AH, AKHIRNYAAAA!

Akhirnya bisa nulis juga. Selamat malam Minggu, semuanya. Kalau masih ada yang nunggu update-an NICOTINE, gomen ya, baru bisa UP huhu. Walaupun pendek banget, sih. Sudah berapa Minggu ya terlewatkan.

Btw, enjoy!

.

.

.

Chap 2 : Keluarga Baru

Alis cabangnya berkerut tidak karuan, jari kiri mengetuk-ngetuk meja kaca sampai menghasilkan bunyi tuk .. tuk .. tuk. Taiga memandangi ponselnya yang tak kunjung berbunyi, hanya ada layar gelap di sana. Dia menghela napas sembari mengunyah sosis bakarnya yang kelima, "Tsk!" decakannya mendorong ia menyentuh ponsel dan mengecek apakah pesannya sukses terkirim atau tidak.

Bola crimson mengecek seksama, lima pesan yang dikirim kepada nama yang dituju itu sudah sukses, "Aho, sialan," dia menggerutu. Bukan, bukannya Taiga rindu pada manusia satu itu, karena setiap hari mereka sudah bertemu bahkan bercengkrama. Masalahnya dia …

Taiga meletakkan ponselnya di telinga, setelah terdengar nada sambung tiga kali, dan tidak lama ada suara berat yang menimpalinya, "Kenapa, Baka?"

"Pesan gue baca, sialan!" katanya dengan nada yang lumayan tinggi. Ia beranjak dari meja makan dan berjalan keluar.

"Gue lagi sibuk. Kalau lo ngirim pesan kangen, gue juga kangen. Malem gue pulang."

"Kangen, pala lo! Jadi lo pulang malem? Gue ngirim pesan, kalau lo nggak pulang malem ini, makanannya mau gue abisin."

"HAH! LO NELPON GUE CUMA MAU NGOMONG GITUAN!"

Taiga menjauhkan ponselnya, "Iya. Jadi, lo mau makan di rumah apa diluar?"

"Di rumahlah! Awas lo habisin. Ya udah, gue masih nugas, nih."

Suara gradak-gruduk dan ramainya lalu lintas adalah hal terakhir yang Taiga dengar sebelum sambungan terputus. Dia melempar ponselnya ke atas sofa.

Tadinya berharap Daiki pulang cepat supaya bisa makan malam sama-sama. Bahwasanya sudah sangat lama sekali mereka tidak makan bersama. Daiki selalu pulang subuh, dan ketika sarapan Daiki masih tidur. Harusnya, pengantin baru yang belum genap tiga bulan itu masih memandu kasih dan cinta di setiap saatnya, kan?

Errr …. Tapi itu bukan tipe mereka juga, sih.

Taiga mengacak rambutnya, mencak-mencak tidak jelas. Pikiran melankolis itu harus ia buang jauh-jauh. Sadarlah, dirinya sekarang bukan remaja ABG yang haus akan kasih sayang dan perhatian. Bahkan, zaman remaja dirinya tak pernah merasa se intens ini menginginkan Daiki di sampingnya.

Meski begitu, Taiga hanya mengedikkan bahu. Dia duduk di kursinya dan mulai melahap semua makanan sebagai pelampiasan. Menyisahkan sedikit saja untuk Daiki, dirinya butuh asupan lebih banyak.

.

Daiki menjatuhkan tubuhnya pada sofa di ruangan kecil tempat ia bekerja. Tumpukan berkas laporan menggunung seakan minta di bakar. Cutinya beberapa waktu lalu membuat pekerjaannya menumpuk. Dan kasus bunuh diri masal perusahaan ternama Hiroki Tokyo siang tadi membuat ia ingin melepaskan kepalanya walau sejenak.

Sabtu malam, harusnya ia libur. Menghabiskan malamnya bersama Taiga di rumah. Walau kenyataannya mereka sudah bukan anak remaja, tapi menjahili satu sama lain masih menjadi hobi yang tak terlupakan entah sampai kapan pun itu.

Daiki rindu melakukan hal-hal konyol. Pergi ke Majiba dengan balapan, makan dengan balapan. Membuat onar bersama, apalagi sampai mereka di kejar-kejar security. Tanpa sadar dirinya terbahak sendiri bersamaan dengan seseorang masuk ke dalam ruangannya.

"Oi, Aomine, kenapa ketawa sendiri. Kau kesambet?"

Daiki masih belum meredakan tawanya, tapi ia menyambut tamu dengan hangat, "Kiyoshi-san, ada yang perlu aku bantu?" katanya sembari menyuruh seniornya untuk duduk.

Kiyoshi Teppei tersenyum ramah, "Sudah membuat laporan dari kasus tadi siang, karena rencananya aku akan segera mengantarkannya ke atas."

"Ah, itu," Daiki menggaruk pelipis. "Baru separuh. Memangnya Imayoshi-san sudah memintanya sekarang?"

"Tidak, sih. Kupikir lebih cepat lebih baik, ia ingin laporannya terakhir hari Selasa."

"Sepertinya aku tidak bisa menyelesaikan sekarang, Senin kuserahkan padamu."

Kiyoshi menyenderkan tubuhnya, "Oke, tidak masalah. Omong-omong, kau tertawa sendiri sedang memikirkan Kagami, ya? Ah, maksudku Taiga."

Daiki terbahak, karena tepat sasaran dia bingung harus menjawab apa.

"Tidak menyangka, lho, kalau kalian akan menikah."

"Hahaha, aku juga tidak menyangka. Tiba-tiba saja semuanya terjadi begitu aja."

Kiyoshi mengangguk, "Terus bagaimana kabarnya? Aku tidak enak, sebagai senpai-nya tidak datang di pernikahan kalian."

"Tidak masalah. Kalau kabar si keras kepala itu baik-baik saja, kok. Kau tahu, kan, makannya seberapa besar. Mana bisa sakit dia, mungkin sakit kekenyangan."

Kiyoshi tergelak tidak bisa menahan tawa. "Ya, ya. Nafsu makannya benar-benar bagus."

"Bukannya bagus, Kiyoshi-san, aku setiap kali makan jadi tidak kebagian. Entah ada apa di dalam perutnya."

Pada akhirnya, mereka mengobrol dengan membicarakan Taiga sebagai topik. Dan setelah pekerjaan selesai tepatnya waktu menunjukkan pukul satu dini hari, Daiki bergegas untuk pulang.

Sebelum mengemudikan mobil, dia merogoh ponsel. Mengetikkan beberapa kalimat, "Taiga, lo mau nitip makanan enggak?" kemudian ia kirim. Namun, sampai pada Daiki sudah di depan pintu masuk apartemen, pesannya tak mendapat balasan.

"Gue pulang," katanya dengan nada lelah. Ia membuka sepatunya begitu saja, terdengar suara tivi yang nyaring. "Baka?" panggilnya.

Dan setelah memasuki ruang tamu, tenyata tivi yang menonton manusia sedang tidur, bukan manusia yang menonton tivi. Taiga tergeletak tidur dilantai beralaskan karpet, memeluk guling dan sedikit mendengur. Daiki mengembangkan senyum renyah.

Dia mematikan tivi dan berjongkok di samping Taiga, memperhatikan mimik wajahnya yang tanpa beban. Ikut senang karena dirinya mampu memenuhi cita-cita Taiga yang mengiginkan tempat pelatihan basket. Hah, tidak tahu kapan bosannya ia terhadap bola orange tersebut.

"Baka.." pangilnya pelan sembari menyentuh pipi Taiga dengan jarinya telunjuknya. "Bangun, oi, pindah ke kamar." Kini Daiki menarik kedua pipi Taiga dengan tangannya. "Bangunnnnnnnn… apa mau gue gendong, hh?"

"Euhhhhh!" Taiga menyingkirkan tangan kotor dari wajahnya, tetapi matanya tak membuka sedikit pun. Dari wangi dan napasnya Taiga sudah tahu siapa yang sedang mengganggu tidurnya.

"Bangun makanya, pindah ke kamar. Sakit, nanti nggak ada yang masakin gue. Dan yang terpenting pasti ngerepotin," tuturnya sembari tertawa kecil dan menariki hidung empunya.

"Tsk, Aho lah!" rengeknya. "Sana ke kamar mandi dulu bersih-bersih," gumamnya di sela kantuk.

"Hisssss! Baka?"

Taiga terpaksa membuka mata dan pertama yang ia lihat adalah wajah Daiki yang sangat dekat. Entah dari kapan orang itu sudah berada di atasnya, "Apa, hah?" katanya.

"Cium.." Daiki memonyongkan bibirnya.

Taiga mengerutkan alis, betapa najisnya kelakuan Daiki. "Nggak mau. Lo kesambet apa, kelakuan macam anak baru puber."

"Ciumlah, kasian suamimu ini yang baru pulang," katanya bernada manja, masih memonyongkan bibirnya.

Taiga memandangi wajah Daiki yang semakin mendekat. Kalau biasanya ia akan memberontak, kali ini ia membiarkan Daiki melakukan semaunya. Ketika bibir mereka bersentuhan, Taiga memejamkan matanya dan memeluk Daiki. Mereka saling menautkan bibir satu sama lain, menghisap sama-sama, dan merasakan kenikmatan.

"Mphhh!"

"Nhhh!"

Lidah bermain panas dan ganas, saling mendominasi. Tak peduli mereka kekurangan oksigen yang penting mereka dapat bersatu untuk beberapa menit ke depan. Tangan dim bermain liar, menyusup masuk ke dalam diam-diam, menjelajah beberapa tempat mainannya. Melepaskan rindu. Mungkin itu berlebihan, namun yang bisa merasakan hanyalah mereka berdua, jadi tahu apa orang lain.

"Katanya tadi nggak mau," ejek Daiki, setelah melepaskan bibir Taiga yang membengkak.

Taiga mendorong Daiki yang masih duduk di perutnya. Ia terbangun dan menurunkan kaus, "Berisik, setan!" decaknya, lalu enyah begitu saja. Daiki mengekor di belakang.

"Kamar mandi sana, gue panasin makanannya."

Daiki tersenyum sembari memandangi Taiga, "Ah, istri gue baik banget. Thanks, God. Sudah mengirim malaikat sebaik ini buat gue." Katanya lebay.

PLUK!

"ISTRI, ISTRI. LO PIKIR GUE CEWEK!" Taiga mengamuk dan melempar Daiki dengan jeruk tepat di keningnya.

Daiki meringis sembari memegangi kening, ia berbalik menuju kamar mandi, "Nggak jadi terima kasih ya Tuhan, ternyata dia setan bukan malaikat, nggak ada baik-baiknya sama gue," ia bergumam pelan.

.

.

Asap beraroma manis pahit keluar dari gelas beling, mengepul menyambut sinar matahari yang masih enggan keluar dari kandang. Di sana empunya masih sibuk melakukan sesuatu. Dia mengangkat dua telor ceplok dan beberapa sosis dari Teflon, kemudian ia tata di atas roti tawar sebanyak mungkin, ditambah dengan sayuran supaya menambah cita rasa. Sambil bersiul-siul ia sesekali menyerudup kopi hangatnya, selagi roti belum jadi. Musik shape of You dari Ed Sheeran ikut menemani. Lihat, betapa tenangnya hidup Taiga saat ini.

Kecuali, jika sudah menyangkut … tentang …

"AHO, BANGUN NGGAK LO!" dia berteriak keras sampai menimbulkan gaungan. Namun, seperti yang di duga, si sialan itu tidak akan bangun jika hanya diteriaki. Dia harusnya di hajar dan di seret ke dalam kamar mandi, dia pikir ini sudah jam berapa. Ayam tetangga saja sudah mencari makan dan telihnya sudah besar, bahkan ada kucing yang sedang kencan.

Taiga tahu, Daiki pasti lelah, tapi kapan lagi ada waktu libur. Ia rindu bermain basket sama-sama. Orang itu sudah janji semalam jika, mereka akan bermain basket bersama di gym bersama anak-anak didiknya. Tapi dilihat dari mana pun ini sudah jam Sembilan. Tahu kan, kalau mereka main itu tidak cukup hanya dengan tiga jam, belum lagi bertengkar dan segala macamnya.

Roti sandwich menyumpal di mulut, gelas kopi berada di tangan. Taiga masuk ke kamar, "Aho, bangunlah!" katanya. "Kita mau ke gym, kan?"

"Aaahhh," Daiki menarik selimutnya. Entah kenapa malas mendengar suara Taiga di pagi hari yang sangat dingin ini.

"Oi, Aho!"

Beeeppppp …

Beeeppppp …

Taiga sudah menyiapkan ancang-ancang untuk menendang mahluk sialan itu, namun salah satu ponsel dari mereka berbunyi. "Tuh, ponsel lo ada yang nelpon!" katanya.

"Males, ah. Pergi sana, Baka," gumamnya.

Taiga mencomot ponsel Daiki bersamaan panggilan itu terhenti. Ia menyerngit ketika terdapat lima panggilan tak terjawab dari Satsuki, kemudian ia mengecek ponselnya sendiri, juga terdapat panggilan dari Satsuki. Alis semakin bertautan, "Ada apa, ya?" tuturnya.

Beepppppp ….

"Ah, nelpon lagi. Iya, halo?"

"LAMA SEKALI MENGANGKATNYA, KALIAN KE MANA SAJA!"

Taiga terperanjat begitu mendengar teriakan dari Satsuki. "Hhee, maaf, gue tadi lagi buat sarapan, dan si Aho masih tidur," jelasnya. "Oh, ada apa?"

"Tai-chaannn, tahu tidak?"

"Apa? Kenapa ceria sekali."

"Kalian punya ponakan baru, hihihi."

"HAH!?" teriaknya, dan mendapat lemparan guling dari seseorang yang masih ingin tidur.

"Aku sudah melahirkan semalam, dia cantikkk sekali. Ke sini ya, ke rumah sakit sama Dai-chan juga."

"Serius? Kok tidak ngabarin, sih! Kukira masih beberapa bulan lagi."

"Aku juga baru siuman, kok. Dan katanya Shoi-chan, dia lupa mengabari kalian saking senangnya."

"Hhaha, selamat, ya. Nanti kita ke sa–"

"Telpon dari siapa, sih?" Daiki merebutnya dan melihat siapa gerangan yang membuat Taiga sampai bicara histeris dan teriak-teriak, "Ah, Satsuki," katanya.

"Dai-chaannnn … kamu punya ponakan, nih."

"Hah, sudah melahirkan?"

"Heem, cantik seperti aku, hehe. Bibi juga katanya akan menjengkuk. Kamu ke sini, ya."

"Haha, akhirnya si Imaysohi puya anak juga. Gue nggak nyangka lo nikah sama dia, padahal lo terobsesi banget sama si Tetsu."

"Ihhhhh, Dai-chan jangan begitu sama Shoi-chan. Aku malah yang nggak nyangka kamu nikah sama Tai-chan."

"Hah, gue mah emang cinta sama mahluk macam dia. Nanti kita buat anak juga deh, biar samaan."

Suara tawa Satsuki mencicit di ponsel dan sambungan diputus ketika Daiki mendapat tendang dari Tiger di belakang.

"Sakit, bangsat!" Daiki berteriak dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur sambil menarik Taiga. "Buat anak, yok?"

Taiga memutar bola mata di atas tubuh Daiki, "Sana sama Kucing," hardiknya, menjitak kepala Daiki dan kabur ke dalam kamar mandi. Daiki mengikuti di belakang.

"Gue dulu mandinya, sana pake kamar mandi dapur."

"Mandi berdua, emangnya ngapa?" Daiki membuka baju dan celananya. Membiarkan Taiga memasang wajah kesal. Ia memperhatikan tambatan hatinya itu melipir menjauhinya untuk membuka baju. Daiki tidak suka, "Baka Taiga, lo makin tua makin tsundere, tahu nggak!" ejeknya.

"Hah!"

"Lo nggak tahu, kan, kalau Midorima sama si Takao, nggak nikah-nikah. Itu karena Midorima tsundere-nya kebangetan, ngajak nikah gitu doang lama banget."

Taiga menyerngit, "Jangan ngomongin orang. Lagian lo sok tahu banget, siapa tahu mereka emang nggak ngerayain nikah, tapi tetep sama-sama. Kita juga kalau nggak karena orang tua, kayaknya nggak akan nik–."

BYURRRRR!

Taiga hanya berkedip-kedip, ketika Daiki mengguyurnya dengan air dingin.

"Jadi lo nggak mau nikah sama gue, hh!" Byurrrr, lagi Daiki menyiramnya. Dia merajuk.

"Aho! Dingin! Makanya orang ngomong itu cerna yang bener!"

Byurrrr … Byurrrr …. Byurrrrr

Pada akhirnya mereka menggigil bersama dan termenung di dekat perapian. Memikirkan betapa tidak pentingnya yang mereka lakukan.

.

..

"Permisi, pasien ibu melahirkan bernama Imayoshi Satsuki, kamar nomor berapa, ya?" ucap Taiga di resepsionis.

"Sebentar, dicari dulu."

Daiki memasukkan kedua tangan di saku jins, ia pura-pura tidak melihat ketika Taiga meliriknya dari resepsionis. Sedang Taiga dengan mimik tak sedap menggerutu di dalam hati. Andaikan, si monyet Daiki tidak membuat masalah, ponsel mereka berdua tidak akan tertinggal di dalam taxi dan dia tidak harus menanyakan ruangan di mana Satsuki dirawat.

Lalu.

Daiki menautkan alis saat Taiga melewatinya begitu saja, "Oi, Baka. Kamarnya nomor berapa?"

Tidak ada jawaban.

Daiki mendekat dan merangkul seseorang di sampingnya. "Tenang aja, sih, nggak akan hilang ponsel lo. Gue kan polisi, nanti gue urus."

"Huffff.." Taiga menghembuskan napas. "Bener, ya. Itu banyak nomor penting."

"Iya. Lagipula, orang itu pasti menyerahkan ke pos barang hilang."

"Kalau enggak!?"

"Gue ganti."

Mereka memasuki lift.

"Bukan masalah itu, gue juga bisa beli sendiri, Aho. Masalahnya di dalem ponsel itu banyak yang penting."

"Apaan, sih. Palingan juga foto-foto malem pertama kita, iya, kan?"

Semua orang yang berada di lift memandangi mereka seksama. Taiga sudah tak tahu harus memasang wajah yang seperti apa. Dia hanya pura-pura tidak kenal dengan suami yang otaknya kurang beberapa kilo itu sampai keluar dari lift.

"Lo kalau ngomong di depan umum hati-hati, kenapa!"

"Gue salah lagi!"

"Iyalah! Lo itu nggak hidup apa kalau nggak buat masalah!"

"Salah gue di mana, hh?"

"Masih nggak nyadar!"

"Jelasin makanya."

"…."

"….."

Satsuki yang masih terkulai lemas di atas kasur rumah sakit harus menarik napas dan mengeluarkannya pelan-pelan dan mengelus dada ketika melihat dua pasangan paling idiot seantero Kuroko no Basuke, masih terus berebut omong, padahal di depannya ada ibu-ibu dan anak bayi. "Kalian kalau mau berantem jangan di sini, pulang sana!" ucapnya penuh penekanan dan ancaman, seketika Daiki dan Taiga terdiam.

"Maaf, Satsuki," Taiga berucap, dia menarik kursi terdekat, meletakkan pantatnya. Memberikan bungkusan, "Ini oleh-oleh, kalau kurang, nanti jika sudah pulang dari rumah sakit saja, ya, susah bawanya," Taiga menggaruk pelipis

"Terima kasih, paman hehe."

Daiki memandangi Satsuki dan bayinya secara bergantian beberapa kali.

"Kenapa, Dai-chan. Kok, kamu melihatnya gitu banget," Tanya Satsuki.

"Mana, katanya mirip sama lo, itu malah mirip sama Imayoshi semua. Gue yakin gedenya pasti jelek, ibunya aja jelek, apalagi bapaknya."

"Err … Dai-chan!" Satsuki murung.

"Jangan dengerin gorilla satu itu, dia memang nggak ada hati, batu kali isinya," bela Taiga dan menenangkan Satsuki. Dia tersenyum hangat, "Bayinya gemuk banget."

"Iya dong, kan mamanya sehat," Jawab Satsuki bahagia. Ia menyentuh pipi anaknya lembut dengan jari tangan. "Cantik, kan, Tai-chan."

Daiki yang melihat jadi greget sendiri, ia ikut menimbrung dan ikut-ikut mencolek dede bayi sampai menangis. Satsuki sebagai sang mama, memukul tangan Daiki supaya menjauh dari bayinya, "Ahhhhh, Dai-chan, jangan keras-keras dong, nangis kan dia!" Satsuki mengambil bayinya dan dibawa kepangkuan. "Cup, cup, cup, sayang. Paman nakal, ya."

"Tsk, Aho! Lo tahu bayi, kan. Pelan-pelan dong, emang elo, kulitnya udah mati jadi nggak sakit."

"Buli aja terus gue!"

Taiga melotot, membuat Satuki tertawa dibuatnya. "Kalian, kapan akurnya, sih? Lihat anakku nggak bisa bobo lagi karena berisik."

"Satsuki, taro sini bayinya," Daiki memukul-mukul tempat tak jauh dari sang bayi tidur, hanya saja lebih dekat darinya.

"Mau apa?"

"Mau mainanlah. Biar deket, gue kan pamannya."

Satsuki dan Taiga tidak merespon.

"Tenang aja nggak gue makan, cepet taro sini."

"Bener, ya, Dai-chan," Satsuki menaruh bayinya di tempat yang Daiki mau.

"Halo," katanya, manik navy-nya bertatapan dengan manik kecil bayi Satsuki. "Ini pamanmu yang paling ganteng, dan yang ini," dia merangkul Kagami, "Pamanmu juga yang sangat emosian."

"Tsk! Aho," decak Taiga. Dia mengambil jari kecil bayi tersebut, "Jangan dengarkan dia, ya," Taiga tersenyum.

"Imayoshi, ke mana?"

"Ke kantor sebentar, katanya mau ambil laporan dari Kiyoshi-san."

"Oh, iya. Gue juga belum buat laporan, sih. Bodo, ah," katanya cuek. "Nanti kalau sudah besar jadi pemain basket, ya," tutur Aomine mengajaknya lagi berbicara.

Badannya gemuk, pipi dan bibirnya merah. Matanya sewarna rambut Satsuki, tetapi sipitnya sangat mirip ayahnya.

"Iya, nanti aku yang akan mengajarimu," saut Taiga.

"Jangan, sama paman aja, dia basketnya jelek."

"Enak aja!" hardiknya, "Belum punya nama, ya?"

"Belum, paman," Satsuki menirukan suara anak kecil dan mengelus rambur bayinya. "Rencananya mau malam ini, kalau keluarga sudah pada datang, kalian jangan pulang, ya."

"Kasih nama aja ribet banget, sih. Marga udah pasti Imayoshi, kan, tinggal tambahain depannya, beres."

"Dai-chan, nggak boleh gitu lah. Emangnya, Dai-chan mau anaknya dikasih nama asal-asalan. Salah kasih nama itu nggak baik tahu."

Daiki mencibir, "Kalau si Baka punya anak seru kali, ya."

"Sana nikah aja lagi sama orang lain, gue kan bukan perempuan," ucapnya lirih.

Daiki dan Satsuki berpandangan lalu terbahak bersama, "Hahaha, Bercanda kali, Baka. Punya lo aja di rumah cukup, kok."

"Tsk!"

"Tai-chan, lucu deh kalau ngambek gitu."

Taiga tak menjawab.

Daiki merasa bersalah. Taiga sangat sensitive kalau sudah menyangkut hal semacam ini. sebelum mereka melangsungkan pernikahan mahluk merah itu pernah bilang, "Aomine, lo yakin sama semua ini, gue nggak bisa ngasih lo anak. Kalau suatu saat lo mau punya keturunan, terus lo nikah sama perempuan lain, kayaknya lebih baik disudahi dari sekarang." sampai sekarang, kata itu, suara Taiga yang seperti itu masih terdengar di dalam ingatannya.

"Mau gendong bayinya, enggak?" ucap Daiki mencairkan suasana.

"Hah?" Taiga kaget saat Daiki sudah mengangkat bayi.

"DAI-CHANNNNNN, KAMU APA-APAAN, BAYIKU!" Satsuki berteriak histeris, betapa ngerinya ia saat bayi cantiknya di angkat oleh Daiki. Tidak bisa membayangkan kalau bayinya yang belum genap 24 jam itu harus jatuh ke lantai. Satsuki mending masuk ke rahim ibunya lagi saja.

Daiki menghela napas, "Kalian kenapa sih, nggak akan gue jatohin kok mahluk kecil ini. Nih, Baka, mau gendong nggak?"

"Ah … um … itu … ngnggak ah, g-gue nggak berani."

"Cuma gendong bayi, ulurin tangan lo."

"Ngnggak mau, Aho, sumpah! Takut jatuh."

"DAI-CHAN, BAYIKU, HIKSS!" Satsuki gemetar.

"Cepetan, Baka."

"Ah…. Um… G-gini bukan," Taiga menjulurkan tangannya.

"Nah, ya. Gue kasih nih ya, bayinya. Peganging erat nanti jatoh."

"Um …" Taiga panas dingin, "G-gini?"

Satsuki melihat betapa mengerikan pemandangan di depan matanya. Bayi nan cantiknya harus di buat transaksi yang meragukan seperti itu, rasanya ia mau nangis saja, bagaiman kalau Taiga tak bisa memegangnya dengan erat.

"A-Aho, g-gimana ini, gendongnya gimana? G-gue harus ngapain?"

"Satu tangan lo pegang kepalanya, satunya lagi pegang pantatnya. Huaaaa, awas jatoh, Baka.

"BAYIK–"

GLEK!

Satsuki pingsan. Tidak kuat lagi dengan pemandangan di depan. Sedang Taiga dan Daiki masih sibuk bagaimana cara menggendong bayi.

.

.

.

Semoga terhibur. Ketemu lagi kalau sempat :))..

Salam AOKAGA,

Zoka