Are We Really Friend?

Tidak sesuai EYD; gaje; typo(s)

Soonhoon.

.

Soonyoung keluar dari kelas.

"Bagaimana?" tanya Jihoon yang duduk menunggunya di depan kelas, "berhasil?" Jihoon memandang wajah murung Soonyoung dengan was-was.

Lama, sekitar tiga menit kemudian Soonyoung melebarkan cengirannya dan memeluk Jihoon senang.

"Tentu saja~ aku 'kan punya guru terbaik~"

"Ah, Kwon kau membuatku jantungan!"

"Hehe, mian. Kapan giliranmu?"

"Setelah seseorang setelah kau." Jihoon melepaskan pelukannya dan memasang wajah cemas.

"Hei, chill Ji, kau pasti bisa. Percaya padaku." Soonyoung mengusak surai Jihoon. Jihoon mengangguk.

Pintu kelas terbuka menampilkan wajah suram teman mereka yang baru saja menjalani ujian lisan di dalam kelas itu. Dia menghampiri Jihoon dan dengan lesu memberitahukan bahwa itu gilirannya.

"Semangat Jihoonie!" Soonyoung mengepalkan tangannya memberi semangat.

.

.

"Hoi Soon!" Seokmin menghampiri mejanya dengan Soonyoung.

"Hoi Kuda."

"Kurang ajar." Seokmin menggeplak belakang kepala Soonyoung.

"Heh, kurang ajar. Aku bisa bodoh nanti."

"Kau 'kan sudah bodoh. Bodoh."

"Ya jangan ditambahin!"

"Cerewet sekali. Omong-omong aku ingin bertanya."

"Tinggal bertanya susah sekali." Soonyoung mencoret-coret buku tulisnya.

Seokmin menatapnya sinis. "Kau dan Jihoon itu… ada hubungan apa?" Seokmin menumpukkan kepalanya di atas meja.

"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Penasaran"

"Entahlah, teman? Sahabat? Atau sahabat rasa pacar? Eh tidak dia manis, seperti gulali. Jadi sahabat rasa gulali?"

"Kau tolol ya?" Soonyoung mengendikkan bahunya.

"Aku tahu kau sedang melakukan pendekatan dengan Jihoon kan?"

"Sudah tahu pakai tanya, kau tolol ya?" Soonyoung membalikkan perkataan Seokmin dengan tangan yang masih mencoreti bukunya. Seokmin menghela nafas panjang, mencoba sabar. Untung yang di depannya ini teman, coba kalau bukan sudah dipastikan ia mati saat itu juga dengan telinga yang berdarah—akibat lengkingannya.

.

.

Saat ini kelas sedang sepi. Bukan, bukan karena siswanya konsentrasi pada pelajaran apalagi pulang. Ini jam kosong, sang guru mata pelajaran sedang ada urusan dengan kepala sekolah. Jadi banyak siswa yang meninggalkan kelasnya. Entah pergi ke kantin, perpustakaan—mencari udara dingin AC—atau sekedar berolahraga di lapangan. Namun berbeda dengan Jihoon si anak rajin yang saat ini sedang duduk tenang di bangkunya, membaca buku. Di sebelahnya ada Wonwoo yang juga membaca buku. Sungguh bangku barisan pertama itu benar-benar sunyi. Sayanngnya, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Kericuhanyang terjadi adalah dengan datangnya Seungkwan—si anak cerewet—ke meja mereka.

"Hoon, Jihoon!"

"Hm."

"Kau dan Soonyoung ada hubungan apa?"

Jihoon menurunkan buku yang tengah dibacanya dan menatap Seungkwan dengan tatapan heran. "Apa maksudmu? Tentu saja kami berteman." Yang kemudian menuai teriakan para lelaki gerombolan Soonyoung di bagian belakang kelas. Memang sebenarnya di kelas ini tidak hanya Jihoon dan Wonwoo, ada juga teman sepermainan Soonyoung yang sedang membicarakan sesuatu di belakang.

"Wahaa, berakhir sudah perjuangan ace kita~~"

"Sayang sekali, aku turut berduka cita ya bro!"

Dan berbagai kalimat lain yang bisa dibilang menunjukkan rasa kecewa yang meledek. Jihoon menoleh ke belakang dan bertemu pandanng dengan Soonyoung. Disana, Jihoon melihat ekspresi Soonyoung yang terlhat kecewa tapi masih tetap tersenyum kearahnya.

"Baiklah terimakasih Jihoonie~"

.

.

Jihoon menelungkupkan tubuhnya di atas kasur, merenung. Tentang kejadian di sekolah, tentang pertanyaan Seungkwan, tentang tatapan Soonyoung dan tentang perasaan tidak enak yang menggangunya saat melihat tatapan Soonyoung tadi. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah ia salah bicara? Tapi apa yang salah dengan mengatakan bahwa mereka teman, bukankah mereka memang teman?

Jihoon mendengus kesal. "kenapa aku merasa sangat bersalah pada bocah tengil itu. Menyebalkan!" berakhir dengan ia melempar bantal kearah pintu kamarnya. Ia kemudian membalikkan posisinya menjadi terlentang. Menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi hiasan bintang yang dapat bercahaya dalam gelap (ini permintaan Soonyoung, karena saat menginap di rumahnya Soonyoung suka sekali melihat langit-langitnya. Dan berkata "Ji, kalau kangen lihat hiasan bintang itu ya?" entah apa maksudnya) dan kembali merenung.

"Apakah aku masih bisa menganggapmu teman Soonyoung-ah?" lirih Jihoon dengan pandangan menerawang.

Lagi-lagi jam kosong. "Apakah guru di sekolah ini sangat sibuk sampai mengabaikan murid-muridnya?" gerutu Jihoon seraya bersandar pada dinding di bawah papan tulis. Ia kini berada di bagian depan kelas dengan Wonwoo di sebelahnnya. Membaca buku. Yang ia benci saat jam kosong selain tidak mendapat pelajaran adalah karena kelasya akan sangat ricuh dengan kelakuan teman-temannya. Entah itu perempuan atau laki-laki sama saja. Dan kali ini keributan disebabkan oleh para lelaki yang sedang bermain tembak-tembakan dengan karet. Saat itu Jihoon sedang asyik membaca buku, dengan tiba-tiba ada yang menubruk bagian kanannya. Ia ingin segera memarahi siapapun dia yang dengan kurang ajarnya mengganggu waktu membacanya. Ia menoleh ke kanan dan bertemu dengan surai coklat yang aromanya sangat familiar. Itu Soonyoung. Soonyoung dengan tiba-tiba mendongakkan kepalanya dan menatap Jihoon tepat di mata. "Ji, maaf mengganggu tapi tolong lindungi aku dari para pemburu itu ya?" ini terlalu dekat! Dan ada apa dengan jantungnya? Kenapa dia berdebar dengan sangat cepat? Apa ia terkena penyakit jantung? Tidak, tidak, tidak. Keluarganya tidak punya riwayat penyakit jantung.

Jihoon memengang dadanya tepat dimana jantungnya berdetak. "Kenapa aku berdebar saat berada sedekat itu denganmu Soonyoung-ah?" Jihoon terus memikirkannya hingga ia merasakan matanya yang memberat. Ia tertidur.

.

.

Jihoon terbangun dengan kepala yang terasa lebih berat dan selimut tebal yang membungkusnya hingga leher.

"Oh kau sudah bangun?" Jihoon menoleh ke kanan dan menemukan Soonyoung yang sedang memeras handuk kecil yang kemudian meletakannya di dahinya.

"Kupikir kau itu pintar Ji. Ternyata tidak sama sekali." Jihoon mengerutkn dahinnya.

"Orang pintar mana ada yang membiarkan jendela kamarnya tetap membuka pada musim dingin seperti ini? Dengan ia yang hanya menggunakan baju dan celana pendek?" Soonyoung menatap Jihoon datar.

Jihoon tersenyum tipis, "kau mengkhawatirkanku?"

"Tidak. Untuk apa mengkhawatirkan teman menyebalkan sepertimu?" masih dengan tatapan datar. Jihoon merengut.

"Kau marah ya Soonyoungie?" Jihoon bertanya denga nada lirih dan wajah yang terlihat imut di mata Soonyoung.

"Untuk apa marah? Buang-buang tenaga saja." Soonyoung berusaha menahan rasa gemasnya dengan tetap bersikap ketus.

"Soonyoungie~"

"Wae?"

"Peluk~"

"Aish jinjja! Kenapa kau begitu menggemaskan sih?" Soonyoung menyibak selimut Jihoon dan ikut membaringkan tubuhnya disana.

"Ehehe, sayang Soonyoung." Jihoon semakin merapatkan tubuhnya kearah Soonyoung dan meletakan handuk basah di dahinya ke atas meja nakas. Soonyoung pun tersenyum dan mengelus punggung Jihoon sayang.

Hening. Mereka berdua sama-sama menikmati kehangatan dari pelukan dan selimut yang membungkus mereka berdua.

"Ji,"

"Hm?"

"Mau jadi pacarku tidak?"

Jihoon melonggarkan pelukannya dan menatap Soonyoung kaget. "Apa-apaan."

"Aku serius. Mau tidak?"

"Kenapa tiba-tiba?"

"Tidak kok, ini tidak tiba-tiba Ji. Aku sudah lama mennyukaimu sebenarnya. Kau saja yang tidak peka."

Jihoon terdiam. Soonyoung menatapnya was-was.

"Soonyoung-ah,"

"Ya?"

"Apakah dengan berdebarnnya jantungku dengan sangat cepat itu termasuk jatuh cinta?" Jihoon menatap Soonyoung dengan pandangan penuh harap.

"Entah kenapa setiap di dekatmu aku merasa seperti itu." Jihoon menunduk, ia memainkan jarinya di dada Soonyoung. Soonyoung termenung sebentar untuk mencerna perkataan Jihoon, kemudian setelahnya ia merengkuh Jihoon kembali dengan erat.

"Ah Jihoonieku manis sekalii~~"

Jihoon yan terkejut dengan gerakan tia-tiba itu hanya meronta.

"Ya mwoya?!"

"Ji, kau jatuh cinta padaku Ji! Senangnya~" Soonyoung masih memeluk Jihoon erat.

"Ya ya ya, aku tidak bisa bernafas bodoh." Soonyoung melonggarkan pelukannya untuk menatap Jihoon. "Jadi…kekasih?"

Terlihat pipi Jihoon merona dengan lucunya. Ia kemudian menenggelamkan wajahnya di dada Soonyoung. Soonyoung bisa merasakan anggukan kecil di dadanya. Ia lalu mencium puncak kepala Jihoon sayang dan mengeratkan pelukannya. Ia akan tidur dengan nyenyak malam ini.

.

-kkeut-

.

Ehehehe, annyeong! Lama bgt ngga nongol ya? Kangen gak? Gak ya? Yaudah :')

Nggantung ya? Aku bingung juga kenapa jadi kyk gini cerita ini terinspirasi dr kisah cinta salah satu temanku. Walaupun ngga persis. Cuma nyontek dikit, hehe.

Um btw, aku mau hiatus nih. Sebenernya udah niat hiatus dari lama, soalnya entah knp kehidupan kelas 12ku padet banget. Jd aku mutusin buat nulis satu cerita lagi buat pamitan mau hiatus dan minta doa restu dari kalian semua para readerku tersayang ((love))

Doakan aku supaya bisa masuk jurusan yang aku pengenin lewat snmptn ya guys! Dan semoga UN-ku beserta teman-temanku tersayang bisa lancar jaya, hehe. Aamiin.

Maaf kalau mengecewakan. Dan sebenernya aku udah baca review kalian di chap sebelumnya, maaf ngga bisa balesin satu2 tp itu nyemangatin bgt hehe. Makasih semuanya

Salam sayang, Sonewbamin. ((kiss&hug))

.

.

.

.

Epilog

Pagi ini Jihoon terbangun dengan sepasang tangan yang melingkar erat di pinggangnya. Ia mendongak dan melihat wajah polos Soonyoung yang sedang terlelap. Kemudin ia melihat jam yang tertera di dinding kamarnya, lantas ia terduduk. Hal ini membuat Soonyoung terkejut dan terbangun.

"Kau kenapa Ji?"

"Ya! Kau tidak sekolah? Ini sudah jam setengah tujuh bodoh!"

Soonyoung kembali memeluk pinggang Jihoon dan menenggelamkan wajahnya disana, "bolos saja, aku ingin merawat kekasihku yang sedang demam ini."

"Haish mana boleh begitu Soon! Ayo bangun!"

"Tidak mau~~"

"Soonyoung!"

"Tidak mau Jihoon~"

"Ya! Kwon Soonyoung!"

"Shireo Lee Jihoon~"

"Aish molla!" Jihoon menyerah. Ia kembali berbaring dan Soonyoung tersenyum penuh kemenangan dengan mata terpejam. Mengeratkan pelukannya pada si mungil.

Cup

Soonyoung mencuri sebuah kecupan di bibir Jihoon. Ia kemudian mengintip reaksi yang ditunjukkan oleh kekasih mungilnya ini. Kemudian terkekeh.

"Kau manis sekali saat merona seperti itu Jihoonie~"

Jihoon memukul lengan Soonyoung di pinggangnya dan menenggelamkan wajahnya di dada Soonyoung. "Berisik!"

Soonyoung terkekeh lagi. Sepertinya hari ini akan mereka habiskan dengan berbaring sambil berpelukan berbagi kehangatan di ranjang empuk dan nyaman milik si mungil.