Seventeen belong to God, Pledis and their parents
Fall For You © Bianca Jewelry
Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)
Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)
Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)
Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS) and a bit SeokSoon lol
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: M for safe
Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.
.
Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini.
.
Mingming melangkahkan kakinya menuju perpustakaan setelah mendapat pesan dari Jun yang memintanya untuk menjemput Jun di sana. Ia menitipkan tasnya pada loker sebelum menyisiri satu per satu rak-rak buku di perpustakaan itu. Akhirnya Mingming menemukan Jun sedang duduk bersila memangku laptop dan bersandar pada salah satu rak buku. Ia menghampirinya lalu berdiri di depan pemuda Wen dan meletakkan kedua tangannya pada rak, kemudian membungkukkan badannya dan menempelkan dahinya pada dahi Jun. Jun mendongak.
"Hai," sapa Jun sambil tersenyum.
Mingming mengecup kening Jun.
Pipi Jun merona kemudian ia memukul pelan kaki Mingming. "Bagaimana kalau ada yang lihat?"
"Tempatmu 'strategis', tidak akan ada yang melihat," jawab Mingming lalu terkekeh kemudian mendudukkan diri di sebelah Jun. "Masih lama? Soonyoung-hyung menunggu di kantin."
"Sebentar lagi."
Mingming mengangguk kemudian memainkan ponselnya sebentar—mengecek notifikasi siapa tahu ada pesan masuk. Kemudian ia menyandarkan kepalanya pada bahu Jun dan memperhatikan layar laptop pada pangkuan Jun. "Tugas apa sih?"
"Makalah."
"Oh."
"Kau tidak ada tugas?"
"Ada, nanti saja dikerjakan di apartemen."
Jun menyimpan dokumennya sebelum menutup aplikasi dan mematikan laptopnya. "Ayo."
Mingming berdiri terlebih dahulu kemudian mengulurkan tangan pada Jun setelah Jun menyimpan laptopnya pada tas perpustakaan. Jun menerima uluran tangan Mingming dan tersenyum. Setelah itu mereka berdua meninggalkan perpustakaan dan menemui Soonyoung yang sejak tadi menunggu di kantin.
Setelah sampai di kantin, pasangan Cina itu menghampiri Soonyoung yang duduk pada salah satu meja setelah memesan makanan.
"Sudah lama Soon?" tanya Jun setelah duduk di depan Soonyoung yang sedang memainkan ponselnya.
Soonyoung mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Jun. "Tidak juga."
"Makan ya," kata Jun kemudian menyuap makanannya. "Jihoon tidak bersamamu?"
"Makan hyung," kata Mingming lalu ikut menyuap makanannya.
Soonyoung mengangguk lalu kembali menatap ponselnya dan menjawab, "Beda kelas."
Soonyoung dan Jihoon itu sama-sama dari fakultas Musik, sementara Jun dari fakultas Ilmu Budaya dan Mingming dari fakultas Bisnis.
Jun mengangguk paham. Kedua pemuda Cina itu sibuk dengan makanannya, sementara Soonyoung sibuk dengan ponselnya—ia sudah makan saat menunggu Jun. Mingming sesekali mengajak Jun berbicara sampai Mingming menyenggol pemuda di sampingnya untuk melihat dua orang yang berjalan di halaman kampus.
"Soon," panggil Jun.
"Hm?" tanya Soonyoung yang masih sibuk bermain game.
"Itu Jihoon bukan?"
Soonyoung yang duduk membelakangi halaman kampus memutar kepalanya. Ia melihat Jihoon jalan berdampingan dengan Seungcheol. Kemudian Seungcheol merangkul Jihoon. Jihoon menjauhkan tangan Seungcheol dengan wajah merengut lalu Seungcheol mengacak rambut Jihoon sambil tertawa. Soonyoung kembali menatap ponselnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Jun hati-hati.
Soonyoung mengangguk.
Tidak, Soonyoung tidak baik-baik saja. Hatinya panas.
.
Dua jam kemudian di gedung fakultas Musik.
Seorang pemuda berpipi tembam sedari tadi bergerak gelisah di tempatnya di depan ruang kelas yang akan dimasukinya sekitar tiga puluh menit lagi.
"Tenang Boo," kata pemuda di sampingnya yang sedari tadi.
"Tidak bisa tenang hyung! Bagaimana aku bisa tenang? Pokoknya kau harus melihatnya. Harus!" ujar pemuda berpipi tembam itu dengan heboh—Boo Seungkwan.
Pemuda yang dipanggil hyung—Lee Seokmin—itu memutar bola matanya malas. "Siapa sih?"
"Justru itu aku tidak tahu namanya. Kenalanmu 'kan banyak. Jadi tolong aku mencari tahu namanya?" pinta Seungkwan sambil menatap Seokmin dengan wajah memelas dan mengatupkan kedua tangannya.
"Baiklah. Kapan mereka keluar ngomong-ngomong? Aku capek menunggu di sini."
Seungkwan melirik jam di ponselnya. "Seharusnya sebentar lagi."
Panjang umur. Pintu kelas terbuka dan beberapa mahasiswa berhamburan keluar kelas.
"Itu, itu hyung!" seru Seungkwan sambil menarik-narik lengan Seokmin setelah seorang pemuda blasteran berjalan agak jauh meninggalkan kelas. "Bule ganteng itu."
"Ohh~" ujar Seokmin.
"Kenal?" tanya Seungkwan dengan sorot mata penuh harap mendengar respon dari Seokmin.
Seokmin cengar-cengir. "Tidak," katanya kemudian tertawa kecil.
Seungkwan merengut dan memukul tangan Seokmin.
Seokmin tertawa. "Nanti aku cari tahu namanya."
"Benar ya?"
Seokmin mengangguk.
Seungkwan tersenyum senang dan memeluk Seokmin dari samping. "Terima kasih hyung!"
"Ya ya. Sana masuk kelas," usir Seokmin dan meninggalkan Seungkwan.
"Terima kasih hyung!" ulang Seungkwan dengan senyum lebar kemudian memasuki kelasnya.
.
Soonyoung menekan bel dan menunggu pemuda bernama Lee Seokmin untuk membuka pintu apartemennya. Beberapa saat kemudian pintu apartemen terbuka, Soonyoung langsung masuk serta menarik tangan Seokmin dan mendudukkannya di sofa sementara Soonyoung membaringkan diri di sofa dan menjadikan paha Seokmin sebagai bantal. Seokmin menatap bingung pemuda yang satu tahun lebih tua itu.
"Kenapa hyung?" tanya Seokmin.
Soonyoung menggeleng kemudian mengubah posisinya menjadi menyamping dan memeluk pinggang Seokmin.
Seokmin memainkan rambut Soonyoung sesekali mengelus kepalanya. "Jihoon-noona?" tebaknya. Seokmin hafal betul kebiasaan hyungnya yang satu ini. Seokmin adalah tempat berkeluh kesah masalah percintaan Soonyoung.
"Seungcheol-hyung," jawab Soonyoung pelan.
Seokmin tersenyum tipis, mengerti maksud Soonyoung. "Apa yang kau takutkan? Dia sudah menjadi milikmu."
"Tapi—"
"Aku tahu kau cemburu hyung. Tapi cobalah percaya padanya."
Soonyoung terdiam sebentar, kemudian menjawab. "Ya."
Seokmin tersenyum lagi. "Tidurlah, aku di sini."
"Thanks, Seoku." Soonyoung kemudian memejamkan matanya dengan Seokmin yang masih memainkan rambut hyungnya dan tersenyum.
.
Siang sudah berganti menjadi malam, Mingyu yang penat akan tugas-tugas berdatangan dari dosen memutuskan untuk mengunjungi klub malam langganannya. Mungkin dengan minum sedikit alkohol dan melihat gadis-gadis cantik penatnya akan sedikit berkurang.
Mingyu melangkahkan kakinya menuju pintu utama klub setelah turun dari Minerva Megelli 250 RVnya dan membayar tiket masuk. Kemudian ia menuju ke meja bar ketika melihat perempuan yang dikenalnya sedang bergelayut manja pada seorang pemuda yang duduk di meja bar.
Mingyu meletakkan tangannya pada kepala perempuan itu. "Jeonghan-noona."
"Mingyu!" seru Jeonghan senang. Kemudian ia meraih tengkuk Mingyu untuk mengecup pipi Mingyu.
Pemuda lain yang duduk di mejar bar itu menatap Mingyu tidak suka.
"Mingyu, kenalkan. Ini Seungcheol, pacarku," kata Jeonghan sambil bergelayut manja pada lengan Seungcheol.
Mingyu mengulurkan tangannya. "Mingyu."
"Seungcheol," kata Seungcheol sambil menjabat tangan Mingyu.
"Sudah lama?" tanya Mingyu pada Jeonghan.
Jeonghan menggeleng. "Ayo ikut ke lantai dansa," ajaknya.
Seungcheol mendelik pada Jeonghan, namun tidak diacuhkan oleh perempuan cantik itu.
"Tidak noona, aku dengan yang lain saja. Nanti mengganggu," tolak Mingyu.
"Ya sudah." Jeonghan tersenyum. "Ayo Cheol-ie," ajak Jeonghan kemudian menarik Seungcheol meninggalkan Mingyu di meja bar.
Mingyu duduk pada salah satu kursi di meja bar lalu menenggak beberapa sloki Martini kemudian pulang, mendadak tidak mood karena melihat Jeonghan dengan pacar barunya.
.
.
Mingyu melangkahkan kakinya ke kantin pada jam istirahat untuk menemui Soonyoung, tetapi ia malah menemukan Jihoon yang sedang duduk dengan seorang perempuan berambut coklat panjang di hadapannya—yang sejujurnya cukup menarik perhatian Mingyu belakangan ini.
"Noona," panggil Mingyu setelah sampai di samping meja yang ditempati Jihoon.
"Apa?" tanya Jihoon galak.
Mingyu meringis. "Kenapa kau selalu galak kepadaku sih? Aku ada salah padamu?"
"Aku malas dekat-dekat dengan buaya sepertimu. Cepat katakan apa maumu."
"Soonyoung-hyung mana?"
"Tidak tahu. Mungkin di studio tari."
Hening beberapa saat.
Jihoon mengalihkan pandangannya dari ponsel dan menatap Mingyu yang masih berdiri di dekat meja yang ditempatinya. "Kenapa masih di sini? Dan jangan lihat-lihat Kim!" Jihoon memperingati Mingyu yang sejak tadi curi-curi pandang pada perempuan yang sedang membaca buku di depan Jihoon, sesekali membenarkan letak kacamatanya.
Sebenarnya sudah beberapa kali Mingyu memperhatikan perempuan dengan rambut panjang itu. Ketika Mingyu menghampiri Jihoon sedang bersama gadis itu, si perempuan dengan wajah datar selalu mengabaikannya seolah Mingyu tidak ada. Please, siapa sih yang dapat menolak pesona Kim Mingyu, dan gadis yang duduk di depan Jihoon itu tidak memperhatikannya sama sekali. 'Kan Mingyu jadi penasaran. Mingyu menatap Jihoon penuh arti.
Jihoon yang mengerti arti tatapan Mingyu mendengus. "Tidak Kim."
"Ayolah noona," mohon Mingyu.
"Tidak," tolak Jihoon.
"Es krim?" sogok Mingyu.
"Ayo Won, kita pergi dari sini," ajak Jihoon yang sudah berdiri di samping temannya dan menarik tangan perempuan itu. "Ada pria hidung belang."
"Aku bukan pria hidung belang!" seru Mingyu tidak terima.
"Eh eh, tunggu. Bukuku," kata perempuan itu sambil membereskan buku yang berserakan di meja dan memasukkannya ke dalam tas kemudian mengikuti Jihoon yang sudah menariknya sejak tadi.
Mingyu cemberut menatap kepergian Jihoon dan temannya kemudian pergi mencari Soonyoung. Ia harus bertanya pada Soonyoung, seharusnya Soonyoung tahu gadis dengan rambut panjang dan kacamata itu, dan siapa tahu Soonyoung berbaik hati untuk mengenalkannya pada Mingyu. Mingyu jadi senyum-senyum sendiri memikirkannya.
.
"Hah?" —adalah respon dari Soonyoung setelah Mingyu menemukannya dan bertanya pada lelaki yang lebih tua satu tahun itu tentang perempuan yang tadi dilihatnya bersama Jihoon. Urusannya dengan Soonyoung sudah selesai dan Mingyu memberanikan diri untuk bertanya pada Soonyoung.
Mingyu yang duduk agak jauh di hadapan Soonyoung mengangguk.
"Perempuan dengan rambut panjang, memakai kacamata bundar dan dipanggil Won?" ulang Soonyoung atas pertanyaan Mingyu tadi. "Wonwoo maksudmu?"
Mingyu mengangguk paham. "Jadi Wonwoo namanya."
Soonyoung mengerjapkan matanya terheran-heran. "Tumben sekali Kim."
"Habis dia itu seperti tidak menganggapku kalau aku datang. 'Kan aku penasaran. Perempuan mana sih yang akan menolak Kim Mingyu," kata Mingyu bangga. "Dia malah selalu asyik dengan bukunya itu. Padahal sudah jelas-jelas aku lebih menarik daripada buku yang dibacanya."
Soonyoung mendengus. Ia meluruskan kakinya yang tadi bersila. "Terus kalau kau sudah kenal kau mau apa?"
"Hm…" Mingyu berpikir. "Ya, ya sudah. Yang penting aku kenal."
Soonyoung mendengus lagi. "Paling kalau kau bosan kau akan membuangnya."
"Ayolah hyung, kau tinggal mengenalkannya kepadaku," mohon Mingyu.
"Begini ya Mingyu sayang," ucap Soonyoung dengan penekanan pada kata sayang. "Aku masih belum mau mati muda gara-gara dibunuh pacarku karena mengenalkan Wonwoo padamu."
"Ya sudah kalau kau tidak mau mengenalkannya padaku. Kau berikan informasinya padaku dan aku akan kenalan sendiri. Bagaimana?"
Soonyoung menimbang-nimbang untuk memberikan informasi Wonwoo kepada Mingyu atau tidak.
"Hyung, jebal~"
Soonyoung menghela napas. "Jeon Wonwoo, fakultas Ilmu Budaya tahun ketiga, sering menghabiskan waktunya di perpustakaan dan hobi membaca buku. Dan aku tidak akan memberikan nomor teleponnya padamu Kim," kata Soonyoung sebelum Mingyu meminta. "Cari dia di perpustakaan di meja tengah. Biasanya dia di sana. Dan jangan kau ajak rusak. Berani kau mengajaknya ke klub malam akan kubunuh kau!" ancam Soonyoung dengan wajah garang yang baru kali ini dilihat Mingyu. "Dan jangan beri tahu Jihoon kalau aku memberikan informasi Wonwoo kepadamu."
Mingyu terkekeh dan memberi hormat kepada Soonyoung. "Siap bos! Terima kasih hyung!" katanya lalu meninggalkan studio tari.
.
Mingyu yang biasanya tidak akan kenalan dengan perempuan terlebih dahulu karena para perempuan duluan yang akan minta kenalan padanya kali ini minta dikenalkan dengan Jeon Wonwoo. Mahasiswi fakultas Ilmu Budaya Seoul National University tahun ketiga dengan wajah datar dan tatapan dingin. Seperti kata Soonyoung tadi, Wonwoo hobi membaca buku dan pergi ke perpustakaan kampusnya untuk sekadar membaca atau mengerjakan tugas di sana. Teman dari Jihoon, Soonyoung, dan Jun. Selama dua puluh tahun hidupnya, Wonwoo belum pernah pacaran satu kali pun. Sebetulnya cukup banyak yang tertarik padanya, termasuk Jun—yang akhirnya jatuh ke pelukan Mingming. Tapi Wonwoo tidak peduli. Gadis polos yang selalu dilindungi teman-temannya dan tidak akan dibiarkan masuk ke klub malam dan berkenalan dengan Kim Mingyu.
Setelah Mingyu mendapatkan informasi dari Soonyoung, Mingyu menghampiri perpustakaan dan benar saja, perempuan berambut panjang berkacamata dengan nama Jeon Wonwoo itu sedang duduk di meja tengah dan membaca buku. Kebetulan di meja itu hanya ada Wonwoo. Mingyu menghampirinya setelah mencari sebuah buku dan duduk di sebelah Wonwoo. Mingyu berdeham dan membuka bukunya. Wonwoo masih diam saja tidak menganggap Mingyu. Sesekali Mingyu curi-curi pandang pada gadis itu.
Wonwoo yang merasa diperhatikan berbicara dengan dingin. "Kalau kau di sini hanya untuk jadi stalker lebih baik kau keluar. Ini perpustakaan untuk membaca buku bukan tempat untuk memperhatikan orang, Kim."
Mingyu melongo. Kemudian tersenyum tipis dan bersorak senang dalam hati. Yes! Akhirnya dia dinotice. Mana Wonwoo menyebut namanya. Mingyu bahagia sekali rasanya. "H-hai sunbae. Bukan maksudku untuk melihatmu seperti itu. Aku hanya um…" kata Mingyu dan memutar otak untuk mencari alasan logis.
Wonwoo meliriknya sekilas kemudian kembali membaca buku.
"Bo-boleh berkenalan denganmu?" tanya Mingyu pelan. Akhirnya ia berkata jujur. Mingyu gugup dan baru kali ini rasanya berkenalan dengan perempuan terasa sulit seperti ini.
Wonwoo mendengus geli. "Kau tidak salah orang?"
"Tidak sunbae," jawab Mingyu mantap.
Wonwoo menutup bukunya dan berdiri kemudian meninggalkan Mingyu.
Mingyu hanya mengerjapkan matanya melihat kepergian Wonwoo. Kemudian menyeringai.
Gagal sih kenalan dengan Wonwoo, tapi yang penting Mingyu sudah tahu nama perempuan itu. Mingyu jadi semakin penasaran dengan Wonwoo. Ia hanya butuh tenaga ekstra agar Wonwoo mengucapkan namanya dan memberikan nomor teleponnya.
.
Wonwoo memasang wajah jengkel ketika Mingyu terus memperhatikannya dari seberang ruangan. Fakultas Ilmu Budaya dan fakultas Natural Sciences bekerja sama untuk melakukan seminar di akhir pekan, dan ini pertama kalinya para panitia berkumpul untuk membahas seminar tersebut. Mingyu memang tidak pernah meminta kenalan lagi pada Wonwoo sejak kejadian di perpustakaan itu, tapi Mingyu jadi sok kenal sok dekat kepada Wonwoo jika mereka bertemu. Dan Mingyu jadi sering ke perpustakaan untuk mengganggu gadis itu.
Mingyu mengedipkan sebelah matanya kepada Wonwoo. Wonwoo mendelik tidak suka dan berpose akan melempar Mingyu dengan sesuatu.
"Kenapa Won?" tanya Jun yang ada di sebelah Wonwoo. Jun juga ikut acara kepanitiaan ini.
"Ada nyamuk."
"Mana?" tanya Jun percaya saja dengan perkataan Wonwoo.
"Tuh di depan," kata Wonwoo sambil melirik ke arah Mingyu dan mengeraskan suaranya.
Jun menatap ke arah yang ditunjuk Wonwoo dan menemukan Mingyu cengar-cengir menatapnya. Jun geleng-geleng kepala melihat Mingyu. Wonwoo pasti kesal gara-gara makhluk tinggi di seberang mereka itu.
Ketua panitia menyudahi rapatnya dan semua anggota mulai membubarkan diri. Setelah itu Mingyu mendekati Wonwoo.
Wonwoo mendengus ketika Mingyu berada di sebelahnya. "Sedang apa di sini Kim?"
"Jadi panitia noona." Mingyu sok akrab sekali sudah berani memanggil Wonwoo dengan noona, bukan sunbae lagi.
"Oh, kukira kau tipe orang yang tidak akan tertarik untuk ikut acara seperti ini."
Mingyu terkekeh. "Kau perhatian juga ya ternyata," goda Mingyu.
Wonwoo mendelik kemudian memakai tasnya.
"Noona ayo pulang bersamaku," ajak Mingyu.
"Kenapa harus?" tanya Wonwoo siap meninggalkan ruangan.
"Karena aku ingin mengantarmu. Sudah malam lho, tidak baik perempuan pulang sendirian malam-malam."
"Aku bisa minta tolong Jun untuk mengantarku."
"Jun-hyung sudah pulang," kata Mingyu dengan senyum geli.
Wonwoo melihat ke sekelilingnya dan benar saja, Jun sudah tidak ada di sana. Ia berdecak sebal. "Aku bisa naik bus."
"Kau akan mengeluarkan ongkos untuk naik bus. Kalau bersamaku 'kan gratis. Kau tidak mau? Lumayan bisa hemat," rayu Mingyu.
"Terima kasih. Tapi tidak usah repot-repot Mingyu-ssi."
"Ayolah noona," rayu Mingyu lagi sambil menyeret Wonwoo ke parkiran motor.
"Hei lepaskan! Aku bilang tidak."
"Aku tidak terima penolakan," kata Mingyu final dan menarik Wonwoo sampai ke parkiran motor. Wonwoo tidak protes lagi, ia pasrah diseret-seret Mingyu.
.
Wonwoo menggembungkan pipi dan memajukan bibirnya ketika sampai di parkiran, membuat Mingyu jadi gemas sendiri melihat ekspresi gadis itu.
Mingyu naik ke Minerva Megelli 250 RVnya dan menyerahkan helm penumpang pada Wonwoo. "Jangan cemberut begitu. Nanti cantiknya hilang." Mingyu lalu memakai helmnya sendiri.
Wonwoo memukul punggung Mingyu dengan helm yang tadi diterimanya kemudian memakainya.
"Aw," Mingyu meringis.
Wonwoo naik ke motor Mingyu. "Jangan ngebut!"
"Ya Tuan Putri," kata Mingyu patuh kemudian melajukan motornya keluar dari parkiran.
Setelah sampai di jalan raya, Mingyu sengaja mengerem mendadak lalu melajukan motornya lagi. Wonwoo reflek memegang pinggang Mingyu.
Wonwoo memukul Mingyu berkali-kali. "Kau sengaja Kim!"
Mingyu tertawa. "Makanya pegangan!"
Wonwoo menggembungkan pipinya lagi kemudian memegang kedua pundak Mingyu dengan canggung.
"Kenapa di pundak?"
"Lalu aku harus pegangan dimana?"
Mingyu mengarahkan tangan kiri kemudian tangan kanan Wonwoo ke pinggangnya dengan tangan kirinya.
Wonwoo kemudian mencubit pinggang kanan Mingyu. "Dasar modus!"
Mingyu hanya tertawa dan memegang tangan kanan Wonwoo ketika mencubitnya. Kemudian membawa tangan kirinya pada stang motor lagi.
Wonwoo tersenyum tipis. Senyum pertama yang ditunjukkannya selama bersama Mingyu—sayang sekali Mingyu tidak bisa melihatnya.
.
Kali ini Mingyu kembali mengganggu Wonwoo dan memohon kepada gadis itu untuk menemaninya. Jadi minggu depan akan ada acara pembukaan kantor cabang milik teman orangtua Mingyu dan Mingyu sebagai anak yang baik dan patuh kepada orangtuanya akan menghadiri acara itu. Sebetulnya tidak harus membawa pasangan sih, tapi Mingyu menginginkan Wonwoo untuk menemaninya—hitung-hitung pendekatan.
"Ya ya ya? Mau ya? Jebal~" Mingyu mengatupkan kedua tangannya.
"Tidak Kim." Wonwoo kembali melangkahkan kakinya di antara rak buku dan berhenti pada salah satu rak kemudian mengambil buku yang menarik perhatiannya.
"Please?" Mingyu memohon.
"Kenapa harus aku? Kau bisa meminta Jeonghan-eonni untuk menemanimu. Atau perempuan manapun yang kau kenal," kata Wonwoo dengan wajah datarnya.
"Jeonghan-noona sibuk," jawab Mingyu berdusta. "Kalau perempuan lain aku tidak minat."
Wonwoo mengembalikan buku yang tadi dilihatnya dan mulai melangkahkan kakinya tapi dihalangi oleh Mingyu. "Menyingkir Kim. Aku mau lewat."
"Tidak, sampai kau bilang akan menemaniku ke pertemuan itu."
"Kau ini suka sekali memaksa ya. Aku bilang tidak ya tidak."
"Ayolah noona. Sekali saja! Aku janji sekali saja!" mohon Mingyu lagi sambil menunjukkan jari telunjuknya.
Wonwoo menghela napas. "Hari apa? Jam berapa?"
Mingyu tersenyum cerah. "Hari Sabtu jam enam, nanti aku jemput."
"Ya. Sekarang menyingkir dari hadapanku."
Mingyu cengar-cengir dan mempersilakan Wonwoo untuk lewat.
.
Hari Sabtu, Mingyu yang sudah rapi dengan jas berwarna putih menekan bel apartemen Wonwoo. Wonwoo membuka pintu apartemennya beberapa detik kemudian. Mata mereka saling bertemu. Mingyu sempat menahan napasnya ketika melihat makhluk cantik di hadapannya itu. Wonwoo memakai dress putih selutut berbahan satin, rambut panjangnya diblow dan wajahnya dipoles make up tipis.
"Tunggu. Aku ambil sepatu dulu," kata Wonwoo kembali masuk ke apartemennya dan mengambil heelsnya serta clutch.
Mingyu menunggu di depan apartemen Wonwoo dan berusaha menetralkan detak jantungnya. Setelah Wonwoo sudah siap, mereka berdua menuju ke gedung pertemuan, tidak terlalu banyak pembicaraan dalam perjalanan, karena Mingyu mendadak gugup dan blank berada di dekat Wonwoo.
.
"Mingyu!" panggil seorang lelaki paruh baya ketika melihat Mingyu masuk ke ruang pertemuan.
"Selamat malam Lee-ahjussi," sapa Mingyu sopan dengan senyum.
"Lama tidak bertemu. Apa kabar? Ayahmu sehat-sehat saja?"
"Iya ahjussi. Aku baik-baik saja. Ayah juga sehat. Belum bertemu dengan ayahku? Ahjussi bagaimana?"
Tuan Lee menggeleng. "Aku baik," jawab Tuan Lee dan tersenyum ramah. "Pacarmu?" tanyanya sambil melirik Wonwoo yang berada di samping Mingyu.
Mingyu sudah bisa menguasai diri dan mulai menggoda Wonwoo lagi. "Iya, dia pacarku."
Wonwoo yang hendak membungkuk untuk menyapa Tuan Lee menyempatkan diri untuk melirik Mingyu dan mencubit pinggangnya sebelum benar-benar membungkuk dan memperkenalkan diri. "Selamat malam. Aku Jeon Wonwoo. Salam kenal."
Mingyu meringis mendapat cubitan dari Wonwoo.
"Lee Byung Hun, salam kenal," balas Tuan Lee sambil tersenyum. "Sudah ya Mingyu. Aku mau menyapa kolega-kolega lain," kata Tuan Lee kemudian berkata pelan kepada Mingyu. "Pacarmu cantik."
Mingyu tersenyum. "Terima kasih."
Wonwoo memelototi Mingyu ketika Tuan Lee pergi. "Pacarmu? Sejak kapan?"
Mingyu cengar-cengir tidak berdosa. "Sejak tadi?"
Wonwoo mendengus. "Aku tidak pernah ingat kau memintaku jadi pacar lalu aku mengiyakan."
"Terus?" tanya Mingyu. "Kau mau kujadikan pacar sungguhan begitu?" goda Mingyu sambil menaik-turunkan alisnya dengan senyum jahil.
"Tidak sudi pacaran dengan buaya sepertimu, Kim," kata Wonwoo kemudian meninggalkan Mingyu untuk mengambil segelas minuman.
Mingyu tertawa lalu mengikuti Wonwoo. "Noona!"
Tidak disangka oleh Mingyu, ia melihat Seungcheol di pertemuan itu bersama seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Kemudian ia mendekati Seungcheol dan menyapanya. "Hai hyung."
Seungcheol menatap Mingyu datar.
Mingyu menatap sekilas perempuan yang berada di dekat Seungcheol yang sedang bercengkerama dengan wanita paruh baya lalu melihat Seungcheol. "Tidak bersama Jeonghan-noona?"
"Bukan urusanmu."
Mingyu mendengus. "Kau buaya juga ya ternyata."
"Bukan urusanmu," ulang Seungcheol jengkel. "Kau juga harus berkaca."
Seungcheol membawa Doyoon ke pertemuan itu. Doyoon menghampiri Seungcheol setelah pamit kepada wanita paruh baya itu lalu menggamit tangan Seungcheol. "Kenalanmu?" tanya Doyoon.
"Bukan siapa-siapa. Ayo pergi," kata Seungcheol kemudian pergi meninggalkan Mingyu dan Wonwoo.
"Buaya kok teriak buaya." Wonwoo yang sejak tadi memperhatikan Mingyu dan Seungcheol bergumam pelan kemudian meninggalkan Mingyu lagi untuk beranjak ke meja kue.
Mingyu meringis, kemudian mengekori Wonwoo lagi.
Saat sampai di meja kue, Wonwoo dengan lahap memakan kue-kue berbeda dengan wajah berseri.
Mingyu tersenyum kecil melihat Wonwoo yang tampak seperti anak kecil. Ia kemudian mengulurkan tangannya untuk mengusap sudut bibir Wonwoo yang ada noda cokelat dengan ibu jari. "Kau ini umur berapa sih. Seperti anak kecil saja," kata Mingyu geli kemudian menjilat ibu jarinya.
Wonwoo melongo, pipinya memerah perlahan. Kemudian ia memukul Mingyu berkali-kali. "Kau menyebalkan Kim!"
Mingyu tertawa dan pasrah dipukuli Wonwoo.
Kemudian seorang lelaki paruh baya memanggil Mingyu dari arah belakang. "Mingyu."
Mingyu masih tertawa. Ia menoleh dan balas menyapa lelaki itu. "Hai Appa. Eomma mana?"
Wonwoo sudah menghentikan pukulannya dan mengangguk singkat untuk menyapa Tuan Kim.
"Biasa. Sedang bergosip," jawab Tuan Kim kemudian melirik Wonwoo yang ada di belakang Mingyu. "Tidak mau kau kenalkan padaku?" lanjut Tuan Kim dengan senyum penuh arti.
Mingyu cengar-cengir. "Ini Jeon Wonwoo, pacarku. Ayo perkenalkan dirimu sayang."
Wonwoo mendekati Mingyu dan membawa tangannya ke belakang pinggang Mingyu dan mencubitnya kemudian tersenyum. "Selamat malam ahjussi. Aku Jeon Wonwoo. Senang bertemu denganmu."
Mingyu meringis, tangan kanannya memegangi tangan Wonwoo yang mencubitnya lalu menurunkannya sementara tangan kirinya merangkul Wonwoo.
Tuan Kim tersenyum. "Selamat malam. Baik-baik dengan Mingyu ya. Semoga kau tahan dengan sifatnya."
Mingyu merajuk. "Appa!"
Tuan Kim tertawa melihat reaksi anaknya. Sementara Wonwoo hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi Tuan Kim.
"Appa tinggal dulu ya Gyu."
"Iya Appa," kata Mingyu dan melepaskan rangkulannya pada Wonwoo setelah Tuan Kim bergabung dengan koleganya yang lain. "Aw." Mingyu meringis kesakitan dan memegangi kakinya.
"Puas kau?! Puas?!" tanya Wonwoo galak setelah menendang kaki Mingyu dengan ujung heelsnya yang runcing kemudian meninggalkan Mingyu lagi sambil menggosok-gosok lengannya dengan tangan.
Mingyu kembali cengar-cengir tidak berdosa dan mengikuti Wonwoo. Kemudian membuka jasnya dan menyampirkannya pada bahu Wonwoo.
Wonwoo menarik jas pada bahunya dan mengembalikannya pada Mingyu. "Tidak usah Kim."
"Aku tahu kau kedinginan noona."
Wonwoo tersenyum tipis. "Terima kasih tapi tidak perlu."
"Kenapa sih kau ini harus kupaksa dulu baru mau menurut?"
"Memang kau ini siapa sehingga aku harus menurutimu, bocah?" tanya Wonwoo galak. "Antar aku pulang! Lama-lama aku pusing berurusan denganmu."
"Kim Mingyu." Mingyu cengar-cengir dan kembali menyampirkan jasnya pada pundak Wonwoo, kali ini Wonwoo membiarkannya. "Ya Tuan Putri." Mingyu menurut kemudian pamit kepada beberapa orang yang dikenalnya untuk mengantar Wonwoo pulang. Dan sepanjang Mingyu pamit, Mingyu mendapat cubitan bertubi-tubi karena bilang 'mengantar pacarku pulang' kepada para kenalannya.
Mingyu sih rela-rela saja kalau harus sakit karena Wonwoo. Yang penting dia puas menggoda Wonwoo dan entah kenapa, Mingyu tidak bisa menolak permintaan Wonwoo—dan Jeonghan tentu saja, walaupun dengan perempuan lain tidak demikian.
.
TBC
.
Mau tanya gaes, jawab yang jujur ya. Sebetulnya kalian bingung ga sih fanficku? Wkwk. Aku nemu review yang bilang mereka bingung baca fanficku. Kalo bingung bilang ya, aku akan berusaha memperbaikinya :') kan ga enak juga kalo kalian ga enjoy.
MA MINGRY FEELS :( /baper abis liat foto Mingming yang kiyop abis pas jaman predebut apalagi ada Jun disana /cry/ Sebetulnya mau baperin Mingry pake Downpournya I.O.I tapi gak jadi lah, gak baik buat hati :' /kok curhat/
Nih, yang pada minta Wonu. Cie, sekalinya muncul langsung ketemu papa mertua cie. Jadiannya masih nanti-nanti kok tenang aja. Wonunya cewek dan anak baik-baik, dibuat sensi dulu sama Mingu. Nanti juga jadi baik kok.
Cast utama Meanie Jihan sih, Docheol cuma buat pemanis melepas rindu aja sama kapal lama :' tapi aku usahain banyakin adegan mereka. Asik sih nulis Docheol xD
Ini gak ada yang nungguin Jihan ta? Kok aku sedih lol :'
Nih, Verkwannya uda diturutin ya. Minghao jadi bartender? Perlu dibuat ngerusuh Mingry juga ga? ;)
Dika dibuat humuan aja ya sama Sunyong lol awalnya gak yakin mau buat SeokSoon tapi yasudahlah. Awalnya mau buat Seokmin suka ama Uji tapi gajadi, uda ada Seungcheol yang ngerusuh heavy rain (spoiler again). SeokSoon cuma bromance aja kok hehe atau Dika ama Yuju boleh? Kasian gitu sendirian /slap/ tapi males juga buat lurus /slap again
Buat Pristin, woles ya gaes, kemaren cuma intro doang. Cuma mau nunjukin kalo anak-anak SNU itu kumpul-kumpulnya ama cewek-cewek dari Universitas Korea. Aku juga gak ada niat buat ngepairin mereka lagian lol
Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)
