Seventeen dan Pristin belong to God, Pledis and their parents
Fall For You © Bianca Jewelry
Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)
Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)
Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)
Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: M for safe
Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.
.
Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini.
.
"Mau makan apa Han?" tanya Seungcheol mengalihkan pandangannya dari buku menu dan melihat Jeonghan.
"Rib eye, green salad, dan pink mojito. Kau apa?" Jeonghan menutup buku menunya.
"Tenderloin dan espresso. Sudah? Tidak mau pesan yang lain?"
"Potato wedges."
Seungcheol memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka.
Satu bulan setelah Seungcheol berkenalan dengan Jeonghan, pada hari Sabtu pukul setengah enam, lelaki itu menjemput Jeonghan di apartemen dan mengajaknya ke Cloud Café di daerah sungai Han untuk makan malam. Keduanya tampak tampan dan cantik. Seungcheol menggunakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku dengan dua kancing paling atas yang sengaja dibuka dengan jeans dan sneakers. Sementara Jeonghan menggunakan mini dress berwarna putih polos tanpa lengan yang menampilkan lekuk tubuh indahnya dengan heels hitam sepuluh senti.
"Jadi ada apa tiba-tiba mengajakku ke sini?" tanya Jeonghan sambil melipat tangan di meja setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.
"Ada yang ingin aku bicarakan," jawab Seungcheol kemudian tersenyum.
"Bicara saja."
"Setelah makan?"
Jeonghan mengangguk.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Keduanya makan dengan lahap. Seungcheol sesekali menggoda Jeonghan, Jeonghan yang tidak mau kalah pun balas menggoda Seungcheol.
.
"Jadi?" tanya Jeonghan sambil memutar-mutar sedotan dalam gelasnya dengan tatapan menggoda.
Seungcheol melempar senyum menggoda.
Jeonghan tertawa. "Ada apa sih Cheol-ie? Kau membuatku penasaran."
Seungcheol menyeringai dan berdiri mendekati Jeonghan kemudian meraih tangan perempuan itu. "Ikut aku."
Jeonghan menautkan kedua alisnya dan mengikuti Seungcheol untuk membayar makanan mereka kemudian meninggalkan café.
.
"Wow! Ini indah Cheol-ah!" kata Jeonghan kagum saat melihat pemandangan di atas kapal Ferry dari Sungai Han. Gadis itu berjalan di atas geladak kapal, mendekati palang besi dan memegangnya.
"Suka?" tanya Seungcheol mendekati Jeonghan kemudian memeluknya dari belakang. Ia meletakkan dagunya pada bahu Jeonghan.
Jeonghan mengangguk antusias dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Keduanya terdiam menikmati pemandangan dari Sungai Han sampai Jeonghan menyentuh tangan Seungcheol yang melingkar pada pinggangnya. "Jadi? Masih belum mau memberi tahuku?"
Seungcheol terkekeh, kemudian membalikkan badan Jeonghan agar menghadapnya dan menggenggam tangan Jeonghan. "Aku tahu ini baru satu bulan sejak kita berkenalan. Tapi aku rasa aku menyukaimu. Mau jadi pacarku?"
Jeonghan menatap Seungcheol sejenak kemudian ia tersenyum dan mengangguk. "Aku mau jadi pacarmu."
Seungcheol tersenyum bahagia dan memeluk Jeonghan. "Terima kasih."
Jeonghan balas memeluk Seungcheol dan mengangguk dalam dekapan pemuda Choi itu. Kemudian Jeonghan memutar badannya untuk melihat pemandangan dari atas kapal itu lagi.
Seungcheol melingkarkan tangannya pada pinggang Jeonghan erat sambil sesekali menggodanya. Jeonghan menyamankan diri dalam dekapan Seungcheol dan membalas godaan dari pemuda itu.
Keduanya menikmati pemandangan Sungai Han sampai puas kemudian Seungcheol mengantar Jeonghan pulang ke apartemennya.
.
"Maaf jadi membuatmu menemaniku," kata Doyoon.
"Tidak masalah, aku juga sedang tidak sibuk," ucap Seungcheol mengambil gelasnya dan menyandarkan punggungnya di sofa.
Hari Minggu. Satu minggu setelah Seungcheol resmi dengan Jeonghan, ayahnya tiba-tiba menggedor pintu kamarnya dan meminta Seungcheol untuk menemani Doyoon yang sedang berbelanja di Myeongdong. Seungcheol dengan malas berjalan ke kamar mandi dan merutuk kemudian bersiap. Setelah itu ia mengendarai Ducati Streetfighter 848nya ke tempat yang disebutkan Doyoon.
Seungcheol akhirnya menyetujui permintaan ayahnya untuk dijodohkan dengan Doyoon agar fasilitasnya tidak dicabut. Seungcheol berpikir dengan mengikuti permainan ayahnya sampai hari pertunangan dilaksanakan, pertunangannya dengan Doyoon akan dibatalkan karena Seungcheol akan memperkenalkan Jeonghan pada orang tuanya. Seungcheol hanya butuh berlaku manis pada Doyoon agar ayahnya percaya kalau Seungcheol mulai menyukai Doyoon. Ide bagus!
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Doyoon kemudian menyuap makanannya yang tersisa sedikit.
"Begitulah, sebentar lagi tugas akhirku selesai," jawab Seungcheol kemudian mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
"Oh."
"Dulu di Harvard ambil jurusan apa?" tanya Seungcheol basa-basi.
"Bisnis."
"Sekarang kerja di perusahaan ayahmu?"
"Iya. Kau juga?" Doyoon mengelap sudut bibirnya dengan tisu.
"Hanya bantu-bantu sesekali. Tidak terlalu tertarik sebetulnya," kata Seungcheol malas. "Sudah selesai?"
Doyoon mengangguk kemudian menghabiskan avocado blendednya.
"Mau ke mana lagi? Biar aku antar."
"Sepertinya aku akan pulang saja. Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau."
"Ayo aku antar," kata Seungcheol yang sudah siap berdiri.
"Tidak usah Seungcheol-ssi, aku bisa naik taksi."
"Appa akan memarahiku kalau aku tidak mengantarmu pulang dengan selamat."
Doyoon meringis. "Baiklah."
Seungcheol menghabiskan minumannya kemudian berdiri dan berjalan ke arah Doyoon yang sedang menenteng enam tas kertas hasil buruannya tadi. Ia sudah siap mengambil alih tas kertas dari tangan kanan dan kiri Doyoon. "Biar aku saja."
"Tidak usah Seungcheol-ssi. Nanti aku merepotkanmu," kata Doyoon dengan senyuman dan melarang Seungcheol mengambil tasnya.
"Tidak apa-apa. Dan aku tidak merasa direpotkan," ucap Seungcheol dan akhirnya keenam tas itu berada di tangan kanan dan kiri Seungcheol.
"Terima kasih." Doyoon tersenyum.
Mereka meninggalkan restoran dan menuju ke parkiran.
.
Seungcheol sudah naik ke motornya dan meletakkan tiga tas kertas pada stang kiri motornya dan tiga tas lain pada stang kanan. Ia menyerahkan helm penumpang kepada Doyoon kemudian memakai helmnya sendiri. Seungcheol menoleh ke arah Doyoon dan membuka kaca helmnya. "Tidak apa-apa naik motor?"
"Tidak apa-apa." Doyoon menggunakan helmnya dan duduk di belakang Seungcheol. Ia merasa beruntung karena tadi tidak jadi mengenakan rok. "Baru kali ini aku naik motor."
"Oh ya?"
"Iya."
"Aku yang pertama dong?"
"Apanya?" tanya Doyoon tidak mengerti.
"Memboncengmu. Sudah?"
"Iya sudah. Terus bangga?"
"Iya dong, 'kan pengalaman pertama." Seungcheol terkekeh. "Pegangan."
"Cheesy!" gumam Doyoon pelan dengan senyum geli. "Dimana?" tanya Doyoon bingung karena tidak ada pegangan pada bagian belakang motor Seungcheol.
Seungcheol mengambil kedua tangan Doyoon kemudian memasukkan tangan perempuan itu pada saku jaket yang dikenakannya. "Dan jangan panggil aku Seungcheol-ssi."
Doyoon tercengang dengan perlakuan Seungcheol namun membiarkan Seungcheol untuk melakukannya. "Cheol-ah atau Cheol-ie boleh?"
Seungcheol mengangguk. "Siap?"
"Iya."
Seungcheol melajukan motornya dan Doyoon tersenyum diam-diam tanpa diketahui Seungcheol.
.
Malam minggu, jam menunjukkan pukul sebelas dan Mingyu bosan setengah mati. Apalagi Jeonghan sekarang sedang mengerjakan tugasnya dan dia diabaikan.
"Noona," panggil Mingyu. Ia bersandar pada sofa dan menatap televisi dengan malas sesekali melirik Jeonghan yang fokus sekali pada laptopnya.
"Hm?" balas Jeonghan yang duduk bersila di lantai berkarpet. Matanya menatap layar laptop dengan jari yang menari di atas keyboard.
"Ayo pergi."
"Kemana?"
"Clubbing."
Jeonghan tidak merespon dan masih sibuk mengerjakan tugasnya.
"Noonaa~" panggil Mingyu lagi.
"Apa?"
"Ayo pergii~" jawab Mingyu manja.
"Kau tidak ada tugas?"
"Ada sih. Tapi 'kan bisa dikerjakan nanti."
Jeonghan kembali mendiamkan Mingyu.
"Noonaaaa~" Mingyu merendahkan badannya untuk memeluk leher Jeonghan. Kemudian menggigit telinga Jeonghan dan mengulumnya.
Jeonghan mendesis. "Lepaskan tanganmu Gyu. Lebih baik kau mengerjakan tugasmu daripada clubbing." Jeonghan masih fokus dengan tugasnya.
"Ayolah noona. Ini malam minggu. Masa kerja tugas," kata Mingyu sambil menciumi puncak kepala Jeonghan.
Jeonghan diam lagi.
"Hanahhhh~" —panggilan sayang dari Mingyu untuk Jeonghan. Mingyu memohon dan menghujani Jeonghan dengan ciuman di pipi.
Jeonghan menghela napas. "Satu jam lagi. Sebentar lagi tugasku selesai."
Mingyu tersenyum senang dan mengecup puncak kepala Jeonghan. Jeonghan tersenyum dan membawa tangannya ke belakang kepala Mingyu untuk mengacak rambutnya.
.
Hari Minggu kembali datang. Waktu menunjukkan pukul sepuluh ketika Seungcheol menekan bel rumah kediaman Jang dan menunggu sampai gerbang rumah keluarga Jang membuka otomatis. Seungcheol masuk dan disambut oleh Nyonya Jang dari pintu utama.
"Ada apa nak Seungcheol?" Nyonya Jang tersenyum ketika Seungcheol sudah berada di hadapannya.
Seungcheol balas tersenyum. "Aku mau mengajak Doyoon pergi ahjumma."
"Oh. Mari masuk."
Seungcheol memasuki rumah keluarga Jang dan menunggu di ruang tamu.
"Doyoon!" teriak ibunya dari lantai bawah.
"Ya eomma?"
"Seungcheol datang menjemputmu!"
Di kamarnya, Doyoon mengerutkan kening mendengar jawaban ibunya. Seingatnya ia tidak membuat janji apapun dengan Seungcheol. Jadi ia memutuskan untuk turun dan menemui Seungcheol masih dengan piyamanya. Ia bahkan belum mandi.
"Hai Seungcheol-ie," sapa Doyoon. "Ada apa?" tanyanya mendekati Seungcheol yang duduk memunggunginya.
Seungcheol menoleh dan tertawa kecil melihat Doyoon yang masih memakai piyama. Ia berdiri dari duduknya. "Hai. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Cepat mandi sana!" kata Seungcheol sambil mengacak-acak rambut Doyoon.
Doyoon tertawa dan menyingkirkan tangan Seungcheol dari kepalanya. "Tunggu sebentar ya." Kemudian Doyoon berlari ke lantai atas untuk mandi dan bersiap.
Seungcheol tersenyum. Tiba-tiba ia merasakan desiran aneh ketika melihat Doyoon tertawa.
Jenis tawa yang familiar.
.
"Jadi kita mau ke mana, Cheol-ah?" tanya Doyoon setelah Seungcheol melajukan mobilnya.
"Kau mau ke mana?" tanya Seungcheol balik.
Doyoon tertawa. "'Kan kau yang mengajak, kenapa jadi tanya aku?"
Dada Seungcheol kembali berdesir. "Sky Rose Garden?"
"Tidak."
Seungcheol menoleh sekilas kemudian kembali memperhatikan jalanan. "Tidak mau?"
"Tidak menolak." Doyoon kemudian tertawa.
Seungcheol ikut tertawa dan mengacak surai Doyoon.
Saat Seungcheol menjauhkan tangannya, Doyoon menolehkan kepalanya ke kanan dan menatap ke luar jendela. Ia tersenyum tipis.
.
"Mau nonton apa?" tanya Seungcheol di sebelah Doyoon saat mereka melihat daftar film yang ditayangkan di DaeHan Cinema Multiplex. Seungcheol mengajak Doyoon untuk nonton sebelum naik ke lantai atas gedung itu untuk melihat mawar-mawar yang indah.
"Hm… Apa ya?"
Seungcheol kemudian berpindah ke belakang Doyoon dan memeluk leher Doyoon dengan kedua tangan. Dagunya ia letakkan pada puncak kepala Doyoon.
Doyoon mengerjapkan matanya beberapa kali. "Seungcheol-ah," panggilnya ragu.
"Hm?"
Doyoon memegang tangan Seungcheol dan sedikit menariknya. "Tanganmu…"
Seungcheol meringis kemudian menjauh dari Doyoon. "Maaf, tidak suka ya?"
Doyoon menatap Seungcheol. "Bukan begitu. Hanya saja—"
Seungcheol tersenyum kemudian menepuk kepala Doyoon. "Aku mengerti. Jadi mau nonton film apa?"
"Itu saja," kata Doyoon sambil menunjuk sebuah poster film.
Seungcheol mengangguk kemudian mereka berdua antri untuk membeli tiket.
.
Doyoon yang sedang fokus memperhatikan layar lebar menoleh ke arah bahunya yang sekarang terasa berat. Kepala Seungcheol bersandar pada bahu Doyoon. Kali ini Doyoon membiarkannya dan malah menusuk-nusuk pipi kiri Seungcheol.
"Mengantuk?" tanya Doyoon pada Seungcheol.
Seungcheol menggeleng.
"Bosan?"
"Lumayan," jawab Seungcheol dengan tawa kecil.
Doyoon ikut tertawa dan mengacak surai hitam Seungcheol. "Sebentar lagi filmnya selesai." Kemudian Doyoon kembali memperhatikan layar yang ada di depannya dan membiarkan Seungcheol bersandar pada bahunya sampai film selesai.
.
Setelah filmnya selesai, Seungcheol mengajak Doyoon ke Sky Rose Garden yang terletak di lantai paling atas gedung itu. Wajah Doyoon berseri ketika melihat aneka bunga mawar berbagai warna. Seungcheol mengajaknya duduk pada salah satu tempat kosong.
"Tadi filmnya lumayan bagus. Kenapa bosan?" tanya Doyoon setelah mereka duduk pada kursi kosong.
"Tidak terlalu suka."
Doyoon meringis. "Lalu kenapa tadi kau bilang iya? Kita bisa menonton yang lain."
Seungcheol tertawa. "Tidak apa-apa. Dilihat dari cover bagus, tapi ternyata tidak terlalu seru."
Doyoon mengangguk paham. Kemudian ia melihat ke sekelilingnya. "Mawarnya bagus ya."
Seungcheol memetik bunga mawar merah muda yang ada di dekatnya kemudian menyelipkannya pada rambut Doyoon.
Pipi Doyoon bersemu. Doyoon menoleh ke kiri dan ke kanan. "Tidak apa-apa?"
Seungcheol tertawa. "Tidak ada yang melihat."
Doyoon tersenyum simpul dan menggaruk pipinya dengan telunjuk.
"Sudah lapar? Mau makan di sini atau di luar?"
"Terserah kau Cheol-ah."
Seungcheol mengangguk kemudian mengajak Doyoon untuk makan di luar setelah itu mengantarnya pulang ke rumah.
.
Soonyoung dan Jihoon sedang duduk di meja bar sejak jam sepuluh lebih beberapa menit dan menunggu teman-teman Soonyoung untuk datang. Keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Jihoon sedari tadi bergerak gelisah di tempatnya. Jihoon menyimpan ponselnya pada saku kemudian turun dari kursinya dan mendekati Soonyoung. Ia menarik ujung kaus yang dikenakan Soonyoung. "Soon," panggilnya. "Ayo pulang."
Hari Rabu, pukul setengah sebelas. Jihoon biasanya akan ikut kumpul-kumpul saat hari biasa dengan teman-teman Soonyoung di klub malam langganan pacarnya dan teman-temannya. Kegiatan repetitif Jihoon saat berada di klub itu adalah datang bersama Soonyoung, duduk di meja bar dan setengah jam kemudian minta pulang kepada Soonyoung. Sebetulnya Jihoon paling tidak suka dengan tempat seperti ini. Lebih baik ia mendekam di apartemennya untuk menggarap lagu baru daripada kumpul-kumpul tidak jelas. Tapi berhubung Jihoon masih sayang sama Soonyoung dan tidak mau Soonyoung selingkuh, jadilah ia mengunjungi tempat itu sesekali.
"Ini baru setengah jam sejak kita masuk sayang. Bahkan teman-temanku belum datang."
Jihoon makin mempererat genggamannya pada kaus Soonyoung.
Soonyoung tersenyum. Senang jika pacarnya manja seperti ini. Soonyoung turun dari kursinya dan membawa Jihoon untuk duduk. Jihoon meletakkan dahinya pada bahu Soonyoung. Lelaki Kwon itu mengelus kepala Jihoon kemudian mengusap-usap pipi tembam pacarnya. Ia merendahkan kepalanya kemudian berbisik, "Dingin?"
Jihoon mengangguk—hanya modus Jihoon untuk memakai jaket Soonyoung sebenarnya.
Soonyoung melepas jaket kulit hitamnya dan memakaikannya pada Jihoon kemudian menyodorkan jus jeruk yang tadi dipesan Jihoon.
Jihoon menggeleng.
Soonyoung meletakkan gelas berisi jus jeruk pada meja bar.
"Hai Kwon, Jihoon!" sapa Jun dengan seorang pemuda yang merangkulnya. "Sudah lama?"
Soonyoung menoleh pemuda yang menyapanya. "Hai Jun, Mingming juga." Ia bersandar pada meja bar di sebelah kursi yang diduduki Jihoon dan menautkan jemarinya pada jemari pacarnya. "Setengah jam yang lalu. Lama sekali sih kalian. Mingyu mana?"
Jihoon membalas sapaan Jun dengan anggukan kecil.
"Hai hyung," balas Mingming. Ia tersenyum. "Hai noona."
Jihoon kembali mengangguk, kali ini disertai senyum tipis.
"Nanti menyusul katanya," jawab Jun.
"Oh."
Kemudian Jun memesan segelas Martini—campuran gin dengan vermouth yang tidak manis lalu dihias dengan buah zaitun—pada bartender.
Setengah jam kemudian. Dua orang perempuan datang dari arah lantai dansa menuju meja bar mendekati dua pasangan yang sedari tadi enggan untuk beranjak dari sana.
"Halo halo. Lama tidak jumpa!" sapa perempuan yang akrab disapa Minkyung—Kim Minkyung.
"Minkyung, Nayoung noona. Kemana saja?" tanya Soonyoung.
"Hai semuanya," sapa Nayoung sambil tersenyum. "Banyak tugas Soon."
Jun, Mingming dan Jihoon hanya tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya untuk menyapa Minkyung dan Nayoung.
"Hai cantik, hai semuanya," sapa lelaki dengan surai abu-abu dari belakang kedua perempuan itu dan pada kedua pasangan di sana sambil merangkul Minkyung dan Nayoung. "Lama tidak melihat kalian."
"Mingyu!" seru Minkyung senang sambil melepas tangan Mingyu dari bahunya kemudian memeluknya. "Aku rindu padamu!"
Mingyu tersenyum. "Aku juga."
"Kim, jangan dekat-dekat," desis Nayoung sambil melepas tangan Mingyu dari pundaknya.
Mingyu terkekeh. "Kenapa?"
"Perlu aku ingatkan kalau kau itu mantanku?"
"Terus kenapa kalau mantan?" tanya Mingyu dengan senyum geli.
Nayoung berdecak kesal dan meninggalkan Mingyu ketika melihat Seungcheol merangkul Jieqiong yang berjalan menuju lantai dansa dan menghampiri mereka.
Mingyu tertawa melihat reaksi Nayoung.
"Mingyu apa kabar?" tanya Minkyung.
"Baik sayang. Kamu?" tanya Mingyu sambil mengacak rambut Minkyung.
"Baik juga. Ayo menari," ajak Minkyung sambil menarik Mingyu ke lantai dansa.
Jun dan Soonyoung geleng-geleng kepala melihat tingkah Mingyu.
.
Satu jam kemudian, dari meja bar, Soonyoung, Jihoon, Jun dan Mingming dapat melihat bule tampan yang akrab disapa Vernon sedang menenangkan seorang perempuan. Perempuan itu kemudian menampar Vernon dan melangkah ke arah meja bar. Bukannya merasa kesakitan, Vernon malah menyeringai.
"Aw." Jun mengaduh melihat Vernon ditampar sementara Soonyoung tertawa melihatnya.
Mingming memeluk leher Jun dengan sebelah tangan. "Kau ini. Yang dipukul siapa yang mengaduh siapa."
Jun terkekeh menanggapi Mingming.
"Ayolah Woo, jangan marah," kata Vernon sambil mengguncang pundak perempuan yang dipanggil Woo itu—Jung Eunwoo.
"Aigoo aigoo. Apa yang kau perbuat Vernon sampai membuat perempuan cantik di sini marah hm?" tanya Jun.
Vernon meringis. "Hanya menggoda Kyla?"
"Oh. Itu yang kau sebut menggoda?!" omel Eunwoo sambil berkacak pinggang.
"Ayolah jangan marah, aku 'kan sudah minta maaf."
Eunwoo berdecak dan memesan Cosmo—vodka, triple sec, jus cranberry, dan perasan air lemon—ke bartender.
Vernon mendekati Eunwoo lagi. "Ya ya ya? Jangan marah ya?"
"Dasar brengsek."
Vernon meringis. "Biar brengsek begini tapi kau suka 'kan?" goda Vernon.
Eunwoo berbalik setelah mendapat pesanannya dan mencubit pinggang Vernon kemudian meninggalkannya.
Vernon menyeringai menatap kepergian Eunwoo dan memesan Gin and Tonic. Ia mendorong Soonyoung pelan agar bergeser. "Geser hyung. Kau makan tempat," kata Vernon dengan tawa kecil. Ia bersandar pada meja bar kemudian menyapa Jun dan Mingming.
Soonyoung mendengus dan berpindah ke depan Jihoon yang sedang memperhatikan orang-orang di lantai dansa.
"Hai oppa," sapa seorang perempuan sambil memeluk Soonyoung dari belakang. Ia berjinjit sedikit untuk meletakkan dagunya pada bahu Soonyoung. "Hai eonni," sapanya pada Jihoon sambil tersenyum kemudian melepas pelukannya pada Soonyoung.
Jihoon menjambak rambut Soonyoung dengan sebelah tangannya yang bebas dengan wajah tanpa dosa.
"ADUDUDUDU— JIHOON-IE. Sakit!" Soonyoung mengaduh sambil memegang tangan Jihoon yang menjambak rambutnya.
Perempuan itu dengan santai berjalan ke sebelah kursi Jihoon dan memesan minuman pada bartender.
Soonyoung menarik telinga perempuan itu agar ia menghadap ke arahnya. "Kau sengaja ya?"
Perempuan itu cengar-cengir. "Iya."
Soonyoung mendengus sementara Jihoon tertawa kemudian mengacak surai hitam Soonyoung. Lalu Jihoon mengalungkan tangannya pada leher Soonyoung dan menempelkan sisi wajahnya pada sisi wajah Soonyoung sejenak sebelum menjauhkan kepalanya.
"Apa kabar kalian berdua?" tanya si perempuan.
"Baik Yewon. Kau?" balas Jihoon.
Perempuan yang dipanggil Yewon—Kim Yewon menjawab. "Baik juga eonni." Kemudian meneguk habis isi gelasnya setelah bartender meletakkan pesanannya pada meja bar.
Yewon itu suka sekali menggoda Soonyoung dan melihat Soonyoung disiksa oleh Jihoon. Karena jika ada perempuan yang menggoda Soonyoung, Jihoon tidak akan marah pada perempuan yang menggoda pacarnya. Jihoon malah akan memukul atau menjambak rambut Soonyoung. Jadi dengan sengaja tadi dia memeluk Soonyoung sambil menyapanya.
"Baik. Jadi satu rombongan datang nih?" tanya Soonyoung pada Yewon.
"Kyungwon-eonni dan Sungyeon tidak datang. Yebin-eonni tadi bersama Seungcheol-oppa, Nayoung-eonni dan Jieqiong-eonni. Siyeon aku tidak tahu, belum bertemu."
"Oh." Soonyoung mengangguk paham.
"Soon, ayo ke lantai dansa," ajak Jun yang sudah digandeng oleh Mingming.
"Tidak, aku di sini saja."
"Ya sudah, ayo Yewon."
Yewon meletakkan gelasnya dan mengangguk. "Dah oppa, eonni!" Yewon mengikuti Jun, Mingming serta Vernon dan meninggalkan Soonyoung dan Jihoon.
"Iya," jawab Soonyoung. Sementara Jihoon hanya mengangguk dan tersenyum.
Jihoon kemudian turun dari kursinya dan menarik tangan Soonyoung yang sedari tadi digenggamnya. "Ayo."
Soonyoung mengerjapkan matanya beberapa kali. "Hah?" Soonyoung bingung dengan Jihoon yang tiba-tiba mengajaknya ikut menari. Jihoon jarang sekali mau turun ke lantai dansa dan berdesak-desakan dengan banyak orang.
"Sesekali tidak masalah kurasa?" Jihoon berkata dengan canggung.
Soonyoung tersenyum. Ia merangkul Jihoon dan menuju lantai dansa untuk menari bersama teman-temannya.
.
Kesepuluh perempuan itu berasal dari Universitas Korea. Teman kumpul-kumpul anak Seoul National University beranggotakan Im Nayoung, Kim Minkyung, Kang Kyungwon, Kang Yebin, Jung Eunwoo, Zhou Jieqiong, Bae Sungyeon, Kim Yewon, Lee Siyeon, dan Kyla. Biasanya para perempuan itu sering berkumpul bersama Soonyoung, Jun, Mingming, Mingyu dan Seungcheol. Tapi seperti kata Nayoung tadi, beberapa minggu belakangan mereka banyak tugas sehingga tidak dapat bersantai barang sejenak. Tapi dari kesepuluh perempuan itu, yang paling jarang datang adalah Kyungwon, Sungyeon, dan Siyeon. Kyungwon dan Sungyeon tidak terlalu suka untuk kumpul-kumpul. Jadi kedatangan mereka ke klub itu dapat dihitung jari. Sementara Siyeon, kakaknya—Lee Chan—akan memarahinya jika ia datang ke tempat seperti itu. Jadi Siyeon harus ekstra hati-hati agar tidak ketahuan kakaknya. Dari antara dua kubu itu, yang pernah mempunyai hubungan spesial adalah Mingyu dan Nayoung—sekarang sudah mantan karena Nayoung jengah dengan tingkah laku Mingyu yang terlalu akrab dengan perempuan lain. Dan untuk hubungan Mingyu dan Minkyung, tidak jauh berbeda dengan hubungan Mingyu dengan Jeonghan, terlihat ambigu walaupun katanya hanya teman. Tapi Mingyu hanya menanggap Minkyung sebagai saudaranya dan sebaliknya.
.
TBC
.
Dasar mz Irwansyah KW, pecinta wanita dan buaya :'v
SAY HELLO TO OUR BABY PRISTIN GUYS! Aku bahagia bisa masukin Minkyung di sini, haha. Abis menurutku dia tampangnya agak binal ya. Jisoo versi cewek dan gak alim lol. Agak ga tega masukin Kyungwon ama Sungyeon di sini, tampang anak baik-baik sih. Dan tolong jangan bash dedek Pristin di sini. Cintailah mereka seperti kalian mencintai Seventeen. Ini cuma perkenalan doang sih, paling mereka gak sering-sering tak masukin hehe
Wow, ga nyangka banget sama fav, follow, dan reviewnya padahal pake kapal lama, kirain sedikit yang baca huhu aku terharuuu /cium yang ngasih review sama yang uda fav+follow satu-satu/ btw, boleh request adegan loh. Selama menurut saya gak mengganggu jalan cerita utama akan saya masukin. Asal jangan minta tuker pairing ya. Saya gak bakal mengubah pairing yang sudah saya tulis di awal cerita.
Jadi gimana, gimana? Ini Vernon mau dilanjut ama Eunwoo aja atau mau dibuat ama Ajeng?
Untuk boys love aku ga typo ya dear, ini emang mix. Jun aku buat sama mantan terindahnya jadi humu. Maaf kemaren cuma mention nama ga dijelasin gendernya. Kalo mau Verkwan, ntar humu juga.
Jisoonya lakik dan baik-baik, ya kali cewek. Ntar jadi lesbian dong ama Hanah lol makanya aku pairingin ama Hanah yang nakal hehe padahal mau banget buat Cheol jablay ke Jisoo.
Doyoon dulu siapanya Cheol? Harusnya kalian bisa nebak Bunda siapanya Ayah abis baca ini xD
Untuk pairing, itu kayaknya uda aku ketik ya di awal cerita, baik yang sudah jadian ataupun yang akan jadian. Jadi jangan protes kalo nantinya Jeonghan gak jadi sama Seungcheol. Ini emang broken!Jeongcheol. Awas aja kalo ada yang protes dan ngebash dedek Pristin di kolom review, tak cekek nanti :' (gimana caranya lol)
Terus kalo aku ada nyebut perempuan tanpa nama yang nyabe ke Seungcheol atau Mingyu anggap aja cewek random yang jablay, aku ngga berani nyebut anak gb manapun kecuali kalau itu mantannya Cheol ato Gyu dari gb lain, pasti nanti aku sebut namanya.
Yang menunggu Meanie sabar ya. Belum saatnya Mingyu ketemu Wonu haha. Mungkin chapter depan.
PS: Mingyu ama Seungcheol belum kenal. Mereka kenalan ntar pas ada Hanah
PSS: Minghao, Dika, Ajeng sama Chan mau diapain? :'
Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)
