Chapter 2 : I Not Remember You.
Disclaimers : BoBoiBoy ©
Animonsta Studio.
Story milik
©'Chocolate Vanilla27.'
Collab With
© 'IrenaChan 1012 .'
Genre : Drama,
Hurt/Comfort.
Rated : T
Pairing : BBB x Yaya.
Warning : Typo bertebaran,
OOC, EBI tidak sesuai, Dll.
Ada beberapa perubahan dichapter 1, diharapkan untuk membaca chapter 1 terlebih dahulu karna akan berpengaruh dengan alur story ff ini.
Maaf sebelumnya apabila ada kesamaan cerita, alur, plot, tokoh dll. Semuanya murni karna ketidak sengajaan sama sekali tidak bermaksud plagiat/meniru.
Chapter 2 ~ Meet new brother.
.
.
.
.
.
Dengan kesal Anna melangkahkan kakinya keluar cafe. Anna menunggu datangnya taksi diluar gedung cafe tak lama tibalah sebuah taksi yang sedang melintas berhenti tepat didepannya.
'Kalau begini jadinya apa yang harus ku lakukan? Masa aku harus menyerahkan Boboiboy kepadanya? Biar bagaimanapun dia sudah seperti adikku sendiri, mana mungkin aku bisa menyerahkannya begitu saja. Ah, aku pusing memikirkannya.' Batin Anna bertanya-tanya pada dirinya sendiri, Anna benar-benar bingung apa yang harus ia lakukan nanti. Jujur Anna merasa prihatin dengan adik sahabatnya, tapi disisi lain Anna juga tidak bisa menyerahkan Boboiboy begitu saja.
"Maaf mba sekarang kita sudah sampai," suara supir taksi menyadarkan Anna dari lamunannya. Anna menoleh dan menatap lawan bicaranya.
"Ah, iyaa pak terimakasih" Anna segera memberikan beberapa lembar uang kepada supir taksi tersebut, lalu segera beranjak keluar dari dalam taksi.
Kini Anna pun telah sampai di panti ia segera mencari kakaknya, tujuannya saat ini hanyalah mencari sang kakak. Karna hanya kakaknya lah yang Anna percaya, bisa memberikan keputusan yang tepat untuknya.
Namun setelah berkeliling ke sekitar halaman panti Anna tidak kunjung menemukan tanda-tanda keberadaan sang kakak.
"Amy apa kamu melihat kak Hanna?" Tanya Anna saat berpapasan dengan Amy.
"Kak Hanna sedang pergi keluar dengan pak Yah kak." Amy memberitahu apa yang ia ketahui.
"Keluar? Kemana?"
Oh, bagus disaat-saat seperti ini ternyata kakaknya malah sedang tidak berada di panti.
Apakah ini adalah jawaban bahwa Anna memang harus menyerahkan Boboiboy kepada sahabatnya.
Tidak, bukan Anna namanya jika menyerah begitu saja, sebelum mendengarkan keputusan kakaknya.
"Maaf kak, tapi aku tidak tahu aku hanya melihatnya keluar tadi." Terang Amy dengan wajah serius.
Anna menghela nafas saat mendengar penjelasan Amy.
"Lalu kemana semua anak-anak, kenapa kelihatannya sepi sekali," Anna menatap sekeliling ruangan panti yang sepi tidak seperti biasanya yang selalu ramai.
"Anak-anak sudah pada tidur kak, apa ada yang mau kakak tanyakan lagi? kalau tidak ada aku pamit ya kak, mau merapihkan pakaian ini." Ujar Amy matanya melirik sekeranjang pakaian yang sedang dibawanya. Anna mengangguk sebagai respon, dapat ia lihat sosok Amy yang sekarang sudah mulai menjauh dan menghilang di belokan ruangan.
~Chocolate Vanilla27~
Sementara itu disebuah ruangan bercat putih, seorang wanita berhijab biru sedang menyandarkan dirinya dikursi kerjanya. Iris karamelnya menatap beberapa kalimat yang tercetak rapih diatas kertas putih.
'Jadi Pak Yah mau mengadopsi Yaya untuk menjadi anaknya, lalu bagaimana dengan Boboiboy. Aku bahkan tidak tega melihat mereka berpisah.' Batin Hanna saat membaca berkas-berkas tentang adik asuhnya.
Tok ,tok, tok.
Sejenak Hanna menghentikan kegiatan membacanya, tertarik untuk mendengarkan ucapan dari balik pintu.
"Maaf kak Hanna, tadi kak Anna mencari kakak sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan," kata Amy dengan sopan seraya mengetuk pintu ruang kerja Hanna.
"Iyaa, trimaksh Amy." Balas Hanna dan segera merapihkan berkas-berkas tersebut.
Hanna penasaran, apa yang akan Anna sampaikan kepadanya. Mengapa Amy mengatakannya seperti itu adalah hal yang sangat penting.
Hanna mencari adiknya di sekitar ruangan panti, namun ia belum menemukan Anna sampai akhirnya Hanna melihat satu kamar dengan pintu yang sedikit terbuka. Hanna yakin pasti adikknya berada di dalam sana. Mengingat kamar itu merupakan kamar adik kesayangannya.
Krieettt
Dengan perlahan Hanna membuka lebar pintu kamar yang sudah sedikit terbuka. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah sosok Anna yang sedang duduk ditepi kasur membelakanginya.
"Anna ada apa? Kenapa kau menangis?" Dapat Hanna dengar isakan pelan dari gadis didepannya.
"Kak Hanna, ah tidak apa kak aku hanya sedih saja." Anna menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya.
"Maksudmu? Sedih karena apa?" Hanna benar-benar tidak mengerti apa maksud dari ucapan Anna.
"Kita bicarakan diluar saja kak." Anna tidak ingin menganggu tidur adiknya karna mendengar perbicaraannya dengan sang kakak. Berbeda dengan Hanna yang memandang Anna dengan tatapan penuh keheranan dan tanda tanya sebenarnya apa yang terjadi selama ia pergi tadi, kenapa Anna terlihat sangat sedih seperti ini.
Hanna memilih untuk tidak berkomentar dan mengikuti keinginan Anna.
Disinilah mereka sekarang, di halaman belakang panti, ditemani dengan secangkir teh hangat dan cahaya sinar bulan dimalam hari.
Anna menceritakan semua masalah yang sedari tadi memenuhi pikirannya.
"Dia ingin mengadopsi Boboiboy untuk dijadikan adik sebagai teman untuk adiknya yang kesepian. Mana mungkin aku bisa menyerahkannya begitu saja. Boboiboy sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, aku bahkan sudah berjanji dengan ibunya untuk merawatnya dengan baik kak. Aku sangat-sangat bingung apa yang harus ku lakukan?" Jelas dan tanya Anna, tak lupa Anna juga meminta pendapat kepada kakaknya.
'Aku harap kak Hanna tidak akan menyerahkannya, bukan maksudku untuk egois, tetapi aku sudah berjanji untuk merawatnya dengan baik.' Anna berharap dalam hati.
Sayangnya harapanmu tidak terwujud, Anna.
Hanna memandang lurus ke atas langit yang berhiaskan beribu bintang. Sebelum mengatakannya kepada Anna, Hanna menyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusan yang ia pilih tidak akan salah nantinya.
Sebagai kakak yang baik, Hanna harus memberikan keputusan yang terbaik juga, bukan?
"Yang harus kita lakukan saat ini adalah menyerahkan Boboiboy kepada sahabatmu." Anna tersentak mendengar keputusan kakaknya, tidak pernah terlintas dipikirannya bahwa Hanna akan mengatakan hal itu.
Anna menatap kakaknya dengan tatapan tidak percaya.
"Tapi kak, kenapa harus menyerahkannya? Bagaimana dengan janjiku, bagaimana dengan Yaya apa kakak tega memisahkan persahabatan mereka?" Anna melontarkan berbagai pertanyaan kepada Hanna.
Jujur Anna belum bisa menerima keputusan yang Hanna berikan.
"Sudahku duga cepat atau lambat semua ini akan terjadi, kau tau Anna Tuhan memberikan semua ini kepada kita hanya untuk sementara. Terlalu egois jika kita menahan mereka seperti ini, kamu tidak perlu takut dengan janjimu. Selama ini kau sudah merawatnya dengan baik mungkin sudah waktunya bagi orang lain untuk merawat mereka." Hanna sengaja menjeda ucapannya.
"Aku tidak akan pernah tega untuk memisahkan mereka, tapi jika sudah seharusnya mereka berpisah, aku bisa apa? Kita tidak bisa untuk menahan apa yang bukan milik kita Anna, perlu kau ingat Tuhan memang menitipkan mereka (baca:anak-anak panti) kepada kita tapi bukan berarti mereka semua milik kita. Relakan saja Anna ini semua juga demi kebaikan Boboiboy dan sahabatmu, aku yakin kehidupannya pasti akan terjamin jika bersama sahabatmu. Lagi pula kau bisa sering-sering berkunjung ke rumahnya, bukan berarti kamu tidak bisa bertemu lagi dengannya." Hanna mengakhiri nasihatnya ia menatap lembut kedua manik yang serupa dengannya lalu tersenyum hangat kepada Anna berharap agar adikknya itu bisa mengerti dan tidak membencinya.
Anna tertegun dengan nasihat Hanna yang menurutnya benar dan bijak Anna sadar ia memang terlalu egois sampai-sampai menahan apa yang bukan miliknya.
Senyum manis menghiasi wajah Anna yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan.
"Kakak benar, terimakasih telah menyadarkanku kak tidak seharusnya aku seperti ini bahkan aku hampir saja menentang apa yang sudah seharusnya terjadi." Anna memeluk erat kakaknya. Hanna membalas pelukan Anna, ia tersenyum lebar meski ia tahu adiknya tidak bisa melihat senyumannya.
"Kau tahu Anna bahwa Pak Yah juga akan mengadopsi Yaya sebagai anaknya."
"Benarkah? Kenapa kita bisa mengalami hal yang sama seperti ini?" Ujar Anna bertanya antusias lalu mulai menyesap teh hangat yang sedari tadi tersedia didepannya.
"Entahlah aku juga tidak mengerti, oh yaa aku sudah menyiapkan berkas-berkas penting tentang Boboiboy. Nanti kau ambil saja di meja ruang kerjaku." Ucap sang wanita berhijab biru yang ikut menyesap tehnya.
Anna hampir saja tersedak minumannya kalau ia tidak segera menelannya.
"Darimana kakak tau? Aku kan baru memberitahunya sekarang."
"Tadi Kaizo menelponku, dia bilang bahwa aku harus menyiapkan data-data penting tentang Boboiboy. Aku tidak tahu apa maksud dia menyuruhku untuk menyiapkan data-data itu, ternyata dia mau mengadopsinya." Terang Hanna mengatakan yang sebenarnya terjadi.
Kaizo adalah pemuda yang Anna temui di cafe tadi, yang merupakan sahabat Anna.
Anna hanya memutar matanya malas,
"Pasti dia mengira aku tidak akan menyampaikannya kepada kakak." Anna sudah bisa menebak sifat sahabatnya itu.
"Positive thinking saja mungkin ia takut kau lupa memberitahuku." Kata Hanna mengingatkan.
Anna tersenyum, kakaknya ini memang selalu berfikir positive tentang hal apapun. Terkadang Anna aneh apa yang membuat kakaknya terlewat baik.
Akhirnya mereka berdua tertawa bersama.
"Hahahh ya, mungkin saja."
~ Chocolate Vanilla27~
Matahari terlihat telah menampakkan sinar jingganya di ufuk timur, langit yang mulanya gelap telah berganti menjadi terang. Udara sejuk khas pagi hari terasa begitu menyegarkan bagi mereka yang menghirupnya. Membuat setiap orang akan lebih semangat untuk memulai aktivitasnya.
"Apa semuanya sudah siap?" Hanna bertanya seraya membawa beberapa tumpukan pakaian ditangannya.
"Belum sebentar lagi kak," balas Amy yang msh sibuk menata pakaian ke dalam koper. Keduanya sekarang sedang sibuk mengemas barang-barang kedua adik asuhnya yang sebentar lagi akan meninggalkan panti.
Tanpa mereka sadari, ada empat pasang mata yang sedari tadi memperhatikan mereka.
"Kenapa kak Hanna mengemas semua pakaiannya? Kak Hanna mau pergi kemana?" Seorang gadis kecil berhijab merah muda bertanya kepada sahabatnya yang berada disampingnya.
Anak bertopi dino terdiam dengan pose berfikir, layaknya para detektif di film-film.
"Aku tahu, mungkin saja kak Hanna mau pergi berlibur," Ujar bocah bertopi lalu tersenyum lebar. Berbeda dengan Yaya yang hanya menatap datar sahabatnya.
Berlibur, oh ayolah mana mungkin kak Hanna akan pergi berlibur sendirian meninggalkan anak-anak panti.
"Disini kalian ternyata, pantas saja ku cari di taman kalian tidak ada." Kata seorang wanita tepat di belakang kedua bocah itu.
Lantas keduanya segera membalikan tubuhnya ke belakang dan bertemu mata dengan wanita itu.
"Kak Anna" ujar kedua bocah itu bersamaan.
"Ayo masuk, kalian pasti ingin tahu kan mengapa Kak Hanna mengemas barang-barangnya," kata Anna seolah bisa membaca fikiran kedua bocah tersebut.
Anna menarik lembut tangan kedua bocah berumur lima tahun itu, memasuki ruangan dimana Hanna dan Amy sedang mengemas barang-barang.
Hanna dan Amy tersenyum kepada mereka saat memasuki ruangan.
"Kak, sepertinya kita memang harus memberitahu yang sebenarnya kepada mereka." Kata Anna menatap kakaknya.
"Yaa, kau benar aku akan memberitahunya." Hanna menyetujui ucapan adiknya.
Kedua bocah itu hanya diam tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Hanna dan Anna.
"Ada yang ingin kakak sampaikan kepada kalian," Hanna mensejajarkan tingginya dengan kedua anak itu, ia menatap kedua mata adiknya secara bergantian.
"Kemarin ada orang yang ingin mengadopsi kalian untuk menjadi anaknya, awalnya kakak ragu untuk menyerahkan kalian tetapi kakak sadar tidak seharusnya bersikap seperti itu. Maafkan kakak, namun semua ini untuk kebaikan kalian." Jelas Hanna, jujur ia tidak tega mengatakan ini tapi harus bagaimana lagi, mereka harus tahu yang sebenarnya.
Perubahan ekspresi terlihat jelas di wajah kedua bocah tersebut.
"Aku gak mau pergi dengan mereka." Lirih gadis kecil berhijab merah muda.
Hanna refleks mengusap lembut kepala yang tertutup hijab itu.
"Tenanglah sayang, mereka orang baik kakak yakin mereka akan menyayangimu seperti kakak menyayangimu." Hanna meyakinkan Yaya.
"Aku gak mau pergi dengan mereka," lagi-lagi ia kembali mengucapkan kata-kata yang sama, namun kali ini kedua mata hazelnya mulai berkaca-kaca.
"Kak Anna, aku gak mau meninggalkan kakak dan Yaya. Aku mau disini kak," pinta anak bertopi dengan nada pelan. Anna tidak sanggup melihat adiknya dengan wajah murung seperti ini.
"Maafkan kak Anna Boboiboy, kakak janji kakak akan selalu mengunjungimu. Percayalah kakak akan terus menyayangimu." Anna memeluk anak yang sudah di asuhnya selama 5 tahun.
Sakit rasanya harus berpisah dengan seseorang yang kita sayangi, kalau boleh berharap, Anna berharap seharusnya semua ini tidak akan terjadi.
"Hiks, hiks kak Hanna aku gak mau tinggal dengan mereka." Tangisnya pecah, gadis kecil itu tidak bisa lagi menahan bulir bening di matanya.
"Yaya kamu anak pintar, kakak yakin kamu bisa mengerti. Kakak melakukan semua yang terbaik untukmu." Ujar Hanna tanpa terasa air mata menetes di pipinya.
"Hiks, hiks tapi aku tidak mau berpisah dengan sahabatku, nanti aku tidak bisa bertemu lagi dengannya." Yaya masih tidak bisa menerima apa yang Hanna katakan.
"Tidak sayang kalian pasti akan bertemu lagi. Kalian bebas mengunjungi panti ini kapan saja." Kata Hanna mencoba meyakinkan keduanya.
"Jangan khawatir, mereka pasti akan mengajak kalian untuk sering-sering berkunjung kesini." Anna menambahkan.
"Benarkah ? Kakak tidak bohong?" Tanya bocah bertopi dengan antusias. Wajah murungnya seketika mulai berubah menjadi cerah.
"Yaa, tentu saja sayang." Anna mencubit pipi cubby Boboiboy.
Sepertinya Boboiboy sudah bisa menerima semuanya, ya meski Anna tau bocah itu masih sedih tapi setidaknya ia sudah sedikit bisa menerimanya.
"Yaya, dengarkan kakak siapapun yang menjadi orang tuamu. Kamu harus berbakti kepada mereka, mungkin sampai disini kakak merawatmu, kelak nanti kamu akan mengerti." Hanna mencium pipi Yaya, Hanna tau sulit memang untuk menjelaskan kepada anak-anak tapi Hanna yakin seiring berjalannya waktu mereka akan mengerti.
"Aku janji akan terus berkunjung kesini. Kamu jangan menangis lagi Yaya, kita bisa bermain kesini setiap hari," Yaya yang sudah berhenti menangis, mengakui bahwa ucapan Boboiboy memang benar.
"Sudahlah anak-anak, kak Amy punya hadiah sebelum kalian pergi." Amy menghampiri mereka dengan menyembunyikan sesuatu dengan kedua tangan di belakang.
"Ini untuk kalian, kakak harap kalian menyukainya." Amy memberikan sebuah kotak berwarna pink kepada Yaya, dan kotak berwarna jingga kepada Boboiboy. Keduanya menatap bergantian hadiah yang mereka terima.
"Trimakasih kak Amy," Kata keduanya kompak.
"Sama-sama," Amy tersenyum lebar membalasnya. Amy akui kedua anak ini memang sangat manis, pantas saja kedua kakaknya sempat ragu menyerahkan mereka.
Amy sendiri pun merasa sedih karna mereka akan pergi.
~ Chocolate Vanilla27 ~
Mobil sport berwarna hitam melaju memasuki gerbang halaman panti.
Seorang pria yang sudah selesai memarkirkan mobilnya, segera keluar lalu membukakan pintu mobil untuk atasannya.
"Kita sudah sampai tuan," katanya mempersilahkan untuk keluar. Pemuda bersurai biru keunguan itu memandang bocah kecil yang berada disampingnya.
"Pang, mari ikut aku."
"Aku tidak mau!" Ujar bocah berkaca mata menolak ajakan sang kakak.
"Kenapa?" Pemuda itu memandang bingung adiknya.
"Aku kan sudah bilang aku tidak mau bertemu anak itu!" Katanya membuang muka tidak ingin menatap kakaknya.
"Oh tidak mau ya, kau yakin tidak mau ikut?" Ia bertanya sekali lagi, berharap sang adik berubah pikiran.
"Ya, aku mau disini saja." Bocah itu menjawab dengan yakinnya.
Mendengar penolakan adiknya membuat pemuda itu sadar bahwa sang adik memang keras kepala.
"Yasudah, kita biarkan saja dia sendirian di sini." Kaizo berbicara kepada supirnya.
Ia beranjak keluar mobilnya meninggalkan bocah bersurai ungu yang sama sekali tidak berminat mengikutinya.
"Bawakan semua makanan itu kedalam." Perintahnya kepada supirnya.
"Baik tuan," Dengan segera ia mengambil beberapa plastik besar yang berisi makanan, lalu membawanya ke dalam panti. Bocah bersurai ungu menatap plastik yang di bawa pria tersebut, sampai matanya melihat sesuatu yang sangat ia sukai.
"Kakak, tunggu aku." Dengan cepat bocah itu segera keluar dari mobil lalu berlari menghampiri kakaknya yang sedang menatapnya dengan senyuman tipis.
"Sudah berubah pikiran?" Tanya Kaizo dengan nada meledek.
"Tidak aku hanya mau donat itu," elaknya menunjuk donat yang berada di dalam plastik tersebut. Pemuda itu menghela nafasnya ia sudah terbiasa dengan sikap adikknya yang pandai mengelak.
Sudah mau ikut ke panti saja ia sudah bersyukur, awalnya sang adik menolak mentah-mentah ajakannya. Mereka pun berjalan bersama menuju panti dengan tangan yang saling berpegangan.
'Semoga saja mereka bisa bersaudara dengan baik nantinya.' Hanya itu harapan seorang Kaizo. Berdoa saja semoga harapanmu tercapai, karna tidak mudah untuk menyatukan kedua orang dengan kepribadian yang sangat berbeda.
