"...Akhirnya, aku menemukanmu, Kai."

.

.

Title: Trapped In Love

Rated: T.

Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, Park ChanYeol, Byun BaekHyun, Wu Yi Fan a.k.a Kris Wu, Do KyungSoo, and 'lil bit Xi LuHan.

Pair: Kim JongIn & Oh SeHun.

Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].

Disclaimer: SMTown - EXO belongs to God, and their parents.

Warning: Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ untuk beberapa kata, SeKe untuk beberapa chapter -kedepan akan lebih jelas pairingnya, and etc.


.

.

Mungkin memiliki pasangan sehidup-semati dan buah hati, merupakan hal yang paling membahagiakan di dunia ini. Kita tidak perlu repot-repot lagi memikirkan apakah pasangan kita akan makan, tidur, bekerja, atau bahkan mandi—karena mulai saat itu kita telah tinggal satu atap dengannya, sampai-sampai kita yang akan mengurusnya kelak.Di ruang keluarga juga tidak akan sesenyap pemakaman pada malam hari; karena canda tawa akan menyebar—memenuhi seluruh ruangan di dalam rumah itu—dan membuat kita tersenyum bahagia setiap saat kepada sang buah hati. Tapi—

.

.

—Itu untuk mereka yang benar-benar melakukannya dengan senang hati, dengan tulus. Berbeda dengan kisahnya yang bermula dengan perjodohan; dan itu artinya pemaksaan secara tidak langsung. Memiliki pasangan dan buah hati justruakan memperkeruh pikirannya. Bukan! Bukan maksudnya memperburuk pasangannya atau anaknya, hanya saja kehidupannya ini akan lebih indah jika dari awal pernikahannya tidak diawali dengan adat kuno itu.

Seorang pemuda tan tengah memandangi foto pernikahan diam-diam mereka di kamar utama. Foto yang hampir berdebu dan posisinya saja miring—tidak ada seorang 'pun berniat membenarkan letaknya atau membersihkannya. Masih teringat olehnya, sebelum pemotretan foto ini, mereka berdua beradu mulut; tanpa sepengetahuan kedua orang tua mereka. Tak ada senyum yang terkembang di wajah keduanya. Terlalu mencekam—untuk pernikahan yang terbilang cukup megah. Dan tentu saja, mereka berpose terlalu kaku. Tck! Bahkan mereka belum mengenal satu-sama-lain selain nama masing-masing.

Kemudian, pemuda tan itu mengalihkan pandangannya pada foto kecil di sampingnya. Diraihnya bingkai foto itu, dan meniup debu-debu halus pergi dari foto berharga itu. Ini adalah foto setelah 2 bulan semenjak pernikahannya –fotonya bersama keluarga kecilnya untuk pertama kali. Foto ini diambil—oleh eommanya tanpa memberitahunya terlebih dahulu—ketika keluarga besarnya tengah berpiknik di bawah rindangnya pohon-pohon besar. Tampak pemuda mungil kelewat menggemaskan tengah terduduk di pangkuan pasangannya—pemuda bersurai brunette—dengan melebarkan senyumnya, sedangkan dirinya terduduk di samping pemuda itu sambil menikmati jus jeruk ditangannya. Lalu pasangannya mempoutkan bibirnya. Perasaan hangat menjalar di dadanya setiap kali menatap foto ini, karena hanya di foto ini mereka berekspresi dengan tulus, tanpa adanya paksaan sedikitpun. Baru saja ia meletakkan foto berharga itu kembali di tempatnya, selembar foto terjatuh dari baliknya. Pemuda tan itu segera mengambil foto tersebut, bagaikan terhujam sepihan kaca, perasaan hangat itu hancur seketika.

Ini—ini adalah foto orang itu; dambaan hatinya. Dulu.

Sekelebat pertanyaan melintasi pikirannya, 'Apakah hubungan ini akan berjalan dengan lancar?'

.

.

"SeHun!"

SeHun mengalihkan atensinya dari buku catatannya, ke arah pemuda panda disampingnya. Ia mengangkat sebelah alisnya, "Ada apa, baby panda?"

Tao mengerucutkan bibirnya, ia melepas kacamatanya—yang hanya ia gunakan ketika membaca buku atau belajar—lalu memberikan kertas kecil kepadanya. Dahi SeHun mengernyit, bingung. Untuk apa Tao memberikannya sebuah alamat? –Tunggu! Ini alamat… "—Untuk apa kau memberikanku alamat sekolah ini? Maksudku, ini EXO's High School. Kenapa kau memberiku alamat sekolah ini? Apa yang ingin kau lakukan?" Tao menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya, menyuruh SeHun agar tidak terlalu keras—ia tidak ingin terkena hukuman membersihkan toilet lagi, ditambah dengan lari keliling lapangan. Itu terlalu menyakitkan—lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Aku hanya memberitahumu tentang keberadaan Kris-ge. Kenapa kau terlihat panik seperti itu?"

Mulut SeHun terbuka seakan ingin mengatakan sesuatu, namun dengan cepat, ia mengatupkan mulutnya kembali. Kepalanya mengangguk kikuk, "T-tidak ada apa-apa, hanya sedikit terkejut karena kau memberikanku alamat EXO's High School—yang katanya terkenal dengan tingkat kualitas siswanya yang tinggi, well, walaupun sekolah kita juga tidak kalah dengan sekolah itu.." bohong. Rasanya SeHun ingin mengutuk kalimat yang barusan diucapkan. Yeah, sekolah itu memang memiliki tingkat kualitas siswa yang lebih tinggi dari sekolahnya sendiri; tapi ingatlah dengan baik-baik, kualitas dalam arti berbeda. Jika di sekolahnya menghasilkan kualitas siswa yang unggul dalam prestasi, maka sekolah itu menghasilkan kualitas siswa dalam hal keidiotan! Terbukti dengan adanya makhluk hitam di rumahnya itu! Dan sekarang ditambah makhluk tiang itu. O.K! Forget it.

"—Kris? Darimana kau mengetahuinya, panda? Terakhir informasi yang kudengar, Kris pergi ke luar negeri." Tao menghela napasnya, kemudian menaruh kepalanya di atas lipatan tangannya, "Eh-heum, dan dia berbohong pada kita. Kemarin, setelah aku pulang dari berlatih wushu, aku tidak sengaja bertemu dengannya menggunakan seragam sekolah. Awalnya, kupikir itu hanya khayalanku, sayangnya itu nyata. Aku berusaha mengikutinya, hingga ia menghilang di sebuah gang gelap—entah itu berada dimana, dan ketika aku bertanya salah satu orang yang keluar dari gang itu, ia mengatakan bahwa pemuda tadi bersekolah di EXO's High School. Kau tau SeHun, itu sangat membuatku kecewa. Apalagi ketika merasakan bahwa ia seperti melarikan diri dari kita. Pengecut! Apa maunya sebenarnya!?" ujarnya dengan amarah menggebu. Muak. Itu yang ada di pikiran Tao sekarang. Ayolah! Bagaimana ia tidak muak, jika ternyata orang yang kau sebut sebagai kebahagiaanmu di masa depan, ternyata hanyalah seorang pecundang.

"…Eghm! Bisakah kalian tidak terlalu berisik? Aku tahu jika kalian sedang mengadakan reunion, tapi paling tidak, berbicaralah dengan pelan. Akuyakin, kalian tidak maukan Jung Seonsaengnim menghukum kalian lagi?" Usik gadis manis di depan bangku Tao dan SeHun. "See? Beberapa kali Jung Seonsaengnim melirik ke arah kalian berdua?" Tao menenggak salivanya kasar, ia menormalkan kembali amarahnya dan mengangguk pelan, "Terima kasih, JiEun-ah!" JiEun mengedipkan sebelah matanya, "It's okay, baby panda!—Oh! Dan aku mengetahui nama itu dari perkataan SeHun barusan," kikinya, sebelum kembali memperhatikan materi yang diajarkan. Mata Tao memicing tajam kepada SeHun, sialan-kau-albino! SeHun hanya terkekeh kecil, tetapi tidak lama—Of course, dia tidak ingin mati muda; di tangan Tao pula! Harusnya kan dirinya yang melindungi panda itu! "Aku baru tahu, kalau kau bisa mengumpat kepada tiang—" Tao semakin memicingkan matanya, "—Okay, Kris. Bukankah dari dulu, kau selalu bersikap manis kepada dia? Kau tidak amnesiakan, ZiTao?"

Hembusan napas panjang, keluar dari bibir tipis miliknya. Kedua matanya terpejam sejenak, namun kembali terbuka, "Entahlah, aku merasa putus asa?—mungkin? Tapi, aku masih membutuhkan suatu penjelasan dari Kris-ge, sebelum aku benar-benar akan memilih menyerah atau berjuang –dan itu membutuhkan kau, SeHun. Aku membutuhkan bantuanmu. Maukah kau menemaniku ke EXO's High School sepulang sekolah?" SeHun tercekat. Apa yang harus ia katakan? God! Ia menahan napasnya sebisa mungkin. Tao mencengkram lengan SeHun dan menggoyang-goyangkannya, "Please! Kau bilang ingin melindungiku 'kan? Bagaimana jika aku akan diculik—atau bahkan akan dipukul siswa-siswa disana karena telah mengganggu salah satu muridnya? Kau mau aku hancur?" Baiklah, ini agak berlebihan. Tao bahkan sudah seperti ahli bela diri baginya; apalagi jika menghadapi Kris—itu prinsipnya.

"Kumohon! Kalau kau tidak segera menjawabnya, aku akan berteriak, dan mengatakan bahwa kau menaruh ular mainan di mejaku untuk menakutiku?" SeHun menyatukan kedua alisnya. Ular mainan? Tck! Memangnya ini toko permainan anak-anak? Ada-ada saja! Itu hanya cara licik anak ingusan—dan SeHun bukan salah satu bagiannya. Tidak tahu dengan Tao, bahkan ketika ditanya berapa umurnya saja, dia terlihat ragu-ragu untuk mengatakan 7-tahun-atau-17-tahun.

"1…" Alih-alih menjawab, SeHun justru melanjutkan kembali kegiatan mencatatnya yang tertunda. Seolah tidak peduli dengan keberadaan Tao disampingnya.

"2…" Tangan kecilnya mulai mencengkram ujung baju SeHun. Ini harus berhasil! Jika tidak runtuhlah harga dirinya dengan berteriak berlebihan seperti itu—walaupun sering ia berteriak untuk sesuatu yang tidak penting juga.

"2,5…" Tao mulai mengambil napas sebanyak-banyaknya. Please! SeHun memegang alat tulisnya dengan kuat. Dia benar-benar akan berteriak? Shit! Haruskah dia menyetujuinya? Tapi itu artinya, ia bertemu Pemuda Afrika itu, dan dirinya sedang malas bertemu dengan orang itu.

"Tig—" Pikirlah SeHun!

"—Baiklah!" senyuman terkembang di bibir Tao. Ia bertepuk tangan pelan, lalu memeluk SeHun. Selamat sudah harga dirinya, "Terima kasih SeHun! aku berjanji akan membelikanmu segudang bubble tea!" SeHun hanya tersenyum tipis menanggapi pekikan senang Tao. Semoga tidak akan terjadi hal yang buruk nantinya.

Entah kenapa akhir-akhir ini dirinya sering sekali berkata semoga. Mungkin salah satu faktornya menumpuknya masalah yang belum terselesaikan, hingga membuatnya berpikiran bahwa kata 'semoga' adalah kata-kata penyemangatnya. Siapa tahu dibalik kata semoga itu, kemujuran benar-benar berada di tangannya?

Yah, semoga saja!

.

.

Ada yang aneh dengan sikap kedua sahabat menggilanya itu kali ini. Oh!—tentu saja! Pasalnya, sepulang sekolah tiba-tiba saja ChanYeol dan BaekHyun melesat pergi dari hadapannya. Biasanya kan mereka bertiga akan pulang bersama, atau pergi ke suatu tempat untuk bersenang-senang sebelum kembali ke rumah. Tapi saat ini?

Kemana hilangnya bocah-bocah itu?

JongIn mendengus kesal untuk yang kesekiannya. Memangnya apa yang membuat mereka menghilang dalam sekejap seperti itu? Apakah hal 'itu' benar-benar penting, hingga melupakan kehadirannya?—Sebenarnya JongIn bukanlah salah satu orang yang memiliki tingkat pertemanan yang sangat tinggi, hingga dirinya harus repot-repot mengikuti kemana pun temannya pergi. Oh, tapi ayolah, mana ada yang mau ditinggalkan dengan tiba-tiba seperti obat penangkal nyamuk dengan orang-orang yang kau sudah anggap dekat?

Akhirnya, karena merasa memikirkan ChanYeol dan Baekhyun akan membuang tenaganya, JongIn hanya mengendikkan bahunya malas. Kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tapi kalau dipikir-pikir, sebenarnya mereka berdua memang telihat berbeda hari ini. Cenderung pendiam—yup! Mereka hari ini terlihat tidak sehiperactive kemarin. Namun lagi-lagi JongIn hanya mengabaikan pertanyaan-pertanyaan gaib itu begitu saja. Paling-paling mereka sedang mendapat tiket gratis untuk menonton sesuatu.

Langkahnya yang pelan, menggema dalam lorong sekolahnya—yang lambat laun mulai sepi. Pikirannya perlahan melayang kembali pada foto yang terjatuh di balik foto keluarganya. Rupanya foto itu masih tersimpan apik, ya? Foto mantan kekasihnya 7 bulan silam—saat itu mereka sedang berada di taman bermain. Do KyungSoo. Terakhir berita yang didengarnya, KyungSoo berhasil meraih peringkat ke-3 paralel di sekolah barunya. Tce! Tidak berubah, masih tetap saja pintar seperti biasa. Dulu, sering dirinya bertanya kepada KyungSoo—apakah menjadi siswa pintar itu menyenangkan?—dan KyungSoo akan dengan senang hati menjawab tidak; karena sebagian besar, teman-temannya akan memanfaatkan kepintarannya saja. Walaupun dia sebenarnya juga tidak dapat mengelak bahwa menjadi siswa terpintar begitu menyenangkan.

Lantas, masihkah kau mencintainya, Kim JongIn?

Pertanyaan itu terlontar di pikirannya, membuatnya gundah—bukan karena permasalahan cintanya, melainkan suara yang melontarkan pertanyaan itu adalah suara SeHun. Masihkah dirinya mencintai KyungSoo? JongIn mengusak rambutnya kasar, dan membuang jauh-jauh suara SeHun dari pikirannya. Kenapa sekarang ia sering sekali memikirkan tentang Si Oh SeHun itu?—ralat, maksudnya Kim SeHun.

Atau kau mencintaiku?

Kepalan tangannya terbentuk, kalau memukul bayangan itu bisa, sudah sedari tadi JongIn memukul bayangan SeHun dipikirannya. Tetapi yang JongIn lakukan hanya menghela napasnya berkali-kali; menetralkan emosinya sebisa mungkin. Kalau pun dirinya mengatakan—cintaku telah berpaling kepada pendampingku, dan masih memiliki jejak di cinta lamanya—apakah ada yang memperdulikannya? Sebenarnya semua perasaan bercampur ini bukanlah pilihannya, hanya saja, ia bimbang. Jelas! JongIn tidak ingin menyakiti salah satu dari mereka, tapi… Argh! God!

Sebuah tepukan, membuyarkan lamunan kisah rumitnya. JongIn memutar kepalanya ke belakang, melihat seseorang yang menepuk bahunya. Seorang pemuda berambut merah maroon menyunggingkan senyum tipisnya. Ah—dia, JongIn mengangguk kecil, lalu kembali melanjutkan jalannya bersama pemuda tadi; setidaknya pemuda itu telah menyelamatkannya dari mimpi buruknya.

"Kemana teman-teman bebekmu itu?—Sudah masuk kandang?" sahutnya disertai menyampirkan tasnya ke bahu kiri. JongIn terkekeh pelan. Pemuda ini benar-benar—dia tidak jauh berbeda dari ChanYeol dan BaekHyun. Sedikit anehif you know what I mean.

"Entah, tiba-tiba saja mereka pergi meninggalkanku. Mungkin mereka sedang mengerami telur mereka?—who's know? Hari ini mereka bertingkah sedikit aneh."

Pemuda itu mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengeti, kemudian menyisir rambutnya kebelakang dengan ekspresi keren; stylenya. JongIn semakin menyemburkan tawanya, ia memukul lengannya, "Jangan lakukan hal itu lagi, idiot! Aku bukan mereka yang selalu memujamu kapan pun dan dimana pun. Kau justru membuatku merasa geli. Apalagi jika mengetahui penampilanmu yang penuh keringat dan bau tubuhmu. Ugh!" Kris melengos, antara malu dan sebal. Hey! Dirinya itu memang keren!—dan ini aroma kemenangan di lapangan basket. Jadi siapa yang tidak ingin memiliki kekasih sesempurna dirinya?

"Berpikirlah sebelum berbicara, kalau aku idiot, kau apa?—Dan ini aroma laki-laki sejati! Tidak sepertimu!" Bangganya, sebelum sebuah pukulan kasar terbang ke kepalanya. "Aw!—Shit! Apa yang kau lakukan! Kau pikir kepalaku bola basket?"

"Sedikit. Buktinya warna rambutmu berubah menjadi semenonjol itu. Bukankah itu berarti kalian bersaudara?" Kris memutar bola matanya, heran sekaligus merasa terbodohi—atau membodohi? JongIn menaruh jari telunjuk dan ibu jarinya di bawah dagunya, dan berpose seakan tengah mengikuti acara fashion, "Akulah laki-laki sejati yang sebenarnya; tampan—"

"—dan bodoh." Potong Kris tanpa merasa bersalah. Memangnya apa yang harus dipermasalahkan?—lagipula dirinya juga sering mengatakan kata-kata 'sejenis' itu saat berada di lingkungan JCB [ JongIn, ChanYeol, BaekHyun—singkatan barunya untuk mereka bertiga]. Merasa tidak mendapatkan ujung pencerahan, JongIn tidak menanggapi ucapan Kris. Sejujurnya ia juga—sedikit—mengiyakan pernyataan tersebut. He—he.

Lama mereka berdua terdiam, hingga tanpa terasa mereka berdua sudah berada di halaman sekolah yang juga mencakup parkir sekolah. Baru saja JongIn dan Kris akan berpisah—menuju kendaraan masing-masing, sebuah suara menghentikan menghentikan langkah mereka berdua.

"K-kai, kau kah itu?"

Suara itu?—tidak! Itu pasti orang lain!

Dengan jantung yang berdegup tidak beraturan, JongIn memutar balikkan badannya. DEG!—Bagaikan terkena tegangan listrik tingkat tinggi, tubuh JongIn bergetar hebat. Kedua lututnya lemas seketika—nyaris membuat tubuhnya terduduk; jika bukan karena kehadiran ChanYeol dan BaekHyun di belakang pemuda yang memanggil namanya. Kedua matanya membola. Itu—itu Do KyungSoo? Benarkah itu KyungSoonya? KyungSoo yang beberapa hari ini hinggap di benaknya?—t-tapi, apa ini? Kenapa ChanYeol, BaekHyun?

KyungSoo telah kembali?

Terlihat BaekHyun menepuk pundak KyungSoo dengan senyum kecilnya, "Hampirilah, bukankah kau ingin bertemu dengan Kai?" KyungSoo menganggukkan kepalanya pelan, rasa leganya membuncah mengetahui bahwa saat ini dirinya benar-benar bertemu dengan Kai. Setelah 7 bulan berlalu, tanpa saling berkomunikasi, akhirnya sekarang ia bisa melihat kembali Kainya dulu. "Terima kasih BaekHyun-ssi, ChanYeol-ssi. Terima kasih sangat!" ChanYeol menyunggingkan senyumnya—err sedikit tidak tulus; tck! Tapi apa boleh buat? Dirinya bukan siapa-siapa yang bisa mencegah KyungSoo datang kepada Kai. Yeah, selama perjalanan dari café dekat sekolahnya—tempat bertemunya mereka, untuk mengantarkan KyungSoo kepada Kai—sampai gerbang sekolah, KyungSoo telah menceritakan semuanya; bahwa dia adalah mantan kekasih Kai, yang harus pergi karena suatu hal dan itulah penyebab mereka berpisah. Tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya, yang pasti perasaannya mengatakan bahwa ini tidak benar. Bukan! Ini bukan perasaan cemburu, tetapi entah mengapa perasaannya mengatakan jika KyungSoo salah.

Ini tidak benar, tapi kenapa?

BaekHyun menautkan kedua tangannya, ia melukiskan senyum terindahnya—membuat ChanYeol mengalihkan pandangannya kepada BaekHyun seketika dan melupakan pendapat ketidak sukaannya itu. Dia seperti seorang malaikat, yang harus dinikahinya; secepatnya bila perlu.

BUG!

"Aw!—Ya! BaekHyun-ah, apa yang kau lakukan? Kenapa tiba-tiba kau memukulku?" BaekHyun mendengus, melipat kedua tangannya di depan dada, "Salah sendiri kau memandangku dengan wajah om-om mesum. Ew!"

"T-tapi…"

"—Cukup! Perhatikan saja adegan romantis di depan. Rasanya aku sedang melihat film manis secara nyata. Setelah beberapa bulan terpisah karena kepindahannya ke sekolah swasta di daerah Busan, sekarang mereka dapat bertemu kembali. Ah—benar-benar romantis!" ChanYeol bersumpah baru kali ini melihat BaekHyun yang seindah sekarang; kemana kesadarannya selama ini? "Aku mencintaimu," cetusnya tanpa berpikir. Singkat, padat, dan tidak jelas. BaekHyun hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar penuturan ChanYeol yang tiba-tiba. Ia tidak salah dengarkan? Tetapi bukan BaekHyun namanya jika salah tingkah akibat pernyataan ChanYeol seperti itu. Dengan senyum tipisnya—sedikit rona merah di kedua pipinya juga, "Aku juga, dan diamlah, aku tidak bisa mendengar pembicaraan KyungSoo dan Kai."

"Eh!—" Bangunkan ChanYeol sekarang juga! Dia pingsan berdiri!

Perlahan KyungSoo berjalan mendekati Kai. Takut, bilamana Kai yang berada dihadapannya kini hanyalah sebuah halusinasi. Ia meraih lengan Kai, dan itu terasa amat nyata. Setitik cairan bening terkumpul di kedua sudut matanya. KyungSoo memeluk JongIn dengan erat. Menyalurkan kerinduan mendalam selama 7 bulan ini. "Akhirnya-akhirnya, aku menemukanmu, Kai."

Kai hanya terdiam. Tidak tahu harus berbuat apa. Sekarang KyungSoo berada dihadapannya, tapi kenapa semua perasaan rindunya seolah lenyap seketika; entah hilang kemana. Pelukan ini, pelukan KyungSoo sudah tak sehangat dulu. Kenapa? Bukankah beberapa hari ini KyungSoo selalu datang di benaknya—dan selalu dihancurkan oleh bayangan SeHun atau terkadang LuHan.

Apa itu artinya kau telah menerima SeHun?

Sedikit ragu, dan tidak mau mengecewakan KyungSoo, JongIn membalas pelukannya. KyungSoo menaruh kepalanya di ceruk leher JongIn. Napasnya putus-putus; dia menangis. JongIn mengusap-usap punggung KyungSoo, menenangkannya sebisa mungkin. Dulu dirinya memang bisa memeluk dan mencium wajah KyungSoo—tapi sekarang ia tahu aturannya. Ia bukan lagi kekasih KyungSoo, ia telah memiliki LuHan dan SeHun.

"Aku senang melihat kau sehat, JongIn," ucapnya setelah melepas pelukannya, dan merangkul leher JongIn dengan kedua tangannya, "Maaf telah membuat seragammu basah karena air mataku ini." JongIn menggeleng, ia menyematkan senyum kecil—bingung harus melakukan apa sebenarnya. "Kenapa BaekHyun dan ChanYeol bisa bersamamu?" KyungSoo tertawa kecil, ia menggenggam kedua tangan JongIn, "Aku tidak sengaja bertemu mereka kemarin. Dan beruntung sekali aku masih mengingat nama kedua sahabatmu itu, Kai. Sehingga aku meminta mereka untuk mempertemukanku denganmu, dan mereka dengan senang hati mengiyakan permintaanku. Jadi kami membuat janji di café dekat sekolah. Aku benar-benar berhutang budi pada BaekHyun-ssi dan ChanYeol-ssi. Oh—apa pemuda ini juga sahabatmu?" Jadi itu alasan kenapa mereka berdua menghilang dari pandangannya?—JongIn menolehkan kepalanya, dan menatap Kris. Kedua alisnya menyatu—kenapa dengan dia. Wajahnya menunjukkan kegelisahan. Seperti takut akan sesuatu. Eh? Seorang Kris Wu takut sesuatu?

Terlihat Kris tersenyum tipis—sangatnyaris tidak terlihat. Ia menggaruk surai merah maroonnya yang tidak gatal, "Sepertinya aku harus pergi. See ya!—JongIn, BaekHyun, ChanYeol, dan err..."

"KyungSoo. Do KyungSoo."

"Ah iya! KyungSoo-ssi. Sejujurnya aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang kalian bicarakan, tapi mungkin kita bisa membicarakannya lain kali. Namaku Kris, dan saat ini aku harus benar-benar pergi. Bye!" Kris segera meninggalkan mereka dan pergi menuju motornya. Secepat kilat dia menghilang dari halaman sekolah dengan suara pekikan seseorang setelahnya, "Kris hyung!"

Sontak ChanYeol, BaekHyun, JongIn, dan KyungSoo menoleh. Di depan gerbang sekolah tampak seorang pemuda berambut hitam tengah jatuh dengan kedua lututnya di atas jalan. Kalau dilihat dari seragamnya, dia dari Kirin's High School. Raut wajahnya menyiratkan keputus asaan. Warna wajahnya terlihat memerah—tidak tahu marah atau menahan tangisnya. Seorang pemuda di belakangnya—mungkin temannya—membantunya berdiri. Pemuda bersurai brunette itu melirik tajam mereka; dan tatapannya berhenti pada JongIn dan KyungSoo yang tengah berpegangan tangan—sepintas tatapan itu meredup. Kemudian tak lama mereka berdua menghilang.

"Bukankah pemuda itu adalah pemuda yang memanggil namamu di depan kelas seperti iblis, Kai? Ternyata dia anak Kirin's High School. Dan temannya? Apa hubungannya dengan Kris?—Aish! Hubunganmu dengan pemuda itu saja tidak pernah kau jawab." Celetuk ChanYeol, menyadarkan JongIn bila pemuda itu benar adalah SeHun.

JongIn mematung. Ia melepaskan pegangan tangan KyungSoo dari tangannya, namun bukannya mengejar SeHun, ia justru memeluk KyungSoo erat—bahkan membuat KyungSoo terjekut.

Apa yang kau lakukan?—kenapa justru memeluk KyungSoo? Bukan mengejar SeHun?

SeHun datang ke sekolahnya dan melihatnya bergandengan tangan dengan KyungSoo. JongIn tidak sebodoh itu mengetahui tatapan mata SeHun sebelum menghilang bersama temannya—yang entah memiliki hubungan apa dengan Kris. Tatapan mata itu menjelaskan bahwa dia kecewa kepada JongIn. SeHun kecewa padanya. Dari berbagai hal yang pernah mereka lakukan—ini adalah pertama kali bagi kehidupan rumah tangga mereka; merasakan kehancuran dalam hati masing-masing.

Mereka benar-benar terjebak dalam permainan cinta.

To Be Continued~


Berapa lama saya menghilang dari fanfic ini, dan-justru-membuat fanfic OS GaJe lainnya?

Arrggh! Makin bingung sama alurnya -_-". Konflik udah dateng tuh! *nah lo

By The Way (btw) makasih banyak buat reviewers, favers, followers, readers, dan lain lain(?)

.

AranciaChru: Ah! Apa benar? saya punya akun lain, tapi sebagai readers. Dan saya juga pernah mengganti penname (cuman penname sebelumnya khusus anime. Wah, mungkin kebetulan. Karena imajinasi untuk membuat fanfic ini datang sewaktu saya mau tidur (?) maksudnya baru tiduran. Fanfic ini murni dari otak saya chingu. Enggak ada unsur nyontek. Tapi mungkin kebetulan sama :). Terimakasih telah mereview.

.

Gimana kelanjutannya? makin aneh, ruwet, membara?

Mind to Review?

Regard,

-Arcoffire-Redhair-