BL; GAJE; TYPO(S)

JEONGCHEOL


Pukul lima lebih tiga puluh menit. Pagi buta seperti itu harusnya suasana tenang dan damai. Orang-orang pastilah masih bergelung di atas tempat tidur mereka berlapis bed cover tebal sebagai penghangat. Apalagi ini bulan Februari, penghujung musim dingin. Tapi tidak dengan sebuah rumah atau lebih tepatnya sebuah kamar di dalam sebuah rumah.

Pagi itu Jeonghan bangun terlalu pagi. Ia langsung berlari ke kamar mandi untuk menuntaskan panggilan alamnya. Setelah itu ia pergi bercermin, entah apa yang membuatnya ingin bercermin dipagi buta seperti ini. Lalu yang terjadi, kamar mandi itu dipenuhi oleh kebisingan yang ia timbulkan.

"Oh astaga! Wajahku!" ia menyentuh kedua sisi wajahnya.

"Ini tidak mungkin terjadi, tidak! Wajah sempurnaku!"

Ia memasang wajah seolah hidupnya berakhir saat itu juga dengan tatapan yang tertuju pada salah satu tempat di wajahnhya. Tepat di tempat sebuah noda merah kecil menempel pada sudut kanan bibirnya.

"Kenapa kau muncul sih?!" ia menunjuk noda itu. Tapi apa daya, tenaganya yang terlalu kuat karena gemas itu menyebabkan telunjjuknya tergelincir menekan noda tersebut.

"AH, SIALAN! SAKIT SEKALI!"


Hari ini hari libur. Hari libur itu sebenarnya untuk bermalas-malasan. Tapi tidak untuk Jeonghan yang sedang ditimpa masalah besar. Tidak, sebenarnya ini masalh kecil, dia saja yang berlebihan memang. Ia sedang sibuk browsing cara untuk menghilangkan jerawat dengan cepat. Iya jerawat, masalah besarnya Jeonghan itu hanyalah sebuah jerawat di sudut kanan bibirnya. Sedang asyik browsing tiba-tiba seseorang menelponya. Setelah melihat id, ia cepat-cepat menjawabnya.

"Yo, Cheol-ah! Cepat ke rumahku sekarang juga." Setelah berbicara dua kalimat itu ia memutuskan sambungan secara sepihak.


Seungcheol tiba di rumah Jeonghan setengah jam kemudian. Ia tentu saja tidak menghiraukan perintah Jeonghan tadi. Untuk apa ia cepat-cepat ke rumah tetangganya itu saat ia sedang asyik sarapan. Ia masuk ke dalam rumah Jeonghan dan bertemu ibu Jeonghan yang sedang mempersiapkan sarapan di meja makan.

"Pagi Bibi." Sapanya sembari menghampiri ibu teman sepermainannya ini.

"Oh, Cheol. Selamat pagi."

"Bibi masak apa? Harum sekali."

"Sup jamur, bibi sedang ingin yang hangat-hangat." Nyonya Yoon menatap wajah Seungcheol yang berbinar. Walaupun ia sudah sarapan tapi harum masakan nyonya Yoon ini membuatnya lapar kembali

"Kau boleh makan kalau kau berhasil membawa Jeonghan turun, Cheol." Katanya.

Seungcheol mengernyit, "loh, memangnya dia sedang apa?" tanyanya kebingungan. Karena tidak biasanya Jeonghan melewatkan makanan masakan ibunya ini.

"Entahlah, bibi panggil-panggil tidak keluar."

"Baiklah, aku membujuk tuan putri dulu ya, Bi. Tunggu aku hidangan lezat." Ia kemudian berbalik cepat menuju kamar Jeonghan di lantai atas, sedangkan nyonya Yoon menggelengkan kepalanya, geli dengan sikap kekanakan anak tetangganya itu.


"Han?" Seungcheol melongokkan kepalanya ke dalam kamar Jeonghan. Setelah melihat sekeliling dan tidak menemukan Jeonghan dimanapun ia memutuskan masuk ke dalam.

"Jeonghan!" panggilnya lagi. Tiba-tiba muncul kepala Jeonghan dari kamar mandi. Melihatnya dengan tatapan tanya.

"Eng... wajahmu kenapa?" tanyanya setelah melihat wajah Jeonghan yang mengkilap.

"Aku sedang menggunakan masker."

"Masker apa?"

"Putih telur dan madu." Jawaban Jeonghan menimbulkan kernyitan jijik dari Seungcheol.

"Untuk apa?"

"Menghilangkan jerawat."

Kernyitan jijik belum hilang dari wajah Seungcheol. Ia lalu mengedikkan bahunya dan berjalan ke arah kasur Jeonghan. Ia tiduran disana sambil memainkan ponselnya.

"Cepat Han! Bibi sudah masak sup jamur!"

Tidak ada jawaban dari Jeonghan. Sedang ia terlalrut pada game yang dimainkannya.


Setengah jam berlalu dengan Jeonghan yang telah selesai bermasker ria dan sedang membasuh wajahnya di kamar mandi. Lima menit kemudian ia keluar dengan wajah merengut dan berjalan mendekati Seungcheol yang masih asyik memainkan ponselnya.

"Tidak mau hilang!"

Seungcheol mengalihkan pandanganya kearah Jeonghan. "Apanya?"

"Jerawatnya! Nih, lihat nih." Jeonghan memajukan wajahnya, menunjukkan letak jerawatnya.

Seungcheol menghela napas, "kan tidak langsung hilang Han. Butuh proses."

"Ih, menyebalkan. Wajahku jadi tidak sempurna lagi!" Seungcheol menatap Jeonghan sangsi.

Jeonghan bangkit menghampiri kaca di depan lemarinya. Seungcheol menatapnya. Kemudian menyusul Jeonghan ke depan lemari.

"Kau tahu tidak Han?" Seungcheol memandang wajah Jeonghan yang terpantul di cermin. Jeonghan menghentikkan kegiatan sentuh-menyentuh-sekitar-jerawat-nya dan memandang Seungcheol memalui cermin. Pandangan mereka bertemu.

"Mitosnya kalau kau berjerawat, artinya ada yang sedang jatuh cinta padamu."

Jeonghan mendengus, "cih! Mitos dari mana itu. Konyol." Ia melanjutnya kegiatannya lagi.

Seungcheol masih memandangi pantulan wajah Jeonghan. "Awalnya aku juga tidak percaya, tapi sepertinya sekarang percaya."

Jeonghan membalikkan badannya, menatap Seungcheol tidak percaya. "Kau dungu ya?" Celanya tanpa perasaan.

Seungcheol tersenyum, lalu ia menangkup kedua sisi wajah Jeonghan dan mengecup tempat dimana sang jerawat menempel. Jeonghan membulatkan kedua bola matanya terkejut.

"Aku percaya, karena sekarang aku sedang jatuh cinta padamu." Seungcheol menatap Jeonghan lembut.

"Dan bagiku, mau kau berjerawat ataupun tidak, kau tetap sempurna. Karena kau seorang Yoon Jeonghan. Yoon Jeonghan kesayanganku." Seungcheol mengecupnya lagi, kali ini tidak pada jerawatnya, ia menggeser sedikit arah ciumnya menjadi bibir tipis Jeonghan.

"Oh aku lupa tujuanku menelfonmu. Ayo ke karnaval. Aku mendapatkan dua tiket gratis dari Jihoon." Seungcheol memandang wajah terkejut Jeonghan dan terkekeh.

"Ayo siap-siap, setelah kau sarapan kita pergi. Aku ingin mengajakmu berkencan terlebih dahulu." Jeonghan masih diam terpaku dengan pipi yang bersemu.

"Aku akan pulang dan bersiap-siap juga. Tiga puluh menit aku kemari lagi." Seungcheol mengecup Jeonghan sekali lagi kemudian berbalik menuju pintu.

Setelah Seungcheol pergi, Jeonghan baru tersadar dari keterkejutannya. Ia menangkup kedua pipinya dan berbalik menghadap cermin. Ia memperhatiakn wajahnya yang bersemu merah dan tersenyum malu-malu.

"Dia itu apa-apaan sih."


-n-


halo, alurnya kecepetan ya? hehe maaf

saya sedang menghibur diri, dari kehidupan tingkat akhir(?) ini yg melelahkan. dan aku rindu jeongcheol, dan ternyata jeongcheol lagi banyak momen, huhu.

ini terispirasi dari percakapanku dkk waktu nunggu giliran uprak wkwk. kami membicarakan mitos ngga jelas :')

oh, oh, oh! dan

SELAMAT HARI CARAT!

SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK SEMUA CARAT! SEMOGA KITA MENJADI SEMAKIN BAIK DAN SOLID UNTUK KEDEPANNYA~~

SAYANG KALIAN SEMUA, CARAT-CARAT Q! ((LOVESTRUCK))

.

terakhir, berniat review?


Epilog

Hari sudah mulai petang, dua sejoli yang baru saja meresmikan hubungannya pagi tadi itu sedang berjalan bersisian dengan tangan mereka yang saling tertaut.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Apanya?"

"Jatuh cintanya."

"Siapa yang tiba-tiba? Aku sudah lama menyukaimu tahu. Kau saja yang kurang peka."

"Ya gimana mau peka kalau kodemu kurang keras."

"Kau 'kan lelaki, kenapa juga harus dikode?"

"Lalu aku tau kau suka padaku bagai mana kalau tidak dikode?"

"Oh iya ya." Seungcheol mengangguk-anggukan kepalanya seperti orang bodoh.

Jeonghan memasang wajah datar, "bodoh." Dan berjalan mendahului Seungcheol.

"Ya! Jeonghana! Tunggu~~"