Seventeen belong to God, Pledis and their parents

Fall For You © Bianca Jewelry

Kim Mingyu X Jeon Wonwoo (GS)

Hong Jisoo X Yoon Jeonghan (GS)

Choi Seungcheol X Jang Doyoon (GS)

Kwon Soonyoung X Lee Jihoon (GS)

Yao Mingming X Wen Junhui

Rating: M for safe

Warning: GS. Boys Love. AU. OOC.

.

Note: Rated M for nightlife, mention of light rape, and alcohol. Lelaki kardus bertebaran, siapkan foto bias dan asupan gula berlebih untuk mengurangi iritasi hati setelah membaca ini.

.

"Do, sini," panggil Jeonghan yang sedang bersandar pada kepala ranjang ketika Doyoon sedang duduk di depan meja rias untuk memakai masker. Jeonghan bahkan sudah menutup tubuhnya dengan bed cover.

Doyoon mendekati Jeonghan lalu memberikan sebungkus masker baru kepada gadis itu. "Ada apa?"

"Ini, tampan tidak?" tanya Jeonghan. "Sebentar," lanjutnya sambil mengscroll layar ponselnya untuk mencari foto orang yang dimaksud.

"Cepat sekali sudah dapat pengganti," komentar Doyoon sambil melirik layar ponsel Jeonghan.

Jeonghan hanya cengar-cengir dan tetap mengscroll layar ponselnya.

"Nih, bagaimana?" tanya Jeonghan sambil menunjukkan ponselnya kepada Doyoon. "Gentleman loh!"

"Josh?" Jeda sebentar. "Joshua Hong bukan sih?"

"Kau kenal?" tanya Jeonghan dengan mata membulat.

Doyoon mengangguk. "Teman waktu SD dan SMP. Rumahnya juga tidak jauh dari rumahku waktu di Amerika."

"Wow, dunia ini sempit ya," ujar Jeonghan sambil membuka bungkus masker dan menempelkannya pada wajahnya. "Terus terus, Jisoo itu orangnya seperti apa?" tanyanya dengan nada antusias.

"Baik, pemalu. Apa lagi ya?" kata Doyoon sambil meyamankan dirinya di sebelah Jeonghan.

Jeonghan mengangguk paham. "Pantas."

"Pantas kenapa?"

"Dia tak juga menghubungiku ketika aku menyuruhnya. Aku jadi kesal menunggunya, akhirnya aku yang chat dia duluan." Jeonghan curhat dengan nada merajuk.

Doyoon tertawa kecil menanggapi curhatan gadis di sebelahnya. "Agresif sekali sih. Ingat masih punya pacar," ujar Doyoon sambil menyentil dahi Jeonghan.

Jeonghan mendengus. "Sebentar lagi juga jadi mantan," katanya sambil memeluk lengan Doyoon dan menyandarkan kepalanya pada bahu Doyoon. "Maaf."

"Sudah jangan dibahas lagi. Bukan salahmu," kata Doyoon sambil tersenyum.

Jeonghan ikut tersenyum. "Foto yuk!" ajak Jeonghan lalu membuka aplikasi kameranya. Kemudian keduanya mengambil beberapa foto dan Jeonghan menguploadnya ke akun media sosialnya dengan caption yang menyindir Seungcheol dan lebih mementingkan pertemanan dalam bahasa Inggris—tentu saja diterjemahkan oleh Doyoon.

"Sudah ngantuk?" tanya Doyoon.

Jeonghan menggeleng. "Ada tontonan tidak?"

Doyoon mengambil laptop lalu menyalakannya. Kemudian mereka menonton beberapa episode drama yang sedang booming.

.

Wonwoo membuka matanya perlahan dan mengerjap beberapa kali untuk membiasakan cahaya yang masuk. Wonwoo yang merasa terganggu dengan kertas yang sedikit menghalangi pandangannya, mengambil kertas itu.

"Maaf, aku pulang duluan Tuan Putri. Jangan rindu padaku ya. Semalam aku buatkan makanan untukmu, ada di kulkas. Dihangatkan saja. Semoga harimu menyenangkan!"

Wonwoo mendengus lalu meremas sticky notes itu menjadi gumpalan. "Siapa yang sudi rindu padamu," katanya lalu beranjak dari tempat tidur kemudian membuang sticky notes itu lalu pergi ke dapur dan menghangatkan masakan buatan Mingyu. Kemudian gadis bermarga Jeon itu bersiap-siap dan menunggu Bohyuk untuk menjemputnya. Setelah itu mereka pergi ke Sungai Han untuk olahraga pagi.

"Noona," sapa seorang lelaki dengan surai abu-abu. "Ketemu lagi. Kita jodoh ya sepertinya." Lalu lelaki dengan nama Kim Mingyu itu menatap Wonwoo dan Bohyuk bergantian.

Wonwoo sedikit terkejut ketika dipanggil. Ia menoleh dan menemukan Mingyu berdiri di dekatnya. Wonwoo memutar bola mata malas dan mengabaikannya.

"Sombong sekali sih."

"Pulang saja yuk," ajak Wonwoo sambil menarik tangan Bohyuk.

"Eh, tunggu, tunggu. Masa jam segini sudah mau pulang." Mingyu menahan Wonwoo. "Hari masih cerah untuk berolahraga."

"Apa maumu?"

"Aku mau mengajaknya tanding basket," kata Mingyu sambil menunjuk Bohyuk dengan dagunya.

Wonwoo menatap Bohyuk untuk mendengar jawabannya.

"Boleh," kata Bohyuk.

Lalu mereka bertiga berjalan menuju lapangan basket. Wonwoo menunggu Bohyuk dan Mingyu di dekat lapangan itu. Bohyuk sempat mengacak surai Wonwoo sebelum ia meninggalkan Wonwoo—membuat gadis itu menggerutu. Tindakan yang disengaja karena ia menangkap tatapan tidak suka dari Mingyu saat Wonwoo menarik tangan Bohyuk. Dan saat melakukannya ia tersenyum puas sambil melirik lelaki bermarga Kim itu.

"Apa peraturannya?" tanya Bohyuk setelah berhadapan dengan Mingyu.

Mingyu menyeringai. "Satu bola masuk untuk satu pertanyaan."

Bohyuk mendengus. "Tinggal tanya langsung apa susahnya."

"Tidak akan seru jika aku bertanya langsung 'kan. Siap?"

Bohyuk mengangguk.

Mingyu mulai mendribble bola berwarna oranye itu dan menggiringnya ke dalam ring namun berhasil direbut oleh Bohyuk. Bola direbut kembali oleh Mingyu dan pemuda itu berhasil memasukkannya ke dalam ring. "Apa hubunganmu dengan Wonwoo-noona?"

Bohyuk berhadapan dengan Mingyu sambil mendribble bola. "Memang kenapa? Kau suka padanya?"

"Pertanyaan tidak boleh dibalas dengan pertanyaan."

"Kenapa tanya padaku? Kau tidak tanya kepada Wonwoo karena takut mendengar jawabannya?" Bohyuk sengaja memanggil Wonwoo tanpa embel-embel noona agar Mingyu semakin panas.

Mingyu mendengus kesal. "Sudah kubilang pertanyaan tidak boleh dibalas dengan pertanyaan. Tinggal jawab saja apa susahnya."

Bohyuk terkekeh. "Santai dong. Jawabanku aku tidak mau memberitahumu," katanya sambil mendribble bola dan mencoba memasukkanya ke dalam ring. Bola berhasil masuk lalu Bohyuk bertanya. "Kau suka pada Wonwoo?"

Mingyu mengangguk. "Ya, aku suka padanya," jawab Mingyu dan memasukkan bola ke dalam ring. "Sejak kapan kau mengenalnya?"

"Sejak kecil," jawab Bohyuk lalu mendribble bola ke dalam ring. Tapi bola berhasil direbut Mingyu dan ia memasukkanya ke dalam ring lagi.

Mingyu menautkan kedua alisnya. "Kau adiknya Wonwoo-noona?"

"Tanya sendiri kepada Wonwoo."

Mingyu berdecak kesal sementara Bohyuk menyeringai melihat ekspresi Mingyu. Gantian Bohyuk yang mendribble bola lalu ia melakukan lay up dan memasukkan bola ke dalam ring.

"Aku bingung mau bertanya apa," ujar Bohyuk sambil bersedekap lalu ia tersenyum. "Bagaimana jika kau kuberi saran?"

Mingyu menaikkan sebelah alisnya dan menunggu Bohyuk berbicara.

"Wonwoo bilang kau itu berisik dan menyebalkan. Bagaimana jika kau menjauh saja?" kata Bohyuk sambil tersenyum sinis. Sebenarnya Wonwoo tidak pernah bercerita apa-apa tentang Mingyu, ia hanya asal bicara sekalian mengetes Mingyu. Jika Mingyu benar-benar menyukai Wonwoo, ia tidak akan menyerah begitu saja 'kan. "Sampai jumpa," lanjutnya. Ia meninggalkan Mingyu dan menghampiri Wonwoo. Mingyu memantulkan bola basket keras-keras dengan perasaan kesal lalu menangkap bola itu dan melakukan dunk.

.

Keesokan harinya, Mingyu meminta Soonyoung untuk menunggunya di kantin.

"Hyung."

Soonyoung menoleh ke arah suara. "Apa yang mau kau tanyakan Gyu?"

"Wonwoo-noona sudah punya pacar?" tanya Mingyu setelah duduk di hadapan Soonyoung.

Soonyoung mengerutkan keningnya. "Pacar? Memang orangnya seperti apa?"

"Kerja di toko buku sepertinya. Itu pacar atau adiknya?"

"Kenapa tidak tanya orangnya langsung?" tanya Jihoon yang duduk di sebelah Soonyoung. "Kau takut mendengar jawabannya?"

Mingyu hanya terdiam mendengar penuturan Jihoon. "Kau benar noona, sebaiknya aku bertanya sendiri."

Jihoon tersenyum.

"Gyu, nanti ke klub malam mau tidak? Refreshing," tanya Soonyoung.

Jihoon melirik Soonyoung. Merasa dilirik, Soonyoung terkekeh. "Bercanda Ji. Aku cuma bertanya."

"Tidak hyung, terima kasih," jawab Mingyu.

"Sudah benar-benar tobat eoh?" tanya Soonyoung.

Mingyu hanya tersenyum. "Aku pamit dulu hyung, noona. Terima kasih."

Jihoon hanya mengangguk. Sementara Soonyoung berujar, "Hati-hati."

"Kenapa tidak bilang langsung kalau Bohyuk adiknya Wonwoo?" tanya Soonyoung setelah Mingyu pergi.

"Biar seru saja," jawab Jihoon sambil terkekeh. "Biar lebih berusaha sedikit."

"Ah, benar juga. Jadi bagaimana? Merestui Mingyu dengan Wonwoo?"

"Mungkin. Asal Mingyu benar-benar tobat aku merestuinya."

Setelah bertanya kepada Soonyoung di kantin, Mingyu memutuskan untuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan. Ia mencari beberapa buku untuk referensi lalu ia beranjak ke meja yang menjadi tempat favorit Wonwoo untuk mengerjakan tugasnya.

"Kosong?" tanya Mingyu pada seorang gadis yang belakangan ini berstatus sebagai gebetannya—Jeon Wonwoo.

Wonwoo menoleh dan mengernyitkan dahinya. "Tumben bertanya. Biasanya juga langsung duduk."

Mingyu hanya cengar-cengir. "Jadi kosong atau tidak?"

"Kosong. Duduklah."

Kemudian pemuda bermarga Kim itu duduk di sebelah Wonwoo dan mulai mengerjakan tugasnya.

"Oh ya, terima kasih makanannya," kata Wonwoo sambil melirik Mingyu setelah hening yang cukup lama.

Mingyu menoleh dan tersenyum. "Sama-sama."

Wonwoo langsung melihat bukunya lagi ketika melihat Mingyu tersenyum. Ia merutuk dalam hati karena jantungnya jadi berdetak lebih cepat. Lalu Wonwoo sesekali melirik wajah tampan Mingyu yang sedang mengerjakan tugasnya.

"Kemarin ngobrol apa saja dengan Bohyuk?" tanya Wonwoo lagi.

"Pembicaraan lelaki," jawab Mingyu sambil tetap menulis.

Wonwoo memajukan bibir bawahnya mendengar respon dari Mingyu.

"Noona."

"Hm?"

"Aku boleh jadi temanmu tidak?"

Wonwoo mengernyitkan keningnya lagi. "Kau kenapa sih? Aneh sekali hari ini. Sakit?" tanyanya sambil menempelkan tangannya pada dahi Mingyu. "Tidak panas kok," lanjut Wonwoo dengan polosnya.

Mingyu tertegun dan menghentikan kegiatan menulisnya. Bagi Mingyu, Wonwoo yang aneh hari ini, tumben sekali tidak marah-marah dan malah peduli dengan kesehatan Mingyu. "Lupakan saja kata-kataku tadi, noona."

Ada jeda yang cukup panjang sebelum Wonwoo menanggapi, "Ngomong-ngomong. Kau memang temanku 'kan."

Mingyu tersenyum miris. Jadi Wonwoo hanya menganggapnya sebagai teman.

"Aku pergi dulu, ada kelas sebentar lagi," pamit Wonwoo lalu memukul pelan kepala Mingyu dengan buku yang tadi dibacanya.

Mingyu tertegun lagi lalu menolehkan kepalanya dengan dramatis dan menatap Wonwoo yang pergi meninggalkannya dengan pandangan horor. Yang tadi itu, serius Jeon Wonwoo 'kan? batinnya.

.

"Jeon Wonwoo-ssi," panggil seorang perempuan yang berdiri di dekat pintu gerbang Seoul National University ketika melihat gadis berkacamata itu.

Merasa namanya dipanggil, Wonwoo menoleh. "Ya?"

"Apakah kau sibuk?" tanya perempuan itu. Perempuan yang bersama Mingyu tempo hari, Kaeun kalau Wonwoo tidak salah ingat.

Wonwoo menggeleng. "Ada perlu apa denganku?"

Kaeun tersenyum. "Ingin membicarakan sesuatu. Ada rekomendasi tempat yang enak untuk berbicara empat mata?"

Wonwoo mengangguk lalu mengajak Kaeun untuk mampir ke café di dekat kampusnya.

"Sebelumnya perkenalkan, namaku Lee Kaeun. Sepupu Kim Mingyu," kata Kaeun sambil menyodorkan kartu namanya kepada Wonwoo setelah mereka berdua memesan minuman dan mencari tempat duduk.

Wonwoo mengambil kartu nama itu dan membacanya sekilas lalu menatap Kaeun. "Kau Lee Kaeun yang itu?"

"Yang mana?" tanya Kaeun bingung.

"Yang memotret model dengan baju-baju modis itu."

Kaeun tertawa pelan. "Oh iya. Itu aku."

"Aku penggemarmu!" Wonwoo tersenyum lebar. "Jadi apa yang mau Anda bicarakan?"

"Tidak perlu formal begitu. Santai saja Wonwoo-ssi," ujar Kaeun sambil tersenyum. "Aku ingin menjadikanmu modelku."

"Model dari pakaianmu?" tanya Wonwoo dengan mata berbinar.

Kaeun mengangguk. "Dengan Mingyu."

Wonwoo memasang wajah datarnya. "Kenapa harus Mingyu?"

"Karena menurutku hanya kau yang cocok difoto dengan Mingyu."

Wonwoo hanya terdiam lalu mengambil minumannya dan menggigiti sedotannya.

"Aku tidak masalah jika kau menolak. Tapi aku sangat mengharapkan kau bisa menjadi modelku kali ini. Kau akan mendapat pengalaman selain itu fotomu bisa dijadikan portofolio siapa tahu kau berminat untuk menjadi model. Kau tinggi, cantik, dan tubuhmu bagus," rayu Kaeun.

"Kapan?"

"Hari Minggu ini."

"Tidak ada pose yang aneh-aneh 'kan?"

Kaeun menggeleng. "Hanya sedikit skinship, seperti pegangan tangan atau bersandar." Jeda yang cukup lama lalu Kaeun bertanya, "Bagaimana Wonwoo-ssi?"

"Um… Akan kupikirkan," jawab Wonwoo ragu.

Kaeun tersenyum. "Baiklah. Aku menunggu jawaban positif darimu. Hubungi aku ke nomor itu sebelum hari Kamis."

Wonwoo mengangguk lalu keduanya meninggalkan café.

Malam harinya, Wonwoo menelepon Jihoon untuk meminta pendapat.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Wonwoo.

"Ya terima saja kalau kau memang mau," jawab Jihoon.

"Tapi aku harus berfoto dengan Mingyu. Nanti ada pose aneh-aneh lagi, walaupun kata Kaeun-eonni tidak ada pose aneh-aneh."

"Terserah kau Wonwoo sayang."

"Tapi Kaeun itu fotografer favoritku," ujar Wonwoo. Ia sedang dalam mode galau antara menerima penawaran Kaeun atau tidak. "Foto baju yang dihasilkannya selalu bagus."

"Terserah Won! Terserah!" seru Jihoon kesal.

"Kok malah marah sih? 'Kan aku meminta pendapat."

"Habis kau sudah bilang itu berapa kali hah?"

Wonwoo terkekeh pelan. "Iya maaf."

"Begini saja. Bagaimana kalau kau meminta eonni itu untuk foto sendiri? Jadi tidak usah berpasangan dengan Mingyu."

"Begitu ya?"

"Hn."

"Oke, akan kucoba. Tapi bagaimana kalau dia tetap ingin memotretku dengan Mingyu?"

"Sekali lagi kau mengulangnya, kututup teleponnya," ujar Jihoon dengan nada mengancam.

Wonwoo terkekeh.

"Coba dulu. Kalau dia tidak mau ya kembali lagi ke kau. Kau mau apa tidak."

"Baiklah Jihoon-ie. Terima kasih. Jalja."

"Hn. Jalja."

.

Akhirnya Wonwoo menerima tawaran dari Kaeun dengan syarat meminimalkan fotonya dengan Mingyu, bahkan kalau bisa ditiadakan. Tapi sejak awal, tujuan awal Kaeun adalah memotret Wonwoo dengan Mingyu, jadilah ia mengiyakan dengan berkata bahwa fotonya tidak akan lebih dari lima jepretan.

"Sudah siap guys?" tanya Kaeun sambil menyetel kamera DSLRnya.

Wonwoo dan Mingyu mengangguk.

"Wonwoo dulu," kata Kaeun lalu memberikan arahan kepada Wonwoo. Foto itu diambil di atas atap gedung studio Kaeun yang berupa rooftop garden. Kaeun lalu menjepret Wonwoo yang sudah berpose.

"Jangan terlalu tegang, Won. Senyum sedikit," ujar Kaeun. Lalu Kaeun mulai memotret Wonwoo ketika gadis itu sudah memasang senyumnya.

Setelah dirasa cukup, Kaeun akhirnya memotret Mingyu. Tidak ada masalah berarti karena Mingyu sudah biasa menjadi model Kaeun.

"Won," panggil Kaeun. "Foto berdua di kursi itu," lanjutnya sambil tersenyum.

Wonwoo mendekati Mingyu dan menunggu arahan Kaeun.

"Duduk di sebelahnya."

Wonwoo menurut lalu duduk di sebelah Mingyu.

"Wonwoo mau pegangan tangan dengan Mingyu?"

Yang tentu saja dibalas tidak mau dan disertai gelengan kepala oleh Wonwoo. Kaeun tersenyum geli.

"Ya sudah kalau begitu. Tumpukan tangan kalian di kursi dan buat saling bersentuhan."

Wonwoo dan Mingyu menuruti Kaeun. Lalu setelah memberi aba-aba, Kaeun memotretnya. "Mingyu dan Wonwoo bisa duduk saling memunggungi?"

Wonwoo menaikkan kakinya ke kursi dan memeluknya lalu ia melirik ke kamera sementara Mingyu bersandar pada Wonwoo dan kepalanya ia letakkan di bahu Wonwoo sambil memejamkan mata. Kaeun langsung memotret mereka ketika merasa anglenya pas. Wonwoo lalu mendorong Mingyu karena Mingyu tak juga menjauhinya. Tak mempan, Wonwoo akhirnya berdiri hingga Mingyu terjatuh dan kepalanya hampir terantuk kursi—membuat Kaeun dan beberapa asistennya tertawa karena tingkah Wonwoo dan Mingyu.

"Sudah ya eonni?" tanya Wonwoo dengan tatapan memelas.

"Satu pose lagi boleh? Pose bebas."

Wonwoo dengan berat hati menuruti.

Mingyu mendekati Wonwoo lalu menyentuh wajah gadis itu dan menatapnya lekat-lekat. Bagai tersihir, Wonwoo juga menatap lekat mata Mingyu. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Kaeun langsung memotretnya. Wonwoo lalu menepis tangan Mingyu dan Kaeun memotretnya lagi.

"Oke cukup," kata Kaeun, sebelum terjadi pertumpahan darah antara Wonwoo dan Mingyu.

Lalu Kaeun membawa Wonwoo ke studionya sementara para asisten Kaeun mengemasi peralatan Kaeun dan dibantu Mingyu yang sadar diri akan kelakuannya—mungkin setelah ini Wonwoo akan semakin membencinya.

"Ini untukmu," kata Kaeun sambil memberikan dua amplop coklat, yang satu berisi CD dengan hasil jepretan Kaeun dan satunya beberapa lembar uang.

Wonwoo lalu mengembalikan amplop coklat yang berisi uang kepada Kaeun. "Tidak perlu eonni."

Kaeun tersenyum. "Tidak apa-apa. Anggap saja uang jajan dan ucapan terima kasihku. Tabunglah."

"Tidak apa-apa?" tanya Wonwoo ragu.

Kaeun mengangguk dan tersenyum.

Wonwoo membungkukkan badannya. "Kamsahamnida. Bolehkah aku pulang sekarang?"

"Ah, tentu saja. Mau kupanggilkan Mingyu untuk mengantarmu pulang?"

"Tidak perlu, terima kasih eonni. Aku pulang dulu," tolak Wonwoo lalu dengan cepat pergi dari studio itu sebelum bertemu dengan Mingyu lagi.

"Wonwoo-noona mana?" tanya Mingyu setelah selesai membantu para asisten Kaeun.

"Sudah pulang. Nih untukmu," kata Kaeun sambil menyerahkan kotak CD pada Mingyu.

"Boleh lihat previewnya?" tanya Mingyu.

Kaeun memperlihatkan foto-foto yang tadi dijepretnya kepada Mingyu.

"Kau memang yang terbaik noona!" kata Mingyu sambil tersenyum.

"Berterima kasihlah padaku Kim."

Mingyu terkekeh pelan. "Terima kasih noonaku yang paling baik!"

.

FIN

.

Halo! Mingyu ulang tahun lho! *terus* semoga dia cepet khilaf dan memilih satu yang pasti :')

Bagi yang minta orang ketiga diantara Meanie ntar dikasih di season 2. Epilogue akan diupdate seminggu lagi (mungkin). Saya ucapkan beribu terima kasih bagi yang sudah mengikuti fanfik ini dari awal sampai akhir. Bagi yang pernah baca dan berhenti di tengah jalan karena kesel, tidak sreg, atau gimana saya juga ucapkan terima kasih.

Masih berminat untuk meninggalkan jejak lagi untuk chapter terakhir ini? :)