"LuHan-ie memang mau pergi kemana?"
.
.
Title: Trapped In Love
Rated: T
Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, Xi LuHan, and little bit Kim YooJung, Zhang YiXIng.
Pair: Kim JongIn & Oh SeHun.
Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].
Disclaimer: SMTown - EXO the others belongs to God, and their parents.
Warning: Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ for some words, and etc.
.
[EXO – Baby Don't Cry]
.
.
"JongIn, izinkan aku mengatakannya sekali saja—huft," SeHun mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan. Untuk pertama kalinya, dirinya akan mengeyampingkan harga dirinya, dan memilih mengatakan apa yang ada di dalam dadanya. Sial! Ini sama sekali bukan , terbesit sesuatu dalam benaknya. Apa ini yang dinamakan karma? Karena selama ini yang selalu menjadi pihak menyakiti adalah dirinya—disetiap hubungannya dengan para mantan kekasihnya terdahulu. Huh, setidaknya sekarang SeHun mengerti bagaimana perasaan gadis-gadis tak bersalah itu ketika ia memutuskan mereka semua secara sepihak. Tck! Benar-benar menyusahkan. Hampir saja SeHun mengeluarkan tawa sinis andalannya, jika tidak terhalang oleh sebulir air yang masuk ke dalam celah mulutnya. God! Dirinya tidak pernah menyesali sesuatu sebesar dan semengena ini. Saat ini, SeHun hanya dapat berharap semoga apa yang dilakukannya ini adalah yang terbaik sebelum kepergian JongIn dari kehidupannya. Ia menetralkan napasnya kembali, matanya memandang lurus kedua manik orang yang selama ini bersemayam di hatinya.
Pada akhirnya, cinta juga yang akan mengendalikan mereka. Tidak peduli seberapa besar mereka menyangkalnya dan mencoba untuk mengontrol perasaan mereka masing-masing. Karena ...
"Aku—aku mencintaimu, JongIn."
Cinta adalah perangkap.
Peduli setan dengan egonya yang setinggi langit di angkasa itu. Karena nyatanya, sekarang perasaannya terasa jauh lebih lapang. Seakan-akan waktu kembali berputar, dan meninggalkan masa-masa kelamnya. Tak ada lagi rasa penat yang memenuhi dadanya dan tidak ada lagi kebohongan pada dirinya sendiri. Air mata yang selama ini jenuh tersimpan dibalik kedua matanya pun, terjatuh begitu saja. SeHun bahkan tidak percaya dengan dampak yang terjadi pada dirinya setelah mengungkapkan isi hatinya itu. Sepele, heh? Tahu seperti ini, SeHun lebih memilih jujur saat awal-awal muncul buncahan mekar bunga di dalam dadanya. Tapi, penyesalan selalu datang setelah inti cerita. SeHun sadar, ia sudah tidak memiliki hak untuk mencegah kepergian JongIn dari hidupnya. Paling tidak, dirinya sudah mengatakan yang sejujurnya.
Ya, JongIn. Aku mencintaimu.
Tangan kurusnya mengusap kedua matanya, lantas terkikik kecil akan aksi bodohnya yang tidak akan menghasilkan happy ending. Lagipula, sejak awal dirinya memang sudah mempersiapkan saat-saat seperti ini. Jadi, seharusnya terasa lebih mudah untuk melepaskan pemuda tan itu, "Lupakan. Aku tidak bermaksud untuk mencegahmu pergi, dengan mengatakan hal itu. Karena aku tidak punya kehendak. Kalau kau memang ingin pergi, pergilah. Aku akan menunggumu di sini untuk menandatangani surat cerai kita."
Bukankah terkadang melepaskan sesuatu jauh lebih baik daripada memaksakannya?
—Walaupun itu menyakiti hatinya juga.
Demi apapun di dunia ini, JongIn muak dengan SeHun yang ada di hadapannya sekarang. Kalau memang dia mencintainya, mengapa tak ada usaha untuk membuatnya tinggal sama sekali? Dia—SeHun putus asa dalam sekejap, hanya dengan melihat dirinya mengambil koper dari dalam lemari mereka. Dia benar-benar bukanlah SeHun yang selama ini beradu mulut dengannya. JongIn kecewa, tentu saja. Setelah apa yang ia lakukan, demi mempertahankan rumah tangga mereka; mulai dari melupakan KyungSoo, mengurangi bermain game hingga tengah malam, sampai melakukan segala hal yang selama ini diminta SeHun (yang menurutnya selalu dilakukan oleh ibu-ibu pada umumnya) kepada LuHan, tidak membuahkan hasil yang manis. Usahanya sia-sia. JongIn tersenyum miris, mengetahui perjalanan cintanya berbelok ke arah yang berada di luar jangkauan.
Apa ini akhir dari hubungan mereka?
"Apa lagi yang kau tunggu, Kim JongIn? Kau bisa pergi sekarang."
Mereka tersakiti dan menyakiti diri masing-masing.
Suara helaan napas pasrah, kembali SeHun perdengarkan. Suaranya jauh lebih pelan daripada sebelumnya, "Tapi ...kumohon, biarkan LuHan tinggal di sini beberapa hari. Setelah itu, kau bisa membawanya pergi bersamamu."
Apakah berhenti sampai di sini?
JongIn mengatur napasnya yang memburu. Tangannya mengepal kuat, menahan sesak yang memilukan. Bisa saja dia lepas kendali, dan menghantam SeHun tepat di rahangnya—karena itu naluriah—tapi hatinya tidak mampu. Bagaimanapun juga, saat ini emosi tidak bisa dibalas dengan keemosian, atau mereka akan sama-sama jatuh. Kedua matanya terpejam, ia berusaha menetralkan pikirannya yang berkecamuk. Setidaknya, masih ada satu penyemangat untuk mempertahankan hubungan mereka. LuHan pasti akan sangat terkejut dan tidak mengerti, jika mereka tiba-tiba berpisah. Dia terlalu muda untuk bisa menikmati kepahitan akibat kisah romansa kedua orang tuanya. JongIn pun tidak ingin LuHan mengalami masa kanak-kanak yang menyakitkan; tanpa orang tua untuk yang kedua kalinya. Apalagi, melihat senyum lugu LuHan yang selalu bersemayam di parasnya—JongIn tak bisa menghadapi LuHan tanpa senyuman itu. Kalau SeHun melepaskannya, maka JongIn bertahan untuk LuHan.
Katakan saja, dia ini pengecut. Lebih memilih berdiam diri daripada menanggapi ucapan SeHun yang semakin merambat , dia melakukan ini demi SeHun juga. Karena, jauh di dalam matanya, JongIn menemukan kesedihan yang mendalam, walaupun saat ini SeHun tengah menutupinya dengan senyuman yang bergetar. Dia terlihat jauh lebih rapuh dan kecil. SeHun nyatanya berduka akan asmaranya—SeHun tak rela untuk kehilangan keluarga kecilnya sekarang.
Bolehkah dirinya sedikit berharap?
JongIn memijit pangkal hidungnya, menahan setitik air yang menetes dari ujung matanya. Kenapa mencintai seseorang harus seberat ini? Kenapa mereka tidak bisa saling terbuka—meski mereka sama-sama lelaki? Kenapa dan mengapa kehidupan rumah tangganya yang pertama kali begitu mudah goyah? Apakah semuanya mengalami masa-masa seperti ini? JongIn kecewa pada SeHun, tetapi di waktu yang bersamaan, dirinya semakin tak ingin melepaskan pemuda yang dicintainya tersebut. Dengan langkah berat, JongIn memegang kedua pundak SeHun dan menidurkan pemuda itu di kasur mereka kembali. Ia menutupi tubuh SeHun dengan selimut, kemudian berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan, koper yang tadi sempat diambilnya, ditinggalkannya begitu saja, tanpa ada niat untuk mengembalikannya atau membawanya keluar kamar. "Tidurlah. Aku akan tidur di depan televisi," lirihnya sebelum menutup pintu kamar.
Ia hanya tidak ingin pernikahannya selesai sampai di sini.
.
.
Pagi cerah kini menggantikan posisi suasana malam yang berharga, seusai mandi dia segera berlari ke arah dapur dan duduk di atas kursi meja makan. Rasanya, LuHan lebih sering memasuki dapur daripada ruang bermainnya. Lihat saja, belum apa-apa tangannya sudah mencomot sebuah mandoo. Lalu, tangan kirinya mengambil japgwapyo, tanpa memperdulikan mulutnya yang masih penuh. Maklum saja, baru kali ini menu di rumahnya tidak seputar ayam. LuHan tertawa pelan, kala melihat Appanya bersidekap sambil mengerutkan keningnya, "H-ah, kau ini selalu saja bersemangat dengan makanan. Jangan dihabiskan, mengerti? Bila tidak, nanti kita bisa kelaparan di perjalanan."
LuHan mengerjapkan kedua matanya excited, ia lekas menelan mandoonya dan melakukan puppy eyes andalannya, "Benarkah, Appa? Kita akan pergi kemana? Apa kita akan menaiki Thomas?Apa kita akan melihat rusa? Apa kita—" JongIn mengoleskan selai coklat pada bibir LuHan, agar anak itu berhenti bertanya yang aneh-aneh dengan kecepatan super. "Kita akan pergi ke suatu tempat yang penuh dengan air, selanjutnya rahasia, " sambung sang Appa di sela kesibukannya membuat roti gandum berselai coklat . LuHan mengerucutkan bibirnya lucu, merajuk karena tidak dapat melihat rusanya di liburan kali ini. JongIn terkekeh dan mencubit gemas pipi chubby LuHan, "Kalau ada waktu, mungkin kita bisa mampir ke sana." Seakan mendapat mendali emas di gurun pasir, senyum di bibirnya mengembang lebar. LuHan kembali melanjutkan makannya, seraya menggerak-gerakkan kakinya riang. Tidak lupa, ia juga menjilat bibirnya yang terkena olesan coklat. Asalkan ada rusa, dia pasti bahagia; itu prinsipnya. Entah apa yang menarik dari hewan bertanduk itu, namun yang pasti sejak awal keluarga mereka mengadopsi LuHan, anak itu tidak pernah absen membawa boneka rusanya—yang sekarang telah usang dan disimpan dalam lemarinya.
Selagi mengunyah makanan ringannya, LuHan terkikik ringan mengetahui perilaku Appanya yang sedikit aneh hari ini. Jarang-jarang saja Appanya membangunkannya lebih awal. Biasanya yang membangunkannya adalah Papa, dan Appanya itu belum terbangun dari mimpi. Dia juga memintanya untuk berdandan sekeren mungkin. Bahkan, ayahnya satu itu sempat menyisir rambutnya, memakaikan sabuknya, sampai membantunya memakai sepatu. LuHan yang dimanja sebegitu intimnya dengan JongIn, merasa geli dan bingung. Walaupun, sehari-hari yang meladeninya adalah Appa, tetap saja LuHan merasa asing dengan sikap JongIn sekarang. Uh-uh! Rupanya, Appanya itu mau mengajaknya pergi berlibur. Yes!—Akhirnya, setelah sekian lama ia bisa menikmati piknik keluarga seutuhnya lagi. Rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakan asyiknya bermain di luar rumah.Wah—betapa senangnya hari ini!
JongIn mengambil beberapa wadah, kemudian mengisinya dengan berbagai macam makanan—sekedar makanan riang dan makan siang. Setelah itu, dia memasukkan bekal makanan tersebut ke dalam tas. Mungkin bila ini berada di dunia kartun, saat ini di sekitar JongIn muncul efek bias-bias cahaya dan pancaran bintang. JongIn bangga dengan hasil persiapannya, seutuhnya berhasil tanpa menyebabkan kerusakan pada dapurnya lagi. Ia menyunggingkan senyum lebar, setidaknya mulai sekarang dia tidak perlu membeli makanan di luar kalau tidak terpaksa. JongIn segera mengambil air putih dan mengistirahatkan tubuhnya di hadapan LuHan. Dipandanginya anak semata wayangnya itu penuh sayang. Ingatan tentang peristiwa semalam, menyeruak di dalam benaknya. JongIn mengusak surai LuHan lembut, ia berjanji tidak akan membuat LuHan kehilangan senyuman itu.
Suara langkah kaki dari tangga menghentikan usapan JongIn, dia melirik seseorang dari balik tubuh LuHan sejenak, lalu kembali memfokuskan pandangannya pada LuHan. Tidak berniat membuka pembicaraan atau sekedar menegurnya. JongIn masih sedikit kesal, okay—tapi bukan berarti dia benar-benar membenci SeHun. Hanya—tidak tahu, rasanya diam adalah pilihan yang tepat saat ini. Mereka butuh waktu masing-masing.
LuHan menghentak turun tubuhnya dari kursi, meninggalkan japgwapyonya yang tinggal setengah di atas meja, kemudian berlari memeluk Papanya, "Apakah Papa sudah tidak sakit gigi?" SeHun memiringkan kepalanya, bingung mau menjawab apa. Setahunya, sejak kemarin ia tidak mengalami gangguan dengan giginya, kenapa—SeHun melihat JongIn dari ujung matanya, lantas menghela napas. Pasti JongIn yang mengatakannya. SeHun mengusap pipi LuHan yang semakin berisi, "Papa sudah sehat, Sayang. Terimakasih sudah mengkhawatirkan Papamu ini." Mendapat pujian itu, LuHan pun mengangguk antusias seraya mengeratkan pelukannya. Tapi, seolah tersadar akan sesuatu, LuHan memandang pakaian SeHun dari atas sampai ke bawah. Kedua alisnya menyatu, melihat penampilan SeHun yang belum 100% keren. Dia melepaskan pelukannya, "Kenapa Papa masih memakai pakaian tidur?"
"Eh?"
Anaknya itu mengamit tangan SeHun dan menariknya ke arah dapur, "Lihat, Papa! Semua makanannya sudah ditata. Appa juga sudah menyiapkan pakaian kita. Tapi, kenapa Papa masih bau? Papa tidak mau ikut?"Atensinya terpaku pada tas besar yang SeHun yakini berisi bekal makanan dan koper yang berada di samping meja makan. Koper itu ...adalah koper semalam, yang menjadi penyebab awal dirinya dan JongIn memilih untuk berpisah—atau entahlah, pemuda itu tidak mengatakan sesuatu selain tidur di depan tv. Pantas saja, JongIn bangun lebih awal dari biasanya. Jadi, mereka memutuskan untuk pergi sekarang juga? Secepat inikah? Tangannya menggenggam erat tangan LuHan. SeHun memandang sendu LuHan, ia tidak rela berpisah dengan anak semata wayangnya itu, "LuHan-ie memang mau pergi kemana?"
Kedua tangan anak itu terangkat ke atas, seraya tersenyum lebar, "Kita akan melihat rusa, dan bermain air! Yeay!" SeHun tersenyum kecil, diusapnya puncak kepala LuHan penuh sayang, lalu merengkuh tubuh LuHan lembut. LuHan pantas hidup bersama JongIn, karena dia bisa membuatnya merasa senang dan tertawa seperti ini. Dirinya akan lebih tenang, bila LuHan pergi dari hidupnya dengan perasaan bahagia—walau SeHun sendiri mengerti, anak itu gembira lantaran buaian-buaian JongIn yang akan membawanya berlibur. SeHun mengusap-usap punggung mungil LuHan, menghantarkan kehangatan dan kerinduan yang mendalam. Sampai kapanpun, ia tidak akan pernah melupakan LuHan. Sekalipun dia akan pergi dari kehidupannya bersama sang tambatan hati. "LuHan-ie, berjanjilah pada Papa. Jangan nakal saat berada di rumah barumu. Bantulah Appamu disaat dia membutuhkan bantuanmu. Belajarlah yang giat, dan hubungi Papa sekali atau dua kali, bila kau ada waktu. Papa selalu menyayangi dan merindukanmu, Sayang," tuturnya pelan diiringi napas pendek-pendek. Bagaimanapun juga, berpisah dengan orang yang kau cintai sekaligus buah hati yang selalu bisa membuat hidupmu lebih berarti, itu sangat sulit. SeHun sudah mencoba sekuat tenaga agar tangisannya tidak pecah—tidak di hadapan LuHan. Karena itu bisa membuat LuHan curiga dan bisa-bisa mengetahui hubungan kedua orang tuanya yang nyaris kandas lebih dini. Oh Tuhan, apakah ini pilihan yang tepat? Tidak bisakah ia hidup lebih lama bersama orang-orang yang disayanginya? Perasaannya seperti hancur berhamburan kemana-mana. SeHun memang keras kepala yang selalu menganggungkan dirinya sebagai seorang top, tapi itu bukan berarti ia tidak memiliki sisi lemah dan perasaan yang begitu kuat.
Pemuda mungil dalam dekapan SeHun itu tidak mengerti dengan perkataan yang Papanya ucapkan. Belum lagi, saat merasakan tubuh Papanya bergetar, ketika memeluk dirinya lebih kencang. Apa Papanya tidak bisa ikut berlibur kali ini? Mata LuHan bergerilya mencari sosok JongIn, meminta jawaban atas apa yang terjadi dengan ayahnya satu ini. Namun, sepertinya Appanya sudah lebih dulu menghampiri mereka berdua. JongIn mendesah, dirinya tidak menyangka SeHun benar-benar berpikiran sedangkal itu. Bagaimana bisa, ia pergi meninggalkan SeHun sendirian, di waktu terpuruk seperti ini. Bisa-bisa dia bunuh diri tanpa sepengetahuannya. Ditepuknya pundak SeHun pelan, membuat pemuda tersebut tersentak dan menetralkan napasnya secepat mungkin. Kepalanya menengok ke belakang dengan enggan, matanya menyorotkan keragu-raguan, "A-apa?"
"Lebih baik kau mengikuti saran LuHan. Kami akan menunggumu di dalam mobil," sahutnya datar. Bahkan, JongIn hanya melirik SeHun sekali dua kali. Lalu, setelah itu menarik koper dan membawa tas di tangan kanannya keluar dari rumah. SeHun menyunggingkan senyum tipis, menatap punggung lebar itu yang perlahan menghilang ditelan silau matahari. Dari hari ke hari sikap JongIn semakin dingin kepadanya. Well, itu adalah ide yang bagus. Saat mereka pergi nanti, setidaknya ia tak akan terbayang-bayang oleh ekspresi muram pemuda tan itu di rumah seluas ini sendirian—atau yang dulu sering ia panggil orang Afrika. Sejenak, SeHun menundukkan wajahnya, rindu akan momen-momen dimana mereka selalu bertengkar hebat mengenai masalah sepele (siapa yang bertugas mengurus LuHan hari ini), tapi tak lama kemudian ia mendongakkan wajahnya kembali dengan senyum yang lebih berwarna. Perpisahan memang tidak mengenakkan, tetapi itu bukan berarti mereka harus berpisah dengan cara yang buruk juga.
"Pa?"
"—Papa!" Gemas lantaran tak kunjung mendapat jawaban, LuHan mencubit kedua pipi Papanya kuat-kuat. Membuat si pemilik pipi meringis kesakitan, "Ya ampun, Sayang. Kau itu sudah punya 2 pipi yang empuk seperti ini. Jangan ambil punya Papa juga. Nanti pipimu mau jadi sebesar apa? Heum?" LuHan melipat kedua tangannya di depan dada, mulutnya mengerucut sebal. Ia paling tidak suka jika disangkut pautkan dengan badan gemuk/besar/gendut. Pipinya ini hadiah special dari baozinya, dan badannya itu langsing seperti model-model yang sering dilihatnya di majalah Appa , jangan pernah menyalahkan anggota tubuhnya, salahkan saja Appa dan Papanya yang selalu memanjanya dengan makanan manis-manis. 'Kan tugasnya cuman memakan apa yang sudah disediakan. SeHun terkekeh kecil, dia menempelkan tangannya di masing-masing pipi anaknya, lantas memutar-mutar pipi itu layaknya adonan. Setelah itu ia menekan kedua sudut bibir LuHan, menyerupai ikan lohan, "Sudah sana, temui Eommamu. Sebelum dia marah-marah tidak jelas. Papa harus bersiap-siap agar lebih tampan dan wangi. Beri Papa waktu 15 menit, okay!" Mata LuHan memicing tajam, menuntut SeHun agar meneruskan kalimatnya yang sengaja dipotong. Dia tahu, dibalik kata 'beri papa waktu' pasti terbesit sesuatu yang ini tawa SeHun meledak seutuhnya—Oh my-my! Anaknya itu semakin pintar rupanya.
"Okay, you win. Beri Papa waktu 15 menit, lebih dari itu 1 ice cream choco vanilla dan bubble tea rasa taro. Deal?" Andai saja LuHan menghirup balon berisi helium, sudah dipastikan dia akan tertawa kejam—sekejam-kejamnya tawa anak kecil yang berhasil memenangkan kelereng dalam sendok,"Deal!" Tangannya menjabat tangan SeHun, lalu bersenandung riang sembari keluar rumah. Liburannya luar biasa menyenangkan.
O-oh ...like father(s), like son.
—Sepertinya, LuHan mulai tertular sifat jahil kedua orang tuanya.
.
.
Tidak ada yang mengetahui tujuan liburan kali ini, terkecuali JongIn. Ia sengaja merahasiakannya dari LuHan maupun SeHun, walau sebenarnya dia sudah memberi clue yang cukup jelas pada sang anak. Mereka akan berkunjung di tempat yang penuh dengan air. Bukan kolam renang atau waterboom, tetapi pantai. Yup! Mereka bertiga akan berlibur di pantai selama beberapa hari. Sebenarnya, JongIn sudah merencanakan hal itu seminggu sebelumnya—atas saran YiXing hyung, namun sedikit terkendala dengan kejadian kelam yang seperti itulah. JongIn melirik LuHan yang tertidur pulas di kursi belakang dari kaca spion, lantas tersenyum lucu. Sepanjang perjalanan menuju villa, LuHan memang paling bersemangat. Mulai dari menyanyikan lagu kesukaannya, memakan ice cream dan bubble tea yang tiba-tiba saja SeHun belikan, sampai bermain game tebak-tebakan seputar plesetan yang sama sekali tidak dimengerti oleh SeHun ataupun JongIn. Sepertinya, jagoannya itu memang menikmati waktu-waktu kebersamaan mereka ini.
Jadwal sekolah yang kian padat, dan ujian masuk perguruan tinggi membuat mereka berdua jarang menemani LuHan di rumah atau sekedar membantunya mengerjakan tugas sekolah, sehingga mengharuskannya tinggal bersama orang lain selama beberapa jam. Terkadang, kalau mereka berdua pulang hingga pukul 9, LuHan akan ditemani oleh orang tua JongIn atau SeHun. Kemudian, saat mereka tiba di rumah, mereka akan menemukan orang tua mereka yang menceritakan, betapa sedih dan rindunya LuHan kepada orang tuanya. Maka dari itu, JongIn pun memutuskan untuk mengambil 'libur' sementara selama 5 hari demi pahlawan kecilnya tersebut. Walaupun, 5 hari itu bukan waktu yang singkat bagi dirinya yang duduk di tingkat akhir.
"Apakah kau lelah?" JongIn terkejut, ketika SeHun menanyainya seperti itu. Bukannya apa-apa, tapi dirinya benar-benar tidak sadar jika mobilnya sudah melewati garis, dan hampir berada di tengah lajur balik. "Aku bisa menggantikanmu, kalau kau memang butuh istirahat," sambungnya kemudian dengan nada yang seakan terdengar lega. Hanya orang gila yang tidak was-was menyadari posisi mobil mereka yang secara perlahan miring. JongIn mengambil napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Gila! Tadi sungguh-sungguh luar biasa menegangkan. Untung saja, jalanan yang ia tempuh tidak ramai—JongIn sengaja memilih rute yang panjang, tetapi santai dan tidak terkena macet—jadi, dirinya tidak perlu menangisi anggota keluarganya yang terluka.
"Aku baik-baik saja. Maaf telah membuatmu khawatir, dan ...terimakasih." SeHun mengangguk kecil, dia kembali menatap jendela luar dan melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda; mendengarkan lagu dari headsetnya. Seakan hal barusan tidak pernah terjadi pada mereka. Kemudian, mereka berdua terdiam lagi. Menyisakan suara dengkuran halus LuHan yang seakan-akan menjadi backsound hubungan mereka berdua. Terlalu datar dan monoton. Beberapa menit telah berlalu dengan saling berdiam diri, rupanya SeHun tidak betah juga. Dia melepas headset dari telinganya dan menengok LuHan di jok belakang, lalu mendesah. Kenapa LuHan belum bangun juga? Otaknya dan mulutnya gatal ingin bermain bersama anaknya itu. Apa yang harus ia lakukan untuk mengusir kebosanan ini?
Perlahan matanya melirik pemuda di sampingnya. Satu ide terlintas di benak setannya itu, dirinya teringat perkataannya beberapa waktu lalu, 'Perpisahan memang tidak mengenakkan, tetapi itu bukan berarti mereka harus berpisah dengan cara yang buruk juga.' Setidaknya, mereka berpisah dengan cara baik-baik dan di saat yang baik pula. Tidak perlu ada tangisan (lagi) dan sesal. So, ini saatnya ia membuktikan sebagai top yang kuat kepada JongIn.
"Dear?" Hampir saja JongIn menginjak remnya secara mendadak ketika SeHun mengatakan panggilan asing di saat hubungan mereka terombang-ambing seperti ini. Kepalanya menoleh ke samping sangat pelan, berharap jika dirinya salah dengar. Bagaimana bisa, SeHun yang memutuskan secara sepihak untuk berpisah tiba-tiba memanggilnya dengan nada dan kata-kata secheesy itu. Pasti dirinya sedang berhalusinasi. Sayangnya, SeHun yang didapatinya sekarang adalah SeHun yang selama ini dirinya kenal sebagai si keras kepala yang terobsesi dengan posisi seme.
Oh man!
Bolehkah seseorang menghentikan mobilnya di tengah jalan? Lantaran JongIn ingin mematikan mobilnya sekarang juga, akibat tingkah SeHun yang terlalu mudah berubah-ubah.Hell! Permainan macam apa yang SeHun mainkan sekarang? Seringai tercetak jelas di bibir tipis itu. Wajahnya mendekati sisi wajah JongIn dan berbisik seduktif di telinganya, "Wanna play with me?"
Apakah liburannya akan berubah menjadi malam pertamanya juga?
.
.
To Be Continued~
Chapter ini full family. Chapter besok full romance and family, kayaknya. Ditunggu aja. Btw, ini termasuk update yang cepat, loh! Wks.
Paragraf terakhir maaf kalau agak aneh, enggak sempet di edit. Udah keburu ngantuk.
THANKS TO: Reviewers, Readers, Favoriters, and Followers. BIG HUG FOR YOU GUYS! ({})
So, mind to review?
Regard,
-Arcoffire-Redhair-
