Yak!
Tarik chapter 2!
Silahkan penikmat Sasuhina!
Disclaimer : Ya tuhan, berikanlah Naruto kepada Noel! (Ditimpuk pake death note sama Ligth Yagami yang mengaku sebagai tuhan) Ih, kok Noel ditimpuk! Noel kan nggak do'a ama Ligth!
Hinata telah melihat sebuah pemakaman ketika umurnya masih 4 tahun. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan. Makadari itu ketika ia memandang punggung Sakura Haruno yang berada di hadapannya ia mengerti bagaimana Sakura menahan dirinya untuk tidak menangis meraung dan mengamuk di tengah-tengah upacara pemakaman. Ia tahu Sakura sedang mencoba menjadi kuat. Ia tahu Sakura menyukai Sai.
Hinata telah lama tahu Sakura tidak lagi menyukai Sasuke.
Hinata telah lama tahu Sai telah menemukan arti perasaan 'cinta' bahkan sebelum ia menemukan pengertiannya di buku-buku yang ia baca.
Hinata telah lama tahu alasan Sakura menolak merawat Sasuke adalah karena bagaimana wajah Sasuke mengingatkan Sakura kepada Sai.
Hinata telah lama tahu sekarang Sai bukan lagi pengganti Sasuke di hati Sakura.
Dan Hinata merasa seperti orang bodoh karena tidak dapat melakukan apa-apa untuk sahabatnya itu. Sakura selama ini telah menjadi sosok kakak bagi Hinata. Kuat, pemberani, cantik, panutan. Hinata selalu dilindungi oleh Sakura.
Tapi sekarang Sakura sedang berduka.
Hinata tahu apa yang sedang dirasakan Sakura. Tapi Hinata tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tidak pernah ada yang mengajarinya cara menghibur. Hinata selalu sendirian saat berduka, tidak ada yang menghiburnya.
Jadi yang dapat Hinata lakukan sekarang adalah menangis. Menangis menggantikan Sakura yang sedang menggigit bibirnya. Menangis dengan keras sampai-sampai semua orang melihat ke arah Hinata, begitu pula Sakura....
Sakura yang selama ini selalu menganggap Hinata adiknya pun menghampiri Hinata dan memeluknya. "Ada apa Hina-chan?". Tanya Sakura. Hinata tidak menjawab, ia hanya menangis. Tidak ada yang pernah melihat Hinata sebegini emosionalnya, sebegini sedihnya, pada kenyataannya ia pernah lebih sedih. Sayangnya, tidak ada yang melihatnya.
"Ada apa Hina-chan? Ceritalah kepadaku". Sakura mengelus punggung Hinata.
Hinata balas memeluk Sakura dengan erat. Ia berusaha menghentikan tangisnya, tapi air mata tidak mau berhenti mengalir ke pipinya. "A-aku, hik, menangis ka-karena, hik, Sa-sakura-chan",
"Kenapa kau menangis karena aku? Apa aku membuatmu sedih?". Tanya Sakura khawatir telah melakukan sesuatu yang salah. "Ti-tidak.. ta-tapi Sa-sakura-chan.. ka-kau menahan se-semuanya. Ka-kau ti-tidak menangis, pa-padahal a-aku tahu... di-diantara kami, hik, ka-kaulah yang pa-paling i-ingin me-menangis, hik".
Sakura terdiam, tubuhnya menegang. Hinata menangis karena dirinya. Makhluk kecil ini menangis karena dia. Hinata terlalu sensitif, ia langsung tahu bagaimana perasaan Sakura. Ia langsung menangis ketika Sakura menahan tangis. Sakura melepaskan pelukannya dan memandang wajah Hinata. Air mata itu untuk Sakura, untuk Sakura yang menahan untuk menangisi Sai.
Lalu Sakura pun merasa bodoh.
Ia membuat sahabatnya menangis....
"Sa-sakura-chan, me-menangislah... Ka-kau tidak perlu me-menahannya...".Kata Hinata memandang lurus ke arah mata zamrud Sakura. Karena Hinata tahu bagaimana rasanya. Menangis itu menyakitkan, menangis itu perih, tapi menahannya menyesakkan. Membuatmu susah bernafas. Hinata bertahun-tahun belajar akan itu. Dan ia tidak ingin Sakura mulai mempelajarinya juga.
Tidak sahabatnya....
"Hi-hina-chan... Ke-kenapa Sai? Kenapa dia?! Aku telah belajar mencintainya! Padahal aku telah mengisi hatiku untuknya...",
Hinata hanya memeluk Sakura yang saat itu mulai menangis. Di tengah pemakaman Sai semua berkumpul, mengucapkan do'a dan mengenang jasanya... dan dua gadis kecil menangis disana.
Yang satu menangis karena cinta.
Yang satu menangis karena duka.
Tapi yang manapun mampu mengiris hati langit yang mulai mengeluarkan air matanya....
Sasuke menatap pintu yang ada dihadapannya. Ia tidak bergerak, ia bahkan kesulitan bernafas. Ia menatap gagang pintu itu dan tubuhnya hanya membeku. Di balik pintu ini terbaring kakaknya. Terbaring Itachi Uchiha.
Sasuke mebulatkan tekadnya.
'Aku adalah Sasuke Uchiha, aku tidak boleh takut hanya karena ini! Bahkan Hyuuga menyedihkan saja bisa melakukannya'.
Dengan satu tarikan nafas, Sasuke memutar gagang pintu itu dan membukanya.
Itachi terbaring disana, nafasnya berirama, ia tak bergerak.
Tapi Sasuke tahu... Itachi tidak tertidur.
"Bangun, jangan berpura-pura". Sasuke memecah keheningan. Itachi hanya diam, namun kali ini nafas teraturnya tak terdengar. Itachi bergerak dan duduk, tidak membuka matanya. "Kenapa kau tahu aku tidak bisa tidur?". Tanya Itachi tenang. "Tidurmu terlalu tenang".
Sasuke tahu, Itachi tidak akan tertidur sedamai itu. Sasuke yang selama ini hanya melihat keluarganya mati saja setiap malam harus bertemu dengan mimpi buruk. Apalagi Itachi yang membunuh mereka...
Maksudnya, Sasuke sebagai saksi saja dihantui ketakutan.
Apalagi tersangka...?
Tapi tunggu dulu, Itachi bukan tersangka, Itachi korban.
"Ada apa kau tiba-tiba datang kesini?". Itachi tidak juga membuka matanya. "A, aku...". Sasuke terbata. Ia tak tahu bagaimana melakukannya. Ia tak bisa, kata itu tersangkut, tak bisa keluar. "A, aku... aku telah memandangmu sebagai pembunuh secara bertahun-tahun...".
Sasuke tercekat tapi melanjutkan kata-katanya.
"Aku tidak membuka mataku dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada malam itu."
Kini ia kesulitan untuk tidak berbalik dan lari dari tempat itu.
"Aku malah menyerangmu dan membuatmu hampir mati...".
Itachi hanya diam dan tetap memejamkan matanya.
"Aku telah membahayakan diriku dengan bergabung dengan Orochimaru... Aku telah merepotkanmun...".
Sasuke terperanjat. Itachi membuka matanya.
"Aku....".
Itachi menatap ke arah Sasuke.
"Aku....".
Itachi tidak berkedip.
"Maaf". Sasuke terdiam. Ia benar-benar terdiam.
"Maafkan aku telah membuatmu menderita selama ini". Kata-kata maaf itu bukan terlontar dari Sasuke. Kata itu diucapkan oleh Itachi. "Aku minta maaf".
Sasuke menatap Itachi nanar. Ia terkejut, namun emosi lain langsung menerjangnya. Ia marah, ia takut, ia bingung. "Kau tidak seharusnya mengatakan itu!". Sasuke berteriak. "Akulah yang bersalah! Kau tidak seharusnya mengatakan hal itu!". Itachi tetap diam.
"Aku, akulah yang seharusnya mengatakan kata itu...". Suara Sasuke mulai tercekat.
"Kata apa Sasuke?". Itachi berkata dingin. "Kata apa yang mau kau katakan?". Sasuke menatap Itachi yang tengah menatapnya. "Aku... Kata itu...".
"Kata apa?".
Tidak ada jawaban... Sasuke terdiam, kehilangan kata-kata.
"Kau masih lemah Sasuke".
Masih tidak ada jawaban, tapi Sasuke mengepal tangannya kuat-kuat.
"Kau lemah... Kau tidak bisa mengatakan kata 'maaf' karena kau lemah".
Itachi mengalihkan matanya ke arah pemandangan di luar jendela. "Pergilah, kembali jika kau telah dapat mengatakannya...".
Sasuke telah menghilang....
Hinata masuk ke dalam ruangan Sasuke dan mendapati sang Uchiha masih tidur di atas tempat tidurnya. Ia menaruh bawaannya berupa sekantung penuh tomat segar. Hinata duduk di samping Sasuke dan memandangi Sasuke.
Kulitnya bertambah pucat, kantung matanya bertambah banyak dan menghitam, tubuhnya bertambah kurus semenjak pertama kali mereka bertemu.
Kesimpulan, Sasuke Uchiha menghabiskan seminggu di rumah sakit dengan gaya hidup yang benar-benar tidak sehat.
"Apa yang kau bawa?".
Hinata tersentak. Ternyata Sasuke tidak tidur. Matanya memang menutup tapi ia tidak tidur. Hinata mengambil salah satu tomat dan memamerkannya kepada Sasuke. Sayangnya Sasuke memejamkan matanya.
"Dari baunya itu tomat, ya?". Hinata takjub, Sasuke Uchiha sangat peka dalam urusan tomat. "Potongkan untukku". Hinata mengangguk dan memotongkan Sasuke tomat yang sedang dipegangnya.
"Sebenarnya aku lebih suka memakannya tanpa dipotong, tapi itu akan membuatnya berceceran. Aku sangat benci kalau tomat itu berceceran. Apalagi di tempat aku tidur". Sasuke berkata sambil tetap memejamkan matanya. Hinata terdiam, ia tak bergerak, tumben sekali Sasuke meceritakan tentang sesuatu yang bersifat pribadi tentang dirinya.
"Aku ingat waktu aku kecil aku suka memakannya bersama kakak diam-diam sebelum makan malam". Sasuke berkata lagi sambil setengah (setengah!) tersenyum. Hinata sekarang benar-benar curiga. Pertama Sasuke membicarakan soal masa lalunya, kedua ia meyebut-nyebut kakaknya dan ketiga ia setengah (setengah!) tersenyum.
'Pasti kelamaan di rumah sakit membuat kepalanya terganggu'. Batin Hinata.
"......Kalau ketahuan ibu akan memarahi kami karena setelah makan tomat aku tidak punya selera makan. Ayah biasanya hanya berkata 'hn' atau 'sudah' . Yah, kalau dipikir-pikir sekarang ibu melakukannya untuk kebaikanku dan kakakku. Beliau hanya ingin kami memiliki pola makan yang sehat". Katanya lagi.
Sekarang Hinata mulai menyadari ini benar-benar aneh.
Sasuke Uchiha berbicara terlalu banyak! Hinata mengernyitkan dahinya dan menatap Sasuke yang masih tertutup.
"Ah". Hinata menyadari sesuatu.
"Uchiha-san". Hinata memanggil Sasuke pelan. Sasuke hanya diam. "Buka matamu". Sasuke bergeming, ia tetap menutup kedua kelopak matanya. "Uchiha-san, buka matamu". Hinata mengulangi kata-katanya sekarang.
Sasuke terus diam. Hinata, dengan paksa, memegang wajah Sasuke dan memutar kepalanya ke arah dirinya. "Buka matamu!". Katanya sedikit membentak. Sasuke tetap diam. "Buka kataku!". Sasuke tetap tidak berkata apa-apa. "Aku bilang buka!". Hinata kehilangan kesabaran.
"Buka, kau penakut!".
Sasuke segera membuka matanya ketika Hinata berkata 'penakut'. Tapi ia menyesali perbuatannya. Ia memandang matanya menatap balik dirinya dari sepasang mata lavender pucat. Sasuke melihat, mata hitamnya berkaca-kaca.
Ia ingin menangis. Tapi gadis ini pasti tertawa kalau ia menangis disini.
Tidak ada laki-laki yang menangis. Apalagi laki-laki Uchiha.
Tidak.
Sasuke menolak.
Tapi tiba-tiba Hinata memeluknya. Hinata sekali lagi memeluk Sasuke. Tapi bukan hanya itu yang membuat Sasuke terkejut. Selain peluk Sasuke merasakan dan mendengar sesuatu. Sasuke merasa pundaknya basah dan ia mendengar isak. Tidak dapat diragukan lagi itu adalah isak tangis Hinata. Hinata Hyuuga memeluk Sasuke dan menangis!
"Ke, kenapa kau menangis?". Sasuke bertanya heran.
Hinata mengeratkan pelukannya. Sasuke canggung. Bukannya ia merasa tidak nyaman, sejujurnya ia malah merasa sangat amat nyaman. Tapi Sasuke bingung, tangannya ini mau ditaruh dimana? Sasuke merasa kecil kalau tidak memeluk balik Hinata. Tapi ia tidak bisa memeluk Hinata. Ia terlalu canggung.
"M-menangislah". Hinata berkata pelan.
Sasuke terkejut. Tidak pernah ada yang berkata seperti itu kepadanya. Mendengar kata-kata itu membuat Sasuke merasa sedikit aneh, apalgi kata itu keluar dari bibir Hinata. Tapi Sasuke tidak menangis. Tidak akan.
"Tidak". Katanya tegas.
Isak Hinata terdengar makin jelas. "K-kalau kau ta-tak ma-mau... A-aku akan me-menggantikanmu". Katanya lembut. Sasuke hanya diam, menikmati hangat tubuh Hinata, menikmati suara isak lembut Hinata, menikmati setiap tetes air mata yang membasahi punggungnya.
Malam itu Hinata tertidur di rumah sakit. Sambil memeluk Sasuke Uchiha. Menangis mewakili Sasuke Uchiha.
Malam itu Sasuke terus terjaga. Tidak bergerak ketika dipeluk Hinata Hyuuga. Tersenyum untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama.
Tapi dengung di kepala Sasuke terus menghantuinya.
Yak!
Maafkan Noel atas segala keanehan yang terjadi di dalam fic ini!
Review pliss!
