Seventeen belong to God, Pledis and their parents

Fall For You © Bianca Jewelry

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)

Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)

Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)

Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)

Yao Mingming X Wen Junhui

Rating: M for safe

Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.

.

Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini.

.

Ketika kelas selesai, seorang gadis cantik berambut panjang dan berkacamata bernama Jeon Wonwoo memutuskan untuk pergi ke kantin. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari siapa pun yang ia kenal dan menemukan dua temannya. Setelah selesai membeli minum, ia menghampiri meja yang diduduki oleh dua temannya itu.

"Kemarin ke mana pendek?" tanya Wonwoo sambil mendorong kepala Jihoon.

"Won," desis Soonyoung tidak terima karena pacarnya diperlakukan demikian oleh Wonwoo.

"Aku tidak pendek, wanita tiang! Kau saja yang kelebihan kalsium," kata Jihoon jengkel sambil menarik rambut panjang Wonwoo yang digerai.

Wonwoo mengaduh. Ia memukul pelan tangan Jihoon lalu mengacak rambut gadis itu. Kemudian Wonwoo mendudukkan diri di sebelah Jihoon.

"Jangan abaikan aku!" seru Soonyoung jengkel.

"Oh, ada Soonyoung. Annyeong!" sapa Wonwoo dengan wajah datar.

Soonyoung mengerucutkan bibir sementara Jihoon tertawa melihat ekspresi Soonyoung.

"Bagaimana kemarin kencannya Won?" tanya Soonyoung.

"Oh… Jadi kau yang merencanakan ini, hm? Boleh kubunuh pacarmu Ji?"

Jihoon mengangguk. "Silakan. Terus buang ke Selat Korea saja."

"Jahatnya Ji…" kata Sooyoung dengan nada sedih. "Jadi bagaimana kencannya?"

"Ya begitu-begitu saja," jawab Wonwoo cuek.

"Mingyu tidak asyik ya?" tanya Soonyoung lagi.

"Ah, sudah tidak usah dibahas," kata Wonwoo. Rona merah samar menghiasi pipinya.

"Ada yang malu nih," goda Soonyoung.

"Berisik Kwon." Wonwoo mendelik lalu berdiri, siap untuk pulang ke apartemennya. "Aku pulang dulu."

Soonyoung terkekeh. "Hati-hati, Won."

"Bye, Won," ujar Jihoon.

"Bye," kata Wonwoo lalu ia meninggalkan kantin.

.

"Mingyu-ya," panggil seorang perempuan ketika melihat Mingyu keluar dari area kampusnya.

"Oh, kau," kata Mingyu—bahkan Mingyu lupa siapa nama perempuan itu. "Ada apa kemari?"

"Katanya janji akan menghubungi dan berkencan denganku," kata perempuan itu sambil mendekati Mingyu dan memeluk tangannya.

Mingyu menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya?"

Perempuan itu mengangguk. "Sudah satu bulan berlalu kau bahkan tak menghubungiku sama sekali."

Mingyu jadi bengong dibuatnya. Walaupun sering bersenang-senang dengan wanita di klub malam, ia jarang sekali meminta kontak mereka kalau tidak begitu akrab. "Mungkin kau salah orang Nona," ujar Mingyu sambil berusaha melepas tangan gadis itu.

"Tidak. Kau Kim Mingyu 'kan?" Gadis itu makin mempererat pelukannya pada tangan Mingyu.

"Iya, aku Kim Mingyu. Aku tidak pernah berkata seperti itu pada gadis mana pun dan tolong lepaskan aku," kata Mingyu yang masih berusaha menjauhkan gadis itu.

"Maaf Nona, bisa tolong lepaskan tanganmu? Dia pacarku," kata seorang gadis dengan nada dingin sambil menggamit lengan Mingyu yang bebas.

Mingyu menatap gadis berambut panjang dan berkacamata itu dengan pandangan terkejut. Jeon Wonwoo mengakuinya sebagai pacar!

"Katamu kau tidak punya pacar?" tanya gadis itu.

"Ayo sayang, kita pulang sekarang," ajak Wonwoo sambil menarik Mingyu.

"Ah ya, ini pacarku. Dan permisi, aku akan pulang sekarang," kata Mingyu sambil tersenyum.

Gadis itu dengan tidak rela melepas tangan Mingyu dan membiarkannya pergi bersama Wonwoo.

Ketika mereka sudah berjalan agak jauh, Wonwoo dengan perlahan menurunkan tangannya dan Mingyu dengan sigap menggenggam tangan Wonwoo.

"Terima kasih noona," ujar Mingyu.

"Ini caramu berterima kasih Kim?" desis Wonwoo dengan wajah memerah sambil mengangkat tangannya yang digenggam Mingyu dan melirik lelaki itu.

Mingyu cengar-cengir. "Sampai tempat parkir saja noona."

Wonwoo menghela napas. "Terserah kau sajalah."

"Aku antar pulang ya?"

"Hm."

Mingyu tersenyum dan bersorak dalam hati.

.

Sementara itu di hari yang sama, Jeonghan pergi ke café yang berada di dekat kampusnya setelah kelasnya selesai. Ketaka ia sudah berada di dalam café, matanya bertemu dengan mata Jisoo yang sedang melayani pelanggan dan Jeonghan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Lalu ia mendekati meja kasir untuk mengantri.

"Selamat sore, mau pesan apa Cheonsa?" tanya Jisoo setelah giliran Jeonghan tiba.

"Hong Jisoo belum ada di daftar menu ya?"

Jisoo tertawa pelan. "Belum ada Cheonsa. Jadi mau pesan apa?"

"Salted Caramel satu. Dan Hong Jisoo setelah shiftnya selesai."

Jisoo tersenyum. "Ada lagi?"

"Itu saja."

"Totalnya ₩4.850."

Jeonghan menyerahkan beberapa lembar uang kepada Jisoo.

"Ini kembaliannya, terima kasih, ditunggu ya pesanannya," kata Jisoo sambil menyerahkan uang kembalian kepada Jeonghan.

Jeonghan menerima kembaliannya dan tersenyum lalu mencari tempat duduk kosong.

Sekitar setengah jam kemudian, shift Jisoo selesai dan sekarang ia sedang duduk di depan Jeonghan sambil mengerjakan laporannya. Lalu ia menatap Jeonghan karena tangan gadis itu memegang rambutnya.

"Ah maaf," ucap Jeonghan sambil menjauhkan tangannya dengan wajah memerah.

"Ada sesuatu di rambutku?"

Jeonghan menggeleng. "Rambutmu terlihat halus, aku jadi ingin memegangnya."

Jisoo mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya. Beberapa saat kemudian, ponsel Jisoo berbunyi. "Hello?"

Jeonghan menatap Jisoo dengan pandangan kagum. Jisoo sedang berbicara dengan bahasa Inggris dengan fasih.

"Kau bisa berbicara bahasa Inggris?" tanya Jeonghan setelah Jisoo menutup teleponnya.

"Aku lahir di Los Angeles."

"Wow. Kalau begitu kau punya nama barat?"

Jisoo mengangguk. "Joshua."

"Oke, mulai sekarang kau akan kupanggil Joshuji!" seru Jeonghan senang.

Jisoo tertawa kecil. "Apa-apaan itu. Dan siapa namamu? Aku rasa Cheonsa bukan nama aslimu."

Jeonghan sedikit terkejut. "Kau tidak tahu namaku? Atau temanmu tidak pernah menunjukkan fotoku?"

Jisoo mengernyitkan dahi. "Kau terkenal?"

"Mungkin," jawab Jeonghan ragu. "Aku tidak menyangka ada juga yang tidak mengetahuiku."

"Begitu." Jisoo menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu ia melanjutkan pekerjaannya.

"Jisoo-ya."

"Hm?"

"Menurutmu apa yang harus aku lakukan jika pacarku terlihat seperti memiliki hubungan dengan sahabatku?"

Entah kenapa Jisoo merasa kecewa ketika mendengar Jeonghan sudah memiliki kekasih. "Kenapa tidak bertanya langsung kepada mereka?"

"Aku sudah pernah bertanya. Tapi tadi saat makan siang, aku bertemu dengannya dan mereka semakin mencurigakan."

"Mencurigakan bagaimana?"

"Ya seperti itu. Seungcheol tiba-tiba marah ketika Myunghoon-oppa menyuapi Doyoon. Seungcheol itu pacarku, Doyoon sahabatku dan Myunghoon-oppa adalah temannya Doyoon." Jeonghan menyeruput minumannya. "Lalu aku juga melihat Seungcheol menarik kerah Myunghoon-oppa ketika pulang."

"Itu sudah jelas ada apa-apanya."

"Begitu ya?" gumam Jeonghan sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Jisoo ikut mengangguk. "Sudah mau pulang?" tanya Jisoo sambil membereskan laporannya. "Aku sudah selesai."

"Oh, boleh," kata Jeonghan lalu menghabiskan minumannya yang tersisa.

"Tidak apa-apa 'kan aku mengantarmu pulang?"

"Memang kenapa?"

"Nanti pacarmu marah."

Jeonghan tersenyum. "Santai saja."

Jisoo ikut tersenyum. "Kalau begitu, ayo."

.

"Masuk," kata Doyoon tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop saat mendengar pintu ruangannya diketuk.

"Permisi Nona, Tuan Choi menjemput Anda dan sedang menunggu di lobi," ujar seorang perempuan yang merupakan sekretaris Doyoon setelah ia mendekati meja kerja Doyoon.

Doyoon melirik jam yang berada di mejanya. Pukul enam lebih. "Suruh tunggu sebentar. Setelah ini aku akan bersiap-siap."

Perempuan itu tersenyum. "Baik Nona."

Setelahnya, Doyoon mematikan laptop dan mengemasi barang-barangnya lalu turun ke lobi untuk menemui Seungcheol.

Sesampainya di lobi, Doyoon mendekati Seungcheol namun tidak menyapanya apalagi tersenyum. Seungcheol yang melihat Doyoon mendekat juga tidak menyapanya dan ia hanya memberikan kode kepada Doyoon untuk mengikutinya ke tempat parkir.

Tak ada yang membuka suara, sampai mobil keluar dari kantor Doyoon. Seungcheol sempat pulang ke rumah untuk mengganti motor dengan mobilnya, ia merasa gengsi jika menjemput pemilik kantor dengan motor. Apalagi statusnya calon tunangan Doyoon. Akhirnya Seungcheol membuka suara ketika mobil berhenti akibat traffic light yang menunjukkan lampu merah. "Hubunganmu dengan Myunghoon itu seperti apa?"

"Cuma teman," jawab Doyoon sambil memandang keluar jendela.

"Teman macam apa sampai menyuapi dan memelukmu begitu."

Doyoon tidak menanggapi dan menggigit bibir bawahnya. Air mata sudah berkumpul di pelupuk matanya.

"Jangan dekati dia lagi."

"Kenapa kau marah dan melarangku? Aku bahkan tidak marah kepadamu saat tahu kau pacaran dengan Jeonghan dan melihat kalian bermesraan di depanku." Air mata Doyoon mulai meleleh. Ia menghapusnya dengan punggung tangan.

Keduanya terdiam.

"Jauhi Myunghoon, aku tidak suka melihatmu dekat-dekat dengannya," kata Seungcheol setelah sampai di kediaman keluarga Jang.

"Kau egois Cheol." Doyoon buru-buru melepas sabuk pengaman dan turun dari mobil Seungcheol.

Seungcheol juga turun dari mobil. Ia setengah berlari mengejar Doyoon dan mencekal pergelangan tangan gadis itu. "Do…"

"Lepaskan aku!" seru Doyoon sambil menepis tangan Seungcheol dan menatapnya tajam. Ia masuk ke dalam rumahnya ketika pagar rumahnya terbuka dan langsung berlari menuju kamar. Membuat Nyonya Jang terkejut ketika mendengar pintu kamar yang dibanting Doyoon. Sementara Seungcheol mengacak rambutnya kasar dan masuk ke mobilnya, tak lupa membanting pintu dan memukul setirnya. Bukan ini yang ia inginkan dengan menjadikan Jeonghan sebagai pacarnya.

.

Doyoon buru-buru menghapus air matanya ketika mendengar pintu kamarnya diketuk. "Masuk eomma."

Nyonya Jang membuka pintu kamar Doyoon lalu mendekati putrinya. "Doyoon-ie kenapa?" tanya Nyonya Jang sambil mengelus kepala Doyoon dengan sayang.

"Tidak apa-apa eomma," jawab Doyoon dan memaksakan sebuah senyum.

"Bertengkar dengan Seungcheol?"

"Tidak."

"Lalu kenapa menangis?"

"Aku tidak menangis. Mataku kemasukan debu."

Nyonya Jang terus mengelus kepala Doyoon dan mencoba mempercayai perkataan Doyoon, walaupun Nyonya Jang tahu putrinya berbohong. "Tuan dan Nyonya Choi mengajak makan malam hari ini. Cepat mandi dan bersiap-siap."

Duh, Doyoon malas harus bertemu dengan Seungcheol lagi. "Boleh aku tidak ikut?" tanyanya memelas.

"Kenapa?"

"Sedang malas keluar rumah eomma."

"Alasan macam apa itu. Kau sedang menghindari Seungcheol ya?"

"Tidak kok." Doyoon buru-buru menggeleng. "Boleh ya tidak ikut?" tanyanya sambil memeluk Nyonya Jang.

"Ada apa? Biasanya juga semangat kalau bertemu Seungcheol."

Doyoon tidak menjawab pertanyaan ibunya dan merengut.

Nyonya Jang mengacak rambut putrinya. "Cepat mandi sana," katanya lalu meninggalkan kamar Doyoon.

Doyoon dengan malas turun dari tempat tidurnya dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

.

Doyoon dan orangtuanya memasuki restoran dan menuju ke meja yang sudah ditempati oleh keluarga Choi. Mereka memesan makanan lalu berbincang-bincang, minus Seungcheol dan Doyoon. Seungcheol terkadang melihat Doyoon yang duduk di depannya sementara Doyoon mengalihkan pandangannya ketika mata mereka bertemu atau pura-pura sibuk dengan ponselnya.

"Doyoon-ah," panggil Tuan Choi.

"Ya?" Doyoon menatap Tuan Choi.

"Matamu merah, habis menangis?" tanya Tuan Choi, membuat Seungcheol menegang di tempat duduknya.

Doyoon tersenyum. "Tidak ahjussi, hanya kurang tidur. Banyak pekerjaan di kantor."

"Begitu. Lalu kenapa dari tadi kalian diam saja? Sedang bertengkar?" tanya Tuan Choi lagi.

"Tidak, kami baik-baik saja," jawab Doyoon. "Aku ke toilet sebentar," pamitnya.

"Aku juga," pamit Seungcheol lalu mengikuti Doyoon.

Dua pasangan paruh baya itu menatap kepergian Seungcheol dan Doyoon lalu saling bertatapan. Kemudian mereka melanjutkan perbincangan mereka.

Seungcheol tidak benar-benar ke toilet. Ia hanya mengikuti Doyoon dan menunggu di luar. "Do," panggilnya saat Doyoon sudah keluar dari toilet.

"Oh!" Doyoon sedikit terkejut mendapati Seungcheol menunggunya.

"Aku minta maaf."

Doyoon mengangguk. "Tidak apa-apa."

"Ayo kembali," ajak Seungcheol sambil mengulurkan tangannya.

Doyoon hanya menatap tangan Seungcheol dan mengabaikan uluran tangan lelaki itu—membuat Seungcheol tersenyum sedih. Doyoon berjalan terlebih dahulu lalu Seungcheol mengikutinya.

Ketika Seungcheol dan Doyoon kembali, makanan sudah datang dan dua keluarga itu memulai makan malam mereka.

"Jadi bagaimana hubungan kalian?" tanya Tuan Choi sambil menatap Doyoon lalu menatap Seungcheol.

"Seperti kata Doyoon tadi, kami baik-baik saja," jawab Seungcheol.

"Kau merasa cocok dengan Doyoon?" tanya Nyonya Jang.

Seungcheol mengangguk.

"Syukurlah," kata Nyonya Jang sambil tersenyum lega.

"Lalu kapan kau akan melamar Doyoon?" tanya Nyonya Choi.

Doyoon tersedak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nyonya Choi. Ia meneguk minumannya hingga tersisa setengah.

Nyonya Jang yang duduk di sebelah Doyoon tersenyum dan mengelus punggung putrinya. "Apakah tidak terlalu cepat? Seungcheol juga baru akan lulus."

Nyonya Choi tertawa. "Aku bercanda."

Lalu Tuan Choi mengganti topik pembicaraan menjadi pekerjaan dan membahasnya bersama Tuan Jang. Para Nyonya bergosip, sedangkan Seungcheol dan Doyoon saling curi pandang. Doyoon jadi salah tingkah ketika tertangkap basah sedang melirik Seungcheol, gadis itu langsung membuang muka dengan wajah memerah. Lalu Seungcheol menceritakan hal lucu kepada Doyoon dan lelaki itu tersenyum lega ketika tawa Doyoon kembali menghiasi paras manisnya.

.

"Yeoboseyo," kata Mingyu.

Yang ditelepon Mingyu tidak merespon.

"Wonwoo-noona?"

"Hm?" sahut Wonwoo malas.

"Sibuk? Apakah aku mengganggu?"

"Kau selalu menggangguku Kim."

Mingyu meringis. "Besok sibuk tidak?"

"Sepertinya tidak. Kenapa?"

"Minseo mau jalan-jalan denganmu."

"Ya."

"Um… Noona… Kau baik-baik saja? Jawabnya irit sekali."

"Aku mengantuk Kim."

"Oh, maaf sudah mengganggu. Tidurlah noona."

"Hm."

"Selamat malam, mimpi indah Tuan Putri."

Wonwoo langsung menekan tombol merah dan melempar ponselnya asal. Lalu ia menenggelamkan wajahnya pada bantal.

.

Di hari Minggu pagi menjelang siang, seorang gadis cantik bernama Yoon Jeonghan sedang menunggu temannya yang bernama Jang Doyoon di salah satu pusat perbelanjaan di kota Seoul.

"Sudah lama Han?" tanya Doyoon.

Jeonghan tersenyum. "Tidak juga. Mau ke mana dulu?"

"Sudah makan?"

"Sudah."

"Lihat baju saja yuk," ajak Doyoon lalu menggamit tangan Jeonghan.

Jeonghan mengangguk. Lalu keduanya masuk ke salah satu toko baju terdekat dan memasuki satu per satu toko baju yang ada.

"Ada yang ingin aku tanyakan," ujar Jeonghan ketika mereka sedang berada ke stand gelato. Mereka lelah dan memutuskan untuk beristirahat sejenak.

"Apa?"

"Kau dan Seungcheol… Benar tidak ada hubungan apa-apa?"

Doyoon yang sudah membawa sesendok gelato ke depan mulutnya mengembalikannya pada mangkuk. "Kau curiga Seungcheol selingkuh denganku?"

"Bukan begitu," kata Jeonghan panik.

"Aku pertama kali bertemu dengannya saat di klub," kata Doyoon lalu memakan gelatonya.

"Tapi waktu itu, ada seseorang yang menelepon Seungcheol dengan namamu. Aku mengangkatnya dan langsung dimatikan."

Doyoon tersenyum kaku. "Yang punya nama Doyoon bukan cuma aku, Han."

"Kalau tidak salah nomornya sama dengan yang kau gunakan dulu. Waktu itu aku tidak sengaja menghapus nomormu. Tapi samar-samar aku ingat kok."

Doyoon berkeringat dingin. "Mungkin kau salah ingat." Sadar dengan kesalahan yang ia perbuat, Doyoon langsung menghubungi Jeonghan dengan ponsel kantornya dan mengaku kalau sudah ganti nomor selang beberapa hari setelah kejadian itu.

Jeonghan menghela napas. Ia menyerah. "Mungkin saja." Perempuan itu meraih tangan Doyoon. "Maafkan aku, karena curiga kepadamu."

Doyoon menggeleng dan tersenyum. "Tidak apa-apa," katanya lalu memakan suapan terakhir. "Setelah ini mau ke mana?"

"Nail salon?"

"Oke."

Lalu mereka pergi menuju nail salon dan berkeliling lagi. Setelah keduanya merasa sudah lelah, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Dan sepertinya, Doyoon harus mempertimbangkan perjodohannya dengan Seungcheol. Mungkin ia harus merelakan Seungcheol bersama Jeonghan. Ia harus membicarakan hal itu dengan Seungcheol secepatnya.

.

Masih di hari yang sama, Minseo berlari kecil ke arah Wonwoo ketika melihatnya keluar dari lobi apartemen. Lalu ia memeluk Wonwoo. "Eonni!"

"Halo sayang," kata Wonwoo. Ia tersenyum sambil mengelus kepala Minseo.

"Ayo, Mingyu-oppa sudah menunggu," ujar Minseo dengan semangat berlebih sambil menarik Wonwoo ke mobil.

Wonwoo mengerutkan dahinya. Tapi ia tak berkata apa-apa dan mengikuti Minseo.

Setelah sampai di tempat yang dituju, Mingyu mendekati Wonwoo dan berjalan di samping gadis itu.

"Aku kira hanya Minseo dan aku."

"Tidak hanya Minseo, aku juga mau jalan-jalan dengan Wonwoo-noona," kata Mingyu dengan nada manja yang dibuat-buat sambil tersenyum dan memeluk tangan Wonwoo.

"Jangan pegang-pegang!" seru Wonwoo pelan sambil mencubit pinggang Mingyu.

Mingyu meringis lalu merangkul gadis itu dan berbisik, "Kau mau ketahuan Minseo kalau kita tidak pacaran?"

Wonwoo memutar bola matanya malas.

"Anak pintar," kata Mingyu sambil tersenyum senang dan mengacak rambut Wonwoo.

Wonwoo menepis tangan Mingyu dan menarik Minseo untuk berjalan lebih cepat.

Mingyu hanya tersenyum melihatnya.

Kemudian adik Kim Mingyu itu mengajak Wonwoo memasuki toko-toko baju, toko aksesoris, lalu ke game center. Lalu Minseo meminta Wonwoo untuk foto bertiga di photobox. Awalnya Wonwoo menolak, lalu ia teringat perannya sebagai 'pacar' Mingyu dan akhirnya ia mengiyakan. Minseo tersenyum senang. Hari itu Minseo senang sekali bisa jalan-jalan dengan Wonwoo. Tak terasa hari mulai gelap dan akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.

.

"Joshuji, Chan, annyeong!" sapa Jeonghan ketika melihat Jisoo dan Chan sedang berada di kantin.

"Annyeong noona," balas Chan.

"Annyeong," balas Jisoo.

"Boleh bergabung?" tanya Jeonghan.

Jisoo dan Chan mengangguk.

"Titip tas ya, aku beli makan dulu," kata Jeonghan. Ia mengambil dompet dari tasnya lalu meninggalkan Chan dan Jisoo.

"Kau kenal dengan Jeonghan-noona, hyung?" tanya Chan.

"Oh, jadi namanya Jeonghan," ujar Jisoo sambil mengangguk paham.

"Dia tidak memberi tahukan namanya padamu?"

"Cheonsa."

Chan geleng-geleng kepala. "Jeonghan-noona memang seperti itu, harap maklum."

Jisoo tertawa. "Ngomong-ngomong, dia terkenal ya?"

"Kau tidak tahu Jeonghan-noona?" tanya Chan tidak percaya.

Jisoo menggeleng.

"Dia itu tukang gonta-ganti pacar. Dia jadi sering digosipkan karena hal itu." Chan yang melihat Jeonghan mendekati mereka melanjutkan, "Jeonghan-noona kembali, nanti saja dilanjutkan hyung."

"Sedang membicarakanku ya?" tanya Jeonghan lalu duduk di sebelah Chan.

"Tidak kok noona."

"Makan ya," kata Jeonghan.

"Ya," balas Chan. Sementara Jisoo hanya mengangguk.

"Setelah ini Jisoo mau kemana?"

"Aku masih ada urusan," jawab Jisoo sambil tersenyum.

Jeonghan mengangguk. "Kalau Chan-ie?"

"Masih ada kelas noona."

Jeonghan mengangguk paham. "Jisoo kok bisa kenal dengan Chan?"

"Dulu satu organisasi, lalu kami jadi akrab," jawab Jisoo. "Kalau kau, kok bisa tahu Chan?"

Jeonghan tersenyum penuh arti. "Chan nugu aegi?"

Chan menatap Jeonghan dengan pandangan memohon. "Noona, jebal."

"Chan nugu aegi?" ulang Jeonghan.

"Jeonghan-noona aegi," jawab Chan dengan suara pelan dan ekspresi tidak suka.

Jeonghan tersenyum senang lalu mengacak rambut Chan. "Dulu kami tetangga."

Jisoo tersenyum melihat Jeonghan dan Chan yang tampak manis di matanya.

Lalu setelah Jeonghan menyelesaikan makan siangnya, Chan pamit masuk kelas sementara Jisoo mengantar Jeonghan sampai ke pintu gerbang kampus.

"Maaf tidak bisa mengantarmu pulang," kata Jisoo setelah sampai di pintu gerbang.

Jeonghan tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri, lagipula masih siang."

"Sampai jumpa kalau begitu."

"Sampai jumpa," balas Jeonghan.

Lalu keduanya pergi ke arah yang berlawanan.

.

Wonwoo yang sedang memiliki waktu luang memutuskan untuk pergi ke toko buku. Ketika sedang melihat-lihat buku, matanya menangkap sosok yang ia kenal sedang membereskan buku di rak. Wonwoo tersenyum jahil dan berjalan mengendap-endap, ia berhenti di belakang lelaki itu lalu menutup mata lelaki itu dengan tangan.

Lelaki itu meraba-raba tangan yang menutupi matanya. "Noona?"

Wonwoo tersenyum dan melepas tangannya. "Kok tahu sih?"

Lelaki dengan nama Jeon Bohyuk itu membalikkan badannya dan tersenyum. "Tahu dong," katanya sambil mengacak rambut Wonwoo. "Lihat-lihat dulu sana. Nanti aku hubungi kalau shiftku sudah selesai."

"Oke," ujar Wonwoo lalu beranjak untuk melihat buku-buku yang lain.

Dari kejauhan Mingyu yang kebetulan sedang menemani Minseo melihat semuanya. Mingyu kesal, siapa sih lelaki itu. Berani sekali mengacak-acak rambut Wonwoo, mana Wonwoo tersenyum bahagia dan tidak menolak. Coba kalau sama Mingyu, Mingyu pasti sudah dipukul atau dicubit. 'Kan Mingyu juga mau diperlakukan manis dan lembut oleh Wonwoo.

"Oppa?" panggil Minseo sambil menarik baju Mingyu. "Kau kenapa?" tanya Minseo khawatir karena Mingyu menggertakkan gigi dan mengepalkan tangannya.

"Oh, tidak apa-apa. Sudah selesai?"

"Sudah sih, tapi aku masih mau lihat-lihat."

"Oke." Mingyu mengangguk dan mengikuti Minseo. Lalu setelah Minseo selesai melihat-lihat dan sedang mengantri untuk membayar belanjaannya, Mingyu melihat Bohyuk menghampiri Wonwoo yang sedang menunggu di depan toko buku. Wonwoo tersenyum ketika melihat Bohyuk mendekatinya lalu menggamit tangannya. Mingyu melongo. Dalam hati ia menangis dan ingin menyerah untuk mendekati Wonwoo. Jadi Wonwoo sudah punya pacar, ia tersenyum miris. Lalu Mingyu teringat sesuatu, Wonwoo pernah bilang kalau dia punya adik, mungkin itu adiknya. Tapi melihat interaksi yang dilakukan Wonwoo, Mingyu jadi ragu. Ia jadi penasaran dan ingin menghubungi Soonyoung secepatnya untuk bertanya.

.

Malam itu, Jeonghan yang sedang bosan memutuskan untuk pergi ke klub malam sekaligus menemui Minghao—salah satu bartender yang mengetahui informasi apa pun—untuk menggali informasi tentang Seungcheol dan Doyoon, karena sebenarnya ia tidak percaya ketika Doyoon berkata tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Seungcheol.

"Hao," sapa Jeonghan sambil tersenyum lalu ia mendudukkan dirinya di kursi bar.

"Annyeong noona, pesan yang biasa?"

Jeonghan mengangguk.

Minghao membuat pesanan Jeonghan sambil sedikit bermain atraksi dengan melempar botol rum dan cobbler shaker—membuat pelanggan di dekat Jeonghan terkagum-kagum akan aksinya. Lalu ia menyodorkan segelas Mojito kepada Jeonghan ketika minuman itu selesai dibuat. "Silakan."

"Terima kasih," kata Jeonghan sambil tersenyum.

"Jadi, apa yang mau kau tanyakan, noona?" tanya Minghao sambil mengelap gelas-gelas yang baru saja dicuci.

"Kau kenal Doyoon? Perempuan yang pernah menjadi DJ di sini?"

Minghao mengangguk. "Ya, aku kenal."

"Dan kau pasti kenal Seungcheol."

"Hanya sekadar tahu, aku tidak pernah berbicara dengannya."

"Jadi, apakah mereka memiliki hubungan khusus?"

Minghao menghela napas. "Ini akan menyakitkan noona. Yakin mau mendengarnya?"

Jeonghan terdiam sejenak lalu mengangguk.

"Seungcheol-hyung dijodohkan dengan Doyoon-noona."

Jeonghan mengepalkan kedua tangannya. "Cukup. Tolong jangan dilanjutkan."

Minghao menurut dan melanjutkan pekerjaannya.

"Sejak kapan?" tanya Jeonghan akhirnya.

"Saat ia bertemu denganmu."

Tangan Jeonghan yang semula ada di meja bar merosot turun ke pangkuannya. "Begitu…" ujar Jeonghan dengan senyum miris.

Minghao menatap Jeonghan dengan pandangan prihatin.

Jeonghan menghabiskan minumannya yang tersisa kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada Minghao. "Terima kasih atas informasinya Hao."

"Sama-sama noona." Minghao tersenyum. "Kau baik-baik saja? Mau aku antar?"

Jeonghan memaksakan seulas senyum. "Tidak perlu. Aku baik-baik saja," katanya lalu meninggalkan klub malam dengan langkah gontai.

.

TBC

.

Selasa besok bakal update Special White Day, terus gak tau bakal update kapan lagi. White Day dengan berat hati gak ada Meanie lagi ya, mohon bersabar :')

Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)