Sebelumnya saya suangat berterima kasih loh buat yang sudah mau mereview. Karena ini pertama kalinya saya menulis fanfic saya sangat berbunga-bunga banget waktu liat review kalian...hihihihihii.
Saatnya membalas review :
Icha yukina senpai : Soal pair sasusaku atau ngga, itu masih belum pasti. Tapi kemungkinan 80% sasusaku sih soalnya saya sendiri juga fans dari sasusaku. Huehehehehe yang bilang aku mencintaimu itu masih rahasia. Kekekekeke terus baca fic saya ya...ZoZo : Soal pair itu masih belum saya tentukan tapi kemungkinan sasusaku sih. Hem julukannya keren ya? Seneng deh kalo kamu berpendapat gitu. Saya pikir bakal dikomentarin 'apaan sih julukannya norak bgt' gtu. Hehehehehehe. Terus baca fic saya ya...
Azuka Kanahara : makasih senpai buat pujiannya. Mudah-mudahan saya bisa mengabulkan harapan senpai itu. Hehehehe. Soal pair saya masih memikirkannya, tapi kemungkinan besar pair-pairnya bakal seperti yang senpai sebutkan itu. Soal itachi memang akan saya masukkan, tapi mungkin bukan di awal cerita. Gapapa kan? Terus baca fic saya ya...
4ntk4-ch4n : makasih ya pujiannya. Soal pair saya masih memikirkan tapi kemungkinan seperti apa yang kamu mau ko. Terus baca fic saya ya...
Haruno Ichigo : ini dia chap yang kamu tunggu-tunggu. Terus baca fic saya ya...makasih. hehehehehe
Merai adikshinichikudo : okee...seneng deh kalo emg bikin penasaran. Terus baca fic saya ya makasih...hehehehe
Okeh setelah balas review2 mari saja kita mulai chapter 1 dari Our Way ini...selamat membaca...
Konoha. Itulah sebuah nama sebuah kota kecil yang termasuk salah satu kota termaju di Jepang. Lingkungan Konoha sangat hijau dan bersih dengan udara yang sejuk, padahal Konoha adalah kota metropolitan yang juga merupakan pusat perdagangan dengan segala fasilitasnya yang canggih yang biasanya terkenal akan polusinya. Selain sebagai pusat perdagangan Jepang, Konoha juga merupakan kota yang sangat terkenal akan kebersihan dan keindahannya. Segala sesuatu di kota itu tertata dengan sangat rapi dan indahnya. Dan dikota yang indah inilah kisah sekumpulan remaja penuh konflik itu dimulai...
Our Way
A Naruto Fanfic
Naruto © Masashi Kishimoto
Romance / Drama / Friendship
T Rated
Warning : AU dan OOC
Summary : Kisah sekumpulan remaja dalam kehidupan anak sma yang diiringi konflik. Bagaimanakah mereka menghadapi semua konflik yang terjadi?
Langit mendung menghiasi langit Konoha yang biasanya cerah pagi ini. Bertentangan sekali dengan ramalan cuaca yang mengatakan bahwa mataharilah yang akan menghiasi langit pagi. Suara petir yang bergemuruh pun mengiringi cuaca yang sudah mulai mendingin, pertanda bahwa hujan akan segera turun. Dan benar saja tak lama kemudian hujan pun perlahan turun dari langit. Hal ini tentu saja membuat banyak orang kesal. Terutama para pejalan kaki yang berlari-lari mencari tempat berteduh karena tak membawa payung sembari mengutuk sang peramal cuaca.
Namun, ternyata tak semua orang merasa kesal akan datangnya hujan yang tak biasanya datang di pagi hari itu. Sesosok cantik berambut merah muda dan berkulit putih tampak menikmati datangnya hujan dari balik jendela kamarnya. Mata jade sang gadis tampak menerawang jauh keluar sembari tersenyum kecil. Seolah begitu terpikat dengan hujan ia tidak menyadari atau mungkin lebih tepatnya tak menghiraukan kehadiran seseorang yang perlahan memasuki kamar bernuansa putih dan merah jambu tersebut.
"Sakura…." panggil seorang pria berambut merah bermata hijau yang memasuki kamar itu.
"Hmmm? Ah, ternyata ayah ya? Ku kira siapa. Kenapa ayah kemari?" jawab sang gadis yang ternyata bernama Sakura tersebut dengan cuek tanpa sedikit pun berpaling dari jendela.
"Hei-hei kenapa nada bicaramu cuek seperti itu? Memangnya salah jika ayah ingin melihat putri kesayangan ayah pagi ini?"
Sakura memutar bola matanya dan mulai berpaling menatap ayahnya, "Tidak aneh saja ayah tiba-tiba menemuiku sebelum berangkat kerja. Biasanya ayah langsung pergi begitu saja sampai-sampai aku kira ayah lebih suka menemui pasien-pasien ayah ketimbang bertemu denganku."
"Sakura…..sakura kau ini ada-ada saja! Mana mungkin ayah lebih senang melihat orang-orang sakit itu daripada melihat putri ayah yang sangat cantik ini? Yah, mereka itu kan butuh pertolongan ayah, Sakura. Jadi, jelas saja ayah harus cepat-cepat berangkat kerja. Kalau ayah sampai terlambat mengobati mereka, nyawa orang-orang itu taruhannya." ucap ayah Sakura sambil mengelus lembut rambut sepinggang putrinya itu.
"Ya…ya…ya aku sudah tahu ayah akan berkata seperti itu. Memangnya setiap pagi selalu ada orang yang sekarat di rumah sakit, ya?" tanya Sakura sambil memasang wajah sinis.
"Tidak juga sih. Tapi ayah kan juga bertugas sebagai kepala rumah sakit. Jadi urusan ayah bukan hanya sekedar mengobati orang tapi masih banyak masalah lain yang harus ayah tangani." elak ayah Sakura.
"Haaah….ayah itu kan pemilik rumah sakit juga, kenapa sih tidak meminta tolong orang untuk mengurusi hal-hal 'penting' itu? Begitu saja repot."
"Iya sih, ta-"
"Sudah tak usah dibahas lagi. Aku sudah hapal semua pembelaan ayah setiap kita berbicara mengenai hal ini. Jadi, ayah tak perlu repot-repot lagi mengatakannya." potong Sakura dengan ketus sambil kembali berpaling ke jendela.
Haruno Seiji-ayah Sakura- memandang putrinya lembut dan tersenyum kecil,"Apa yang sedang kau lihat sih, Sakura? Sepertinya hal yang kau lihat itu lebih menarik daripada berbicara dengan ayahmu ini." tanyanya pada Sakura.
"Bukan apa-apa. Hanya hujan." jawab Sakura.
Sambil melirik ayahnya, Sakura lalu melanjutkan perkataannya, "Ayah tahu tidak apa yang aku rasakan saat melihat hujan ini?"
"Hm, apakah itu?" jawab Seiji.
"Aku merasa bahwa langit ikut merasakan kesedihan yang aku rasakan. Bahkan dia menggantikan aku untuk menangis. Jadinya aku tak perlu repot-repot untuk menangis."
Seiji hanya terdiam dan menatap sendu putrinya ketika mendengar jawaban Sakura tersebut. Hening sempat menghiasi atmosfer kamar Sakura sampai akhirnya Sakura bertanya pada ayahnya.
"Ah, aku sampai lupa ada perlu apa ayah menemuiku pagi ini? Pasti bukan hanya sekedar untuk melihatku saja, kan?"
"Hmm…kau memang benar-benar mengenal ayah, Sakura. Hahahahaha." terdengar suara tawa Seiji, "Ayah hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk putri cantik kesayangan ayah ini." lanjutnya kemudian.
"Oh, hanya itukah? Kalau begitu terima kasih, Ayah." balas Sakura dingin.
"Ah, selain itu ayah juga ingin minta maaf karena tahun ini lagi- lagi ayah tak bisa merayakan ulang tahunmu bersamamu. Habis, ada banyak pekerjaan menumpuk. Maafkan ayah ya?" lanjut Seiji.
"Tak apa. Aku juga tak pernah mengharapkan ulang tahunku untuk dirayakan. Malah kalau bisa aku ingin agar aku tak pernah memiliki hari ulang tahun." balas Sakura sambil terus menatap hujan.
Seiji menghela nafasnya perlahan sambil merangkul putrinya, "Jangan bersikap seperti ini terus, Sakura. Sudah 5 tahun berlalu sejak kejadian 'itu'. Cerialah sedikit. Biar bagaimanapun juga hari ini kan hari ulang tahunmu. Seharusnya kau bergembira seperti orang-orang lainnya. Jangan terus-terusan bersedih dengan mengingat kejadian 'itu'. Lagipula semua bukan salahmu. Semua itu adalah kesalahan keluarga Uchiha."
Mendengar perkataan ayahnya, Sakura pun langsung berbalik dan menatap tajam pada ayahnya, "Bagaimana aku bisa lupa? Kejadian 'itu' telah tertanam dengan jelas di otakku. Kejadian 'itu' telah memisahkan kita de-"
Sebelum Sakura sempat menyelesaikan perkataannya, ayahnya telah terlebih dulu memotongnya, "Cukup, Sakura! Tak usah kita ungkit-ungkit lagi kejadian itu lagi. Kenapa setiap kita bicara kau selalu saja mengungkitnya, huh? Ayah tidak mau mendengarnya lagi. Kau mengerti?" bentak Seiji sambil mencengkeram bahu putrinya itu.
Sakura terkejut dengan tindakan ayahnya itu. Gadis itu lalu memandang mata ayahnya yang tampak berkilat marah itu. Sebenarnya ia juga tak ingin terus membicarakan kejadian 'itu' setiap kali bersama ayahnya yang pasti selalu diakhiri dengan pertengkaran. Apalagi mereka berdua sangat jarang bisa menghabiskan waktu bersama. Tapi entah kenapa ingatan tentang kejadian 'itu' selalu muncul membayanginya. Terutama pada hari ulang tahunnya ini.
"Ya, aku mengerti ayah. Maafkan aku." jawab Sakura sambil menunduk dan mulai terisak.
Melihat putrinya yang menangis, Seiji pun merasa bersalah karena telah membentaknya. Perlahan ia pun merangkulkan tangannya pada tubuh mungil Sakura dan memeluknya dengan erat, "Tidak, Sakura. Justru ayah yang seharusnya meminta maaf karena membentakmu. Ayah hanya tidak ingin kau terus tertinggal di masa lalu dan tidak berjalan ke depan. Ayah hanya ingin Sakura ayah yang dulu kembali bukan Sakura yang selalu murung dan pemarah seperti ini. Maukah kau berjanji untuk berubah menjadi Sakura yang ceria, ramah, dan menyenangkan seperti dulu lagi?"
"Ya, ayah. Aku berjanji akan berusaha menjadi Sakura ayah yang dulu lagi. Aku tidak akan menangisi kejadian 'itu' lagi." ujar Sakura sembari menghapus air matanya.
Mendengar itu Seiji lalu tersenyum dan kembali memeluk Sakura yang langsung membalas pelukan ayahnya itu.
Tak lama kemudian Seiji melepaskan pelukannya dan mengelus lembut rambut Sakura, "Baguslah kalau begitu." katanya lembut.
"Ah, rupanya sudah jam segini. Ayah harus segera berangkat, Sakura." lanjutnya setelah melihat arlojinya.
Haruno Seiji pun segera berjalan keluar dari kamar anaknya, namun ketika ia sampai tepat di depan pintu, ia berbalik menatap anaknya dengan tajam,"Sakura, kau sudah tidak pernah berhubungan dengan bungsu Uchiha itu, kan?" tanyanya.
"Tentu saja ayah. Buat apa aku berhubungan dengan anggota dari keluarga yang aku benci?" jawab Sakura tenang.
"Hn. Bagus, Sakura. Ayah hanya ingin kau mengingat bahwa seluruh Uchiha adalah musuh kita. Ayah tidak ingin kalu kau sampai berhubungan apalagi terlibat sesuatu dengan mereka. Ingat itu baik-baik." pesan Seiji pada anak kesayangannya itu.
"Ayah tidak perlu khawatir, aku takkan mungkin berurusan dengan seorang Uchiha. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah diperbuat oleh keluarga Uchiha. Dendam ini pasti akan aku bawa sampai mati." ucap Sakura yakin sambil berjalan menuju ayahnya.
"Syukurlah kalau kau sudah paham. Baiklah ayah pergi dulu. Kau jangan lupa sarapan. Oh iya, apakah hari ini Neji menjemputmu seperti biasa?"
"Tentu saja, yah. Memangnya kalau bukan pacarku itu siapa lagi yang akan menjemputku? Sudah sana ayah pergi. Nanti terlambat." kata Sakura sambil mendorong pelan punggung ayahnya.
Seiji pun pergi setelah mencium pucuk kepala anaknya, meninggalkan Sakura yang terus memandangi punggung ayahnya yang semakin menjauh.
"Tenang saja, ayah. Tak perlu ayah ingatkan pun aku akan terus mengingatnya. Mengingat kejahatan yang telah dilakukan keluarga Uchiha pada kita….mengingat bahwa Uchiha itu adalah musuh seumur hidupku." ujar Sakura penuh kebencian.
Sebuah mobil sport hitam melaju dengan kecepatan sedang berjalan menyusuri jalan raya Konoha yang basah karena hujan. Didalamnya seorang pemuda tampan berambut coklat panjang mengemudikannya sembari melihat jam.
"Semoga saja bisa tepat waktu." gumam pemuda itu sambil menambah kecepatan mobilnya.
Tak berapa lama kemudian mobil yang di kendarai pemuda yang bernama Hyuuga Neji tersebut terlihat memasuki sebuah kompleks perumahan mewah. Dengan segera ia melajukan mobilnya ke dalam pekarangan sebuah rumah mewah bergaya modern berpagar putih.
Setelah memarkirkan mobilnya, ia berjalan masuk ke dalam rumah itu. Baru saja ia memasuki ruang tamu, sebuah suara lembut menyapa telinganya.
"Pagi, Neji-kun."
"Hn. Pagi, Sakura. Maaf aku terlambat tadi agak sedikit macet." ujarnya pada Sakura.
"Tidak apa-apa kok, Neji-kun. Aku juga baru saja selesai sarapan. Kau sudah sarapan?" tanya Sakura sambil tersenyum manis.
"Aku sudah sarapan. Lebih baik kita berangkat sekarang agar tak terlambat ke sekolah." ucap Neji sambil menggandeng tangan Sakura.
"Baiklah. Semuanya aku pergi dulu ya…." pamit Sakura kepada para pelayannya.
"Hati-hati dijalan Nona Sakura, Tuan Neji." jawab para pelayan itu dengan serempak.
Mereka pun berjalan menuju mobil Neji. Dengan sigap Neji membukakan pintu mobilnya untuk Sakura lalu masuk ke dalam mobil dan mulai menjalankannya keluar dari pekarangan keluarga Haruno itu.
Tanpa di sadari baik Sakura maupun Neji pengemudi sebuah mobil sport berwarna biru tua sedang memperhatikan mobil Neji keluar dari rumah tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan. Pemuda berambut biru dan bermata onyx tersebut tampak menggenggam kemudi mobilnya dengan sangat kuat sambil menggertakkan rahangnya.
"Sudah melihat Sakura-mu kan Sasuke? Sekarang lebih baik kita pergi atau kita akan terlambat. Aku tidak mau reputasiku sebagai murid teladan yang tidak pernah terlambat rusak hanya karena kau sibuk menguntit Haruno Sakura. Huh, padahal aku ini kan pacarmu kok bisa-bisanya kau mengajakku menguntit gadis lain. Memangnya kau tidak takut aku cemburu apa?" ucap seorang gadis cantik berambut merah yang juga berada dalam mobil tersebut pada pemuda yang ternyata bernama Sasuke itu.
"Hn. Kau tidak usah cerewet, Karin. Dan buat apa aku memperdulikan apakah kau cemburu atau tidak? Hn. Perlu kau tahu aku tidak sedang menguntit siapapun." jawab Sasuke sinis.
"Oh, ya? Kalau begitu apa yang sedang kita lakukan sekarang, Sasuke-KUN?" balas Karin sambil memutar bola matanya yang bewarna merah.
"Aku hanya sedang melihat apakah pemuda Hyuuga itu memperlakukannya dengan baik." balas Sasuke yang tetap berusaha mengelak.
"Melihat itu tidak setiap hari, Sasuke." ucap Karin dengan pandangan mengintimidasi.
"Pokoknya, aku tidak menguntit Sakura. Titik." desis Sasuke sambil menatap tajam mata wanita cantik itu.
"Ya…ya…ya terserah kau sajalah. Yang penting sekarang kita berangkat, ayo cepat!" ucap Karin sambil memalingkan wajahnya dan memakai ipod-nya.
"Hn." jawab Sasuke ketus yang kemudian melajukan mobilnya.
Sementara itu dalam mobil Neji, Sakura dan Neji tak saling bicara sepatah kata pun. Mereka berdua seperti tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Setidaknya sampai Neji memutuskan untuk menghentikan keheningan tersebut dengan berbicara pada Sakura.
"Sakura…." panggil Neji.
"Ya, Neji-kun?" jawab Sakura.
"Selamat ulang tahun. Ini hadiah ulang tahunmu, ambilah." ucap Neji sambil menyerahkan sebuah kotak yang terbungkus dengan kertas kado bewarna pink.
Sakura sekilas memandang Neji dengan tatapan malas, lalu segera memalingkan wajahnya ke luar kaca mobil,"Aku tak perlu kado. Kau sendiri tahu kan bahwa aku sangat membenci ulang tahunku. Jadi buat apa kau memberiku kado? Untuk mengejekku, huh?"
Mendengar apa yang dikatakan Sakura, Neji pun menyunggingkan sebuah senyuman kecil dan membelai rambut gadis itu perlahan.
"Hn. Bukan begitu. Aku tak bermaksud apapun. Hanya formalitas sebagai seorang 'pacar', Sakura. Untuk jaga-jaga kalau ada orang yang bertanya tentang kado dariku untukmu. Bukankah kau juga melakukan hal yang sama waktu ulang tahunku dan valentine kemarin?"
"Uhm...benar juga. Ya sudah kalau begitu ini aku terima." ucap Sakura sambil menatap Neji dan mengambil kado itu.
"Tapi akankah lebih baik kau memberiku kado yang paling aku inginkan sebagai seorang 'pacar', eh Neji-kun?" lanjut Sakura sambil menatap lekat Neji dengan kedua mata indahnya.
"Haaaaah...apa memangnya yang kau inginkan?" jawab Neji tanpa sedikit pun berpaling dari jalan.
"Aku ingin kehancuran keluarga Uchiha sebagai kado ulang tahunku."
Mendengar itu Neji dengan segera menepikan dan memberhentikan mobilnya. Dengan kedua mata lavendernya ia menatap mata Sakura dengan lekat. Jade bertemu lavender.
"Sakura…..apa maksudmu?" tanya Neji dengan tegas.
Sakura pun tersenyum dan membelai pipi Neji perlahan, "Santai saja, Neji. Aku hanya asal bicara. Ingin lihat reaksimu saja ketika mendengarnya."
Neji dengan segera melepas tangan Sakura dari pipinya dan menggenggamnya. "Apa sedang yang kau rencanakan, Sakura? Jawab pertanyaanku dengan jujur."
Mendengar pertanyaan itu Sakura terkikik pelan dan menjawab, "Hihihihi, aku tak merencanakan apa pun, Neji-kun. Sungguh. Meskipun aku sangat membenci mereka tapi aku tidak akan melakukan apapun untuk membalas perbuatan mereka. Aku sudah berjanji pada ayah untuk tidak berurusan dengan Uchiha lagi. Biarlah hukum karma yang membalasnya. Lagipula membalas dendam itu kan dosa, Neji-kun."
"Huh kau itu sok suci sekali berbicara tentang dosa, Sakura. Tak tahukah kau bahwa menyimpan dendam itu juga termasuk perbuatan dosa? Jadi, menyimpan rasa bencimu pada Uchiha itu juga adalah perbuatan dosa lho Sa-Ku-Ra." ejek Neji sambil tersenyum kecil.
"Hmmph kau tidak usah sok menasehatiku, Neji. Berkacalah dulu sebelum kau berbicara begitu. Kau ini sama saja denganku. Sama-sama orang yang menyimpan dendam." balas Sakura dengan pandangan dan senyuman mengejek.
"Hn. Kalau aku tidak sama denganmu, buat apa aku menjadi 'pacar'mu ha? Bukankah sifat pendendam kita ini yang menyatukan kita, eh Sakura?" balas Neji tak mau kalah.
"Haaaah kau ini sudah bisa banyak bicara rupanya. Sudah cepat jalan lagi. Nanti kita terlambat." desis Sakura sebal.
"Ya." jawab Neji sambil kembali melajukan mobilnya.
Setelah itu hening pun kembali mewarnai perjalanan mereka menuju sekolah.
Sebuah mobil sport biru tua terlihat memasuki lingkungan Konoha International High School dengan kecepatan tinggi. Dengan cepat mobil itu memasuki kawasan parkir dan memarkirkannya dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi mendecit ban yang menyakitkan telinga. Seorang gadis berambut merah yang sedang mengomel dan seorang pemuda berambut biru yang memasang wajah cuek terlihat keluar dari dalam mobil tersebut dan berjalan menuju gedung KHIS diiringi dengan tatapan kagum para siswa dan siswi.
"Heh, Sasuke-kun kalau menyetir yang hati-hati dong! Yah walaupun itu kau lakukan agar kita tidak terlambat tapi tetap saja kau bisa lebih hati-hati sedikit kan. Kau tahu tidak jantungku serasa mau copot ketika kau menyetir. Aku heran sebenarnya kau bisa nyetir tidak sih? Kau hampir saja mengantarkan kita ke alam baka dengan gaya menyetirmu yang seperti itu tahu! Kalau kau saja yang ke alam baka sih mungkin tidak kenapa-kenapa. Tapi kalau aku? Bisa-bisa seluruh KHIS ini menangis karena kehilangan ratunya." cerocos gadis itu tak henti-hentinya.
Merasa tidak diperhatikan, gadis bernama Karin itu kembali melancarkan omelannya, "Sasuke-kun kau mendengarkanku tidak sih? Aku bicara panjang lebar begini kau malah diam saja. Paling tidak berikan aku respon walau hanya dengan 'Hn' dan 'Aa'-mu itu."
Tapi tetap saja sang pemuda yang menjadi sasaran omelan Karin itu tak merespon sedikit pun omongan gadis itu. Sasuke-pemuda itu-terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun pada Karin. Pandangannya hanya tertuju ke depan. Karena tak dihiraukan, Karin mendecak kesal dan memutuskan untuk diam saja dan mengikuti Sasuke dari belakang.
Tiba-tiba saja Sasuke menghentikan langkahnya yang membuat Karin menabrak punggungnya dengan cukup keras.
"Sasuke-kun ada apa sih?" tanya Karin sewot.
Bukannya menjawab pertanyaan Karin, Sasuke malah terus menatap apapun yang ada didepannya. Hal itu tentu saja membuat Karin bertambah sewot dan berjalan ke depan untuk melihat apa yang sebenarnya dilihat Sasuke.
"Apaan sih yang ada di depan Sas-"
Gumaman Karin terpotong begitu melihat seorang gadis mungil berwajah cantik dan berambut merah muda-lah yang ada di depan Sasuke. Disamping gadis itu berdiri seorang pemuda tampan bertubuh tinggi berambut coklat panjang. Sepasang muda-mudi itu terlihat sedang menatap tajam Sasuke dan kelihatannya tak menyadari kehadiran Karin.
Dengan segera Karin memasang wajah angkuhnya dan tersenyum meremehkan sambil berkata, "Oh rupanya kalian pasangan aneh. Ku pikir siapa sampah yang telah menghalangi jalanku dan Sasuke-kun. Ternyata kalian toh….."
Perkataan Karin itu segera mengalihkan perhatian Sakura-sang gadis merah muda- dan Neji-sang pemuda berambut coklat panjang- dari Sasuke menuju ke dirinya. Begitu melihat Karin, wajah Sakura yang semula terlihat tegang itu berubah menjadi wajah yang mengejek.
"Ah, sial sekali aku. Pagi-pagi sudah bertemu setan merah dan pantat ayam. Ternyata kalian berdua sudah pulang dari neraka, ya? Cepat sekali. Ku kira kalian akan selamanya berada disana. Sayang sekali perkiraanku itu tidak tepat. Mengecewakan ya, Neji-kun?" ucap sakura dengan seringaiannya.
"Hn." jawab Neji sambil tersenyum mengejek, "Lebih baik kita pergi dari sini, Sakura. Sebelum kita menjadi penghuni neraka juga seperti mereka." lanjut Neji sambil merangkul pinggang Sakura.
"Hmmm. Benar juga ya, Neji-kun. Ayo." jawab Sakura sambil balik merangkul pinggang Neji dan berjalan pergi meninggalkan Karin yang melongo mendengar perkataan mereka.
Tak terima dihina didepan umum begitu saja, Karin pun segera berteriak dengan lantang,"HEI PINKY! BICARA APA KAU TADI, HUH?"
Mendengar perkataan Karin, seluruh siswa langsung menarik nafas mereka. Atmosfer tegang dan kaku pun terasa dengan sangat jelas. Tak seorang pun berani beranjak dari tempat mereka.
Tak lama setelah Karin meneriakkan kata-kata tabu itu, si pinky yang dimaksud pun segera membalikkan tubuhnya menghadap Karin. Terlihat wajah Sakura yang semula tenang berubah menjadi seperti seekor singa yang bangun dari tidurnya.
"Apa yang barusan kau katakan, hei setan merah? Coba kau ulangi lagi." suara Sakura yang menggema di sepanjang koridor terdengar sangat ganas.
"P-I-N-K-Y…pinky." jawab Karin dengan lantang.
Karin dan Sakura saling berpandangan sengit. Ruby bertemu Jade. Dan akhirnya Perang Dunia KHIS yang ditakutkan akan terjadi itupun pecah…...
-TBC-
Bagaimana fic-nya? Apakah memuaskan? Apakah kepanjangan? Hehehehe. Review please? Kritik dan saran saya tunggu. Tapi untuk kritik, kritik yang membangun ya. Jangan flame. Terima kasih…
:D
