapi paling tidak, aku sudah mendapatkan satu kartu As, So, kita seimbang. Kau mendapatkan kepercayaan dari orang tuaku, sedangkan aku mendapat kepercayaan dari Yixing hyung." Alis JongIn terangkat sebelah; menampilkan ekspresi bermain-main. Ia mengangkat tangan mereka–SeHun dan JongIn yang masih bertaut, lalu mengecup pelan punggung tangan SeHun, "Ini yang kau inginkan? Atau kau menginginkan ini–?" JongIn mendekatkan wajahnya dan menggigit pelan telinga SeHun, membuat SeHun mendesis pelan. Menggodanya, eoh? Tck! Dirinya hanya berdoa, semoga LuHan tidak tertular sifat –saling menggoda untuk menjatuhkan lawannya ini (Entah harus mereka sebut apa). Seringaian kejam terlukis, SeHun kemudian mencium pipi LuHan gemas. Ini saatnya pembalasan,"Honey, bisakah kau pergi ke kamarmu sekarang? Kau belum mengerjakan Pekerjaan Rumahmu, bukan?" LuHan mengerucutkan bibir mungilnya, tangannya masih setia bermain dengan jemari SeHun, "Papa, aku masih ingin bermain dengan Appa dan Papa. Besok juga tidak ada Pekerjaan Rumah, kalaupun ada pasti tadi sudah kukerjakan dengan Yixing samchon."

Tangan JongIn mengusap-usap rambut LuHan, dia tersenyum manis, "Appa punya kejutan untuk LuHan," ujarnya. Ia bangkit dari sofa, lalu berjalan ke arah dapur, mengambil 'sesuatu' yang disebutnya kejutan. Tak lama, JongIn telah kembali dengan kedua tangan yang berada di belakang. Dengan semangat membara, LuHan turun dari pangkuan SeHun, dan berlari kepada JongIn.

"Tada! Apa yang Appa belikan!"

Mata rusa LuHan berbinar-binar menatap 2 benda berbeda bentuk, di masing-masing tangan JongIn. Sebuah bubbletea rasa coklat dan rubik baru; pengganti rubik lamanya yang rusak. Dengan riang, LuHan menhampiri JongIn, dan mengambil dua hal yang disukainya itu. "Woo-ho! Choco Bubbletea dan rubik baru! Thank you very much, Appa!"

"Tapi.."

"Tapi apa, Appa?"

"Tapi, Appa ingin, LuHan mandi terlebih dahulu, setelah itu, LuHan boleh memainkannya di kamar. Mengerti?"

Dengan pasti, LuHan mengangguk antusias, kemudian berlari menuju kamarnya. Lagi-lagi JongIn menyunggingkan senyumnya, lalu menatap sinis SeHun. Kau lihat? LuHan telah berpihak pada dirinya. Sekarang mereka tidak sepenuhnya seimbang. 2-1. SedangkanSeHun menggerutu kesal, "Itu bubbleteaku, kenapa kau main ambil saja, tanpa bilang-bilang? Itu artinya kau bermain curang, Kkamjong! –Dan yeah, kuakui LuHan telah berpihak kepadamu, karena kau kan ibunya."

JongIn menarik rambutnya kebelakang, "Tck! Kau itu masih memiliki stock di kulkas, kenapa pelit sekali? Lagipula itu untuk LuHan, bukan untuk Monggu atau Jjanggu. Tidak selalu, seorang anak akan berpihak kepada salah satu orang tuanya, disebut sebagai ibu, kau sendiri? Bukankah kau berpihak kepada Appamu?" SeHun menyandarkan punggungnya di sofa, dan melipat kedua tangannya, "Itu sama saja, black! Apa kau tidak pernah menghitung, jika stock bubbleteaku dari hari-ke-hari berkurang? Jangan sangkut pautkan aku dengan orang tuaku. Ini tentang kita bertiga, bukan tentang Appa dan Eommaku –yang sudah jelas berlainan jenis."

"Karena aku memang tidak pernah menghitungnya. Tch! Itu tidak ada gunanya untukku, kecuali dengan menghitung bubbleteamu itu, nilai mathku meningkat drastis –oh! Atau kau ingin, aku mengatakan kepada eommamu, kalau kau masih mengkonsumsi bubbletea secara berlebih!? Whatever, yang pasti kau berada di kubu Appamu."

"Sialan kau!" Seru SeHun, seraya berjalan meninggalkan JongIn –yang tertawa besar melihat kemenangannya. Tolong ingatkan SeHun, untuk menyumpal mulut itu dengan bungkus bubbletea dari sampah belakang rumah; yang belum sempat ia buang. Hari ini sepertinya sedang menjadi hari yang buruk bagi SeHun. Ouh! Tapi tentu saja, SeHun tidak sudi mengatakan pada JongIn, bahwa dirinya kalah, hanya malas berdebat saja. Bisa runtuh gelar penakluknya, jika mengatakan pada JongIn bahwa dirinya kalah. Apa kata Pandanya?–Oke! Lupakan tentang kalimat-aneh-terakhir itu.

Namun, namanya saja hari-yang-buruk, maka nasibnya 'pun tidak berjalan dengan mulus. Baru beberapa langkah meninggalkan JongIn di sofa terkutuk itu, tiba-tiba SeHun terpeleset kebelakang; akibat tetesan bubbletea yang dibawa LuHan tadi dengan semangat, menyebabkan beberapa airnya tercecer di lantai. Untung saja, JongIn dengan sigap menangkap SeHun –eghm! Maksdunya kepalanya saja, membuat wajahnya tepat berada di atas SeHun saat ini. Sesuatu yang menggebu di dalam dadanya, sedikit membuat JongIn terdiam.. dan terpana. Ia hanya memandangi iris indah SeHun, seolah terlalu sayang untuk dilewatkan. Hey! Memangnya selama ini kau kemana? Hingga baru menyadari keindahan mata itu?

Kesempatan dalam kesempitan, Itulah yang SeHun pikirkan saat ini. Memanfaatkan ke-terpesonanya JongIn pada dirinya, SeHun meraih pipi itu untuk mendekat –membalaskan dendamnya sejak tadi. Dikecupnya pelan bibir itu, lalu melumat bibir bawahnya. Rasakan itu Oh JongIn! Ini akibatnya jika bermain-main dengan seorang Oh SeHun.

Seakan tersadar dari mimpi bidadarinya, JongIn mengerjap-erjapkan matanya. Tck! Dia bodoh! Kenapa juga harus terpana akan mata SeHun. Dibandingkan dengan matanya itu, masih lebih indah warna kulitnya. Tanpa perlu membuang waktu, JongIn melepaskan kepala SeHun dari tangannya, kemudian mengecup pelan mata SeHun yang terpejam –merasakan betapa nikmatnya membentur lantai dengan keras, ketika tengah akan menjatuhkan lawannya. JongIn beranjak, lalu melambai ringan kepada SeHun, "Kau pikir semudah itu menaklukkanku, Kim SeHun? Aku tidak akan mudah terpesona padamu, apalagi jatuh cinta padamu, catat itu."

Tangan SeHun berhenti mengusap kepalanya. Ia menatap kosong punggung JongIn yang perlahan menghilang. Aku tidak akan mudah jatuh cinta padamu. Ada yang aneh dengan ucapan JongIn barusan, seolah menghantam kepalanya, semakin berdenyut sakit. Benarkah? Apa tidak ada celah? Atau itu tanda agar SeHun lebih berusaha menggapainya? Tangannya menggapai-gapai meja di ruang tamunya untuk membantunya bangkit dari keterpurukan, sebelum menemukan smartphone JongIn. SeHun melihat nama Yixing hyung tertera di pesan masuknya –yang merupakan awal masalah perdebatan ini terjadi. Ia mendudukkan tubuhnya, kemudian membawa pesannya,

From: Yixing Hyung

LuHan sepertinya sudah beranjak besar, tadi dia mengatakan padaku bahwa dia ingin mengajakku membeli binocular untuk melihat hyung barunya. Kalau tidak salah, tadi dia mengatakan namanya MinSeok-Baozi-Hyung. Ketika kutanya, untuk apa harus membeli binocular jika dia bisa melihatnya langsung? Ouh! Dan kau tau apa jawabannya; LuHan mengatakan jika MinSeok terlalu jauh untuk dilihat apalagi digapai. Sehingga membutuhkan sesuatu untuk dapat melihatnya lebih jelas. Tck! Anak-anak zaman sekarang.

Senyum SeHun terkembang, namun tak lama kembali meredup; semoga LuHan tidak memiliki sifat sepertinya maupun seperti JongIn. Sifat terlalu angkuh, dan saling menjunjung tinggi ego mereka. Semoga saja, LuHan jauh lebih baik.

.

.

Seorang pemuda tengah menggosok-gosokkan kedua tangannya, kemudian meniupnya pelan. Entah mengapa, malam hari ini jauh lebih dingin daripada hari-hari sebelumnya. Sialnya lagi, pemuda itu lupa membawa jaket. Kepalanya menengok ke samping kanan dan kiri, mencari pemuda bertubuh jangkung yang hilang entah kemana.

"BaekHyun!"

BaekHyun menghela napasnya, ia menghampiri ChanYeol yang melambaikan tangannya, sambal berlari membawa 2 buah sweater berwarna sama; bertuliskan We're always happy. Heh, selalu saja begitu, menghilang tiba-tiba, kemudian datang membawa sesuatu yang entah di dapatnya darimana. Tetapi, BaekHyun menghentikan langkahnya, ia menutup mulutnya ketika melihat ChanYeol dengan idiotnya tidak memperhatikan sosok mungil yang berjalan dari arah toko di sampingnya, hingga menyebabkan tubuh mereka bertubrukkan. Sedikit tergesa, BaekHyun menghampiri kedua orang berbeda tinggi itu. Ia membantu berdiri sosok bertubuh mungil itu dari jatuhnya, ChanYeol mengerucutkan bibirnya, sebal, "Ya! Baekkie, kenapa kau hanya membantunya berdiri? Tidak lihat kalau aku juga terjatuh?"

"Berisik!" tukasnya, mendeath glare ChanYeol –yang membuat ChanYeol menciut seketika. BaekHyun memang tidak lebih tinggi darinya, tapi tatapannya jauh lebih tajam daripada milik Kai. Maka, dengan berat hati, ChanYeol bangkit sendiri. BaekHyun menggenggam tangan sosok itu, "Ah! Maafkan aku, temanku memang selalu ceroboh."

Sosok itu tersenyum, kemudian menggeleng pelan, "Tidak apa-apa, aku juga minta maaf, karena tidak memperhatikan jalan tadi," ChanYeol yang melihat aksi pegang-memegang itu, segera melepaskan tangan mereka, "Tidak baik berpegang-pegangan di malam yang dingin seperti ini, bisa jadi, nanti ada orang ketiga yang menjadi hantu," gerutu ChanYeol, tidak jelas. BaekHyun memutar bola matanya, "Maka orang itu adalah kau, ChanYeol."

DEG

Kepalanya menoleh kaku, menatap ChanYeol dan BaekHyun yang asyik bertengkar kecil, "Park ChanYeol dan Byun BaekHyun? Kaliankah itu?"

BaekHyun dan ChanYeol memandang kaget kepada sosok tadi. Terkejut akan nama panjang mereka yang dipanggil oleh sosok yang tidak dikenal, dan akan sosok yang sempat terabaikan akibat pertengkaran rutin mereka.

"Benarkah kalian adalah Park ChanYeol dan Byun BaekHyun?" tanya sosok itu lagi, kali ini dengan mencengkram ujung mantelnya. Matanya terlihat berkaca-kaca, semakin membuat ChanYeol dan BaekHyun kalang kabut.

"Iya, benar. Apakah aku –maksudku, kami mengenalmu?"

Bukannya menjawab, sosok itu justru menundukkan kepalanya sejenak, sebelum kembali mengangkat wajahnya yang telah berurai air mata. Sebenarnya dia siapa? Dan kenapa musti menitikkan air mata?

"Jadi benar ya? Apa Kai baik-baik saja?"

ChanYeol memiringkan kepalanya. Kenapa akhir-akhir ini banyak sekali orang asing yang memanggil-manggil nama idolanya? BaekHyun mendekati sosok itu, mengusap-usap lengannya, membantu membuatnya setenang dan serilex mungkin, "Kai baik-baik saja, tapi kalau boleh tau, apa kita pernah bertemu? Atau darimana kau bisa mengetahui nama kami, dan –nama Kai?"

Sosok itu tersenyum, ia mengusap kedua matanya pelan. Tck! Rasanya dia kembali menjadi sosok berhati lemah kembali, kalau mengingat nama Kai. Lama ia tidak mendengar kabarnya, membuat rindunya terlalu memuncak. Dan sekarang ketika dipertemukan kembali, walaupun dengan sahabat-sahabat Kai, tetapi mendengar kabarnya baik-baik saja, membuat sosok itu lebih lega.

"Maafkan aku jika sudah membuat kalian bingung, aku akan menjelaskan semuanya pada kalian. Namun itu nanti. Aku berjanji. Tapi sekarang, bolehkah aku meminta kepada kalian untuk membawaku kepada Kai? Jika tidak, bolehkah aku mengetahui dimana Kai bersekolah?"

Baru saja ChanYeol akan menyerbu sosok itu dengan berbagai pertanyaan, BaekHyun sudah menyikut perutnya, dan tersenyum kepada sosok itu, "Tentu saja, sepertinya kau sudah mengenal baik siapa itu Kai, oh! Kami bersekolah di EXO's High School."

Senyum di paras sosok itu semakin melebar, sebentar lagi Kai. Tunggulah dirinya.

To Be Continued~


Maaf saya terlambat mempublish fanfic ini, lantaran modem saya yang sempat menghilang beberapa hari.

Untungnya, kemarin ketemu! Jujur, saya seneng banget.

Jadi, gimana lanjutannya? Sinetron kah?

Haha, Mind to Review?

Thanks! Terimakasih bannnnyyyaakk! buat Readers, Reviewers, Silent Readers, Followers, Favers, pokoknya semua! TERIMAKASIH BANYAK!

Sayang semua, #tabokked

Regard,

-Arcoffire-Redhair-