Disclaimer: Masashi Kishimoto (dan Konohamaru^^)
Warning!
Yaoi. Lemon. OOC.
bagi yang belum cukup umur, risih dengan satu atau lebih dari unsur di atas, silakan klik fic lain yang lebih beradab. Misalnya, Benih. atau Dua Dunia, Satu Jiwa. atau Tariku, Kisah Hidupku. atau Forced Bonds.^^
Warning! khusus bagi yang telah menistakan diri di tiga bab sebelumnya dan yang berjiwa lebih nista:
kalau Anda mengharapkan lemon yg HARD CORE, saya mohon maaf karena mengecewakan Anda.
silakan browse fic rate-M lain dan tetaplah menghormati kenistaan saya.
(dari bagian TIGA)
Benda lain menggantikan tugas jari-jari itu. Benda yang lebih tebal, keras dan … panjang. Sasuke tahu persis itu benda apa.
Sakit? Tentu saja. Tapi bukan itu yang terlintas di pikiran Sasuke saat merasakan benda itu masuk seutuhnya ke dalam tubuh bagian bawah sana.
"Kau kira kau bisa masuk dan mengambil tubuhku, Orochimaru? Kau salah besar, bajingan tua bangka! Sai yang masuk ke tubuhku. Sai yang mengambil tubuhku!" soraknya dalam hati.
Kini sesakit apapun, dia akan tersenyum.
.
NEGOSIASI
By: Konohafled
.
Bagian EMPAT: SINKRONISASI
.
Dia menatap wajah pemuda yang sedang memasuki tubuhnya itu. Tidak ada perubahan selain satu dua titik keringat menelusuri pipi putih pucat itu, pertanda bahwa dia sedang mengeluarkan tenaga ekstra. Ekspresi tidak juga hadir di sana. Bahkan senyum palsu yang menjadi tameng atas serangan emosi pun mangkir.
Apakah dia seorang mesin? Setidaknya dia perlu sesekali memejamkan mata atau menggeretakkan gigi, kan? Apakah dia tidak sekejap pun merasa lelah? Dari manakah tenaga sekuat itu? Adakah manusia yang sekuat itu?
"Kalaupun dia mesin, aku akan memakainya setiap hari," batin Sasuke.
"Sai?"
"Ya?"
Bisakah mesin menjawab saat sedang bekerja seperti ini? Siapa pun penggagas mesin, atau manusia, atau ninja, atau ANBU, atau apalah sebutan untuk si pengebor tubuhnya itu, pasti cerdas. Konoha ternyata desa hebat. Kenapa dia tidak pernah ketemu yang seperti ini sewaktu dia masih berkeliaran di Konoha?
"Sai?"
"Apa Sasuke?"
"Kenapa kita baru bertemu sekarang?" kata Sasuke dalam hati. "Ke mana saja kau? Dulu, waktu aku masih di Konoha?"
Tapi yang keluar dari mulutnya adalah, "Sai… Sai… Sai…" dan "Saaaai…"
Kata itu kini terdengar seperti mantera. Setidaknya bagi Sasuke. Semakin sering kata itu disebut, semakin banyak yang diberikan Sai. Semakin dalamlah dia menikam Sasuke. Semakin cepat pula dia memikat Uchiha termuda yang tersisa itu. Sakit dan nikmat berbaur di tubuhnya. Otaknya tidak lagi bisa membedakan keduanya, apalagi menolaknya. Semua direngkuh sepenuhnya.
Dia bahkan tak sadar kapan ikatan di kakinya dilepas. Toh, itu tak menambah tingkat dominasinya barang secuil pun. Apalagi dia sudah tidak berminat melawan kenikmatan yang diberikan Sai. Dia kini ingin membalasnya dengan penuh kasih.
"Sai… Sai… Sai…"
Hanya kata itu yang diucapkan Sasuke. Tidak banyak tambahan lain. Hanya desahan, sedikit erangan, dan kadang-kadang intonasi yang melambat. Tidak ada improvisasi, tidak ada liukan nada yang mengejutkan dan menjungkir-balikkan logika melodi. Hanya ada ritme yang mudah dicerna. Monoton dan gampang diduga. Ini bukan jazz atau progressive rock. Ini tidak lebih dari lagu sederhana yang digubah pencipta lagu yang malas dan miskin imajinasi. Tapi entah mengapa, Sai nampak menyukainya. Kedua mata hitamnya setengah terpejam menikmati musik yang dialunkan Sasuke. Hanya getaran pita suara yang ditawarkan murid kesayangan Orochimaru itu. Hanya itu. Tapi itu saja cukup membuai, membawanya semakin dalam masuk, menyatu dengan Sasuke.
Pita suara manusia adalah instrumen musik yang tak tergantikan!
"Sai… aku ingin… menyentuh…mu," Sasuke tiba-tiba mengubah ritme. Melantunkan improvisasi yang sumbang.
Sai berhenti. Kedua matanya menatap bibir yang berkhianat itu. Perlukah dia memaafkan gangguan nada itu?
Kedua telapak tangan Sasuke membuka, menampakkan lapar dan dahaga yang tak kasat mata.
"Biarkan… aku… menyentuh…mu." Gangguan nada Sasuke makin menjadi-jadi.
Cukup sudah. Gangguan ini tidak bisa dimaafkan!
Sai mencondongkan tubuhnya ke dada Sasuke. Satu tangannya menggenggam menara kejantanan Sasuke yang sedari tadi kembali mengeras. Diusapkannya organ itu ke perutnya sendiri, pelan dan lembut. Selembut tatapan matanya.
Kedua tangan Sasuke memprotes keras. Apa salah kami sampai kami tidak dilibatkan sedikitpun dalam permainan indah ini? Kenapa dia terus yang kau sentuh, Sai? Kami juga bisa memberi lebih. Lepaskan kami, biarkan kami ikut.
Masa istirahat selesai. Sudah saatnya musik kembali dimainkan.
Sai kembali mengambil posisi. Kembali menghunjam dan menikam tubuh Sasuke, memanggil musik yang dirindukannya.
Berhasil. Sasuke menurut, mendendangkan musik yang membius pendengar dan pelantunnya sekaligus.
"Sai… Sai… Sai…"
Lagu kini memasuki bagian chorus.
"Sai… aku… cinta … kau."
Mata Sai yang terpejam seketika terbuka mendengar perubahan nada itu. Gerakannya pun terhenti. Lagu sederhana itu ikut terhenti sebelum sempat menyelesaikan chorus.
Sai lagi-lagi mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke senyum Sasuke.
"Aku cinta… kau, Sai," kata bibir yang tersenyum itu.
Sepasang mata menatapnya sayu. Sepasang mata yang lain mengharap kata-kata itu terdengar lagi seperti gema tak sempurna yang memelesetkan kata 'Sai' menjadi 'Sasuke'.
Sepasang bibir terbuka. Sepasang bibir lain mengharap bibir itu mengucap kata-kata yang sama. Atau menelannya dalam kecupan liar.
"Sasuke," sebuah kata lepas bibir itu. "Namaku bukan Sai."
Itu bukan kalimat yang diharapkan. Tapi toh tidak ada yang mengoreksi.
"Namaku sebenarnya adalah…" bibir itu mendekati wajah Sasuke, mengelus pipi, sisi hidung dan berhenti di dahinya yang tertutup lambang Konoha. Mengecupnya lembut. Lalu dia berpindah ke telinga Sasuke, membisikkan sebuah nama di sana.
Mata besar Sasuke terbelalak. Ketika bibir itu meninggalkan telinganya, kedua mata itu tetap terbelalak. Tak percaya pada apa yang dibisikkannya. Kedua mata itu tak berkedip menatap wajah si pembisik, berharap kata yang dibisikkan tadi salah.
Wajah si pembisik menjauhi wajahnya. Dua mata pemilik Sharingan itu tetap mengikutinya. Dua mata itu bersumpah tak akan terpejam. Sementara itu bibirnya mendadak bungkam.
--- bagian EMPAT selesai ---
hmmm... bagaimana? masih nistakah fic saya ini?
tak lupa saya ucapkan terima kasih buat rekan-rekan saya dalam kubangan nista:dilia shiraishi, Airi_uchiha, Gainsborough, Hiwatari Nana-chan.7ven, kagehime07, Sefa-sama, Wolfie Cielshitsuji, Chatryne Bhrysaisz, lovely lucifer, Lady Bellatrix dan Ero Queen. terima kasih telah menistakan diri dengan meluangkan waktu utk menulis review di saat Anda bisa melakukan hal-hal nista lain.
.
it's spoiler time...
chapter selanjutnya adalah SEPAKAT.
.
masih berminat menistakan diri? manfaatkan tombol di bawah ;)
