"...Rumah ini masih memiliki 2 penghuni lainnya..."
.
.
Title: Trapped In Love
Rated: T
Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, Xi LuHan, Han JiMin, Kim YooJung, Song HyeKyo, Kim TaePyung (Hyun Bin), Zo (Oh) InSung, Hwang ZiTao, and lil' bit Do KyungSoo.
Pair: Kim JongIn & Oh SeHun.
Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].
Disclaimer: SMTown - EXO belongs to God, and their parents.
Warning: Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ untuk beberapa kata, SeKe untuk beberapa chapter -kedepan akan lebih jelas pairingnya, and etc.
.
.
Suara tawa menggema dalam ruangan tersebut. Bunyi dentingan alat makan bersahut-sahutan—meramaikan suasana. Tampak dua pasangan suami-istri tersenyum senang. Akhirnya setelah tidak bertemu 7 tahun lamanya, mereka dapat berkumpul kembali. Apalagi saat mengetahui sahabat lama mereka sehat dan berbahagia; terbukti dengan kehadiran kelima anak-anak tampan dan manis di samping keduanya.
Seorang gadis berambut hitam legam tersenyum samar beberapa kali saat melongokkan kepalanya ke depan—tepatnya kearah putra kedua teman ibunya. Ahh! Tampannya wajah itu membuatnya menjadikan hari ini adalah hari terbaiknya. Sang kakak yang memiliki kulit sedikit tan melirik tajam adiknya—oh ayolah! Bagaimana mungkin ia memiliki adik secentil ini. Well, namanya juga perempuan, jadi wajar saja bila dia tertarik denga seorang pemuda tampan. Tapi alih-alih ketakutan, adiknya justru membalas lirikan tajam sang kakak dan memakan makanannya dengan seeleganmungkin—menarik perhatian pemuda itu. Namun lagi-lagi sang kakak mendesah frustasi, ia menginjak kaki adiknya diam-diam, membuat adiknya terlonjak kaget, dan menjatuhkan alat makannya.
KLANG!
Buru-buru ia mengambil alat makannya kembali, dan membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf, tapi sebuah suara decitan kursi mengalihkan pandangannya. I-itu sang kakak! Kakaknya berdiri dan membungkuk hampir sembilan puluh derajat.
"Maafkan saya atas kebisingan ini."
Adiknnya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tetapi kemudian ia menyunggingkan senyumnya. Yah, ini memang kakaknya—bodoh, tapi bertanggung jawab. Teman ibunya tersenyum lebar, ia menyuruh dirinya untuk duduk kembali.
"Tak apa, mungkin memang ruangan ini yang terlalu sempit. Ah! Anak muda, siapa namamu?"
Pemuda itu tersenyum kecil, "Perkenalkan nama saya Kim JongIn, Ajhumma." Adik perempuannya kemudian berdiri dan membungkuk tanpa di suruh, "Sedangkan saya, Kim YooJung, Ajhumma." Teman ibunya; bernama Song HyeKyo, semakin melebarkan senyumnnya, ia menatap sahabat karibnya itu, "Han JiMin, kau tidak pernah mengatakan padaku bila kau memiliki anak setampan dan sebijaksana ini. Dimana kau sembunyikan dia selama ini?" Ibunya; Han JiMin tertawa kecil, sedikit bangga akan pujian sahabat karibnya itu. Teman lamanya ini tidak akan pernah melontarkan pujian seperti itu, bila sang obyek tidak benar-benar menarik perhatiannya. Berbeda dengan YooJung yang mengerucutkan bibirnya, karena tidak di anggap oleh teman ibunya.
"Aku menyembunyikannya di dalam rumahku."
Song HyeKyo tertawa samar, "Pantas saja dia terlihat gagah dan bertanggung jawab. Apakah kau sudah memiliki kekasih, JongIn-ah?"
JongIn kembali duduk, dia tersenyum mendengar penuturan teman ibunya. Rasanya dia ingin sekali mengatakan bahwa dirinya memang telah memiliki kekasih yang begitu sempurna di matanya, hanya saja… tersembunyi. Tidak-tidak, mungkin orang tuanya tahu, tapi mereka terlihat cenderung tidak mau tahu. Apalagi mengingat dulu—ketika ia pulang terlalu larut, ibunya selalu berkacak pinggang di depan rumah dan mendesis sinis, "Teman—sangat—dekat macam apa yang menyuruh temannya pulang selarut ini. Hah!"
Sadar. JongIn sadar betul jika ibunya tidak terlalu menginginkan kekasihnya itu bersamanya—entah karena apa, dan selama ini, setiap JongIn diceramahi oleh ibunya, JongIn tidak pernah membalas ucapan ibunya. Sampai saat itu tiba, hari dimana rumahnya penuh dengan keberangan, teriakan, dan amarah. YooJung bahkan menangis melihat seisi rumah berseteru keras. Untuk pertama kalinya, JongIn menanggapi nasehat JiMin dengan nada yang tidak biasa. Seakan setiap kata yang dia ucapkan, penuh dengan dendam. Tetapi ibunya justru menangis dan mengatakan, "Apakah ini balasanmu terhadap Eomma?" Pada saat itulah ayahnya menampar JongIn, tidak hanya sekali, melainkan dua kali. Pertama, untuk menyadarkannya, dan yang kedua karena telah berani meneriaki ibunya, kemudian ayahnya memeluknya erat.
"Aku tahu kau adalah anak yang baik, JongIn. Kau tahu'kan, bagaimana perjuangan eomma saat mengandungmu, mengasuhmu, mengasihimu. Tentu, kami berdua tidak ingin sesuatu yang tidak di harapkan terjadi. Apalagi bila sesuatu yang buruk itu menimpa orang yang jauh lebih berharga daripada cinta sekalipun. Jadi, masih kah kau berpikir bahwa kami kejam? Kumohon, jangan berpikiran seperti itu lagi."
Amarahnya hilang seketika. Setitik cairan bening jatuh di ujung matanya. JongIn mengeratkan dekapan sang ayah. Mungkin memang ini bukanlah yang terbaik. Dia masih terlalu muda untuk memuja cinta—beruhubung pada saat itu JongIn masih menginjakkan semester 2 kelas pertama Sekolah Menengah Atas.
Katakan saja dirinya anak mama atau apapun itu. Katakan juga bahwa orang tua JongIn overprotective dan sejenisnya. Namun setelah kejadian itu JongIn benar-benar tersadar. Bukankah orang tua tidak pernah salah? Mungkin appa dan eommanya benar. Mereka melakukan ini untuk kebaikannya. KyungSoo memang tidak bisa menjadi pendampingnya kelak; tapi dirinya tidak bisa melepas KyungSoo begitu saja, jadi ia ingin menggenggam KyungSoo hingga saatnya tiba. Karena dirinya yakin, untuk membangun masa depan yang sukses, cinta dan usaha saja tidak cukup—perlu diimbangi dengan niat dan pengertian.
"JongIn? Kau tidak apa-apakan?" JongIn mengangguk kecil, ia menoleh pada appa dan eommanya yang memandangnya dengan arti 'Terserah apa yang mau kau menyerah.' Senyuman manis JongIn terlukis jelas, dia kembali menatap teman ibunya. "Belum, ajhumma." Setidaknya sekarang ia tidak ingin membuat appa dan eommanya menanggung malu.
Song HyeKyo melirik Han JiMin, dia tertawa lucu. "Bukankah itu hal yang bagus, JiMin-ah? Kebetulan sekali anakku juga belum memiliki kekasih." Dua orang pemuda yang awalnya terlihat tenang, mulai memperlihatkan mimik gusar mereka. Jangan katakan ibunya berulah kembali. "Ah… seandainya kita bisa lebih dekat lagi. Sejak dulu aku sudah bermimpi, bila kita telah dewasa, kita akan melihat anak kita menikah. Aku benar-benar menantikan saat itu. Sayang sekali, aku memiliki dua anak laki-laki dan anak perempuanku baru saja menginjak sekolah dasar. Sedangkan kau, memiliki seorang anak pemuda tampan dan anak perempuan yang manis, tapi tidak mungkin 'kan, bila kita menikahkan anak perempuanmu yang baru berumur 15 tahun. Salah siapa kau menikah terlambat?" Benar 'kan? Ibu mereka mulai mengatakan hal aneh. Dari dulu, ibunya selalu ingin salah satu dari mereka dapat menikah dengan sahabat ibunya.
"Kalau begitu, kenapa tidak kita nikahkan saja JongIn dengan anak keduamu?" Shock! Semua mata memandang Kim TaePyung –atau appa JongIn. Bahkan Yoo Jung yang masih mengerucutkan mulutnya terbatuk tiba-tiba, dengan alasan tersedak angin. Heh, bagaimana bisa!
"Sepertinya itu tidak buruk, lagipula sekarang pernikahan sesama jenis sudah di legalkan untuk beberapa tempat. Untuk masalah anak, mereka berdua bisa mengadopsi anak kecil. JiMin-ah, rupanya suamimu ini benar-benar genius." Han JiMin tersenyum kecil, sebenarnya ia tidak menolak—tapi apa JongIn mau menikah dengan anak HyeKyo? Tck! Suaminya ini sejak dulu memang tidak berubah, sedikit bodoh dan cenderung frontal—walaupun suaminya tidak banyak berbicara. "Apa sebaiknya tidak kita bicarakan terlebih dahulu dengan anak-anak kita?" Kali ini suami HyeKyo yang menjawab; Oh InSung. Mungkin InSung tidak ingin membuat anaknya dan anak temannya merana hanya karena masalah perjodohan—aneh—sepele ini.
HyeKyo menggeser kursinya, ia menyuruh YiXing—anak pertamanya—untuk duduk di kursinya; sedangkan ia duduk di kursi YiXing yang berdekatan dengan SeHun—anak keduanya. Di genggamnya kedua tangan pucat anaknya, ia menatap SeHun dalam. "Baby, kau tahukan, eomma sudah menantikan ini sejak lama, jadi apakah kau mau? Tolonglah eomma." SeHun menghela napasnya lelah. Ibunya memang berbeda dengan ibu lainnya. Benar-benar berbeda dan menakutkan. "Kenapa tidak YiXing hyung saja? Dia juga tidak memiliki pasangan."
YiXing berdeham keras, "Umurku sudah terlalu jauh dengan dia. Bukankah kalian seumuran? Jadi itu lebih baik. Lagipula aku sudah mempunyai calon." Ibu SeHun semakin erat menggenggam tangan anaknya. Biasanya SeHun akan luluh dengan tatapan memohonnya ini. Suaminya dulu, Oh InSung juga sering luluh dengan tatapannya satu ini.
Tuhan, mengapa hidupnya sesingkat ini? Ia baru menginjak Sekolah Menengah Atas, dan sekarang dirinya sudah di beri hadiah untuk menikah muda? Dan ibunya juga mengatakan bahwa akan mengadopsi anak? Tck! Kalau boleh mengubah pikiran seseorang, mungkin sudah dari dulu dia mengubah pikiran seseorang. Salah satunya sang eomma. Kenapa eommanya suka sekali menuntut sesuatu? SeHun menatap pemuda tan di depannya. Dia tidak memberikan ekspresi lebih dari wajah yang terpahat apik itu. Terlihat tenang. Tetapi sedetik kemudian dia menyeringai. Tidak setenang itu rupanya. Rahang JongIn mengeras, barangkali dia ingin merengek kepada ayahnya yang mengusulkan semua bencana ini. Heh, dasar.
"Baiklah." Pelan—hampir menyerupai desisan. Hell! Tidak rela sebenarnya, namun mau bagaimana lagi? Senakal-nakalnya dirinya, SeHun tetap tidak ingin mengecewakan ibunya. Biarkanlah dia memiliki status baru, tapi jangan sampai status orang tuanya tidak diketahui; atau tidak dianggap. Lagi pula, JongIn tidak buruk juga—mungkin kalau bermain-main dengannya sebentar tidak masalah. Heh, dasar hormone anak muda.
Ibunya bertepuk tangan senang. Dia memeluk SeHun erat, dan mengucapkan terima kasih di telinganya—berkali kali. SeHun membalas pelukkan eommanya, dan tersenyum kepada appa dan hyungnya di balik punggung eommanya. Tersenyum adalah senjata terbaik untuk menenangkan hati keluarganya.
Tangan JiMin berada di atas paha JongIn. Dia khawatir anaknya akan marah, atau yang lebih parah meninggalkan ruang makan ini—berhubung JongIn terkadang juga mudah konyol, sejenis ayahnya. "Kau tidak apa-apa 'kan, JongInnie? Kalau kau memang tidak ingin menerimanya, maka tidak apa-apa." JongIn memandang kosong eommanya. Bagaimana dengan KyungSoo? Apa ini akhir hubungan mereka? Apa ini waktu yang tepat? JongIn melihat kesenangan tiada duanya dari wajah teman ibunya—yang mungkin sebentar lagi akan menjadi eommanya juga? Tetapi, tega kah dirinya menghancurkan tawa teman ibunya yang bersahabat dekat dengan eommanya? TaePyung mengusak rambut JongIn pelan, "Jawablah yang kau inginkan. Kali ini kami tidak akan memaksa."
JongIn menghela napasnya, dia sudah membuat keputusan. Semoga saja kebaikan datang menghampirinya. "Aku juga menerimanya, Ajhumma."
.
Bukankah mereka anak yang berbakti?—menyakiti diri sendiri daripada menyakiti orang tua. Menanggung beban, demi kebahagiaan orang tua?
Tapi itu belum seberapa, dibandingkan kerja keras yang dilakukan oleh orang tua mereka. Jadi, mungkin ini saatnya mereka belajar menjadi orang tua.
Dan semenjak itulah kehidupan mereka berjalan.
.
.
Suara tangis itu semakin terdengar pilu di telinganya. SeHun tidak tahu harus berbuat apa lagi, yang dirinya bisa lakukan hanyalah memeluk tubuh sahabatnya—memberikannya sandaran; bahwa ia selalu berada di sampingnya dalam suka maupun duka. Namun yang terjadi justru sebaliknya, Tao terisak keras; ia mengencangkan pelukkannya pada punggung SeHun—seakan tak ingin melepaskannya barang sedetik pun. SeHun mendesis, ia mengelus punggung bergetar Tao pelan, apakah rasanya sesakit itu?
Sebenarnya perasaannya tidak jauh berbeda dari Tao; ia kecewa, marah, dan sedih. Semua yang berada di dalam dadanya bercampur, dan mempermainkan hatinya tak tentu arah. Ingin rasanya SeHun mengencangkan pelukkan Tao juga dan memilih menangis bersamanya—tapi dirinya pikir-pikir itu tidak akan ada gunanya. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, walaupun akan meringankan beban di dalam benaknya.
SeHun melepaskan pelukkan erat Tao, ia memegang kedua pundaknya dan tersenyum kecil. Diusapnya kedua mata panda Tao, dan terkekeh pelan, "Sekarang kau semakin terlihat seperti anak panda yang kehilangan orang tuanya." Tao mengerucutkan bibirnya, ia memukul pundak SeHun. "Kau jahat!—bahkan lebih jahat dari pemburu panda sekalipun." Senyum SeHun melebar setelah mengetahui bahwa Tao merespon perkataannya. Itu artinya Tao sudah kembali tenang.
"Ya!—kau pikir aku ini apa? Seorang maniak yang mengoleksi semua jenis hewan?"
Kerutan di dahi Tao terlihat, ia berpikir sejenak kemudian tertawa kecil—disela senggukannya, "Yah, bisa dikatakan seperti itu. Buktinya kau sudah menculik anak panda ini ke rumah yang tidak kuketahui." SeHun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bagaimana ia akan menjelaskannya kepada Tao? Dia telah membawa Tao pulang ke rumahnya bersama JongIn. Beruntung saja LuHan belum sampai rumah. Sepertinya dia menikmati acara bermain di luar kelas bersama eomma JongIn. Yah, hari ini YiXing sedang sibuk dengan urusannya, jadi SeHun meminta tolong eomma untuk menemani LuHan yang mengikuti kegiatan belajar di luar kelas.
"Ini rumahku, baby panda." Hening. Tidak ada suara yang terdengar selanjutnya. SeHun jadi salah tingkah sendiri. Dia mengusap-usap kedua tangannya, mengurangi kegugupan. Tao tertawa kecil, kemudian terbahak. Ayolah! Setahunya SeHun itu masih tinggal dengan keluarganya. Kenapa tiba-tiba dia mengatakan jika ini rumahnya?
"Kau bercanda. Rumah sebesar ini, pasti milik YiXing hyung, 'kan?"
Iya?—atau tidak? Apa yang harus ia katakan? Tapi SeHun sudah terlanjur mengatakan kalau ini rumahnya. SeHun menghembuskan napasnya. Seharusnya dia jujur sejak awal. Lagipula SeHun tahu, Tao tidak seember itu akan membocorkan rahasianya. Dia adalah penyimpan rahasia terbaik, walau ekspresinya bukanlah yang terbaik untuk berbohong.
"Ini rumahku, Tao," sahutnya berwajah serius. Ini terlihat berbeda sekali dengan SeHun yang senang bercanda. Tao menganggukkan kepalanya ragu-ragu, "B-baiklah. Tapi hentikan dahulu wajah mengerikanmu itu. Rasanya aku ingin menangis lagi melihatnya." Buru-buru SeHun merubah wajahnya menjadi idiot kembali—walaupun seidiot idiotnya SeHun, rupanya masih tetap saja tampan. Pemuda panda tersebut terkekeh pelan.
"Sudah-sudah, perutku seakan mau meledak. Kau memang pantas menjadi orang miring daripada serius seperti tadi." Benar-benar menusuk dalam. SeHun mencibir kesal, bisa-bisa popularitasnya di kalangan siswi hancur, hanya karena ucapan Tao barusan.
"Jadi, bisa kau jelaskan, kapan kau tinggal disini? Dan bersama siapa? Tidak mungkin kau tinggal sendirian di rumah ini, kecuali kau memang sangat pemberani. Ah! Aku bahkan lupa, kau juga berteriak ketika kita memasuki rumah hantu bersama, dulu."
"Ya!—ya! Jangan ungkit-ungkit masalah itu, baby panda, atau aku tidak akan bercerita padamu mengenai apapun." Tao menutup mulutnya dengan kedua tangan. Dia tertawa terbahak-bahak. Ini saatnya untuk membalikkan keadaan. Dulu SeHun senang sekali menjahili teman-temannya, termasuk dirinya. "Baiklah, aku tidak akan mengungkit hal itu, kecuali disaat tertentu," ucapnya, yang perlahan memelan. SeHun mendengus, tapi paling tidak hari ini Tao masih dapat tersenyum dan tertawa. Biarlah si tiang itu tetap menjadi pemuda brengsek, asalkan Tao tidak kehilangan tawanya.
Melihat suasana kembali sunyi, SeHun mulai berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk menceritakan rahasianya. Tapi benarkah ini saatnya?—Tapi kalau SeHun tidak lekas menceritakannya, SeHun takut, sesuatu yang lebih buruk semakin dekat. SeHun menarik napasnya dalam, sebelum mulai bercerita. Mungkin ini memang saat yang tepat.
"Okay, darimana aku harus mulai bercerita? Emm… sebaiknya saat teman eommaku berkunjung ke rumah. Sebenarnya aku malas bertele-tele, jadi bisakah langsung ke intinya saja?" Itu hanya sebuah kecohan. SeHun tidak mau mengingat semua itu lagi. Terlalu menyengsarakan, mengingat ia dan JongIn tidak dalam kondisi yang baik. Tao memutar bola matanya malas. Sejak tadi pagi, SeHun terlihat berbeda dari biasanya. Dirinya yakin, SeHun pasti menyembunyikan sesuatu, termasuk bagaimana SeHun memiliki rumah sendiri.
"Terserah kau saja."
"Eh-em, sejujurnya rumah ini tidak hanya di tempati olehku. Rumah ini masih memiliki 2 penghuni lainnya, dan mereka adalah pas…"
CKLEK
"Aku pulang!" Pekikan senang, khas anak-anak itu terpantul jelas di dinding-dinding rumahnya. SeHun menolehkan kepalanya ke pintu utama. Itu LuHan, putra semata wayangnya, tengah berdiri di ambang pintu dengan senyuman lebar, menampilkan deretan rapi gigi-gigi putihnya. Ini-tidak-baik. SeHun segera bangkit dari sofa yang ia duduki bersama dengan Tao. Tangan pucat SeHun menarik tangan Tao. Ia menyeret pemuda itu menuju lantai atas.
"Hey! Sebenarnya ada apa ini?! Kenapa kau menarik-narik tanganku?! Kau gila! SeHun-ah!"
SeHun tidak menanggapi pertanyaan Tao. Dia masih setia menarik tangan sahabatnya itu hingga masuk ke dalam kamarnya dan berdegup kencang. Pikirannya berkabut. SeHun melihat ke sekeliling kamarnya. Shit! Sepertinya mulai sekarang mereka harus menghemat uang, dan membeli barang lain untuk mengisi kekosongan kamarnya yang tergolong cukup besar. Mata SeHun berhenti seketika di depan almarinya. Itu satu-satunya tempat bersembunyi yang ada.
SeHun langsung membuka almarinya , dan menundukkan kepala Tao—membuat Tao meringis tidak suka. Enak saja main tekan-tekan kepalanya, kepalanya bukan mainan karet. "Tck! Apa-apaan ini!" Setelah berjuang mati-matian memasukkan Tao ke dalam almari—karena Tao terus menolak untuk bersembunyi di dalam lemari pakaiannya, akhirnya selesai juga. SeHun memegang kedua pundak Tao, "Kumohon, tunggulah sebentar di dalam sini. Jangan kemana-mana, dan janga berisik. Aku akan menemuimu lagi, nanti." Beberapa detik kemudian, SeHun telah menghilang dari kamarnya.
"Ish! SeHun benar-benar behutang cerita banyak kepadaku. Jika tidak, aku akan menghabisi nyawanya. Heh, belum tahu saja siapa aku." Kemudian Tao tertawa layaknya nenek sihir.
.
.
"SeHun? Darimana saja kau? Eomma lihat tadi ada suara gaduh di lantai atas. Apa terjadi sesuatu?" SeHun yang baru saja melangkahkan kakinya turun di tangga terakhir, berpura-pura berpikir keras; seakan-akan dia tidak tahu apa yang membuat lantai atas sebegitu gaduhnya. "Oh! Aku baru ingat, Eomma." Cerocosnya setelah menemukan ide yang mungkin tidak buruk juga. "Tadi ada serangga yang menggangguku, jadi aku mengejarnya agar serangga itu pergi." Sedikit tidak masuk akal juga sih, tapi ya sudahlah.
JiMin tersenyum kecil, dia mengusap kepala LuHan yang terus-terusan menyenandungkan lagu baru dari acara belajar di luar kelasnya tadi, sembari mengunyah sebatang coklat yang mulai meleleh—menyebabkan lelehannya tertinggal di samping bibir LuHan. SeHun tersenyum kecil, ia mendudukkan tubuhnya di samping LuHan. "Apakah acaranya benar-benar menyenangkan, LuHannie?" LuHan menganggukkan kepalanya antusias. Dia lagi-lagi mengembangkan senyumnya, membuat kedua pipinya menggembung kemerahan. Menggemaskan, apalagi ada hiasan lucu di sisi bibirnya.
"Sangat menyenangkan! Seharusnya tadi appa dan papa saja yang menemaniku. Pasti appa dan papa akan tertawa bersama LuHannie. Kita juga akan bermain petak umpet bersama, dan yang paling menyenangkan melihat banyak ikan di akuarium besar. Benarkan, halmeoni?" JiMin mengangguk, dia memaklumi raut wajah SeHun yang terlihat berbeda. Mungkin dia juga menginginkan kebersamaannya dengan LuHan, tapi selama dia masih bersekolah itu tidak mungkin.
"Sayang sekali, lain kali appa dan papa akan menemani LuHan pergi bersama." LuHan menengok ke arah kirinya. Matanya berbinar-binar, melupakan tangannya yang mulai dijatuhi setengah dari batang coklat tadi. "Benarkah, Appa?" JongIn tersenyum gemas, dia mencubit pipi LuHan, dan menciumnya. "Tentu saja, apapun untuk jagoan appa dan papa." LuHan memekik senang, dia turun dari kursi meja makannya, dan berlari layaknya pesawat terbang—dengan kedua tangannya yang di rentangkan, dan membuat suara 'wung wung' layaknya pesawat terbang. "Yay! Appa dan papa akan mengajakku pergi!"
Semua orang di ruangan itu tertawa melihat LuHan, terkecuali SeHun. Dia memandang JongIn yang entah bagaimana bisa datang bersama dengan eommanya. Heh. SeHun mendecih kecil, ia tidak habis pikir, setelah berpegang-pegangan dengan orang lain, sekarang dengan santainya menjemput ibunya dan berjanji yang tidak-tidak untuk LuHan. SeHun menarik ujung bibirnya ke atas. Matanya memerah. Permainanmu benar-benar luar biasa, JongIn.
Hanya saja, ada satu yang tidak di ketahui SeHun sedari tadi. Hatinya juga terluka, sampai-sampai JongIn tertawa dengan bibir yang bergetar—menahan tangis yang turun dari ujung matanya. Perasaan ini seakan menyiksanya. JongIn tidak sebodoh itu mengartikan tatapan SeHun melalui sudut matanya. Setetes air mata lolos dari mata mereka, kemudian selanjutnya mereka tersenyum sedih.
To Be Continued~
Hahahahahahahaha #tertawanista Maaf kalau lama banget.
Saya tahu gimana rasanya nungguin fanfic tapi gak nongol-nongol juga. Maafkan saya. Tapi ini udah update, agak panjangan juga. Semoga suka.
Makasih buat Reviewer, readers, favers, followers, dsb. ILYSM. :*
Khusus buat FarhanAnaknyaDio: Thanks before, udah mau sempet-sempetn baca fanfic abal ini? Atau mungkin cuman ngomen juga gapapa. Ah! Makasih juga udah buat moodku yang buruk jadi baik. Makasih ya udah mau mampir. #DamaiSemuaCouple Tapi saya akan tetap bertahan di FFn ini. He-he. Maaf kalau ada kata-kata yang tidak enak. *bow*
Mind To Review?
Regard,
-Arcoffire-Redhair-
