discalimer: Masashi Kishimoto bakal merajam saya di Lembah Kematian kalo sampe tahu chara favoritnya saya bashing abis2an XDD
WARNING! WARNING! WARNING!
1) plot-nya full porn, 2) yaoi abis, 3) mungkin OOC, 4) penyiksaan Sasuke
bagi yg gak suka satu atau lebih dari hal-hal di atas, silakan keluar lewat pintu yg ada tulisannya "Ruang Cuci Otak" dan kembali ke dunia Anda dengan menggumamkan "Konohafled anak baik" berkali-kali^^
bagi yg keberatan dengan frasa "cairan keruh" di chap 2 "PERSUASI", saya sudah meralat seperlunya
bagi yg ingin tetap menjaga kewarasan otak, saya sarankan sekali lagi: KABURLAH SEBELUM BACA!
NEGOSIASI
By: Konohafled
(dari bagian DUA)
"Kalau begitu, yang perlu kita pikirkan…" ibu jari Sai mengelus bibir bawah Sasuke,"…adalah…" dan kelingkingnya mengusap bibir atasnya, "…rencana."
Bibir Sasuke bergetar. Olesan cairan putih itupun ikut bergetar, menunggu saat jatuh ke celah di antara dua bibir indah itu. Tapi itu tidak terjadi. Bibir Sai keburu datang mencegahnya. Dua bibir kembali bertemu, melepaskan penghalang tipis yang bernama air mani. Cairan kejantanan Sasuke itu dihisap bersama-sama oleh dua insan rupawan itu. Masuk ke tubuh, luruh.
Sasuke pun lupa pada janjinya untuk membalas Sai.
.
bagian TIGA: RENCANA
.
Tidak ada yang mendominasi kali ini. Dua bibir saling berbagi dan memberi. Dua bibir saling mencari, menggapai, seolah sebelumnya mereka adalah satu. Dua bibir saling melumat, melebur dalam satu nafas.
Ah, masihkah mereka perlu bernafas?
Lagi-lagi Sai yang melepas ciuman, mencari udara dari luar. Bibir Sasuke menganga, kecewa. Dia masih ingin berbagi nafas dengan bibir Sai. Ujung hidung Sai digesekkan ke hidung bangir Sasuke, menghibur kekecewaan sang bibir. Bibir indah itupun mengatup, membiarkan hawa hangat beradu dari kedua hidung itu.
Dia menatap sepasang bola mata hitam milik Sai, mencoba membaca apa yang dikatakannya. Tapi seperti wajahnya, kedua mata itupun tidak berkata apa-apa. Kata-kata hanya milik bibirnya semata.
"Kau sudah punya rencana, Sasuke?"
"Hm?" reaksi Sasuke. Belum ada, sayang. Tapi kita tidak perlu buru-buru, kan? Katanya dalam hati.
Sai menegakkan tubuhnya, menjauh dari wajah Sasuke. Mata besar Sasuke mengikutinya dengan kecewa.
Seperti bisa membaca pikirannya, Sai kembali mendekati wajah Sasuke. Menatapnya lama, menimbang-nimbang. Entah apa yang berkecamuk di pikiran Sai, Sasuke tidak terlalu peduli. Dia lebih peduli pada wajah tampan dan mata hitamnya yang tak lepas memandangi dirinya. Dia sudah lupa pada belitan kuat di kedua pergelangan tangannya. Dia lupa pada sumpah serapah dan kutukan yang tadi disemburkan pikirannya pada pemuda itu. Dia hanya ingin Sai, lebih dari menginginkan siapa pun.
Kedua tangan Sai mengelus pelindung kepala berlambang Konoha di dahinya, menelusur lembut hingga ke simpul di belakang kepalanya. Pelan-pelan dia melepaskannya. Diciumnya lambang Konoha yang selalu melindungi dahinya setiap dia bertugas.
Ciuman yang begitu takzim dan dalam. Sasuke seketika iri pada lambang sialan itu.
Sai membalas rasa iri itu dengan tatapan lembut. Didekatinya ninja yang tak berdaya itu. Tak kalah takzim, diikatkannya pelindung kepala berlambang Konoha itu di dahi Sasuke.
Rasanya kosong.
Pernahkah dia merasa bangga mengenakan pelindung kepala itu? Dia berusaha mengingat kembali masa-masa itu. Tidak. Dia tidak pernah merasa bangga. Dia tidak pernah berjuang untuk mendapatkannya. Dia selalu menjadi yang terbaik. Yang terkuat. Yang paling dikagumi. Segalanya terlalu mudah di Konoha.
Kecuali saat meninggalkannya. Mencoret lambang itu ternyata jauh lebih sulit daripada menghadapi ninja sekuat apa pun. Lebih sulit daripada melupakan rekaman pembantaian yang ditanamkan Itachi di otaknya. Lebih sulit daripada melawan Segel Gaib Orochimaru yang menyedot kekuatannya, dan nyaris menggerus kebanggaannya sebagai seorang Uchiha. Lebih sulit daripada…
Kecupan lembut membuyarkan lamunannya. Dia tersentak. Matanya melihat bibir dan tubuh si pengecup pelahan menjauh dari wajahnya.
Jangan pergi.
Ujung jari-jari Sai mengelus lembut dadanya. Menghiburnya.
"Kita harus segera bikin rencana," kata Sai sambil menempelkan kedua telapak tangannya ke dada Sasuke, "…untuk…" turun ke perut, "…keluar…" turun lagi menyusuri selangkangan, "…dari…" dan berhenti di, "…sini," anus.
Sasuke kembali tersentak. "Apa-apaan ini, Sai?" katanya dalam hati.
"Tampaknya pertahanan di sini," jari-jari pucat Sai membelai daerah itu, "sangat kuat."
Sasuke merintih pelan. Kedua tangannya mengepal, menahan sensasi yang menerobos masuk.
"Bantu aku, Sasuke," kata Sai, memohon. Satu telunjuknya menelusuri lingkaran mungil di tubuh bawah Sasuke itu. "Seperti apa pertahanan Orochimaru?"
Sasuke masih merintih. Kenapa aku mesti kau bebani dengan pertanyaan tololmu itu, Sai? Jeritnya dalam hati.
Jari telunjuk Sai yang satu lagi menggambar peta di tubuh bagian bawah Sasuke. Dia menggambar panah imajiner menuju ke lubang kecil itu. "Aku bisa masuk ke sini dengan mudah," katanya. "Tapi untuk membawamu pergi dari sini," giliran jari telunjuk satunya menggambar panah imajiner yang menjauhi lubang kecil yang sensitif itu, "… itu sulit."
Rintihan Sasuke makin pedih terdengar.
Sai nampak berpikir keras.
"Ada berapa ninja yang menjagamu, Sasuke?" tanya Sai. Sepuluh jari Sai dibentangkan menutupi lubang mungil yang tadi dibelainya.
"Yang aku tahu, di sini cuma ada tiga ninja," kata Sai sambil mengatupkan tujuh jari lainnya. Tinggal tiga jari mengelilingi lubang itu. Lalu dia menghitung. "Satu, Orochimaru," satu jari masuk ke lubang itu, "… dua, Kabuto," jari kedua masuk, "… dan tiga, kau sendiri," dan jari ketiga, "…Sasuke," masuk.
Sasuke mengerang tertahan. Kuku-kukunya dibenamkan kuat-kuat ke telapak tangannya. Menusuk tanpa ampun.
"Apa, Sasuke? Apa itu artinya perkiraanku benar?" tanya Sai lirih. Tiga jari yang telah masuk ke tubuh lain itu diputar pelan.
"Sa… sa-kit," kata Sasuke, lirih. Sai harus mencondongkan badan agar telinganya menangkap kata itu dengan jelas.
"Sakit? Oh, maaf. Maaf seribu maaf, Sasuke," kata Sai lembut. Tapi ketiga jarinya tampaknya tidak meminta maaf. Jari-jari itu tetap bergerak, berputar seperti jangka.
"Kau harus tahan, Sasuke. Mungkin kau belum tahu, ANBU punya cara sendiri untuk menyambut pengkhianat yang pulang. Singkatnya, cara yang…" Sai nampak berpikir,mencari kata yang tepat. Jari-jari Sai berhenti, memberi kesempatan tuannya untuk berpikir, "…menyakitkan." Ketiga jarinya seolah lega. Mereka melanjutkan aktivitas yang sedikit terhenti tadi.
"Dan mereka pasti sudah punya rencana untuk menyambutmu, Uchiha Sasuke."
Sasuke lagi-lagi merintih pelan. Kuku-kuku yang menusuk telapak tangannya sendiri kini ternoda oleh titik-titik darah. Mengerang? Pantang dia menunjukkan kesakitan.
"Sakit yang ini belum seberapa, Sasuke."
Sasuke menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Kalau sampai ada darahnya menetes, itu pasti karena gigi dan kukunya sendiri. Karena dia harus menahan sakit yang luar biasa.
"Anggap saja perhitunganku benar. Hanya ada 3 ninja yang tersisa. Tiga ninja yang kuat, pasti."
Sasuke tidak menjawab. Siksaan di anusnya belum juga berakhir. Sakitnya belum berkurang. Tapi kini dia merasakan hal aneh yang datang merayap bersama rasa sakit itu.
Seperti inikah siksaan yang menyambutnya nanti di Konoha? Siapa yang akan melakukannya nanti? Sai? Kembali ke Konoha tampaknya bukan pilihan jelek juga, katanya dalam hati.
"Tapi setiap orang pasti punya kelemahan, kan?"
Dia merasakan gerakan jari-jari Sai melambat kini. Sasuke menyeringai. Siksaan yang ringan, katanya dalam hati, mengejek.
"Kita mulai dari Kabuto. Apa kelemahannya?"
Dia merasa hanya satu jari yang bergerak di bawah sana. Kali ini gerakannya lebih cepat dari gerakan ketiga jari tadi. Sialan, kutuknya dalam hati. Tak tahan, Sasuke mengerang. Dia berharap hal itu membuat Sai sedikit mengampuninya.
Tak mempan. Jari itu bergerak semakin cepat diburu waktu.
Terpaksa dia harus bicara.
"Ka…ca… ahhh! Ma… ohhh… ta."
Satu jari nakal itu pun dikeluarkan.
"Oke. Kacamata. Itu tidak terlalu sulit. Kita bisa atasi itu kan, Sasuke?"
Sasuke merasakan jari-jari di bawah sana mulai bergerak lagi. Pelan, seperti membelai.
"Hmmm… lalu bagaimana dengan Orochimaru?"
Lagi-lagi ada satu jari yang bergerak cepat dan liar. Lebih cepat dan lebih liar. Dua kali lebih sakit daripada yang terakhir.
"Apa kelemahannya?"
Sasuke memaksakan matanya tetap terbuka. Dia menoleh ke wajah penyiksanya yang duduk tenang menghadapi kedua kakinya yang terbuka.
Wajah itu masih tidak menunjukkan ekspresi. Satu tangan diletakkan di atas paha untuk menopang dagunya. Tangan yang lain sedang sibuk. Dari sisi itu dia lebih mirip orang yang sedang memutar koin di meja dengan bosan.
Kurang ajar kau, Sai, kutuknya dalam hati. Kutukan yang hampir sama dengan yang sudah-sudah. Nampaknya dia harus mencari kosa kata baru karena dia sudah kehabisan sumpah serapah buat ANBU keparat itu.
Tinggal satu hal yang bisa dilakukan Sasuke untuk menghentikan siksaan itu.
"Apa kelemahan Oro---"
"Aku," jawab Sasuke.
Seketika itu juga, dia merasakan jari-jari itu hilang dari bagian bawah tubuhnya. Dia bisa bernafas lega sekarang.
Kesimpulan yang tergesa-gesa, Sasuke.
Benda lain menggantikan tugas jari-jari itu. Benda yang lebih tebal, keras dan … panjang. Sasuke tahu persis itu benda apa.
Sakit? Tentu saja. Tapi bukan itu yang terlintas di pikiran Sasuke saat merasakan benda itu masuk seutuhnya ke dalam tubuh bagian bawah sana.
"Kau kira kau bisa masuk dan mengambil tubuhku, Orochimaru? Kau salah besar, bajingan tua bangka! Sai yang masuk ke tubuhku. Sai yang mengambil tubuhku!" soraknya dalam hati.
Kini sesakit apapun, dia akan tersenyum.
---- bagian TIGA selesai ---
(oh, Sasuke. kau belum tahu ya, kalo dimasuki Orochimaru itu jauuuh lebih 'amazing'?^^)
jaaaaah. nista sangad, kan?
ternyata masih ada aja orang yang memilih menistakan diri utk membaca dan meripyu fic saya ini: Yoshizawa Sayuri, TsukiShiro , Shireishou, MixMiu cHichiCui RokawaZu, Chatryne Bhrysaisz, Black-Holic, Charlotte.d'Cauchemar, Lady Bellatrix, lovely lucifer, kagehime07, Chika Nagato Hoshiyama, Kaoru, Sefa-sama, Wolfie Cielshitsuji, dan yg jelas Ero Queen...makasih buat teman-teman semua yang telah meluangkan waktu buat mengakui kenistaan diri kalian dalam lembah nista saya^^
buat yg masih tega menistakan diri, klik tombol di bawah, tuliskan uneg2, kritik, flame, caci maki, pujian -dilempar bakiak- atau usul demi kenistaan chapter selanjutnya...
(gak ngaruh ding, orang plot-nya dah nempel di hardisk saya :p)
spoiler: chapter selanjutnya "SINKRONISASI"
