Seventeen belong to God, Pledis and their parents
Fall For You © Bianca Jewelry
Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)
Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)
Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)
Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS) and a bit SeokSoon lol
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: M for safe
Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.
.
Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini. Drama detected!
.
Soonyoung merengut, sesekali melirik Jihoon yang berada di sampingnya. Jihoon tampak serius menatap laptop yang berada di pangkuannya—mungkin lupa kalau sejak tadi Soonyoung ada di sana. Soonyoung berdeham sambil melirik Jihoon. Jihoon balas melirik Soonyoung kemudian menatap laptopnya lagi.
Soonyoung mendengus lalu membawa gadis mungil itu ke pangkuannya, memeluk pinggang gadis yang duduk menyamping dengan posesif lalu mengecup pipi tembamnya. Jihoon mengabaikan Soonyoung dan tetap berkutat dengan tugasnya. Kesal karena masih diabaikan, Soonyoung menarik kepala Jihoon agar menghadapnya lalu melumat bibir gadis itu.
"S—" Jihoon meletakkan laptopnya asal dan menarik tengkuk Soonyoung dan balas menciumnya, menghisap bibir atas Soonyoung lalu bibir bawahnya. Jihoon menjauhkan kepalanya ketika lidah Soonyoung menjilat bibir bawah Jihoon. Soonyoung memajukan kepalanya untuk meraup bibir itu lagi, sementara Jihoon memundurkan kepalanya.
"Kau kenapa?" Jihoon membelai pipi Soonyoung dengan jari lentiknya.
"Kenapa apanya?" tanya Soonyoung.
"Belakangan ini sedikit aneh," jawab Jihoon lalu menyentil dahi Soonyoung, membuat pemuda itu memejamkan matanya.
Jihoon mengecup mata kanan Soonyoung lalu melepas tangan Soonyoung yang berada di pinggangnya. Ia turun dari pangkuan Soonyoung dan mengambil laptopnya. "Satu jam lagi dan kita pergi. Oke? Jangan ganggu aku," kata Jihoon lalu beranjak ke kamarnya, tak lupa mengunci pintu agar Soonyoung tidak mengganggu.
Soonyoung mendengus lalu merebahkan tubuhnya pada sofa—menunggu Jihoon menyelesaikan tugasnya.
.
Wonwoo mendongak dan menatap tajam pemuda yang berdiri di sampingnya karena tidak kunjung berbicara.
Pemuda yang biasa dipanggil Mingyu itu cengar-cengir. "Hai."
Wonwoo tidak menjawab dan kembali melihat bukunya. "Apa maumu? Kalau hanya ingin menggangguku cepat pergi. Merusak pemandangan."
"Kau bahkan tidak melihatku noona. Merusak pemandangan apanya." Mingyu mengerucutkan bibirnya. "Noona, hari Kamis jam lima aku ada latih tanding dengan Sungkyunkwan. Datang ya, di lapangan basket."
Wonwoo menoleh. Ia membuka mulutnya namun didahului Mingyu. "Aku tidak terima penolakan. Terima kasih. Kutunggu Kamis besok," kata Mingyu sambil tersenyum dan meninggalkan Wonwoo.
Wonwoo mendengus dan mencibir. "Siapa juga yang akan datang. Percaya diri sekali."
.
"Jihoon-ie," panggil Wonwoo setelah ia duduk di depan Jihoon. Wonwoo tersenyum tipis.
"Kenapa Won?"
Wonwoo mendadak gugup. "Kamis ini sibuk tidak? Jam lima."
"Tidak. Kenapa?"
"Tidak ada kencan dengan Soonyoung?"
"Tidak Wonwoo-ya. Kenapa?" jawab Jihoon dengan sabar.
"Um… Itu…"
"Ya?"
"Mau…" kata Wonwoo ragu. "Menemaniku nonton basket?"
Jihoon menautkan kedua alisnya. "Tumben?"
"Sedang ingin?" Wonwoo tertawa canggung.
Jihoon menatap Wonwoo curiga.
"Ada temanku yang ikut tanding."
"Oh."
Wonwoo tersenyum. "Ya sudah kalau begitu. Kamis ya Ji. Aku pulang dulu. Dah~" Wonwoo melambaikan tangan.
Jihoon mengangguk. Ia tersenyum dan membalas lambaian tangan Wonwoo. "Bye. Hati-hati."
.
Wonwoo dan Jihoon berjalan berdampingan menuju lapangan basket lalu mendudukkan diri pada kursi yang kosong. Sudah jam lima lebih dua puluh menit. Para pemain sedang istirahat. Seoul National University memimpin dengan angka 65-60. Tanpa sadar Wonwoo tersenyum tipis ketika melihat Mingyu sedang mengelap peluhnya dengan handuk kecil sambil mendengar pelatih memberikan instruksi.
"Temanmu yang mana?" tanya Jihoon.
"O-oh, entahlah. Aku tidak melihatnya," jawab Wonwoo berdusta.
Jihoon jadi semakin curiga pada Wonwoo. Ada Mingyu di lapangan basket, tidak mungkin 'kan gadis itu datang ke sini untuk melihat Mingyu.
Wasit meniup peluit tanda waktu istirahat sudah selesai. Para pemain masuk ke lapangan dan bersiap pada posisi masing-masing. Mingyu berdiri di luar lapangan dan menerima bola dari wasit lalu melempar pada teman satu timnya. Ia masuk ke lapangan dan menerima passing dari Seungcheol. Mingyu mendribble bola kemudian melempar kepada temannya yang sudah berada di dekat ring lawan, tapi bola itu ditangkap oleh salah satu pemain Sungkyunkwan. Mingyu mengejarnya dan mencoba merebut bola. Bola berhasil direbut lalu Mingyu melakukan passing pada temannya yang lain sementara ia berlari mendekati ring. Seungcheol melempar bola kepada Mingyu dan ia melakukan lay up. Bola masuk dan para penonton bersorak.
"Yes!" seru Wonwoo pelan.
Jihoon semakin curiga, lalu ia bertanya lagi. "Temanmu di SNU atau Sungkyunkwan Won?"
Wonwoo menoleh dan menjawab tergagap. "S-Sungkyunkwan."
Jihoon mengangguk. Wonwoo tersenyum lalu melihat lapangan basket lagi.
Salah satu pemain Sungkyunkwan melempar bola dari luar lapangan. Mingyu berlari menuju ringnya dan melakukan defense. Bola berpindah ke tangan pemain Sungkyunkwan yang lain dan dilempar ke arah ring. Bola gagal masuk lalu Mingyu melakukan rebound. Ia mendribble bola menuju ring lawan, tapi bola berhasil direbut oleh pemain Sungkyunkwan. Mingyu mengejarnya dan melakukan steal. Bola berada di tangan Mingyu lagi lalu ia berlari menuju ring lawan. Mingyu mendribble pelan di area three-point dan memberi kode kepada temannya. Ia melakukan jump shoot, tapi sayang sekali bola tidak masuk ke ring. Mingyu berlari ke depan untuk melakukan rebound.
Wonwoo menghentakkan kakinya saat bola tidak masuk. Lalu ia berteriak dan menjadi fangirl dadakan untuk menyemangati Mingyu. "MINGYUUU!"
Jihoon kaget mendengar teriakan Wonwoo. Ia melirik Wonwoo tajam. Ternyata benar Wonwoo ke sini untuk menonton Mingyu. Jihoon ingin membunuh Mingyu saat itu juga rasanya.
Mingyu melakukan hook shoot dan bola berhasil masuk ke ring, menambah angka lagi untuk Seoul National University.
Wonwoo tersenyum dan mengguncang tangan Jihoon. "Bolanya masuk!" seru Wonwoo senang.
Mata Mingyu menyapu bangku penonton. Ia mengedipkan sebelah matanya ketika melihat Wonwoo menatapnya dengan wajah datar. Lalu gadis itu menjulurkan lidahnya. Jihoon memelototi Mingyu. Mingyu cengar-cengir dan melambaikan tangan lalu berlari mendekati teman satu timnya.
Jihoon melirik Wonwoo tajam. Lalu Wonwoo yang tersadar karena ia meneriaki Mingyu cengar-cengir. Wonwoo berdeham dan memasang wajah datarnya. "Ayo pulang. Dan tolong jangan tanya apa-apa sekarang," kata Wonwoo lalu menarik Jihoon yang masih menatapnya tidak percaya untuk meninggalkan lapangan basket.
.
Tiga hari yang lalu…
"Seungcheol. Jumat tidak ada kuliah 'kan?" tanya Tuan Choi saat keluarga itu sedang makan malam.
"Tidak, kenapa Appa?"
"Paman Jang membuka cabang di Jeju, Doyoon diutus ke sana sebagai perwakilan. Kau ikut ya, sebagai asisten Doyoon."
Seungcheol mengangguk.
"Berangkat Kamis sore. Kau boleh pulang Sabtu atau Minggu. Lumayan liburan dengan calon istri." Tuan Choi terkekeh dan menggoda Seungcheol.
"Appa!" seru Seungcheol.
Nyonya Choi tersenyum. "Jangan macam-macam dengan Doyoon ya."
"Eomma! Aish, aku tidak mungkin macam-macam dengannya," kata Seungcheol jengkel karena godaan kedua orangtuanya. Kemudian ia menghabiskan makanannya dengan cepat dan pergi ke kamarnya.
.
Jadi di sanalah Seungcheol, duduk bersebelahan dengan Doyoon di dalam pesawat yang akan membawanya ke Jeju dari Gimpo. Pesawat sudah lepas landas setengah jam yang lalu. Seungcheol membaca majalah, sementara Doyoon membaca berkasnya. Doyoon menguap beberapa kali dan mengucek matanya.
Seungcheol mengambil berkas dari tangan Doyoon dan menarik kepala gadis itu untuk bersandar pada bahunya. "Tidurlah. Sepertinya kau lelah."
Doyoon menegakkan kepalanya dan mencoba merebut berkasnya. "Tapi—"
Seungcheol menjauhkan berkas itu dan menarik kepala Doyoon lagi agar bersandar pada pundaknya. "Tidak ada tapi-tapian dan turuti aku. Call? Kau bisa membacanya lagi besok pagi."
Doyoon menggembungkan pipinya dan menyamankan diri pada bahu Seungcheol. Ia menutup matanya. "Jalja."
Seungcheol tersenyum dan mengacak rambut Doyoon. "Jalja." Lalu ia membaca berkas itu. Setidaknya ia harus mengetahuinya juga agar tidak terlihat memalukan sebagai asisten Doyoon.
.
Pembukaan kantor cabang di Jeju sukses dan berjalan dengan lancar. Setelah acara selesai Seungcheol dan Doyoon berbincang-bincang dan makan malam bersama dengan para klien. Lalu pada hari Sabtu setelah makan siang, Seungcheol mengajak Doyoon ke pantai Jungmun.
"Woaa~" Mata Doyoon berbinar senang ketika kakinya sudah menginjak pasir putih dan melihat pantai di hadapannya. Ia lalu menarik Seungcheol untuk mendekat ke air. Doyoon berjongkok dan mencipratkan air ke Seungcheol yang berdiri di sampingnya. Ia terkekeh.
Seungcheol berjongkok lalu tangan kanannya menahan kepala Doyoon sementara tangan kirinya mengambil air lalu membasahi wajah gadis itu. Seungcheol terkekeh. Doyoon merengut sambil mengelap wajahnya yang basah.
"Ya! Aku hanya mencipratkan air kepadamu kenapa kau membasahi wajahku!" seru Doyoon tidak terima.
Seungcheol cengar-cengir lalu mengambil air dengan kedua tangan dan mengguyur kepala Doyoon. Kemudian ia berlari menjauhi Doyoon.
Doyoon berdecak sebal dan mengejar Seungcheol yang berlari menuju pantai yang semakin dalam. Keduanya bermain air dan tertawa, saling mendorong sampai akhirnya Doyoon jatuh ke air dan basah kuyup. Seungcheol tertawa puas sementara Doyoon merengut dan mengulurkan tangannya.
"Bangun sendiri. Aku tidak akan tertipu untuk membantumu," kata Seungcheol mengejek.
Doyoon mendengus dan bangun lalu mencipratkan air pada wajah Seungcheol.
Seungcheol tersenyum dan mengacak rambut Doyoon yang setengah basah. "Mau menyusuri pantai?"
Doyoon mengangguk dan tersenyum.
Seungcheol melepas kemeja lengan panjangnya meninggalkan tubuhnya yang terbalut kaos tanpa lengan berwarna hitam dan memberikannya kepada Doyoon. "Pakai ini. Kelihatan," kata Seungcheol tanpa melihat Doyoon.
Doyoon menatap baju putihnya yang tembus pandang, memperlihatkan bra berwarna hitam. Ia segera mengambil kemeja Seungcheol dan memakainya. Pipinya merona.
"Sudah?"
Doyoon mengangguk dan berjalan di sebelah Seungcheol. Lalu ia berpindah di belakang Seungcheol, memegang pundaknya dan melompat ke punggung Seungcheol kemudian mengalungkan tangannya pada leher pemuda itu.
Seungcheol tertawa kecil dan menautkan kedua tangan di belakang tubuhnya lalu ia menyusuri pantai tanpa percakapan apapun, hanya suara debur ombak yang menemani mereka.
.
Seungcheol memberikan sekaleng soda kepada Doyoon lalu duduk di sebelah gadis itu dan membuka kaleng minumannya.
"Thanks," kata Doyoon.
Seungcheol mengangguk. Keduanya duduk di pasir pantai dan menunggu matahari tenggelam. "Baru pertama kali ke Jeju?"
"Iya. Kau juga?"
"Ini kedua kali."
"Oh."
"Pindah ke Amerika sejak umur berapa?"
"Lima. Tapi aku sempat sekolah di sini waktu SMA lalu kembali lagi ke Amerika."
Seungcheol mengangguk.
"Oh ya. Aku punya teman baik saat aku SMA. Dia cantik. Terkadang aku iri kepadanya karena semua mata lelaki selalu tertuju kepadanya. Kapan-kapan aku kenalkan," ujar Doyoon menggebu-gebu.
Seungcheol tersenyum dan mengacak rambut Doyoon. "Aku tunggu." Seungcheol menyeruput minumannya. "Tidak pernah pacaran?"
Doyoon menggeleng. Tangannya menggambar pasir dengan gerakan melingkar.
"Kenapa?" Seungcheol meliriknya.
Doyoon memeluk kakinya dan menempelkan pipinya pada lutut. Ia menatap Seungcheol. "Menunggu seseorang," lirih Doyoon.
"Cinta pertama?"
"Bisa dibilang begitu."
"Lalu ada dimana orang itu? Beraninya dia membiarkan seorang gadis menunggu."
Doyoon tertawa. "Dia ada di dekatku kok."
"Masih berhubungan dengannya?"
Doyoon mengangguk. "Tapi dia melupakanku," lirihnya.
Seungcheol mengusap kepala Doyoon.
"Aku bodoh ya?" tanya Doyoon.
Seungcheol menggeleng. "Kau cukup kuat untuk menunggunya. Lalu mengapa menerima perjodohan—" Seungcheol berdeham. "—kita?" lanjutnya dengan suara pelan.
Doyoon tertawa. "Mungkin aku sudah lelah."
Seungcheol menepuk pundak Doyoon beberapa kali. Doyoon menumpukan dagunya pada lutut dan melihat matahari yang mulai tenggelam. "Thanks, Cheol-ie," katanya lalu mendekati Seungcheol kemudian mengecup pipi kirinya. Lalu ia berlari meninggalkan Seungcheol yang membulatkan mata dan menyentuh pipinya yang dicium.
.
"Apa lagi kali ini Kim? Tidak bosan menggangguku terus?" Wonwoo menolehkan kepalanya dan bertanya dengan galak setelah Mingyu duduk di sampingnya.
Mingyu cengar-cengir dengan wajah bersalah. "Noona…"
Wonwoo masih menatapnya dan menunggu Mingyu untuk melanjutkan kalimatnya.
Mingyu meneguk ludahnya. "Ibu memintaku untuk mengajakmu makan malam di rumah."
Wonwoo menautkan kedua alisnya. "Dalam rangka?"
"Pertemuan tempo hari. Ayah cerita kepada Ibu kalau aku punya pacar."
Wonwoo berdiri, memelototi Mingyu sambil membanting buku di meja. Membuat semua orang di perpustakaan itu melihat ke arah mereka. Wonwoo berdeham dan duduk kembali.
"Maaf noona, aku tidak tahu kalau jadinya akan seperti ini," ucap Mingyu sambil mengatupkan kedua tangan.
"Tidak mau, bilang saja kau sudah putus denganku."
"Noona, please…" mohon Mingyu.
"Tidak, Kim."
"Ayolah noona, masa tega menolak permintaan orangtua. Tolong noona."
"Kau sudah membohongi mereka Kim. Jujurlah pada mereka kalau aku bukan pacarmu."
"Ayolah noona. Mana bisa aku menolak ketika ibu bilang 'bawa pacarmu kemari dan perkenalkan pada Eomma' dengan senyum cerahnya itu."
Wonwoo menghela napas. "Kapan?"
"Hari Jumat."
Berarti dua hari lagi. Wonwoo rasanya ingin mencekik pemuda di sampingnya saat itu juga. Ia menghela napas dan mencoba untuk menenangkan diri.
"Tolong datang ya noona? Ibu memaksaku terus. Nanti aku jemput. Pakai pakaian kasual saja, cuma acara makan malam biasa kok."
Wonwoo mengangguk lalu berdiri dan mengembalikan buku yang dibacanya pada tempatnya dan keluar dari perpustakaan.
.
Wonwoo turun dari mobil dan memakai tasnya lalu mengikuti Mingyu untuk masuk ke rumahnya sambil membenarkan rambutnya yang sudah rapi lalu menghela napas.
"Tidak perlu tegang begitu," kata Mingyu sambil tersenyum.
Wonwoo melirik Mingyu dan mencibir.
"Eomma, aku membawa Tuan Putri," kata Mingyu setelah masuk ke rumahnya dan memakai sandal rumah.
Wonwoo mencubit pinggang Mingyu dan memakai sandal rumah yang sudah disiapkan untuknya. Ia membungkukkan badan ketika melihat satu orang wanita paruh baya dan seorang gadis duduk di sofa ruang tamu. Kedua perempuan itu berdiri dan Mingyu mendorong Wonwoo untuk mendekati mereka.
"Ini ibuku dan ini adikku," kata Mingyu mendekati kedua perempuan itu dan memperkenalkan mereka kepada Wonwoo.
Wonwoo membungkukkan badan lagi. "Annyeonghaseyo. Aku Jeon Wonwoo, senang bertemu dengan kalian."
"Hai eonni, aku Kim Minseo. Senang bertemu denganmu," kata Minseo ramah.
"Cantik, kenapa tidak kau kenalkan waktu itu kepada Eomma?" tanya Nyonya Kim dengan suara pelan dan menyenggol Mingyu namun masih bisa didengar oleh semuanya. Sementara Minseo menatap Mingyu dan mengacungkan jempolnya. Mingyu cengar-cengir melihat ibu dan adiknya.
Wonwoo tersenyum tipis.
Nyonya Kim balas tersenyum. "Anggap saja rumah sendiri ya Wonwoo. Ayo langsung ke ruang makan," ajak Nyonya Kim. "Minseo, tolong panggil ayahmu."
Minseo menuruti ibunya dan pergi untuk memanggil ayahnya. Sementara Nyonya Kim, Mingyu dan Wonwoo ke ruang makan.
.
"Ayo diambil. Jangan malu-malu," kata Nyonya Kim sambil tersenyum.
"Ahjussi dan ahjumma dulu," kata Wonwoo.
"Tidak apa-apa. Ambil duluan saja," balas Nyonya Kim.
Wonwoo mengambil centong nasi dan menyendok nasi lalu memberikannya kepada Tuan Kim lalu Nyonya Kim. Membuat Nyonya Kim tesenyum makin lebar.
Mingyu yang berada di sebelah Wonwoo menyodorkan piringnya di depan gadis itu dan tersenyum.
Wonwoo melirik Mingyu. "Ambil sendiri!" serunya pelan.
Mingyu lalu melirik kedua orangtuanya lalu melihat Wonwoo. Wonwoo memutar bola mata malas lalu dengan terpaksa memberikan nasi kepada Mingyu, lalu kepada Minseo, baru mengisi piringnya dengan nasi. Wonwoo juga memberikan lauk-pauk kepada semuanya. Lalu mereka mulai makan.
"Kalian satu kampus?" tanya Tuan Kim di sela-sela acara makan malam mereka.
"Iya," jawab Wonwoo sementara Mingyu menganggukkan kepala.
"Satu jurusan?" tanya Minseo.
"Aku dari fakultas Ilmu Budaya," jawab Wonwoo.
"Satu angkatan?" tanya Minseo lagi.
"Aku satu tahun lebih tua."
"Wow," ujar Minseo.
"Lalu bagaimana kalian bisa bertemu?" Kali ini Nyonya Kim yang bertanya.
"Jodoh tidak lari kemana Eomma," jawab Mingyu.
Wonwoo tersedak mendengar jawaban Mingyu.
"Pelan-pelan sayang," kata Mingyu sambil mengusap punggung Wonwoo dan menyodorkan segelas air kepadanya.
Wonwoo meminum airnya lalu menatap Mingyu tajam. Mingyu mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum. Lalu Wonwoo menginjak kaki Mingyu. Mingyu meringis dan melanjutkan makannya lagi.
"Eonni asli Seoul?" tanya Minseo.
Wonwoo menggeleng. "Aku dari Changwon."
"Di sini tinggal dengan siapa?" tanya Tuan Kim.
"Sendirian ahjussi, di apartemen."
Dan percakapan berlanjut. Wonwoo seperti melakukan interview dengan keluarga Kim. Setelah makan malam selesai, Nyonya Kim, Mingyu, Minseo dan Wonwoo ke ruang tamu sementara Tuan Kim pamit untuk melanjutkan pekerjaannya.
Minseo semakin akrab dengan Wonwoo. Ia bertanya banyak hal tentang apa saja yang dipelajari di fakultas Ilmu Budaya. Sementara Nyonya Kim dan Mingyu hanya menyimak, sesekali Nyonya Kim ikut bertanya. Lalu Wonwoo melirik Mingyu yang ada diseberangnya.
"Eomma, sudah malam. Sepertinya Tuan Putri ingin pulang," kata Mingyu kepada Nyonya Kim.
Wonwoo tersenyum sungkan pada Nyonya Kim.
"Ah maaf, sepertinya kami terlalu semangat karena bertemu denganmu," ucap Nyonya Kim lalu berdiri.
Mingyu, Wonwoo dan Minseo ikut berdiri. Mereka berempat menuju pintu utama untuk mengantar kepulangan Wonwoo.
Wonwoo membungkukkan badannya setelah selesai memakai sepatunya. "Terima kasih ahjumma atas makan malamnya. Masakannya lezat," kata Wonwoo sambil tersenyum.
Nyonya Kim tersenyum. "Terima kasih kembali karena karena sudah makan malam dengan kami sayang," ucap Nyonya Kim sambil menarik hidung Wonwoo gemas.
Minseo lalu memeluk Wonwoo. "Sering-sering main ke rumah ya eonni."
Wonwoo mengangguk dan membalas pelukan Minseo. "Aku pulang dulu ahjumma, Minseo. Sampai jumpa," pamitnya.
"Sampai jumpa," kata Nyonya Kim dan Minseo. Keduanya melambaikan tangan.
Wonwoo membalas lambaian tangan mereka lalu mengekori Mingyu menuju ke mobil.
"Bisa tidak sih tidak memanggilku Tuan Putri?" tanya Wonwoo saat sudah duduk di mobil dan memakai sabuk pengaman.
"Kenapa? Mau dipanggil sayang saja?" Mingyu balik bertanya dan menghidupkan mesin mobil.
Wonwoo memutar bola mata malas. "Tidak keduanya. Risih Kim."
Mingyu terkekeh dan melajukan mobilnya ke apartemen Wonwoo. Keheningan menyelimuti keduanya.
"Sudah sampai," kata Mingyu setelah sampai di depan apartemen Wonwoo.
Wonwoo membuka sabuk pengamannya dan membawa tasnya. "Thanks." Lalu ia turun dari mobil. "Ini terakhir kalinya aku menuruti permintaanmu, Kim. Jangan menggangguku lagi," kata Wonwoo dingin lalu menutup pintu mobil.
.
Jihoon menghela napas jengkel dan hampir menangis sambil mengerjakan tugasnya yang belum mencapai separuh di perpustakaan. Waktu menunjukkan pukul dua siang, kurang tujuh jam menuju deadline. Dan ini bukan jenis tugas yang bisa dikerjakan satu atau dua jam. Salah Jihoon juga sih tidak mencicilnya dari minggu lalu, ia jadi menyesal dan panik sendiri karena lupa akan deadlinenya.
Seorang pemuda menjitak kepala Jihoon pelan dan duduk di sampingnya. "Jelek sekali wajahmu."
Jihoon menoleh dan mendapati Seungcheol sedang tersenyum ke arahnya. "Oppa."
"Hai," sapa Seungcheol lalu mendekati Jihoon dan mengusap sudut matanya yang sudah berair lalu mengacak rambut Jihoon. "Biar aku bantu."
Jihoon mengusap kedua matanya lalu menunjukkan bagian yang harus dikerjakan Seungcheol. "Thanks," katanya sambil tersenyum.
Dari balik rak buku, Soonyoung melihat semuanya dari awal. Ia meremas kertas yang berada di tangannya dan meninggalkan perpustakaan dengan wajah memerah menahan amarah.
.
"Sudah Soon, kau mabuk," kata Jun menjauhkan gelas kecil dari tangan Soonyoung.
Soonyoung berusaha meraih gelas itu. Soonyoung sudah menghabiskan dua botol Jack Daniel's lalu ia melihat botol ketiganya yang masih berisi setengah dan meneguknya langsung.
Jun merebut botol dari tangan Soonyoung. "Soon… Ayo pulang."
"Tidak mau. Mau Jihoon," kata Soonyoung dan menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Jihoon sebentar lagi datang." Jun tadi sudah menelepon Jihoon dan meminta gadis itu untuk membawa pacarnya pulang karena Soonyoung tidak mau pulang bersama Jun.
Beberapa menit kemudian, Jihoon memasuki klub malam dan menarik kaos Soonyoung dari samping. "Soon."
Soonyoung mengangkat kepalanya dan menoleh lalu memeluk Jihoon. Soonyoung memberikan kecupan-kecupan ringan pada pipi Jihoon.
"Dia kenapa?" tanya Jihoon pada Jun.
Jun mengangkat bahu. "Sejak tadi meracau tidak jelas tentang Seungcheol-hyung."
Jihoon mendengus lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet dan meletakkannya di meja. "Ayo pulang," kata Jihoon dan menarik Soonyoung turun dari kursinya.
Soonyoung merogoh kantong jaketnya dan menyerahkan kunci motornya pada Jun. "Bawa motorku," kata Soonyoung setengah sadar dengan mata setengah terpejam.
"Pulang dulu Jun," pamit Jihoon kepada Jun.
"Hati-hati."
Jihoon dan Soonyoung meninggalkan klub malam dan pulang menuju apartemen Jihoon dengan taksi.
.
Jihoon menekan empat tombol pada pintu apartemennya dan menarik Soonyoung masuk lalu merebahkan badan Soonyoung di kasurnya. Soonyoung sudah biasa menginap di apartemen Jihoon, jadi Jihoon membawa pemuda itu ke apartemennya. Lagipula akan merepotkan jika Jihoon memulangkan Soonyoung ke apartemennya lalu ia pulang sendiri, dan Jihoon sedang tidak ingin pulang sendiri.
Soonyoung menarik Jihoon ketika gadis itu menjauh. Jihoon bertumpu pada kasur dengan kedua tangannya. Soonyoung mengelus pipi Jihoon dengan ibu jarinya. "Ayo 'tidur' denganku."
Jihoon mendengus, paham dengan tidur yang dimaksud Soonyoung. "Kau mabuk Soon. Tidurlah," katanya dan mengacak rambut Soonyoung.
Soonyoung menarik Jihoon ke kasur. Ia berpindah ke atas Jihoon dan mengungkung gadis mungil itu lalu mengusap pipinya. "Kenapa tidak mau? Kau mencintaiku 'kan?"
Jihoon memegang tangan Soonyoung yang berada di pipinya dan menatap pemuda itu ketakutan. "Ya, aku mencintaimu dan aku tidak mau karena kau memintanya karena cemburu dengan Seungcheol-oppa."
Soonyoung mendengus. "Jadi kau lebih memilih mantanmu daripada pacarmu hm?"
"Aku tidak bilang begi—hmphh"
Soonyoung melumat bibir gadis di bawahnya dengan ganas—mengabaikan penolakan gadis itu yang berusaha menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan agar bibir Soonyoung tidak menyentuh bibirnya. Tangan kanan Soonyoung menahan dagu Jihoon agar kepalanya tidak bergerak. Soonyoung menghisap bibir bawah gadis itu dan menjilatnya. "Buka mulutmu," kata Soonyoung dingin karena Jihoon tidak membalas ciumannya dan menutup bibirnya rapat-rapat. Soonyoung melumat bibir Jihoon lagi sementara tangan kirinya mulai membuka paksa kemeja gadis itu.
"So—" Jihoon berusaha menjauhkan tangan Soonyoung. Matanya mulai berair. Ia lalu menendang perut Soonyoung dengan lututnya sekuat tenaga. Saat Soonyoung menjauhkan kepalanya karena meringis kesakitan Jihoon menampar pipi Soonyoung. Jihoon mendorong Soonyoung dan turun dari ranjangnya sambil merapatkan kemejanya yang terbuka dan berlari ke kamar mandi dan mengunci dirinya di sana.
Soonyoung mengejar Jihoon dan menggedor pintu kamar mandi. Tamparan pada pipinya membuatnya tersadar. "Ji, aku minta maaf. Ayo keluar, aku tidak akan melakukan apa-apa padamu. Aku minta maaf," kata Soonyoung sambil terus menggedor pintu kamar mandi.
Jihoon duduk bersandar pada pintu kamar mandi. Ia mengusap air matanya dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya mengambil ponsel di sakunya lalu menghubungi Jun.
"Ji… Ayo keluar, kita butuh bicara," kata Soonyoung dan tetap menggedor pintu.
"Jun… Jun… Ayo angkat," lirih Jihoon. Air matanya terus mengalir dan tubuhnya bergetar.
"Hal—"
"Jun, kau dimana?" tanya Jihoon sambil sesenggukan. "Tolong ke apartemenku sekarang. Bawa Soonyoung pulang."
"Oke, tunggu sebentar. Aku ke apartemenmu."
Jihoon mematikan panggilan dan memeluk lututnya sesekali menghapus air matanya yang masih mengalir.
"Ji…" panggil Soonyoung sambil menempelkan dahinya pada pintu. Tangannya mengepal dan memukul pintu beberapa kali. "Aku minta maaf."
Jihoon berusaha menenangkan diri, air matanya sudah berhenti dan ia menghembuskan napas pelan. Ia menyeleting parkanya dan berdiri lalu membuka kunci pintu.
Soonyoung mendorong pintu perlahan dan melihat Jihoon.
"Jangan mendekat!" seru Jihoon ketika Soonyoung akan melangkahkan kakinya. Jihoon keluar dari kamar mandi dengan berjalan menyamping menghindari Soonyoung lalu berlari mengambil gitarnya. Jaga-jaga untuk memukul Soonyoung siapa tahu lelaki itu akan berbuat macam-macam lagi.
Soonyoung sudah duduk di ujung kanan sofa. Memijat kepalanya yang terasa sakit yang diletakkan pada sandaran sofa. Sementara Jihoon duduk di ujung kiri sofa dan memeluk gitarnya.
"Ji—"
Jihoon memotong perkataan Soonyoung. "Jun sebentar lagi menjemputmu."
"Aku minta maaf."
"Ya, dan aku tidak mau membahas ini sekarang. Jadi pulanglah dan tidur dengan nyenyak."
Soonyoung tersenyum sedih. "Maaf."
Beberapa saat kemudian bel apartemennya berbunyi. Jihoon berjalan ke pintu depan diikuti oleh Soonyoung lalu membuka pintu.
"Aku pulang dulu," pamit Soonyoung dan keluar dari apartemen Jihoon.
Jun melihat Jihoon dan Soonyoung bergantian dengan wajah bingung tapi ia tidak bertanya apa-apa. "Sampai jumpa Jihoon," pamitnya.
Jihoon tersenyum lalu menutup pintu apartemennya. Ia bersandar pada pintu dan mengambil ponselnya dan menghubungi Wonwoo.
"Yeoboseyo? Ada apa Jihoon-ie?"
"Sibuk tidak? Boleh aku menginap di tempatmu?"
"Tidak usah, aku yang akan ke sana. Tunggu aku."
"Thanks."
.
"Kau pulang lewat jalan biasa?" tanya seorang pemuda yang berstatus asisten dosen bernama Lee Minhyuk.
Jeonghan mengangguk dan mengecek kembali barang bawaannya.
"Tidak mau kuantar saja? Sudah malam. Banyak preman di sana."
Jeonghan tersenyum. "Tidak perlu repot-repot oppa. Aku akan baik-baik saja." Jeonghan memakai tasnya. "Sampai jumpa oppa."
Minhyuk melambaikan tangan dan tersenyum.
Jeonghan berjalan keluar kampus dan merapatkan jaketnya. Tiba-tiba seorang lelaki berbadan kekar membekap mulut Jeonghan dan menariknya ke salah satu gang. Jeonghan meronta dan berusaha melepaskan tangan itu. Kemudian lelaki itu mendorong Jeonghan ke tembok.
"Apa maumu?" Jeonghan menatap lelaki itu nyalang.
"Berikan uangmu."
"Aku tak punya uang."
Lelaki itu merampas tas Jeonghan dan mengeluarkan semua isinya.
"Ya!"
Lelaki itu mendengus ketika tidak menemukan dompet Jeonghan. Lalu ia mendekati Jeonghan dan mengelus pipinya. Ia menyeringai. "Kau cantik."
Jeonghan menatap lelaki itu ngeri. Tapi ia mencoba berani dan tersenyum mengejek. "Terima kasih, tapi kau bukan tipeku."
Lelaki itu marah dan mencoba mencium bibir Jeonghan. Jeonghan menjauhkan kepalanya dan menutup bibirnya dengan tangan. Tangan kanan lelaki itu menarik tangan Jeonghan dan menahannya di atas kepala gadis itu sementara tangan kirinya membuka kancing kemeja Jeonghan.
Jeonghan meronta dan berteriak. "Tolong!" Ia masih berusaha menjauhkan kepalanya.
"Percuma berteriak. Tidak akan ada yang menolongmu." Lelaki itu menyeringai.
Tiba-tiba seorang pemuda manis menarik lelaki itu dan menonjok pipinya. Lelaki itu menatap si pemuda tajam dan balas menonjoknya berkali-kali lalu berdecak dan pergi.
Jeonghan merosot dan mengancing kemejanya dengan tangan bergetar lalu memasukkan barangnya yang berserakan ke dalam tas. Ia menunjukkan wajah shock dan napasnya putus-putus. Jeonghan menatap pemuda yang menolongnya dan mendekatinya. "Kau baik-baik saja?" Jeonghan menyentuh wajah pemuda itu.
Pemuda itu mendesis.
"Maaf, ayo ikut aku," kata Jeonghan dan menarik tangan pemuda itu menuju apartemennya.
Jeonghan masuk ke dalam apartemennya dan mendudukkan si pemuda pada sofa lalu ia mengambil kotak obat. Jeonghan mengambil kapas dan membubuhkan alkohol pada kapas itu, kemudian membersihkan luka si pemuda, membuat pemuda itu mendesis lagi.
"Maaf, sudah membuatmu menjadi seperti ini," kata Jeonghan.
Pemuda itu tersenyum. "Makanya, lain kali hati-hati."
Jeonghan mengangguk. Setelah selesai membersihkan luka pemuda itu, Jeonghan menempelkan plester pada pipi kanan dan ujung bibir kiri pemuda itu. "Sudah selesai. Kau boleh menginap kalau mau," tawar Jeonghan.
"Kakiku masih berfungsi dengan baik," kata si pemuda dengan senyum manisnya.
Jeonghan tersenyum canggung, pipinya merona. "Siapa namamu? Aku belum berterima kasih karena kau sudah menolongku."
"Hong Jisoo."
"Terima kasih sudah menolongku, Jisoo-ssi, biarkan aku mentraktirmu lain kali." Jeonghan membungkukkan badannya.
Jisoo tersenyum tipis. "Tidak perlu repot-repot."
"Boleh pinjam ponselmu?"
Jisoo menatap Jeonghan bingung namun ia menyerahkan ponselnya.
Jeonghan mengetikkan beberapa angka dan melakukan panggilan, lalu ia menyimpan nomor itu dan mengembalikan ponsel Jisoo.
"Oh ya, siapa namamu?" tanya Jisoo.
"Ada di sana," jawab Jeonghan sambil menunjuk ponsel Jisoo.
Jisoo membaca nama pada panggilan keluar lalu menatap Jeonghan. "Cheonsa?"
Jeonghan mengangguk. Ia mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum.
Pipi Jisoo merona. Ia jadi gugup karena baru kali ini digoda perempuan. "A-A-Aku pulang dulu. Terima kasih sudah menolongku." Jisoo berdiri dan membungkukkan badan lalu berjalan ke pintu utama.
"Sampai jumpa Pangeran!" kata Jeonghan dengan senyum menggodanya dan mengantar kepulangan Jisoo.
.
TBC
.
Ingin mengubur diri karena ngebuat chapter 4 kayak gini. Maaf sinetron banget. Maaf juga bila disini ada yang ngerti basket dan saya ngetiknya agak ngawur, udah lama gak nonton basket jadi yah…
Aku ngakak gaes baca review kalian lol pada dendam sama Mingyu ya gara-gara ngardusin JK sama Jeonghan? Lol
Nice statement 17MissCarat! Sebetulnya aku juga bingung lol jaman dulu Mingming unyuu Jun cantik, sekarang Mingming jadi ganteng Jun juga. Tapi berhubung namanya Mingry jadi iyain aja ya top!Mingming. Pas baca review kalian kayaknya pada gak kebiasaan ama bot!Jun. Tapi percayalah, bot!Jun gak buruk-buruk amat kok kalo dipairingin ama Mingming ato Mingyu.
Syukurlah kalo cuma pada bingung masalah cast. Maapin kemarin iseng-iseng doang mau masukin Pristin hehe.
Wonu ntar punya dedek kok. Untuk emak-bapaknya belum kepikiran adegan yang ada emak-bapaknya jadi mungkin ga dimunculin ya. Atau mungkin ada ide?
Minghao ama Chan muncul besok-besok.
Terima kasih sarannya PeaNdut. Sebetulnya uda mau digituin tapi aku terlalu malas, maapin lagi yak lol :'
Buat yang mau UN, fighting ya. Semoga fanfic ini bisa menghibur kamu di tengah stress belajar. Semoga lulus dengan nilai memuaskan! \^o^/
Terima kasih atas review, fav dan follownya. Berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)
