"...Mereka adalah pasanganku dan anakku."
.
.
Title: Trapped In Love
Rated: T
Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, Xi LuHan, Hwang ZiTao, Wu Yi Fan a.k.a Kris Wu and lil' bit Do KyungSoo, Han JiMin, and ,Byun BaekHyun.
Pair: Kim JongIn & Oh SeHun.
Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].
Disclaimer: SMTown - EXO and the other chara belongs to God, and their parents.
Warning: Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ untuk beberapa kata, SeKe untuk beberapa chapter—kedepan akan lebih jelas pairingnya, and etc.
.
.
Semuanya telah berubah, terlebih setelah kepergian eomma JongIn dari rumah mereka. Tidak ada lagi senyuman tipis akibat tingkah konyol masing-masing, lirikkan diam-diam yang memperhatikan kelucuan sang pasangan, suara teriakan memekakkan telinga, hingga berkumpul bersama dengan LuHan—walaupun pada akhirnya, hanya salah satu di antara mereka yang bermain dengan LuHan, sedangkan sisanya hanya duduk tak jauh dari mereka, menyaksikan canda tawa dan ketulusan mereka bila berada di hadapan sang buah hati, dengan rasa bahagia yang sejujurnya membuncah luar biasa.
Sungguh menyedihkan!
Seandainya, sedari dulu mereka menerima perjodohan ini dengan tulus, bukan untuk bermain-main layaknya anak-anak . Sudah bisa dipastikan, kalau sekarang mereka pasti hidup dengan bahagia.
Heh? Bahagia, ya? Apakah kesempatan itu masih ada?
Arah pandangnya berpindah dari pintu utama rumahnya. Pemuda itu tersenyum miring, menyadari bahwa ia rupanya begitu terlarut dalam penyakit di dalam batinnya, sampai melakukan tindakan bodoh—berdiri di depan pintu selepas eommanya pergi, dengan pandangan kosong. Tangannya melepas kancing jas sekolahnya, kemudian berbalik melemparkan jas tersebut ke arah sofa ruang keluarga. Kedua tangannya telah tersimpan baik di kedua saku celananya. Lebih baik dirinya mengalihkan pikirannya dengan membersihkan diri, setidaknya itu dapat mengurangi desakan brutal dalam penatnya.
Namun, dirinya harus menyadari fakta bahwa ia tidak tinggal sendirian di rumah seindah ini. Langkah kakinya kian memberat, kala memasuki ruang makan. Di sana, dirinya dapat melihat dengan jelas, SeHun yang tertawa ketika melihat LuHan menyenandungkan lagu anak-anak dengan mulut yang penuh makanan. Entah mengapa, akhir-akhir ini LuHan sering sekali bernyanyi lagu-lagu baru dan banyak makan, mungkin kelak dia akan menjadi penyanyi yang hebat dan selalu berstamina.
Seulas senyum indah terlukis di paras tampannya, perasaannya lega mengetahui SeHun dapat tertawa setulus itu kembali. Tampak LuHan berkacak pinggang di atas kursi meja makan, lalu menari-nari kecil menirukan gaya ayam yang tengah mengepakkan sayapnya dengan kedua tangan di tekuk, tidak lupa wajah yang dibuat semirip mungkin layaknya unggas tersebut—bibir yang dimajukan beberapa centi dan suara khas ayam berkokok, sedangkan SeHun yang terduduk di samping kursi LuHan terkikik geli. Setidaknya, memperhatikan LuHan jauh lebih baik daripada memikirkan nasib hatinya.
Denyutan tidak menyenangkan kembali menggelora, mendesak pintu jiwanya semakin rapuh saat melihat dengan jelas LuHannya sedang mengedipkan satu matanya ke arah depan. SeHun tahu, dirinya tahu tanpa perlu berbalik pun, orang yang menjadi target kedipan mata LuHan adalah JongIn. Hanya saja, ia tidak tahu harus berbuat apa. Memangnya apa yang harus dia lakukan? Berbalik dan mengikuti kata hatinya? Bertindak seolah dirinya tidak peduli lagi dengan JongIn, tetapi masih mau menatap pemuda tersebut? Atau, mencoba melupakan segalanya dan tersenyum saat bertemu mata dengannya?—sebaiknya tidak.
SeHun mengehembuskan napasnya pelan melalui mulut. Ia meletakkan mangkuk makan LuHan—karena sebenarnya, tadi LuHan merengek untuk disuapi dan entah mendapat pencerahan dari mana, SeHun mau-mau saja. Padahal, sedari dulu SeHun tidak akan pernah mau menyuapi LuHan, lantaran baginya itu tugas JongIn. Ia berdiri, membuat decitan keras dari kursinya, lalu berjalan mengambil gelas kecil dan membuatkan LuHan susu. Melakukan aktivitas di luar kekeras kepalaannya, menjadi salah satu pilihan terbaik saat ini.
Kenapa kau bersikap menghindari JongIn, SeHun?
SeHun hanya belum siap, bukan—bukan! Bukannya dirinya terlalu lemah, hingga tidak siap bertemu atau berhadapan dengan JongIn akibat peristiwa tersebut. Berpikir secara nyata saja, saat ini mereka berdua tinggal dalam satu atap, dan itu akan tidak memungkinkan bila mana mereka tidak berhadapan muka secara langsung. Suatu saat, tidak tahu kapan itu, pasti mereka akan kembali saling menatap dan berbicara. Jadi, yang sejatinya SeHun lakukan saat ini adalah bersikap setenang mungkin, sampai dia siap—yeah, SeHun memberi JongIn waktu untuk melakukan apa yang dia suka dan pikirkan. Ia cuman tidak ingin mengusak penatnya benak JongIn—yang kemungkinanmasih shock dengan kehadiran sang mantan, walau sesungguhnya hatinya juga tak kalah pedih ketika kembali mengingat kejadian itu.
Suara gaduh dari lantai atas, membuat SeHun menghentikan adukkan di gelasnya. Ia mengernyit bingung. Apa yang sebenarnya LuHan lakukan dengan JongIn? Bermain kucing dan tikus, atau petak umpet? Kenapa berisik sekali?—seperti suara gedoran pintu dan orang tengah berlari. Tapi, kalaupun mereka bermain petak umpet, kenapa harus ada acara berlari dan mengejar? Ada-ada saja. Lebih baik membasmi serangga. E-eh? Tunggu, membasmi serangga? Bukankah itu sama saja mengejar serangga? Rasanya ia pernah mengatakan itu, tetapi kapan ...mengejar-serang—Tao!
"Aaaa!"
.
.
Kedua mata kecilnya mengerjap beberapa kali, tidak begitu percaya dengan apa yang ada di hadapannya sekarang. Telunjuknya dengan ragu-ragu menyentuh sesuatu di depannya, lalu tersentak saat melihat sesuatu tersebut berkedip dan tatapannya menghunus tajam. Bulu-bulu di tubuh LuHan meremang, dia terpekik memanggil, "Boneka hidup!" sebelum bersembunyi di balik lengan JongIn.
O-uh! Baiklah, sebenarnya itu bukan boneka hidup sungguhan. LuHan saja yang berlebihan—hah, siapa juga yang menurunkan sifat itu kepada LuHan?
Kalau saja, suasana saat ini tidak begitu mencekam, mungkin SeHun sudah terbahak di tempatnya. Bagaimana tidak? Tangan-tangan tak bertulang itu—err, itu sedikit berlebihan (Ah! Rupanya sifat SeHun)—mencengkram erat pergelangan tangannya. Mata pandanya tidak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik LuHan yang menurutnya dianggap mencurigakan. Yeah, semenjak Tao berteriak dengan begitu beringas dari dalam kamarnya, LuHan selalu menggoda Tao dengan menusuk-nusuk pipinya, mata, atau mengendus badan Tao. Maklum saja, dia masih merasa asing dengan Tao—yang LuHan ketahui, tiba-tiba datang dari kamar appa dan papanya dengan keadaan menutup kedua matanya. Seperti alien, yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan oleh teman seangkatannya.
"SeHun, siapa mereka? Kenapa mereka begitu mengerikan? Ouh! Apakah manusia kerdil itu," menunjuk LuHan sadis, disertai tatapan tajam. Membuat sang anak, menelusupkan tubuhnya di balik tubuh JongIn semakin dalam, nyaris tidak terlihat. Tao mendengus, "Arwah peliharaanmu, SeHun?" Sayangnya, kali ini SeHun tidak dapat menghambat tawanya. Lepas sudah segala usahanya untuk tidak menertawakan tingkah kedua insan itu. Mereka berdua ada-ada saja.
Tetapi, sepertinya suasana harus kembali berubah secara signifikan menjadi mencekam. Lambat laun, tawa di bibirnya menghilang. SeHun bisa merasakan tatapan lain, pandangan yang begitu memperlihatkan ketidak sukaannya saat dirinya tertawa. Gelombang itu kembali terasa. Apakah tertawa 'pun, sekarang tidak diperbolehkan?
Terlihat, JongIn membenarkan posisi duduknya—dikarenakan LuHan yang masih bersembunyi di balik punggungnya. Uh! Salahkan boneka hidup itu yang sudah menakut-takuti anaknya—Ha—ha, rupanya sama saja (JongIn juga berpengaruh dalam sikap berlebihan LuHan). Sejujurnya, JongIn tidak begitu suka dengan kehadiran Tao. Apa lagi, saat mengetahui Tao bersembunyi di dalam almari pakaiannya, ketika ia ingin berganti pakaian. Belum lagi, setelah Tao di temukan oleh JongIn, dengan tidak sopannya dia berteriak—tepat—di depan wajahnya. Bukannya berterima kasih, lantaran sudah menemukannya dengan keadaan selamat. Tch! Seperti pencuri saja. Em, atau memang pencuri tawa SeHun? Sialan!
"Jadi, bisa kau jelaskan, SeHun?"
Tangannya terasa dingin, di saat JongIn meminta penjelasannya. Suaranya terdengar tenang, tetapi SeHun yakin, JongIn memendam perasaan tidak suka terhadap sesuatu. Mungkin itu dirinya—dasar tidak peka.
Saat ini mereka tengah duduk berhadapan di ruang tamu. Dengan JongIn dan LuHan di sofa depan mereka, kemudian tepisah oleh meja berbentuk persegi panjang, lalu sofa yang sekarang sedang mereka duduki—SeHun dan Tao. Ludahnya tertelan secara perlahan. Genggaman erat dari tangan Tao pada tangannya semakin mengerat, sedikit membuatnya meringis sakit. Apakah ini saat yang tepat? Sekuat tenaga, SeHun menarik napasnya. Baiklah, kalau ini memang waktunya.
Apapun yang akan terjadi, SeHun akan menerimanya.
Matanya melekat pada sosok di hadapannya, tak beralih sedikitpun, "Tao, mereka adalah pasanganku dan anakku," ucapnya yakin. Tidak peduli raut paras JongIn yang berubah, akibat perkataan SeHun yang penuh kesungguhan. Layaknya dua manusia yang saling mencintai dan benar-benar ingin hidup bahagia selamanya, tanpa adanya gangguan orang lain. "Maksudmu? Dia adalah kekasihmu, dan anak itu adalah anak—Ya Tuhan! SeHun! Kau sudah menghamili seorang gadis!?" Tadinya, SeHun ingin bersikap gentle dan terlihat menawan di hadapan JongIn. Menunjukkan kebenaran, kalau ia ingin serius dalam pernikahan mereka ini. Namun, pada akhirnya, SeHun harus menepuk keningnya. Tao bukanlah orang yang bisa di ajak serius, dia juga bukanlah orang yang mudah mengerti maksud pembicaraan orang lain. Kalau di sisi JongIn, versi BaekHyun, maka di sisi SeHun adalah Tao.
JongIn menarik sudut bibirnya keatas, ia terkekeh pelan. Seberapapun SeHun mencoba, tetap saja SeHun tidak bisa melebihinya. Sudah berapa kali JongIn katakan, seharusnya SeHun mengganti nama keluarganya dengan Kim. "Bukan, ada baiknya bila aku memperkenalkan diri terlebih dulu. Kim JongIn, kekasih sehidup semati dari seorang SeHun," ujarnya dengan mimik tebar pesona. Hampir membuat SeHun menjatuhkan rahangnya, lalu menggeliat tidak suka. Ew! Ekspresi palsu macam apa itu?
Bibir kucingnya terbuka secara gagap. Sebodoh-bodohnya dia, Tao masih mengerti apa itu 'kekasih sehidup semati'. Itu artinya, SeHun telah menikah! Pantas saja, saat dirinya panik di temukan oleh JongIn—benar 'kan namanya itu—Tao tidak sengaja melihat foto resmi SeHun yang menggunakan setelan jas, begitu pula dengan JongIn, di depan kasur tersebut. Jika JongIn dan SeHun telah menikah, maka secara tidak langsung, setan kecil itu adalah ...kepalanya menoleh sedikit demi sedikit kearah makhluk gentayangan tersebut. Benar saja, anak itu segera bersembunyi lagi setelah mengetahui dirinya menatap LuHan. Bedanya, dia tidak lagi bersembunyi di balik tubuh JongIn, melainkan duduk di pangkuan JongIn, dengan kepala yang di tenggelamkan ke dalam dadanya.
"SeHun, kurcaci itu anak angkatmu?"
Sebuah tawa ringan menghampiri telinganya. Tao menengok ke arah SeHun yang tengah tertawa, membuat sentuhan lembut di dadanya berdesir. Membawa efek slow motion, disertai angin-angin lembut dan dandelion berterbangan. SeHun bahagia. Dia menjalin hubungan sakral ini dengan penuh perasaan. Dia—SeHun yang selama ini di kenalnya tidak pernah serius dalam sebuah ikatan, kali ini benar-benar jatuh pada seseorang yang sudah menjadi pasangan sehidup sematinya. Hah! Memikirkan itu membuatnya iri saja.
"Namanya LuHan. Yah, seperti itulah. Tapi kurasa, dia sudah seperti anak kandungku."
"—Dengan SeHun yang menjadi ibunya, tentu saja." Hell! SeHun menghentikan tawanya seketika. Matanya mendelik tidak suka ke arah JongIn yang menepuk-nepuk pelan punggung LuHan. Sepertinya, LuHan terlalu lelah bermain dan takut kepada Tao—karena death glarenya yang selalu menghantui LuHan—hingga berakhir tidur di pangkuan JongIn. Kalau saja Tao tidak ada di ruangan ini, sudah sedari tadi SeHun mencekik leher JongIn. Selalu saja berkata seenaknya tanpa tahu aturan. Mungkin, lain kali SeHun harus mengajarkan JongIn berkata yang baik-baik. Seperti mendesah, berteriak memanggil namanya, menggeram rendah—Setan! Hentikan pikiran kotormu, SeHun.
Tanpa mereka ketahui, kecanggungan telah mencair.
Lama ketiga pemuda itu terdiam, hanya terdengar dengkuran halus LuHan. Tao menundukkan kepalanya, jadi ini yang selama ini SeHun sembunyikan. Alasan tepat, mengapa dia sering datang terlambat ke sekolah, bahkan beberapa hari tidak berangkat.
"Apakah hubungan kalian sudah lama? M-maksudku, kapan kalian menikah?" Banyak sekali pertanyaan yang bercabang di otaknya, dan ia butuh jawaban secepatnya. Apa lagi, bila mereka telah tinggal bersama sejak lama. Teman macam apa yang selalu bersembunyi?
Dua gerakan isyarat tubuh mereka perlihatkan secara tidak kompak. SeHun menggeleng, dan JongIn menganguk—kemudian, terjadi perang mata kembali. Membuat Tao mendesah pelan. Mungkin, kode saling membenci itu adalah bentuk cinta mereka. Tao saja mengerti—lalu, kalian kapan? Hah, nyatanya, tidak selamanya orang yang terlihat seperti anak kecil, belum dewasa.
"Baru beberapa bulan yang lalu," sahut seadanya, antara mau dan tidak mau. Bingung juga, harus mengatakannya dari mana, karena ceritanya itu sangat panjang. Yah, kurasa kalian sudah mengetahui ceritanya. JongIn hanya memutar bola matanya malas, anak kekurangan cairan di depannya ini sepertinya butuh lemparan sandal hijaunya. Dengan pelan, JongIn meraih tubuh LuHan hati-hati dan meletakkannya ke atas sofa kosong sampingnya. Tidak ingin mengganggu tidur sang pangeran kecil, SeHun segera bangkit dan membantu JongIn agar menempatkan LuHan dengan nyaman tanpa membangunkannya.
Dapatkah waktu berhenti? Rasanya, Tao ingin mengeluarkan air matanya sekarang. Pemandangan penuh kasih sayang di depannya saat ini benar-benar terasa. SeHunnya benar-benar telah berubah. Anak itu rupanya sudah mengerti apa itu tidak bermain-main dengan perasaan. Lalu JongIn, Tao memang belum mengenalnya lama, tapi dirinya tahu JongIn adalah orang baik-baik dan mudah bergaul dengan sedikit kelebihan hormon percaya diri. Matanya menitikkan cairan bening, jika memang SeHun sudah bahagia, maka dirinya juga ikut berbahagia. Tao tertawa pelan, sebelum mengusak air matanya kasar. Perawakannya sekarang semakin terlihat seperti anak panda yang diculik oleh sebuah keluarga bahagia. Matanya sembab—sayu, hidungnya mengeluarkan ingus yang tak kunjung menghilang, dan bibirnya bergetar; bahagia dan malu. Kenapa Kris Gege selalu menghindarinya? Kenapa dia bersikap seperti seorang pengecut? Tidakkah kau menginginkan saat-saat keharmonisan seperti keluarga di depannya ini. Ge, kembalilah.
"Kenapa kau menangis, Tao? Apakah karena alasan kuno? Dengan mengatakan bila kau terkena debu?" Tanpa perlu banyak berkata, Tao segera menghamburkan tubuhnya kearah SeHun. Ia mulai menangis bombay di depan sahabatnya itu. Melupakan fakta, bahwa JongIn sedang bersama mereka dan dia tidak begitu menyukai keberadaan Tao, ingat?
"Tenang saja, aku hanya merindukan saat-saat kita bersama seperti dulu, kita bertiga—bersama Kris Ge. Kau rupanya sudah mendahuluiku, SeHun-ah. Kau mendahului kami menikah, apa lagi anak kalian yang sudah menginjak usia terbilang besar. Hah, rupanya, kau sudah dewasa ya, Cadel." SeHun tidak bisa menahan senyumnya. Dia juga merindukan saat-saat itu. Mereka berkumpul dan tertawa bersama, terutama melihat tawa tulus Tao untuk seorang bertubuh tiang itu. Tck! Mengingat pemuda itu membuat SeHun mendecih tidak suka. Apa-apaan Kris, pergi seenaknya tanpa peduli dengan orang yang sudah memanggilnya berulang kali. Dasar tidak tahu diri! Kalau mengetahui mereka berpisah dengan tidak mengenakkan seperti ini, lebih baik dulu ketika mereka pertama kali dekat, tidak usah terjerumus ke dalam jeratnya—dan sekarang, justru menarik-narik Kris agar kembali berkumpul bersama mereka.
Seharusnya, SeHun dan Tao merelakan Kris semenjak dulu.
"Apa yang kalian maksud, Kris Wu? Ah! Lebih tepatnya, Wu Yi Fan? Kalau iya, kebetulan aku lumayan dekat denganny—Tunggu! Jangan bilang kau adalah orang yang memanggil Kris di depan gerbang sekolahku?" Terlalu berlarut-larut dalam kenyataan, mereka berdua melupakan fakta bila JongIn juga bersekolah di tempat yang sama dengan Kris. Ahh, jangan lupakan juga momen menyedihkan itu.
Kenapa JongIn harus terang-terangan mengatakannya? Membuat SeHun melepaskan pelukan Tao pelan, tidak suka dengan topik yang JongIn katakan—karena dirinya akan teringat momen-momen di mana JongIn berr ...lupakan. Dalam sekejap, Tao sudah berada di depan JongIn; mengagetkannya.
"Kumohon, bisakah kau membantuku, JongIn?"
.
.
Sepertinya pagi ini begitu menyenangkan, terutama bagi JongIn—tidak-tidak, tidak sebegitu menyenangkannya, hingga dirinya akan tersenyum setiap saat dan setiap waktu. JongIn masih sempat menggerutu tidak suka, mengingat SeHun menyiksanya pagi ini. Memangnya ia robot? Namun, paling tidak hatinya tengah tersenyum, lantaran suasana di rumahnya tadi pagi yang tidak seaneh sebelumnya. SeHun sudah dapat kembali tersenyum, walaupun dia selalu menunjukkan senyumnya di hadapan LuHan saja, dan mengacuhkan JongIn, tetapi setidaknya SeHun tidak melupakan lontaran sinisnya kepadanya, kemudian memerintah JongIn untuk memandikan LuHan dan melakukan hal-hal lain yang menurut SeHun pantas untuk dirinya lakukan—dikarenakan, menurutnya JongIn itu adalah ibu rumah tangga. Heh, bila SeHun sudah bersikap tidak sewajarnya seperti itu, artinya SeHun sudah kembali normal.
Enak saja menjadikannya pembantu rumah tangga. Sebanyak-banyaknya tugas seorang istri, tidak ada yang begitu memberatkan. Lagi pula, tidak sudi JongIn menjadi ibu rumah tangga. SeHun saja yang keras kepala. Memangnya, siapa yang sudah luluh menyuapi LuHan kemarin? Sampai-sampai, membuatkan LuHan susu. JongIn saja tidak pernah. Maksudnya, tidak pernah membuatkan LuHan susu, bila tidak diminta—orang tua macam apa dirinya? Bisa-bisa JongIn dipenggal kedua eommanya.
"Yo!" Kepalanya spontan menoleh. Melihat siapa yang menepuk pundaknya dari arah belakang. Ah—pemuda itu, rupanya. JongIn menyeringai, baiklah, mari kita lihat, seberapa jauh JongIn dapat berakting. "Apa? Kenapa kau menyeringai? Kau tertarik padaku, sayang?" Sebuah pukulan telak mendarat di atas kepalanya.
"Diam, bodoh! Aku tidak tertarik padamu, sama sekali." Kris terkekeh, dia merangkul pundak JongIn seakrab mungkin. Dia menyapa beberapa gadis di yang lewat, sebelum perlahan mendekatkan bibirnya kearah telinga JongIn, "Ouh! Kurasa, kau memang sudah tertarik dengan pemuda yang memelukmu kemarin. KyungSoo, ya?" godanya, lalu tertawa. Dia menepuk-nepuk pundakya, dan bertingkah seolah pemegang kekuasaan di sekolah ini. "Tenang saja, aku akan membantumu untuk mendapatkannya. Aku sudah tidak asing lagi dengan apa itu cinta."
Heh, tidak asing katanya. Lain di kata, lain di perbuatan juga rupanya—selalu seperti itu.
Kali ini, JongIn yang tertawa. Menghentikan langkah Kris seketika, mengernyit bingung dengan tawa JongIn yang tiba-tiba. Tangan tannya melepas rangkulan Kris, dia berjalan mendahului Kris sebelum berbalik sejenak. Alisnya terngkat sebelah, dan tersenyum miring. Seolah mengejeknya. "Kalau kau memang tidak asing dengan cinta beserta hal-hal terkecilnya sekalipun, bisakah kau jelaskan padaku, siapa pemuda yang kemarin meneriakkan namamu? Kau yakin, kau adalah seorang pemuda, Kris? Jika kau yakin, kau adalah laki-laki, temui aku sepulang sekolah di Cafe Brown . Ada hal penting yang harus kutunjukkan padamu. Ah! Tentu saja menyangkut harga dirimu, sebagai laki-laki secara utuh."
Kerutan di dahi Kris semakin bertambah, tidak mengerti dengan jalan pikiran JongIn yang tiba-tiba berubah menjadi seperti pemuda bad boy ini. Jangan lupakan juga, mimiknya yang seolah tengah menantang dirinya. Ada apa ini? Dari mana JongIn tahu, mengenai pemuda yang meneriakkan namanya itu?
Shit! Dirinya harus melakukan sesuatu untuk membuat pemuda panda itu tutup mulut. Tidak berteriak seenaknya.
Tidak ingin merasa bodoh, karena berada di tengah lorong dengan pandangan kosong, Kris segera membenarkan tasnya yang di sandarkannya di satu bahunya. Lalu berjalan seperti biasa. Hanya saja, rautnya tidak menampakkan keramahan seperti tadi. Rahangnya mengeras, matanya mengkilat tajam.
Permainan sebenarnya, baru dimulai.
To Be Continued~
.
Come back dengan tidak bersalahnya. WooHo! Ampuni saya yang tidak berperi kemanusiaan dan berperi keadilan, ini. Saya bingung mau berbuat bagaimana, tapi saya sudah membuat jadwal—untuk menghindari adanya tabrakan jadwal, jadi saya akan mempublish fanfic ini sebulan sekali, atau minimalnya dua minggu sekali. Tapi, enggak selalu, sih. Bisa saja berubah.
Hanya untuk kepastian saja, kemungkinan—masih mungkin—saya mempublish fanfic ini sebulan sekali. Tapi bukan berarti, saya menelantarkan. Fanfic Oh My! , Because of , sama beberapa fanfic OS or New Chapetered lainnya juga tetep jalan. Jadi nama lainnya bergilir. Minggu ini, Trapped In Love, besok Oh My! Atau Because of, selanjutnya fanfic straight di wordpress, dan lain-lain.
Maaf bila mengecewakan. Doakan saja, semoga saya enggak terhambat idenya, jadi bisa jadi update sebulan dua kali. Ah! Maaf juga kalau ada typo banyak, belum saya check ulang soalnya. He—he. #timpukmassal
So, ini baru awal konfliknya. Ha—ha.
Mind to review, guys!
-Thanks for my followers, favoriters, readers, reviewers, silent readers, and so on. I Love You So Much. Until the end.-
Regards,
-Arcoffire-Redhair-
