Seventeen belong to God, Pledis and their parents
Fall For You © Bianca Jewelry
Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)
Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)
Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)
Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: M for safe
Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.
.
Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini. Bayar hutang dulu sama Meanie shipper. Enjoy!
.
"Aku baru tahu kau kerja di café," kata Jeonghan membuka pembicaraan ketika dirinya dan Jisoo dalam perjalanan pulang menuju apartemennya. "Aku pernah ke sana sebelumnya dan tidak pernah melihatmu."
"Mungkin bukan shiftku, kapan terakhir kali ke sana?"
"Entahlah, sudah lama. Aku lupa."
Jisoo diam.
"Kau masih kuliah?" tanya Jeonghan.
Jisoo mengangguk. "Kau juga?"
"Ya. Jurusan apa?"
"Psikologi. Kau?"
"Kita satu fakultas!" seru Jeonghan riang. "Aku jurusan Komunikasi."
Jisoo tertawa melihat reaksi Jeonghan.
"Kenapa tertawa?" tanya Jeonghan bingung.
"Tidak, lucu saja melihat kau berseru seperti itu."
Entah kenapa Jeonghan merasa malu. Pipinya merona dan ia menggosok tengkuknya. "Kita satu jalur?"
"Tidak," jawab Jisoo kalem.
"Lalu kenapa kau mengantarku?!"
Jisoo tertawa kecil. "Sebentar lagi malam. Nanti kalau kejadian kapan hari terulang lagi bagaimana?"
"Uh…" Jeonghan merona lagi.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
"Sudah sampai," kata Jisoo setelah mereka sampai di depan pintu apartemen Jeonghan.
"Thanks, Jisoo-ssi."
"Tidak usah formal begitu," kata Jisoo. Ia tertawa kecil.
Jeonghan tersenyum canggung. "Kau juga."
"Aku pulang dulu kalau begitu. Sampai jumpa, Cheonsa," kata Jisoo dengan senyum paling manis yang pernah dilihat Jeonghan.
Jantung Jeonghan jadi berdebar tidak karuan. "H-hati di jalan! Jangan lupa hubungi aku!"
Jisoo mengangguk lalu meninggalkan Jeonghan.
.
Jun dan Soonyoung bertukar pandang. Bingung melihat teman perempuannya yang mendadak melankolis. Teman mereka yang bernama Jeon Wonwoo itu meletakkan kepalanya di meja dan menghela napas pelan beberapa kali.
"Kenapa Won?" tanya Jun sambil melihat Wonwoo.
Wonwoo menegakkan badannya lalu meletakkan kepalanya pada bahu Jun. Pandangannya menerawang. "Pacaran itu seperti apa rasanya Jun?"
Jun menatap Soonyoung lalu menjawab pertanyaan Wonwoo, "Mau mencobanya denganku?"
Wonwoo reflek menjauhkan diri dan menatap Jun dengan pandangan malas. Lalu ia mendekati Soonyoung dan duduk di sampingnya. Wonwoo melakukan hal yang tadi dilakukannya pada Jun—menyandarkan kepalanya, ditambah dengan pelukan pada tangan. "Pacaran itu seperti apa rasanya Soon?"
Soonyoung berusaha melepaskan tangannya dan melirik Wonwoo dengan pandangan aneh. "Kau baik-baik saja?"
Wonwoo mengangguk.
"ADUDUDU—" rintih Soonyoung sambil memegangi tangan yang bertengger pada telinganya—Jihoon menjewer telinga Soonyoung.
Wonwoo menoleh dan berseru riang. "Jihoon-ie!" Lalu ia memeluk Jihoon yang berdiri di belakangnya.
Jihoon menatap Soonyoung dan Jun bergantian dengan penuh tanda tanya.
"Pacaran itu seperti apa rasanya Ji?" tanya Wonwoo sambil menatap Jihoon dengan pandangan polos.
Jihoon menatap Wonwoo dengan pandangan aneh. Ia membawa tangannya pada dahi Wonwoo lalu menempelkan tangannya pada dahinya sendiri untuk membandingkan. "Tidak demam."
"Aku baik-baik saja kok."
Jihoon melepas tangan Wonwoo pada pinggangnya lalu mendorong gadis itu. Kemudian ia mendudukkan diri di antara Soonyoung dan Wonwoo.
"Jadi tidak ada yang mau menjawab pertanyaanku?" tanya Wonwoo sambil melihat semua temannya.
"Err… Kau sedang jatuh cinta?" tanya Soonyoung.
Wonwoo menghela napas pelan lagi. "Tidak tahu."
"Sedang menaruh minat pada seorang lelaki?" tanya Jun.
"Mungkin."
"Tampan?" tanya Jihoon.
Wonwoo diam sejenak lalu mengangguk.
"Tinggi?" tanya Soonyoung.
Wonwoo mengangguk lagi.
"Anak basket?" tanya Jun.
Wonwoo mengangguk.
"Kardus?" tanya Jihoon.
Wonwoo menganggukkan kepalanya.
"Marganya Kim?" tanya Soonyoung.
Wonwoo mengangguk. Ia tersentak kemudian berseru, "Aku tidak suka dengan Mingyu!" Dan entah kenapa pipinya memerah.
Soonyoung, Jihoon, dan Jun menatap Wonwoo. Jun berdeham. "Kami tidak bilang kalau namanya… Mingyu."
Wonwoo memalingkan wajahnya dan mengerucutkan bibir.
Jihoon memijat pelipisnya lalu menatap Soonyoung. "Pulang yuk, tiba-tiba aku merasa lelah," kata Jihoon dingin dan senyum mematikan. "Dan ingin memukul seseorang."
Soonyoung meringis.
Wonwoo memeluk lengan Jihoon dan menyandarkan kepalanya pada bahu gadis mungil itu. "Jangan pulang dulu. Kalian belum menjawab pertanyaanku."
"Pacaran itu menyakitkan. Apalagi dengan lelaki kardus," jawab Jihoon. "Itu jawaban yang bisa kuberikan padamu sekarang."
"Begitu ya." Wonwoo mengangguk paham.
Jihoon tercengang. Jadi serius Wonwoo suka sama Mingyu?
"Ya sudah kalau mau pulang," kata Wonwoo. "Jun, bareng ya?"
Jun mengangguk. Lalu mereka meninggalkan kampus, Soonyoung mengantar Jihoon pulang sementara Wonwoo pulang bersama Jun.
.
Di hari yang lain ketika Jun, Soonyoung dan Jihoon berkumpul bersama tanpa Wonwoo, Jun membuka pembicaraan. "Jadi serius, Wonwoo suka sama Mingyu?" tanyanya.
Jihoon menjawab dengan enggan. "Sepertinya iya." Jihoon melirik Soonyoung lalu memukulnya berkali-kali. "Ini semua pasti gara-gara kau. Kau 'kan yang mengenalkan Mingyu pada Wonwoo?!" omel Jihoon sambil terus memukuli tangan Soonyoung.
Soonyoung mengaduh dan menghindari pukulan Jihoon. "Tidak Ji, serius aku tidak mengenalkan Mingyu pada Wonwoo. Mingyu kenalan sendiri. Dan berhenti memukulku."
Jihoon memicingkan mata dan memberhentikan pukulannya.
"Benar kok. Mingyu kenalan sendiri," bela Jun.
Jihoon menatap Jun. "Kau tidak sedang membelanya 'kan?"
Jun menggeleng. "Mingyu sendiri yang cerita padaku. Jadi, kejadian apa saja yang sudah kulewatkan?"
"Wonwoo mengajakku menonton Mingyu main basket, Wonwoo menangis gara-gara kardus itu lalu malamnya minta ke klub. Kami bertemu dengan Mingyu dan ia mengantar kami pulang." Jihoon tampak berpikir. "Sepertinya hanya itu. Versimu?"
"Kami jadi anggota panitia lalu aku pulang duluan. Mingyu menggoda Wonwoo dan sepertinya dia mengantar Wonwoo pulang."
"Kenapa kau pulang duluan?!" erang Jihoon.
Jun hanya meringis.
"Kau?" Jihoon bertanya dengan nada judes pada Soonyoung sambil meliriknya.
"Aku tidak tahu apa-apa."
"Jadi?" tanya Jun.
"Kita harus menyusun rencana," jawab Soonyoung.
Jihoon memukul pacarnya. "Jadi kau merestui Mingyu dengan Wonwoo?!"
"Maaf chagi, tapi iya." Soonyoung mengangguk lalu mengulurkan tangan pada Jun.
Jun menjabat tangan Soonyoung.
"Tim sukses Mingyu," kata dua lelaki itu bersamaan.
Jihoon menghela napas kasar dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Jadi apa rencana kalian?" tanyanya setelah menurunkan tangannya.
"Membuat mereka kencan?" usul Jun.
"Ide bagus!" sahut Soonyoung sambil menjentikkan jari.
"Hari Minggu, kau ajak Wonwoo jalan, terserah mau ke mana," kata Jun sambil menunjuk Jihoon. "Sementara kau mengajak Mingyu," lanjutnya sambil menunjuk Soonyoung. "Pastikan mereka bertemu lalu kalian bilang pada mereka kalau ada urusan mendadak sehingga mereka jalan berdua."
"Aku tidak mau," tolak Jihoon.
"Ayolah Ji, ini satu-satunya cara agar Mingyu tobat. Mendekatkannya dengan Wonwoo. Syukur-syukur mereka hidup bahagia sampai tua," kata Soonyoung.
"Kali ini saja Ji, kalau mereka tidak menunjukkan hasil. Kau boleh menentangnya," kata Jun.
Jihoon menghela napas. "Baiklah. Tapi aku tidak akan membiarkannya pergi berdua dengan kardus itu. Kita akan mengikutinya!" ujar Jihoon lalu menoleh ke arah Soonyoung.
"Oke."
"Lalu kau?" tanya Jihoon pada Jun.
Jun cengar-cengir. "Maaf, aku ada kencan dengan Mingming."
Jihoon mendelik. "Kau peduli tidak sih dengan temanmu?!"
"Tentu saja aku peduli. Lagipula aku sudah memberi kalian ide."
Jihoon mendengus. "Baiklah, kabari Mingyu Soon," ucap Jihoon lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan kepada Wonwoo.
.
Hari Minggu jam dua belas, Jihoon meminta Wonwoo untuk bertemu di COEX Mall. Gadis itu sudah rapi dengan tank top hitam, rok putih motif bunga, jaket jeans, sneakers putih dan tas selempang. Rambutnya dimodel twin tail dan ia sedang menunggu Jihoon di depan toko yang Jihoon sebutkan dalam chatnya. Sejak tadi ia melihat ke kotak pesan dan chatnya tidak kunjung dibaca juga oleh temannya itu.
"Noona," panggil seorang lelaki tinggi dari samping kiri Wonwoo—Kim Mingyu. "Sedang apa di sini?"
Wonwoo menoleh dan sedikit terkejut karena melihat Mingyu. "Oh, kau Kim. Sedang menunggu Jihoon. Kau?"
"Menunggu Soonyoung-hyung."
Wonwoo mulai curiga. Akhirnya ia memutuskan untuk menelepon Jihoon.
"Hal—"
"Di mana?" tanya Wonwoo tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
"Maaf Won, ada kerja kelompok dadakan."
Wonwoo mendengus. "Ya sudah, kututup ya."
"Hm," gumam Jihoon dan menutup teleponnya.
Wonwoo bersandar pada tembok dan mengecek aplikasi chatnya sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Ponsel Mingyu berbunyi dan Mingyu menggeser tombol hijau pada layar. Dari Soonyoung. "Yeoboseyo," katanya.
"Yeoboseyo. Wonwoo bersamamu 'kan?"
"Ya, kenapa hyung?"
"Sana ajak berkeliling. Bilang kalau aku batal datang."
"Tidak apa-apa?" tanya Mingyu sambil mengernyitkan dahi.
"Ya, tapi jangan aneh-aneh. Jihoon mengawasi."
Ponsel Soonyoung berpindah ke tangan Jihoon. "Awas kalau kau macam-macam Kim!" seru Jihoon dari seberang telepon.
"Ya."
Soonyoung berbicara lagi. "Selamat bersenang-senang," katanya lalu menutup teleponnya.
Mingyu mengirim pesan berisi 'thanks hyung' kepada Soonyoung lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku. "Soonyoung-hyung batal datang," lapornya pada Wonwoo.
Wonwoo mendengus. Ia curiga keduanya sudah merencanakan ini sebelumnya. "Jihoon juga."
"Terus bagaimana?"
"Um…" gumam Wonwoo lalu mengangkat kedua bahunya.
"Mau berkeliling denganku saja? Daripada langsung pulang."
Wonwoo menganggukkan kepala dengan ragu.
"Mau kemana dulu?"
"Sudah makan belum?"
Mingyu menggeleng. "Mau makan apa?"
Wonwoo mengangkat bahunya lagi. "Dipikir sambil jalan saja Kim," kata Wonwoo lalu mulai melangkahkan kakinya.
Mingyu mengikuti Wonwoo lalu berjalan di sebelahnya. Mereka berjalan menuju food court kemudian memesan makanan.
"Apa?" tanya Wonwoo karena sejak tadi Mingyu melihatnya. Ia menggigit sedotannya dan balas menatap Mingyu. Makanan mereka sudah habis sejak tadi.
"Dua minggu tidak bertemu denganku tidak kangen?"
Wonwoo mendengus. "Percaya diri sekali Kim aku bakal kangen dengan orang sepertimu." Lain di mulut lain di hati. Padahal Wonwoo merasa sepi juga tidak ada Mingyu yang mengganggunya.
"Tugasku banyak. Jadi aku tidak bisa mengganggumu."
"Siapa yang peduli?" kata Wonwoo cuek. "Kau tidak menggangguku itu lebih bagus!"
Mingyu tersenyum miris. Sedih karena galaknya Wonwoo kumat. "Noona apa kabar?"
"Baik."
"Noona tidak mau menanyakan kabarku?"
"Kau mati pun aku tidak peduli Kim."
"Jahatnya noona," kata Mingyu dengan nada sedih.
"Orangtuamu dan Minseo apa kabar?" tanya Wonwoo.
Mingyu makin sedih. "Kenapa kau malah menanyakan orangtua dan adikku?"
"Terserah aku dong, mau bertanya apa."
Mingyu tersenyum miring dan menjawab sekenanya. "Mereka sehat-sehat saja, mainlah ke rumah. Minseo terus menanyakanmu."
Hening. Wonwoo bersandar pada kursinya dan melihat sekeliling.
"Ulang tahunmu kapan noona?"
"Kenapa tanya-tanya? Memang mau memberi kado?"
Mingyu menguatkan hati dan mentalnya. Ia harus kuat dalam menghadapi calon pacar yang galak macam Wonwoo. "Hanya penasaran."
Wonwoo tidak menjawab. Ia bersedekap dan menatap Mingyu dengan tatapan tajam.
"Jadi, kapan?" tanya Mingyu.
"Cari tahu sendiri."
Mingyu merengut. Lalu ia beralih ke pertanyaan selanjutnya, soal tanggal ulang tahun merupakan urusan gampang. Ada Soonyoung dan Jun yang bisa ditanyainya nanti. "Noona berapa bersaudara?"
"Dua."
"Punya kakak atau adik?"
"Adik."
"Perempuan atau laki-laki?"
"Memang kalau perempuan mau kau dekati begitu?"
Mingyu meneguk ludahnya. "Aku hanya bertanya ya ampun. Galak sekali sih."
Diam lagi. Mingyu kembali membuka suaranya. "Noona tidak mau bertanya padaku? Dari tadi aku terus yang bertanya."
"Tanya apa?"
"Mana aku tahu. Ulang tahun mungkin, atau apa."
Wonwoo mendengus. "Semua orang juga sudah tahu tanggal lahirmu tanpa perlu bertanya."
Mingyu menyeringai. "Kapan kalau begitu?"
"6 April 'kan?"
"Wow, kau pengamat yang baik ya," kata Mingyu. "Sepertinya kau sudah tahu beberapa hal tentangku."
"Playboy sepertimu siapa yang tidak tahu?"
"Coba ceritakan apa yang kau tahu tentang diriku," ujar Mingyu sambil memangku dagunya dengan punggung tangan.
"Kau menantangku?"
Mingyu tersenyum usil. "Bisa jadi."
"Baik. Kau akan memberiku apa?"
"Oh, minta imbalan? Kau mau apa?"
"Crepes."
Mingyu mengangguk. "Kau minta hatiku juga boleh kok," katanya sambil cengar-cengir. "Jadi ceritakan."
Wonwoo mendengus. "Kim Mingyu. 6 April 1997. Dari fakultas Natural Sciences. Jurusan Biological Sciences. Semester empat. Tinggal di perumahan elit di kawasan Gangnam. Ayahmu merupakan CEO pemilik perusahaan ternama di Korea Selatan. Punya adik namanya Kim Minseo. Makanan favorit daging dan makanan pedas. Multifungsi, bisa memasak, membetulkan barang, bersih-bersih, dan lain sebagainya. Kata orang-orang merupakan pria idaman tapi mereka sangat menyayangkan kau itu playboy. Suka nongkrong di klub malam. Dan yang paling penting kau itu tukang paksa," kata Wonwoo dalam satu tarikan napas.
Mingyu takjub melihat Wonwoo lalu ia meringis akibat kalimat terakhir Wonwoo. "Wow. Kau minta apa lagi selain crepes?"
Wonwoo menaikkan sebelah alisnya. "Memang kenapa?"
"Kau menyebutkan dua hal yang tidak diketahui orang-orang," kata Mingyu. "Orang-orang tidak tahu nama adikku dan dimana aku tinggal."
"Soonyoung juga tidak tahu? Bahkan Jeonghan-eonni?"
Mingyu mengangguk. "Yang pernah main ke rumahku hanya kau."
Wonwoo tidak tahu harus merasa spesial atau bagaimana. Ia terdiam sejenak. "Aku minta jajan Kim."
"Jajan apa?"
Wonwoo mengangkat bahu. "Terserah kau mau memberiku apa."
"Baiklah. Mau kemana lagi?"
"Tidak tahu."
"Main mau?"
Wonwoo mengangguk.
"Ayo," ajak Mingyu lalu berdiri dari duduknya. Dan Wonwoo mengikutinya menuju game center.
"Mau main apa?" tanya Mingyu setelah sampai di game center dan mengisi saldo pada kartunya.
"Terserah kau Kim."
"Tidak pernah ke game center?"
"Jarang."
Mingyu menarik tangan Wonwoo untuk bermain tembak-tembakan. Lelaki itu memberikan pistol kepada Wonwoo.
Wonwoo menerimanya. "Ini bagaimana caranya?"
"Arahkan pistolnya ke layar. Lalu tekan ini," kata Mingyu sambil menunjuk bagian pistol yang harus ditekan Wonwoo. "Terus injak itu untuk mengisi peluru."
Wonwoo mencoba dengan mengarahkan pistol pada layar dan mulai menembak musuh. Tapi musuh di layar tidak kunjung mati. "Kok tidak bisa?" tanya Wonwoo sambil melihat ujung pistolnya.
Mingyu tersenyum melihat Wonwoo yang terlihat polos saat itu. "Begini," kata Mingyu yang sudah pindah di belakang Wonwoo dan memegang kedua tangan Wonwoo dari belakang untuk memperagakan cara menembak yang benar.
Wonwoo meronta dan menyikut Mingyu. Pipinya dihiasi rona merah samar. "Jangan modus Kim!" serunya setelah berhasil mendorong Mingyu dan berhadapan dengan lelaki itu. Wonwoo menatap Mingyu tajam dan meletakkan pistolnya asal-asalan. Ia melupakan gamenya begitu saja.
"Jangan GR dong noona. Aku hanya memperagakan cara menembak yang benar," elak Mingyu.
"Kau bisa mencontohkannya dari caramu bermain. Kau hanya perlu menjelaskan dan aku memperhatikanmu!"
Mingyu dengan wajah tidak terima ingin membalas perkataan Wonwoo, namun Wonwoo mendahuluinya. "Apa?" tantangnya. "Tidak terima?"
Mingyu meneguk ludahnya dan mencoba bersabar menghadapi gadis di hadapannya itu. Ia tersenyum miris. Mungkin kalimat wanita selalu benar itu memang benar adanya. "Tidak Tuan Putri. Maafkan hamba."
Wonwoo mendengus.
"Tidak dilanjut?" tanya Mingyu.
"Kau saja yang main. Aku melihat."
Mingyu melanjutkan permainan sementara Wonwoo memperhatikan layar, sesekali curi-curi pandang memperhatikan wajah Mingyu.
Dari jarak beberapa meter dari tempat Mingyu, Jihoon dan Soonyoung diam-diam memperhatikan mereka.
"Kimmmm!" seru Jihoon geram. Ia hampir saja akan berlari dan memukul Mingyu kalau tidak ditahan oleh Soonyoung.
"Santai Ji, Wonwoo sudah memarahinya," kata Soonyoung mencoba menenangkan Jihoon. "Ayo main, mumpung di sini."
Jihoon menghela napas dan mencoba menenangkan diri. "Main apa?"
Soonyoung menunjuk salah satu game di dalam tempat yang agak gelap dan semitertutup. Agar bisa memperhatikan Mingyu dan Wonwoo dengan leluasa, dan juga sebenarnya Soonyoung ingin modus dengan Jihoon sih. Jihoon mengangguk dan mengikuti Soonyoung yang sudah berjalan terlebih dahulu. Lalu keduanya asyik bermain hingga melupakan Mingyu dan Wonwoo.
Mingyu sudah menyelesaikan gamenya dan mengembalikan pistol pada tempatnya. "Mau main apa lagi?"
"Terserah kau Kim."
"Basket?"
Wonwoo mengangguk. Lalu mereka berdua menuju bagian belakang game center. Beberapa mesin permainan basket berjajar di sana. Mingyu menggesek kartunya pada salah satu mesin dan menyuruh Wonwoo untuk bermain. Wonwoo melempar bolanya asal menuju ring ketika game dimulai.
Mingyu gemas melihat cara bermain Wonwoo. Ia yang berdiri di dekat Wonwoo pindah ke belakang gadis itu lalu memegang kedua tangan Wonwoo yang sedang memegang bola dan membenarkan gesturenya. Bola dilempar menuju ring dan langsung masuk. "Begitu noona caranya."
Wonwoo jengkel. Ia mendorong Mingyu lalu mengambil bola dan melemparnya ke dahi lebar Mingyu yang terlihat tidak santai karena poninya ia tata sedemikian rupa agar memperlihatkan dahinya. Bola memantul dan Wonwoo menangkapnya lalu memasukkannya ke dalam ring.
"Sakit noona," rintih Mingyu sambil mengusap dahinya.
Wonwoo tertawa puas. Ia ikut mengusap dahi Mingyu dan jari mereka bersentuhan. "Sakit ya?" tanyanya sok prihatin akan keadaan Mingyu.
Mingyu mengangguk dengan wajah sedih.
"Rasakan!" seru Wonwoo senang dan kembali memasukkan bola ke dalam ring, meninggalkan Mingyu yang memegangi dahinya dan meraung dalam hati. Game berakhir lalu Wonwoo membalikkan badannya. Ia menatap Mingyu yang masih mengusap-usap dahinya yang terlihat memerah dan tertawa kecil. "Masih sakit?"
Mingyu mengangguk dengan wajah merengut. Ia tampak seperti anak kecil sekarang.
Wonwoo tersenyum tipis dan mengusap-usap dahi Mingyu. "Maaf."
"Cium dulu biar sembuh."
Senyum Wonwoo menghilang. "Kau mau kulempar dengan bola lagi?"
Mingyu terkekeh. "Bercanda, noona. Mau main apa lagi?"
"Terserah kau."
Jihoon dan Soonyoung sudah menyelesaikan gamenya. Lalu gadis mungil itu menyadari kalau ia tidak melihat Wonwoo dan Mingyu di manapun. "Soon. Wonwoo hilang," katanya panik.
"Ji…"
"Wonwoo hilang," ulang Jihoon sambil mengedarkan pandangannya mencari Wonwoo.
"Ji!" seru Soonyoung sambil menangkup wajah Jihoon.
Jihoon menatap Soonyoung tepat di matanya.
"Percaya pada Mingyu, oke? Wonwoo akan baik-baik saja."
"Tapi—"
"Wonwoo sudah besar, kau tidak perlu khawatir seperti itu. Dan please, percaya pada Mingyu sekali ini saja. Ya?"
Jihoon mengangguk dengan enggan dan melepas tangan Soonyoung dari wajahnya.
"Ayo dance battle," ajak Soonyoung sambil menarik Jihoon ke mesin permainan dance yang ada di sana. Setelahnya, mereka tidak mengikuti Mingyu dan Wonwoo lagi dan malah asyik sendiri.
"Noona, main itu yuk," ajak Mingyu sambil menarik Wonwoo ke mesin capit boneka.
Mingyu menggesek kartu lalu menggerakkan stik agar pencapit bergeser. Mingyu menekan tombol ketika merasa pencapit sudah berada di atas salah satu boneka yang tempatnya strategis. Lelaki itu mengerang ketika boneka tidak berhasil diambil oleh pencapit. Wonwoo tertawa kecil melihat Mingyu. "Mau coba?" tanya Mingyu.
Wonwoo mengangguk.
Mingyu menggesek kartunya lalu Wonwoo mulai menggerakkan stiknya.
"Kurang ke kanan noona," kata Mingyu lalu meletakkan tangannya di atas tangan Wonwoo dan menggerakkan stik ke kanan.
"Itu sudah pas Kim!" seru Wonwoo tidak terima dan menggerakkan stik ke kiri. Kemudian Wonwoo melirik Mingyu.
"Apa?"
"Singkirkan tanganmu!"
Mingyu menjauhkan tangannya dan cengar-cengir. "Maaf."
Wonwoo mendelik lalu menekan tombol agar pencapit turun mengambil boneka. Wonwoo berdecak kesal karena pencapit gagal mengambil boneka dan meninggalkan mesin capit boneka itu. Mingyu mengikuti Wonwoo dan mengajak gadis itu untuk mencoba satu per satu mainan yang ada di sana. Setelah mencoba hampir semua permainan di game center itu, Mingyu bertanya, "Masih mau main lagi? Atau mau pindah tempat?"
"Kau janji membelikanku crepes."
Mingyu mengangguk dan mengajak Wonwoo ke stand yang menjual crepes. Keduanya memesan dan menunggu sampai pesanan jadi setelah itu mencari tempat duduk.
"Mau coba?" tawar Wonwoo setelah duduk di hadapan Mingyu.
Mingyu mengerjapkan matanya. Gadis di hadapannya memang sangat tidak terduga, kadang bisa sangat galak dan bisa juga jadi manis.
"Mau tidak? Sebelum aku berubah pikiran," kata Wonwoo sambil menarik crepesnya perlahan.
Mingyu dengan cepat menarik tangan Wonwoo dan memakan crepes gadis itu sambil menggenggam tangannya. Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui. Setelah memakan satu gigit Mingyu belum juga melepaskan tangan Wonwoo.
"Puas pegang-pegangnya?" sindir Wonwoo.
Mingyu segera menjauhkan tangannya. "Maaf."
Wonwoo memakan crepesnya dengan lahap.
"Noona mau coba punyaku?" tanya Mingyu sambil menyodorkan crepesnya.
Wonwoo memegang crepes Mingyu dan mematahkannya sedikit.
"Mana terasa noona. Gigit saja."
Wonwoo mengambil crepes dari tangan Mingyu dan menggigitnya lalu mengembalikannya pada lelaki itu. "Lebih enak punyamu."
"Mau tukar?"
Wonwoo menggeleng.
"Noona jurusan Sastra Korea ya?" tanya Mingyu. "Enak di sana?"
Wonwoo mengangguk. "Ya begitulah. Kau sendiri? Bagaimana di Biological Sciences?"
"Lumayan merepotkan." Mingyu terkekeh. "Kenapa dulu ambil jurusan itu?"
"Aku suka membaca. Lumayan di jurusan itu jadi banyak bacaan baru."
"Begitu."
Selanjutnya, mereka memakan crepes masing-masing tanpa percakapan apapun. Setelah crepes mereka habis Mingyu bertanya, "Mau kemana lagi?"
"Toko buku!" seru Wonwoo riang dengan wajah datarnya.
Mingyu mengangguk dan mengikuti Wonwoo menuju ke toko buku.
"Kenapa suka membaca?" tanya Mingyu setelah mereka ada di toko buku.
Wonwoo yang sedang membaca sinopsis salah satu buku menolehkan kepalanya untuk menatap Mingyu. "Memang suka harus butuh alasan?" ucapnya lalu mengembalikan buku yang dipegangnya ke tempat semula lalu beranjak meninggalkan Mingyu untuk melihat buku lain.
Mingyu mengikuti gadis itu.
Wonwoo melihat-lihat isi rak buku di sekelilingnya. Ia mendekati salah satu rak dan menatap buku yang berada pada rak paling atas. Gadis itu berjinjit dan berusaha untuk mengambil buku itu. Walaupun ia memiliki tinggi di atas rata-rata, tangannya tidak mampu menggapainya karena rak itu cukup tinggi dan buku itu terlalu menjorok ke dalam.
Dari belakang Wonwoo, Mingyu mengambil buku yang diincar Wonwoo lalu memukul pelan kepala gadis itu dengan buku yang diambilnya. "Tinggal minta tolong saja apa susahnya."
Pipi Wonwoo memerah samar, lalu ia mengambil buku dari tangan Mingyu. "Thanks," ucapnya pelan. Wonwoo membaca sinopsis buku itu lalu meletakkannya kembali pada rak. Setelahnya, gadis itu mengelilingi toko buku dan Mingyu mengekor dibelakangnya.
"Masih mau makan?" tanya Mingyu saat mereka berada di depan toko buku setelah puas mengelilingi toko buku itu.
"Memang sekarang jam berapa?" tanya Wonwoo.
Mingyu mengecek jam pada ponselnya. "Jam tujuh."
"Masih kenyang, jajan saja."
"Jajan apa?"
"Terserah."
"Froyo mau?"
Wonwoo mengangguk. Lalu mereka pergi ke stand yang menjual froyo.
"Mau rasa apa?" tanya Mingyu saat berada di depan meja kasir.
"Terserah."
"Jangan terserah terus dong noona," kata Mingyu gemas. "Pilih sana," lanjutnya sambil mendorong Wonwoo pelan untuk menyebutkan pesanannya.
"Satu cup saja ya? Bagi dua, aku masih kenyang."
Mingyu mengangguk.
Wonwoo menyebutkan pesanannya lalu Mingyu membayar. Setelah itu mereka mencari tempat duduk dan mulai memakan froyo mereka dalam diam. "Noona pernah pacaran? Atau sedang menyukai seseorang?"
Wonwoo yang sejak tadi melihat orang berlalu-lalang menatap Mingyu dan menggeleng. "Mantanmu berapa?"
Mingyu meringis. "Tidak ingat ada berapa."
"Dasar playboy," gumam Wonwoo pelan.
"Apa?"
"Tidak, bukan apa-apa," kata Wonwoo lalu memakan froyonya. "Kenapa tidak pacaran dengan Jeonghan-eonni?"
"Dianya yang tidak mau."
"Kau buaya sih. Pantas kalau Jeonghan-eonni tidak mau."
Mingyu meringis.
"Tobat sana. Kasihan perempuan yang kau dekati. Sering minum alkohol juga tidak baik."
"Kau perhatian sekali noona, aku jadi terharu."
"Jangan mengada-ada. Aku hanya bilang begitu sebagai sunbae yang baik Kim."
"Terserah apa katamu noona, pokoknya aku senang kau memperhatikanku."
Wonwoo memelototi Mingyu.
"Masih mau lihat-lihat?" tanya Mingyu setelah memakan suapan terakhir dan mengabaikan Wonwoo yang memelototinya.
"Aku mau pulang saja."
"Mau aku antar?" tawar Mingyu.
"Boleh."
"Tumben tidak menolak?"
"Aku sedang malas berdebat. Kalaupun aku menolak, kau pasti akan memaksa."
Mingyu terkekeh. "Aku naik motor, tidak apa-apa?"
"Terserah kau mau naik apa Kim, kau mengantarku dengan selamat aku berterima kasih kok."
Pemuda Kim itu tersenyum. "Ayo," katanya lalu berjalan ke tempat parkir diikuti oleh Wonwoo.
Mingyu menyerahkan helm pada Wonwoo dan memakai helmnya lalu menaiki motornya setelah sampai di parkiran. Lalu Wonwoo naik ke motor Mingyu dengan bertumpu pada pundak lelaki itu.
Mingyu mengeluarkan karcis dari dompetnya. Tapi Mingyu tak kunjung menjalankan motornya.
"Kenapa Kim? Motormu rusak?"
"Motorku tidak ada pegangannya, kau tidak mau pegangan di mana gitu?" Kode keras dari Mingyu.
Wonwoo mendengus lalu mendorong Mingyu. Kemudian ia membawa tangannya ke pinggang Mingyu. "Puas kau, buaya?!"
Mingyu tertawa lalu menstarter motornya. "Siap Tuan Putri?"
"Ya."
Lalu Mingyu melajukan motornya ke apartemen Wonwoo. Setelah sampai di apartemen, Wonwoo turun dan memberikan helm yang dipakainya pada Mingyu. Kemudian Mingyu menarik tangan Wonwoo agar gadis itu mendekat ke arahnya dan ia membetulkan rambut Wonwoo yang sedikit berantakan akibat memakai helm.
Pipi Wonwoo merona samar. "Thanks."
Mingyu tersenyum. "Kapan-kapan aku boleh mengajakmu jalan lagi?"
Wonwoo terdiam sebentar lalu mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu, aku pulang dulu ya."
"Hati-hati."
"Selamat malam Tuan Putri. Semoga tidurmu nyenyak. Mimpi indah ya," kata Mingyu lalu meninggalkan apartemen Wonwoo.
.
Doyoon memasuki restoran bersama Myunghoon dan sedang melihat sekeliling untuk mencari tempat duduk ketika pergelangan tangannya dicekal oleh seorang pemuda. Doyoon menatapnya dengan pandangan kaget dan berusaha melepas cengkeraman tangan pemuda itu. "S-Seungcheol," desisnya.
"Dodo!" seru perempuan dari belakang Seungcheol dengan riang—Yoon Jeonghan.
Seungcheol yang akhirnya sadar kalau ia sedang bersama Jeonghan mengendurkan cengkeramannya pada tangan Doyoon. Lalu menatap Myunghoon dengan pandangan tidak suka.
Doyoon memaksakan seulas senyum dan menarik tangannya. "Han-ie."
"Sudah dapat tempat duduk?" tanya Jeonghan sambil menggamit lengan Seungcheol.
Doyoon melirik tangan Jeonghan pada lengan Seungcheol sekilas dan menatap mata Jeonghan lagi—berusaha untuk tidak terganggu. "Belum."
"Duduk bersama?" tanya Jeonghan. "Boleh 'kan Cheol?" lanjutnya meminta persetujuan Seungcheol. Seungcheol mengangguk.
Doyoon menatap Myunghoon. "Bagaimana?"
"Tentu saja."
Jeonghan tersenyum kemudian memilih tempat duduk kosong. Ia duduk bersebelahan dengan Seungcheol. Doyoon di depan Jeonghan dan Myunghoon di depan Seungcheol. Seorang pelayan menyerahkan buku menu dan meninggalkan mereka.
Ketika mereka sudah berada di kursi masing-masing, Doyoon berbisik kepada Myunghoon. "Jangan bilang kalau aku calon istri Seungcheol dan berpura-puralah kau belum mengenal Seungcheol. Jeonghan tidak tahu."
Myunghoon mengangguk dan Doyoon menjauhkan kepalanya. Ia tersenyum kepada Jeonghan.
Seungcheol geram melihat pemandangan di hadapannya. Ia mengepalkan tangan dan berusaha menekan amarahnya.
Jeonghan mengulas senyum penuh arti. "Kau belum mengenalkannya pada kami."
"Pesan dulu bagaimana? Nanti kukenalkan."
"Mau makan apa?" tanya Myunghoon kepada Doyoon dengan penuh perhatian.
Doyoon melihat-lihat menu yang ada kemudian menunjuk menu yang ingin dimakannya.
Seungcheol jadi tidak fokus pada buku menunya dan sesekali melirik Myunghoon dan Doyoon.
"Cheol-ah, makan apa?" tanya Jeonghan pada Seungcheol.
Seungcheol menoleh dan tergagap. "O-oh. Samakan saja denganmu." Nafsu makannya mendadak hilang.
"Kalian sudah tahu mau makan apa?" tanya Myunghoon kepada Seungcheol dan Jeonghan, Jeonghan mengangguk. Lalu Myunghoon memanggil pelayan dan menyebutkan pesanan mereka.
Setelah pelayan pergi, Doyoon memperkenalkan Myunghoon kepada Jeonghan. "Ini Myunghoon-oppa. Asisten dosenku saat di Amerika. Kolegaku juga."
"Lee Myunghoon. Senang bertemu dengan kalian," kata Myunghoon sambil tersenyum.
"Yoon Jeonghan, sahabat Doyoon saat SMA, senang bertemu denganmu oppa," kata Jeonghan sambil mengulum senyum.
Myunghoon tersenyum. "Ya, aku tahu itu. Doyoon bercerita banyak tentangmu."
Jeonghan memicingkan matanya. "Kau tidak menceritakan yang jelek-jelek pada oppamu 'kan?"
Gadis Jang itu meringis. "Tentu saja tidak."
Jeda sesaat, kemudian Jeonghan menyenggol Seungcheol karena tak kunjung memperkenalkan dirinya. Seungcheol memutar bola mata malas dan menolehkan wajahnya. Jeonghan menyenggolnya lagi. "Seungcheol. Senang juga bertemu denganmu," katanya malas.
"Namchin?" tanya Jeonghan kepada Doyoon tanpa suara.
Doyoon menggeleng.
Jeonghan menatap Doyoon tidak percaya.
"Serius, bukan," kata Doyoon tanpa suara juga.
Lalu kedua gadis itu bergosip, mulai dari fashion sampai teman mereka zaman SMA dulu. Myunghoon beberapa kali menimpali percakapan Jeonghan dan Doyoon, terkadang beradu tatap pula dengan Seungcheol yang menatap Myunghoon dengan jengkel.
Pesanan datang dan mereka mulai makan ditemani celotehan kedua gadis cantik dan tatapan tajam dari dua lelaki yang duduk berhadapan itu.
"Do…" panggil Myunghoon.
"Ya?" sahut Doyoon sambil menatap Myunghoon.
"Itu…" kata Myunghoon sambil menatap sayuran yang sejak tadi disingkirkan Doyoon dan gadis itu secara bergantian.
Doyoon cengar-cengir.
"Ayo dimakan."
"Tidak suka," kata Doyoon sedikit merajuk.
Myunghoon menyumpit sayuran dari piring Doyoon dan membawanya ke depan mulut Doyoon. "Makan."
"Tidak mau," kata Doyoon sambil merengut dan menjauhkan kepalanya.
Myunghoon memajukan sayuran ke depan mulut Doyoon sambil memelototi gadis itu.
Doyoon dengan wajah masam memakan sayuran yang disumpit Myunghoon.
Seungcheol yang sedang menghabiskan sisa makanannya melihat pemandangan di depannya dengan perasaan jengkel setengah mati. Ia membanting sendok dan garpunya ke piring sampai mengeluarkan bunyi yang cukup keras. "Aku ke toilet sebentar."
Jeonghan yang sejak tadi tersenyum penuh arti melihat Doyoon dan Myunghoon menatap Seungcheol dengan pandangan aneh. Sementara Doyoon tersedak dan buru-buru menyedot minumannya.
"Aku bayar dulu," kata Myunghoon lalu berdiri.
"Ah, ini oppa," ucap Jeonghan sambil buru-buru mengeluarkan dompet dari tasnya.
"Bayarnya nanti saja," kata Myunghoon dan meninggalkan meja yang mereka duduki.
Jeonghan mengangguk dan menatap Doyoon dengan pandangan curiga. "Do…"
"Hm?"
Jeonghan tersenyum lalu menggeleng. "Tidak… Tidak apa-apa."
Seungcheol sudah kembali dari toilet. Ia mendudukkan diri sambil bersedekap dan menatap Doyoon.
Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Doyoon menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Seungcheol. Doyoon merasa bersyukur ketika Myunghoon sudah kembali. Lalu mereka berempat berjalan meninggalkan restoran itu setelah membagi tagihan. Doyoon dan Jeonghan berjalan duluan sementara Myunghoon dan Seungcheol di belakang mereka cukup jauh.
"Jangan dekati Doyoon lagi," kata Seungcheol dengan nada dingin dan rendah.
Myunghoon mendengus. "Apa hakmu berkata begitu?"
"Aku calon suaminya!"
"Apakah pantas kau disebut calon suami jika berselingkuh di belakangnya?" tanya Myunghoon dengan tenang.
Seungcheol geram dan menarik kerah kemeja Myunghoon. "Jangan macam-macam!" desisnya.
"Kau yang jangan macam-macam dan jangan membuat keributan di sini jika tidak mau ketahuan Jeonghan!" kata Myunghoon dingin dan melepas tangan Seungcheol dari kerahnya sebelum dilihat oleh Doyoon dan Jeonghan. Malu juga dilihat oleh pengunjung lain yang sudah menatap mereka. "Aku tidak akan segan-segan merebut Doyoon darimu jika kau tidak segera memutuskan Jeonghan!" lanjutnya lalu meninggalkan Seungcheol dan mendekati Doyoon.
Seungcheol menghembuskan napasnya kasar dan mengikuti Myunghoon.
"Kami pulang dulu ya," pamit Jeonghan saat mereka berada di depan restoran.
"Sampai jumpa Han," kata Doyoon sambil tersenyum. "Dan Seungcheol-ssi," lanjutnya.
Seungcheol hanya mengangguk dan menatap tajam Myunghoon.
Jeonghan melambaikan tangan lalu menggamit tangan Seungcheol dan meninggalkan mereka berdua menuju motor Seungcheol.
Doyoon membalas lambaian tangan Jeonghan. Senyumnya sirna digantikan wajah mendungnya ketika Seungcheol dan Jeonghan meninggalkan mereka. "Oppa," lirihnya lalu menatap Myunghoon dengan mata berkaca-kaca dan menarik bagian depan kemeja lelaki itu.
Tanpa diminta, Myunghoon menarik Doyoon ke dalam pelukannya. "Aku di sini," katanya sambil mengelus kepala Doyoon.
Doyoon balas memeluk Myunghoon. Ia menggigit bibir bawahnya dan menahan tangis. "Apakah aku salah menyimpan perasaan pada Seungcheol selama bertahun-tahun?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Tidak sayang, kau tidak salah," jawab Myunghoon dengan tetap mengelus kepala Doyoon untuk menenangkan gadis itu.
"Kenapa harus Jeonghan yang berpacaran dengan Seungcheol? Kenapa harus sahabatku sendiri? Kenapa?" tanya Doyoon dengan suara parau. Air matanya mulai menetes.
Myunghoon hanya diam dan tetap mengelus kepala Doyoon dengan sayang. Ia merasa sakit melihat gadis itu menangisi lelaki bodoh seperti Seungcheol. "Sudah, jangan menangis. Kembali ke kantor ya?"
Doyoon mengangguk lalu melepas pelukannya. Gadis Jang itu menghapus air matanya dan tersenyum. "Maaf dan terima kasih."
Myunghoon tersenyum dan menepuk kepala Doyoon. Lalu mereka berdua memasuki mobil Myunghoon dan lelaki itu mengantar Doyoon ke kantornya.
.
TBC
.
Lah kok pada ga percaya gitu sih kalo Mingry itu Jun yang jadi bottom? Lol. Saya sih penganut bot!Jun kalo sama Mingming ya.
Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)
