" ...Aku masih sehat dan bukanlah istrimu, yang seharusnya menjadi istri di sini yaitu kau."
Title: Trapped In Love
Rated: T
Character(s): Kim JongIn, Oh SeHun, and Xi LuHan.
Main Pair: Kim JongIn & Oh SeHun
Genre(s): Romance, Drama, Family, Hurt/Comfort, Friendship, Alternative Universal [AU].
Disclaimer: SMTown – EXO and the others belong to God and their parents.
Warning: TYPO(S), Typo(s) maybe, Hancur, Abal, T+ for some words, and etc.
.
.
"Woah ..."
Matanya yang semula masih jelas menampakkan aura kantuk, bersinar dalam sekejap. Pemuda mungil itu bergegas membuka pintu mobilnya dan berlari keluar dari pagar vila. Kedua netranya berbinar takjub akan pemandangan yang disuguhkan oleh Tuhan di hadapannya sekarang. Semburat keoranyean menyembul dari balik batas laut, air yang memantulkan kilau-kilau berlian, pasir pantai seputih kulitnya, daun pohon kelapa yang berayun-ayun, semuanya begitu tampak ...sempurna. Apalagi bila menyadari dirinya berada di tempat seindah ini bersama Appa dan Papanya—orang tua angkatnya yang akhir-akhir ini sering pulang larut malam, dan terlihat jauh lebih letih daripada hari-hari sebelumnya. Bahkan, sekarang untuk makan bersama di ruang keluargapun jarang, akibat keterlambatan kedua orang tuanya tersebut. Padahal biasanya mereka selalu makan bersama-sama seperti keluarga bahagia pada umumnya, walau terkadang Appa dan Papanya masih saja meributkan hal-hal kecil. Tapi, tetap saja ia merindukan masa-masa itu.
LuHan mengangkat kedua tangannya seraya memejamkan mata, ia menarik napas sedalam mungkin kemudian mengeluarkannya lewat mulut. Ya, karena saat ini kedua orang tuanya berada di sini, dan bersedia meluangkan waktu demi dirinya di sela kesibukan mereka, maka dia tidak boleh menyia-nyiakan quality time ini. Kedua ayahnya pasti sudah mengorbankan banyak pelajaran dan absen—yah, LuHan tahu jika Appa dan Papanya masih bersekolah, jadi apabila mengisi data diri orang tua, ia akan menulis pekerjaan mereka dengan pekerjaan harabeojinya. Itu sudah menjadi kesepakatan keluarga, termasuk siapa yang menjadi peran ibu dan ayah; walau saat rapat itu terjadi Appa, Papa, dan kedua halmeoninya (terutama ibu dari pihak SeHun) terlibat pembicaraan sengit.
Jadi, sebagai ucapan terima kasih sekaligus membalas kasih sayang para ayah tampannya, LuHan berjanji tidak akan menyusahkan mereka selama berada di sini. Bagaimanapun juga, liburan ini tidaklah menyenangkan apabila kedua ayahnya kecapaian. Ugh—apalagi vila yang mereka tempati ini lumayan besar. Di rumahnya saja yang tidak sebesar vila ini, ia sudah sangat kesepian. Bagaimana dengan di sini? Mungkin sekarang bisa sekaligus menjadi waktu yang tepat untuk menanyakan tentang kehadiran orang baru kepada orang tuanya. Kalau boleh, dia ingin mengajak temannya menginap selama beberapa hari ketika Appa dan sang Papa pulang terlalu malam. Sebagai kawan bermain, atau sekedar menggantikan posisi halmeoni dan harabeojinya. Habis, kakek dan neneknya sudah terlalu tua dan mudah lelah, sehingga tidak bisa menemani setiap gerakannya. Tetapi, kalau tidak diperbolehkan ya sudah. Dirinya hanya bisa berharap semoga kedua ayahnya peka dengan apa yang ia maksud.
Di antara pulang lebih awal—atau hadirnya adik kecil. Pasti dengan adanya seorang adik, hidupnya terasa sempurna. Dua ayah yang luar biasa baik dan tampan, serta seorang adik lucu pengembali semangatnya. Betapa indah mimpi-mimpinya itu, tetapi LuHan lagi-lagi tidak bisa berharap lebih karena ia sadar bila orang tuanya sedikit 'berbeda' daripada orang tua lain. Yah, halterakhir yang dapatdirinya lakukan hanya berdoa semoga ada orang yang mau memberinya seorang adik.
Well, walaupun itu sangatlah tidak mungkin.
Setelah merasa sudah cukup puas memandangi keindahan alam yang luar biasa tersebut, LuHan segera membalikkan badannya. Matanya memperhatikan kedua orang tuanya yang tengah mengeluarkan barang-barang dari dalam mobil. Senyum kecil tersungging di bibirnya, LuHan lantas berlari menghampiri Appanya yang berkutat meletakkan satu persatu barang dari bagasi. Jari-jari kecilnya bertautan menggenggam sebuah tali tas yang berisi makanan tadi pagi, "Appa, biarkan aku membawa tas ini, ya?" Matanya menyipit, menampilkan ekspresi terbaik yang dirinya biasa lakukan ketika menginginkan sesuatu. JongIn terkekeh, dia mencolek hidung LuHan pelan, "Baiklah, tapi itu terlalu berat untukmu, Sayang. Kau bisa terjatuh bila membawanya sendirian. Kalau kau ingin membantu, kau bisa membawa tas mainan pasirmu itu." LuHan beralih menatap tas kecil yang diletakkan di atas koper milik orang tuanya, kemudian dia mendengus kecil. Tas itu terlalu ringan untuknya, masak dirinya membawa tas sekecil itu? Seorang laki-laki sejati seharusnya kuat dan tidak pantang menyerah—itu yang dia dengar dari MinSeoknya.
Dengan langkah percaya diri yang seolah membantunya menjadi—seperti—pria sejati, LuHan berjalan menghampiri tas mainannya, lalu mengalungkannya di leher. Bibirnya tersenyum meremehkan, tas ini sama sekali tidak berat. Jadi, itu artinya dia sudah kuat seperti superman, 'kan? Sayup-sayup dalam imajinasinya terdengar soundtrack khas dari film superhero berkekuatan super itu, pakaiannya pun telah berubah menjadi biru dengan kain merah yang tergerai di balik punggungnya. LuHan terkikik pelan, dia menarik beberapa helai rambutnya sebelum dipuntir dan ditaruh pada dahinya. Kedua tangannya berada di pinggang, seolah-olah kehadirannya di sini menggantikan Clark Kent yang siap sedia menolong siapapun. Matanya bergerilya mencari sesuatu yang bisa dibawanya untuk memudahkan kedua orang tuanya.
TRING!
Fokusnya menajam pada satu titik di depan pintu vila yang sama sekali belum tersentuh. Ternyata, benda itu adalah tas besar yang tadi sempat mau dibawanya. LuHan mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian tangan kanannya ia rentangkan ke depan dan tangan kirinya tertekuk menyamping, "Jangan khawatir, Ayah. Aku akan membantu kalian."
SYUUT!
Layaknya pahlawan sungguhan yang bisa terbang, LuHan berlari secepat kilat ke arah tas tersebut, lalu mendongak menatap JongIn yang baru saja keluar dari dalam vila bersamaan dengannya, "Appa, lihat! Aku sudah menjadi superman!" JongIn memandangi penampilan 'baru' LuHan dari bawah ke atas, sambil menahan tawanya sekuat tenaga. Catatan besar; LuHan akan marah jika ada orang lain yang menjelekkan sesuatu dan itu berkaitan dengan tokoh idolanya. Tangan JongIn memegang rambut anaknya yang tersampir di depan, kemudian mengalihkan pandangannya pada tas mainan pasir yang tergantung di lehernya. Pft, sekarang dirinya tidak tahu harus berekspresi sedih atau bagaimana, sebab yang menata mainan itu adalah ia sendiri, jadi saat melihat mainan tersebut berjungkir balik, perasaannya sedikit sakit—baik, itu sangat berlebihan. JongIn segera berjongkok di depan LuHan dan mencubit pipi merona sang anak, "Di mana celana merahmu, Dear? Bukankah, seharusnya superman itu identik dengan celana merahnya?"
LuHan mengerutkan keningnya, mengingat-ingat sesuatu. Ah iya, seharusnya 'kan superman menggunakan celana dalam merahnya di luar, kenapa ia bisa lupa bagian penting itu? Yah, gagal sudah impiannya agar terlihat seperti tokoh superheronya itu. Tapi, rasa-rasanya tadi pagi dirinya mengingat sesuatu yang berhubungan dengan celana dalam merah—oh. Kedua tangan LuHan tiba-tiba saja memegang celena pendek yang dikenakan oleh JongIn, dia tersenyum lebar, "Appa, bolehkah aku pinjam milik Appa? Tadi pagi sewaktu kita mandi bersama, Appa memakai celana dalam merah, 'kan? Ayolah ..." Bagai terkena cambuk tak kasat mata, raut wajah JongIn berubah kaku. Alisnya terangkat satu dan pipinya perlahan memerah malu. Dia merutuk dirinya sendiri yang lupa jika memakai celana dalam berwarna merah. Dengan canggung, JongIn mengusap berulang kali puncak kepala LuHan, "Tapi, Appa rasa LuHan berpakaian jauh lebih baik daripada superman."
"Benarkah Appa? Wah, aku jauh lebih hebat daripada superman!" JongIn hanya mengangguk-anggukan kepalanya, sedikit bersyukur lantaran LuHan sudah teralihkan dari topik utama mereka. Ia menepuk kedua pundak kecil sang anak, memulai alur cerita baru yang mereka buat, "Apakah LuhanMan bisa membantuku? Sejak tadi tas makanan itu tidak tersentuh karena terlalu berat untuk kubawa sendiri. Sedangkan aku tinggal bersama istriku yang sakit-sakitan di rumah ini, kami juga sudah sangat kelaparan. Maukah kau membawa tas ini bersamaku ke dalam rumah?"
"Tidak perlu, Tuan. Aku bisa membawanya sendiri. Tuan hanya perlu berdiri di belakangku." Tunggu—kedua alis JongIn bertautan, antara bingung sekaligus takjub. Apa anaknya ini pernah bermain theater di sekolahnya? Bagaimana bisa dia berakting sepandai itu? Setahunya, LuHan juga tidak pernah menonton televisi jika bukan kartun kesukaannya. Well, mungkin bakat alami, setidaknya JongIn berharap begitu. Bukan karena faktor drama televisi yang dilihat ibunya saat menjaga LuHan secara diam-diam. "Benarkah? Kau yakin bisa membawanya sendirian, LuhanMan?" Penuh akan rasa percaya diri, LuHan melipat kedua tangannya di depan dada seraya tersenyum lebar, "Tenang saja, Tuan. Akan kutunjunkkan pada A—em ...maksudku Tuan,bagaimana kekuatan seorang LuhanMan!"
Sontak kedua tangannya yang semula terlipat, berpindah menggenggam erat tali tas tersebut. LuHan menarik napasnya pelan sebelum mengangkat tas itu dengan sekuat tenaga. Giginya bergemelutuk keras, pipinya yang sudah memerah semakin merah hingga ke ujung telinga. Ia menahan napasnya , berjalan pelan selangkah demi selangkah. Huh, tas ini hanya berisi makanan, kenapa rasanya berat sekali. Seusai mengeluarkan segala kekuatan laki-laki sejatinya, LuHan menurunkan kembali tas tersebut. Dia meraup napas sebanyak mungkin, kemudian melirik Appanya yang terkikik pelan. Bibirnya mengerucut tidak suka, "Ya! Appa berbohong. Appa bilang tas ini berisi makanan, tapi kenapa berat sekali?"
"Siapa bilang? Tadi 'kan Appa sudah mengatakan, kalau lebih baik kita membawanya bersama, Sayang," terang JongIn di sela kekehannya, membuat LuHan semakin mengacuhkannya dengan mata berkaca-kaca. Oh, LuHan akan sangat menggemaskan ketika sedang merajuk. Lantaran tak kuasa menahan tawanya lagi, JongIn tergelak hebat. Dia memegangi perutnya yang terasa kram, akibat terlalu lama menahan tawa. Tangan besarnya mengelus-elus rambut LuHan, mengungkapkan ucapan maaf secara tidak langsung pada sang anak yang sudah sesenggukan hebat , "Maafkan Appa, Sayang. Sungguh, tas itu memang berisi makanan. LuHan tahu sendiri 'kan, kalau kita tidak bermalam disini hanya sehari? Jadi, Appa berinisiatif untuk membawa makanan yang masih mentah juga. Sebagai persediaan, siapa tahu di sekitar vila ini tidak ada toko-toko. Lagipula, mana ada pahlawan yang menangis sehabis membawa benda berat sendirian? Tidak ada, 'kan? Jadi, ayo berhenti menangis."
Kalau saja JongIn sampai sekarang masih sendiri (tidak ada SeHun maupun LuHan), bisa jadi dirinya tak akan pernah merasakan bagaimana susahnya merayu anak kecil saat mereka tengah marah, atau rela membuang waktu bermainnya dengan cuma-cuma hanya demi membahagiakan sang jagoan kecil. Senyum tulus tercipta di bibirnya, JongIn bersyukur Tuhan masih mau memberinya kesempatan untuk menjadi orang tua dari LuHan—pemuda mungil yang telah menjadi bagian hidupnya, walau dia bukan anak kandungnya—dan membuatnya lebih memahami arti orang tua yang sesungguhnya. Dirinya bahkan rela meninggalkan raganya, bila itu demi sang anak. JongIn memeluk tubuh LuHan penuh sayang, ia menepuk-nepuk punggung bergetar itu sambil sesekali mengecupi pipi gembulnya , "Maafkan Appa, ne? Sudah, jangan menangis lagi. Nanti minipaonya tidak bisa mengembang." Well, lantaran pada dasarnya semua anak kecil itu sama, mereka selalu terdiam dan merasa luar biasa senang saat dihadapkan dengan sesuatu yang merupakan kesukaan mereka, LuHan langsung melepas pelukan sang ayah. Ia mengusap sebentar kedua mata sembabnya, lalu mengadahkan kedua tangannya. Seakan-akan apa yang baru saja terjadi hanyalah wacana belaka. Yah, sepintar-pintarnya LuHan dalam memahami situasi, dia tetaplah anak-anak yang masih membutuhkan perhatian—dan makan banyak, tentunya.
"Aku mau minipaonya, Appa." JongIn tertawa sebentar, lantas membuka tas makanan yang masih tergeletak di sampingnya. Dia melambai-lambaikan minipao tersebut di hadapan LuHan, membuat bocah itu tersenyum kembali dan menggelayut manja padanya, "Bolehkah, Appa? Boleh 'kan? Bolehlah."
Ugh—siapa yang tidak akan luluh dengan aegyo LuHan. Mata yang membulat besar berkaca-kaca, bibir mengerucut lucu, dan dua tangan mengadah menyerupai telapak kucing. Duh, mulai sekarang JongIn harus pintar-pintar melatih LuHan supaya tidak mengeluarkan aegyonya sembarangan kepada orang lain, "Tidak, sebelum kau mencium Appa terlebih dahulu." Tepat setelah JongIn mengucapkan itu, LuHan mencium pipi kanan sang ayah, lalu kembali menangkupkan kedua tangannya, "Sekarang boleh?" Anaknya ini benar-benar—kalau itu berhubungan dengan makanan pasti selalu maju paling depan. JongIn menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian memberikan minipao tersebut kepada LuHan. Ah, sebenarnya bukan lagi memberi, namun sudah direbut oleh pihak yang bersangkutan.
"Dasar, penghasut anak-anak," celetuk seseorang dari arah kamar, kepalanya menggeleng-geleng sok dramatis, mengagetkan ayah dan anak yang baru saja berbaikan itu. SeHun berjalan menghampiri JongIn dan LuHan di ruang tamu dekat pintu masuk, kemudian membungkukkan badannya menyamai tinggi LuHan. Dia mencubit pipi sang anak pelan, lantas mengusap kedua mata sembabnya pelan, "Seharusnya superhero itu tidak menangis saat mendapatkan rintangan yang berat dan berteriak senang apabila bertemu makanan. Nanti bisa-bisa LuHanMan terkena serangan musuh. Mengerti?" LuHan tersenyum kecil, dia menganggukkan kepalanya tanda mengerti, kemudian kembali berkutat dengan minipaonya. SeHun mendesah pelan, selalu saja kalah bila dirinya disandingkan dengan makanan. Mungkin lain kali ia akan mengajak LuHan berolahraga agar memperoleh badan yang bagus seperti miliknya. Like father(s) like son, huh.
"Nah, selepas ini kau harus menggosok gigimu, LuHan. Papa sudah menaruh pakaianmu di lemari dekat kasur, dan Papa juga sudah menyiapkanmu air hangat. Jadi, lekaslah mandi. Sebelum baumu seperti ayahmu yang satu itu."
What the—Kalau boleh mengumpat secara bebas, tetapi tidak terdengar oleh LuHan, sudah sedari tadi JongIn mengutuk SeHun. Demi apa, baru saja dirinya melihat kasih sayang yang tiada tara dari dua malaikat—ralat, satu malaikat dan satu malaikat palsu—di depannya, tiba-tiba momen itu berubah menjadi tusukan tepat di dadanya. Seharusnya SeHun belajar lebih banyak mengenai berbagai jenis parfum di dunia ini, sehingga bisa membedakan mana parfum berharga dan parfum yang ingin terlihat berharga. Padahal kan, niatnya memakai parfum ini karena ingin membuat SeHun dan LuHan terkesan, dan membuat mereka selalu ingin berada di , mau bagaimana lagi sepertinya usahanya kali ini gagal. JongIn memperhatikan LuHan yang begitu tenang dengan perkataan sang papa. Well, mungkin tidak sepenuhnya gagal. Setidaknya LuHan tidak peduli dengan omongan SeHun, karena dia lebih mementingkan makanannya, of course. Dasar, seharusnya dia sadar diri. Siapa yang penghasut, siapa yang pembawa kehangatan. Apalagi saat SeHun mengatakan hal itu, dia sama sekali tidak berekspresi. Duh, beruntung anaknya itu LuHan, coba saja jika anaknya bukan LuHan mungkin sudah sediri tadi anak itu mengompol melihat ekspresi super datar SeHun.
Ngomong-ngomong soal SeHun, seharusnya saat ini ia masih marah dengan sikap—sangat amat—labilnya. Ya, seumur hidup ia berteman dengan berbagai macam manusia di dunia ini,SeHun adalah pria satu-satunya yang memiliki tingkat kelabilan paling tinggi di antara yang lainnya. Bagaimana tidak? Semalam mereka mengalami permasalahan yang begitu hebat, bisa dikatakan pertengkaran sesungguhnya yang pertama kali mereka lakukan, lalu tadi di perjalanan dia merayunya secara tiba-tiba, dan sekarang ia kembali ke mode menyebalkan seperti saat pertama kali mereka tinggal satu atap. Sial! Rasanya JongIn ingin mencekik orang itu, lantas membawanya pada klinik psikolog terdekat. Perilakunya yang suka berubah-ubah itu sudah tidak bisa ditolerir.
He is unpredictable—seriously, dan itu sangat merugikannya. Padahal setahunya, SeHun itu tidak berzodiak gemini. Bukan pula pemilik dua kepribadian. Dia hanyalah manusia normal sama sepertinya—seharusnya, tetapi memiliki banyak mood.
Terkadang, dirinya merasa jatuh pada pesona SeHun, benar-benar terjatuh akan sikapnya dan kesempurnaan wajahnya yang—menurutnya—tiada duanya. Seperti ketika secara mendadak SeHun menanyakan tentang dirinya yang membutuhkan hiburan atau tidak, sambil mengusap-usap pahanya sembari tersenyum manis. Tapi, diwaktu selanjutnya JongIn begitu frustasi, karena SeHun akan menjadi 'si keras kepala dengan ego yang tinggi', tak lama setelah dia menjadi sosok SeHun yang memabukkan. Sungguh, ketika SeHun menjadi si kepala batu, JongIn tidak dapat berbuat apa-apa selain beradu mulut dengannya. Dia itu selalu menjunjung tinggi harga dirinya, okay tidak sepenuhnya, tapi tetap saja SeHun merupakan pihak pertama yang salah dalam hubungan mereka. Coba saja, waktu itu dia mengatakan 'aku mencintaimu' tanpa akhiran 'surat cerai'. Mungkin, sampai sekarang mereka tetap menjalin hubungan layaknya keluarga yang selama ini mereka impikan. Tanpa repot-repot mengeluarkan isakan pilu dari masing-masing pihak dan kecanggungan ketika mereka berdua berada di ruangan yang sama tanpa melakukan apapun.
Tetapi, walaupun dirinya menginginkan mereka bertiga menjadi keluarga yang harmonis seperti keluarga pada umumnya, JongIn tidak bisa memungkiri kalau dirinya kaget dengan pernyataan SeHun semalam. Tentang perasaannya—yang entah sejak kapan tumbuh—terhadap dirinya, hingga membuatnya terjaga cukup lama.
Aku mencintaimu, JongIn.
JongIn mengaku, bila semalam pikirannya tidak bisa lepas dari SeHun. Sekalipun matanya terpejam, tetapi dirinya merasa bila jiwanya seakan bersama pemuda itu, mengecup pelipisnya dan memeluk punggungnya yang bergetar. Sepenggal demi sepenggal memori kebersamaan mereka berputar begitu saja dalam otaknya. Ia sadar, alasan mengapa tidurnya tidak nyenyak adalah kegundahan dalam hatinya, karena sejujurnya ia tidak rela meninggalkan pemuda itu sendirian di dalam kamar. Menangisi kepahitan kisah asmaranya tanpa dukungan orang lain dan mungkin merasa putus asa atas hubungan mereka. Oh, tidak—SeHun tidak boleh putus asa dengan keluarganya. Dia harus percaya, bila mereka bisa membangun kembali hubungan sepasang suami (suami-istri) dari awal, tanpa adanya konflik batin yang berkepanjangan. Tapi, bagaimana SeHun bisa memikirkan itu jika saja JongIn justru lebih memilih tertidur di depan televisi. Seharusnya 'kan dia tadi menampar SeHun, lalu mendekap tubuh itu, dan membalas pernyataannya,
—aku juga mencintaimu, SeHun.
Namun, apa boleh buat. Perasaannya sedang tidak stabil, emosinya tersulut dengan perkataan SeHun yang sebelumnya, sehingga membuat pikirannya terkoyak dan lebih memilih mengikuti ego-nya daripada bergabung dengan pemuda itu. Hah, nyatanya ia tidak jauh lebih pintar dari SeHun. Sekarang yang dia harapkan hanya ketersediaan SeHun agar kembali berbicara mengenai hubungan mereka berdua dan keluarga mereka.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Berharap aku batuk-batuk dan terbaring lemah di atas kasur?" JongIn mengernyitkan dahinya, kenapa lagi dengan zombie satu ini, "Tapi, maaf saja Tuan JongIn yang terhormat. Aku masih sehat dan bukanlah istrimu, yang seharusnya menjadi istri di sini yaitu kau."
Oh, rupanya dia mendengar drama abal-abalan tadi.
Bibir SeHun menyunggingkan seringai, ketika melihat JongIn yang tampak bodoh di depannya. Tch, memangnya dia sedungu itu hingga tidak mendengar percakapan aneh mereka. Ia bahkan tadi sempat menertawakan suara JongIn yang berubah seperti kakek-kakek, demi mendalami ceritanya—kemudian mengutuknya karena sudah mengatainya sakit-sakitan, Sialan!
Tetapi ...bukan itu yang membuatnya betah berada di dalam kamar tanpa menampakkan batang hidungnya. Justru, alasan mengapa sedari tadi ia tidak keluar, lantaran ingin mendengar sesuatu yang mungkin saja tidak pernah JongIn atau LuHan ungkapkan kepadanya. Perlahan seringai di bibirnya memudar, tiba-tiba saja peristiwa semalam kembali berputar di benaknya. SeHun menundukkan wajahnya sejenak, sebelum menggendong LuHan yang masih mencomot kecil-kecil minipao itu. Ia tidak ingin munafik dengan mengatakan jika perasaannya kepada sosok di depannya telah memudar. Tetapi, sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk merenungi kejadian semalam. Semuanya sudah terlanjur dan kemungkinan besar tidak ada jalan kembali lagi. Maka dari itu, ia ingin membuat hari ini penuh akan momen mereka bertiga, sebelum pergi entah kemana.
SeHun menepuk pantat LuHan pelan, "Sekarang saatnya mandi, Jagoan kecil. Biarkan eommamu itu sibuk menata makanannya dan kita bersenang-senang di kamar mandi." Mendengar itu, JongIn sontak merengut tidak suka. Hell, dia bukan ibu-ibu rumah tangga yang selalu bertugas di dalam dapur dan membersihkan setiap tempat. Hari ini, dia terpaksa memasak karena SeHun memang sangat payah dalam hal ini, dan yah ia yakin dia tidak akan memasak pagi ini setelah percakapan hebat semalam. "T-tunggu dulu! Itu tidak bisa, seharusnya saat ini kau yang mengurusi dapur lantaran aku sudah memasak untuk perjalanan kita tadi pagi. Sebelumnya kita sudah menyepakati itu, SeHun. Jangan berpura-pura seakan kau lupa." Masih dengan menggendong LuHan yang cukup berat, SeHun terkekeh pelan. Ia menghampiri JongIn, mengusap lembut rambut poninya ke belakang lalu tersenyum manis, semanis dirinya bisa, "Tentunya kau tidak ingin 'kan, dapur vila ini hancur hanya karena aku salah menyatukan bumbu? Jadi, lebih baik kau saja yang mengurus bagian masak-memasak. Kecuali, bila kedua orang tua kita datang. Ok, Sayang?"
JongIn hampir saja menjatuhkan rahangnya, jika SeHun tidak menciumnya setelah itu. Hanya lumatan kecil, sebelum mengerling kepadanya dan meninggalkannya sambil tertawa keras. Okay, SeHun yang labil itu bukanlah yang terbaik. Jantungnya berdetak keras dan telinganya memanas. JongIn menyematkan senyum kecil, menatap punggung SeHun dan ekspresi LuHan yang mengunyah minipaonya sembari tersenyum-senyum malu. Jari telunjuk di kedua tangannya bertubrukkan beberapa kali—menggoda JongIn—sebelum melesak ke dalam tengkuk SeHun. Hah, baru kali ini dirinya benar-benar malu berhadapan dengan LuHan, anaknya sendiri. Yeah, tapi setidaknya SeHun mencoba untuk berdamai dengannya dan itu pertanda baik.
Ia masih memiliki harapan dalam pernikahan mereka.
.
[ Recommended: Mendengarkan James Bay - Let It Go / Paramore - Hate to See Your Heartbreak / Anything with deep meaning di bagian akhir. ]
.
.
Hari pertama berada di vila ini tidak terlalu banyak aktivitas yang mereka bertiga lakukan. Selepas mereka membersihkan diri dan makan malam bersama, SeHun dan LuHan memutuskan untuk bermain monopoly, sedangkan JongIn memilih menonton televisi di ruang keluarga. Tangannya sedari tadi memencet-mencet tombol remote dengan asal-asalan. Tidak ada satupun acara televisi yang menarik di hatinya, karena hampir semua channel menampilkan acara musik yang mendayu-dayu. Padahal 'kan saat ini suasana hatinya sedang baik-baik saja. Well, mungkin televisi itu tengah mengejeknya lantaran dulu dirinya sempat pernah bermimpi ingin menjadi penyanyi. JongIn meletakkan remot itu begitu saja ke samping tubuhnya, lantas terbaring di atas sofa seraya memperhatikan SeHun dan LuHan di bawah yang tertawa senang.
"Satu, dua, tiga, empat, lim—a," senyum di bibir LuHan memudar seketika. Dia mengerutkan dahinya kesal, kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada. SeHun tergelak hebat, kala melihat ekspresi masam LuHan yang kembali harus membayar sang Papa, lantaran berhenti di daerah kekuasaannya. Dengan hati-hati SeHun menyodorkan beberapa lembar uang mainannya kepada sang anak, sembari mengelus pelan surai LuHan, "Ini, buat LuHanie saja. Papa tidak memerlukannya." Bukannya diterima dengan senang hati, LuHan malah mendengus sebal dan menampik tangan itu. Menyebabkan uang mainan di tangan SeHun itu berhamburan kemana-mana. "LuHan!" SeHun reflek meninggikan suaranya, dia menatap LuHan dalam. Membuat LuHan terkejut dan menahan tangisnya. Maklum saja, mereka berdua tidak pernah memarahi LuHan sebelumnya, jadi wajar bila LuHan kaget dengan suara tinggi SeHun barusan. JongIn dengan tanggap segera beranjak dari tempatnya, dia lalu menggendong tubuh mungil itu ke dalam dekapannya dan menepuk-nepuk punggungnya. Matanya melirik SeHun yang masih terduduk di bawah sana dengan raut pias. SeHun mengusap wajahnya kasar, tidak—tidak, malam ini dia tidak boleh menyakiti LuHan-nya. Tidak, ia akan menyesali perbuatannya sendiri selama seumur hidup jika hari-hari terakhirnya bersama LuHan harus hancur seperti ini. Dengan sendu, SeHun lantas bangkit dan mencium pipi LuHan yang basah secara berulang-ulang.
"Maafkan Papa, Sayang. Papa tidak bermaksud memarahi LuHan. Maaf ya, Sayang. Papa janji tidak akan melakukannya lagi," ucapnya di sela kecupannya yang tak kunjung reda. Sungguh, tadi dia kelepasan membentak LuHan karena anak itu tidak pernah memukul tangannya sekeras itu. Sekalipun ia pernah memarahi LuHan, nada suaranya tidak setinggi itu. SeHun mengusap rambut LuHan sayang, lalu kembali mencium pipinya dalam. Setelah itu menatap JongIn yang masih memeluk LuHan penuh akan mohonan, "JongIn, biarkan aku yang membawa LuHan ke dalam kamarnya." JongIn menganggukkan kepalanya, dia mengecup pelipis LuHan sebentar, kemudian memberikannya kepada SeHun. LuHan menggeliat gelisah saat JongIn mengangkatnya dari pinggangnya. Kedua tangan LuHan memeluk leher JongIn erat-erat, tak ingin melepaskannya barang sedetikpun. Malam ini dia tidak ingin tidur bersama ayahnya yang satu itu. Helaan napas keluar dari mulut SeHun, merasa kecewa atas dirinya sendiri yang tidak dapat mengontrol pekikan suaranya. Sekarang, hilang sudah kesempatannya bersenang-senang bersama LuHan. Kepalanya menunduk ke bawah, dia menyuruh JongIn agar membawa LuHan ke dalam kamar. Sedangkan dirinya memasukkan mainan itu kembali ke dalam tempatnya tanpa berniat menengok keberadaan JongIn dan LuHan di dalam kamar.
Setetes cairan bening terjatuh begitu saja ke tangannya yang tengah membereskan uang-uangan itu. Ia memang membenci tangisan, tapi kali ini dirinya benar-benar berharap tangisan dapat menenangkannya. Seberapa jatuh dan tersiksanya ia saat bercerai dengan JongIn nanti, hal yang paling membuatnya sakit adalah saat-saat berpisah dengan LuHan. Namun, kenapa harus sekarang dia menyakiti perasaan mungil sang anak. Kenapa saat ini? Kenapa di saat dirinya dengan LuHan tidak banyak memiliki waktu bersama untuk bersenang-senang? Seseorang memeluknya dari arah belakang, menghentikan tangisannya sesaat, "LuHan hanya mengantuk, SeHun. Dia memang seperti itu bila sedang mengantuk. Percayalah, dia tidak ingin menyakitimu." Suara itu begitu tenang dan mungkin akan sangat dirindukannya kelak. SeHun mengusap tangan JongIn yang berada di perutnya, "Berjanjilah JongIn, kau tidak akan memarahinya sekalipun dia akan semakin nakal di kemudian hari." JongIn mengernyitkan keningnya, dia melepas SeHun dari pelukannya dan membalikan badan itu. Dipandanginya SeHun dengan sorot tegas, "SeHun, apa yang kau pikirkan? Jangan katakan kau membahas surat cerai itu lagi!"
Hening, tak ada jawaban yang terucap dari bibir tipis itu, karena semua memang benar adanya. Lagipula, tidak ada yang harus ditutup-tutupi lagi. Dia mencintai JongIn, tapi JongIn tidak menginginkan hubungan ini. Lalu, untuk apa dirinya bertahan sendirian? Demi mengemis cinta pada pemuda itu? Lebih baik dia menjadi playboy seumur hidup daripada terlihat semenyedihkan itu. "Memang apa yang kau inginkan? Aku tidak sebodoh itu memintamu untuk membalas perasaan sebelahku ini." JongIn menggeram marah, dia mendorong keras tubuh SeHun hingga terbaring di atas karpet. Kedua tangannya memenjarakan pemuda itu, kemudian mengepalkan salah satu tangannya dan memukul karpet tepat di samping kepala SeHun.
"Jangan gila, Oh SeHun! Kau pikir, selama ini apa yang kulakukan padamu hanya sebatas menyenangkan orang tua kita! Berpikir dewasalah!" Senyum miring terukir di paras SeHun, dia memalingkan wajahnya ke samping. Menolak untuk membalas sorot tajam JongIn di atasnya. Tangis yang semula masih mengalir di kedua irisnya menghilang, "Awalnya, kupikir dengan menyetujui hubungan ini kita berdua dapat membalaskan dendam masing-masing dan membuat salah satu dari kita akhirnya menyerah. Namun, setelah beberapa bulan berlalu, yang kulakukan justru sebaliknya. Aku mengingkari janjiku sendiri yang mengatakan tidak akan pernah mempertahankan hubungan ini. Aku mendustai diriku di masa lalu, dengan mengatakan akan selalu membenci pemuda dihadapanku. Aku melupakan seluruh penyataanku beserta seluruh sumpah serapah lainnya terhadap pemuda itu. Aku—jatuh cinta padanya. Sayangnya, karma telah menanti, huh. Mereka membalasku, menyadarkanku kembali jika orang yang telah kusukai lebih memilih bersama orang lain ..." JongIn terdiam di tempatnya, dia tidak tahu sekarang harus mengatakan apa dan melakukan apa. SeHun yang selama ini dirinya kenal, rupanya jauh lebih tersakiti daripada dirinya. SeHun yang selama ini terlihat angkuh, menyebalkan, egois, pengincar top sejati, memiliki sisi lemah yang secara tidak sadar disebabkan oleh dirinya. Tangan yang sebelumnya terkepal, meraih pipi SeHun dengan takut-takut, "Se-Hun, maafkan aku. Aku tidak—"
"JongIn, aku mencintaimu, dan aku ingin kau tidak menyakiti LuHan maupun kekasihmu lagi. Hiduplah dengan bahagia, karena kalian memang pant—" SeHun menatap kosong JongIn yang menciumnya dalam. Lalu, tiba-tiba saja ia merasakan setitik air mata yang terjatuh di pipinya. Apa JongIn menangis? Tapi, untuk apa? Perlahan detak jantungnya berpacu cepat. Perasaannya menjadi takut, bimbang, dan entah mengapa terdapat rasa senang di dalamnya. SeHun menelisik ke balik surai poni JongIn yang terjatuh. Kedua matanya terpejam erat, seakan-akan tak ingin air matanya jatuh membasahi dirinya. Kenapa—kenapa dia sepeduli itu?
JongIn melepaskan tautan bibir mereka. Matanya terbuka perlahan, menyusuri mata SeHun yang terlihat berkilau. Kalau kemarin dia melarikan diri dan membiarkan SeHun menangis sendirian, maka kali ini dirinya akan ikut menangis bersama pemuda itu. Karena SeHun tidak pantas merelakan kebahagiaannya demi dirinya yang bodoh ini. Dia berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri. Tentu, lantaran kebahagiaan SeHun jauh lebih berarti dan lebih indah daripada dirinya. Lagipula, mana mungkin JongIn tega memisahkan SeHun dan LuHan yang saling menyayangi. Biarlah kali ini mereka berdua merasakan pahit manisnya kehidupan rumah tangga mereka bersama-sama. Biarkan lima hari ini berjalan sempurna, layaknya mereka adalah pasangan baru. Karena mulai detik ini dan seterusnya, JongIn berjanji tidak akan melarikan diri lagi.
Perlahan, JongIn kembali mendekatkan bibirnya ke arah SeHun. Ia memangut bibir merah muda itu penuh perasaan. Menyesapi setiap jengkal rasa manis dan juga asin sisa air mata yang tertinggal di sana. Mengulum bibir atas dan bawah secara bergantian, dan membiarkan lidahnya ikut andil dalam permainan mereka. SeHun memejamkan matanya, tangannya bergerak meremat kerah baju JongIn. Bukannya ia lemah dalam berciuman, dia juga sering melakukan itu dengan mantan-mantan kekasihnya terdahulu. Hanya saja, ciuman ini terasa berbeda. Seakan-akan seluruh jiwanya ikut terhanyut akan rasa hangat yang JongIn berikan kepada tubuhnya.
Apakah ini benar?
"SeHun—hh, izinkan aku mengatakannya sekali saja." Kedua mata SeHun terbuka, ketika JongIn mengangkat dagunya ke atas. Ia membalas tatapan iris kelam itu, mencari tahu apa yang ingin JongIn beritahu kepadanya. Banyak spekulasi yang berputar disekitar otaknya. Apa dia takut terhadap orang tuanya?
"Aku tak bisa berpaling darimu. Karena aku sudah berjanji pada pernikahan kita. Aku—hh—Kim JongIn mencintaimu hingga maut memisahkan, Oh SeHun."
.
.
To Be Continued...
Maaf, berapa lama saya vakum? Berbulan-bulan ya? Hahaha, sebenernya mau update sebulan yang lalu, tapi ternyata ada liburan ke luar pulau, makanya di tunda dulu sampai sekarang. Ini pun ngerjainnya di sela ujian. By the way, alasan ngenunda fanfic ini buat update juga karena review sih, kadang sedih aja kalo ngelihat yang review semakin menurun. Bukannya menentukan target, tapi lebih ke "melihat antusiasme para readers", jadi alasan sepersekian menunda fanfic karena review juga.
Thank's a lot for my Favoriters, Followers, Readers, and Reviewers.
A/N: Fanfic ini tinggal beberapa chapter anyway. Sekitar 3 atatu 4-an chapter lagi, lah.
Mind to Review this chapter?
Regard,
-Arcoffire-Redhair-
