*#Awas banyak typo, males ngedit wk, jan lupa review nya yaaa^^
*#PnC2#*
Entah bagaimana harus memulai hari. Seketika Jungkook seperti orang yang lupa hidup dimana. Hari-harinya biasa ditemani kelinci, diam dan tak peduli dengan sekitar. Sekarang berbeda ketika Taehyung datang, berbeda rasanya ketika ia bertemu Nyonya & Tuan Kim yang sekarang ia sebut eomma dan appa juga Irene noona, mereka asing tapi entah kenapa rasanya lebih asing lagi ketika tahu bahwa ia mempunyai satu kakak lagi. Sialnya lagi kakaknya ini lebih perhatian dibanding yang lain, dan Jungkook tidak terbiasa akan itu.
Dengan penglihatan buram khas orang bangun tidur, Jungkook memandang wajah teduh namja di sampingnya. Guratan dan garis wajah yang tak bisa dipungkiri bagaimana sempurna dia. Taehyung yang tertidur berkali lipat tampan. Luar biasa tampan.
Dan saat itu pula ia sadar, sesuatu yang mengganjal di hati terasa ketika ia menatap Taehyung.
*#PnC2#*
Taehyung menguap lebar seraya menuruni tangga, melihat keluarganya lengkap hendak menyantap sarapan.
"Tinggal di sana dengan di sini berbeda. Biasakan bangun pagi dan jangan membuat kami menunggumu." Gerutu Irene.
"Apa masalahnya? Aku ke sini untuk menghabiskan liburan bukan sekadar sarapan bersama. Lagi pula siapa suruh menungguku."
Taehyung duduk di hadapan Jungkook. Tanpa canggung melayangkan senyuman manis ke arahnya. Cukup tahu, senyuman itu sebatas sapaan di pagi hari. Tapi efeknya teramat jauh daripada arti yang sebenarnya.
Lagi-lagi Jungkook merasa aneh. enggan membalas, ia lebih memilih menunduk menatap makanan yang ada di piring meski kalah jauh menarik dengan wajah namja di hadapannya.
"Aku berangkat." Ucap Jungkook pelan bersamaan dengan kursi berderit ketika ia hendak berdiri.
Demi apapun, Taehyung membulatkan mata. Telinganya baru saja mendengar Jungkook bebricara meski tidak terlalu jelas.
Tapi... WOW anak itu bisa bicara juga.
Dalam hati ia begumam.
"Hati-hati." Nyonya Kim menyahut.
"Dia bisa berbicara?" Tanya Taehyung asal, sebenarnya tidak bermaksud bertanya hanya saja ia tak bisa lagi menahan keterkejutan hingga tak sadar berbicara sendiri.
"Kau menganggapnya bisu? Setega apa kau membayangkan namja semanis Jungkook bisu."
Taehyung memutar bola mata malas mendengar respon Irene.
"Sudah eomma bilang bukan, dia itu tidak bisu, dia hanya tak senang berbicara banyak." Taehyung mengangguk ingat.
"Noona, nanti aku pinjam mobilmu."
*#PnC2#*
Sedikit khawatir dengan sifat yang Jungkook punya. Taehyung takut jika sifatnya itu bukan lah bawaan sejak lahir melainkan suatu trauma. Mungkin saja kejadian ia terdampar di hutan membuatnya menjadi sosok yang tertutup.
Dan Taehyung ingin waktu yang tersisa bisa dihabiskan untuk mengenal lebih dekat dengan Jungkook. Sebisa mungkin ia harus mengubah Jungkook menjadi sosok yang tak setertutup ini.
"Kookie.." Teriak Taehyung. Sedari tadi mata elangnya mengintai akhirnya terlihat juga kelinci yang dicarinya.
Teriakan kencang Taehyung menarik perhatian orang sekeliling termasuk Jungkook yang tak merasa dipanggil, tapi ketika tahu Taehyung bersender di mobil dengan tangan melambai ke arahnya menyadarkannya bahwa orang yang dipanggil 'Kookie' adalah dia.
Dahinya mengernyit heran, bagaimana bisa Taehyung ada di sekolah.
Langkah besar kaki Taehyung menghampiri hingga mereka berdua berhadapan sangat dekat.
Refleks Jungkook mundur selangkah.
"Ayo pulang." Ucapnya lembut.
Jungkook diam. Taehyung tak ingin ambil pusing, sebelumnya ia sudah memperkirakan respon yang akan ia terima tak lain adalah kebisuan Jungkook. Akhirnya ia menggandeng paksa Jungkook masuk ke dalam mobil.
Tapi seketika genggamannya lepas begitu saja.
"Aku pulang sendiri." Ucap Jungkook dingin lalu pergi meninggalkan Taehyung.
Taehyung menghela napas.
Ia kembali menarik Jungkook.
"Aku kakakmu, ingat itu. Masuklah dan jangan membantah!" Tak ada lagi suara halus, Taehyung sama dinginnya sekarang.
Mata Taehyung membulat tajam kala Jungkook tak menghiraukan perkataannya, adiknya itu kembali menjauh.
Sabar Taehyung, sabar.
Cukup irene, kakaknya yang keras kepala jangan lagi adik barunya. Mohon Taehyung.
Pada akhirnya dia mengalah dan membiarkan Jungkook pulang sendiri. Pulang sendiri? Tidak benar-benar pulang sendiri, sih. Diam-diam Taehyung membuntuti dari belakang.
"Ternyata anak itu bawa sepeda."
Jungkook yang sama sekali tak sadar diikuti dari belakang tetap terus menggosehhkan pedal sepeda. Pikiran yang sebenarnya tidak terpusat ke jalanan di hadapan, melayang jauh memikirkan seseorang hang sebenarnya tidak ingin dia pikirkan. Ia memikirkan Taehyung.
Kookie?
Kookie?
Apa itu sebutan spesialnya untukku?
"Kookie!" Teriakan Taehyung tiba-tiba mengejutkan dirinya sendiri melihat bocah yang sedang dipantaunya terjatuh karena hampir saja menabrak mobil.
"Bocah gila." Umpat Taehyung dengan emosi tak tertahan, membanting pintu mobil keras menghampiri Jungkook yang jatuh kesakitan.
Tanpa basa-basi dan peduli dengan berontakan keras Jungkook yang ingin turun dari gendongan Taehyung, ia tetap membawa Jungkook masuk ke dalam mobil, mendudukinya di kursi sebelah kemudi.
Brak
Taehyung kembali menutup pintu mobil kasar.
"Sudah kubilang ikut pulanh denganku." Tak ada lagi nada sedamai sebelumnya.
"Turunkan aku! "
"Sepedanya!"
"Berhenti!"
Teriakan demi teriakan bak alarm di pagi hari, tak dihiraukan Taehyung sama sekali masa bodoh dan tetap melaju meninggalkan sepeda yang disebut-sebut.
"Hyung! Berhenti!"
Badan Jungkook terhentak ke depan saat itu juga. Seketika mobil berhenti. Sembari menormalkan deru napas dan detakan jantung yang berirama sembarang dia menatap Taehyung.
Kilat mata Taehyung tak bisa terbaca.
"Kau...coba katakan sekali lagi." Pinta Taehyung.
"Apa?"
"Tadi...ayolah.."
Jungkook memicing. Ia sama sekali tak mengerti apa yang dimaksud Taehyung. Memangnya dia mengatakan apa?
"Sepeda- sepedanya tertinggal."
"Bukan...bukan itu." Taehyung mendelik kesal.
"Turunkan aku!" Nada dinginnya kembali terdengar. Ya Tuhan, adik kecilnya ini benar-benar menguji kesabaran, yang dimaksud Taehyung bukan kalimat itu.
Tanpa peduli keinginannya, Taehyung justru memeluk erat. Sangat erat terasa pengap seperti saat eommanya menyambut kedatangannya.
Beginikah pelukan kasih sayang?
"Le-lephas...shh" Jungkook sulit bernapas.
"Aku senang. Sering-seringlah memanggilku 'hyung.' "
Hyung?
Dan yeah... Jungkook tersadar bahwa ia baru saja memanggil Kim Taehyung dengan sebutan 'hyung'.
Berani-beraninya kau Jungkook.
Gertak Jungkook pada dirinya sendiri.
*#PnC2#*
Hari ini, hanya satu hari terlewati tapi terasa bertahun-tahun lamanya. Banyak sekali yang terjadi semenjak Taehyung masuk ke dalam kehidupannya.
Hari ini, untuk pertama kalinya sejak ia tinggal di sini, banyak sekali kata-kata hingga menjadi kalimat yang keluar dari bibirnya.
Bersama Taehyung semua terjadi begitu saja.
Hatinya yang semula merasa kosong kini terisi meski dengan perasaan aneh yang menganggu, bibirnya yang lebih banyak terkatup rapat kini lebih banyak bergumam.
Entah apa yang telah terjadi.
Ini antara Taheyung yang masuk ke kehidupannya.
Atau...
Dia yang masuk ke kehidupan Taehyung.
*#PnC2#*
Tanpa mereka sadari, keduanya lah yang sama-sama datang menghampiri.
*#PnC2#*
Seminggu lebih sudah terlewati.
Kemajuan pesat bagi Taheyung untuk bisa mengenal Jungkook.
Bahkan nyonya Kim dan Irene saja tak menyangka si 'tengil' Taehyung bisa dekat dan memberikan perhatian kepada keluarga barunya.
"Sepertinya Jungkook menyukaimu." Nyonya Kim tersenyum senang. Maksud menyukaimu di sini adalah perasaan Jungkook yang merasa cocok dengan Taheyung. Cocok sebagaimana kakak-adik pada umumnya.
Taehyung tersenyum seraya menyesap susu panas.
"Hyung." Taehyung menoleh mendapati Jungkook memanggil dari anak tangga. Tangannya menggendong kelinci kesayangannya.
Dengan semangat Taehyung menghampiri dan membimbing Jungkook untuk masuk ke dalam kamar.
"Kenapa?" Belaian pada pucuk kepala Jungkook sangat menghangatkan. Cara bicara Taheyung terlampau lembut. Dan Jungkook sangat suka itu, meski besar ketakutannya selalu mengganggu. Ia sebenarnya takut mendapat perhatian Taehyung. Asal tahu saha.
"Tolong keringkan rambutku."
Taehyung menampilkan senyuman lebar sedang dalam hati tertawa puas. Kadanh datang waktu dimana Jungkook meminta tolong. Dan permintaannya seperti orang yang ingin dimanja.
Tapi maksud Jungkook bukanlah seperti tahu Jungkook itu terlalu polos dan tidak bermaksud begitu.
"Sini. duduk." Kakinya menepuk lantai menyuruh Jungkook duduk di bawah dengan dirinya yang berada di atas kasur agar mempermudah ia mengusap surai basah Jungkook sehabis mandi.
"Jadi... sudah ketemu nama untuk kelincimu?" Tanya Taehyung seraya tangannya sibuk mengeringkan rambut. Memang, kemarin mereka berdua menjadikan nama kelinci sebagai bahan obrolan. Taehyung menyarankan agar kelinci peliharaan Jungkook diberi nama.
Jungkook membelai pelan kelinci dalam gendongannya menunggu Taehyung selesai. Tangan Taehyung di kepalanya membuat ia mengantuk. Terasa sangat lembut.
"Belum. Aku tak ingin."
Satu alis Taehyung terangkat.
"Aku ingin hyung yang memberinya nama." Lanjur Jungkook.
Chu
Taehyung tersenyum setelah mencium pipi Jungkook yang kini merona malu.
Sial.
Panas dingin terasa hingga tak bisa mengontrol suhu tubuhnya sendiri.
"Gemas gemas gemas..." Taehyung mencubit pipi Jungkook.
"Lepaskan!"
"Baiklah... jadi aku akan beri nama dia Cookie."
Jungkook sedikit menoleh ke belakang untuk melihat wajah Taehyung.
"Kookie?"
"Yep.. Cookie."
"Kookie? Bukannya itu panggilanku, hyung menyamakanku dengan binatang?"
"Ini dengan 'C' kalau kau dengan 'K' lagipula kalau disamakan dengan kelinci pun tidak masalah, kelinci kan lucu sama seperti adikku."
Blush
Adakah yang mengerti perasaan macam apa yang sekarang aku rasakan? Inilah kenapa aku membenci sekaligus menyukai seorang Kim Taehyung. Aku tak berhak atas perasaan ini. Karena aku tetap akan dan selalu menjadi 'adik' nya.
#***TBC***#
Makasih yang sempet2 ngefeedback huhu sarangeeek :'
JJKookie: semoga gak bosen yaaaw^^ makasiiiiih shayyy~
Jeon99Park: fluff gak yaaa, ya pengennya sih ya manis2 gitu semoga dapet feelnya ya hehe
