All Ginny POV
Akhir-akhir ini banyak hal mengejutkan sekaligus mengerikan terjadi. Ini pertama kalinya aku melihat kematian dengan kedua mataku. Setelah sebelumnya Dad terkapar di St. Mungo karena serangan Ular jahat Kau-Tau-Siapa, kini Bapa Baptis Harry harus meregang nyawa di tangan Death Eater. Bellatrix Lastrange. Kau tak mungkin bisa tahan berada satu ruangan dengan wanita jahat itu. Dari wajahnya saja sangat terlihat jelas aura hitam dan berbahaya yang menguar. Jujur saja setelah kejadian itu aku sering bermimpi buruk. Bagaimana tidak? Ini pertempuran pertamaku. Benar-benar pertama kalinya bertarung melawan para Pelahap maut. Aku tak dapat membayangkan bagaimana Harry bisa menghadapi ini semua. Tentu saja dia bertemu dengan banyak hal yang lebih mengerikan daripada yang aku bayangkan. Dementor misalnya.
Malam itu aku melihat koper dan Hedwig di depan rumahku. Tapi terlihat keberadaan Harry. Aku bertanya pada Mum dan Ron. Mereka berdua terkejut. Bahkan Hermione, yang sebelumnya tiba lebih dulu. Tapi aku bersumpah Harry pasti sudah sampai sini. Buktinya barang-barangnya sudah tergeletak di depan pintu. Saat aku berbalik disanalah Harry berada. Dia menyunggingkan senyum. Serta merta aku langsung memeluknya. Jujur saja aku kangen. Siapa yang tidak? Dan aku bersungguh-sungguh mengkhawatirkan keadaannya. Sepeninggal Sirius maksudku.
Dan juga ingin mengucapkan terima kasih berkali-kali. Kedua kakakku, Fred dan George, mereka membuat ulah di tahun terakhirnya. Dan mereka memutuskan keluar sebelum dikeluarkan dari Hogwarts. Well, siapa yang mau membiarkan pembuat onar bersekolah di Hogwarts setelah berhasil mengerjai kepala sekolah? Tapi itu bagus buat mereka. Mereka memiliki bakat membuat mainan yang sering kali berhasil untuk mengerjai orang lain. Dan akhirnya mereka benar-benar memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka. Dengan bantuan Hary tentunya. Ini sangat menyentuh, Harry memberikan hadiah kemenangannya saat turnamen dulu pada Fred dan George. Mereka menggunakannya sebagai modal untuk membuka toko mainan yang tak kusangka laris manis.
Tak banyak yang terjadi setelah itu karena kami harus kembali ke Hogwards. Di dalam Kereta aku bertemu Luna. Pandanganku berubah terhadapnya. Dulu aku kira dia tidak hanya eksentrik. Tapi sedikit gila. Namun sekarang aku benar-benar melihatnya dengan sudut pandang berbeda. Apalagi setelah akhirnya aku melihat dengan kepalaku sendiri bagaimana bentuk Thestral yang membawa kami ke Kementrian. Apakah buruk? Well, aku tidak bisa menjawabnya. Tapi setidaknya aku tidak lagi berpikir bahwa kereta kuda yang selalu membawa kami dari stasiun Hogsmeade menuju Hogwarts adalah kereta sihir. Ternyata kereta itu benar-benar ditarik oleh Thestral.
Luna adalah teman yang baik. Tidak suka basa basi dan apa adanya. Dia cenderung lebih paham dengan keadaan sekitarnya. Alih-alih berbasa-basi-yang bukan gayanya tentu saja-dia akan berkomentar sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Dan seperti yang semua orang tau, Luna sangat menyayangi Ayahnya. Terlihat dia begitu bangga membagikan The Quibler, majalah aneh yang juga diminati orang-orang aneh. Namun demikian aku menghargai mereka. Seperti saat ini ketika dia membagikan The Quibler padaku. Aku menerimanya dengan senang hati. Meskipun tidak semua isinya berupa fakta tapi aku menikmatinya. Setidaknya sebagai hiburan.
Hari-hari di Hogwarts berlalu begitu saja. Sedikit terasa aneh karena seringkali Harry terlihat pucat. Ya, aku masih terus memperhatikannya. Bagaimana kau bisa melupakan cinta pertamamu ketika dia selalu berada disekitarmu? Well, jawabannya tak mungkin! Tak mungkin bisa melupakannya begitu saja. Aku masih mengharapkannya meskipun akhir-akhir ini kudengar dia sedang dekat dengan Cho Chang. Gadis yang sangat Harry sukai. Dia cantik, bermata sipit, bersurai hitam panjang, dan bertubuh molek. Duh, siapa sih yang nggak tertarik? Jelas, beda jauh dariku yang berambut merah terang ala Weasley, memiliki kakak terbodoh dan terbaik tentu saja, yang merupakan sahabat Harry. Membuat poinku semakin berkurang. Yah, setidaknya Harry menganggapku sebagai keluarga bukan?
Ngomong-ngomong tentang kakakku, semoga saja matanya lebih terbuka. Terlihat jelas dia menyukai Hermione. Dan begitu pula dengan gadis bersurai brunette itu. Tapi alangkah gemasnya aku melihat mereka yang seperti malu-malu. Tapi mungkin itu bukan urusanku. Dan tahun ini sebaiknya aku menggunakan kesempatan untuk menarik perhatian Harry, meskipun sedikit. Aku menginginkannya. Jelas bukan sebagai saudara. Aku sudah cukup memiliki banyak saudara. 5 saudara laki-laki tentunya. Dan mengherankan aku masih bisa hidup dengan tegar mengingat mereka semuanya terjangkit virus jahil yang entah diturunkan dari gen siapa.
Terkadang aku cemburu dengan Hermione. Cemburu karena dia bisa berdekatan dengan Harry sepanjang waktu, berbagi rahasia dan petualangan. Meski pada akhirnya tahun kemarin aku memulai petualangan bersama mereka. Sungguh sekalipun sering bermimpi buruk namun aku tetap bahagia mengingat aku masuk dalam laskar Dumbledore dan menunjukkan kemampuanku. Kemampuan yang telah kuasa selama 4 tahun di bangku Hogwarts.
Hermione bisa duduk dalam satu kompartemen, berbagi cerita, berbagi pelukan-meskipun pelukan persahabatan. Mungkin rasanya sangat egois dan tidak etis memikirkan diriku sendiri disaat dunia sedang genting dengan masalah Kau-tau-Siapa. Tapi aku tak dapat menahan gejolak hormon remaja. Aku seperti kebanyakan remaja perempuan lainnya. Tidak hanya sekali aku mencoba berkencan. Beberapa kali dan selalu dengan seniorku. Entahlah apa yang salah. Mungkin aku memang benar-benar ingin menarik atensi Harry. Neville longbottom dan Dean Thomas adalah dua diantara lainnya. Sebelumnya diam-diam aku pernah berkencan dengan Seamus dan Sean Hopwood-satu-satunya pria ravenclaw yang pernah kukencani. Namun dari semuanya tak pernah bisa membuatku bertahan lebih dari satu bulan. Jahat memang jika aku menginginkan mereka semua seperti Harry, bersikap seperti Harry dan sepandai Harry. Well, Harry tidak sepandai itu sih. Tapi dia heroik. Dan aku menyukainya yang seperti itu bahkan sebelum aku mengenalnya dengan baik.
Saat ini aku masih berstatus kekasih Dean Thomas. Tapi aku tidak begitu peduli padanya sejak dia sering membentakku. Ia selalu menganggapku tidak mencintainya. Memang benar sih, tapi aku menghargainya selaknya kekasih. Aku balas menciumnya meski terkadang pandanganku mengarah ke arah harry. Terkadang ketika ia menciumku yang muncul dikepalaku adalah Harry. Apa yang bisa kulakukan? Tak ada selain pasrah. Dia sering membuatku menangis akhir-akhir ini. Apa yang kulakukan selalu salah dimatanya dan aku bersyukur dia belum paham mengenai perasaanku yang sesungguhnya. Dia hanya mengira aku berselingkuh. Padahal tak ada bukti sama sekali tentang itu.
Suatu hari, dihari yang panas dan terik matahari menyengat selepas berlatih Quiddith, aku berlari menuju kamar mandi perempuan yang biasanya kosong. Siapa sih yang mau mandi siang-siang ketika hari cerah dan sangat cocok digunakan untuk berkeliling Hogwarts? Aku berjalan cepat-cepat namun suara bisik-bisik menahan langkahku. Masih terbayang jelas diingatanku tentang tahun pertamaku di Hogwarts. Mengerikan, sungguh mengerikan. Aku mengeratkan genggaman tanganku, mencoba bernapas dengan tenang. Aku tidak selemah dulu tapi aku tidak yakin mampu berhadapan dengan Kau-Tau-Siapa sebenci apapun aku terhadapnya. Langkahku tertahan, ingin sekali berbalik dan berlari menjauh. Tetapi rasa penasaranku lebih besar daripada yang bisa kukendalikan. Akhirnya kupaksakan diriku untuk bersembunyi. Suara bisik-bisik itu nyaris membuatku gila. Tidak jelas tetapi kedengarannya suara laki-laki. Bernada rendah dan mengancam. Apa ada seseorang yang hendak diperkosa? Atau apakah... entahlah aku tak dapat berpikir. Aku takut. Jari-jariku gemetar. Sesaat aku berbalik dan mengurung diri di balik dinding sambil berusaha menenangkan degup jantung yang berpacu. Suara langkah berderap memenuhi ruangan. Aku berbalik dengan cepat dan keluar dari persembunyian sambil mengacungkan tongkatku. Didepanku Hermione memekik sambil mengacungkan tongkatnya ke arahku. Kami sama-sama terkejut.
"Apa yang kau lakukan?", tanyanya sambil mengambil napas banyak-banyak. Aku juga, kami sama-sama terkejut dan gemetar bukan kepalang.
"Aku mendengar sesuatu", jawabku. Raut wajah Hermione sedikit berbeda, matanya agak membesar tapi mencoba ia tutupi.
"Apa yang kau dengar?", selidiknya.
"Suara laki-laki. Suaranya rendah, tapi aku terlalu takut untuk mengintip", jawabku jujur. Hermione tampak lega. Tapi kedua tangannya masih saling mengait dengan ragu. Pandangannya juga sedikit tidak fokus. Aku yakin saat ini dia berusaha mengalihkan pandangannya dariku.
"Apa kau lihat sesuatu?", tanyaku ragu sambil tetap memandangnya.
"Tidak", jawabnya cepat. "Aku baru saja masuk kamar mandi dan tiba-tiba kau mengagetkanku".
Aku menatapnya agak lama. Tapi kemudian kuanggukkan kepalaku. Kenapa aku musti curiga padanya?
"Kau lihat kemenangan Ron tadi? Dia berhasil masuk Tim Quidditch Gryfindor", aku mencoba mencairkan suasana. Namun sepertinya Hermione memilih diam.
"Uh, apa ada yang salah?", tanyaku mencoba bersimpati melihat matanya mulai berair. Aku rasa ada yang salah dengannya hari ini.
"Tidak ada Gin, maaf aku sudah kebelet", jawabnya sambil memasuki salah satu bilik toilet.
Malam itu kami bertemu kembali di pesta Slughorn. Tapi sepertinya dia sedang panik. Aku tak melihat pasangannya. Sepertinya Mc Laggen, karena cowok itu sedari tadi sibuk mencari Hermione. Lalu tiba-tiba Filch merusak suasana dengan membawa masuk paksa Malfoy. Tapi untungnya Snape membawanya keluar meskipun dengan cara yang sangat mencurigakan. Well, selama ini sih aku tak pernah percaya Snape sudah menyebrang ke Orde. Aku masih percaya bahwa dia bagian dari Pelahap maut.
Aku sedikit curiga kalau-kalau Hermione berubah gara-gara Ron-kakakku yang bodoh itu mengabaikan perasaannya dan lebih memilih lavender Brown. Entah kenapa dia memilih gadis genit itu. Tidak, bukannya aku menghakimi tapi aku lebih memilih Ron bersama hermione daripada bersama Lavender sebaik apapun cewek itu. jelas dia tak akan mampu menandingi sikap perhatian dan empati yang Hermione miliki.
Bodoh, dasar kakakku bodoh. Hermione terlihat sangat memperhatikannya tetapi dia malah mengabaikannya. Aku jadi berempati pada gadis itu. Mungkin nasib kami sama. Menyukai seseorang yang terlalu cuek menganggap kami saudaranya atau mungkin bagian dari keluarganya.
Natal ini Harry berkunjung ke The Burrow, bukan hal yang aneh sih. Tapi kali ini lebih khusus karena Lupin dan Tonks berkunjung sambil mendiskusikan sesuatu dengan mereka. Aku memilih tidak ikut campur. Dan mensyukuri sedikit kesempatan berinteraksi dengannya. Beberapa kali bertidak bodoh ketika dihadapannya sampai akhirnya malam itu tiba. Ketika kami hendak berciuman tiba-tiba sesuatu mengganggu kami. Benda berpijar mengarah kearah halaman The Burrow dan berputar-putar kemudian muncullah Bellatrix Lastrange yang tertawa-tawa dengan suara paraunya. Kami semua terkejut dan segera berlari keluar rumah. Api sudah mengitari the Burrow, sepertinya Bellatrix ingin memancing Harry dengan berteriak-teriak menggila kesenangan karena telah membunuh Sirius. Harry terus berlari mengejar wanita itu, aku mengejar harry tanpa sadar dengan perangkap yang telah mereka buat. Kami dikelilingi Pelahap Maut. Bersyukur Lupin dan Tonks menemukan kami, mereka pergi begitu saja namun tiba-tiba sesuatu menghantam The Burrow. Rumah itu terbakar dengan cepat. Kami semua hanya menatap nanar dan sedih mengingat rumah itu adalah kesayangan Mum.
Ini natal terburuk sepanjang ingatanku, belum tentu natal tahun depan bisa seburuk apa lagi. Namun kami berupaya menyelamatkan rumah. Rumah yang penuh kenangan dan teraman sepanjang ingatan kami. Waktu berlalu dengan cepat, kami kembali ke Hogwarts dengan perasaan campur aduk. Aku melihat kerutan diwajah Hermione. Akhir-akhir ini dia jarang tersenyum dan melewatkan Natal di The Burrow-meskipun dia mengungkapkan kesedihannya mendengar The Burrow sempat terbakar. Tidak jelas apakah pikirannya terisi masalah hubungannya dengan kakakku atau yang lain. yang pasti dia terlihat begitu gusar akhir-akhir ini. Kadang ia menatap sedih ke arah Ron, namun kadang ia menatap kekosongan.
Dan berita mengejutkan datang dari Harry. Ia bercerita tentang Ron yang terkena ramuan Amortentia. Dari beberapa wanita tentu saja. Yang membuatku ikut khawatir adalah ketika dia dibawa ke Hospital Wings. kami bertiga menungguinya dengan perasaan cemas meskipun Ron bilang sudah membaik. Dan berita buruknya, Lavender kembali datang, berteriak-teriak dengan sikap centilnya. Jujur saja aku muak sekali, beruntung Hermione menanggapinya. Dan Ron yang akhirnya paham bahwa dialam bawah sadarnya ia membutuhkan Hermione. Ah, betapa irinya aku. Apa Harry juga menyadari keberadaanku? Mungkin saja iya, mengingat kami hampir berciuman ketika malam natal lalu.
Pagi itu aku duduk agak jauh dari mereka, Harry Ron dan Hermione maksudku. Aku memilih duduk bersama Luna di meja Ravenclaw. Well, meskipun sedikit aneh tapi dia merupakan anak yang cerdas dan berbakat. Tak salah Ravenclaw memilihnya. Aku melihat Hermione berbisik pada Harry sebelum pemuda itu bangkit berdiri dan mengejar Katie Bell. Dari arah berlawanan Draco Malfoy menatap Hermione dengan sorot aneh kemudian mengalihkan pandangannya dengan cepat ke arah Harry dan berlalu begitu saja. Kulihat Harry setengah berlari mengejar lelaki Slyterin itu. Dan yang kemudian terjadi membuatku bergidik ngeri. Yang kudengar Harry sempat melukai Draco Malfoy. Aku percaya apa yang dilakukan Harry pasti bukan karena dia membenci Malfoy. Kecurigaan kami tentang Draco Malfoy bergabung dengan pelahap maut memang belum benar-benar terbukti. Tapi buku itu, buku yang Harry pegang mengajarkan ilmu hitam. Aku benci mempercayainya namun Harry terlalu mengandalkan buku ramuan milik seseorang yang menyebut dirinya Half Blood Prince itu.
Aku mengajaknya ke Kamar Kebutuhan dan meyakinkan dia untuk menyembunyikan buku itu disini. Lebih aman jika tak ada yang tau. Namun yang kami temukan adalah sebuah lemari besar yang ketika kami buka seekor burung keluar dari dalamnya.
"Tutup matamu", pintaku. Entah apa yang membuatku seberani ini. Aku menciumnya sekilas kemudian pergi. Berharap ini kami sembunyikan rapat-rapat. Aku terlalu malu menginginkannya dan tidak percaya apakah ia membalas perasaanku atau tidak. Mungkin jika aku memberinya kesempatan membalas ciumanku... tapi ah sudahlah. Mungkin bisa-bisa aku pingsan karena malu. Masih teringat ketika aku masih kecil dulu, hanya menatapnya dari jauh saja sudah membuah pipiku semerah rambutku. Dan bayangkan, aku baru saja menciumnya. Bukankan ini menandakan bahwa aku agresif sekali? Sepertinya harus, karena kulihat Harry tidak memiliki sikap itu. Dan aku sangat ingin hubungan kami berhasil, mengingat idak ada yang tau jika aku yang menciumnya kecuali... dia memberitahu Ron atau Hermione. Dan kembali aku mengusap pipiku dengan gemas. Aku malu sekali.
Sepertinya hari tenang di Hogwarts akan segera berakhir. Malam ini tanda kegelapan muncul. Para pelahap Maut berhasil menembus dinding Hogwarts. Dumbledore mati, semua serba rumit. Tak ada lagi hari tenang, tak adalagi tempat yang aman. Kami semua terluka, bukan luka fisik, tapi keadaan yang memburukmembuat kami semua ketakutan. Tak ada lagi perasaan aman dan terlindung, Dumbledore, orang yang disebut-sebut ditakuti Kau-Tau-Siapa telah tiada. Seluruh masyarakat sihir ikut berduka atas kabar duka itu. Kami tau sebentar lagi perang besar akan terjadi. Kami tak mungkin bisa mencegah dan lagi-lagi harapan kami adalah Harry. Menyebut nama itu dalam hati membuatku sedih. Apa saja bisa terjadi. Orde semakin kekurangan pendukung. Aku hanya mampu menopangnya dalam tangis, meskipun begitu aku mengerti bahwa luka yang dialaminya lebih berat dari yang semua orang bisa tanggung. Dia akan selalu menyalahkan dirinya sendiri akan kematian orang-orang disekitarnya. Meskipun aku mencoba meyakinkannya, namun aku sendiri tak yakin dia mampu menerimanya. Tak akan ada lagi hal yang sama. semua berubah sejak kematian Dumbledore. Meskipun dia belum berkata apa-apa tapi aku menyakini satu hal. Tak lama lagi kami akan berpisah. Dia akan memulai petualangannya, tanpa aku. Sekali lagi tanpa diriku.
Dia bisa membagi semua ceritanya pada Hermione, tapi aku yakin kelak dia akan membagi cintanya denganku. Meski kami tak pernah tau apa yang akan menanti dimasa depan. Ini saatnya berjuang. Dan tempatku, meski belum sepenuhnya disisinya, tapi aku mendukungnya semampu yang aku bisa.
