Hualoooo…saya kembali lagi dengan update-tan baru! Buat yang sudah mereview fict saya ini, saya ucapkan terima kasih.

Yak langsung saja dengan balasan reviewnya :

Fuyuzakura-hime : makasih buat pujiannya. Untuk shikaino maaf sekali ya, saya nggak merencanakan buat masangin mereka. Mungkin di fict lain saya bakal masangin mereka. Sekali lagi maaf, ya. Yup, ayo kita saling membantu.

Merai adikshinichikudo : aduh maaf ya, buat di fict ini saya nggak memasangkan shika-ino. Tapi saya janji di fict lain, saya akan bikin pair itu. Maaf, ya.

Violet7orange : hihihi penasaran ya? Saya juga (loh?). tenang aja pelan-pelan semuanya akan terbongkar ko. Ttg kejadian 'itu' juga tentang dendamnya neji. Tunggu aja ya.

VamPs 9irL : Siiip….ini udah saya lanjutkan

Rei-chan : iya lagi iseng-iseng eh kepikiran pair ini. Soal rambut pendek itu saya sudah mensiasati bagaimana supaya rambut sakura jadi pendek ntar. Tunggu aja ya.

ZoZo : waduh tertipi ya? Padahal saya nggak bermaksud menipu kamu loh…hihihihi Yup, intinya itu yang ada di chap 1 ini. Di chapter ini princess ino udah muncul tuh…

Azuka Kanahara : makasih byk senpai buat pujiannya. Saya sangat tersanjung (nama sinetron kali…..). Soal jadi sasusaku saya udah memikirkannya kok. Tunggu aja ya.

Icha yukina clye : wah syukur deh kalo memuaskan. Saya jadi senang. Soal masa lalu uchiha-haruno mgkn bntr lagi muncul. Tunggu aja ya. Soal chap juga saya ngga akan buat panjang-panjang. Ntar kalo saya buat panjang bisa-bisa cinta fitri merasa tersaingi lagi…..hihihi


Konoha International Senior High School adalah sekolah ter-elite di Konoha dan merupakan salah satu sekolah unggulan di Jepang. Selain reputasinya yang bagus, ukuran sekolahnya yang luas, bangunan yang megah dan indah, serta fasilitasnya yang lengkap menjadikan sekolah ini menjadi pilihan banyak calon murid. Sehingga merupakan suatu kebanggaan jika berhasil diterima di sekolah ini.

Sama seperti di sekolah-sekolah lainnya, Konoha International Senior High School juga memiliki anak-anak populer yang dikagumi oleh para murid dan istilahnya menjadi 'penguasa' di KIHS. Tapi jika umumnya di sekolah-sekolah yang menjadi 'penguasa' sekolah adalah murid lelaki lain halnya di KIHS. Di sini yang menjadi 'penguasa' sekolah adalah 3 murid perempuan terpopuler yang dikagumi oleh hampir seluruh murid. Ketiga murid perempuan itu adalah 'Queen' Karin, 'Angel' Sakura, dan 'Princess' Ino.

Pertama, The Queen of the School Karin Koizumi. Gadis bermata ruby indah dan berambut merah ini dijuluki sebagai 'Queen' karena sikapnya yang benar-benar seperti seorang ratu, sok berkuasa, suka memerintah, tegas, dan di segani. Sifat Karin yang arogan memang menjadi nilai minus dari gadis ini. Tapi meskipun begitu banyak para murid yang tetap mengaguminya. Hal itu disebabkan karena Karin memang punya banyak hal untuk disombongkan. Cantik, kaya, pintar, pimpinan redaksi mading dan majalah sekolah adalah beberapa nilai plus Karin yang membuatnya di kagumi. Namun yang menjadi poin utamanya adalah sikapnya yang tegas dan sangat berani, bahkan kepada kakak kelas sekalipun membuatnya terlihat 'powerful'. Selain itu menjadi pacar seorang Sasuke Uchiha adalah sebuah nilai yang benar-benar plus buatnya mengingat Sasuke itu adalah pangeran alias laki-laki terpopuler di KIHS yang memiliki sikap sedingin es di kutub dan wajah yang sangat tampan namun sulit didekati. Tak sedikit orang yang terkejut bagaimana bisa Karin 'menaklukkan' Sasuke yang menjadikan mereka sepasang kekasih. Hal itu hingga kini masih menjadi salah satu misteri yang ada di KIHS.

Selanjutnya ada malaikatnya KIHS, Haruno Sakura. Gadis cantik berambut merah muda dan bermata jade ini dijuluki 'Angel' karena sikapnya yang sangat ramah dan baik pada orang-orang di sekitarnya. Selain itu senyumannya yang menawan banyak orang sehingga dijuluki senyum malaikat juga menjadikan ia mendapatkan predikat 'Angel'. Dia juga merupakan pemegang predikat misteri terbesar KIHS karena warna rambutnya yang tak wajar itu. Sama seperti Karin, Sakura juga adalah seorang gadis yang pintar dan kaya raya. Ia juga merupakan murid yang berbakat dalam bidang musik. Dia bisa memainkan berbagai macam alat musik, terutama piano,biola, dan cello. Selain itu suaranya juga sangat merdu. Tak heran bila ia menjadi ketua klub seni di KIHS. Biarpun dijuluki seorang 'Angel', Sakura tetaplah seorang manusia biasa yang memiliki kekurangan. Gadis ini termasuk salah satu gadis yang mudah tersulut emosinya alias pemarah, terutama bila ada yang mengata-ngatai warna rambutnya yang tak wajar itu. Jika sudah muncul sifatnya yang satu itu, mungkin kalian akan berpikir dua kali untuk memberinya julukan 'Angel'. Tapi untungnya ia memiliki seorang Hyuuga Neji, laki-laki tampan yang tak kalah populernya dengan Sasuke, sebagai kekasihnya. Sikap Neji yang tenang sangat bertolak belakang dengan Sakura yang emosian dan cepat panik itu seolah mampu meredam emosi Sakura yang tergolong suka meledak-ledak. Perbedaan sifat mereka yang begitu besar itu dianggap saling melengkapi oleh murid-murid lainnya. Karena itulah mereka terpilih sebagai pasangan ter-perfect di KIHS yang banyak dikagumi. Bagaimana mereka bisa menjadi kekasih juga menjadi salah satu misteri yang ada di KIHS mengingat begitu berbedanya sifat mereka jika dibandingkan.

Dan yang terakhir, Princess Ino, begitulah orang-orang menyebutnya. Sikapnya yang sedikit manja, berasal dari keluarga berada, dan tingkahnya yang bak seorang putri membuatnya menyandang predikat 'Princess'. Cantik, baik, dan sifatnya yang easy going adalah alasan mengapa ia menjadi salah satu murid yang dikagumi.. Namun sikapnya yang terlalu blak-blakan menjadi nilai minus gadis pirang bermata biru ini. Ino adalah seorang gadis yang berbakat dalam bidang menari, terbukti dengan terpilihnya ia menjadi ketua cheerleader KIHS yang berhasil membawa KIHS menjadi juara dalam berbagai kejuaraan. Ia termasuk gadis yang pintar meskipun tak sepintar Sakura dan Karin dalam bidang akademis. Paling tidak ia selalu masuk jajaran 20 besar di sekolah. Berbeda dengan Karin dan Sakura yang sudah popular sejak SMP, masa SMP Ino tidak ada yang mengetahuinya. Bahkan, di mana dia bersekolah dulu saja tidak ada yang tahu, kecuali Inuzuka Kiba, laki-laki penyayang hewan yang termasuk jajaran lelaki populer di KIHS. Sikap Kiba yang ramah, gentleman, dan juga wajahnya yang tampan menjadi alasan utama mengapa ia menjadi murid yang populer. Kiba sendiri adalah pacar Ino sejak SMP. Sifat Kiba yang sedikit playboy itu tak membuat Ino risih sehingga memutuskan untuk berpisah dengannya. Nyatanya hingga sekarang mereka tetap langgeng saja. Penyebab mengapa Ino tetap bertahan dengan Kiba juga merupakan salah satu misteri di KIHS yang belum terpecahkan.

Hubungan antara ketiga anak populer itu sendiri bisa dikatakan kurang baik atau mugkin bisa dibilang sangat tidak baik. Terutama hubungan antara Sakura dan Karin Mereka berdua itu dapat di ibaratkan seperti kucing dan anjing yang selalu bertengkar setiap kali bertemu. Sedangkan Ino sendiri cenderung bersikap netral alias berusaha berteman baik dengan keduanya-terutama Sakura-, biarpun ia juga sering bertengkar dengan Karin walaupun tak separah pertengkaran antara Karin dan Sakura. Ino juga sering membantu melerai Sakura dan Karin bila mereka berdua berkelahi. Walaupun pada akhirnya tak jarang ia malah ikut berkelahi juga karena tersulut emosinya.

Berbicara lagi soal Karin dan Sakura, jika ada istilah Friend Forever, mungkin julukan Enemy Forever cocok untuk menggambarkan hubungan keduanya. Tak pernah sekali pun mereka berdua terlihat akur. Jika sudah bertemu mereka pasti akan mulai saling menyindir yang berakhir pada pertengkaran hebat yang tak kalah dahsyatnya dibanding Perang Dunia yang biasa diceritakan di buku-buku sejarah itu. Contohnya ya seperti yang terjadi pada pagi ini…


Our Way

A Naruto Fanfic

Naruto © Masashi Kishimoto

Romance / Drama / Friendship

T Rated

Warning : AU dan OOC

Summary : Kisah sekumpulan remaja dalam kehidupan anak sma yang diiringi konflik. Bagaimanakah mereka menghadapi semua konflik yang terjadi?


Lama mereka berpandangan dengan sengit seperti itu, namun tak seorang pun yang beranjak untuk melakukan apapun. Perlahan-lahan semakin banyak orang yang masuk ke dalam lorong sekolah dan terdiam memperhatikan mereka, seolah menunggu apa yang akan dilakukan oleh sang ratu dan malaikat tersebut. Tapi, baik Sakura maupun Karin tetap pada posisi mereka masing-masing dan tetap saling pandang dengan tatapan yang mungkin sebentar lagi akan menimbulkan percikan api jika diteruskan lebih lama.

Neji yang berada di samping Sakura pun mulai terlihat bersiaga, kalau-kalau terjadi sesuatu ia bisa dengan segera menghalangi Sakura untuk berbuat bodoh. Begitu pula dengan Sasuke yang mulai beranjak mendekati Karin dan berdiri tepat di sampingnya.

Keadaan tetap hening sampai akhirnya Sakura membuka mulutnya, "Hei, setan merah apa maksudmu mengataiku pinky seperti itu? Kau ingin mencari masalah denganku?"

"Cih! Sok sekali kau pinky! Seharusnya aku yang bertanya padamu, apa maksudmu mengataiku setan merah, ha?" jawab Karin dengan sengit.

Wajah Sakura yang semula terlihat marah, perlahan-lahan dihiasi sebuah seringaian jahil yang terkesan menghina. Dengan kedua bola mata jade-nya ia memandangi Karin dari ujung kepala sampai ujung kaki, "Uhmmm….memang seperti itu kenyataannya, kan?" tanya Sakura dengan sok polosnya.

"Kau itu kan memang seorang setan. Lihat saja wajah dan sifatmu yang menyerupai setan itu. Dan berhubung warna rambutmu merah, jadi kunamai saja kau setan merah. Bukankah itu adalah nama yang sangat bagus? Nama Karin itu sudah sangat pasaran. Seharusnya kau berterima kasih karena aku telah bersedia repot-repot memberikan julukan spesial itu hanya untukmu." lanjutnya lagi.

Mendengar perkataan Sakura, mata Karin berkilat marah. Dengan sekuat tenaga ia mengepalkan tangannya dan mulai berjalan ke arah Sakura. Sasuke yang melihatnya langsung refleks menggenggam tangan Karin dan menahannya sehingga gerakan Karin terhenti. Karin menatap Sasuke dengan pandangan-lepaskan aku atau kau akan kehilangan wajah tampanmu itu-. Namun, pandangan itu tak digubris oleh Sasuke yang hanya diam sambil perlahan mulai meraih bahu Karin untuk menenangkannya.

Sakura yang melihat Sasuke merangkul Karin merasakan perasaan kesal dan tak suka. Perlahan bibirnya terkatup rapat dengan kedua tangannya mulai mengepal. Ketika ia lihat Karin yang sudah mulai tenang itu berjalan menjauhinya sambil tetap di rangkul Sasuke, perasaan kesalnya yang entah karena apa itu pun semakin memuncak.

"Ah…..rupanya kau takut menghadapiku eh, setan merah? Kau itu memang benar-benar pengecut, Karin. Bukankah kau berkata kau itu adalah seorang ratu yang hebat, mana buktinya? Menurutku kau itu adalah ratu yang payah karena tak berani menghadapiku. Dimataku, sekarang ini kau tak lebih dari seorang pecundang. Memalukan. Apa kata dunia, ha?" ucap Sakura pada Karin.

Seketika, Karin yang tadinya mulai beranjak pergi pun berbalik arah menuju Sakura. Di hempaskannya tangan Sasuke dengan kasar. Melihat itu Sasuke berusaha kembali merangkul Karin, namun belum sempat ia merangkulnya Karin sudah terlebih dahulu menatapnya tajam dan berkata, "Jangan ikut campur, Sasuke. Perempuan ini harus diberi pelajaran agar tak macam-macam denganku dan sok berkuasa. Sebaiknya kau tak usah ikut campur urusanku. Biarkan aku menyelesaikan ini dengan dia berdua saja." ucap Karin tegas.

Belum sempat Sasuke membalas perkataan Karin, Sakura sudah terlebih dulu menyelanya,"Benar apa yang dikatakannya. Bisakah kau tak mencampuri urusanku-dan Karin-, Sasuke-san? Ini hanya masalah antara kami berdua. Kau dan juga Neji tak usah ikut campur." ucapnya sambil melirik Neji yang terlihat ingin melakukan hal yang sama dengan Sasuke.

"Ayo maju kalau kau berani, Karin." lanjut Sakura yang dengan terang-terangan menantang Karin.

Sasuke pun terdiam dan membiarkan Karin berjalan ke arah Sakura. Neji yang semula ingin menarik Sakura pergi juga memutuskan menuruti keinginan pacarnya itu daripada ia harus berurusan dengan kemarahan Sakura nantinya.

Ketika Karin tepat berada di depan Sakura, tiba-tiba dengan sekuat tenaga Karin mendorong Sakura hingga tubuh gadis itu jatuh terduduk dengan cukup keras di lantai. Seketika mata murid-murid yang berada di lorong itu melebar tak percaya atas apa yang dilakukan Karin.

Neji yang tadinya berniat membantu Sakura berdiri, mengurungkan niatnya karena ucapan kekasihnya itu, "Tak perlu Neji. Sudah ku bilang kan kau tak usah ikut campur." ucap Sakura yang mulai berdiri perlahan.

Melihat Sakura yang sedang berusaha berdiri itu, Karin dengan senyuman arogannya berkata, "Sekarang bisa kita lihat kan siapa yang sebenarnya lemah, Haruno? Makanya jangan merasa hebat dulu. Jangan kau kira aku itu tak bisa melawanmu. Sangat mudah bagiku untuk membuatmu bersujud memohon maaf di kakiku jika aku mau. Ingat itu 'Angel' Sakura!"

Sakura yang telah berhasil berdiri hanya tersenyum kecil. Sambil menatap kedua mata ruby Karin, Sakura menjawab, "Ckckckck…..aku tak menyangka 'Queen' Karin bahwa gaya berkelahimu itu sangat norak senorak warna rambutmu. Seleramu itu main fisik rupanya. Yah, memang pantas sih jika mengingat kelakuanmu yang barbar seperti perempuan tak berpendidikan itu."

Bukannya kesal mendengar ejekan Sakura itu, Karin justru tersenyum lebar. Hal ini tentu saja membuat semua orang heran. Sebab sang 'ratu' yang satu ini terkenal sebagai pribadi yang sangat mudah tersulut emosinya, apalagi jika sudah bertemu dengan sang 'malaikat' berambut merah muda itu.

"Sebenarnya Haruno…..yang tidak berpendidikan itu kau atau aku? Bukankah cara bicaramu itu tidak menunjukkan cara bicara seseorang yang berpendidikan? Memangnya kau tidak pernah diajarkan ibumu ya bagaimana seharusnya perempuan berpendidikan itu bertingkah laku? Jangan-jangan ibumu itu adalah wanita rendahan yang tidak berpendidikan ya? Pantas saja dia tak bisa mengajarimu cara bertingkah laku dan berbicara dengan sopan. Yah kalau memang itu kenyataannya, aku tidak kaget sih jika kau memiliki sikap seperti ini. Tapi yang paling membuat aku heran, kok bisa-bisanya Tuan Seiji Haruno yang terhormat sampai bisa menikahi wanita seperti ibumu itu ya? Kasihan sekali ya, Tuan Seiji karena harus menikah dan memiliki anak sepertimu dari ibumu itu." balas Karin tak mau kalah disertai dengan cengiran 'setan'-nya.

Sekali lagi tatapan tak percaya diberikan para murid atas apa yang dikatakan Karin pada Sakura. Bukan hanya para murid saja, Neji dan Sasuke pun menatap Karin dengan pandangan yang sama.

Tubuh Sakura seketika menegang mendengar perkataan Karin itu. Dengan keras ia mengepalkan tangannya sampai membuat kukunya melukai telapak tangannya dan mengeluarkan darah. Dengan suara bergetar ia berkata, "Apa tadi yang kau katakan, Karin? Kau bilang ibuku apa?"

Dengan tersenyum penuh kemenangan Karin melihat Sakura dan menjawabnya, "Aku bilang ibumu adalah wanita ren-da-han Sakura….sekali lagi ku ulang wa-ni-ta ren-"

Belum sempat Karin menyelesaikan kalimatnya, sebuah tamparan keras dari tangan Sakura datang menghadiahi pipi mulus Karin.

"Ayo, kalau berani bilang lagi. Biar kedua pipimu merasakan bagaimana rasanya tamparan dari Sakura Haruno ini." ucap Sakura.

Karin yang semula terdiam terkejut dengan tamparan Sakura, mulai memegang pipinya perlahan. Di tatapnya Sakura dengan kilatan marah terpancar dari matanya.

"Brengsek…!" desis Karin marah.


Sebuah motor sport merah dengan kecepatan penuh memasuki kawasan Konoha International High School. Membuat orang-orang di sekitarnya dan gadis yang membonceng di belakangnya menjerit histeris. Sedangkan sang pemuda yang mengendarainya justru tertawa senang mendengar teriakan dari gadis itu.

Sesampainya di tempat parkir, sang pemuda yang mengendarai motor itu memarkirkan motornya dengan kasar sehingga hampir menabrak sebuah tong sampah di dekatnya. Untung saja hal itu tidak terjadi. Kalau sampai terjadi bisa dibayangkan bagaimana reaksi petugas kebersihan sekolah ketika mengetahuinya.

"Fuh…hampir saja." ucap sang pemuda itu lega.

Perlahan pemuda itu membuka helm yang dikenakannya sehingga menampilkan wajah tampan yang dihiasi tato segitiga merah di kedua pipinya. Sang pemuda berambut coklat itu lalu menoleh ke arah gadis yang diboncengnya. Melihat sang gadis yang masih memakai helm dan memeluk erat pinggangnya itu , sang pemuda itu menyeringai menampilkan kedua giginya yang tampak seperti taring itu dan berkata, "Hoi Ino! Sampai kapan kau mau memelukku terus? Kita sudah sampai tahu!"

Sang gadis di belakangnya pun perlahan melepaskan pelukannya. Setelah yakin bahwa mereka telah sampai di sekolah, dengan segera ia melompat turun dan melepaskan helmnya yang menyembunyikan wajah cantiknya itu. Dengan kesal ia melemparkan helm yang ia pakai ke pemuda yang masih terduduk si atas motor itu.

"Huh! Kau itu hampir saja membuat aku terkena serangan jantung, tahu! Lain kali bisa lebih pelan sedikit tidak sih? Kita itu sedang naik motor bukan mobil, Kiba! Lihat rambutku yang sudah ku sisir rapi ini jadi kusut gara-gara kau! Menyebalkan sekali!" omel gadis bernama Ino itu pada pemuda yang bernama Kiba tersebut.

Melihat reaksi pacarnya, Kiba pun memutar bola matanya, "Ini semua kan juga gara-gara kau, Ino! Coba saja kau tidak kelamaan menata rambutmu itu, aku tidak perlu mengebut seperti tadi supaya tidak terlambat sampai si sekolah."

"Apa boleh buat, Kiba. Rambutku ini kan panjang sekali. Jadi butuh waktu lama untuk menyisirnya." bela gadis pirang itu sambil menunjuk rambutnya yang panjangnya sudah sedikit melewati pinggangnya itu.

"Makanya potong saja biar tidak repot." usul Kiba asal.

Mendengar itu Ino langsung mendelik padanya dan berkata , "Tidak! Aku tidak akan memotong rambutku ini. Enak saja kau menyuruhku seperti itu."

"Biar apapun alasannya aku tak akan memotong rambutku ini sampai 'dia' menyadari sudah berapa lama 'dia' meninggalkanku sendirian!" lanjutnya pelan.

Kiba hanya terdiam mendengar jawaban Ino. Perlahan-lahan ia menggenggam tangan Ino dan menciumnya, "Kamu tidak akan pernah sendirian, Ino. Aku akan selalu menemanimu supaya kau tidak kesepian. Aku janji."

Ino menarik tangannya dari genggaman Kiba. Dengan lekat ia menatap kedua mata Kiba dengan mata birunya. Perlahan ia memeluk dan membenamkan wajahnya pada dada bidang Kiba. Kiba pun balas memeluk Ino dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Ino.

Sambil memejamkan matanya Ino berbisik pada Kiba, "Aku mencintaimu, Kiba-kun."

Kiba hanya terkekeh geli mendengarnya ucapan Ino itu.

"Cinta seperti apa yang kau maksud, Ino?" gumam Kiba pelan.

"Hm? Ada apa? Sepertinya kau mengatakan sesuatu tadi." tanya Ino.

"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa." jawab Kiba.

"Ino…Kiba…." dari kejauhan terdengar seseorang memanggil nama Kiba dan Ino. Mereka yang mendengarnya segera melepaskan pelukan mereka dan mencari sumber suara yang memanggil-manggil nama mereka itu.

Dari kejauhan tampaklah seorang gadis berambut cokelat dan berwajah manis berlari menghampiri mereka. Sambil mengatur nafasnya, ia berbicara pada Kiba dan Ino yang sudah berada tepat di depannya.

"Hosh…hosh…Ih-no…..ghah..what….Shahkhurah…..hosh….hosh….dha-"

Belum selesai gadis itu bicara, Ino dengan cepat memotongnya, "Kau ini bicara apa sih, Matsuri? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."

"Lebih baik kau atur dulu nafasmu, baru bicara." sambung Kiba.

Matsuri pun terdiam beberapa saat sambil mengatur nafasnya. Setelah nafasnya kembali teratur, dengan segera ia berkata,"Gawat Ino…..ini benar-benar gawat!" ucapnya setengah berteriak.

"Gawat apa sih? Ada gempa bumi? Tsunami? Gunung meletus atau-"

"Bukan, ini lebih gawat dari itu. Angel dan Queen bertengkar lagi!" potong Matsuri cepat.

"Ha? Kalau itu bukankah memang setiap hari? Si forehead itu kan memang selalu suka mencari masalah, apalagi dengan Karin." kata Ino sambil menatap Matsuri aneh.

"Iya sih, tapi kali ini mereka berdua sampai jambak-jambakan, gulat-gulatan, dan tampar-tamparan. Pokoknya main fisik begitu deh. Sasuke dan Neji sudah berusaha memisahkan mereka, tapi tetap saja-"

"HAAAAAH! Kenapa kau tak bilang dari tadi. Ayo cepat kita kesana sebelum mereka berdua mulai saling membunuh!" potong Ino sambil berlari menggandeng Kiba dan Matsuri sekaligus.


Sesampainya Ino disana, terlihatlah Neji dan Sasuke yang sedang berusaha menahan pacar-pacar mereka yang sudah siap menerkam satu sama lain itu. Terlihat keadaan Queen dan Angel KHIS itu sudah sangat berantakan. Terutama Karin. Pada pipinya terlihat bekas tamparan yang masih merah, rambut merahnya berkibar-kibar karena terlepas dari ikatannya, kancing seragamnya yang terbuka, dan dasinya yang sudah tak berbentuk dengan jelas.

Sedangkan kondisi Sakura jauh lebih baik dari Karin. Hanya rambutnya yang sedikit berantakan dan juga dasinya yang hampir terlepas dari kerah bajunya yang membuatnya terlihat berantakan. Tapi yang lebih menarik perhatian Ino adalah, bagaimana bisa mereka terlibat perkelahian yang liar seperti ini. Padahal biasanya mereka berdua hanya terlibat pertengkaran mulut saja. Tak sampai fisik seperti ini. Pasti ada sesuatu yang memicu pertengkaran mereka hingga sampai seperti ini.

Dengan segera Ino menghampiri mereka dan memberi isyarat bagi Neji dan Sasuke untuk menyingkir, dengan maksud biar ia saja yang melerai mereka berdua seperti biasa. Namun sialnya, saat Sasuke melepaskan pegangannya pada Karin, dengan segera Karin menerjang Sakura. Ino yang melihat ini pun berusaha menghalangi Karin dengan berdiri di depan Sakura yang juga sudah mulai bersiap menyerang lagi.

Karin yang menganggap Ino sebagai penghalang segera menarik rambut panjang Ino dan mendorongnya menjauh dari Sakura. Ino yang didorong Karin pun jatuh tersungkur ke samping. Setelah melihat Ino terjatuh, Sasuke dan Neji pun segera menghampiri dan memisahkan lagi Karin dan Sakura yang sudah memulai acara jambak menjambak itu. Sedangkan Kiba yang tadinya hanya melihat dari kejauhan, begitu melihat Ino terjatuh, ia segera berlari menuju Ino dan hendak membantunya berdiri. Namun, tangan Kiba yang sudah terulur untuk membantu Ino berdiri ditepis dengan kasar oleh Ino. Melihat reksi Ino seperti itu, ia pun menyadari bahwa Ino telah tersulut emosinya.

"Ino, tenangkan dirimu." ucap Kiba untuk menenangkan Ino.

Namun sayang, ucapan Kiba itu justru dibalas dengan deathglare dari Ino ynag membuat Kiba diam terpaku karena kaget dengan tatapan Ino itu.. Segera Ino bangkit dan menatap tajam ke arah Sakura dan Karin yang sedang dipegangi oleh Sasuke dan Neji, masih berusaha saling menyerang kembali. Sasuke dan Neji yang melihat Ino sudah berdiri dan menghampiri mereka lagi, perlahan mulai mengendurkan pegangan mereka pada Karin dan Sakura. Mereka mengira bahwa Ino akan melerai Sakura dan Karin seperti tujuannya semula, namun ternyata hal yang dilakukan Ino adalah hal yang sebaliknya. Begitu sampai tepat di belakang Karin, ia dengan kasar balas menjambak rambut Karin hingga Karin tersungkur ke belakang, karena merasa tak terima dengan perbuatan Karin tadi kepadanya.

Karin yang segera bangkit balas menerjang Ino sampai mereka berdua tersungkur ke lantai dan bergulat disana. Sakura yang melihat Ino diserang Karin segera mengambil tindakan menolong Ino dengan mendorong Karin menjauh dari Ino. Serempak terdengar sorak sorai penyemangat yang semakin kencang untuk para gadis itu dari murid-murid yang melihat kejadian itu. Bahkan, ada beberapa yang merekam adegan langka itu dengan handycame-nya. Sasuke, Kiba, dan Neji yang sempat terdiam karena terlalu terkejut melihat perkelahian pacar-pacar mereka itu segera memisahkan mereka. Neji merangkul pinggang Sakura dan menahannya untuk menyerang Karin lagi. Kiba segera melepaskan Ino yang sedang menjambak rambut Karin. Sedangkan Sasuke langsung mengamankan Karin dengan membawanya menjauh dari Sakura dan Ino yang semakin sulit dikendalikan.

Mungkin, karena terlalu kencangnya sorak-sorai penyemangat dari para murid-murid itu Kepala Sekolah dan guru-guru yang sedang rapat di gedung sebelah pun segera menghampiri sumber keributan itu. Dari kejauhan terlihat kerumunan murid yang membentuk lingkaran, padahal seharusnya mereka sudah masuk ke kelas masing-masing karena bel sudah berbunyi dari tadi. Karena penasaran, kepala sekolah pun segera menghampiri kerumunan murid-murid itu.

Betapa terkejutnya ia ketika melihat apa yang menarik perhatian para murid hingga tak mengindahkan bel masuk yang telah berbunyi. Terlihatlah di tengah kerumunan tersebut berdiri 3 orang gadis terpopuler di sekolah yang terlihat sedang berusaha saling menyerang, yang untungnya dihalangi oleh pacar-pacarnya.

Tsunade-sang Kepala Sekolah-menggertakkan rahangnya kuat-kuat sambil berusaha menahan amarahnya. Diterobosnya kerumunan murid-murid yang membentuk lingkaran mengelilingi ketiga gadis itu. Begitu dia sampai di tengah lingkaran tersebut dengan segera ia berteriak, "HARUNO SAKURA, KARIN KOIZUMI, INO YAMANAKA, HENTIKAN PERTENGKARAN KALIAN SEKARANG JUGA!"

Teriakan Tsunade sontak membuat para gadis yang semula sedang meronta-ronta agar bisa lepas dari pegangan Kiba, Sasuke, dan Neji agar bisa saling menyerang lagi seketika terdiam membeku. Begitu juga suara sorak-sorai murid-murid yang terhenti seketika membuat suasana menjadi hening.

Setelah menghela nafas, Tsunade berkata dengan tenang, "Kalian bertiga ikut aku ke ruanganku sekarang juga."

"Dan jangan lupa rapikan dulu baju kalian." lanjutnya sambil berjalan menuju ke ruangannya.

Setelah Tsunade menghilang dari pandangan mereka, Sakura, Ino, dan Karin segera melepaskan diri dari pegangan Neji, Kiba, dan juga Sasuke. Sambil saling menatap sengit mereka bertiga berjalan menuju ruang Tsunade setelah merapikan baju mereka yang berantakan terlebih dahulu.

Meskipun sumber tontonan mereka telah pergi menuju ruang kepala sekolah, tetap saja para murid tidak beranjak dari tempat tersebut. Mereka justru terlihat sedang sibuk membahas kejadian langka yang baru saja terjadi. Yah memang sih, hampir seluruh sekolah mengetahui bahwa antara Queen, Angel, dan Princess sekolah mereka memang memiliki hubungan yang tidak bisa dikatakan baik. Tapi tetap saja belum pernah sekalipun terjadi pertengkaran sehebat ini di antara mereka. Selama ini pertengkaran mereka hanyalah sebatas sindir-menyindir saja.

Melihat kerumunan murid yang tak juga bubar itu, seorang guru wanita berambut ungu yang diketahui bernama Anko itu segera berjalan mendekati kerumunan.

"HEI KALIAN SEMUA SEKARANG INI SUDAH BEL MASUK! AYO BUBAR SEMUA! BUBAR!." teriakan Anko membahana di sepanjang lorong atau mungkin di seluruh gedung.

Murid-murid pun menggerutu kesal mendengarnya, tapi mereka pun menuruti perintah Anko meski dengan berat hati. Alasannya tentu saja karena mereka takut menjadi sasaran kemarahan guru wanita tergalak se-KIHS itu.

Baru saja Neji, Sasuke, dan Kiba hendak menuju kelas mereka masing-masing seperti anak-anak lainnya, seorang guru berambut perak dan bermasker memanggil mereka.

"Hyuuga, Inuzuka, Uchiha khusus untuk kalian jangan kembali ke kelas dulu. Kalian ikutlah ke ruang guru denganku sekarang juga. Ceritakan padaku bagaimana murid-muridku yang manis itu bisa berubah menjadi barbar seperti tadi." ucap sang guru yang bernama Kakashi itu.

"Baiklah Mr. Hatake." jawab Sasuke, Neji, dan Kiba serempak.


Suasana di ruangan Kepala Sekolah Konoha International Senior High School terlihat lebih sunyi dari biasanya. Tiga orang gadis cantik terlihat berdiri di depan sang Kepala Sekolah sambil menanti-nanti apa yang akan keluar dari mulut Kepala Sekolah mereka.

Tak lama kemudian penantian gadis-gadis itu terjawab sudah. Tsunade pun akhirnya mebuka mulutnya.

"Queen Karin, Angel Sakura, dan Princess Ino ulah apa lagi yang kalian buat? Kurasa baru beberapa hari yang lalu aku memanggil kalian bertiga kemari karena bertengkar pada saat upacara kemarin." ucap Tsunade tenang.

Tak satupun dari ketiga gadis itu membuka mulut mereka untuk menjawab pertanyaan Tsunade. Ketiga gadis itu hanya menundukkan kepala mereka, tak berani menatap Tsunade langsung.

"Jawab aku! Apa yang kalian lakukan sekarang? Kenapa bisa sampai terjadi perkelahian seperti tadi? Memalukan sekali tingkah kalian itu." ucap Tsunade lagi dengan meninggikan nada bicaranya.

"Maafkan kami, Kepala Sekolah." hanya itulah kata-kata yang keluar dari mulut ketiga gadis itu.

"AKU TIDAK BUTUH KATA MAAF YANG SUDAH RIBUAN KALI KALIAN UCAPKAN ITU. AKU HANYA BUTUH JAWABAN DARI PERTANYAANKU TADI." bentak Tsunade yang sudah mulai kehilangan kesabarannya itu.

Meskipun sudah dibentak Tsunade, tetap saja ketiga gadis itu tak mengeluarkan suara sedikit pun.

Tsunade menghela nafasnya melihat tingkah ketiga gadis itu. Sambil menatap tajam ketiga muridnya itu, Tsunade berkata, "Baiklah jika kalian tetap tak mau menjawab pertanyaanku. Lebih baik kalian semua aku skors saja sekarang."

Mendengar ancaman Tsunade itu, sontak saja ketiga gadis itu langsung menatap Tsunade kaget. Dengan segera Ino melangkah maju dan memohon pada Tsunade, "Jangan, Kepala Sekolah. Kami mohon jangan lakukan itu."

"Benar, kami mohon jangan skors kami. Kami berjanji tak akan mengulangi kejadian tadi." pinta Karin.

Tsunade tampak mengerutkan keningnya, pertanda bahwa ia sedang berpikir. Setelah beberapa lama ia menimbang-nimbang ia pun mulai bicara.

"Aku bisa saja tidak menskors kalian. Tapi sebelumnya katakan dulu padaku bagaimana hal ini bisa terjadi."

Karin dan Ino saling bertatapan. Tapi tak satupun dari mereka yang memulai menceritakan kejadiannya pada Tsunade. Hampir saja Tsunade kembali membentak mereka. Namun, ucapan Sakura membuatnya mengurungkan niatnya itu.

"Biar aku saja yang menjelaskannya, nona Tsunade."

"Ya sudah. Ayo cepat katakan. Aku menunggumu, Sakura."

Sakura pun menghela nafasnya perlahan dan mulai berbicara, "Seperti yang dulu-dulu pertengkaran kali ini juga dimulai olehku dan Karin. Kami yang berpapasan di lorong saling mengejek satu sama lain. Awalnya pertengkaran kami itu hanya sekedar saling menghina saja." Sakura menghentikan sejenak perkataannya dan kemudian memejamkan matanya, "Sampai akhirnya Karin membawa-bawa ibuku dalam pertengkaran kami ini." lanjutnya lagi sambil membuka matanya.

Tsunade terlihat menganggukkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya pada Karin yang sedang menggigit bibir bawahnya.

"Benarkah itu, Karin?" tanya Tsunade.

"Aku hanya mencoba membalasnya Kepala Sekolah. Dia duluan yang menghinaku." ujar Karin membela diri.

"Tapi setidaknya aku tidak membawa-bawa ibumu dalam masalah ini. Mulutmu itu memang perlu disekolahkan!" bentak Sakura pada Karin yang mulai terkesan menyalahkannya itu.

"Tapi tetap saja kau yang mulai duluan. Seandainya kau tak menghinaku terlebih dulu, aku juga pasti tak akan meghina ibumu." ucap Karin tak mau kalah.

"Oh ya? Benarkah aku yang memulai duluan? Lalu siapa yang mengataiku sampah lebih dulu tadi?" tantang Sakura.

"Hei, memangnya kau yang aku maksud tadi? Percaya diri sekali dirimu itu."

"Kau ini benar-benar setan ya! Tak mau mengakui perbuatanmu. Dasar perem-"

"CUKUUUUPPP! AKU MEMANGGIL KALIAN BUKAN UNTUK BERKELAHI LAGI DISIN!" potong Tsunade sambil berteriak.

Dengan teriakan Tsunade itu Sakura dan Karin pun akhirnya terdiam setelah saling menatap sengit. Tsunade lalu mengarahkan pandangannya pada Ino, "Lau kenapa kau bisa sampai terlibat perkelahian tadi, Nona Yamanaka?" tanya Tsunade pada Ino yang sedari tadi hanya terdiam.

"Aku memang tadinya tidak terlibat, Nona. Tapi kemudian ada temanku yang memberi tahu bahwa Sakura dan Karin sedang bertengkar hebat. Makanya aku segera menghampiri mereka. Tadinya sih niatku mau melerai, tapi Karin malah menjambakku yang mau melindungi Sakura dari amukannya. Jelas saja aku emosi. Akhirnya, aku justru ikut berkelahi." jawab Ino jujur.

Mendengar jawaban Ino, Tsunade langsung mengalihkan pandangannya ke Karin. Dengan tajam ia menatap Karin lalu berkata, "Jadi ini semua ulahmu, Queen?"

"Bu….bukan Nona Tsunade, ini semua salah Sakura. Memang sih kalau soal menjambak Ino aku yang salah, tapi seandainya saja ia tidak menyulut emosiku dengan menghinaku tadi pasti semua ini tak akan terjadi." bela Karin pada Tsunade.

"Heh, perempuan setan jangan asal menuduh ya. Jelas-jelas kau yang mengatai ibuku tadi." sahut Sakura emosi.

"Memang begitu kenyataannya, kan? Ibumu itu telah gagal mendidikmu. Makanya kau jadi tidak tahu sopan santun begini." ucap Karin pada Sakura.

Setelah mendengar perkataan Karin itu, dengan tiba-tiba Sakura langsung menerjang gadis merah itu hingga ia terjatuh. Lalu dengan cepat ia menunduk dan menjambak rambut Karin hingga membuatnya mengaduh kesakitan.

"BILANG APA KAU TADI, PEREMPUAN ULAR?" bentak Sakura pada Karin.

Melihat itu Tsunade dan Ino pun langsung memisahkan Karin dan Sakura. Begitu jambakan Sakura pada Karin terlepas, Ino dengan sigap menahan Sakura yang sudah bersiap menyerang Karin lagi. Sedangkan Tsunade langsung membantu Karin berdiri dan menyembunyikannya dibalik punggungnya agar terselamatkan dari amukan Sakura.

Melihat Sakura yang meronta-ronta dan semakin tak bisa mengendalikan diri, Tsunade langsung berkata, "Sakura Haruno, hentikan! Jangan membuat perkelahian didepanku."

Merasa Tsunade membelanya, Karin pun memanfaatkan keadaan ini untuk memancing emosi Sakura lagi.

"Nona Tsunade lihat sendiri kan betapa barbarnya orang ini? Jadi ini hasil didikan ibumu itu?." ucapnya menantang Sakura.

Sakura yang semula sudah mulai tenang, kembali berusaha meronta-ronta dengan keras, membuat Ino kewalahan untuk menahannya.

"DIAM KAU! KAU ITU TAK TAHU APA-APA TENTANG IBUKU! IBUKU BUKANLAH ORANG YANG SEPERTI ITU! DASAR PEREMPUAN JALANG!" ucap Sakura sembari meronta-ronta.

"Kalau memang ibumu tidak seperti itu, buat apa kau marah-marah? Bukankah dengan itu berarti perkataanku benar sehingga kau berusaha menyangkalnya dengan marah-marah, ha? Sekarang bisa terlihat sikap siap yang lebih menunjukkan sikap seorang wanita jalang. Kau yang telah di didik oleh ibumu yang rendahan itulah yang sebenarnya wanita jalang! Lihat saja sikapmu yang liar begitu." balas Karin lagi.

Dengan selesainya ucapan Karin itu, maka habislah kesabaran Sakura. Dengan segenap tenaga yang ia miliki ia berhasil melepaskan diri dari Ino dan segera menuju Karin yang berada dibalik punggung Tsunade. Hampir saja Sakura menampar Karin kalu tidak dihalangi oleh Tsunade.

"Tenanglah Sakura. Tahan emosimu." ucap Tsunade sambil menahan Sakura mendekati Karin.

"Tidak bisa, nona Tsunade. Perempuan ini harus diberi pelajaran agar tak seenaknya menghina ibuku!" balas Sakura.

"Ayo sini maju kau, Haruno! Aku tidak takut." ucap Karin menaggapi perkataan Sakura.

"Karin, kau jangan memperkeruh keadaan! Diam saja! Tak usah banyak mulut." ucap Tsunade.

Karin tak mengindahkan peringatan Tsunade. Ia malah semakin bersemangat menghina Sakura.

"Mana, Sakura? Katanya kau mau memberi aku pelajaran agar tak mengatakan kejujuran yang kau bilang penghinaan tentang ibumu yang jalang itu. Mana, ha?"

Wajah Sakura terlihat memerah menahan marah. Sontak Sakura mendorong Tsunade yang hampir membuat Tsunade jatuh kalu saja tidak ditahan oleh Ino. Setelah berhasil menyingkirkan Tsunade yang menghalanginya, Sakura segera mendorong tubuh Karin hingga terbentur dinding dan menarik kerah bajunya. Baru saja Sakura akan menampar Karin, Ino dan Tsunade segera menariknya menjauh dari Karin.

Tentu saja Sakura berusaha melepaskan diri dengan meronta-ronta. Karena sudah hampir tak bisa menahan Sakura yang mengamuk itu, Tsunade segera berteriak meminta pertolongan. Berharap ada yang mendengar teriakannya itu.

Suara Tsunade itu terdengar oleh Kiba, Sasuke, dan Neji yang melewati ruang Kapala Sekolah setelah baru saja selesai berbicara dengan Kakashi. Segera ketiga pemuda itu menuju ke ruangan Tsunade untuk melihat apa yang terjadi. Begitu mereka masuk, alangkah terkejutnya mereka melihat pemandangan di depan mereka.

Terlihat wajah Karin yang ketakutan memandang Sakura yang meronta-ronta karena sedang dipegangi oleh Tsunade dan Ino. Dengan sigap Neji segera menahan Sakura dengan memeluknya dari belakang. Hal itu membuat Sasuke yang melihatnya mengepalkan tangannya dengan keras memincingkan matanya.

Setelah Neji menahan Sakura, perlahan Tsunade dan Ino melepaskan pegangan mereka pada Sakura. Tsunade yang melihat Kiba dan Sasuke terdiam begitu saja di depan pintu tanpa melakukan apa-apa langsung memerintah mereka, "Hei kalian berdua, cepat bantu Neji!" bentak Tsunade.

Kiba dan Sasuke yang tersadar karena bentakan Tsunade itu, segera bergerak menuju Sakura untuk membantu Neji. Namun baru saja mereka hendak membantu, Neji terlebih dahulu berkata, "Tidak usah. Biar aku saja yang menahannya. Aku sudah biasa."

Sakura masih tetap meronta-ronta dalam pelukan Neji, membuat Neji semakin mengeratkan pelukannya pada Sakura. Dengan lembut, Neji berkata pada Sakura yang terus berteriak minta dilepaskan, "Tenang, Sakura. Jangan emosi."

Sakura tak meggubris ucapan Neji. Ia malah membalas ucapan Neji dengan bentakannya, "AKU SUDAH TAK BISA SABAR, NEJI! DIA MENGHINA IBUKU! AKU TIDAK TERIMA! DIA BOLEH SAJA MENGHINAKU SEMAUNYA, TAPI AKU TAK AKAN MEMBIARKAN JIKA DIA MEGHINA IBUKU!"

"Iya. Aku tahu itu Sakura. Dia memang keterlaluan karena telah menghina ibumu. Tapi, kau tidak boleh bersikap seperti ini. Kalau kau bersikap begini, bisa-bisa kau di skors oleh nona Tsunade. Atau malah ayahmu yang akan dipanggil. Kau tidak mau kan jika ayahmu tahu kau berbuat seperti ini? Dia pasti akan sangat kecewa dan sedih. Kau tidak mau hal itu terjadi kan?" ucap Neji lembut pada Sakura.

Sakura yang mendengar ucapan Neji pun mulai berhenti meronta-ronta. Setelah Sakura berhenti meronta, Neji pun melepaskan pelukannya. Baru saja Neji melepaskan pelukannya, terlihat Sakura perlahan berjalan mendekati Karin. Segera Neji menggenggam pergelangan tangan Sakura untuk menahannya.

Belum sempat Neji mengatakan sesuatu, Sakura sudah terlebih dahulu berkata, "Tenang, Neji-kun. Aku tidak akan menyerang dia lagi. Aku hanya ingin bicara sebentar dengannya. Jadi lepaskan aku. Aku berjanji tak akan melakukan apapun padanya."

Sejenak Neji terdiam, berpikir untuk melepaskan Sakura atau tidak. Akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan Sakura. Sakura kembali berjalan menuju Karin setelah menggumamkan ucapan terima kasih pada Neji.

Setelah Sakura sampai di depan Karin yang terlihat begitu ketakutan itu, ia pun membisikkan kata-kata yang hanya bisa di dengar oleh Karin saja.

"Karin, perlu kau ingat satu hal. Kalau kau bisa menjadi seorang setan yang berhati jahat, maka aku bisa menjadi seorang iblis yang jauh lebih jahat jika kau berani mencari masalah lagi denganku. Apalagi jika kau berani menghina ibuku lagi. Maka aku akan membuatmu berharap tidak pernah mengenal seorang Haruno Sakura. Kau mengerti?"

Karin yang terlalu diliputi rasa takut hanya mengangguk kecil. Setelah itu, Sakura pun berbalik arah dan menggandeng Neji mengajaknya keluar.

"Nona Tsunade, aku permisi dulu. Maaf telah membuat keributan lagi." ucap Sakura yang kemudian menghilang dibalik pintu meninggalkan Tsunade, Ino. Kiba, Sasuke, dan Karin yang terpaku menatapnya.

"Ah, iya Sakura." jawab Tsunade setelah Sakura dan Neji tak terlihat lagi.


-TBC-


Huah akhirnya kita bertemu lagi di episode kedua fict gaje saya ini. Seperti biasa saya meminta pendapat kalian tentang chapter kali ini? Apakah semakin bagus atau tambah jelek atau tidak ada perubahan? Kekekekeke yasudah pokoknya intinya saya minta r-e-v-i-e-w. Terima kasih. Oh iya tak lupa saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankannya ya! Sampai bertemu di chapter berikutnya…..