Warning! Warning! Warning!

Rate: M plus plus. Absolutely Porn. Plot penuh lemon. Yang belum cukup umur jangan coba-coba baca.

Yaoi abis. Yang gak suka Boy x Boy jangan memaksakan diri baca. Resiko tanggung sendiri.

possible OOC. tapi itu blom seberapa dibandingkan dgn menistakan Anda semua.

Ah, saya sudah menistakan diri dengan menulis yang beginian. Jangan salahkan saya kalau Anda ikut-ikutan jadi nista.

Saran saya: Kaburlah sebelum baca!

Oh iya… Disclaimer: Masashi Kishimoto… ini pairing yang diusulkan sendiri oleh beliau. Tapi saya gak berharap beliau memberi Sai, apalagi Sasuke, pada saya. Cukuplah saya mendamba Kabuto dan Sasori saja ^^

Sekali lagi, KABURLAH SEBELUM BACA!


NEGOSIASI

By: Konohafled

(dari bagian SATU)

Dua lidah saling bergulat. Dua pasang bibir saling melumat. Kata sepakat telah dibuat.

.

bagian DUA: PERSUASI

.

Sai melepaskan diri dari belitan lidah Sasuke. "Jadi?"

Yang ditanya diam saja. Dia menatap lembut wajah putih yang tak juga berubah ekspresinya itu, bahkan setelah digempur dengan ciuman bertubi-tubi.

Yang ditanya mundur sedikit. Matanya menelusuri tubuh Sasuke dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Oh tidak," pikir Sasuke. Dia tahu bagian di bawah sana sudah tak terkendali sama sekali.

"Uchiha Sasuke, aku harus melukismu," bisik Sai.

"Sialan," batin Sasuke. Tapi dia tak berdaya untuk mencegah.

ANBU muda itu menggoreskan kuas tinta ke kertas di hadapannya. Sesekali matanya menatap bagian tubuh Sasuke cukup lama. Terlalu lama bagi Sasuke. Ingin rasanya dia menerkam pemuda itu. Merobek-robek kertas dan kuas tinta yang dipegangnya. Mengunci tubuhnya erat-erat, seerat ular tinta yang mengikat kedua tangan dan kakinya.

"Selesai," kata Sai sambil tersenyum, matanya menyipit. Dia menyandarkan gambar itu di dinding dekat dengan pundak Sasuke supaya dia bisa melihatnya dengan jelas.

Sasuke merasa seperti kehilangan nafas. Gambar itu begitu indah. Realistis. Setiap lekuk tubuhnya terwakili oleh goresan dan arsiran tinta hitam itu. Sasuke baru sadar betapa indah tubuhnya.

Tak mampu dia cegah gejolak yang terjadi di bagian bawah tubuhnya.

"Jadi, kau mau kan?" tanya Sai dengan lembut, selembut belaiannya pada organ sensitif Sasuke yang kini berdiri tegak.

"Hn," jawabnya. Apa kau buta, Sai? Aku pasti mau kamu apa-apain. Apa saja, kata Sasuke dalam hati.

"Kau mau pulang bersama kami, kan?"

Kedua tangan Sai bekerja sama membelai dan memijat organ paling sensitif Sasuke. Lembut, tapi lama-lama semakin cepat.

Asal kau sering-sering begini padaku. Asal kau jadi milikku, Sai. Tapi itu cuma diucapkan dalam hati. Yang keluar dari mulut Sasuke hanya kata-kata seputar "Uhh… " dan "Ahh…"

"Aku butuh jawabanmu, Sasuke." Tangan Sai kini kesulitan memijat organ tubuh yang semakin keras itu. Sebagai gantinya, kedua tangan itu menggosok dengan kuat.

"Hen-ti-kan," kata Sasuke.

Sai menurut. Tangannya berhenti di sana, diam.

"Kenapa berhenti?" jerit Sasuke putus asa. Kau benar-benar kurang ajar, Sai! kutuknya dalam hati.

"Kau suruh aku berhenti, kan?" jawab Sai dengan polos.

Sasuke mendengus. "Berhenti menggodaku, sialan!" bentaknya di sela-sela nafas yang memburu. "Teruskan," pintanya lemah.

Sai menurut. Tangannya kembali bekerja di tempat yang sama. Kali ini lebih kuat dan lebih cepat.

"Katakan 'Ya', Sasuke," pinta Sai.

"Hi-sap," bisik Sasuke. Nafasnya memburu, tak terkendali.

"Hisap? Tidak ada pilihan itu, Sasuke. Yang ada hanya 'ya' dan 'tidak'," kata Sai.

Tolol! jerit Sasuke dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutnya hanya lenguhan tertahan. Matanya menatap wajah putih Sai yang tidak juga menampakkan perubahan ekspresi. Terbuat dari apakah wajah itu? Bibirnya ranum, lembut dan kenyal. Tapi selain bibir itu, tak banyak yang dilakukan oleh bagian wajah lain.

"Katakan 'Ya', Sasuke," pinta Sai sekali lagi. Tangannya bergerak semakin cepat.

"Hi..sap…ahhh….du..lu," jawab Sasuke. Matanya menatap tajam mata Sai. Tajam sekaligus menggoda. Aku tak boleh kalah darimu, Sai.

Tangan Sai berhenti bekerja di sana. Sebagai gantinya, tubuhnya merayap mendekati wajah Sasuke. Cukup dekat untuk mengecup bibirnya sekali lagi. Tapi tidak. Dia menoleh. Perhatiannya pindah ke segel gaib di pundak kiri Sasuke.

Sasuke bisa saja mengaktifkan segel gaib itu, atau bahkan mengaktifkan Sharingan. Tapi tidak sekarang. Tidak saat seluruh energinya tertuju ke organ penting di bawah sana.

Clup.

Kecupan kecil mendarat di belakang telinga kiri Sasuke, disusul beberapa hisapan singkat yang bergerak turun ke leher jenjangnya.

"Bu…kan di… si…tu," protes Sasuke.

Sai berhenti. Tapi kali ini dia tidak bertanya lagi. Tangannya meraih dagu Sasuke dan melempar wajahnya ke kiri. Leher dan pundak kanannya masih bersih dari bekas merah. Di sanalah bibir Sai bekerja sekarang.

"Bu…kan… itu, Sai. Yang di ba—"

Protes Sasuke ditelan oleh mulutnya sendiri, karena saat itu jari-jari Sai mengelus bibir bawah Sasuke. Langsung saja jari-jari putih pucat itu disergap bibir Sasuke. Disergap, dihisap dan dilumat dengan rakus.

Itu tak berlangsung lama. Gigi Sasuke sepertinya tergoda ikut menikmati jari-jari pucat itu. Tapi jangan salahkan gigi dan gigitan keras yang dibuatnya. Salahkan cairan putih susu yang menyembur terlalu cepat dari organ yang ada di bawah sana.

Segala kegiatan terhenti untuk menghormati momen itu. Sai menoleh ke arah organ yang masih menyisakan saat-saat kegagahannya itu. Mengapa? Apakah ia protes karena ditinggalkan tangan Sai?

Sasuke menoleh ke arah lukisan dirinya. Tapi kali ini matanya tertutup. Malu. Sialan, aku kalah, katanya dalam hati. Momen kejayaannya ketika mendominasi bibir Sai tadi tiba-tiba runtuh, hancur tak berbentuk akibat semburan terlalu dini dari organ kebanggaannya.

Dia merasakan sentuhan lembut di organ kejantanannya. Dia tidak peduli lagi. Separah apapun dia dipermalukan sekarang, dia akan membalasnya nanti. Dia akan memperlakukan Sai seperti dia diperlakukan saat ini. Kalau perlu di depan para ANBU lain yang berbaris dengan seragam dan topengnya yang memuakkan.

Sentuhan lembut itu belum berakhir. Sasuke membuka mata. Kepalanya ditolehkan ke bawah, mencari tahu apa yang dilakukan ANBU keparat itu pada organ tubuh kebanggaannya. Dia melihat tangan putih itu mengusapnya, mengumpulkan cairan yang tersisa di sana. Pandangannya menelusuri tangan itu, lengan berwarna pucat pasi yang… eh, tunggu. Ke mana kain hitam yang seharusnya menutupi lengannya?

Tanpa sadar, mulutnya ternganga melihat tubuh polos itu. Putih bersih, halus, mulus seperti porselen. Ototnya terlindung rapi dan hanya memetakan lekak-lekuk yang perlu ada. Menara kejantanannya tampak menyembul gagah di antara kepungan kulit pucat itu. Baru kali ini dia mengagumi tubuh indah lelaki selain tubuhnya sendiri. Berbahagialah seragam ANBU yang selalu menyentuh tubuh tanpa cela itu.

Sai beringsut mendekatinya. Jari-jari tangan yang baru saja dipakai untuk mengelap organ sensitif Sasuke kini diusapkan ke bibirnya sendiri. Sasuke menahan nafas melihatnya. Dia menunggu Sai menjilat bibir itu, menjilat dan menelan cairan kejantanannya. Menelan semua yang bisa ditawarkan seorang lelaki.

Tapi itu tidak terjadi.

Sebagai gantinya, Sai meletakkan lengannya ke dada bidang Sasuke. Wajah yang tetap sepi dari emosi itu hanya beberapa senti di atas wajahnya.

"Jadi, itu tadi kuanggap sebagai 'ya'," kata Sai.

Sasuke tidak menjawab. Bersentuhan langsung dengan kulit Sai membuatnya sulit berpikir, bahkan untuk bersikap dingin seperti biasanya.

"Kalau begitu, yang perlu kita pikirkan…" ibu jari Sai mengelus bibir bawah Sasuke,"…adalah…" dan kelingkingnya mengusap bibir atasnya, "…rencana."

Bibir Sasuke bergetar. Olesan cairan putih itupun ikut bergetar, menunggu saat jatuh ke celah di antara dua bibir indah itu. Tapi itu tidak terjadi. Bibir Sai keburu datang mencegahnya. Dua bibir kembali bertemu, melepaskan penghalang tipis yang bernama air mani. Cairan kejantanan Sasuke itu dihisap bersama-sama oleh dua insan rupawan itu. Masuk ke tubuh, luruh.

Sasuke pun lupa pada janjinya untuk membalas Sai

.

---------------------- bagian DUA selesai --------------------

.

bagaimana? semakin nistakah fic saya ini?

A/N
makasih buat yang telah memilih menistakan diri untuk membaca dan meripyu fic saya ini: Wolfie Cielshitsuji, Sanji Yagami, lovely lucifer, shika reizei, Chika, KuroNezumi, Yoshizawa Sayuri, kagehime07, … kenistaan kalian akan selalu dikenang sepanjang masa. hahahaha...

makasih juga buat bloominpoppies yg sudah menyumbangkan wawasan medisnya demi citra kesehatan genital Sasuke
(lihat bagian 'cairan sasuke')

penasaran? masih mau menistakan diri lagi? klik tombol di bawah ini dan tulis komentar, kritik, saran, flame, caci maki dan hujatan untuk fic ini. saya tunggu *mengedip nista*