Seventeen belong to God, Pledis and their parents
Fall For You © Bianca Jewelry
Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)
Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)
Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)
Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)
Yao Mingming X Wen Junhui
Rating: M for safe
Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.
.
Note: White Day Special! Cuma ada Soonhoon, Mingry, Docheol, dan Jeongcheol. Boleh diskip bagi yang mencari asupan Meanie (tapi baca author's note yang ada di bawah ya! Saya butuh komentar kalian), dan happy reading bagi yang masih mau meluangkan waktu untuk baca ini!
.
Waktu menunjukkan pukul setengah sebelas. Setelah konsultasi dengan dosennya selesai, Seungcheol melajukan motornya ke kediaman keluarga Jang untuk memberikan sesuatu kepada Doyoon. Setelah memarkirkan motornya di depan rumah Doyoon, Seungcheol menekan bel dan memasuki rumah itu setelah pagar terbuka.
"Annyeong, ahjumma," sapa Seungcheol sambil tersenyum.
"Annyeong, Seungcheol-ie. Ayo masuk," ajak Nyonya Jang.
Lalu Seungcheol mengikuti Nyonya Jang ke dalam rumahnya.
"Doyoon ada?" tanya Seungcheol setelah duduk di sofa.
"Doyoon ada di kantor."
"Begitu," ucap Seungcheol sambil mengangguk paham. "Ini, aku ada bingkisan untuk ahjumma," lanjutnya sambil menyodorkan tas kertas kepada Nyonya Jang.
"Terima kasih," kata Nyonya Jang sambil tersenyum. "Mau minum apa nak?"
"Tidak perlu repot-repot," ujar Seungcheol sambil tersenyum. "Oh ya ahjumma, boleh minta alamat kantor Doyoon?"
"Sebentar ya," kata Nyonya Jang lalu meninggalkan Seungcheol dan kembali dengan kertas kecil berisi alamat kantor Doyoon dan secangkir air mineral.
"Terima kasih ahjumma. Maaf merepotkanmu," kata Seungcheol lalu meminum air yang sudah disuguhkan Nyonya Jang.
Nyonya Jang tersenyum. "Tidak merepotkan kok."
"Kalau begitu aku permisi dulu," kata Seungcheol kemudian bangkit berdiri.
"Hati-hati, terima kasih ya bingkisannya," ujar Nyonya Jang dan mengantar kepulangan Seungcheol.
.
"Permisi, Doyoon ada?" tanya Seungcheol kepada resepsionis ketika ia sampai di kantor Doyoon.
"Dari perusahaan apa?" balas sang resepsionis sambil tersenyum ramah.
"Aku temannya. Choi Seungcheol."
"Sebentar ya, saya panggilkan," kata resepsionis itu dan hendak menghubungi Doyoon.
"Ah tidak perlu dipanggilkan, kalau ada orangnya tolong berikan ini padanya," ujar Seungcheol buru-buru sebelum resepsionis itu menghubungi Doyoon dan memberikan tas kertas yang dibawanya.
"Baik, akan saya sampaikan," kata resepsionis itu masih dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih." Seungcheol tersenyum lalu meninggalkan kantor Doyoon.
.
"Masuk," kata Doyoon saat mendengar pintu ruangannya diketuk.
"Permisi Nona, ada bingkisan untuk Anda," kata sekretaris Doyoon setelah sampai di depan meja kerja gadis itu. Ia menyodorkan satu tas kertas dengan senyum penuh arti.
"Dari?" tanya Doyoon dengan raut wajah bingung.
"Lelaki tampan. Tuan Choi, pacarmu ya Nona?" goda sekretaris Doyoon.
Doyoon tersipu sambil mengambil tas kertas itu. Ketika ia ingin membuka tas kertas itu, sekretaris Doyoon belum juga meninggalkan ruangan Doyoon. Doyoon berdeham, "Kenapa masih di sini?"
Perempuan itu hanya terkekeh. "Maaf Nona, permisi," katanya lalu meninggalkan ruangan Doyoon.
Doyoon membuka tas kertas itu dan mengeluarkan isinya, sekotak bekal makanan cepat saji dan satu kotak lain yang terbungkus kertas kado berwarna merah muda serta sebuah kartu ucapan.
"Maaf hanya memberimu makanan cepat saji. Tapi jangan lupa makan ya."
Doyoon memutar kursinya dan menutup mulutnya yang tersenyum lebar. Lalu ia berdeham dan memasukkan kotak bekal dan kotak kecil lain ke dalam tas kertasnya. Kemudian Doyoon melanjutkan pekerjaannya sambil tersenyum bahagia.
.
Jihoon jengkel setengah mati, sejak hari Sabtu, Soonyoung susah sekali dihubungi. Soonyoung yang biasanya datang ke apartemen Jihoon pada hari Minggu bahkan tidak datang hari itu. Jihoon tahu kalau pacarnya itu kadang-kadang sibuk karena mengurus organisasinya, tapi biasanya dia akan menghubungi Jihoon, minimal mengirim pesan singkat. Tapi kali ini, telepon saja tidak diangkat lalu lelaki bermarga Kwon itu tiba-tiba muncul di depan pintu apartemen Jihoon dengan wajah tidak berdosa pada hari Selasa.
"Hai cantik, kenapa cemberut begitu?" tanya Soonyoung sambil cengar-cengir.
Jihoon hanya memelototi Soonyoung dan pergi ke ruang tamu, meninggalkan Soonyoung di pintu depan. Lalu Soonyoung mengikutinya.
"Jihoon-ie," panggil Soonyoung saat ia duduk di sebelah Jihoon.
Jihoon yang sejak tadi pura-pura sibuk memainkan ponselnya menggeser duduknya menjauhi Soonyoung.
"Sayang," kata Soonyoung dan ikut menggeser duduknya. Jihoon menjauh lagi.
"Lee Jihoon."
Jihoon tidak dapat menggeser duduknya lagi karena sudah sampai pada ujung sofa. Ia berdiri dan hendak pergi ke kamarnya, namun tangannya ditarik oleh Soonyoung sehingga ia terduduk lagi di sofa. Lalu Soonyoung mengapit Jihoon di antara dirinya dan pegangan sofa.
Jihoon menatap Soonyoung tajam—kontras dengan pipinya yang memerah—dan mundur perlahan ketika lelaki itu semakin mendekatkan tubuhnya.
"Cepat ganti bajumu dan ikut aku sekarang," kata Soonyoung. Ia menahan kepala Jihoon lalu mengecup bibir gadis itu sekilas kemudian menjauhkan badannya.
Jihoon mengambil bantal sofa lalu memukul Soonyoung. Kemudian ia beranjak ke kamar untuk mengganti bajunya. Soonyoung hanya tersenyum geli melihat pacarnya yang sedang marah.
Setelah mengganti pakaian, Soonyoung mengajak Jihoon ke daerah Café Street untuk membelikannya es krim agar mood gadis itu membaik dan mau berbicara kepada Soonyoung lagi. Lalu, Soonyoung membawa Jihoon ke klub jazz saat hari sudah sore untuk makan malam.
"Masih tidak mau bicara denganku?" tanya Soonyoung setelah pesanan mereka tersaji di meja.
"Kenapa harus? Kau juga tidak mau berbicara denganku sejak kemarin. Ditelepon tidak diangkat, chat juga tidak dibalas," gerutu Jihoon.
"Maaf."
"Maaf, maaf. Bisanya cuma minta maaf."
"Apalagi yang bisa kulakukan selain minta maaf?"
Jihoon mendengus dan memakan makanannya dengan lahap. Soonyoung tidak lagi mengajak Jihoon berbicara dan mereka makan tanpa percakapan, hanya ditemani alunan musik jazz yang memenuhi ruangan dan suara para pengunjung lain. Setelah selesai makan, Soonyoung meninggalkan Jihoon dan maju ke panggung.
"Selamat malam para pengunjung sekalian, malam ini aku akan menyanyikan satu lagu untuk pacarku. Untuk Jihoon-ie, Happy White Day. Jangan marah lagi, aku mencintaimu," ucap Soonyoung kemudian mulai menyanyikan lagu dengan judul White Day milik salah satu boyband yang sudah diaransemen.
Jihoon masih marah, namun ia tidak dapat menahan senyumnya ketika Soonyoung menyanyikan lagu itu sambil menatapnya intens. Setelah selesai bernyanyi, para pengunjung bertepuk tangan dan menyoraki Soonyoung. Soonyoung hanya cengar-cengir lalu kembali ke tempat duduknya.
"Masih marah?" tanya Soonyoung.
"Sedikit."
"Apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah lagi?"
"Jangan mendiamkanku lagi. Kalau kau masih menganggapku sebagai pacarmu jangan abaikan aku."
Soonyoung terkekeh. "Sejujurnya aku juga tidak tahan untuk mendiamkanmu. Aku hanya balas dendam karena Valentine bulan lalu."
Jihoon mendengus. "Ya tidak usah sampai menghilang begitu Soon."
"Surprise Ji," kata Soonyoung sambil tersenyum.
Jihoon akhirnya tersenyum juga.
"Happy White Day," ucap Soonyoung dan mengecup dahi Jihoon. Lalu Soonyoung mengajak Jihoon untuk pulang.
"Lalu kemarin apa saja yang kau lakukan?" tanya Jihoon saat berada di parkiran.
"Hm?" gumam Soonyoung sambil memberikan helm pada Jihoon. "Main sama Seokmin dan mengurus klub.
Jihoon mendengus dan menekuk wajahnya lagi.
Soonyoung bingung kenapa Jihoon jadi cemberut lagi. "Ada yang salah dengan kata-kataku?"
Jihoon lupa kalau Kwon Soonyoung itu perpaduan antara bodoh dan tidak peka. "Kau pacaran dengan Seokmin saja sana," kata Jihoon sambil meletakkan helm pada jok motor Soonyoung. Jihoon itu paling tidak suka kalau Soonyoung dekat-dekat dengan Seokmin. "Aku pulang sendiri," lanjutnya lalu meninggalkan Soonyoung.
Soonyoung yang sudah memakai helm melepasnya dan mengejar Jihoon. "Ji!" serunya sambil mencekal pergelangan tangan Jihoon. "Kok marah lagi?"
Jihoon heran, kapan sih pacarnya ini peka. "Aku tidak marah," katanya pelan. Cuma cemburu, lanjutnya dalam hati.
"Maafkan aku. Aku janji akan mengurangi waktu bermainku dengan Seokmin," kata Soonyoung. "Ayo pulang, sudah malam," lanjutnya lalu menarik Jihoon menuju motornya.
Jihoon tersenyum tipis, ternyata pacarnya peka juga. "Maaf Soon," kata Jihoon setelah duduk di atas motor Soonyoung.
"Kenapa minta maaf?" tanya Soonyoung bingung.
"Aku rasa aku sudah bersikap kekanak-kanakan dengan marah-marah tidak jelas."
Soonyoung terkekeh. "Tidak apa-apa. Itu artinya kau sayang padaku."
"Siapa bilang? Aku membencimu," kata Jihoon. Beruntung wajahnya tertutup helm dan ia ada di belakang Soonyoung karena Jihoon yakin pipinya memerah sekarang.
Soonyoung hanya tertawa dan melajukan motornya menuju apartemen Jihoon. Dan sepanjang perjalanan pulang, Jihoon memeluk Soonyoung dengan erat.
.
Jun mencuci tangannya di wastafel setelah kegiatannya membersihkan meja makan bekas makan malamnya dengan Mingming selesai. White Day, Jun hanya mengajak Mingming untuk makan malam masakan buatannya di apartemen Jun. Setelah selesai mencuci tangan, Jun memeluk Mingming yang sedang mencuci piring dari belakang.
"Ge?" panggil Mingming dan tetap melanjutkan kegiatan cuci piringnya.
Jun tidak menjawab.
"Jun-ge?" panggil Mingming lagi.
Jun masih diam.
"Junhui."
Sedikit tersentak karena dipanggil dengan nama, akhirnya Jun menyahut, "Hm?"
"Kau melamun," kata Mingming. Ia mencuci tangannya lalu melepas tangan Jun yang melingkar dipinggangnya dan berbalik. "Ada apa?" tanya Mingming sambil mengusap pipi yang lebih tua dengan ibu jari.
Jun memejamkan matanya dan menggeleng.
"Bohong," kata Mingming sambil menarik kedua pipi Jun.
Jun merengut dan memegangi tangan Mingming.
Mingming tersenyum lalu menggendong Jun ala bridal style dan membawanya ke kamar.
Jun memekik kemudian mengalungkan tangannya pada leher Mingming.
Setelah sampai di kamar, Mingming membaringkan Jun di tempat tidur lalu ia juga merebahkan dirinya di sebelah Jun. Mingming memiringkan badannya dan menyangga kepalanya dengan tangan. "Jadi, pria cantikku ini kenapa?"
Jun memiringkan badannya dan menatap Mingming. "Aku tidak cantik."
"Kalau begitu kau manis."
Jun hanya diam dan tidak membalas Mingming, membuat Mingming heran karena biasanya Jun akan merengut atau memukulinya karena dibilang manis atau cantik.
"Kenapa sayang?" tanya Mingming sambil mengelus kepala Jun.
"Kemarin ke mana?"
"Kerja tugas 'kan."
"Sendirian saja?"
"Dengan temanku, memangnya kenapa?"
Jun menggeleng lalu memunggungi Mingming dan menarik selimut. "Aku mau tidur."
Mingming terkekeh lalu mencium leher Jun. "Cemburu ya?"
Jun reflek membalikkan badannya karena terkejut dan memukul Mingming dengan bantal lalu membalikkan tubuhnya lagi.
Mingming tertawa. "Sini lihat aku," katanya sambil menarik Jun untuk berbalik.
"Malas," ucap Jun sambil menutup telinganya dengan kedua tangan.
"Gege sayang." Mingming menarik tangan Jun.
"Tidak mau."
"Junhui." Mingming mengecup tangan Jun.
Jun menyerah dan membalik tubuhnya. Ia menatap Mingming.
"Kemarin apa yang kau lihat?" tanya Mingming sambil memainkan rambut Jun.
"Kalian kerja tugas, terus bercanda lalu dia menempel padamu."
"Namanya—"
"Aku tidak peduli."
Mingming tersenyum geli. "Jangan marah dong. Jangan merusak suasana."
"Aku tidak marah."
"Tapi kau cemburu."
Jun diam. Ia beringsut mendekati Mingming dan memeluk pemuda itu.
"Kenapa sih?" tanya Mingming sambil mengelus kepala Jun.
Jun menggeleng.
"Cerita dong, apa yang mengganggumu. Mana aku tahu kalau kau tidak cerita."
"Aku takut," kata Jun akhirnya, setelah diam yang cukup lama.
"Takut kenapa?" tanya Mingming masih mengelus kepala Jun.
"Takut… Seandainya besok aku tidak bisa melihatmu lagi. Takut jika kau akan menikah dengan gadis pilihan ibumu. Takut—"
"Sstt," kata Mingming sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Jun lalu mengecup bibir itu dengan lembut. "Aku di sini, oke? Aku tidak akan kemana-mana."
Mata Jun berkaca-kaca, lalu ia memeluk Mingming lebih erat.
"Happy White Day," kata Mingming, lalu ia mengecup puncak kepala Jun. "Aku mencintaimu."
.
Jeonghan yang sedang duduk di kursi bar dan menunggu Seungcheol datang sedikit terkejut ketika seseorang merangkulnya. Ia reflek menolehkan wajahnya untuk melihat orang itu. Choi Seungcheol.
"Kaget?" tanya Seungcheol sambil tertawa.
Jeonghan hanya tersenyum.
"Sudah lama?" tanya Seungcheol lalu memesan vodka kepada bartender.
"Lima belas menit yang lalu."
Setelah Seungcheol menghabiskan minumannya, Jeonghan mengajak Seungcheol ke lantai dansa.
"Ngomong-ngomong, kenapa malah mengajakku ke sini? Aku kira wanita suka tempat yang romantis."
"Lalu membiarkanmu mengucapkan rayuan gombal kepadaku lagi?" tanya Jeonghan. Ia mendengus. "Aku bosan mendengarnya."
Seungcheol terkekeh. Lalu ia menempelkan dahinya pada dahi Jeonghan dan meletakkan tangannya pada pinggang gadis itu. "Terima kasih, sudah menjadi hadiah White Dayku."
Jeonghan tersenyum lalu memeluk Seungcheol. "Sama-sama."
.
TBC
.
Boleh minta tolong pada para Meanie shipper? Kalian mau baca adegan apa lagi? Karena sejujurnya draft saya mayoritas isinya 95line :'D open request adegan untuk Meanie dan yang lain juga kalau ada.
Terima kasih sudah meninggalkan jejak, berminat untuk meninggalkan jejak lagi? :)
