Hai!

Terima kasih atas reviewnya! Noel menerima segala bentuk review kok! Kritik juga bakal Noel terima, jadi jangan sungkan ^^

Maaf atas keterlambatan Noel dalam mengapdet! Soalnya TO mulu sih! Gimana mau ngelanjutin fic coba? Mana mesti tur keliling SMA, legalisir piagam dan lapor... Huwaa! Kenapa sistem pendidikan kita ribet amat sih!

Disclaimer : Pengennya sih Naruto punya Noel, tapi sayangnya bukan =_=


Hinata merintih sedikit ketika ia membuka matanya. Keningnya masih terasa perih. Ia ingin menangis, namun air matanya telah kering. Ia ingin berteriak, namun suaranya telah serak. Ia ingin meronta, namun ia terlalu letih untuk melakukannya. Ia sekarang berusaha membiasakan diri dengan keperihan keningnya.

Memang ayahnya telah memperingatinya, bahwa pemasangan tanda keluarga Hyuuga bagian bawah di atas umur 10 tahun akan terasa sangat sakit. Maka dari itu semua anggota keluarga bagian bawah dipasangkan tanda sebelum berumur 10 tahun.

Kening Hinata terasa berdenyut-denyut. Kalau saja bukan karena kontrol dirinya yang luar biasa, mungkin sekarang Hinata telah menghentakkan kepalanya ke dinding. Ia memandang sekeliling kamarnya, sekarang kamarnya bukan lagi kamar luas yang mewah, sekarang kamarnya hanya kamar sempit yang terpisah dari rumah utama.

Sekarang ia sendirian.

Shino dan Kiba jarang sekali mengontaknya. Mereka sedang sibuk dengan klan masing-masing karena mereka adalah pewaris klan. Hinata bukan, bukan lagi. Hinata ingin sekali menyalahkan seseorang atas penderitaannya ini. Tapi siapa yang bisa ia salahkan? Ayahnya? Hanabi? Neji? Sesepuh? Kiba? Shino?

Tidak ada, ini salahnya. Ini salah Hinata Hyuuga sendiri. Salahnyalah ia lemah, salahnyalah ia tak cukup kuat untuk menjadi pewaris klan. Namun, terkadang ia ingin menjadi egois. Ia ingin menyalahkan seseorang. Ia ingin dilihat seseorang, ia ingin dicintai seseorang.

Hinata ingin egois, tapi dengan siapa?

Ayahnya mencintainya, sama seperti ia mencintai Hanabi. Hanabi mencintainya, sama seperti ia mencintai Neji. Neji mencintainya, sama seperti ia mencintai Hanabi. Sakura mencintainya, sama seperti ia mencintai Ino. Kiba mencintainya, sama seperti mencintai Shino. Shino mencintainya, sama seperti mencintai Kiba. Dan seterusnya.... dan seterusnya....

Dan Naruto?

Hinata telah lama melupakan Naruto, melupakan perasaan-perasaan lucu yang menggelitik perutnya saat Naruto di dekatnya, melupakan perasaan bimbang antara ingin lari dan pingsan saat ia menyentuhnya. Naruto hanya seorang teman, sahabat, yang sangat baik. Naruto adalah matahari yang menyinari hari Hinata, namun yang ia butuhkan bukan lampu penerang yang jaraknya 15 juta kilometer darinya seperti matahari. Yang Hinata butuhkan sesuatu yang lebih simpel, sesuatu yang dekat.

Sesuatu yang mencintainya.

Namun pada akhirnya, tidak ada yang benar-benar mencintainya. Hinata meringis ketika perih di keningnya mulai datang lagi. "Hinata! Hinata!". Sebuah suara memanggilnya dari luar, dengan sempoyongan ia keluar kamar. "Y-ya?". Jawabnya lembut.

"Jangan malas-malasan! Mentang-mentang dulu Hyuuga kalangan atas bukan berarti kau bisa lepas dari tanggung jawab! Hyuuga kalangan bawah harus mengurus semua pekerjaan rumah!". Hinata ingin berteriak bahwa keningnya masih sangat sakit, ia ingin berteriak kepada wanita pendek tua ini, namun ia tidak bisa. Ia hanya bisa mengangguk.

"Ya, bi".

oOo

Sasuke duduk dengan gelisah di tempat tidurnya. Sampai detik ini Hinata tidak juga datang. Sakura bilang gadis itu belum pernah, sekalipun, tidak datang untuk mengurus pasiennya. Sebuah sensasi aneh menerjangnya. Sebuah perasaan khawatir, cemas, tak berdaya...

Takut.

Seorang Sasuke Uchiha takut hanya karena gadis Hyuuga tidak datang menemuinya selama 2 hari? Pastilah ia sakit parah, mungkin yang hokage kelima katakan benar, mungkin petarungan melawan Itachi memang memberikan tekanan mental yang kuat terhadapnya. Sasuke mencoba menenangkan dirinya, namun usahanya ini sepertinya tidak terlalu berhasil.

Sasuke menatap bunga lavender layu yang teronggok di dalam vas, entah kenapa dirinya tidak mengizinkan Sakura untuk mengganti bunga itu. Bunga lavender itu, telah diurus oleh Hinata sejak hari pertama gadis itu merawatnya. Itu hanya, aneh kalau bukan Hinatalah yang mengganti bunga lavender itu.

Masalahnya, selama ia di rumah sakit, Sasuke hanya memiliki Hinata, sebagai orang yang ada di sampingnya. Sebagai, yah, beranikah ia mengatakannya—teman? Bahkan kehadiran Sakura terasa asing. Serius sepertinya tekanan mental—atau apapun yang hokage kelima katakan—benar-benar berdampak besar terhadap kepalanya.

Tiba-tiba terdengar bunyi langkah kaki yang sangat dikenalnya, bunyi langkah kaki yang ceroboh dan tergesa-gesa. Sasuke, dengan sedikit terlalu bersemangat, menegakkan kepalanya. Pintu putih dihadapannya terbuka dan seorang gadis bermata lavender datang dengan se-bucket bunga lavender dan sekantung yang, Sasuke pikir, adalah tomat.

"Uchiha-san!". Katanya, terdengar terkejut, apa karena posisi Sasuke yang terlihat seperti sudah menduga ia akan datang? Sasuke sendiri, mengalami kesulitan dalam dengungan yang kembali ketika sudut matanya menangkap sosok Hinata. Namun, perasaan takut yang ia rasakan segera berganti dengan perasaan aneh yang menggelitik perutnya. Seperti ada yang melilit di perutnya. Aneh, seingatnya hokage kelima tidak mengatakan apa-apa tentang gangguan pencernaan.

"Aku membawakanmu tomat". Hinata mengangkat kantung yang berisi tomat sambil tersenyum kecil. Sasuke menatapnya, seolah menelan Hinata bulat-bulat dengan mata hitam pekatnya, mencoba mengingat Hinata. Tidak ada yang berubah darinya, kecuali Hinata Hyuuga sepertinya kehilangan beberapa berat badan, wajahnya pucat dan ada sesuatu di balik poninya.

"Kau kenapa?". Tanyanya mencoba terdengar setenang mungkin, yang entah bagaimana, di telinga Sasuke terdengar terlalu perhatian. Hinata tampak bingung dengan pertanyaan ini. Melihat wajah Hinata yang kebingungan, Sasuke segera meluruskan pertanyaannya. "Maksudku, kau tidak datang kemarin, jadi aku kira kau.. ya...".

"O-oh! Aku harus mengikuti upacara keluarga Hyuuga, j-jadi aku tak bisa datang". Jawabnya sambil berjalan menuju vas bunga yang ada di dekat jendela. "Apa tidak ada yang mengunjungimu Uchiha-san? Sakura-chan mungkin?". Tanyanya begitu melihat bunga lavender yang ia tinggalkan masih berada di tempatnya dalam keadaan mengenaskan. "Hn". Jawab Sasuke. Hinata hanya diam dan mengganti bunga lavender kering itu dengan bunga lavender baru yang segar.

Setelah bertahun-tahun tinggal bersama Neji dan kurang lebih seminggu merawat Sasuke Uchiha, Hinata belajar bahwa 'hn' berarti 'jangan bicarakan itu, tidak penting' atau semacam itulah. Jadi ia berhenti menanyainya. Keheningan menyelimuti mereka, bukan keheningan yang mencekik, namun keheningan yang damai. Keheningan yang seharusnya memang ada di sini. Sasuke menatap punggung Hinata yang sedang mengganti bunga di dalam vas. Namun, masih ada kejanggalan, tanda yang ada di belakang poni Hinata membuat kening Sasuke berkerut.

"Hei, apa itu yang ada di balik ponimu?". Tubuh Hinata terlihat sedikit menegang ketika pertanyaan itu dilontarkan oleh Sasuke. Melihat ini membuat Sasuke mengernyit, "A-ano...". Hinata menyentuh dahinya dan menunduk. "Hinata". Panggil Sasuke, terdengar sedikit mengintimidasi. "Hinata, berbaliklah dan kemari". Katanya lagi, sekarang benar-benar terdengar seperti perintah—yang membuat gadis itu menurutinya.

Hinata berbalik, walau masih menunduk, dan berjalan ke arah tempat tidur Sasuke. Gadis itu menaruh kantung yang berisi tomat di atas meja kecil di samping Sasuke. Sasuke—yang entah kenapa—merasa kesal karena Hinata menyembunyikan sesuatu darinya, menarik Hinata sampai wajah gadis itu berada tepat 2 inci dari wajahnya.

Hinata yang terlalu terkejut, tidak tahu harus melakukan apa masih terdiam, dengan mata yang terus membulat. Sedangkan Sasuke menyingkirkan poni Hinata dan mencoba melihat tanda apa yang ada di dahinya.

Kedua orang itu terdiam seketika.

Hinata terdiam karena sentuhan Sasuke di kulitnya, sedangkan Sasuke terdiam karena melihat tanda hijau muda yang ada di dahi Hinata. "Katakan". Sasuke memecah keheningan, Hinata yang tadi masih sangat terkejut sekarang telah sangat lemas dengan warna merah menghiasi wajahnya. "Siapa yang melakukan ini padamu?". Tanya Sasuke, yang entah kenapa, terdengar berbahaya.

"K-klanku". Jawabnya sedikit takut. "Ini tanda kelas bawah! Kau telah berumur 15 tahun, memasang tanda seperti ini saat kau berumur di atas 10 tahun ilegal!". Sasuke mengencangkan pegangan tangannya di lengan Hinata. "U-uchiha-san... Ka-kau menyakiti tanganku". Mendengar hal ini, Sasuke segera melonggarkan pegangannya. Namun, amarah masih terpancar dari wajahnya.

Begitu lepas dari pegangan Sasuke, Hinata langsung membetulkan posisinya—yang tadi berada di atas Sasuke—dan duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Sasuke. "Klan Uchiha juga menggunakan tradisi lama seperti Hyuuga, tapi tradisi seperti memperlakukan anggota klan sebagai budak, bahasa halusnya bagian bawah, telah lama dihapuskan". Sasuke menatap Hinata, lebih tepatnya, tanda di dahinya. "Aku mengerti kalau Hyuuga ingin menjaga tradisi mereka, tapi memasang tanda itu ketika kau berumur 15 tahun?! Kau tahu, kau bisa mati!". Sasuke berkata dengan penuh emosi, yang tentu saja, membuat Hinata sedikit terkejut.

Sasuke tidak pernah seemosional ini.

"Aku kira kau pewaris klan!". Katanya lagi. Hinata yang tadinya takut dan terkejut, sekarang tersenyum. Tidak setiap hari kau melihat seorang Sasuke Uchiha seperti ini. "Ini salahku Uchiha-san, aku terlalu lemah untuk menjadi seorang pewaris klan. Ja-jadi mereka memindahkan tanda kakak, maksudku, Neji-sama kepadaku". Hinata dengan lembut menjawab dan menenangkan Sasuke dengan menyentuh lengannya. Tubuh Sasuke sedikit rileks saat ia melakukan ini—menyentuhnya maksudnya.

"Hinata". Hinata sekali lagi, terkejut, Sasuke memanggilnya dengan nama depan. "Y-ya?". Tanya Hinata. "Potongkan aku tomat". Hinata mengangguk dan mulai memotongkan Sasuke tomat. "Ini dia, Uchiha-san". Katanya sambil menyodorkan sepotong tomat segar.

Sasuke menatap potongan tomat yang sedang dipegang Hinata. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, ia memegang pergelangan tangan Hinata dan memakan potongan tomat itu dari tangan Hinata—yang membuat wajah gadis ini memerah. Bukan itu saja, ia juga menjilati jari-jari Hinata sambil dengan wajah menikmati, yang membuat wajah Hinata kita yang malang ini tambah merah. Setelah melakukannya, Sasuke tersenyum licik sambil menatap wajah Hinata yang merah. Lalu ia mendekati Hinata dan berbisik di telinganya. "Wajahmu merah seperti tomat, aku jadi ingin memakanmu".

Mendengar hal ini tentu tidak menolong keadaan Hinata—malah hal ini membuat wajahnya tambah merah yang membuatnya seperti ingin meledak. Sasuke tertawa kecil ketika melihatnya, 'dobe, kau melewatkan kesempatan seperti ini, kau tahu?'. Pikir Sasuke. "U-uchi-uchiha-san". Hinata berkata dengan gagap luar biasa. Tiba-tiba Sasuke tertawa, tawa yang sangat lepas. "Aku hanya bercanda, bodoh!". Katanya di sela tawa riangnya.

Hinata memasang tampang cemberut. "Tidak lucu, Uchiha-san!". Sasuke mencoba meredam tawanya. "Kau tidak melihat wajahmu sih tadi! Itu lucu sekali!". Hinata memukul lengan Sasuke, yang membuatnya meringis. "Auw!", Sasuke memegangi lengannya—walau sebenarnya pukulan Hinata tidak sakit.

Hinata tersenyum menatap Sasuke, yang walau aneh, tapi akhirnya tersenyum dan tertawa ceria. "Akhirnya kau tersenyum". Kata Sasuke, membuat Hinata bingung. "Senyum yang sebenarnya". Sambungnya. "Ooh, ka-kau akhirnya memperlakukanku dengan baik". Hinata tertawa kecil. Sekarang giliran Sasuke pipinya sedikit memerah, sedikit loh!

Sasuke menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah mengapa, melihat Hinata sedih apalagi mengetahui ia baru saja disakiti, membuat Sasuke kesal dan ingin membuatnya merasa baikan. Sekarang Sasuke baru menyadari, apa yang diperbuatnya tadi sangatlah di luar karakternya! Tapi, ia melakukannya di luar rencana. Sikapnya tadi tidak dibuat-buat, sikapnya tadi tiba-tiba keluar. Seperti telah lama tidur dan terbangun kembali.

Hinata memotongkan tomat-tomat yang dibawanya dan memperhatikan Sasuke yang dengan lahap memakan tomat-tomat itu. Ia tertawa kecil ketika melihat, betapa lahapnya Sasuke memakan tomat-tomat itu. Pastilah makanan rumah sakit tidak terlalu memuaskannya. Setelah berbincang-bincang sedikit dan melakukan pemeriksaan rutin, Hinata mohon pamit.

Ketika Hinata menghilang di balik pintu putih kamarnya, Sasuke menyadari betapa dingin ruangan ini. Namun, ia merasa kehangatan mendekapnya ketika ia menatap bunga lavender segar yang menghiasi vas di dekat jendela dan beberapa tomat segar yang ada di dalam kantung di atas meja kecil di sampingnya.

Dengung itu kembali, namun tidak seperti dulu. Dengung ini sekarang lebih teratur dan berirama. Entah kenapa Sasuke ingin segera tidur dan segera terbangun untuk menyambut esok hari.


Hehehehehehehehehe

Jadi fluffy yah? Tapi sekali-sekali kan nggak apa-apa mereka berdua dibuat seneng, masa' sedih mulu X3

Review bila ingin melihat chapter berikutnya.

Nggak usah kalo nggak kepengen.