Seventeen belong to God, Pledis and their parents

Fall For You © Bianca Jewelry

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)

Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)

Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)

Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS) and a bit SeokSoon lol

Yao Mingming X Wen Junhui

Rating: M for safe

Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.

.

Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini. Gombal receh.

.

"Kita mau kemana hyung?" tanya Seungkwan yang langsung ditarik oleh Seokmin ketika pemuda itu menghampirinya.

"Sudah ikut saja," jawab Seokmin dan menarik Seungkwan menuju ruang teater.

Beberapa mahasiswa sudah berada di atas panggung dan melakukan persiapan, ada juga beberapa mahasiswa yang duduk di bangku penonton. Hari itu mahasiswa yang tergabung dalam kelas teater sedang melakukan pengambilan nilai melalui drama improvisasi. Orang awam maupun mahasiswa dari luar kelas teater boleh menonton, dan penonton juga boleh terlibat dalam drama itu jika ada mahasiswa yang meminta. Salah satunya bule tampan yang mengacungkan tangannya kepada dosen yang duduk di kursi penonton paling depan.

"Ssaem!"

"Ya Vernon?"

"Aku minta ganti lawan main."

"Baik. Siapa yang kau pilih?"

"Itu," jawab Vernon sambil menunjuk Seungkwan.

Seungkwan menunjuk dirinya sendiri, "Me?!"

"Yes you, come here!"

Seungkwan dalam mode terkejut menatap Seokmin. Seokmin menganggukkan kepalanya dan tersenyum. Dengan gugup ia melangkah menuju panggung dan melakukan persiapan sebentar. Setelah selesai, Vernon memberi tanda kepada dosen kalau ia sudah siap untuk tampil. Kemudian sang dosen memberikan kode kepada kru backstage untuk menutup gorden panggung. Lalu gorden panggung kembali terbuka. Vernon mendekati Seungkwan yang sedang membeli hotdog, menarik tangan pemuda itu lalu memborgol kedua tangannya.

"Kau ditangkap atas tuduhan pencurian!" kata Vernon.

Seungkwan terkejut dan membulatkan kedua matanya. "Hei, jangan sembarangan! Lepaskan aku! Aku bukan pencuri. Mungkin pencuri yang kau cari ada di sana," katanya sambil menunjuk seorang lelaki yang dikelilingi beberapa orang dengan dagunya.

Polisi lain sudah mengamankan lelaki itu. Vernon menoleh ke arah gerombolan lalu memperhatikan Seungkwan dari atas sampai bawah. "Oh ya? Kau lebih terlihat sebagai pencuri daripada orang itu."

"Tidak sopan! Aku bukan pencuri! Lepaskan aku!"

"Yakin? Aku rasa kau sudah mencuri hatiku," kata Vernon sambil menarik Seungkwan untuk mendekat, membuat pipi Seungkwan memerah. Vernon mendorong Seungkwan lalu melepas borgol dari tangan Seungkwan. "Maaf, aku urus yang di sana dulu. Jangan kemana-mana," kata Vernon dan meninggalkan Seungkwan yang bersemu merah.

Setelah selesai mengurus pencuri itu, gorden panggung ditutup dan kru mengganti latar menjadi taman. Gorden dibuka lagi, Vernon berjalan berdampingan dengan Seungkwan.

"Maaf aku sudah menuduhmu," kata Vernon sambil membungkukkan badannya.

Seungkwan mendengus dan bersedekap. "Hanya minta maaf saja?"

Vernon merogoh sakunya dan memberikan selembar kertas kecil pada Seungkwan yang berisi nama dan nomor teleponnya. "Temui aku di café dekat sini jam tiga nanti. Aku akan mentraktirmu sebagai permintaan maaf."

Seungkwan membuka kertas itu dan mengerjapkan matanya. "Ini asli?" bisiknya.

"Tentu saja." Vernon juga berbisik.

Seungkwan mengangguk. "Baiklah. Jangan terlambat!"

Vernon tersenyum. "Kalau begitu. Aku tinggal dulu, masih ada pekerjaan yang harus ku urus. Sampai jumpa."

"Sampai jumpa." Seungkwan tersenyum.

Gorden kembali ditutup dan drama dilanjutkan. Seungkwan turun dari panggung dan berjalan ke kursi penonton dengan kaki lemas. Senyum bahagia tak lepas dari wajahnya. Akhirnya, dia mengetahui nama dan nomor telepon bule tampan itu.

"Hyung, aku dapat nomor teleponnya!" seru Seungkwan bahagia saat duduk di sebelah Seokmin.

Seokmin tersenyum. "Tidak salah 'kan aku membawamu kemari?"

"Terima kasih hyung," ucap Seungkwan dan menoleh ke arah panggung untuk menonton Vernon.

Vernon sempat mengedipkan sebelah matanya kepada Seungkwan ketika mata mereka bertemu. Pemuda asal Jeju itu hanya tersenyum malu-malu dengan pipi merona. Seungkwan menonton Vernon dengan antusias sampai bagiannya berakhir. Setelah drama selesai, Vernon mendekati Seungkwan untuk mengingatkannya bertemu di café dekat kampus. Ternyata itu bukan akting, tapi ajakan kencan sungguhan. Seungkwan ingin pingsan di tempat rasanya.

.

"Doyoon-ah."

"Oppa, lama tidak jumpa!" seru Doyoon senang.

Lelaki bernama Lee Myunghoon itu tersenyum. "Sendirian saja?"

"Tidak. Sama Seungcheol, sedang di toilet. Oppa sendirian saja?"

Myunghoon mengangguk.

Doyoon tersenyum. Mereka sedang berada di salah satu pertemuan rekan kerja ayah Doyoon. Myunghoon sudah dianggap Doyoon sebagai kakak dan ia sering menceritakan masalahnya kepada Myunghoon, tapi Myunghoon tidak menganggap Doyoon demikian. Ia pernah menyatakan cintanya pada Doyoon dan ditolak. Myunghoon adalah asisten dosen di salah satu kelas yang dimasuki Doyoon saat berada di Harvard. Tak lama setelah Doyoon kembali ke Korea, Myunghoon juga kembali dan memegang satu cabang perusahaan ayahnya.

Dari kejauhan Seungcheol melihat keduanya dengan tatapan tidak suka. Kemudian Seungcheol mendekati mereka dan merangkul Doyoon.

Doyoon menoleh dan tersenyum. "Kenalkan, ini Myunghoon, asisten dosenku saat di Amerika. Oppa, ini Seungcheol."

"Lee Myunghoon," kata Myunghoon dan mengulurkan tangannya.

"Choi Seungcheol." Seungcheol menjabat tangan Myunghoon. "Calon suami Doyoon," lanjutnya dengan penekanan pada setiap kata.

"Ya, aku tahu itu." Myunghoon tersenyum pada Doyoon. "Aku tinggal dulu."

Doyoon mengangguk dan tersenyum kemudian ia memukul lengan Seungcheol pelan. "Jangan berkata seperti itu lagi."

Seungcheol terkekeh. "Kenapa? Kau memang calon istriku 'kan?"

"Malu," cicit Doyoon. Ia menggembungkan pipinya yang memerah dan tidak berani menatap Seungcheol.

Seungcheol jadi gemas dan mencubit pipi Doyoon. Ia tertawa.

Doyoon merengut dan melepas kedua tangan Seungcheol dari pipinya. "Ayo sapa yang lain."

Seungcheol mengangguk dan mengikuti Doyoon untuk menyapa rekan kerjanya yang lain.

.

"Ji…"

"Menjauh dariku," kata Jihoon sambil menggeser duduknya menjauhi Soonyoung.

"Ayolah Ji, 'kan aku sudah minta maaf," mohon Soonyoung.

"Hai," sapa Jeonghan.

"Lama tidak lihat noona," balas Mingyu yang sejak tadi duduk di depan Soonyoung dan Jihoon dan hanya memperhatikan pasangan itu.

Jeonghan tersenyum kemudian duduk di sebelah Mingyu. "Kalian kenapa?" tanyanya pada Soonyoung dan Jihoon.

"Sedang alergi sama makhluk ini," jawab Jihoon cuek sambil menggeser duduknya lagi kemudian berkutat pada kertas partiturnya.

Soonyoung merengut mendengar jawaban Jihoon.

Jeonghan tertawa. "Apa yang sudah kau lakukan hm?" tanya Jeonghan pada Soonyoung.

Soonyoung mendengus dan mengabaikan pertanyaan Jeonghan. "Jiii~" panggilnya manja sambil menarik tangan Jihoon dan menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu. "Please."

Jihoon berusaha melepas tangan Soonyoung dan memukul kepala pemuda itu dengan buku. "Jangan ganggu aku!"

"Adudududu—" Soonyoung mengaduh dan memegang tangan yang menarik telinganya cukup keras. Ia menoleh untuk melihat siapa pelakunya. "Won…"

"Jangan dekat-dekat Jihoon!" seru Wonwoo galak dan menjauhkan Soonyoung dari Jihoon.

Soonyoung merajuk. Ia memalingkan wajahnya dan menjauhi Jihoon.

Mingyu tersenyum cerah dan melambaikan tangan ketika Wonwoo melihatnya.

Wonwoo cuek dan menyapa Jeonghan. "Eonni." Kemudian gadis itu duduk di antara Soonyoung dan Jihoon.

"Hai Won." Jeonghan tersenyum.

"Aku tidak disapa?" tanya Mingyu dengan wajah sedih.

"Memangnya siapa kau?"

"Masa depannya Jeon Wonwoo," kata Mingyu sambil menopang dagunya dengan kedua tangan.

Jeonghan tertawa, Soonyoung bersiul, sementara Jihoon dan Wonwoo sudah siap melempar Mingyu dengan buku di tangan masing-masing.

"Sudah selesai belum Ji?" tanya Wonwoo.

"Sebentar. Aku juga tidak betah kok di sini. Sabar ya," jawab Jihoon sambil menulisi kertas partiturnya.

Jeonghan mendekatkan mulutnya ke telinga Mingyu dan berbisik, "Kau kenal dengan Wonwoo?"

Ganti Mingyu yang mendekatkan mulutnya ke telinga Jeonghan dan berbisik, "Iya. Calon pacar."

Jeonghan terkikik lalu menatap Wonwoo dengan senyum penuh arti.

"Apa?" tanya Wonwoo.

Jeonghan menggeleng lalu ia mengajak Soonyoung berbincang-bincang. Mingyu menyandarkan kepalanya pada bahu Jeonghan dan menatap Wonwoo. Mata keduanya sempat bertemu lalu Wonwoo mengalihkan pandangannya dan membuka buku untuk dibaca. Merasa risih dan sedikit gugup karena terus diperhatikan Mingyu, Wonwoo mencolek paha Jihoon.

"Sebentar," kata Jihoon. "Oke, selesai. Ayo pergi," lanjutnya sambil membereskan kertas partitur dan memasukkannya ke dalam map.

Wonwoo membereskan bukunya dan membawanya lalu berdiri.

"Sampai jumpa semuanya," kata Jihoon setelah membereskan semua barang-barangnya dan menggamit lengan Wonwoo dan menariknya.

"Jii~" panggil Soonyoung dengan nada memelas.

"Bye Kwon," kata Jihoon cuek dan menarik Wonwoo.

Wonwoo memberikan senyum simpul sebagai tanda pamit dan kedua gadis itu pergi meninggalkan kampus.

.

"Jeonghan!" seru Doyoon senang sambil mendekati Jeonghan yang duduk di meja bar.

"Doyoon! Apa kabar? Aku merindukanmu!" kata Jeonghan lalu memeluk Doyoon.

"Baik. Kau bagaimana?" Doyoon balas memeluk Jeonghan kemudian duduk di sebelah gadis itu. "Maaf baru menemuimu."

"Tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk," kata Jeonghan. "Aku baik. Sudah selesai kerjanya?"

Doyoon mengangguk.

"Aku baru tahu kau itu DJ."

Doyoon terkekeh. "Hanya sampingan, baru beberapa hari."

Jeonghan tersenyum. "Ah, aku benar-benar merindukanmu," kata Jeonghan lalu memeluk Doyoon lagi. "Oh ya, sebentar lagi pacarku datang." Jeonghan menjauhkan dirinya dari Doyoon.

"Tampan?"

"Sangat tampan!" seru Jeonghan lalu tertawa.

Doyoon ikut tertawa.

"Ah, itu dia!" Jeonghan melambaikan tangannya ketika melihat Seungcheol berjalan menuju meja bar. Jeonghan turun dari kursinya dan menggamit tangan Seungcheol.

Seungcheol masih belum sadar jika Doyoon ada di sana. Ia mengecup pipi Jeonghan. "Sudah lama?"

Doyoon membatu mendengar suara pemuda yang membelakanginya itu. Sedikit banyak berharap bahwa itu bukan Seungcheol yang dijodohkan dengannya.

Jeonghan tersenyum dan menggeleng. "Seungcheol-ah, kenalkan ini teman baikku, Doyoon. Beberapa bulan lalu ia kembali dari Amerika."

Seungcheol memutar badannya dan terkejut menatap Doyoon. Ia melepas tangan Jeonghan.

Doyoon memaksakan sebuah senyum dan mengulurkan tangannya. "Jang Doyoon. Senang bertemu denganmu."

Seungcheol masih menatap gadis Jang itu.

Jeonghan menyenggol Seungcheol. Seungcheol menjabat tangan Doyoon. "Choi Seungcheol. Senang juga bertemu denganmu."

Jeonghan menatap Seungcheol dan Doyoon bergantian. "Kalian kenapa? Sudah saling kenal?"

Doyoon menatap Jeonghan dan tersenyum. "Ah tidak. Baru pertama kali bertemu. Ya 'kan Seungcheol-ssi?"

Seungcheol mengangguk dan terus memandangi Doyoon dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ayo ke lantai dansa," ajak Jeonghan sambil menarik tangan Seungcheol. "Doyoon juga."

"Maaf, sebentar lagi aku harus pulang," tolak Doyoon dan tersenyum sungkan.

"Sayang sekali," kata Jeonghan lalu memeluk Doyoon. "Kapan-kapan main lagi ya?"

Doyoon menatap Seungcheol yang menatapnya dan balas memeluk Jeonghan. Kemudian memutus kontak mata mereka ketika Jeonghan melepas pelukannya. "Iya," jawab Doyoon sambil tersenyum.

"Ayo Cheol-ah." Jeonghan menarik Seungcheol ke lantai dansa.

Seungcheol menolehkan kepalanya menatap Doyoon yang menatap kepergian mereka. Doyoon memberikan Seungcheol tatapan dan senyum sedihnya, lalu ia berbalik ke meja bar dan memesan segelas Margarita. Doyoon tidak biasa minum, tapi rasanya malam itu ia ingin minum agar melupakan Seungcheol sejenak, walaupun sepertinya satu gelas tidak akan membuatnya mabuk. Setelah meneguk habis Margaritanya, ia pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk.

.

Soonyoung menekan bel apartemen Jihoon dan menunggu sang empunya apartemen untuk keluar dengan boneka beruang besar yang sudah menutupi wajahnya dan sebuket bunga mawar merah berisi lima belas tangkai di tangan.

Ketika pintu dibuka Soonyoung bersenandung, "Oeroun saramdeului."

Jihoon tersenyum lalu melanjutkan, "Maeumeul yeoleojul geoya."

Soonyoung menggerakkan tangan boneka beruang ke depan dan menyodorkan buket bunga mawar—seakan sang boneka yang memberikan bunga itu kepada Jihoon. "Nona Lee yang manis, terimalah bunga dari Kwon Bear. Kwon Bear mewakili Kwon Soonyoung ingin minta maaf kepada gadis kesayangan Kwon Soonyoung," kata Soonyoung dengan suara imut yang dibuat-buat.

Jihoon mengambil buket bunga dari tangan Soonyoung dengan pipi bersemu dan menepuk kepala boneka itu. "Nona Lee tidak terima perwakilan."

Soonyoung menurunkan boneka beruang yang menutupi wajahnya. "Aku minta maaf. Maafkan aku."

Jihoon tersenyum. "Masuklah."

Soonyoung masuk ke apartemen Jihoon. Ia meletakkan boneka pada sofa lalu duduk di sebelahnya.

Jihoon mengikuti pemuda itu dan meletakkan buket bunga pada meja lalu duduk di sampingnya.

Mereka terdiam cukup lama sampai akhirnya Soonyoung membuka suara. "Ji…"

"Ya?"

"Aku minta maaf."

"Cukup Soon, aku bosan mendengar permintaan maafmu."

Soonyoung tersenyum kecut. "Maaf. Aku… Aku—"

Jihoon menarik tengkuk Soonyoung dan mengecup bibirnya lembut. Hanya menempelkan bibirnya pada bibir pemuda itu sebentar kemudian melepasnya. "Aku milikmu. Oke?"

Soonyoung mengangguk lalu menempelkan dahinya pada bahu gadis itu.

"Kau tidak percaya padaku," kata Jihoon yang terdengar seperti pertanyaan.

"Maaf. Kau tiga tahun bersamanya… Aku…" Soonyoung menghela napas. "Aku takut."

Jihoon tersenyum. "Dia memang pernah menjadi bagian dari hidupku Soon, tapi itu hanya masa lalu. Kau di sini sekarang. Bersamaku." Jihoon menarik kepala Soonyoung dan menangkup wajahnya lalu mencium dahinya. "Maaf waktu itu aku tidak minta bantuanmu dan malah membiarkan Seungcheol-oppa membantuku. Aku tahu kau sibuk jadi aku tidak mau mengganggumu. Tapi kau malah…" Jihoon menghela napas.

Soonyoung memeluk Jihoon. "Maaf."

"Hm," gumam Jihoon dan balas memeluk Soonyoung.

"Jangan dekat-dekat Seungcheol-hyung lagi," kata Soonyoung dengan nada tidak suka dan memeluk Jihoon dengan posesif.

Jihoon mengangguk.

"Ayo kencan," ajak Soonyoung. Ia meletakkan dagunya pada puncak kepala Jihoon.

Jihoon mendorong Soonyoung. Ia menunjukkan wajah malasnya dan bersandar pada sofa. "Malas. Aku capek."

"Ayoo~" kata Soonyoung yang sudah berdiri dan menarik Jihoon untuk bangun.

"Tidak mauu~" tolak Jihoon.

"Ayo, jangan malas." Soonyoung masih berusaha menarik Jihoon untuk bangun dari duduknya.

Jihoon balas menarik Soonyoung lalu mendudukkannya di sofa. "Di sini saja." Jihoon mendorong Soonyoung sampai menindih boneka beruang lalu memeluknya.

"Bonekanya Ji."

"Taruh di bawah," kata Jihoon cuek dan makin mempererat pelukannya pada Soonyoung.

Soonyoung dengan susah payah menarik boneka yang ditindihnya dan meletakkannya di lantai. "Lebih baik kau peluk Kwon Bear kalau kau memelukku seperti ini."

Jihoon melonggarkan pelukannya dan meletakkan dagunya pada dada bidang Soonyoung dan menatap pemuda itu. "Tidak mau. Maunya Kwon Soonyoung. Kwon Bear tidak hangat," kata Jihoon lalu memeluk Soonyoung lagi dengan erat.

Soonyoung tertawa dan mengelus-elus kepala Jihoon.

"Jalja," kata Jihoon dengan mata setengah terpejam.

"Selamat tidur sayang," balas Soonyoung lalu mengecup puncak kepala Jihoon dan mengikuti gadisnya ke alam mimpi.

.

Wonwoo melangkahkan kakinya menuju perpustakaan untuk mencicil tugas yang tadi diberikan dosen. Ketika sampai di dekat perpustakaan matanya menangkap sosok lelaki yang selalu mengganggunya sedang mengimpit seorang perempuan yang tidak dikenalnya ke tembok dan bermesraan dengannya. Kim Mingyu. Sebenarnya tempat itu cukup tersembunyi dan jarang diperhatikan oleh mahasiswa yang berlalu-lalang, dan sialnya kenapa Wonwoo harus melihat Mingyu bermesraan dengan perempuan yang tidak dikenalnya. Entah mengapa dadanya terasa sesak.

Wonwoo memutar badannya dan berjalan menjauhi perpustakaan dengan langkah gontai. Ia berjalan sambil menundukkan kepalanya hingga menabrak orang-orang sampai ia harus mengucapkan kata maaf berulang kali dan membungkukkan badannya.

"Joesong—"

"Won?"

Wonwoo menatap orang yang memanggilnya, si gadis mungil—Lee Jihoon.

"Kau menangis."

"Aku tidak—" kata Wonwoo sambil mengusap air matanya yang keluar tanpa ia sadari. "—menangis."

"Kau kenapa?" tanya Jihoon khawatir dan mengusap wajah perempuan yang lebih tinggi darinya.

Wonwoo memeluk Jihoon dan menggeleng. "Sesak… Rasanya sesak."

Jihoon mengelus punggung Wonwoo beberapa kali kemudian mendorongnya pelan. Ia menghapus air mata Wonwoo. "Pulang ya? Sudah tidak ada kelas lagi 'kan?"

Wonwoo mengangguk dan mengikuti Jihoon yang menggandeng tangannya.

.

"Dia mencintaiku," gumam Wonwoo yang meletakkan kepalanya pada meja bar. "Dia tidak mencintaiku," lanjut Wonwoo sambil membalik ponselnya. "Dia mencintaiku." Ponsel kembali dibalik. "Dia tidak mencintaiku." Wonwoo menegakkan kepalanya lalu menuang vodka pada gelas lalu meneguknya.

"Won!" seru Jihoon gemas dan merebut gelas dari tangan Wonwoo. "Sudah, kau mabuk."

"Kembalikan~" Wonwoo merajuk dan berusaha mengambil kembali gelasnya. "Aku tidak mabuk~"

Wonwoo dan Jihoon sedang berada di klub malam karena Wonwoo memohon kepada Jihoon tadi siang untuk menemaninya pergi ke tempat itu.

"Ayo pulang," bujuk Jihoon. Ia melepas jaketnya dan menyampirkannya pada bahu Wonwoo.

Wonwoo menepis jaket Jihoon. "Tidak mau~" Ia meletakkan kepalanya pada meja bar lagi.

"Please Won, jangan seperti ini."

"Aku baik-baik saja. Aku tidak mabuk~" gumam Wonwoo.

"Pulang ya?" bujuk Jihoon. "Aku akan mengabulkan apapun yang kau inginkan."

Wonwoo menggeleng dan terdiam sejenak. "Mau Mingyu~" cicitnya.

Jihoon mendengus. Yang benar saja ia harus menghubungi lelaki tiang itu. Tapi ternyata tanpa perlu mengeluarkan usaha, ia melihat Mingyu memasuki klub malam. Jihoon tidak tahu harus bersyukur atau mengutuk.

Mingyu menghampiri Jihoon dan menyapanya. "Noona, tumben." Ia heran karena Jihoon ada di sana karena hari itu bukan hari Rabu.

Jihoon mendengus. "Ini semua gara-gara kau brengsek."

Mingyu terkejut. Begitu datang langsung dimaki oleh seniornya tanpa tahu apa salahnya. "Memang kenapa?"

Wonwoo yang mendengar suara familiar di telinganya langsung menegakkan badan dan menoleh. "Mingyu!" serunya senang dengan suara manja disertai sebuah senyuman manis. Wonwoo turun dari kursinya dan berjalan sempoyongan ke arah Mingyu lalu memeluk lelaki itu.

Jihoon memijat pelipisnya, tiba-tiba merasa pening melihat Wonwoo.

Mingyu kembali terkejut. Kaget melihat Wonwoo yang biasanya galak mendadak jadi manja. Ia menjauhkan Wonwoo lalu memperhatikan gadis yang tersenyum kepadanya dari atas sampai bawah. Tatapan mata yang menurut Mingyu sangat seksi, wajah yang dipoles make up tipis, lipstik merah menyala, atasan warna hitam dengan belahan dada rendah dan juga belahan punggung rendah, hotpants jeans dan high heels merah. Wow, Mingyu baru tahu kalau Wonwoo bisa berdandan seliar ini.

"Jangan lihat-lihat Kim!" tegur Jihoon.

"Maaf," kata Mingyu lalu melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Wonwoo dan tak lupa menyeleting jaketnya.

Wonwoo bergelayut manja pada lengan Mingyu.

"Aku benci mengatakan ini. Tapi tolong antar dia pulang," ucap Jihoon.

Mingyu mengangguk dan menuruti Jihoon. "Noona, ayo pulang."

"Pulang sama Mingyu~" kata Wonwoo dengan nada manja.

"Iya, noona pulang bersamaku."

Wonwoo mengangguk senang lalu mengulurkan kedua tangannya minta digendong. Mingyu masih takjub melihat kelakuan Wonwoo, kalau seperti ini ia jadi ingin Wonwoo untuk mabuk terus agar gadis itu bermanja-manja padanya. Ia menggendong Wonwoo ala bridal style. Kemudian Wonwoo mengalungkan tangannya pada leher Mingyu.

Jihoon jadi emosi dadakan dan ingin memukul kepala Mingyu dengan botol vodka yang ada di meja.

"Noona, ayo aku antar pulang juga," tawar Mingyu.

"Aku menginap di apartemen Wonwoo."

Mingyu mengangguk, lalu mereka bertiga meninggalkan klub malam setelah membayar dan menuju tempat parkir.

.

Mingyu menggendong Wonwoo ala bridal style lagi setelah turun dari mobil dan berjalan menuju apartemen gadis itu. Mingyu membaringkan Wonwoo pada tempat tidur setelah sampai di kamar. Ia hendak meninggalkan kamar ketika tangan Wonwoo menarik bajunya.

"Jangan pergi~"

Mingyu menoleh dan tersenyum. Ia berbalik dan berbaring menyamping di sebelah Wonwoo. Wonwoo ikut berbaring menyamping. Mereka saling menatap. Tangan Mingyu terangkat untuk mengelus kepala Wonwoo pelan, membuat gadis itu mengantuk. Kemudian Mingyu memberanikan diri untuk memajukan wajahnya dan menjilat bibir Wonwoo—mencoba menghapus sisa lipstik pada bibirnya. Wonwoo yang tadi mengantuk kini membelalakkan kedua matanya. Pipinya merona.

"Aku rasa kau tidak cocok dengan lipstik merah ini noona," kata Mingyu. "Jangan memakainya lagi. Ara?"

Wonwoo mengerjapkan matanya dan mengangguk.

"Kau juga tidak boleh pergi ke klub malam lagi. Kalaupun ingin kau harus mengajakku. Tidak boleh berdua saja dengan Jihoon-noona. Di sana bahaya. Ara?"

Wonwoo kembali mengangguk.

Mingyu tersenyum dan mengelus kepala Wonwoo lagi. "Tidurlah, jangan membuat Jihoon-noona khawatir."

Wonwoo beringsut mendekati Mingyu. Ia memeluk pemuda itu dan memejamkan matanya perlahan. "Jalja," gumamnya.

"Selamat malam Tuan Putri, mimpi indah," kata Mingyu dan menarik selimut sampai menutupi pundak. Ia terus mengelus kepala Wonwoo sampai ia merasa Wonwoo sudah tertidur, Mingyu melepas tangan Wonwoo yang melingkar pada pinggangnya dan turun perlahan dari tempat tidur. Mingyu meninggalkan kamar Wonwoo dan menghampiri Jihoon yang sejak tadi menunggu di ruang tamu.

"Wonwoo-noona sudah tidur," lapor Mingyu kepada Jihoon.

Jihoon berdiri dari duduknya dan bersedekap. "Dari mana kau tahu apartemen Wonwoo? Kau tidak terlihat seperti baru pertama kali ke sini," tanyanya menyelidik.

Mingyu cengar-cengir. "Sesuatu terjadi. Dan ya… Aku memang sudah beberapa kali ke sini," jawab Mingyu. "Tapi hanya untuk mengantar-jemputnya. Aku baru pertama kali masuk ke sini," tambahnya sebelum Jihoon salah paham.

Jihoon mendengus lalu menghela napas. "Pulanglah. Sudah malam."

"Aku pulang dulu noona. Sampai jumpa," pamit Mingyu.

Jihoon mengangguk lalu mengantar Mingyu menuju pintu depan. "Thanks," kata Jihoon sebelum Mingyu benar-benar meninggalkan apartemen Wonwoo.

Mingyu tersenyum. "Sampai jumpa."

Jihoon tersenyum lalu menutup pintu apartemen.

.

Wonwoo membuka matanya perlahan, mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk. Ia mendudukkan diri dan memijat kepalanya. Rasa pusing dan mual akibat hangover menderanya. Wonwoo turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Ketika ia menatap cermin, bajunya sudah berganti dengan piyama dan wajahnya sudah bersih dari make up. Mungkin Jihoon yang mengurusnya semalam, pikir Wonwoo. Ia beranjak menuju dapur dan menyiapkan roti bakar dan dua gelas susu untuk sarapan. Tidak bisa dibilang sarapan juga karena waktu sudah menunjukkan pukul sebelas. Setelah selesai, Wonwoo kembali ke kamar dan duduk di tepi ranjang untuk membangunkan Jihoon.

"Ji…" panggil Wonwoo sambil mengguncang badan gadis mungil itu.

Jihoon mengerang. Ia mengubah posisi tidurnya.

"Ji…" panggil Wonwoo lagi dan mengguncang badan Jihoon.

Jihoon membuka matanya perlahan dan menoleh. "Won…"

"Ayo sarapan."

Jihoon bangun dan mengucek matanya. "Kau baik-baik saja?"

"Agak pusing dan mual. Tapi mungkin nanti akan baikan setelah aku minum obat."

"Mm. Kau ingat kejadian semalam?"

Wonwoo menggeleng dan meringis. "Maaf sudah merepotkanmu. Tapi…"

Jihoon menghela napas lega. "Syukurlah. Tapi?"

"Sepertinya aku mimpi indah semalam," kata Wonwoo sambil tersenyum.

Jihoon mendengus. "Ayo ke ruang makan," ucap Jihoon dan menarik Wonwoo untuk sarapan.

.

Jeonghan melangkahkan kakinya menuju café di dekat kampus setelah kelas siangnya selesai. Entah kenapa tiba-tiba ia ingin minum kopi. Ia membuka pintu café dan berjalan ke meja kasir yang terlihat kosong. Jeonghan melihat-lihat daftar menu lalu ia dikejutkan oleh pemuda yang menyembulkan kepalanya dari bawah meja kasir.

"Ah maaf, mau pesan apa?" tanya pemuda itu.

Jeonghan mengalihkan pandangannya dari daftar menu dan melihat pemuda itu. "Hai. Aku pesan Hong Jisoo," jawab Jeonghan sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya, membuat pemuda Hong di balik meja kasir merona.

Jisoo tertawa canggung. "Maaf, tidak ada Hong Jisoo di daftar menu."

"Begitu, sayang sekali. Kalau begitu aku pesan Lemon Butter Dory dan Avocado Coffee."

Jisoo memasukkan pesanan Jeonghan pada komputer. "Lemon Butter Dory satu. Avocado Coffee Original, Mocha atau Milk?"

Jeonghan mengetuk dagunya dengan jari telunjuk. "Milk saja. Dibuat pakai cinta Hong Jisoo ya," goda Jeonghan lagi.

Jisoo tersenyum malu-malu. "Ada lagi?"

Jeonghan menggeleng. "Itu saja."

"Totalnya ₩11.500."

Jeonghan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan menyerahkannya pada Jisoo.

"Ini kembaliannya. Kau duduk di mana?" tanya Jisoo sambil menyerahkan uang kembalian untuk Jeonghan.

"Di sana," jawab Jeonghan sambil menunjuk salah satu tempat duduk kosong.

"Oke. Nanti aku antar. Tunggu ya."

"Terima kasih," kata Jeonghan dan hendak meninggalkan Jisoo untuk menuju ke tempat duduknya.

"Ah, Cheonsa-ssi. Sebentar lagi shiftku selesai. Aku bisa menemanimu dan mengantarmu pulang kalau kau mau," tawar Jisoo.

Jeonghan tersenyum. "Dengan senang hati."

.

TBC

.

Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)