Life without him

Disclaimer : character © Masashi Kishimoto

Temari akhirnya mendapatkan cinta Shikamaru. Semuanya sangat manis, indah, dan panas. Tetapi itu hanyalah awalnya saja. Shikamaru tidaklah sesempurna yang ia pikirkan.


CHAPTER 2

Sunagakure, 2 bulan kemudian

Temari berdiri termenung memandangi langit Suna yang selalu cerah. Untaian pikirannya melaju kencang melewati batas. Melamun adalah kegiatan rutin Temari tiap harinya. Masih ingat betul Temari kejadian saat malam musim panas hingga kejadian di apartemen pemuda nara, semua itu teramat menyayat Temari. mencabiknya hingga dirinya hanyalah serpihan kecil kertas yang tak berguna. Ditambah lagi ingatan saat dia melihat testpacknya bertanda positif. Sejak saat itu Gaara tak henti-hentinya mencarikan pria-pria untuk menikahi Temari. dia benar-benar hancur.

" Nona Temari, tuan Kazekage meminta anda untuk menemuinya di ruangannya." Ujar Matsuri namun tak digubris oleh yang diajak bicara.

" Nona.."

" Ya, aku dengar. Aku akan kesana sebentar lagi"

Temari berjalan gontai menuju ruangan Kazekage Gaara yang hanya 5 lantai diatas kamarnya. 'Pasti saat ini Gaara akan memberikan daftar nama pria lagi', gumamnya pasrah. Temari sebenarnya tidak pernah mau dijodohkan oleh Gaara. Baginya sudah cukup peenderitaannya sebagai seorang pecinta yang terhempas. Biarlah dia membesarkan anaknya dengan Shikamaru seorang diri. Menjadi single parent lebih baik daripada menikah dengan orang lain yang tidak dicintainya. Itu sangat menyedihkan.

Tebakan Temari tidak salah. Gaara menyodorkan padanya 3 buah nama. Dua diantaranya nama baru, tetapi salah satu nama yang tertera di kertas itu adalah nama yang sama dengan nama yang tertulis pada sekitar 12 daftar sebelumnya. Hidan, begitulah cara nama itu terbaca.

" Pria bernama Hidan ini tidak pernah putus asa. Sungguh keras kepala. Harus berapa kali lagi aku menolaknya? Aku bahkan tidak pernah bertemu dengannya …" ucapnya lirih, namun masih mampu didengar oleh sang adik tersayang.

" Kau juga keras kepala…" sahut Gaara, " Sampai kapan kau mau membiarkan anak itu lahir tanpa seorang ayah?"

" Aku tidak keberatan membesarkannya seorang diri"

" Sudahlah Temari, terima saja si Hidan itu. Dia adalah bangsawan yang cukup terkenal. Dia juga seorang ninja yang hebat."

" Jangan memaksaku"

" Kalau tidak, pilihlah satu diantara 3 nama itu."

" Tidak… aku tidak mau…"

Keduanya hanya berdiri terdiam dalam kungkungan kesunyian selama hampir 15 menit sebelum akhirnya pintu ruangan dibuka oleh Kankurou. Kankurou tidak datang sendirian. Dibelakangnya terdapat seorang pria berambut putih yang mengenakan tuxedo hitam. Di bagian kerahnya terdapat symbol awan merah yang indah.

" Temari perkenalkan ini Hidan yang tadi kita bicarakan."

" Oh." Temari hanya ber-Oh menanggapi Gaara. Dia benar-benar tidak tertarik.

" Kurasa kau harus mengenalku lebih dekat terlebih dulu sebelum menolak lamaranku kali ini, nona Temari" Hidan berusaha mendapatkan perhatian Temari.

" Ide bagus. Kalian berdua sebaiknya berkencan dahulu." Sahut Kankurou.

" Bagaimana menurutmu Temari?" Gaara bertanya pada Temari dengan serius, walaupun akhirnya hanya dijawab dengan, " Terserah saja"

Seminggu penuh berkencan dengan Temari masih saja belum mampu memperbesar peluang Hidan untuk menjadikan Temari miliknya. Temari sama sekali tidak tertarik. Bunga-bunga yang tiap hari diberikannya selalu berakhir di tempat sampah. Makanan yang dipesannya di restoran mahal pun hanya dilihat saja oleh Temari, tak sedikitpun dicicipinya. Kado-kado mahal yang dikirimkan ke kamar Temari hanya ditumpuk di kursi selama berhari-hari. Hidan mulai kehabisan akal. Sampai Gaara memberi tahunya tentang salah satu hal yang sangat disukai Temari, selain pemuda nanas tentunya. Kembang api.

Suasana malam Sunagakure di kamar Temari hening seperti biasa. Hingga ketukan ringan terdengar. Temari membuka pintu kamarnya.

" Hai Temari sayang" Hidan menyapanya mesra.

" Mau apa? Bukankah kita tidak ada kencan malam ini?" Tanya Temari tanpa basa basi.

" Aku ingin kau menemaniku keluar malam ini."

" Kemana?"

" Rahasia. Cepat ganti pakaianmu."

Temari mengangguk singkat tanpa berusaha menolak ajakan Hidan. Dia sudah terlalu malas untuk menolak ajakan Hidan.

" Sebenarnya kita mau kemana?"

" Ke atap gedung Kazekage" jawab Hidan dengan cepat.

" Hah? Apa yang akan kau lakukan disana?"

" Melihat kembang api. Janganlah kau menolak. Kau tak tahu berapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk membeli kembang api jauh-jauh dari Konoha."

Temari tersenyum getir. Memorinya terputar ulang satu demi satu. Sungguh menyayat. Tanpa terasa air matanya mengalir perlahan dari mata hijaunya yang indah. Hidan yang menyadari hal itu segera menyodorkan sapu tangannya, lalu memeluknya dengan penuh kasih sayang. Temari memang tidak menyukai Hidan, tapi usaha hidan untuk menghentikan tangisan Temari barusan sangat dihargai oleh gadis berambut pirang tersebut. Tangisannya berhenti. Keduanya berjalan menuju sebuah bangku yang sudah disiapkan Hidan. Sesaat kemudian kembang api yang berwarna-warni memenuhi langit Suna. Sejenak Temari melupakan seluruh duka yang dirasakannya. Kembang api ini sungguh merebut perhatiannya. Senyum Temari yang telah lama sirna kembali muncul ke permukaan. Hidan yang melihat senyum itu pun semakin terpesona.

Namun sayangnya rasa kagum Hidan akan Temari itu mendadak berubah menjadi nafsu yang tak terkendali. Ditariknya Temari dengan kasar ke dalam pelukannya. Dibukanya kancing kemeja Temari secara paksa. Diputusnya pengait Bra Temari dengan cepat. Temari ketakutan setengah mati. Dengan beringas Hidan menjelajahi tubuh bagian atas Temari. Temari sudah tidak dapat membiarkan perilaku bejat hidan ini. Dipanggilnya nama pemuda nanas itu berulang kali dengan keras untuk meminta pertolongan Shikamaru. Sebuah kebiasaan Temari yang tidak dapat dihilangkannya. Setiap Temari membutuhkan pertolongan, Shikamaru akan selalu datang. Tetapi tanpa disadari Temari, kali ini pemuda itu tidak akan datang.

Gaara yang terkejut mendengar teriakan Temari barusan segera berlari menuju atap gedung. Dilihatnya Temari sedang berada dalam posisi sulit. 'Brengsek!' batin Gaara. Gaara segera mencengkram kaki Hidan dengan pasirnya dan berusaha menyelamatkan Temari disaat yang bersamaan. Temari menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Hidan berhasil kabur. Gaara segera mengantarkan kakak tersayangnya itu ke kamar pribadi seorang Kazekage. Dibiarkannya Temari tertidur lelap setelah kelelahan menangis. Sedangkan Gaara terus berjaga ditemani oleh Kankurou.

Tiga hari kemudian sepucuk surat sampai ke kamar Temari. 'kalau aku tidak mampu mendapatkanmu, akan kudapatkan bayimu!' begitulah isi surat itu. Surat itu tak hanya dibaca oleh Temari, melainkan terbaca juga oleh Gaara, Kankurou, dan Matsuri.

(to be continued)