Noel is back!
Makasih banyak atas reviewnya! Noel seneng-seneng-seneng banget!
Maafkan keterlambatan Noel...
Noel sedang menghadapi UN yang telah dimajukan, tanpa peri kemanusiaan, oleh orang-orang syirik yang susah banget buat para peserta ujian seneng. Ntar kalo Noel jadi MenDikNas Noel pasti akan menghapuskan UN! Bwahahahahahahahahahaha, kacau dong negara ini kalo Noel jadi MenDikNas?
Disclaimer : Ya... Noel tahu semua ini hanya khayalan... Naruto punya Kishimoto-sensei
Sasuke menatap ruangan putih yang kosong. Hanya ada dirinya dan benda-benda mati, angin bertiup membelai tengkuknya, membelai pipinya, membelai rambutnya... Tapi tak satupun dari sentuhan itu yang terasa hangat... Semua itu terasa dingin.
Apa karena itu bukan sentuhan seorang manusia?
Sasuke menyentuh sisi kosong di tempat tidurnya. Hinata baru saja pergi dengan terburu-buru dan dengan wajah yang luar biasa merah ketika terbangun dan mendapati dirinya tertidur sambil memeluk Sasuke Uchiha. Sudut bibir Sasuke tertarik sedikit ke atas.
Sasuke telah tersenyum 2 kali hari ini.
Hanya karena seorang Hyuuga tidak berguna?
Sasuke mendengus dan menyentuh kepalanya, suara itu lagi... Dengung. Sejak Sasuke bertemu dengan Hinata dengung-dengung di kepalanya terdengar makin berisik dan jelas. Dengung yang berbeda, tidak berirama dan lebih kasar. Hampir tidak seperti dengung, terdengar berantakan seperti....
Beruang yang sedang berdansa?
Sasuke mengernyitkan dahinya, darimana pikiran itu datang? Sasuke menyenderkan kepalanya ke atas tumpukan bantal, sejak ia bertemu Sasuke pikirannya mulai kacau. Beruang yang sedang berdansa? Cih...
KREK
Sasuke manatap seorang gadis berambut merah muda dan bermata hijau yang sedang berdiri di depan pintu kamar rumah sakitnya. "Hai... Sasuke". Gadis itu berkata lirih. Sasuke terpaku di tempat tidurnya. Tidak dapat bergerak, hanya menatap gadis itu.
"Sakura...". Katanya lirih.
Gadis itu tersenyum, senyum yang menurut Sasuke tidak benar-benar ditunjukkan untuk menyapa ramah Sasuke. Sakura berjalan ke arah Sasuke dan duduk di samping tempat tidur Sasuke. "....". Keheningan menyelimuti mereka berdua. Tidak ada yang bergerak, terdengar nafas seirama.
Sasuke dan Sakura adalah sebuah puzzle yang melengkapi satu-sama lain.
"Apa kabarmu?". Tanya Sakura memecah keheningan. "Baik". Jawab Sasuke, "bagaimana Naruto?". Sakura sekali lagi tersenyum pahit, "...baik...". Ia melayangkan mata hijaunya ke seberang ruangan dimana sebuah vas yang dihiasi bunga lavender berdiri diam di atas meja mungil di dekat jendela. "Hinata?". Sakura tanpa sadar bertanya. Sasuke mengikuti arah mata Sakura, "oh, iya". Jawabnya singkat. "Aku kira Ino lah yang merawatmu". Sasuke menggeleng, "tidak". Sakura memperbaiki posisi duduknya. Sekali lagi sunyi menyelimuti ruangan itu.
Saat menatap mata Sasuke, Sakura tiba-tiba berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
"Selamat tinggal...". Katanya dengan suara yang bergetar.
-
-
Sebenarnya Hinata ingin mengurung dirinya seumur hidup di dalam kamar dan menolak bertemu dengan sang Uchiha muda. Namun, sayangnya, nona Hokage ke-5 menolak untuk memberhentikan Hinata dalam tugas merawat Sasuke karena 2 perawat Konoha sedang merawat pasien lain ; Sakura merawat Itachi dan Ino merawat Naruto.
Jadilah Hinata harus kembali ke ruangan yang menyesakkan ini dengan wajah semerah tomat dan melakukan pemeriksaan rutin terhadap Sasuke Uchiha. Dan ia menemukan, mood Sasuke semakin buruk setelah ia tinggalkan pagi tadi. Bahkan, walau Hinata telah membawa banyak tomat, moodnya tidak juga membaik.
"Hei, kenapa Sakura tidak mau menjadi perawatku dan malah memilih merawat Itachi?".
Sasuke yang tidak bisa membendung rasa ingin tahunya, akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal itu kepada gadis berambut indigo dihadapannya. Hinata yang sedang mengadakan pemeriksaan harian kepada Sasuke itu tiba-tiba membatu. Namun setelah itu Hinata melanjutkan pekerjaannya sambil terus membungkam mulutnya. Hinata tahu alasan mengapa Sakura tidak mau mengambil pekerjaan ini. Tentu saja hanya ada satu alasan...
Sai.
Kenapa Sai?
Sebenarnya Sasuke tidak pernah ambil andil dalam peristiwa kematian Sai. Orang yang membunuh Sai adalah Itachi. Lalu, kenapa Sakura malah tidak ingin merawat Sasuke dan malah memilih merawat pembunuh kekasihnya itu?
"Hei, jawab aku".
Hinata terus diam. Ia tak bisa mengatakan alasan yang sebenarnya, Sasuke manatap Hinata tajam, menunggu sebuah jawaban. Namun, Hinata tidak juga membuka mulutnya.
"Jawab aku!". Sasuke menggenggam lengan Hinata dengan sedikit kasar, membuat gadis itu meringis. Hinata menolak menatap mata Sasuke, atau pun memberikan jawaban. "Kau tidak dengar aku!? Jawab!". Hinata menggigit bibir bawahnya sambil menggeleng. "Jawab aku atau kutanyakan sendiri kepada Sakura". Ancamnya tajam, tentu saja Sasuke tahu kalau hal ini sangat sensitif, ia tahu Hinata tidak akan membiarkan dirinya menanyakan hal ini kepada Sakura.
PLAK
Sebuah tamparan mendarat ke pipi Sasuke.
"Jangan pernah berani! Kau mau dengar apa?! Kau mau dengar kalau betapa Sakura mencintai Sai? Betapa wajahmu itu mengingatkannya kepada Sai? Betapa ia merasa bersalah pernah mencintai lelaki lain selain Sai? Kalau.. dia... kalau... dia...". Tanpa sadar air matanya menetes disusul hembusan nafas yang mencekat.
"Kalau dia merasa takut akan jatuh cinta lagi kepadamu dan melupakan Sai? Begitu?! Kalau waktu itu Sai tidak ikut dalam misi penyelmatanmu itu ia tidak akan mati, tahu!".
Sasuke menatap Hinata dengan wajah yang dipenuhi keterkejutan. "Ini gara-gara sikap bodohmu, ini gara-gara keinginan bodohmu untuk balas dendam!". Hinata mengelap air mata yang menetes ke pipinya.
"Kenapa kau menangis?". Tanya Sasuke tajam. Hinata mencoba mengatur nafasnya, ia tidak menjawab dan malah menyelesaikan pekerjaannya. Mata hitam Sasuke terus mengwasi gerak-gerik Hinata. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu kamar.
"Karena kau tidak juga menyadari, betapa beruntung dirimu".
-
-
"Maafkan aku Hinata-sama". Suara berat seorang lelaki bermata pucat dengan rambut cokelat panjang menyelimuti ruangan temaram yang hanya diterangi dengan sebatang lilin. Hinata tersenyum kepada lelaki itu, "ini bukan kemauanmu, kak. Aku tahu kau tidak pernah menginginkan hal seperti ini. Ini salahku karena terlalu lemah". Katanya dengan nada lembut yang malahan membuat Neji semakin merasa bersalah. "Tapi Hinata-sama..".
"Tidak kak, sekarang aku adalah Hinata, bukan Hinata-sama".
Neji menelah ludahnya, ia tak bisa melakukan hal ini. Ia tak bisa melukai Hinata-samanya . "Tapi..". Hinata menggeleng, ia telah memutuskan untuk melakukan hal ini. Untuk kebanggaan klan, kebanggaan ayahnya, untuk Neji dan untuk Hanabi. Ia harus melakukan hal ini.
"Kakak!". Hanabi menerobos masuk ke dalam ruangan temaram itu dan memeluk Hinata erat. "Kakak tidak harus melakukannya, aku bisa menggantikan kakak, kakak tahu itu kan?". Hanabi memeluk kakaknya lebih erat. "Hana-chan, kau diperlukan dalam klan ini, kekuatanmu adalah senjata kita. Lagipula, ini adalah keputusanku". Hanabi menggeleng dan terus memeluk Hinata.
"Aku tidak akan mati, aku hanya akan diberi tanda".
Hanabi sesenggukan dan mulai menitikkan air matanya, "tidak kak! Aku tidak mau!". Hinata menggeleng lemah. Tiba-tiba ia melepaskan pelukan Hanabi, ia berdiri di depan mereka berdua dan berlutut.
"Hanabi-sama, Neji-sama, mulai dari sekarang aku akan mengabdi kepada kalian apapun taruhannya, nyawa sekalipun". Katanya tanpa keraguan. "Hinata-sama...". Hinata menatap Neji dengan tampang memohon, "tidak Neji-sama, sekarang aku hanya Hinata".
Tiba-tiba seorang lelaki tua dengan jenggot dan rambut putih memasuki ruangan itu. Wajah angkuhnya menyapu ruangan lalu berhenti di satu titik. Hinata. Dengan tatapan merendahkan ia berjalan melewati Hinata, diikuti dengan seorang lelaki setengah baya dan Hiashi Hyuuga. Hiashi mendaratkan pandangan kepada Hinata, 'maaf', seolah ia berkata.
"Nah, mari kita mulai upacaranya". Hinata menatap lelaki tua itu, "Hiashi". Hiashi mengangguk seolah mengerti, "baik sesepuh". Jawabnya. Hinata melihat ayahnya mendekat, "maaf". Katanya lirih.
Hinata tersenyum sebelum kesakitan yang luar biasa mengambil alih tubuh dan pikirannya. Bulan pucat menjadi saksi akan kesakitan yang datang menghampiri Hinata malam itu.
-
-
Sasuke mengernyitkan alisnya ketika mendapati bukan Hinata yang datang untuk mengeceknya pada keesokan harinya. Namun seorang gadis tak dikenal yang terus-terusan mengedip-ngedip genit kepadanya. Gadis jelek ini juga terus bicara tak karuan tentang betapa ganteng Sasuke dan membicarakan kejelekan beberapa gadis yang tidak dikenal Sasuke.
Ketika gadis itu pergi, Sasuke akhirnya dapat bernapas lega. Ia menatap vas bunga yang teronggok terlupakan di dekat jendela. Gadis itu tidak mengganti bunganya, ia menatap tempat buah yang kosong, gadis itu juga tidak membawa tomat.
Gadis itu bukan Hinata.
Angin masih terasa dingin, bahkan ketika gadis itu tadi menyentuhnya. Padahal ia manusia. Sasuke tiba-tiba merasa muak akan sesuatu. Rasanya ada sesuatu yang berontak keluar, ada sesuatu yang hilang dan membuatnya marah. Ia tidak yakin akan perasaannya sendiri.
"Sasuke".
Sasuke manatap siluet ramping muncul dari balik pintu putih kamarnya. Sakura datang sambil membawa buket bunga. Sasuke hanya diam sedangkan Sakura melangkah masuk menuju vas bunga. Sakura mengambil bunga lavender kering yang berada di vas.
"Letakkan itu kembali". Suara Sasuke serak dan berat terdengar terlalu kencang bahkan untuk Sasuke sendiri. "Tidak usah ganti bunga itu". Katanya lagi. Sakura meletakkan bunga lavender kering itu lalu duduk di dekat Sasuke sambil tersenyum. "Bagaimana kabarmu?". Tanya Sakura lembut. "Baik". Jawab Sasuke singkat. Sakura menyadari Sasuke tidak menatap matanya, "Hinata telah memberitahumu, ya?". Sasuke diam, terus menerawang keluar jendela.
"Dia memang gadis yang baik". Sakura tersenyum. "Dia kenapa?". Tanya Sasuke tiba-tiba. Sakura menatap Sasuke dengan wajah yang dipenuhi kebingungan. "Kenapa?". Ulangnya. "Ya, dia tidak datang hari ini". Katanya lagi. "Benarkah? Aneh sekali, Hinata tidak pernah tidak datang dalam merawat pasien sebelumnya".
Sasuke mengernyitkan dahinya.
"Hanya aku?". Tanya Sasuke kepada dirinya sendiri, tidak sadar kalau mengatakannya dengan suara yang terlalu besar. "Apa kau melakukan atau mengatakan sesuatu yang membuatnya marah?". Tanya Sakura sedikit khawatir. Sasuke terdiam, tentu saja, ya. Ia telah melakukan dan mengatakan sesuatu yang pasti membuatnya marah. Jauh ketika mereka pertama kali bertemu.
"Ya". Jawabnya hampir berbisik. Sakura meletakkan bunganya di samping tempat buah Sasuke lalu berdiri. "Hinata itu seperti bunga teratai". Katanya lembut. "Kau mungkin melihatnya terlihat rapuh, namun ia takkan semudah itu tenggelam atau terbawa arus". Sakura berjalan menjauh dari tempat tidur Sasuke.
"Dia kuat".
Kependekan ya?
Maaf ya kalau iya!
Review kalo masih pengen baca lanjutannya, kalo nggak..... ya......
