"Papa sakit gigi, Appa?"

.

.

Title: Trapped In Love

Rated: T

Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, Xi LuHan, Han JiMin, Kim YooJung, Song HyeKyo, Kim TaePyung (Hyun Bin), Zo (Oh) InSung, Hwang ZiTao, and lil' bit Do KyungSoo.

Pair: Kim JongIn & Oh SeHun.

Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].

Disclaimer: SMTown - EXO the others belongs to God, and their parents.

Warning: Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ for some words, and etc.


.

.

"Jadi, bagaimana kencan kalian kemarin?"

Dahinya mengerut tidak mengerti dengan maksud BaekHyun—kencan? Memangnya kemarin dirinya berkencan dengan siapa? Seingatnya, kemarin ia justru tertidur di depan televisi menyala sambil memeluk remote, lantaran SeHun yang menendangnya keluar saat tahu bila dirinya akan mencium bibir istrinya itu. Tck! JongIn mendengus, ia masih memiliki dendam kesumat dengan kejadian tidak etis itu. Kalau hanya menendangnya tidak masalah—SeHun sendiri juga sudah sering melakukan tindakan penuh 'cinta' itu, tapi bedanya kali ini dia juga menjelek-jelekkan JongIn di depan LuHan yang tidak mengerti apa-apa. Oh tidak, otak polos LuHan telah terkontaminasi. Dasar, SeHun! Kalau sampai LuHan menyalin perilaku mereka yang bar-bar itu, JongIn tak akan memberi ampun pemuda pucat itu. Padahal 'kan, JongIn ingin mencium SeHun lantaran ingin terlihat romantis, sekaligus memberi SeHun hukuman atas tindakan cerobohnya yang membawa orang asing—asing bagi JongIn—ke dalam rumah mereka. Tapi, kenapa dirinya yang susah.

Tch! Istri tidak tahu diri.

Yeah, terus saja kau berkilah dan salahkan SeHun, Kim JongIn. Karena dia tidak bersamamu sekarang.

"Ya! Kau itu bukannya menjawab pertanyaanku, malah menyeringai tidak jelas. Apa yang kau pikirkan, eoh? Jangan-jangan kemarin kalian menjadi sepasang kekasih kembali?" JongIn mengernyit. Apa yang BaekHyun katakan sebenarnya? Jujur dia tidak mengerti. Bagaimana bisa, ia dan SeHun menjadi sepasang kekasih kembali, kalau kenyataannya mereka sudah menikah. Kalaupun, dulu dirinya dan SeHun adalah sepasang remaja berstatus pacaran, mungkin saja JongIn tidak akan bisa tertawa saat sedang bersama ChanYeol dan BaekHyun seperti yang sebelum-belumnya. Yang ada, malah keluhan JongIn terhadap sikap semena-mena SeHun setiap hari.

Matanya melirik ChanYeol yang berada di samping BaekHyun. Siapa tahu, ChanYeol mengerti apa yang dimaksud BaekHyun. Entah mengapa, hari ini ChanYeol yang selalu mengikutinya kemanapun—sebagai fans yang baik—sedikit berbeda, dia cenderung lebih senang berdekatan dengan BaekHyun. Bahkan, saat tadi dia berbicara mengenai pertandingan bola yang akan datang dengan ChanYeol, pemuda itu justru melirik-lirik BaekHyun; lalu tertawa sok manly. Aneh. Ia jadi merasa diasingkan.

"Apa? Kenapa lihat-lihat? Apakah sekarang kau terpesona denganku, Kai-ya?" JongIn mengibas-ibaskan tangannya, lalu menggeleng cepat diiringi tawa kecil, "Aku? Terpesona padamu? Bung, yang benar saja!" ChanYeol menyatukan alisnya; tidak suka. Tapi, sedetik kemudian dia semakin menggeser duduknya menempel BaekHyun dan kepalanya jatuh di pundak BaekHyun, "Yah, baguslah bila begitu. Karena sekarang sepertinya aku harus mengurangi jadwalku untuk menjadi pengawalmu. Aku sudah mempunyai seseorang yang harus kujaga, agar tidak bersandar di pelukan orang lain." Kenapa JongIn merasakan aura mencekam di sini? Aura bernuansa merah jambu dengan hiasan pita, bunga, cokelat, polkadot putih dan merah, serta gelembung berbentuk hati. Mata kelamnya beralih pada BaekHyun yang nampak blushing. O-oh! Jadi ini alasan mereka berdua semenjak tadi pagi bersanding bersama dan saling menyenggol bahu dengan gaya malu-malu anjing. Pantas saja JongIn merasa—sendirian. Hahaha ....

Sendirian, ya?

Senyum di bibir penuh itu terukir, JongIn jadi teringat saat dia memperkenalkan diri untuk yang pertama kalinya kepada orang lain sebagai pasangan SeHun dengan perasaan bangga. Bukannya apa-apa, tapi itu telah membuktikan jika dirinya tidak akan main-main dengan pernikahan mereka. JongIn menghela napasnya, mungkin saja ini saat yang tepat untuk merelakan keegoisannya dan membuka seluruh hatinya pada SeHun. Lagi pula, cepat atau lambat mereka tidak bisa terus-terusan mempermainkan ikatan mereka.

Hanya saja, apakah semuanya bisa berjalan lancar? Apakah SeHun juga akan dengan senang hati memilih dirinya?

Selama 7 bulan—berjalan delapan—mereka menikah, sama sekali tidak ada ucapan cinta yang terucap. Mereka selalu beradu mulut untuk kesenangan, bukan keseriusan. Bahkan, ketika dirinya membuat SeHun terluka—yang beberapa waktu lalu melihatnya berpelukan dengan KyungSoo, JongIn tidak melakukan apapun. Begitu pula SeHun, sama sekali tidak berniat membahasnya dan lebih memilih menenangkan sang sahabat.

Bukankah banyak orang yang mengatakan bila cinta itu buta? Tetapi, rasanya merekalah yang membutakan cinta. Membuat perasaan penuh asmara itu terselimuti oleh kabut dan berakhir dengan saling menjunjung tinggi ego mereka, ketimbang memilih jatuh cinta.

Bagaimana dengan KyungSoo?

KyungSoo?—Ah, sekarang dirinya mengerti. Satu alis JongIn terangkat, dia segera mengambil dompetnya dan menyodorkan dompet itu kepada BaekHyun dan ChanYeol. "Untuk apa ini?" JongIn tersenyum tipis, dia melipat kedua tangannya di atas meja, "Buka saja, maka kau akan tahu jawaban yang sedari tadi kau tanyakan." Dengan perlahan, BaekHyun membuka dompet JongIn—takut-takut, kalau JongIn menjebaknya dengan kecoa. Namun, setelah terbuka tidak ada apapun disana. Hanya kartu identitas dan sebuah foto. Tangan lentik BaekHyun mengusap foto tersebut, kemudian memandang JongIn penuh tanya, "Ini—foto pemuda waktu itu? Dan siapa anak kecil ini?"

"Tepat sekali, dia memang foto pemuda gila sewaktu itu," sindirnya tanpa ragu. Memang, apa yang perlu ditakutkannya? SeHun 'kan tidak ada di sini—sebuah keuntungan mereka tidak berada di sekolah yang sama. JongIn mengambil foto tersebut dari dompetnya. Foto SeHun yang membawa LuHan duduk di kedua pundaknya. Lagi-lagi perasaan berdesir itu timbul. Yah, JongIn sudah yakin akan melupakan KyungSoo dari kehidupan cintanya, walaupun harus dengan perlahan. Hey, tidak mudah melupakan sahabat sekaligus cinta pertama kalian yang sudah bersama sejak kecil.

ChanYeol mengetuk-ketukkan jarinya di samping foto itu, "Lalu, apa hubungan mereka denganmu dan KyungSoo?" JongIn membalik foto tersebut, dan memperlihatkan sebuah tulisan di baliknya. BaekHyun dan ChanYeol mendekat, mengeja tulisan itu.


"My 'New' Family"

Kim (Oh) SeHun & Kim (Xi) LuHan


"Mereka adalah keluarga baruku. Pemuda ini, SeHun. Eghm—suamiku, dalam pernikahan normal dia sebagai istriku; seharusnya. Lalu, anak ini LuHan. Anak adopsiku dan SeHun. Kami telah menikah beberapa bulan yang lalu, tepat setelah aku putus dengan KyungSoo." Perasaan lega membuncah begitu saja. Senyum di bibirnya terlukis begitu sempurna. Tidak ada lagi kata mundur sekarang—ia benar-benar sudah siap menyerahkan seluruh hidupnya bersama pemuda putih itu.

BaekHyun yang akan mengajukan protes, menutup mulutnya kembali. Sungguh, baru kali ini ia melihat JongIn tersenyum begitu lepasnya. Seakan-akan, perkataannya barusan sebuah anugerah terindah yang selama ini dicarinya. Tuhan, apa yang selama ini dirinya lewatkan terhadap temannya ini? BaekHyun meremas tangan ChanYeol yang berada di atas tangannya. Mau apa lagi? JongIn sudah menemukan kebahagiaannya, tidak mungkin 'kan dia memaksa KyungSoo untuk kembali bersamanya.

"Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, JongIn?"

Sudah lama sekali, mereka berdua tidak memanggilnya dengan nama itu. Kalau sekali saja mereka memanggilnya dengan nama lahirnya, maka itu artinya mereka benar-benar serius. JongIn menyunggingkan bibirnya tipis, "Maafkan aku telah menutupi kebenaran ini dari kalian. Sungguh! Aku tidak bermaksud, semuanya murni karena paksaan. Kami menikah pun karena perjodohan, itu pula yang menjadi alasan aku putus dengan KyungSoo secara tiba-tiba. Aku ingin memberitahu kalian, jauh-jauh hari, namun saat itu tiba selalu saja ada sesuatu hal yang jauh lebih penting. Kembali bertemu dengan KyungSoo salah satunya." JongIn memalingkan wajahnya, menatap taman sekolahnya yang berada di luar jendela, suaranya perlahan memelan, "KyungSoo pergi setelah mengetahui bahwa aku akan dijodohkan. Awalnya, kupikir dia pergi lantaran marah, tetapi nyatanya dia memang ingin bersekolah di sana. Semenjak itu, aku masih mengharapkannya agar mau kembali bersamaku. Bagaimanapun caranya."

Suara helaan napas terdengar, kemudian JongIn terkekeh. Dia menjatuhkan kepalanya di atas meja, memandang kedua sahabatnya kembali yang entah mengapa terlihat berkaca-kaca sekarang—terutama BaekHyun. Tangan tannya meraih foto itu, memperhatikannya sejenak, sebelum melanjutkan ceritanya, "Namun, semuanya salah. Mereka sekarang tanggung jawabku. Mereka bukan lagi orang asing. Mereka adalah keluargaku, keluarga baruku. Mereka adalah—kebahagiaanku. Walaupun kami sama sekali tidak harmonis, tapi setidaknya kami memang benar-benar sudah merasa nyaman satu sama lain. LuHan bahkan tidak pernah berkeluh tentang pandangan orang-orang mengenai orang tuanya yang menikah sejenis. Dia menyayangi kami berdua selayaknya orang tua kandung. Maka dari itu, perlahan aku mulai menghindari KyungSoo dan berharap dapat melupakannya. Well, tapi apa boleh buat? Dunia itu sempit, Guys!"

ChanYeol dan BaekHyun mengerutkan kening mereka, jadi itu sebuah kesalahan apabila KyungSoo bertemu dengan JongIn? Memori mereka kembali berputar di mana saat-saat JongIn memeluk KyungSoo, pasangan JongIn—SeHun, mengetahui kejadian itu dengan ekspresi pias. "JongIn, maafkan aku. Semua ini salahku karena sudah mempertemukanmu dengan KyungSoo. Dia—SeHun," tangan JongIn mengusak surai BaekHyun pelan.

"Sudahlah. Lagipula, kejadian itu sudah berlalu. Ini bukan kesalahanmu atau ChanYeol. Mungkin takdir memang sudah menuliskan seperti itu. Well, no one knows. Entah mengapa aku jadi banyak bercerita hari ini. Kalian tidak ingin ikut denganku ke kantin?" Kedua sahabatnya saling berpandangan sejenak, lalu mengangguk. ChanYeol menepuk pundak JongIn sebelum beranjak, "Setidaknya mulai sekarang jangan ada yang kau tutupi sendiri. Bagaimanapun juga kami ini temanmu, bukan pajangan." Tawa JongIn meledak, dia memasukkan kembali dompetnya ke dalam saku celananya, "Termasuk menceritakan bagaimana malam pertama kami?"

Malam pertama ...t-tunggu! "Sialan kau, Kai. Tunggu saja, aku juga akan menyusulmu," balas ChanYeol di sela tawanya menyusul JongIn dan BaekHyun yang sudah lebih dulu berada di depan.

Aneh, padahal JongIn sendiri belum pernah bercinta dengan SeHun. Ha—ha.

.

.

Hari ini ada yang berbeda, SeHun memutuskan untuk tidak bersekolah dengan alasan sedang tidak mood. Oh ayolah! Dia sudah terlalu rajin berangkat sekolah dari Senin sampai Senin kembali, okay itu memang sedikit hiperbola, tapi seluruh siswa memang dididik seperti itu, 'kan? Pulang hanya menumpang makan, mandi, tidur. Memangnya mereka robot! Belum lagi SeHun memiliki kewajiban baru sekarang. Kapan lagi SeHun bisa menjemput LuHan, kalau waktu saja tidak punya?

Kebetulannya lagi, YiXing hyung sedang sibuk sehingga tidak bisa menjemput jagoannya. Jadi, apa boleh buat? Walau SeHun sendiri tahu, maksud sibuk di situ adalah mendekati atasannya, Kim JoonMyeon. Ngomong-ngomong, mereka sudah berpacaran, hanya saja belum dikenalkan kepada keluarganya. Jadi, YiXing hyung mendekati JoonMyeon karena ingin mengajaknya bertemu Appa dan Eomma.

"SeHun? Apa harus kau memakai pakaian seformal itu? Kita hanya menjemput LuHan, 'kan? Bukan ke prom night?"

Satu hal yang berbeda lagi, dia mengajak Tao—sahabatnya, yang juga mencakup musuh LuHan—untuk membolos dan menjemput LuHan.

SeHun menurunkan sedikit kacamata hitamnya, "Kalau tidak seperti ini, maka mereka akan memandangku rendah." Tao memikirkan kepalanya, dia benar-benar tidak habis pikir dengan pakaian SeHun yang luar biasa rapi. Casual shirt putih yang dipadukan dengan sweater hitam, jam tangan berkilau emas, celana jeans, dan sepatu pantofel. Rasa-rasanya, baru pertama kali ini SeHun berpenampilan seelegan ini. Uhm, biasanya dia akan berpakaian asal-asalan, namun terkesan liar.

"Mereka siapa maksudmu?"

Dagunya menunjuk kerumunan ibu-ibu di depan sekolah LuHan, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. SeHun mendesah pelan, "Di depan, mereka akan tersenyum-senyum kepadaku, tetapi pada akhirnya wanita-wanita itu akan membicarakan LuHan di belakang. Setidaknya dengan penampilan seperti ini mereka akan membicarakan diriku dan tidak memandang rendah LuHan lagi." Yah, karena banyak orang yang mengomentari seseorang dari penampilannya. Maka, jika penampilannya baik, orang-orang akan menilai LuHan baik juga.

Masih teringat di benak SeHun, LuHan yang menangis keras selepas pulang dari sekolah dasar untuk pertama kalinya. Dengan wajah memerah dan mata sembab, LuHan merangkul leher JongIn dan menceritakan segala hal yang menyakitkan untuk didengar anak -teganya mereka memperlakukan LuHan seperti itu, padahal jelas-jelas bukan dia yang salah.

Tao mengangguk-anggukkan kepalanya. Otaknya belum sampai ke tahap itu, mungkin hanya orang-orang yang sudah berkeluarga saja yang bisa memahaminya. Maklumlah ...dia masih ingin muda—ups! Mata pandanya menyipit, memperhatikan anak kecil yang dirinya yakini adalah LuHan, tengah bermain kejar-kejaran dengan temannya yang berpipi gembil. LuHan menepuk pundak teman gembulnya itu, lalu tertawa dan seolah mengatakan, "Sekarang giliranmu." Kemudian setelah itu dia berlari sejauh mungkin dari kejaran sang teman. Bibir kucingnya tersenyum kecil, dasar anak-anak. Kalau tidak bermain petak umpet ya kejar-kejaran. Tapi setidaknya LuHan bahagia sekarang, bukan malah menangis lantaran pelecehan atau kekerasan terhadap anak-anak. Hii—Tao bahkan tidak bisa membayangkan LuHan yang terisak dengan tubuh penuh lebam dan sulit berjalan. O-oh! Begini-begini, Tao masih punya jiwa penyayang pada anak kecil. LuHan saja yang selalu mengajaknya berperang terlebih dulu.

Mungkin lain kali, dirinya akan mengajak LuHan berperang di sebuah game smartphone.

Perhatiannya kembali teralihkan pada LuHan dan temannya. Sepertinya dia melewatkan sesuatu, bibirnya menyeringai kala melihat teman lucunya itu mengamit tangan LuHan dan mengayun-ayunkan genggaman tangan mereka. Setelah sampai di depan gerbang, LuHan segera melepaskan pegangan tangan mereka dan melambai pada temannya itu, yeah sebelum teman gembulnya itu mencium pipi LuHan. Menci—sontak Tao menarik lengan SeHun agar melihat kejadian langka itu, "Woah, kau lihat itu, SeHun? Sepertinya dia jatuh cinta lebih cepat."

Jatuh cinta?—LuHan, putra kecilnya itu jatuh cinta? SeHun tersenyum tipis melihat anaknya itu tersenyum malu-malu seraya memegangi pipinya. Sedari kecil LuHan memang tumbuh penuh dengan kasih. Dia mencintai semua orang di keluarganya maupun keluarga JongIn, tak terkecuali teman-temannya. Saudara dan teman-temannya pun dengan senang hati membalas perilaku menggemaskannya itu. Tetapi, hal itu juga yang terkadang membuat SeHun cemburu.

Tidak bisakah perasaannya juga terbalaskan?

JongInah! Tidak-tidak. Ini tidak baik.

Kepalanya menggeleng sejenak, kemudian kembali fokus pada pernyataan Tao. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk merenungkan kisah—pahit—cintanya. Tidak, bila sekarang dirinya sedang bersama Tao. Lagipula, Oh SeHun yang dulu sama sekali tidak pernah memikirkan tentang cinta secara serius seperti ini. Everything has changed, huh? SeHun menghela napasnya, "Oh, hanya seperti itu?" Tao hampir saja menjatuhkan rahangnya, mengetahui respon SeHun yang sangat datar. Kemana jiwa kebapakannya beberapa menit yang lalu? SeHun menarik lengannya ke tempat semula, lalu merapikan sweaternya yang sedikit kusut dan menyisir rambutnya menggunakan tangan, "Well, itu bagus. Selama mereka tidak melakukan hal yang lebih. Lagipula, LuHan pintar memilih kekasih. Jadi, aku tidak perlu repot-repot mengajarkannya untuk memilih kekasih lagi kedepannya. Siapa dulu Ayahnya." Oh iya, Tao baru ingat kalau SeHun itu mantan playboy di sekolahnya. Pantas saja reaksinya seperti itu, dan—hey! Kenapa SeHun sekarang terlihat seperti om-om penuh pesona yang menjemput keponakannya dan menjerat banyak gadis.

Tck! Sepertinya sifat absurdnya muncul kembali.

"Ouh ...kupikir kau yang berperan sebagai ibu di sini." SeHun melototkan matanya seketika, dia segera melepas kacamatanya dan menunjuk Tao tidak setuju, "Siapa yang mengatakannya?" Tao tertawa kencang melihat perubahan sikap SeHun dalam sekejap itu, dia bertepuk tangan senang, dan merubah mood SeHun menjadi super duper down. SeHun mengerucutkan bibirnya tidak setuju, dan menyenggol kaki Tao keras.

"Ouch! Apa yang kau lakukan, Idiot! Kau pikir sepatu pantofelmu itu tidak sakit?!"

Bibirnya mencebik, SeHun mendekatkan wajahnya ke arah Tao dan mendesis tajam, "Bila kau mempercayai informasi palsu seperti itu dari JongIn, pergi saja kau ke kebun binatang dan bergabung dengan keluarga pandamu yang lainnya. Jangan memintaku untuk menjemputmu, Baby."

"Lakukanlah, dan aku akan membawa LuHan ke kandang rusa. Kau ingin melawanku, heh?" goda Tao menaik-turunkan alisnya. Mau apalagi kau, SeHun? Skakmat. SeHun melayangkan tatapan tajam kepada Tao, begitu pula sebaliknya. Sebelum sebuah ide menghampiri pikiran SeHun, "Memangnya, sejak kapan kau dan LuHan berteman? Dia bahkan memegang tanganmu malas."

Matanya bergerak gusar. Bagaimana bisa dirinya lupa jika LuHan sama sekali tidak bersahabat dengannya. "Eum ...ya—ya, kalau begitu aku akan membawa JongIn juga. Benar! Aku akan membawa JongIn dan LuHan dari kehidupanmu. Meninggalkan sosokmu sendirian di rumah besar itu. Mau apalagi, kau?"

DEG!

Meninggalkan sosokmu sendirian di rumah besar itu.

Meninggalkan ...JongIn, LuHan.

Perasaan tidak mengenakkan menggrogoti jiwanya secara perlahan. SeHun memiliki firasat buruk. Seakan-akan apa yang Tao ucapkan akan terjadi, cepat atau lambat. Jari-jarinya bergetar, peluh menuruni pelipisnya. Bayangan akan JongIn yang memeluk mantan—atau masih—kekasihnya kembali terulang. SeHun segera mengalihkan pandangannya, dia harus segera keluar dari suasana ini. Apalagi saat menyadari JongIn belum mengiriminya pesan seharian ini. Benar-benar tidak baik. "Tunggulah di sini. Aku akan menghampiri LuHan."

Tao mengangkat satu alisnya, menatap kepergian SeHun yang tidak dirinya mengerti. Kenapa SeHun seolah menghindari ucapannya? Uh-oh! Sepertinya dirinya salah bicara. "Sial, apa yang harus kulakukan? Mulut bodoh!" Seharusnya dia tidak menyulut SeHun dengan sesuatu yang tidak-tidak. Tao tidak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga SeHun dan JongIn, namun satu yang pasti; mereka sedang saling menghindari. Itu terbukti dengan tingkah laku SeHun yang aneh hari ini.

Sebenarnya sejak tadi pagi, Tao sudah curiga dengan gelagat SeHun yang tiba-tiba mengajaknya membolos. Entah apa yang merasuki anak itu, namun yang jelas membolos bukanlah sifat SeHun sama sekali. Baik, SeHun memang anak yang nakal. Tapi, dia nakal karena sering mempermainkan perasaan, bukan pergi tanpa izin jelas, merokok, atau memakai narkoba sekalipun. Intinya, hari ini SeHun benar-benar aneh. Belum lagi, setelah ia memasuki mobil SeHun—berhubung SeHun yang menghampirinya di rumah—suasananya mendadak mencekam. Satu hal yang memungkinkan, SeHun tengah bertengkar dengan JongIn. Well, bisa jadi 'kan. Mereka juga sudah menikah, jadi bisa saja terjadi pertengkaran di antara mereka. Tetapi, hal yang jauh lebih parah, Tao justru menakut-nakuti SeHun dengan perginya LuHan dan JongIn. Shit—Tck! Semoga saja setelah ini SeHun melupakan kejadian barusan dan memaafkannya.

.

.

JongIn menuangkan sekotak susu putih ke dalam gelas, kemudian menyerahkannya kepada LuHan dan duduk di sampingnya. Salah satu tangannya menyangga kepalanya, memperhatikan LuHan yang makan begitu lahapnya. Bibir tebalnya tersenyum, JongIn mengusak rambut LuHan pelan, "Makanlah dengan hati-hati. Ayam itu tidak akan pergi, Sayang." LuHan tertawa kecil ketika mendengar leluconan JongIn, membuat nasi yang berada di dalam mulutnya terjatuh beberapa. Seusai menelan makanannya, LuHan mengambil sepotong ayam dan menyerahkannya pada JongIn. Appanya itu melebarkan senyumnya kala mengetahui anaknya mau membagikan makanannya dengan dirinya, "Gomawo, LuHanie," lalu mengambil ayam itu dari tangan LuHan. Tapi, LuHan menggelengkan kepalanya, "Aaa~" Oh, rupanya LuHan ingin menyuapi JongIn. Dengan senang hati JongIn menerimanya, lantas keduanya pun tertawa. Tetapi, sepertinya ada yang kurang. JongIn meneliti setiap penjuru ruangan yang dapat digapai oleh matanya.

"Kemana Eommamu? Sedari tadi Appa belum melihatnya." LuHan menghentikan anggukan kepalanya—dia selalu excited ketika sedang makan. Tanpa perlu bertanya, LuHan tahu siapa yang dimaksud Eomma oleh Appanya. Kedua ayahnya ini kadang-kadang memang seperti itu. Appanya (JongIn) akan memanggil Papanya (SeHun) dengan Eomma, begitu pula sebaliknya. Kepalanya memutari ruang makannya, kemudian dia turun dari kursinya dan berlari kelantai atas; tempat kamar orang tuanya berada.

Semenjak Papanya menjemputnya pulang bersama boneka pandanya—Tao, SeHun lebih banyak berdiam diri dan memfokuskan matanya ke arah jalan, walau sesekali SeHun akan tersenyum dan menawarkan apa ada sesuatu yang ingin LuHan beli. Hanya saja, itu akan terdengar aneh bagi LuHan yang sudah berbulan-bulan tinggal dengan ayah angkatnya itu.

Apa Papanya sedang sakit?

Tubuh kecilnya mendorong pintu di depannya, namun tak jua terbuka. LuHan mencoba mengetok pintu yang terkunci di depannya, "Papa, apa kau di dalam?" Tak ada jawaban apapun yang terdengar. LuHan kembali mengetuk pintu bercat putih itu sekali lagi, "Pa? Kenapa tidak ada suaranya?"Lagi-lagi tak ada jawaban. Hanya terdengar 'grusak grusuk' dari dalam. JongIn meletakkan coklat panasnya di atas meja, dan mendesah lelah. Sedari tadi, ia mendengar suara LuHan yang membujuk SeHun untuk keluar dari kamar mereka. Ada apa lagi dengan SeHun? Baru juga kemarin mereka menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka mengenai Tao, kenapa dia bertingkah kembali? JongIn akhirnya memutuskan untuk menghampiri LuHan. Ia mensejajarkan tingginya dengan LuHan, setelah itu mencium pipi jagoannya yang mulai berisi, "Biar Appa yang memanggil Papa. LuHanie melanjutkan makannya. Sebelum ayamnya hidup kembali. Oke, Sayang?"

Terlihat raut LuHan yang menunjukkan kebingungan, bibirnya mengerucut lucu. LuHan itu pintar, dia tidak selugu anak kecil lain dan dia tahu salah satu ayahnya itu sedang bersedih. Cuman, dirinya tidak tahu Papanya sedih karena apa. "Apakah Papa sakit gigi, Appa?" JongIn melengkungkan bibirnya tipis, di peluknya LuHan penuh sayang. Ia benar-benar merasa beruntung memiliki anak seperti LuHan, "Papa hanya sedang lelah, Sayang. Jadi, LuHanie makan ya sekarang. Supaya Papa semangat lagi. Arasseo?" LuHan menganggukkan kepalanya, "Aku akan makan yang banyak agar Papa menjadi seperti superman," celetuknya diikuti tawa kecil, lantas turun dengan gaya khas superhero tersebut. JongIn menghentikan senyuman di bibirnya. Ia berdiri kembali dan mengambil ponselnya, menelpon seseorang yang berada di dalam kamarnya ini. Sekarang, tidak ada lagi rahasia di antara kita, SeHun. Tentu, karena dirinya menginginkan yang terbaik bagi keluarganya.

"Buka kuncinya, SeHun. Kita perlu bicara," tegur JongIn langsung, setelah SeHun mengangkat teleponnya yang dibiarkan cukup lama berdengung.

CKLEK!

Pemuda tan itu segera memasukkan ponselnya, dan melangkahkan kakinya secara perlahan memasuki kamarnya dan SeHun. Tampak pasangannya itu kembali bergelung di dalam selimut, seusai membukakan pintu untuknya. JongIn menghela napasnya, ia berjalan mendekati ranjang, dan duduk di samping SeHun. Tidak biasanya pemuda zombie ini bersikap manja seperti ini. Biasanya jika SeHun sedang marah, dia akan mendiamkan dirinya, tetapi masih melaksakan aktivitasnya di bawah. Bukan malah bergerumul dengan selimut seperti ini.

"SeH—"

"JongIn, apa kau akan menyerah dengan pernikahan ini?"

"Apa—"

SeHun membuka selimut yang menutupi tubuhnya, dia mendudukkan tubuhnya dan menatap mata JongIn dengan mimik , JongIn yang tidak mengerti tingkah SeHun hanya memandang asal-asalan. Ini seperti bukan SeHun—dia tidak pernah melakukan kontak mata dengannya, namun penuh dengan emosi seperti sekarang. JongIn menyentuh dahi SeHun, "Apa kau sakit?" SeHun mendecih, dia menampik tangan JongIn dari dahinya, "Aku akan bertanya sekali lagi. Apa kau akan menyerah dengan pernikahan kita, Kim JongIn?" Dahi JongIn berkerut tidak suka. Ia tak begitu menyukai dengan topik yang SeHun angkat saat sudah menyerahkan segalanya bagi bocah pucat itu, tapi pertanyaan apa itu. Sama sekali bukan SeHun—atau, SeHun yang sudah tidak tahan dengan pernikahan ini?

JongIn beranjak dari kasur tersebut, ia memilih tidak menjawab pertanyaan SeHun yang tidak masuk di akal membuka lemari di kamar mereka, dan mengeluarkan koper dari dalamnya. JongIn menarik koper besar itu ke samping kasur tempat SeHun berada. Matanya kali ini membalas mata SeHun, "Lalu, apa kau juga menginginkanku melakukan ini, Oh SeHun?"

Meninggalkan sosokmu sendirian di rumah besar itu.

Apakah ini artinya deja vu? Rasanya SeHun benar-benar sudah putus asa dengan semua ini. Tangannya memijit pangkal hidungnya. Jantungnya berdegup kencang, dan itu terasa menyesakkan. SeHun benar-benar akan merindukan LuHannya mulai sekarang dan—yeah, mungkin pertengkarannya dengan JongIn juga. Semua memori yang ada di rumah ini, akan dikenangnya. Matanya perlahan memerah. Shit! Ini bahkan lebih menyakitkan daripada putus cinta. SeHun mendongak, ia mencoba sekuat mungkin untuk tersenyum di depan JongIn. Senyum yang selama ini disembunyikannya, senyum yang tulus, senyumnya yang seketika membuat semua orang tersadar, betapa besarnya rasa cintanya terhadap kekasihnya.

"JongIn, izinkan aku mengatakannya sekali saja—huft," SeHun mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Untuk pertama kalinya, dirinya akan mengeyampingkan harga dirinya, dan memilih mengatakan apa yang ada di dalam dadanya.

"—Aku mencintaimu, JongIn."

.

.

To Be Continued~


Hello, I'm back from hiatus. Sorry. Mianhae . Gomen ne.

Sebenernya sekalian nyambung-nyambung alurnya, ngerombak lagi, jadi yang ngebuat fanfic ini lama karena apa yang ada di otak saya berbeda dengan alur cerita yang sudah saya tuangkan. Jadi ya, begini. Maaf kalau makin lama makin menjadi-jadi.

Chapter ini, saya lebih menonjolkan ke ...perasaan masing-masing. Jadi, udah tahukan mana yang seme mana yang uke, udah ada kodenya tuh. Tapi walaupun dia posisi bot! Bukan berarti sifatnya girly. Saya lebih suka menampilkan bot! yang judes, jutek, cengengesan, sengklek, terlalu (sok) manly, dan bebagai keanehan lain.

Recommended: Baca chapter ini sambil dengerin lagu yang slow tapi bukan sad.

Thanks to: Followers, Favoriters, Readers, Reviewers. :*

I Love All of You, Guys! Contact me; check my BIO.

Mind to review?

Regard,

-Arcoffire-Redhair-