Disclaimer: Masashi Kishimoto (dan Konohamaru^^)
Warning!
bab ini mengandung Alternate Ending. bagi yang tidak suka, silakan ungkapkan di bagian review^^
sebelum dilanjut, saya mau ngucapin terimakasih buat yg udah menistakan diri di chapter 4:
Alluka Niero, kagehime-shirayuki, bloominpoppies, ShazaNamiKazeNa Mystica, .hAruHi-kAoRu., Lady Bellatrix, seorang_yang_ikut_nista, Mendy.d'LovelyLucifer, nakedSai-holic,
dan semua reviewer tercinta yg sudah menguatkan diri dan memberi input nista pada saya, yang dengan cueknya saya tetap melanjutkan fic ini dengan kecepatan kura-kura. terimakasih sudah menemani kenistaan saya selama ini. mohon maaf kalo selama ini saya cuek dengan request anda (misal, bikin yg lebih nista, kurang hot, kurang pedes, dsb), karena senista-nistanya saya, yaoi bukanlah dunia saya. itu dunia para LELAKI. hehehe. saya hanyalah fujoshi yg hina dina. kalo saya teruskan, lama2 bisa lebih panjang dari fic aslinya nih :p so...
ON WITH THE STORY!
.
(dari bagian EMPAT)
"Namaku sebenarnya adalah…" bibir itu mendekati wajah Sasuke, mengelus pipi, sisi hidung dan berhenti di dahinya yang tertutup lambang Konoha. Mengecupnya lembut. Lalu dia berpindah ke telinga Sasuke, membisikkan sebuah nama di sana.
Mata besar Sasuke terbelalak. Ketika bibir itu meninggalkan telinganya, kedua mata itu tetap terbelalak. Tak percaya pada apa yang dibisikkannya. Kedua mata itu tak berkedip menatap wajah si pembisik, berharap kata yang dibisikkan tadi salah.
Wajah si pembisik menjauhi wajahnya. Dua mata pemilik Sharingan itu tetap mengikutinya. Dua mata itu bersumpah tak akan terpejam. Sementara itu bibirnya mendadak bungkam.
.
NEGOSIASI
By: Konohafled
.
Bagian LIMA: SEPAKAT
.
Si pembisik kehilangan musik yang tadi menemaninya. Tapi dia tidak lantas kehilangan akal, kan? Sembari melanjutkan aktivitas yang sempat terinterupsi, bibirnya tak putus-putus melantunkan lagu pengganti.
"Sasuke…. Sasuke… Sa…su…ke…"
Dan sesudahnya, hanya kata itu yang terus terdengar di antara desahan dan lenguhan. Terucap nyaris tanpa henti, seperti mantera yang kali ini entah untuk memanggil apa.
.
-------sasuke… sasuke… sa… su… kkee…-------
.
ANBU muda itu meletakkan tubuhnya di samping Sasuke. Keduanya sama-sama bermandi peluh.
Dia melihat lambang Konoha di dahi Sasuke. Tetap mengkilat dan hanya ternoda satu dua titik keringat. Berbeda dengan wajah di bawahnya. Rambut hitam legamnya menempel di kening. Titik-titik keringat berkilau di remang cahaya obor yang menerangi kamar itu, menambah ketampanannya sepuluh kali lipat. Sebuah tangan putih pucat mengusap butir-butir keringat itu dengan lembut.
Sasuke ingin mengucapkan satu kata cinta pada pemilik tangan itu. Bukan satu. Ribuan kata cinta pun mau dia ucapkan padanya. Entah apa sebenarnya arti kata itu, dia tidak peduli. Dia hanya ingin mengucapkan kata itu buat lelaki yang telah memberinya kenikmatan pertama dan terindah dalam hidupnya.
Tapi ketika teringat sebuah nama yang dibisikkan di telinganya tadi, bibirnya kembali terkatup. Kata cinta terbunuh sebelum sempat tumbuh.
ANBU muda itu memeluk tubuh Sasuke. Matanya terpejam, membiarkan jari-jarinya melihat keindahan Sasuke sepuasnya. Memanjakan hidungnya dengan aroma keringat mereka berdua. Bibirnya menyenandungkan lagu lembut, entah untuk meninabobokan siapa. Sasuke atau dia sendiri.
"Bukankah sudah saatnya ikatan di tanganku ini dilepaskan?" batin Sasuke.
ANBU muda itu menatap matanya.
"Apakah dia membaca pikiranku?" batin Sasuke.
.
-------
.
Dia menatap tubuh yang terbaring itu. Warna merah bekas ciuman dan pagutannya masih terlihat jelas di sana-sini. Dia masih ingat kapan dia meninggalkan bekas-bekas itu. Dia masih ingat bagaimana dia melakukannya. Dengan apa, dengan gigi yang mana. Dia ingat suara apa yang muncul karenanya.
Tapi dia tidak ingat rasanya.
Dia masih menatap tubuh telanjang itu. Putih dan mulus. Bekas-bekas pagutan justru menambah keindahannya. Menunjukkan betapa tubuh itu layak untuk diinginkan.
Tapi dia tidak ingat rasanya menginginkan.
Matanya belum lepas memandang tubuh itu. Ular tinta miliknya tidak lagi membelit tubuh itu. Hanya warna biru yang terlalu gelap tertinggal melingkari pergelangan tangan dan kakinya. Dan lehernya. Mata besar nan indah yang dulu memancarkan kekejaman Sharingan tertuju ke arahnya, meskipun tidak lagi memandangnya. Kulit halus yang menyembunyikan otot-otot kuat hasil latihan keras tampak semakin indah ditimpa cahaya obor yang hangat.
Tanpa gerak, tanpa suara, tanpa nafas, tanpa detak jantung. Hanya tinggal keindahan yang tersisa.
Tubuh itu telah tuntas berbagi keindahan bersamanya. Tugasnya telah selesai. Biarkan dia beristirahat dalam rengkuhan sisa malam.
Pemuda berseragam ANBU Root itu mengikatkan simpul tali pelindung kepala Konoha di belakang kepalanya. Membiarkan dahinya menyentuh logam yang telah terkena tetesan keringat pemuda yang tubuh indahnya berbaring di sana. Sekali lagi dia mengelus lambang Konoha di sana. Dia teringat lambang itu berada di dahi pemuda lain. Dia ingat lambang itu yang mengingatkannya untuk melakukan apa yang telah dilakukannya.
Tapi dia tidak ingat rasanya ketika melakukan itu.
Dia menggulung kertas gambar dan memasukkannya ke tas ransel bersama tinta dan buku kesayangannya. Dia menatap tubuh yang terbaring itu untuk terakhir kali. Pelan dan berat, dia mengucapkan dua kata, entah pada tubuh itu atau dirinya sendiri.
"Misi selesai."
.
---------
.
Danzou mengamati gambar di kertas itu. Raut jijik terlihat jelas di wajahnya. Padahal sketsa itu indah. Bentuk yang proporsional, komposisi seimbang dan sapuan tinta yang memperjelas arah cahaya dan lekuk tubuh elok si obyek gambar. Tubuh telanjang yang sempurna. Tanda merah bekas pagutan di sekujur tubuhnya tidak ditampakkan di sana. Sebagai gantinya pita cantik membungkus pergelangan tangan, kaki dan leher. Tubuh indah, wajah tampan dan pita cantik. Benar-benar kado sempurna buat Sang Komandan. Kecuali dua mata kosong tanpa jiwa di sana, keindahan yang dituangkan tinta chakra di kertas itu pantas disebut sempurna.
"Metodemu menjijikkan," komentar Danzou, "tapi efektif."
Yang dipuji tersenyum. Senyum yang mekanis seperti biasa.
"Kerja bagus. Sekarang kau boleh istirahat. Lusa kau harus melakukan misi penting."
"Baik, Danzou-sama."
Si ANBU muda membalikkan badan, lalu berjalan pulang menuju apartemennya. Namun baru beberapa langkah, dia berhenti dan berbalik.
"Danzou-sama?"
"Ada apa?"
"Engg… apakah setelah ini saya boleh tetap memakai nama Sai?"
Danzou memicingkan mata tuanya ke wajah muda di hadapannya.
"Buat apa?" semburnya. Tanpa menunggu jawaban, dia meneruskan, "namamu akan ditentukan nanti. Mengerti?"
Si ANBU muda mengangguk. "Ya, Danzou-sama."
Sambil berjalan pulang, dia menganalisa perasaan yang kini mengetuk-ngetuk dadanya. Perasaan yang asing, yang baru timbul setelah dia meninggalkan Danzou itu kini menggedor-gedor dadanya, menuntut pengakuan. Dia berusaha mengingat-ingat nama perasaan semacam itu. Namun sampai dia masuk ke kamarnya yang sebulan terakhir ini dihuni debu, dia belum pernah menemukan nama perasaan itu di buku manapun.
Mungkin upayanya kurang keras. Mungkin juga dia belum memasukkan perasaan itu dalam katalog emosinya. Mungkin dia memang harus dididik menjadi manusia, bukan mesin seperti ANBU Root lain. Karena dengan begitu, dia akan mengerti bahwa perasaan itu adalah: kecewa.
.
----- selesai ----
.
Ending ini adalah persembahan Konohafled untuk Orochimaru, Deidara, Itachi, dan … nama-nama lain akan menyusul, menunggu kekejaman Kishimoto-sama (lewat Sasuke) pada para penjahat tercinta.
TT_TT
.
sidang pembaca yang berbahagia,
ada bonus di chapter selanjutnya. atas nama kesatuan ANBU Root, saya akan sangat berterimakasih jika Anda sudi memberi tambahan masukan demi peningkatan kinerja ANBU Root di masa mendatang.
.
silakan kembali memanfaatkan tombol ajaib di bawah ini ^^
