Life without him

Disclaimer : character © Masashi Kishimoto

Temari akhirnya mendapatkan cinta Shikamaru. Semuanya sangat manis, indah, dan panas. Tetapi itu hanyalah awalnya saja. Shikamaru tidaklah sesempurna yang ia pikirkan.


CHAPTER 3

" Shikamaru, Shikaku, Chouji, dan Asuma sudah hadir Hokage-sama" ujar Shizune.

" Baiklah, langsung saja ke pokok masalah. Misi kalian kali ini adalah menyelamatkan seorang bayi yang sangat berharga."

" Bayi? Yang benar saja…"

" Dengarkan aku sampai selesai dulu, Shikamaru! Beraninya kau menyelaku! Lawan kalian adalah Hidan, seorang bangsawan yang cukup terkenal. Dia juga seorang ninja tingkat tinggi. Kemampuan khususnya adalah membuat kutukan pada lawannya."

" Kemampuan yang aneh. Tapi kenapa harus aku?" gumam Shikamaru sambil mendengus kesal.

" Karena memang kau lah yang seharusnya menyelamatkan bayi itu. Bukan begitu, Shikaku?"

" Ya, ini memang misi untukmu." Jawab Shikaku yang mengerti maksud Hokage.

" Hah… mendokuse…"

" Ayolah Nak, ini permintaan khusus dari Suna untuk Konoha! Lagipula apa kau tidak ingin menjelaskan sesuatu pada gadis itu?" rayu Shikaku.

" Apa dia juga tergabung dalam misi ini?"

" Ya, Shikamaru. Sudah pasti Temari ikut. Tidak diragukan lagi." Jawab Shizune.

" Baiklah aku ikut!" jawab Shikamaru semangat.

Butuh 2 hari sebelum akhirnya Tim yang diketuai oleh Shikamaru tiba di Suna. Namun kedatangan mereka disambut oleh hal yang menyedihkan. 4 orang ninja Suna dibawa oleh tim medis Suna dengan tergesa-gesa. Mereka adalah ninja Suna yang diutus untuk misi yang sama dengan misi pasukan bantuan dari Konoha. Shikamaru adalah sosok yang paling terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Gadis berambut pirang yang sangat dicintainya, gadis yang menjadi alasannya mengikuti misi ini, tergolek kritis di tandu yang dibawa para ninja medis. Seketika itu, lututnya kehilangan keseimbangan. Shikamaru jatuh tersimpuh. Air matanya mengalir perlahan merayapi pipinya yang tak pernah basah oleh air mata. Gaara membisikkan sebuah kalimat untuk membuat Shikamaru bersemangat untuk menyelesaikan misi itu. " Lanjutkanlah misi ini. Selamatkan Terumi, karena itulah yang akan dilakukan Temari sebelum dia menjadi seperti ini."

Sesegera mungkin Shikamaru menjalankan misi itu. Bermodalkan sedikit keterangan dari Gaara tentang musuh yang akan dihadapinya, Shikamaru menyusun rencananya. Rencana ini agak mengecewakan untuk Shikaku, Asuma, dan Chouji. Inti penyerangan ini dipusatkan pada Shikamaru, sedangkan ayah, guru, dan sahabatnya hanya akan menjadi penonton dalam aksinya. Tapi tentu saja Shikaku tidak keberatan. Asuma dan Chouji pun hanya bisa berdoa agar rencana Shikamaru berhasil. Yah, memang hanya Hokage, Shizune, Shikaku, Yoshino, dan keluarga Temari yang tahu arti misi ini sebenarnya.

Misi ini berhasil dengan sangat baik. Terumi kecil berhasil diselamatkannya, sedangkan Hidan harus menikmati ajalnya sendirian saja, tanpa Temari maupun Terumi. Meskipun misi kali ini hanya untuk menyelamatkan seorang bayi, Shikamaru sangat senang. Terlebih saat tangan mungil Terumi berusaha meraih anting Shikamaru, diselingi tawa kecil yang keluar dari mulut kecil Terumi. Entah mengapa, Shikamaru merasakan sebuah perasaan nyaman dengan Terumi kecil. Digendongnya bayi itu menuju Suna dengan sesekali berusaha bermain dengan bayi itu. Keduanya terlihat sangat akrab. Asuma dan Chouji memandang Shikamaru heran. Sedangkan Shikaku, dia hanya tersenyum senang sepanjang jalan menuju Suna.

Selama hampir seminggu Shikamaru bersama Terumi kecil di penginapannya di Sunagakure. Temari belum dapat mengasuh Temari seperti sebelumnya, kondisinya masih belum cukup baik. Namun sesekali Gaara dan Kankurou datang menjenguk keponakannya. Gaara dan Kankurou hanya tersenyum melihat keakraban keponakannya dengan Shikamaru. 'Sayang sekali kau tidak tahu yang sebenarnya, Shikamaru', gumam Shikaku yang juga ikut menjenguk cucunya di kamar Shikamaru.

" Hey Gaara, apa Terumi tidak mempunyai orang tua?"

" Punya. Memangnya ada apa?"

" Sayang sekali. Padahal aku ingin mengadopsinya"

Gaara, Kankurou, dan Shikaku tersentak. Mereka benar-benar terharu akan niatan Shikamaru. Andai saja dia tahu …


Hari ini adalah upacara pelantikan Hokage yang baru. Saat ini setiap perwakilan dari setiap Negara besar seperti Tsuchi, Iwa, Oto, dan Suna tinggal di Konoha selama seminggu. Dan tentu saja, gadis itu juga datang. Tapi Shikamaru tak punya nyali untuk menemuinya. Tepat 6 tahun sejak Temari meninggalkannya bersama hubungan yang tergantung. Serta tepat 5 tahun berlalu sejak hari dimana tim bantuan Konoha harus kembali dari misi penyelamatan Terumi kecil. Setelah menyerahkan Terumi kepada Gaara tentunya.

Sesosok gadis kecil berambut hitam berkuncir dua bermain sendirian saja di ayunan. Taman bermain Konoha sangat sepi saat itu. Shikamaru menghampiri gadis kecil itu.

" Jangan mendekat!" teriak gadis itu sambil menyerang Shikamaru dengan kagemane.

" wah, hebat sekali gadis kecil sepertimu bisa mengendalikan bayangan dengan baik seperti ini. Aku jadi terkesan."

" Terimakasih atas pujiannya. Tapi aku bukan anak kecil! Aku sudah 5 tahun."

" wah, maaf. Aku Nara Shikamaru. Siapa namamu?"

" Terumi."

" Kau sendirian saja?"

" Ya, tapi ibu akan menjemput sebentar lagi."

" Ayahmu?"

" Entahlah. Aku tidak pernah bertemu ayah sejak lahir. Aku sendiri ingin tahu kabar ayahku."

" oh, begitu rupanya." Sahut Shikamaru seraya memandang iba pada Terumi.

'Mungkin ayah gadis itu tewas di tangan Hidan saat peristiwa penculikan gadis kecil itu' pikir Shikamaru.

Shikamaru mengulang kembali memorinya tentang misinya di Suna dulu. Saat-saat bersama Terumi sangat menyenangkan. Tetapi saat ini, Terumi sudah bukan teman kecilnya yang lucu. Saat ini, gadis itu hanyalah anak yatim dari Suna. Dan Shikamaru tidak punya hak atas gadis kecil itu.

" Teru! Ayo pulang! Urusan ibu sudah selesai." Seru seorang wanita di ujung pintu masuk taman bermain.

' suara ini..?' Shikamaru terhenyak mendengar suara ibu gadis kecil itu. Diliriknya sosok

Yang berdiri di ujung gerbang.

" Itu ibuku!" seru Terumi girang seraya berlari menuju ibunya.

" Ibu, tadi tuan Nara menemaniku bermain."

" tuan Nara?"

Temari terkejut setengah mati. Dilihatnya sosok yang kini berdiri berada kurang dari 8 meter di hadapannya. Tatapannya bertemu dengan pria itu. Sudah 6 tahun berlalu, tetapi perasaannya pada pria itu masih sekuat dulu. Begitupun dengan rasa sakit hatinya. Dan itu memancing air matanya meleleh perlahan membasahi kedua pipi mulusnya. 'Kenapa kau harus bertemu dengannya? Teru sayang…' pekik Temari dalam hati.

' 6 tahun setelah malam itu, seorang gadis kecil berumur 5 tahun yang menggunakan kagemane, dan Temari…' Shikamaru berusaha mencerna semuanya. Tak butuh lebih dari semenit, Shikamaru menemukan jawabannya. ' jelas sudah. Tega sekali kau padaku, Temari…' pekik Shikamaru dalam hati. Kali ini perasaannya campur aduk. Dia senang mengetahui bahwa Terumi adalah anaknya, dan kenyataan bahwa masih ada sedikit perasaan Temari terhadapnya. Namun di sisi lain, Shikamaru merasa sangat terpukul. ' kau pasti sangat kesepian karena harus menjaga putri kita seorang diri. Sementara kau terus merahasiakan keberadaannya dariku. Bebanmu sangat berat, Temari…'

" Mengapa kau tidak memberitahuku?" Tanya Shikamaru memecah keheningan.

" Memberi tahu apa?" jawab Temari berpura-pura tidak tahu arah pembicaraan Shikamaru.

" kau tahu yang kumaksudkan."

" Dia bukan anakmu. Dia hanyalah putriku."

" apa maksudmu?"

" kau tidak tahu betapa sakitnya aku saat melihatmu asik melakukan itu dengan Ino!" teriak Temari meminta keadilan. Airmatanya semakin deras mengalir

" Sial! Kau tak tahu betapa terpukulnya aku. Kau pergi dariku tanpa mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu. Kau meninggalkanku dalam keadaan kau sedang mengandung anakku! Kau tak sedikit pun berusaha memberitahuku bahwa kau sedang mengandung anakku! Memikirkan tentangmu yang mengandung tanpa aku disisimu saja sudah cukup membuatku ingin meniadakan hati yang teramat sakit ini… " bantah Shikamaru pada Temari.

" tapi…"

" Temari-san…" panggil gadis berambut pirang lainnya lirih.

" Ino! Maafkan aku, aku tidak bermaksud…"

" maafkan aku Temari-san! Aku yang salah!" ucap Ino sembari menahan tangisnya.

Kali ini diraihnya tangan Temari dengan penuh rasa bersalah. Disadarinya bahwa kekhilafan yang dilakukannya pada Shikamaru telah berdampak sangat besar bagi hubungan Shikamaru dan Temari. saat ini dia merasa benar-benar harus menjelaskannya.

" Temari-san, saat itu aku baru saja putus dengan Sai. Aku depresi berat, Shikamaru yang menemukanku membawaku ke apartemennya dan menelpon Chouji untuk menjemputku. Tetapi entah mengapa aku jadi sangat iri kesal saat Shikamaru memberi tahuku bahwa dia sedang terburu-buru untuk segera melamarmu sebelum kau kembali ke Suna. Aku iri pada kebahagiaan kalian. Aku kalap, aku terus-terusan memaksa Shikamaru untuk 'menyentuhku'. Tapi Shikamaru terus saja menolak dengan tegas. Saat itu kau datang. Maafkan aku Temari-san…"

" Tolong maafkan kekhilafan istriku Temari…" kini sosok pria yang biasa dipanggil Chouji yang memohonkan maaf.

" Aku…aku tidak tahu lagi! Aku bingung… semuanya begitu tiba-tiba…" jerit Temari kebingungan.

" Apa aku juga harus menjelaskannya?" Ujar Shikamaru sambil merangkul Temari dari belakang.

" kalau kau berpikir istriku berbohong, cek saja kalung yang ada di leher Shikamaru. Kau akan menemukan cincinmu."

Temari meraba dada Shikamaru ragu. Namun apa yang baru saja ditemukannya membuatnya terharu. Dua buah cincin setia menjadi liontin kalung Shikamaru. Airmatanya yang sempat berhenti mengalir, kini kembali mengalir perlahan. Kali ini rasa haru lah yang menjadi pemicunya. Tanpa dikomandu, Shikamaru menyambar bibir lembut Temari. Ciuman yang lembut itu berlangsung cukup lama. Sudah sangat lama Shikamaru merindukan ciuman hangat seperti ini. Begitupun Temari. Beruntung saat ini Terumi sedang asik bermain dengan Naoki, putri Ino dengan Chouji. Jadi momen ini tidak sempat dilihat oleh anak dibawah umur.

Di akhir ciuman itu, Shikamaru menyematkan cincin ke jari manis Temari.

" Jadilah kekasihku untuk selamanya. Izinkan aku menjagamu dan Terumi. Apa kau bersedia?"

Namun yang diajak bicara hanya terperangah tidak percaya. Temari terlampau bahagia. Bahkan untuk menjawab pertanyaan itu pun tidah sanggup. Dia hanya sanggup menatap Shikamaru tidak percaya.

" Aku anggap tatapan barusan adalah 'ya'…"

" Ibu ayo pulang! Aku sudah lapar." Sela Terumi.

" Baiklah ayo pulang." Ajak Shikamaru kepada Temari dan Terumi.

" Tuan nara juga akan ikut pulang?"

" Terumi, jangan panggil aku tuan Nara lagi."

" Hah?"

" Aku ingin kau memanggil aku 'ayah', bisa?"

Terumi memandangi aneh pada Shikamaru. Dimintanya saran dari ibunya. Anggukan singkat dari sang Ibu membuat gadis kecil itu terkejut.

" Apa anda ayahku? Aku janji akan memanggil anda 'ayah' sampai bosan!"

" Ya, maaf aku baru bisa menemuimu sekarang, gadis kecilku yang manis…"

Yoshino berlari membuka pintu rumah keluarga Nara yang sudah diketuk berkali-kali oleh Shikamaru. "Sabarlah sedikit, Shikamaru. Ada apa denganmu, hah?" Tanya Yoshino. Namun sepertinya Shikamaru tidak perlu menjwabnya. Yoshino tidak percaya bahwa saat ini dioa tengah melihat Shikamaru bersama dengan Temari, lengkap dengan cucu yang selama ini mati-matian dirahasiakannya dari Shikamaru. Dirangkulnya Temari dengan penuh rasa haru.

" Ayah, ku pikir kita akan pulang…" ujar Terumi kecewa.

" Kita memang sudah pulang. Ini adalah rumah barumu, Teru."

Siang hari di hutan Nara, 3 minggu kemudian.

" Hey Temari, bagaimana kalau kita buatkan adik untuk Terumi?"

" Sekarang? Di sini? Kau pasti bercanda."