Title : The First

Pair : Min Yoongi, Park Jimin

Disclaimer : The characters belong to their selves, but the story belong to me

.

.

.

Seorang pemuda dengan rambut sekelam malam duduk dihadapan layar computer yang sudah hidup lebih dari enam jam semenjak tengah hari tadi. Ia menoleh saat pintu ruangannya terbuka, saat ia melihat Namjoon masuk ia kembali menatap layar.

"Sudah berapa jam kau duduk disana hyung?"

Yoongi tak menjawab, ia hanya kembali terfokus pada pekerjaannya yang sedikit tertunda karena ia harus melihat seseorang yang memasuki ruang kerjanya. Namjoon duduk disalah satu kursi disana, sang emuda meraih beberapa kertas yang ada diatas meja.

"Ini buruk hyung." Ucapnya singkat, ia meletakkan kembali kertas yang penuh coretan itu.

"Aku tahu." Desah Yoongi sarat dengan rasa sesal. "Topiknya sama sekali tidak cocok denganku."

"Kau seharusnya menggunakan inspirasimu."

"…"

"Lupakan, aku dan yag lain ke apartemen Jimin."

"Lantas?"

"Kau tidak mau tahu tentang Jimin?"

"Untuk apa?"

"Hyung, ayolah, aku sedang membantumu."

"Aku tidak butuh bantuan"

"Kau membutuhkannya, terserah kau menganggapnya bantuan untuk percintaanmu ataupun karirmu dalam bermusik."

"Aku mengambil opsi kedua."

"Terserah, setidaknya kau mengakui kau membutuhkannya."

"…"

"Hoseok menyarankan dia untuk mencari kekasih dengan alasan bodoh untuk menghentikan kebiasaanya yang membiarkan jendela terbuka."

Yoongi memutar kursinya dan kembali menghadap layar. Ia seharusnya tidak tertarik dengan topic yang dibicarakan Namjoon, namun realitanya adalah kebalikan dari yang seharusnya.

"Bukankah kau yang seharunya menjadi kekasih pemuda Park itu?"

Yoongi tertawa kecil, pernyataan bodoh itu menjadi alasannya.

"Pernyataan bodoh macam apa itu?"

"Dia menyukaimu dan kau menyukainya."

"Dia menyukaiku?" Yoongi berkata dengan seringai diwajahnya.

"Hm, semua orang tahu, dan dia tak menyangkalnya."

"Kau tahu Namjoon, beberapa tahun yang lalu mungkin aku itu akan menjadi sedikit menyenangkan namun tidak sekarang."

"Apa maksudmu?"

"Dia tidak menyukaiku sekarang."

"Berikan aku sedikit penjelasan."

"Seperti ini, saat kau sudah jatuh hati pada langit tanpa bintang sekalipun itu dingin dan gelap, akan sulit untuk juga menyukai langit yang sama saat ada bintang tergantung disana."

Namjoon mengurai tawa, ia tidak menyangka jawaban Yoongi akan sangat benar-benar terkait dengan Jimin. Analogi yang mengesankan terlebih saat Yoongi menjadikannya sebagai sebuah penjelasan.

"Aku mengerti sekarang." Ucap Namjoon yang membuat Yoongi mengerlingkan matanya.

"Kenapa aku harus menjelaskannya padamu."

Namjoon hanya mengangkat bahunya tak peduli, ia meraih ponselnya dan terfokus pada benda itu. Dan Yoongi hanya kembali pada pekerjaannya, sedikit berterimakasih kepada sang pemuda jangkung untuk memberikannya inspirasi.

"Kau tahu hyung, aku tak tahu harus menyebut kalian manusia yang terlalu idealis atau manusia kurang akal."

"…"

"Baiklah aku akan menjelaskannya kembali dengan analogi yang sama. Kau yang dulu adalah langit tanpa bintang; dingin, lalu kau berubah seolah ada bintang tergantung dilangit malam. Benar?"

Yoongi mengangguk acuh tak acuh.

"Dan karena hal itu kau dan Jimin mengambil langkah menjauh. Kau berfikir Jimin tak lagi menyukaimu dan Jimin berfikir jika kau bukan kau yang dahulu."

"Aku tak pernah berfikir seperti itu."

Namjoon mengurai senyum, ia kembali terfokus pada ponselnya yang berdering tepat setelah Yoongi menyelesaikan kalimatnya.

"Apa kau pernah berfikir siapa yang menggantung bintang dilangit malam yang dingin?"

"….."

"Aku pergi hyung"

.

.

.

"Kau sendiri hyung?" Jungkook bertanya saat Namjoon sudah duduk dihadapan Jimin.

"Hmm" Namjoon hanya bergumam sebagai jawaban pertanyaan yang dilontarkan padanya. Ia kemudian mengambil sepotong daging dan memakannya.

"Kenapa Yoongi tidak dating?" Kali ini Seokjin yang bertanya.

"Dia bilang dia sudah makan, dan kau tahu sendiri dia takkan datang."

Jimin meluruskan punggungnya, kemudia menoleh pada Taehyung untuk memulai percakapan. Tentu saja alasannya adalah karena ia tak ingin Seokjin maupun Namjoon bertanya ataupun menyinggung tentang hubungannya dan Yoongi yang membuat sang pemuda enggan menghadiri acara makan-makan mereka.

"Hey Jim" Namjoon berucap setelah menelan makanannya.

"…." Sepertinya usaha Jimin untuk mengindari topic yang berhubungan dengan Yoongi sia-sia.

"Aku sekarang mengerti kenapa kau menyukai langit malam terlebih yang tanpa bintang."

"Maksudmu hyung?"

"Karena Yoongi-hyung bukan? Karena langit malam itu seperti Yoongi-hyung"

Ucapan Namjoon menarik atensi semua orang yang ada disana, mereka menghentikan kegiatan mereka dan menatap Namjoon dan Jimin secara bergantian.

"Tentu saja bukan, aku hanya menyukainya sama seperti hyung yang menyukai senja. Tanpa alas an."

"Lalu kenapa kau tak mau menemui Yoongi hyung? Jangan menyangkal apapun karena semua orang tahu jika kalian sama-sama menyukai satu sama lain."

"Mungkin karena aku tak lagi menyukainya?"

Namjoon tertawa mendengar ucapan ragu-ragu yang dilontarkan Jimin. "Kau tak lagi menyukainya karena dia berubah seolah langin malam yang dahulu tak berbintang kini telah memiliki bintang yang tergantung, dan bukan hanya satu tapi lebih dari itu."

"….."

"Aku sudah mengatakan hal yang sama kepada Yoongi hyung tentang kalian yang kadang seolah in denial tentang perasaan kalian sendiri."

"…." Jimin tak memberikan jawaban apa-apa, ia lebih memilih untuk mendengarkan perkataan Namjoon karena sesungguhnya tak ada yang salah dari apa yang diucapkan oleh pemuda berlesung pipi itu.

"Apa kau pernah berfikir siapa yang menggantung bintang dilangit malam yang dingin?"

Jimin terdiam tentu saja, pertanyaan itu seolah ditusukkan kejantungnya. Ah, jadi perasaan seperti ada yang salah yang selama ini ia rasakan adalah hal itu. Bahwa sebenarnya sekalipun ia lebih menyukai Yoongi saat pertama kali mereka bertemu daripada yang sekarang, yang merubah sang pemuda itu adalah dirinya. Ia yang menggantung bintang disana dan menghangatkan langit malam milik Yoongi.

"Kau mengerti sekarang?"

Jimin mengangguk pasrah, kali ini ia mengaku jika semua yang terjadi adalah kesalahannya karena mengingkari perasaannya sendiri.

"Nah sekarang kenapa kau tidak menghubungi Yoongi dan mengajaknya berkencan?"

.

.

.

THE END

Mind reviewing?