25 Desember, natal ini turun salju.
Masih dengan seuntai senyum yang tak lekang dari bibir yang mulai keriput, orang itu selalu mengulanginya setiap tahunnya.
.
.
.
.
.
- teman satu atap -
.
.
.
.
.
Natal tinggal menghitung hari saja, sukacita dalam menyambutnya pun sudah begitu kentara karena sejauh mata memandang, banyak pohon cemara berbaris di pinggir jalan dengan lampu-lampu yang menyala. Menyilaukan namun itu yang membuatnya terlihat indah. Jangan lupakan salju juga.
Sougo masih terlihat siaga di balik benteng salju yang ia bangun, ia tak tahu sejak kapan ia mulai permainan lempar salju ini tapi tak usah diperdulikan lah. Nikmati saja permainannya.
Pertama, bola-bola salju kecil datang menghampirinya. Ia masih dapat menghindarinya dengan berlindung di balik bentengnya, kemudian dengan cepat ia membuat bola salju dan melemparkannya ke depan. Iris merahnya berusaha menangkap lawan yang seharusnya berada di depan namun tak ada siapa-siapa. Dahinya mengkerut sedikit bingung seolah menanyakan pada diri sendiri apa yang dari tadi ia lakukan.
Perlahan ia merasakan ada air dingin yang jatuh di pipinya, sontak Sougo menoleh ke atas, terlihat bola salju raksasa yang ukurannya sepuluh kali dirinya sedang jatuh dari langit.
"Apa-apaan ini?" tanyanya pada diri sendiri yang mulai berlari menghindari bola salju raksasa dari langit itu namun, "Aduh!" Sougo merasakan pening di kepala bagian belakangnya dan seketika ia bangun dari mimpi tak jelasnya.
"Sakit bego," Sougo merintih.
Masih dengan posisi tangan mengepal, Kagura dengan ketus menatap Sougo, "makanya jangan tidur di depan kasurku aru. Ilermu ini kemana-mana tau, menjijikan."
.
.
.
.
.
17 Desember, tepat 11 bulan Kagura telah berada di rumah sakit. Jika manusia normal mungkin sudah mengeluh karena sudah begitu lama harus terkurung di tempat yang dipenuhi beragam manusia yang sedang sakit namun berbeda dengan Kagura, ia terlihat menikmatinya.
"China, kenapa kau terlihat tenang-tenang saja terkurung di tempat seperti ini?" Sougo yang duduk di samping tempat tidur Kagura bertanya, "aku saja yang baru sebulan sudah mau mati rasanya," lanjutnya.
Kagura hanya melempar senyum pada Sougo yang sedang mengupaskan buah apel untuknya. Semenjak mendapat kabar baik tentang pendonor jantung yang Sougo sendiri tak tau ia siapa, sifatnya terlihat berubah banyak. Awalnya si pemilik iris merah itu hanya mau dekat dengan Kagura jika sedang ingin menjahili atau jika Kagura perlu bantuan. Namun sekarang ia--Sougo terlihat lebih perhatian.
"Tempat mana lagi yang cocok untukku selain di sini?" lirih Kagura, kemudian ia melemparkan senyum lebarnya pada Sougo, "ngomong-ngomong selamat."
"Ah, masalah pendonor jantung untukku ya. Iya terima kasih," jawab Sougo yang menyodorkan sepiring apel yang sudah ia iris berbentuk kelinci untuk Kagura.
"Ih kok malah kau potong bentuk musang? aku mintanya potong jadi bentuk kelinci aru!" protes Kagura.
"Itu bentuk kelinci bego, kau ini masa kelinci sama musang saja tak bisa membedakannya?!" jawab Sougo sedikit naik pitam.
Kagura memonyongkan bibirnya, manyun, "mana ku tau, aku kan jarang jalan-jalan ke luar."
"Oh, jadi kau ingin di ajak jalan-jalan? Kalau mau ya tinggal bilang saja, tidak usah belagak tsundere seperti itu dasar cebol," oh demi apa Sougo sekarang tingkat kepekaannya tinggi sekali.
"Eheheheh, aku ingin melihat sajlu malam natal nanti aru. Aku suka salju."
.
.
.
.
.
25 Desember, salju turun namun tidak begitu banyak. Sudah lumayan cukup sebenarnya untuk dinikmati estetikanya namun bukannya memandang salju bersama gadis bersurai vermilion, Sougo sekarang malah menatap salju bersama pria tua dengan uban keriting.
"Anggap saja aku Kagura ya bocah," Gintoki nyengir, "lalu belikan Kagura-chanmu ini susu segar aru aruuu," sambung Gintoki dengan senyum jahilnya.
"Apaan itu aru aruuu, dan apa maksudnya kagura-ku?" Sougo mendengus sambil menatap salju dengan bosan. Tapi Gintoki semakin menggodanya.
"Anak muda jaman sekarang memang ya. Shuuuu shuu," Gintoki makin menjadi.
Sebenarnya Sougo sedikit merasakan malu, tapi dia pandai menyembunyikan raut wajahnya kecuali di hadapan mendiang kakaknya.
Gintoki dan Sougo yang sedang duduk di pelataran rumah sakit itu sama-sama mendongak ke langit menatap salju yang berjatuhan.
"Kenapa pemeriksaannya gak bisa di tunda besok saja?" tanya Sougo datar, tapi decak kesalnya sangat kentara. Sulit untuk disembunyikan.
"Padahal aku sudah janji mau melihat salju di malam natal bersama si cebol rakus itu."
"Ya mau gimana dia sedang sakit. Kau pasti tau karena kau juga sedang sakit. Memangnya kau bisa menentukan harus sakit hari apa?" Gintoki menghembuskan nafas berat, terlihat asap tipis yang keluar dari mulutnya, "dasar bocah kasmaran," lanjut Gintoki.
"Aku tidak kasmaran. Aku hanya mau menepati janji sebagai teman!" ketus Sougo.
Gintoki menghela nafas, "terima kasih karena sudah mau berteman dengan gadis itu."
.
.
.
.
.
Tahun baru telah tiba, namun hari-hari di rumah sakit sedikit lebih berbeda dikarenakan Kagura yang kini tidak berada di bawah atap yang sama lagi dengan pemuda sadis beriris merah itu.
Kagura kini mendapatkan perawatan yang lebih intensif di ruang ICU dan Sougo kini kembali merasakan kesepian dalam ruangan pengap itu.
Di sisi kirinya nampak setumpuk buah-buahan yang tidak tersentuh sedikitpun. Siapa juga yang sanggup menghabiskan satu keranjang buah sehari selain orang itu? Sougo berdecak kesal dan menenggelamkan dirinya di balik selimut tebalnya. Tanpa ada Kagura di sampingnya, ia merasa kesepian.
.
.
.
.
.
Hari yang di tunggu telah tiba.
Sougo sedetik merasakan sakit di dadanya kala mengetahui hari ini adalah hari operasinya. Ia berharap Kagura dapat mengomelinya atau menjahilinya sebelum operasi agar ia sedikit dapat menepis rasa takutnya.
Meski sadis, sebagai manusia ia pasti merasa takut jika dihadapkan pada situasi menegangkan ini bukan? Apalagi sampai saat ini ia tidak tau siapa pendonornya. Untuk alasan pribadi pendonor tak ingin identitasnya diungkapkan. Bagaimana jika pendornor itu adalah penjahat kelas kakap yang akan dieksekusi? Bagaimana jika pendonor itu ternyata seorang yang--Sougo segera menepis pikiran buruknya.
"Operasimu satu jam lagi nak," terdengar suara serak dari Kondou yang mulai mendorong kursi roda mendekati Sougo.
"Oh ayolah, aku masih bisa jalan Kondou-san, lagian aku hanya mau menemuinya sebentar saja sebelum operasi."
"Ooooh, tidak bisa begitu. Duduk sini atau ku gendong kau sampai ruang ICU!"
Kadang sifat Kondou yang seperti ini membuat Sougo teringat pada kakaknya. Meski sedikit menyebalkan karena yang ada di depannya ini pria tua yang sebenarnya sangat ditakuti dan dihormati, tapi Sougo tak bisa berbohong bahwa ia bersyukur masih bisa merasakan hangatnya kekeluargaan di Shinsengumi.
"Baiklah," Sougo mengalah. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya, duduk di kursi rodanya dan berjalan sambil di dorong Kondou tentunya menuju ruang ICU untuk menemui Kagura sebelum operasi.
Dari luar terlihat gadis yang terbaring lemah dengan banyak selang yang Sougo tak tau untuk apa fungsinya itu menempel di tubuh kecilnya, dan tabung oksigen. Ia jadi teringat mendiang kakaknya.
Setelah cekcok dengan petugas rumah sakit, akhirnya Sougo diijinkan masuk ke ruang ICU lima menit. Hanya lima menit. Beruntung Kagura saat itu sendang tidak tidur. Matanya terbuka meski tatapannya nanar.
"Woi."
"Yo."
Kata itu yang pertama kali terdengar ketika mereka memulai percakapan. Sougo sedikit terganggu dengan pemandangan di depannya karena ia sangat tidak menyukai ruangan ini. Banyak kenangan buruk yang ia ingat, "waktuku tidak banyak, jadi langsung saja," ucap Sougo.
Kagura tersenyum tipis, "hari ini hari operasimu bukan?" ucapnya lemah.
Sougo mengangguk, "wah, sebegitu fansnya kah kau dengan aku jadi kau tau jadwal operasiku?" ia melempar senyum jahil. Masih sempat-sempatnya saja.
"Aku hanya ingin bilang, terima kasih karena sudah mengisi waktu bersamaku meski hanya sebentar. Aku pasti bisa melewati operasi ini dan akan sembuh total. Jadi ku mohon bertahanlah karena aku masih memiliki hutang padamu China. Ayo kita lihat salju sama-sama tahun depan," Sougo meraih tangan Kagura. Begitu lembut namun dingin.
"Aku yang harusnya berterima kasih, kata Gin-chan, kau menyebutku teman. Tapi aku bukan fans mu aru. Jangan geer..." meski kelihatan sulit, Kagura tetap memaksakan diri untuk bicara, "...dan tenang saja. Aku sudah menemukan cara untuk bertahan hidup lebih lama aru."
"Jadi maksudmu kau juga akan segera keluar dari rumah sakit dan sembuh?" tanya Sougo nampak antusias.
"Um...gimana bilangnya ya. Hmm, ya bisa dibilang begitu lah."
Mendengar jawaban Kagura, membuat Sougo semakin bersemangat. Ia jadi ingin cepat-cepat operasi agar dapat segera bebas dari tempat itu dan dapat--menemani Kagura? Entahlah, ia tak tau dengan apa yang ia rasakan saat ini tapi yang jelas ia sangat bahagia.
Ketukan dari luar itu pertanda Sougo harus segera meninggalkan ruangan. Lima menit terasa sangat cepat memang, karena ini bukan seperti menunggu. Andai saja menunggu mungkin lima menit akan terasa sangat lama, seperti Sougo yang tengah menunggu operasinya.
Usai berpamitan dengan Kagura, ia pun mempersiapkan diri untuk operasi. Akhirnya waktu yang ia nantikan telah tiba.
.
.
.
.
.
"Operasinya berjalan lancar. Jantungnya cocok dan tuan Okita akan mendapatkan perawatan Intensif dalam seminggu ini."
Ungkapan pemuda dengan pakaian hijau operasi itu membuat Kondou ingin segera berpesta. Matanya menitikkan air mata bahagia mengetahui Sougo yang sudah ia anggap seperti anak itu telah dinyatakan sembuh. Sejuta ucapan terima kasih Kondou lontarkan sampai membuat sweatdrop dokter itu.
"Ngomong-ngomong, kapan anak itu sadar dok? Aku sudah tidak sabar melihat dia hidup kembali."
Dokter yang mengoperasi Sougo makin sweatdrop, "hidup kembali memangnya kau kira dia mati?" dokter itu bertsukkomi, "besok dia akan bangun," lanjutnya.
Kondou berjoget ria di depan Dokter itu. Dengan cengiran khas yang membuat orang risih, Kondou sudah tak sadar dari tadi dipandang aneh orang-orang yang melihatnya. Untung Kondou tidak membugili dirinya sendiri.
Esok harinya Sougo terbangun dengan semburat senyum yang tak lekang dari mukanya. Oksigen alami yang ia hirup tak pernah terasa sesegar ini. Ia sangat berterimakasih pada tuan pendonornya itu.
"Kondou-san, apa aku bisa segera pulang?" tanya Sougo.
"Sabar nak, perawatanmu tinggal dua hari lagi, setelah itu kau bisa kembali patroli," jawab Kondou yang meletakkan keranjang buah di samping kiri Sougo.
Sougo menatap dalam keranjang itu dan kembali mengingat sosok menyebalkan yang selalu merampas jatah makannya. Lama sudah Sougo ingin menemui Kagura namun ketika ditanya perihal bagaimana keadaan gadis itu, petugas mengatakan Kagura sudah keluar dari rumah sakit dua hari pasca operasi Sougo.
"Kondou-san, kau tau kan tempat orang meminta permintaan atau apalah itu yang namanya Yorozuya? Sebelum kembali ke Shinsengumi aku mau mampir sebentar ke sana."
.
.
.
.
.
Kediaman Yorozuya siang itu nampak sepi. Padahal tempat itu biasanya selalu ramai kata orang-orang. Sougo yang tepat berada di depan pintu telah mengetuk beberapa kali namun, tak ada jawaban dari spesies manusia satupun. Yang terdengar dari luar hanyalah gonggongan anjing.
"Kemana orang-orang ini pergi? Apa memang tempat ini selalu sepi?" Sougo bertanya pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama, terdengar langkah seseorang yang menaiki tangga, suara khasnya sudah dapat dipastikan itu Gintoki.
"Apa yang kau lakukan di sini bocah? Apa kau akan memberiku uang? Kebetulan aku ingin membeli Jump edisi terbaru," Gintoki membuang sebiji upil nya.
Sougo menatap datar, "Danna, aku mau bertemu Kagura. Apa ia ada?" tanyanya.
Gintoki terdiam--dua detik kemudian, "Ikut aku," ajak Gintoki.
.
.
.
.
"K-kau bercanda bukan?"
Gintoki diam.
"Hey Danna, ini apa-apaan. Kaguranya sendiri yang bicara akan segera keluar dari rumah sakit--" Sougo mengepal tangannya erat, "--maksudnya keluar rumah sakit apa begini?!"
Gintoki tetap diam.
"Mengapa kau harus membawaku ke tempat pemakaman begini? Dasar aneh. Mana Kaguranya, aku ingin menemuinya sekarang!"
Gintoki tetap dalam diam.
"DANNA!" Sougo berbicara setingkat lebih keras. Namun tak ada jawaban dari si pemilik surai perak itu. Gintoki hanya terdiam melihat Sougo yang merosot duduk di hadapan batu nisan bertuliskan nama Kagura dan ia mengeluarkan sebuah amplop berisi surat dari saku kimono yang ia kenakan.
"Apa ini?" Sougo meraih amplop berisi surat itu dengan tatapan lirih.
"Kagura-chan menitipkan ini untukmu," ucap Gintoki terakhir sebelum ia meninggalkan Sougo yang masih terduduk di depan tempat peristirahatan terakhir Kagura.
.
.
.
.
.
Yo Sadist...
Kalimat pertama dari surat itu.
Sougo terus berjalan dengan mendunduk seraya membaca surat itu dalam diam.
Yo Sadist...eheheheh, maaf kutulis yo nya dua kali, soalnya yang pertama pasti tidak kau balas sapaanku. Mungkin yang ini juga begitu. Jadi akan kuulangi lagi aru.
Yo Sadist.
"Yo, China. Dasar kau gadis aneh," Sougo sedikit tersenyum meski hatinya masih terasa sakit.
Pertama aku ingin meminta maaf karena pergi tanpa pamit padamu. Dan yang ke dua aku ingin berterima kasih. Untuk semuanya, buah, cemilan, dan kejahilanmu.
Sougo terawa sedikit.
Kau pasti marah padaku karena bukannya bertemu dengan wujud cantikku, tapi malah bertemu kertas dengan tulisan jelek ini. Jadi sekali lagi aku minta maaf aru.
Aku tidak bohong loh dengan apa yang aku bilang aku akan keluar rumah sakit dan akan berumur panjang. Karena--
Sougo membulatkan matanya.
--aku sekarang hidup dalam dirimu. Maaf lagi sebelumnya tak memberitahumu mengenai siapa pendonor jantung untukmu. Aku takut kau menolaknya.
Sougo tak bisa membendung air matanya, ia tetap berjalan, menunduk, dan kini memegang erat dadanya. Merasakan detak jantung yang berada di dalam dirinya.
Heheheh, sebenarnya aku sudah benar-benar tidak kuat untuk hidup. Seumur hidupku aku sudah berada di rumah sakit, ya tepatnya mulai usiaku tujuh tahun. Dan aku begitu merasa tersiksa dengan sakit yang aku alami. Tak ada harapan untuk aku hidup lebih lama dengan raga ini, tapi aku tetap ingin hidup aru. Dan aku rasa dengan cara inilah aku bisa tetap hidup.
Tapi kau jangan geer aru!
Alis Sougo saling bertautan.
Aku bukannya fans atau apa denganmu loh ya. Lagian kau itu sadist. Mana ada orang yang mau dengan manusia semacam kau. Perbaiki dulu kelakuanmu biar kau tak jomblo seumur hidup huahahah.
Sekali lagi kuulangi. Jangan geer aru! jangan kira kau spesial karena bukan pada dirimu saja aku hidup. Aku juga mendonorkan mata, hati, dan ginjalku pada yang lain. Ah, aku tak pernah merasa sehidup ini aru. Senang rasanya bisa hidup dengan menolong kehidupan orang lain. Aku tak minta balasan apapun. Aku hanya ingin jaga aku baik-baik. Mengerti?!
Entah kenapa Sougo mengangguk.
Oh iya kau masih ada hutang dengan ku lo. Ingat ya tahun depan saat malam natal, kalau turun salju bawa aku ke sana. Aku mau liat salju aru. Aku suka salju. Awas kau ya jika tidak tepat janji. Hehe.
Terima kasih karena sudah mau jadi temanku. Kuharap kita bisa berteman selamanya.
"Aku juga mengharapkan hal yang sama, China," lirih Sougo.
.
.
.
.
.
Tiga puluh tahun berlalu.
25 Desember, natal ini turun salju.
Masih dengan seuntai senyum yang tak lekang dari bibir yang mulai keriput, orang itu selalu mengulanginya setiap tahunnya.
Mengulangi untuk membawa teman satu atapnya menikmati salju putih yang menyejukkan.
.
.
.
.
.
FIN ~
.
.
.
.
.
Author notes:
Ah, akhirnya bisa nyelesain ini meski lama *menangis*
Alur critanya receh dan gampang banget ditebak yah *sad* dan terlihat begitu dipaksakan dan berplothole. Susah rasanya nulis pada saat sibuk dan dalam masa WB ini *alasan* tapi aku lega banget udah bisa nyelesain ini.
Buat kalian yang udah review, maafkan tak ku balas satu-satu *digebukin* Aku ingin bilang makasih banyak atas reviewnya dan makasih udah mau baca fic receh ini.
Maafkan jikalau ada typo.
Love,
Lichy.
