Naruto © Masashi Kishimoto
OOC. AU. Minim deskrip.
S.O.S
Strawberry On The Shortcake
By:
Hiryuka Nishimori
Chapter 2
Sambil berucap dalam hati, 'Ini salahku! Ini salahku!' berulang kali, Sasuke semakin mempercepat lari kedua kakinya kearah gadis aneh bermata emerald. Hatinya semakin tidak karuan, seandainya saja dia mau tinggal sebentar bersama gadis itu, ia mungkin bisa mencegahnya melakukan permainan bodoh itu. Seandainya saja dia mau tinggal sebentar, mungkin hal ini tak akan terjadi.
Namun, alangkah terkejutnya Sasuke. Ia melihat gadis itu sekarang sedang dimarahi oleh seorang paman yang wajahnya sudah memerah menahan emosi yang meluap-luap. Dan anehnya, si gadis itu masih saja terkekeh-kekeh geli sambil meminta maaf.
"Apa yang kau lakukan, Nona Muda? Kau hampir saja merusak mobilku ini!" kata Paman pemilik mobil BMW yang memasang wajah sangar pada gadis itu. Ia terus-terus saja mengelus mobilnya, ia memperlakukan mobilnya dengan penuh sayang seolah-olah mobil itu adalah hewan peliharaannya.
"Hehehe... maaf, Paman!" jawab gadis itu sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sasuke sangat heran, kenapa ada gadis yang masih saja bisa tertawa saat dimarahi.
'Apa mungkin gadis ini mengalami gangguan kejiwaan?' pikirnya.
"Sepatuku ini sebenarnya tidak pas dengan kakiku! Nomornya terlalu besar. Jadi, ketika aku ingin menyeberang, sepatu ku ini terlepas dari kakiku! Maaf ya, Paman." lanjut gadis itu sambil membungkukkan badannya dan tidak ketinggalan sebuah senyum manis terukir di wajahnya.
"Ya sudahlah! Kau beruntung, Nona Muda! Kalau sampai mobilku ini tergores sedikit saja, kau harus menggantinya!" seru paman berperut buncit itu lagi sambil masuk ke dalam mobilnya dan langsung tancap gas meninggalkan gadis itu di pinggir jalan.
"Tentu saja, Paman! Hati-hati ya!" gadis itu melambai riang ke arah mobil paman itu, dan dia sepertinya tidak peduli apakah paman itu melihatnya atau tidak.
"Apa yang baru saja kau lakukan?" Sasuke memecah keheningan sambil mendelik curiga pada gadis berambut merah muda itu.
"Tidak ada! Aku hanya melempar sepatuku saja ke mobil itu," jawabnya dengan enteng.
"Melempar? Haah!! Aku kira kau benar-benar ingin bunuh diri!" kata Sasuke. "Kau tahu, bunyi sepatumu itu sangat keras! Beruntung sekali Paman tadi tidak menuntutmu!"
"Benarkah? Waaw!! Sesuai dengan perkiraan ku. Kau tahu, Sasuke? Aku itu tidak sebodoh dirimu. Permainan ini tidak asyik dimainkan sendirian. Aku tidak mau mayatku tidak ada yang mengurusnya," jawab gadis itu.
"Lantas, kenapa kau berbuat begitu?" tanya Sasuke dengan pandangan menyelidik.
"Seperti yang kau ketahui, aku ini berpikiran panjang, dan tadi itu aku menemukan sebuah ide," jawab gadis itu dengan santainya.
Sasuke kembali keheranan, "Ide?"
"Ya! Sebuah ide! Ide tentang bagaimana caranya kau tinggal di sini bersamaku dan mau bermain. Dan, ternyata ide melempar-sepatu-ke-mobil-lewat ini berhasil. Hahaha... perkiraanku memang selalu tepat!" katanya sambil tertawa riang.
"Haah! Dasar gadis aneh!" jawab Sasuke kesal.
"Berjanjilah padaku Sasuke, kalau kau mau bermain denganku!" gadis itu berkata sambil menunjuk-nunjuk wajah Sasuke.
Sasuke yang baru pertama kali diperlakukan seperti ini pun, hanya terdiam memandangi seorang gadis aneh di depannya, matanya memandangi mata gadis itu lekat-lekat dan tampak sekali ekspresi tidak percaya sekaligus takjub dengan keanehan gadis yang ada dihadapannya.
"Aku akan menghitung sampai tiga. Kalu kau tidak SEGERA menjawabnya, aku akan menganggap jawabanmu, YA! Dan, sekarang ini aku tidak akan main-main seperti tadi," kata gadis itu lagi yang secara terang-terangan menegaskan kata segera dan ya pada Sasuke, senyum manis yang biasanya terukir di wajah polosnya sekarang tidak ada lagi. Hanya ada ekspresi mengancam yang sangat serius terpetakan di wajahnya sekarang .
"1, 2, 3! YA! Aku sudah menduga kau akan menjawab ya, Sasuke! Seperti biasa, perkiraanku tepat. Hahaha..." gadis itu kembali tertawa dan bersorak dengan gembira.
"Hei! Kau curang! Mana mungkin aku sempat menjawab kalau kau menghitung begitu cepatnya!" kata Sasuke kesal.
"Itu resikomu sendiri! Kau tidak mengatakan syarat apapun tentang caraku menghitung," kata gadis itu enteng. "Kau sudah berjanji, Sasuke! Dan sekarang kau harus bermain denganku!" lanjut gadis itu sambil meraih tangan kiri Sasuke dan memutar tubuhnya menghadap ke jalan raya. Gadis itu menggenggam tangan itu dengan eratnya.
Aneh. Itulah kata pertama yang terlintas dipikiran Sasuke. Selain dengan ibunya, ia tidak pernah merasa nyaman bila di dekat wanita. Apalagi sekarang tangannya digenggam oleh seorang gadis asing aneh yang baru dikenalnya beberapa menit lalu.
"Ingat, Sasuke! Jika mobil truk yang lewat, maka kau harus melompat ke arah mobil itu. Tenang saja! Kalau beruntung, kau akan segera mati dan tidak perlu merasakan sakitnya terlalu lama," kata gadis itu sambil tersenyum.
Sasuke menaikkan sebelah alisnya memandangi gadis itu. "Oh! Tentu saja aku akan mengurus mayatmu!" sambung gadis itu lagi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sasuke.
'Apa-apaan gadis ini? Benar-benar aneh. Apakah dia seorang psikopat?' pikir Sasuke. Dia tak habis pikir, kesialan apa yang terjadi pada dirinya sehingga mengharuskan dia untuk bertemu dengan gadis ini.
Lima menit berlalu, namun tidak satu mobil pun yang lewat. Gadis bermantel merah strawberry di sebelah Sasuke masih saja menggenggam erat tangannya tanpa niat melepaskan dan dengan senyum cerah memandang ke arah kanan jalan raya menunggu mobil lewat.
Tiba-tiba, suara gemuruh khas mobil berukuran besar terdengar dari kejauhan. Gadis itu melonjak-lonjak kegirangan sambil menunjuk-nunjuk ujung jalan. "Itu dia! Itu dia! Mobil truk! Kau seorang lelaki bukan, Sasuke? Berarti kau harus berjalan tiga langkah saja ke tengah jalan saat mobil itu sampai di sana!" gadis itu kembali menerangkan peraturan permainan aneh dengan menunjuk sebuah ranting kecil yang berada di jalan raya itu.
"Apakah perlu aku membuktikan aku ini seorang lelaki atau bukan? Aku, Sasuke Uchiha tidak akan pernah melanggar janjiku," jawab Sasuke dengan tenangnya.
"Bagus itu!" kata gadis itu lagi.
Sasuke segera melepaskan genggaman tangan gadis itu. Ia maju perlahan dan mobil truk yang melaju kencang, dan tampaknya tidak akan sempat mengerem itu mengklakson berkali-kali.
'Suatu saat nanti, toh aku juga akan mati. Tidak ada salahnya untuk mempercepat waktunya. Maaf Ayah dan terima kasih atas semuanya. Ibu, aku akan segera menyusulmu,' pikir Sasuke. Mungkin alasan ingin bertemu dengan ibunya lah ia mau melakukan permainan tolol ini..
Suara klakson semakin keras, sasuke memejamkan kedua matanya. Tiba-tiba saja, tangannya ditarik. Namun, sayang karena tarikan yang begitu cepat itu kaca mata yang dikenakkan oleh Sasuke pecah dan langsung dilindas oleh truk tadi.
"Kenapa kau menarikku? Bukankah kau ingin aku mati?" tanya Sasuke marah.
"Sasuke... Sasuke," gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya seperti seseorang yang sudah bosan mengajarkan satu ditambah satu sama dengan dua kepada anak berusia lima tahun. Rambut merah jambunya bergoyang seirama dengan gerakan kepalanya. "Ternyata kau begitu bodoh. Aku tidak mau bertanggung jawab atas kematianmu. Ternyata kau memang benar-benar berniat bunuh diri, ya?"
"Aku tidak berniat. Bukankah permainan tololmu ini yang mengharuskan diriku sendiri menabrakkan diri?" tanya Sasuke dengan tatapan kosong.
"Ya... Hanya saja, aku tidak menyangka kau mau melakukan itu dan jangan menyangkal lagi kau tidak mau bunuh diri!" hardik gadis itu tiba-tiba. "Kalau kau tidak mau bunuh diri, kenapa kau mau melompat dari jembatan ini?" tanyanya lagi.
"Aku bukannya mau melompat. Aku hanya ingin melihat air sungai itu. Kau tahu, jika kau ingin melihat dengan jelas air sungai yang jernih, maka kau harus berdiri di atas jembatan ini," terang Sasuke.
"Huuft!! Dan, kenapa kau ingin mencuri buku tadi? Aku perhatikan, penampilanmu sepertinya bukan dari keluarga tidak mampu," kata gadis itu, tatapan matanya yang membunuh digantikan dengan tatapan lembut.
"Memang, tapi aku tidak punya cukup uang dan aku tidak mau meminta uang dari ayahku. Aku tidak mau menjadi anak yang kerjaannya cuma meminta uang dari ayahnya saja," jawab Sasuke dengan pandangan menerawang. Ia pun sebenarnya heran, kenapa mengatakan hal sebenarnya pada gadis aneh yang ada di sampingnya itu.
"Kau tahu, Sasuke? Ayahmu pasti sangat bangga terhadapmu. Memiliki anak yang pintar dan tampan. Yaa!! Kau memang sangat tampan!" kata gadis itu dengan cepat ketika diperhatikannya Sasuke ingin memotong perkataannya.
"Kau memang sangat tampan. Apalagi sekarang, ketika kau tidak mengenakkan kaca mata anehmu itu. Aku tidak bisa membayangkan kesedihan yang akan dialami ayahmu jika kau benar-benar mati. Kau seharusnya beruntung Sasuke! Kau masih punya ayah." Sekarang, pandangan gadis itulah yang menerawang, seakan-akan mengenang suatu kenangan pahit yang pernah dialaminya.
"Haah.. aku memakai kacamata itu untuk menghindari para gadis. Ohya, mengapa kau sangat peduli? Dan, siapa namamu?" tanya Sasuke.
I never knew I could hurt like this...
And everyday life goes on like...
I wish I could talk to you for awhile...
I wish I could find a way try not to cry...
"Hallo?" kata gadis itu ketika menjawab panggilan dari ponselnya.
"Ya, sebentar lagi aku akan ke sana," jawabnya lagi.
Sasuke menunggu sampai gadis itu menutup ponselnya. Pandangannya tertuju pada kacamata yang sudah remuk itu, tapi terlihat jelas bahwa pikirannya tidak tertuju ke kaca mata malangnya itu. Ia memikirkan perkataan gadis tadi tentang ayahnya. Ayah yang sangat mencintainya dan menyayanginya dengan sepenuh hati.
"Ohiya, Sasuke. Aku harus segera pergi! Sebaiknya kau pulang! Sampai jumpa. Bye.." gadis itu mengucapkan salam perpisahan sambil melambai dan langsung berbalik, berlari meninggalkan Sasuke.
'Haah.. gadis aneh, bahkan namanya pun aku tidak tahu.' pikir Sasuke. Ia memandangi tangan yang tadi digenggam erat oleh gadis itu. Sekarang, sebuah senyum tipis terpetakan di wajah tampannya.
-
-
-
-
-
-
891, merupakan nomor apartemen yang dihuni oleh Sasuke. Setelah ibunya meninggal dunia, ia hanya tinggal berdua saja dengan ayahnya. Ayahnya yang seorang pengusaha sukses dan sibuk jarang sekali berada di sana, tapi Sasuke tidak pernah mempermasalahkan hal ini. Ia mengerti akan kondisi dan posisi ayahnya di perusahaan. Apalagi, sekarang ayahnya menjalin hubungan dengan seorang wanita. Ia tidak tahu siapa wanita yang dikencani oleh ayahnya. Tetapi, yang ia tahu, ayahnya gembira bersama wanita itu, dan itu sudah cukup baginya.
Sasuke mengeluarkan sebuah kartu yang menyerupai kartu kredit bewarna perak dari saku seragam sekolahnya. Kemudian, ia menggesekkan kartu tersebut ke sebuah alat pendeteksi di samping pintu apatemennya, dan dengan perlahan pintu apartemen itu terbuka.
Alangkah terkejutnya Sasuke, ketika ia melihat ayahnya bersama seorang wanita paruh baya yang sepertinya seumuran dengan ayahnya dan beberapa koper besar mengelilinginya. Wajah wanita itu keibuan dan penuh kelembutan. Dengan rambut bewarna merah jambu dan bermata emerald, wanita itu mengingatkan Sasuke dengan gadis aneh yang ditemuinya tadi.
"Ahh.. Sasuke! Akhirnya kau pulang juga. Ayah sudah menelponmu berkali-kali, Nak!" kata ayah sasuke, Fugaku Uchiha.
"Maaf, Ayah. Aku sengaja me-nonaktif-kan ponselku," kata Sasuke.
"Sudahlah, tak apa-apa. Sebenarnya Ayah ingin mengatakan ini padamu. Ayah dan Ibu ini telah resmi menjadi suami istri dan mulai sekarang beliau akan menjadi ibumu. Dan, mulai sekarang juga beliau akan tinggal bersama kita, di rumah ini," kata Fugaku sambil memperkenalkan wanita itu pada Sasuke.
"Yui Haruno," kata wanita itu menyodorkan tangannya dan langsung disambut oleh Sasuke. "Maaf, Sasuke. Sebelumnya Ibu belum sempat berkenalan dengan mu. Ibu tahu ini sangat berat dan mengangetkanmu, Nak. Ibu minta maaf," wajah Yui Haruno penuh penyesalan.
Sasuke hanya mengangguk, antara sadar dan tidak sadar. Bayangkan saja, ketika kau baru pulang sekolah, tiba-tiba saja ayahmu memperkenalkan wanita asing sebagai ibumu. Tapi, ia tidak marah. Sungguh, ia tidak marah. Ia sangat senang akhirnya ayahnya tidak lagi bersedih dengan kematian ibunya. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum cerah menghiasi wajah ayahnya, dan ia pun bersyukur atas ini.
"Sakura!! Kau masih lama, Nak?" tanya Fugaku sedikit keras. Sasuke bingung, ayahnya berbicara dengan siapa dan siapa itu Sakura?
"Ya... aku sudah siap," kata seorang gadis yang baru keluar dari kamar mandi dengan senyum lebar yang Sasuke tahu adalah gadis aneh berambut merah muda dan melakukan permainan konyol dan tolol bersamanya siang tadi.
"Dan, ini Haruno Sakura. Dia adikmu," kata Fugaku menjelaskan.
"Selamat sore, Sasuke. Uhmm... maksudku Sasuke-nii! Aku janji akan menjadi adik yang baik dan manis untukmu," Sakura berkata sambil tersenyum manis. Semanis senyumnya yang biasa.
...TBC...
Hohoho...
Saya ngapdetnya cepet nih!!
;)
Tapi, maaf jadinya kaya naskah drama gini...
Pendeskripsian kurang dan typo di sana-sini...
Huhuhu...
T.T
Saya juga ga ngerti pikiran Sasuke itu sebenernya gimana...
Hehehe...
*author bego*
Special thanks:
Furu-pyon males log in:
YEAHH!! Bunda kembali, Nak!! Nih, udah di update!! *pelukcium*
Chiwe-SasuSaku:
*Ngebarin bendera Merah-Putih*. Chiwe-chan, buat sementara Cuma bisa ngapdet ini dulu. Gomen!! m(_._)m
Hehe:
ini udah di update? Lama ga updatenya?
Beby-chan:
Iya! Iya! Iya! Uhmm... gimana? Udah tahu kan gimana Sakuranya? Hehehe..
Awan Hitam:
Akhirnya dirimu review juga, Kak!! Hehehe... makasih, Kak. Sasukenya ga miskin lho! Pertanyaan Kakak udah bisa dijawab semuanya kan? ;)
TheIceBlossom:
Thanks lagi Ice-chan *???*. iya! Sakunya aneh banget! Ini udah di update!
ayui-chan181:
kalo sekarang udah dapet blom? Gomen, ceritanya emang gaje gini. Maklum, lagi stres. Hehehe. ;P. Buat pertanyaan Ayui-chan yang terakhir kayanya jawabannya ada di chapter depan deh! Baca terus ya! Sekalian review.. fufufu.. *ditabok*
kakkoi-chan:
hehe...
ini udah panjang belum ya?? ^^a
Review dong para reader yang baik..
;)
Hiryuka Nishimori
