Hmmm…mungkin kalian bertanya-tanya(siapa juga ya yg nanya?) kenapa saya muncul kembali secepat ini….huhuhuhu….sebenarnya tadinya saya mau langsung mengupdate 2 chapter kemarin. Tapi saya lupa dimana menyimpan chapter yang ketiga ini. Dan setelah saya mencari dengan sekuat tenaga akhirnya saya temukan chapter ketiga ini di fd kakak saya. Saya sendiri juga bingung kenapa bisa ada disitu. Yak cukup sudah curcolnya. Saatnya membalas review...
Megumi Kisai : tenang-tenang di chapter ini udah ada adegan sasusaku …..dan endingnya memang sasusaku kok. jadi tenang aja gak perlu kamu nggak perlu khawatir. Sasusaku forever
Fuyuzakura-hime : siiippp….saya akan membuat sasusaku kok*angguk-angguk* hihihi….
Icha yukina clyne : nggak papa ko….saya malah senang kalo kamu ngereview. Wah jangan gitu juga dong, walaupun keliatannya di chapter ini Karin nyebelin, tapi dia punya sisi baik juga kok…tunggu aja…..
Rei-chan : Wah, maaf yah kalo mengecewakan. Sebenernya saya kurang bisa membuat adegan berantem gitu. Soalnya saya belum pernah melihat langsung adegan berantem yang sengit itu bagaimana. Nggak bisa ngebayangin gitu jadinya. Berhubung karena saya cuman pernah liat adegan berantem di sinetron, jadilah berantemnya menjadi bergaya sinetron. Maaf ya, saya janji akan berusaha lebih baik lagi. Makasih kritiknya
Keiko1310 : maaf ya, kalau berantemnya kurang ganas….habis saya ngga bisa membuat adegan berantem yang ganas….huhuhuhu. tapi saya janji akan berusaha untuk lebih baik lagi. Makasih kritiknya
ZoZo : wah senangnya hatiku kalo chapter kmrn menarik buat kamu…..happy ending ko….tenang saja….
4ntk4-ch4n : makasih buat pujiannya….soal masa lalu uchiha-haruno udahy ada hint-nya lho disini. Ayo apa itu kira2…hihihihi
Miss Uchiwa SasuSaku's Lover : makasih buat pujiannya….silakan di fave saya malah seneng lo….hehehe
Sabaku Gaara fanatic-fans : wah syukur kalo kamu suka. Yup kamu benar endingnya sasusaku. Soal gaamatsu saya emg blm ada pikiran buat bikin pair itu. Disini mereka hanya sekedar pemain pendukung aja….
THANKS FOR THE REVIEW, ALL!
Our Way
A Naruto Fanfic
Naruto © Masashi Kishimoto
Romance / Drama / Friendship
T Rated
Warning : AU dan OOC
Summary : Kisah sekumpulan remaja dalam kehidupan anak sma yang diiringi konflik. Bagaimanakah mereka menghadapi semua konflik yang terjadi?
Beberapa saat setelah kepergian Sakura dan Neji dari ruangan Kepala Sekolah, suasana masih tetap hening. Tak ada seorang pun yang berbicara atau beranjak dari ruangan itu.
"Ehem….nah sekarang lebih baik kalian kembali ke kelas kalian masing-masing. Untuk kali ini kalian aku maafkan. Tapi lain kali jika kalian berbuat seperti ini lagi aku akan langsung menskors kalian. Ya sudah sekarang kalian kembalilah ke kelas." ucap Tsunade menghentikan keheningan yang terjadi.
Serempak ke empat anak yang dimaksud Tsunade itu, mulai beranjak pergi meninggalkan ruangan Tsunade setelah mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Kiba segera menggandeng Ino keluar. Sedangkan Sasuke yang melihat Karin masih terdiam ketakutan, menghampirinya dan kemudian membawanya keluar ruangan.
Setelah sampai di luar, Kiba dan Ino berpisah dengan Sasuke dan Karin, menuju kelas mereka masing-masing. Sepanjang jalan menuju ke kelas, Sasuke dan Karin tak mengeluarkan sepatah kata pun. Karin masih terlihat syok, sementara Sasuke memasang wajah stoic andalannya seperti biasa. Namun, ketika baru setengah jalan menuju ke kelas, Sasuke memutuskan menghentikan keheningan itu melihat Karin yang berjalan sambil menundukkan kepalanya. Padahal biasanya ketika berjalan Karin cenderung terlihat bersikap angkuh dengan mendongakkan kepalanya. Berbeda dengan yang sekarang terjadi.
"Hn, Karin. Kau baik-baik saja?" tanya Sasuke pada Karin
Karin yang mendengarnya lalu mendongak menatap Sasuke dan menjawab,"Kurasa begitu, Sasuke." ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Kau tahu kan seharusnya kau tidak berbuat seperti itu. Jelas saja Sakura mengamuk. Untung saja kau tidak sampai babak belur dipukuli olehnya." lanjut Sasuke tanpa menatap Karin.
Setelah mendengar perkataan Sasuke tadi, Karin tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sasuke yang tadinya terus berjalan, menyadari bahwa Karin sudah tak ada di sampingnya segera menghentikan langkahnya. Kemudian dia berjalan berbalik menuju Karin.
"Kenapa kau berhenti?" tanya Sasuke dingin.
Bukannya menjawab, Karin malah diam saja sambil menatap Sasuke kesal dan baru saja Sasuke mau bertanya lagi, Karin sudah terlebih dulu balas balik bertanya kepada Sasuke.
"Jadi kau menyalahkanku, Sasuke?" tanya Karin dingin.
Sasuke yang ditanya hanya memalingkan wajahnya malas, membuat Karin semakin kesal dan mendesis sinis, "Tentu saja kau akan membela Sakuramu itu Sasuke. Bodoh sekali aku mengharapkan kau membelaku."
"Hn. Semua memang salahmu, Karin."
"Hah, memang apapun yang aku lakukan selalu salah bagimu kan? Kapan sih kau pernah membelaku?"
"Aku akan membelamu jika kamu memang tidak bersalah."
"Cih, omong kosong! Sampai dunia ini kiamat pun kau tak akan pernah membelaku jika sudah menyangkut masalah Sakura, Sasuke. Apa kau tidak lihat apa siapa yang menjadi korban di sini? Aku, Sasuke! Lihat, perempuan sial itu menampar pipiku sampai merah begini." ucap Karin sambil memegang kedua pipinya yang merah dan memperlihatkannya pada Sasuke.
"Seandainya saja kau tak menghina ibunya pasti dia tak akan menamparmu!" desis Sasuke.
"Lagi-lagi kau membelanya. Ya sudah terus saja kau menyalahkanku." teriak Karin.
"Aku tidak membela atau menyalahkan siapapun. Aku hanya mengatakan apa yang sebenarnya. Semua ini memang kesalahanmu. Sudah tahu Sakura emosian begitu, masih saja kau memancing emosinya. Lihat sendiri kan sekarang akibatnya?" balas Sasuke tenang.
"Tapi dia juga memancing emosiku duluan dengan mempermalukan aku di depan umum, Sasuke dan kau masih saja menyalahkanku!" balas Karin lagi.
"Demi Kami-sama, dia tidak akan berbuat begitu seandainya saja kau tidak mengatainya sampah, Karin." ucap Sasuke yang mulai kehilangan kesabarannya.
"Mungkin memang begitu, tapi dia juga kan tidak perlu bereaksi berlebihan begitu ketika aku mengatai ibunya kan? Yah memang sih ku akui aku sudah keterlaluan dengan menghina ibunya, tapi tak perlu kan dia menamparku? Jelas saja aku tidak terima." ujar Karin membela dirinya.
"Kalau kau tahu itu keterlaluan, kenapa kau tetap melakukannya?" tanya Sasuke merespon pembelaan dari Karin.
Karin memutar bola matanya dan menjawab, "Tentu saja karena aku emosi, Sasuke. Kau tahu kan jika orang sedang emosi dia bisa bertindak apa saja. Seharusnya dia menyadari bahwa aku mengatai ibunya hanya sebagai pelampiasan rasa kesalku padanya. Aku kan benar-benar tak bermaksud begitu. Kalau memang dia tidak terima, ya tinggal katai balik saja ibuku. Kalau dia berbuat begitu paling aku hanya akan membalas mengatainya lagi. Tak akan aku sampai memukulnya seperti yang dia lakukan padaku."
"Itu karena dia sangat sensitif jika berbicara mengenai ibunya, Karin. Baginya jika kau menghina ibunya itu sama saja kau menginjak-injak harga dirinya. Jelas dia mengamuk." balas Sasuke.
"Salahnya sendiri kenapa dia begitu sensitif. Kekanak-kanakan sekali sih. Begini nih akibatnya jika seseorang terlalu terbiasa dimanja." jawab Karin yang tetap tak mau disalahkan.
"BAGAIMANA TIDAK SENSITIF JIKA IBUNYA YANG KAU HINA ITU SUDAH TIDAK ADA LAGI? SEMUA ORANG PASTI AKAN BERSIKAP SAMA JIKA ORANG YANG DICINTAINYA TELAH TIADA DAN DIHINA SEPERTI ITU!" bentak Sasuke pada Karin.
Karin yang mendengar ucapan Sasuke hanya bisa menatap tidak percaya padanya. Sesaat suasana kembali hening seperti semula.
"A..ap..apa? Kau bilang apa tadi Sasuke? Ibu Sakura sudah tidak ada lagi? Maksudmu ibunya su-."
Perkataan Karin terpotong oleh Sasuke yang tiba-tiba menyelanya sebelum ia selesai bicara.
"Ya….ibu Sakura sudah….."
"APA? IBUNYA SUDAH MENINGGAL?" seolah melanjutkan ucapan Sasuke, teriakan seorang gadis menggema di sepanjang lorong gedung utama Konoha International Senior High School.
"Sssssttt…..pelankan suaramu, Ino. Telingaku sampai pengang mendengarnya." ucap seorang pemuda yang berjalan di samping Ino.
"Tunggu, Kiba-kun. Maksudmu ibunya itu…..sudah meninggal? Benar-benar meninggal?" tanya Ino kaget sambil menggamit lengan Kiba, membuat langkah pemuda itu terhenti.
Kiba menatap Ino aneh dan menjawab, "Tentu saja, Ino. Memangnya kau kira apa yang ku maksud dengan mengatakan bahwa ibu Sakura sudah tidak ada tadi?"
Mata biru gadis itu menatap dalam ke arah kekasihnya, "A…Aku pikir….yah…mungkin aku salah dengar tadi."
"Kau benar-benar yakin kalau ibunya sudah meninggal Kiba-kun?" tanya Ino memastikan.
"Tentu saja, aku mendengarnya langsung dari Neji waktu aku, Neji, dan Sasuke dipanggil Mr. Hatake untuk menceritakan bagaimana kalian bisa bertengkar seperti itu. Memangnya kenapa sih sampai kau tak percaya seperti itu padaku?"
"Bukannya aku tidak percaya padamu. Hanya saja….kok aku bisa sampai tidak tahu ya? Dan kurasa murid-murid di sekolah ini juga tidak tahu tentang ibunya. Karena kalau ada saja satu murid lain yang tahu selain Neji tentunya, aku berani jamin pasti berita itu akan langsung tersebar di sekolah."
"Kau ini aneh, Ino. Memangnya harus segalanya kau ketahui apa? Tapi aku juga berpikir sih kenapa berita seperti ini tidak tersebar. Maksudku Sakura itu kan sangat populer, aneh saja jika orang-orang tidak tahu mengenai ini."
"Tapi ada yang lebih aneh lagi, Ino." lanjut Kiba.
"Hah? Apa itu?"
"Sewaktu tadi Neji menceritakan bahwa ibu Sakura sudah meninggal, Sasuke tidak tampak terkejut sedikitpun. Seolah-olah dia memang sudah mengetahuinya." Ucap Kiba sambil tampak berpikir.
"Ih, mana mungkin Sasuke tahu, Kiba-kun? Hubungan Sakura dan Sasuke itu tidak akur. Bagaimana Sasuke bisa tahu tentang ibu Sakura padahal orang-orang yang cukup dekat dengan Sakura seperti aku saja tidak tahu."
"Tapi wajahnya itu menunjukkan bahwa ia sepertinya memang sudah mengetahui kematian ibu Sakura." Kiba ngotot mempertahankan perkiraannya.
"Wajah Sasuke kan memang seperti itu, Kiba. Mau senang, sedih, kaget, marah, atau apapun wajah si Sasuke itu tak akan pernah berubah. Kau lupa ya kalau dia dijuluki pangeran es?"
"Tapi…" terlihat Kiba masih berusaha mempertahankan pendapatnya, namun akhirnya ia terdiam dan memutuskan untuk mengamini saja perkataan Ino tadi, "Yah mungkin kau memang benar Ino, sudahlah tak usah dipikirkan lagi." ucapnya.
"Iya, kan? Hmh kalau begitu wajar saja jika Sakura mengamuk seperti itu. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika menjadi dia." kata Ino.
Kiba terdiam sejenak memandang mata Ino yang berubah menjadi sendu tiba-tiba.
"Kau teringat ibumu, ya?" ucap Kiba pelan sambil mengelus rambut Ino.
"Uhm…tidak kok. Aku hanya merasa kasihan karena Sakura bernasib sama sepertiku. Tapi dia masih lebih beruntung karena masih mempunyai ayah." jawab Ino sambil menundukkan wajahnya.
"Hei, bicaramu itu seolah-olah kau tidak memiliki ayah saja." balas Kiba sambil mengangkat wajah Ino.
"Hah….memang begitu kan? Dengan sikap ayahku yang seperti itu sama saja seperti aku tidak memiliki ayah. Mungkin dia sudah tak sayang lagi padaku ya?"
"Jangan bicara begitu. Aku yakin ayahmu pasti sangat menyayangimu. Sikapnya itu pasti memiliki alasan." ucap Kiba menenangkan Ino.
"Sudah ribuan kali kau mengatakan itu, Kiba." ejek Ino.
"Sudah tak usah membicarakan ayahku lagi. Biar sajalah kalau memang ayahku begitu. Toh aku juga sudah tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Kan aku masih memilikimu." lanjut Ino senang.
Mendengar itu Kiba hanya tersenyum lebar. Namun tak berapa lama kemudian Kiba berubah menjadi serius.
"Ino…." panggilnya.
"Hm? Ada apa? Kenapa wajahmu tiba-tiba seperti itu?" tanya Ino sambil memandang wajah tampan Kiba.
"Sebenarnya aku tidak mau membuatmu khawatir dengan memberitahumu tentang hal ini. Tapi aku ingin agar kau bersikap lebih waspada." jawab Kiba tenang.
"Memangnya ada apa? Ayo cepat katakan padaku." pinta Ino.
"Seminggu yang lalu, waktu kau terkilir ketika latihan cheers aku pergi ke kelasmu untuk mengambil tasmu karena kau tidak bisa berjalan. Saat aku memeriksa lacimu untuk melihat apa ada yang tertinggal, aku menemukan sesuatu." jelas Kiba.
"Apa yang kau temukan?" desak Ino pada Kiba yang terdiam tiba-tiba.
Sejenak Kiba memandang Ino dan menghela nafasnya dengan berat, "Aku menemukan sebuah foto….lebih tepatnya foto ketika kita SMP." lanjut Kiba pelan.
Betapa terkejutnya Ino mendengar itu. Perlahan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Wajahnya yang cantik terlihat pucat dan ketakutan.
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa? Seharusnya tidak seorang pun disini yang mengetahui masa SMP-ku. Padahal kita sudah sengaja memilih sekolah ini kerena letaknya paling jauh dari SMP kita dulu. Tidak mungkin jika ada anak selain kita dari SMP kita dulu masuk ke sekolah ini. A…aku ha…harus bagaimana Kiba-kun?" ujar Ino panik. Terlihat mulai muncul genangan air mata di kedua sudut matanya.
Kiba segera memeluk Ino dengan erat, berusaha menenangkannya.
"Tenang, Ino. Aku tidak akan membiarkan sampai terjadi sesuatu denganmu. Aku berjanji akan selalu menjagamu seperti saat kita SMP dulu. Tak akan aku biarkan kejadian yang menimpamu waktu SMP dulu terulang lagi." bisik Kiba sambil menyeka air mata Ino.
Ino hanya mengangguk dan memeluk Kiba lagi. Terdengar suara isak tangis keluar dari mulut Ino.
"Aku akan segera mencari tahu tentang hal ini, Ino. Tak akan kubiarkan seseorang merusak kebahagiaanmu yang sekarang." guman Kiba seolah berjanji pada dirinya sendiri.
Kembali pada Sasuke dan Karin. Di sana keheningan mengisi atmosfer di sekitar mereka. Tak satu pun dari mereka yang mulai membuka mulutnya untuk berbicara. Secercah perasaan bersalah mulai muncul dalam diri Karin setelah mendengar perkataan Sasuke. Wajah gadis itu berubah menjadi sedikit pucat. Digigit bibir bawahnya keras sehingga mengeluarkan darah untuk mengurangi perasaan bersalahnya yang semakin besar.
Setelah lama terdiam, Karin mulai memberanikan dirinya untuk bicara pada Sasuke yang terlihat sangat marah.
"Be…benarkah yang ka…kau katakan, Sasuke?" tanya Karin gemetar.
"Hn. Buat apa aku berbohong. Dan lagi hari ini bertepatan dengan hari kematian ibunya. Jadi, kau benar-benar tepat memilih hari ini untuk menghina ibunya seperti tadi, Karin. Selamat ya, aku kagum padamu." jawab Sasuke ketus sambil bertepuk tangan.
"A….aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Ma…maaf aku minta maaf." lanjut Karin pelan.
Mendengar kata maaf keluar dari mulut seorang Karin membuat mata Sasuke sedikit terbelalak. Dipandangnya mata gadis berambut merah itu. Mencari tanda kebohongan pada mata itu. Namun, tak satupun tanda kebohongan yang ia temukan. Mengetahui bahwa Karin betul-betul merasa menyesal, Sasuke mengeluarkan suaranya lagi.
"Jangan minta maaf padaku. Minta maaflah pada Sakura. Yang kau hina ibunya itu kan Sakura bukan aku." ucap Sasuke datar.
Terlihat gadis itu menunduk terdiam memikirkan kata-kata Sasuke barusan. Tampak beberapa kali bibirnya tampak terbuka, hendak mengatakan sesuatu pada Sasuke, tapi selalu saja ia kembali mengatupkan bibirnya. Mengunci perkataan apapun yang mendesak keluar.
Setelah terdiam cukup lama, Karin pun membuka mulutnya untuk bicara.
"Baiklah. Aku akan minta maaf padanya, Sasuke." bisik Karin perlahan.
"Hn. Bagus. Ayo sekarang kita ke kelas. Kita sudah terlambat." balas sasuke sambil berjalan meninggalkan Karin yang perlahan mulai mengikuti langkahnya.
Sementara itu, di taman KIHS yang luas, terlihat sepasang muda-mudi sedang duduk di bawah sebuah pohon besar. Sang gadis yang berambut merah muda menyandarkan kepalanya pada seorang pemuda berambut coklat panjang yang bersandar pada pohon. Angin sepoi-sepoi menyapu kulit mereka. Membuat mereka memejamkan mata menikmati sapuan angin itu.
Dengan perlahan sang gadis mulai membuka matanya dan mengangkat kepalanya dari bahu pemuda sang pemuda. Menyadari bahwa kepala sang gadis sudah tak bersandar di bahunya lagi, pemuda itu menegakkan tubuhnya dan menghadap ke arah sang gadis.
"Sudah lebih baik, Sakura?" tanya pemuda itu lembut.
Sakura balas menghadap sang pemuda dan perlahan menganggukkan kepalanya.
"Ya, Neji. Ayo kita kembali ke kelas." ajaknya kemudian.
"Baiklah." jawab Neji datar sambil membantu Sakura berdiri.
Setelah berdiri, Sakura terpaku sejenak. Membuat Neji yang sudah hendak berjalan membatalkan niatnya. Sebelum Neji sempat menanyakan apa yang membuat Sakura terdiam, gadis merah muda itu sudah terlebih dulu berkata, "Neji...besok antarkan aku ke tempat ibuku."
Neji terdiam sejenak dan mengangguk, "Hn. Terserah kau saja." ucapnya pelan.
Kemudian mereka berdua pun berjalan beriringan kembali ke dalam sekolah.
Bel istirahat berbunyi dengan nyaring menandakan bahwa waktu makan siang telah tiba. Dengan segera murid-murid berjalan menuju kantin. Di sana mereka dengan semangat '45 berdesak-sedakan mengantri untuk membeli makan siang untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan itu. Ditengah kantin yang dipenuhi oleh para murid kelaparan itu terdapat 4 orang murid yang duduk disebuah meja, terlihat tak tertarik mengikuti jejak para murid lainnya yang mengantri makanan.
Terlihat mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Tak satupun dari mereka yang mengeluarkan sepatah kata pun. Sang pemuda berambut biru tua tampak sibuk memainkan ponselnya. Sesekali ia melirik ke arah gadis berambut merah disampingnya yang hanya terdiam saja sedari tadi tak seperti biasanya. Didepan pemuda itu tampak seorang pemuda berambut coklat menyerupai nanas sedang tertidur dengan pulasnya tanpa merasa terganggu dengan keributan di kantin. Disebelah pemuda yang tertidur, seorang gadis cantik berambut cokelat yang di gulung dua di atas kepala menyerupai orang Cina sibuk memperhatikan dengan seksama gadis berambut merah di depannya.
Beberapa saat lamanya mereka berempat hanya terdiam seperti itu. Hingga akhirnya seorang pemuda berambut pirang bermata biru yang memiliki kumis seperti kucing di pipinya datang menuju ke meja itu sambil membawa 2 mangkuk besar ramen. Setibanya disana ia segera duduk dengan asal dan memakan ramennya dengan rakus. Terlihat gadis berambut cokelat di gulung, memperhatikan cara makan pemuda itu sambil mengernyitkan dahinya.
"Naruto, kalau makan itu pelan-pelan. Lihat kuah ramenmu tercecar kemana-mana. Jorok, tahu!" nasihat gadis itu.
Setelah menelan ramen yang memenuhi mulutnya, Naruto mengalihkan pandangannya ke gadis berambut coklat itu.
"Hah kau ini cerewet sekali, Ten Ten. Karin saja yang biasanya bawel tidak bicara apa-apa. Kenapa jadi kau yang menggantikannya sekarang?" tanya Naruto sambil mengerucutkan bibirnya.
Setelah itu suasana kembali diam sampai Naruto menyelesaikan acara makan mie ramennya itu. Mendapati suasana yang kaku itu, Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berkata, "Kenapa kalian semua seperti Teme hari ini?"
"Hn. Diam Dobe." komentar Sasuke.
"Huh apa hakmu menyuruhku diam, Teme?" balas Naruto.
Sasuke hanya menatap Naruto dengan death glare andalannya. Ketika Naruto hendak membuka mulutnya untuk merespon tatapan Sasuke itu, Ten Ten segera menyelanya.
"Heh sudah-sudah! Kalian ini seperti anak kecil saja. Bertengkar terus setiap hari. Apa kalian tidak bosan?" kata Ten Ten sambil menyeruput jus jeruk yang baru saja dibelinya tadi.
"Lagian si Teme ini!" ucap Naruto membela diri.
Karin yang dari tadi hanya diam, akhirnya merasa terganggu dengan keberisikan Naruto.
"Naruto. Tidak bisakah kau diam sebentar saja? Aku pusing mendengar suaramu." ujar Karin ketus.
Naruto hanya melihat Karin sebal tanpa membalas perkataan gadis berambut merah itu. Suasana menjadi hening kembali. Namun suasana hening iru tak bertahan lama karena Naruto yang memang pada dasarnya tidak menyukai keheningan membuka mulutnya lagi.
"Hei Karin, ku dengar tadi kau bertengkar lagi dengan Sakura-chan ya?" tanya Naruto pada Karin yang sedang menerawang.
Karin menoleh sekilas pada Naruto lalu menjawab, "Kalau iya memangnya kenapa?" katanya sambil menerawang lagi.
"Huh kau itu memang tidak berubah. Selalu saja senang mencari masalah dengan Sakura-chan. Kali ini apa lagi yang kau perbuat, ha?" balas Naruto ketus.
Karin hanya diam saja tak menanggapi perkataan Naruto. Semantara itu Ten Ten yang merasa kasihan pada Karin yang dipojokkan dengan perkataan Naruto itu membelanya.
"Naruto, kenapa sih kau selalu saja menyalahkan Karin. Setiap Sakura dan Karin berkelahi pasti kau selalu mengira Karin yang mencari gara-gara duluan. Padahal mungkin saja kan si pinky itu yang bersalah." ucap Ten Ten.
"Hei Ten Ten, aku itu tahu siapa Sakura-chan. Dia tidak mungkin mencari masalah lebih dulu. Beda dengan Karin yang memang suka mencari masalah." sahut Naruto.
"Kau itu selalu saja membela Sakura-chanmu itu. Memang kau sekenal apa sih dengannya, Naruto? Hanya sebatas teman masa kecil kan Naruto? Ingat ya Naruto, manusia itu bisa berubah. Mungkin saja Sakura-chanmu yang baik dulu berubah menjadi sosok yang suka mencari masalah dan sok innocent?"
"Atas dasar apa kau bicara begitu? Kenapa sih kau selalu berbicara buruk tentang Sakura-chan? Apa karena dia telah merebut hati pangeran pujaanmu itu?" balas Naruto yang tak terima karena Ten Ten menjelek-jelekkan teman masa kecilnya itu.
"Hei kau tak usah bawa-bawa Ne-"
Perkataan Ten Ten terpotong oleh peringatan dari Shikamaru yang entah sejak kapan terbangun itu.
"Kalian berdua hentikan perdebatan kalian itu. Lihat ke belakang. Orang yang kalian bicarakan itu sudah datang." Kata Shikamaru setengah berbisik.
Serempak Sasuke, Karin, Ten Ten, dan Naruto memandang ke arah yang dimaksud Shikamaru. Terlihat dari arah pintu masuklah seorang gadis berambut merah muda menggandeng pemuda berambut cokelat disampingnya. Dibelakang mereka tampak dua orang pemuda berambut putih-Suigetsu Hozuki- dan merah-Sabaku no Gaara- sedang berjalan masuk mengapit seorang gadis berambut pirang berkuncir empat-Sabaku no Temari- dan seorang gadis berambut biru-Hinata Hyuuga- ditengah-tengahnya. Segera mereka berjalan menuju meja yang biasa mereka duduki. Setelah duduk, mereka terlihat saling mengobrol satu sama lain dengan asyiknya. Hingga tak menyadari bahwa tiga pasang mata, onyx, ruby, dan cokelat sedang memperhatikan mereka dengan lekat.
Mata Karin terpaku pada pemuda berambut putih, bernama Suigetsu Hozuki, sedang tertawa terbahak mendengar apapun yang di ucapkan oleh Sakura. Dipandanginya Suigetsu degan mata yang mencerminkan berbagai macam emosi yang saling campur aduk. Sementara di depannya, Ten Ten tampak sibuk melihat Neji yang tersenyum kecil ke arah Sakura dengan pandangan sendunya. Suara teriakan Naruto yang memanggil Sakura dan Hinata membawa kembali pikiran Karin dan Ten Ten yang sempat melayang-layang itu. Segera mereka mengalihkan pandangan mereka dari dua pemuda itu.
Mendengar namanya dipanggil oleh Naruto, Sakura yang sedang mengobrol dengan teman-temannya sejenak membawa pandangannya ke arah meja Naruto. Ia kemudian tersenyum kecil dan melambaikan tangannya sebagai balasan atas sapaan Naruto itu. Sedangkan Hinata hanya tersenyum malu-malu untuk membalas sapaan kekasihnya itu. Tanpa disengaja, Sakura menangkap sosok pemuda berambut biru sedang menatapnya. Ia lalu balas menatap mata pemuda itu. Mereka berdua saling bertatapan cukup lama hingga Temari yang duduk didepannya memanggil-manggil namanya, membuatnya mengalihkan pandangan dari Sasuke ke Temari dan melanjutkan obrolannya dengan teman-temannya kembali.
Setelah menatap Sakura sebentar, Karin mencondongkan badannya ke arah Sasuke. Dengan sangat pelan ia berbisik, "Apakah sekarang saat yang tepat bila aku meminta maaf padanya, Sasuke?"
Mendengar perkataan Karin, Sasuke menggeleng pelan lalu berbisik, "Nanti saja. Jika kau minta maaf sekarang malah akan membuatnya emosi lagi."
Seolah paham akan perkataan Sasuke, Karin mengangguk pelan dan menjauhkan badannya dari Sasuke. Tanpa mereka sadari Suigetsu yang melihat kejadian itu, melirik mereka dengan lirikan tidak suka. Dengan seksama ia memandangi Karin dan Sasuke secara bergantian sampai tak lama kemudian bel masuk berbunyi, memutuskan pandangan Suigetsu pada Karin yang sedang berdiri hendak berjalan kembali menuju kelasnya. Setelah itu Suigetsu sendiri juga bangkit dari duduknya dan berjalan mengejar teman-temannya yang sudah jauh berjalan di depan meninggalkannya sendirian di belakang.
Setelah berpisah dengan Neji, Temari, Gaara, dan juga Hinata yang beda kelas, Sakura dan Suigetsu yang memang sekelas berjalan bersebelahan menuju kelas mereka. Mereka terlihat tertawa-tawa membicarakan suatu hal yang kelihatannya sangat menarik. Hingga akhirnya Suigetsu mengalihkan topik pembicaraan.
"Sakura, tadi pagi kau bertengkar lagi dengan Karin kan?" tanya Suigetsu memberanikan diri.
Seketika senyum kecil yang tadinya terulas pada bibir Sakura, lenyap seketika setelah mendengar nama Karin disebutkan. Sakura lalu berhenti berjalan dan menghela nafasnya berat, "Umm Suigetsu, bisakah kita tidak membicarakan ini?" pinta Sakura.
Suigetsu yang paham akan perasaan Sakura yang sedang tidak ingin membicarakan Karin itu pun mengangguk. Tapi sesaat kemudian ia kembali membuka mulutnya untuk bicara.
"Aku hanya ingin kau tahu, Sakura. Meskipun Karin terlihat sangat menyebalkan dia pada dasarnya adalah orang yang baik. Jadi, apapun yang terjadi dengan kalian tadi pagi aku harap kau bisa memaafkannya." mohon Suigetsu pada Sakura.
"Ya...ya...ya aku akan memaafkannya karena kau yang memintanya, Tuan Mantan Pacar." sahut Sakura mengejek.
Suigetsu hanya terkekeh pelan mendengar ejekan Sakura. Dan setelah itu Suigetsu dan Sakura pun kembali berjalan bersama menuju kelas.
Hari ini bisa dibilang adalah hari yang paling menyebalkan bagi Sakura. Banyak kejadian yang membuatnya ingin meninju seseorang karena kesal. Pertama dimulai dengan pertengkarannya dengan Karin yang menyebabkannya dipanggil Kepala Sekolah dan nyaris di skors. Lalu dipanggil dan dimarahi oleh Bu Anko yang terkenal galak itu karena membolos pada saat jam pelajarannya tadi. Dan sekarang ia harus mengalami hal yang paling menyebalkan seumur hidupnya, yaitu duduk sebangku dengan Sasuke.
Bayangkan saja jika duduk sebangku, berarti ia harus berdekatan dengan si Uchiha itu. Mimpi apa dia semalam hingga bisa duduk dengan Sasuke, yang Sakura anggap sebagai kesialan terburuk sepanjang hidupnya. Diam-diam ia menyesal kenapa tidak menerima usulan Temari untuk tidur di UKS saja tadi. Dengan sebal dilihatnya Suigetsu yang sedang tertawa kecil melihanya.
'Ini semua gara-gara kau Suigetsu! Lihat saja kau nanti! Tega-teganya kau duduk bersama Naruto dan membiarkanku duduk dengan si Ayam ini!' rutuk Sakura dalam hati sambil memberi deathglare ke Suigetsu yang langsung membuat Suigetsu yang sedang tertawa terdiam dan menunduk ketakutan seketika.
Meskipun bagi Sakura duduk bersama Sasuke adalah suatu kesialan, lain halnya bagi sang Uchiha muda yang menganggap bahwa duduk bersama Sakura adalah suatu keberuntungan yang menyenangkan. Berbeda dengan raut wajah Sakura yang terus-terusan cemberut, Sasuke mempertahankan wajah stoic-nya dengan mati-matian menahan senyum lebar untuk muncul dibibirnya.
Sesekali senyum yang mati-matian Sasuke tahan itu muncul dan terlihat oleh Sakura yang menganggapnya sebagai senyuman mengejek. Tentu saja hal itu membuatnya makin sebal dengan Sasuke.
Sayangnya, penderitaan Sakura belum terhenti begitu saja. Secara seenaknya-menurut Sakura- guru keterampilan mereka, Pak Iruka memberikan tugas untuk membuat model pesawat berdua-dua dengan teman sebangku mereka. Hal ini membuat Sakura syok sehingga tak dapat menahan mulutnya untuk menganga lebar. Meskipun Sakura sudah berusaha mencari berbagai macam alasan agar tak berpasangan dengan Sasuke, sayangnya nasib baik sedang tidak berpihak padanya. Pak Iruka tetap teguh pada pendiriannya, membuat Sakura yang dengan sangat berat hati menerima kenyataan bahwa ia tetap berpasangan dengan Sasuke Uchiha.
Akhirnya bunyi bel pulang yang bagi Sakura seolah seperti panggilan surgawi itu terdengar juga. Seketika wajahnya yang kusut menjadi sumrigah karena akhirnya akan lepas juga dari Sasuke. Setelah berdoa dan mengucapkan salam pada guru, Sakura langsung bersiap-siap keluar dan menuju kelas Neji. Tapi, baru saja ia ingin keluar kelas, masuklah sms dari Neji yang menyuruhnya untuk menunggu di kelasnya saja, karena Neji-sang Ketua OSIS- sedang menyelesaikan suatu urusan OSIS yang penting.
Sakura pun kembali duduk di bangkunya sambil menunggu Neji. Sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul setengah enam sore Neji belum datang juga ke kelasnya. Karena bosan dan untuk menghilangkan rasa takut, Sakura memainkan game yang ada pada ponselnya. Saking asyiknya bermain game, Sakura tidak menyadari kehadiran Sasuke yang dari tadi mengamatinya itu. Perlahan Sasuke melangkah mendekati Sakura dan berdiri dihadapannya.
Merasa bahwa ada sesuatu di depannya pikiran parno Sakura langsung bermunculan, dengan segenap keberanian yang dia miliki, ia pun mendongak ke atas. Alangkah terkejutnya dia mendapati Sasuke sedang berdiri di depannya dengan wajah stoicnya yang membuat Sakura yang sudah terlanjur parno mengira Sasuke adalah hantu.
"Kyaaaaaaaaa...tidaaaaaaakkkkkk...ada hantu!" teriak Sakura histeris sambil melemparkan ponsel yang dipegangnya ke arah hantu Sasuke.
"Hn, Sakura aku bukan hantu." ucap Sasuke sambil menangkap ponsel yang dilemparkan padanya itu.
"Ba...bagaimana kau bisa tahu namaku? Aku mohon pak hantu jangan ganggu aku. Tinggalkan aku sendirian...aku mohon!" teriak Sakura yang sedang menelungkupkan wajahnya di meja sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sasuke langsung ingin sweatdrop melihat reaksi Sakura yang berlebihan, namun ditahannya karena harus menjaga image.
"Sakura ini aku Sa-"
Belum sempat Sasuke selesai bicara, Sakura sudah berteriak makin histeris.
"Ampuuunnn...jangan ganggu aku...aku kesini bukan untuk mengganggumu. Aku hanya ingin menunggu temanku...aku mohon jangan ganggu."
Sasuke yang lama-lama kesal mendengar Sakura yang terus-terusan menjerit itu langsung memegang bahu Sakura.
Sakura yang terlanjur ketakutan seketika berdiri dari bangkunya.
"Jangan sentuh aku...pergi...pergi..." teriak Sakura sambil memukul-mukul Sasuke dengan tasnya.
Sasuke yang tadinya berhasil menghindar dari serangan tas Sakura itu akhirnya kewalahan juga karena Sakura yang semakin menbabi buta memukulnya. Ia berusaha menjelaskan pada Sakura bahwa ia bukanlah hantu, tapi Sakura selalu berteriak histeris setiap kali dia mencoba berbicara. Karena kesal, ia akhirnya memengang lengan Sakura untuk menghentikan Sakura memukulnya lagi.
Setelah pukulan Sakura berhasil ia kendalikan, Sasuke dengan secepat kilat berbicara agar tidak dipotong lagi oleh teriakan Sakura.
"Sakura hentikan, ini aku Sasuke." ucapnya
Mendengar perkataan Sasuke, Sakura yang tadinya sudah bersiap memukul Sasuke dengan sepatunya, segera menghentikan aksinya. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan viola tampaklah wajah tampan Sasuke seperti sedang menahan kekesalan.
Dengan wajah memerah, Sakura menurunkan tangan yang sudah memegang sepatunya sebagai senjata untuk memukul Sasuke. Segera ia memakai kembali sepatunya.
"A...ano...Sasuke...ma...maaf. Aku benar-benar tidak sengaja. Aku kira kau hantu. Kau sih tidak segera memberitahuku. Jadi, aku terlanjur memukulimu begitu kan! Ah pokoknya aku minta maaf meskipun ini bukan sepenuhnya salahku." ucap Sakura yang pipinya bersemu kemerahan karena malu sambil menatap Sasuke.
Melihat Sakura yang menatapnya malu, Sasuke menyeringai kecil.
"Hn." hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Sasuke.
"Umm...itu artinya aku dimaafkan atau tidak?" tanya Sakura sambil memasang wajah bingung.
"Hn." ulang Sasuke lagi.
Mendapat jawaban yang tak jelas artinya itu dari Sasuke untuk kedua kalinya, membuat perasaan kesal tumbuh menggantikan perasaan malu Sakura.
"Apakah 'Hn' itu bahkan termasuk sebuah kata? Ah! Dengar ya Uchiha aku ini bukan makhluk sejenismu yang terbiasa menggunakan 'Hn' sebagai jawaban! Tolong berbicaralah dengan bahasa yang biasa digunakan oleh manusia!" ucap Sakura kesal.
Sasuke yang mendengar Sakura omelan itu, semakin memperlebar seringaian jahilnya itu. Dengan wajah yang seolah meledek, Sasuke menjawab perkataan Sakura dengan, "Hn."
Wajah Sakura kembali memerah. Kali ini bukan karena malu, melainkan karena marah. Dengan deathglare andalannya Sakura menatap Sasuke yang masih menyeringai jahil.
"Uh, fine don't talk to me." sahut Sakura sok Inggris sambil memalingkan wajahnya.
Melihat Sakura yang bersiap pergi meninggalkannya, Sasuke hanya menyeringai semakin lebar. Ketika Sakura sampai di depan pintu kelas, Sasuke memanggil nama Sakura. Sakura pun berbalik menghadap ke arah Sasuke. Perlahan Sasuke berjalan menuju Sakura. Ketika tepat berada disamping Sakura, Sasuke mengangkat tangan Sakura dan membuka telapak tangan Sakura yang tadinya terkepal. Lalu ia menaruh ponsel Sakura yang tadi digunakan untuk melemparinya itu,
Sakura terlihat kaget melihat ponselnya. Sebentar ia berpikir bagaimana bisa ponsel itu ada pada Sasuke. Kemudian ia teringat bahwa ponselnya itu telah digunakan untuk menimpuk Sasuke yang di kiranya hantu. Sambil tersenyum kaku, meneriakkan terima kasih pada Sasuke yang langsung melengos keluar kelas setelah menyerahkan ponsel Sakura tadi.
Menyadari bahwa Sakura masih terus memperhatikannya, Sasuke tiba-tiba berbalik menatap Sakura hingga pandangan mereka bertemu. Malu karena ketahuan memperhatikan Sasuke, Sakura pun menundukkan wajahnya.
Sasuke yang melihat Sakura menunduk malu itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjahili gadis cantik itu. Dengan tampang sok coolnya ia memanggil nama Sakura, membuat gadis itu mendongak perlahan menatapnya. Setelah dia rasa bahwa perhatian gadis itu sudah sepenuhnya tertuju padanya, Sasuke mulai membuka mulutnya.
"Hn, Sakura kau berisik sekali." ucapnya dingin dan langsung berjalan pergi begitu saja setelah mengucapkannya.
1...2...3...4...5...6...7...8...9...dan viola terdengar suara teriakan kesal seorang gadis yang telah Sasuke tunggu-tunggu membahana di sepanjang lorong yang sepi.
"AARRRRGGGHHHH! UCHIHA KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN! DASAR PANTAT AYAM! AWAS KAU YAA!" teriak Sakura sekuat tenaga.
Setelah meneriakkan itu, Sakura dengan kesalnya bergegas berjalan menghampiri Neji di ruang OSIS tanpa mengetahui bahwa teriakan yang diteriakkannya tadi itu telah membuat seorang Sasuke Uchiha yang tak pernah terlihat tersenyum, sekarang tersenyum selebar-lebarnya.
-TBC-
Huah...bagaimana ceritanya? Makin gaje ya? Hehehehe maafkan saya kalo memang cerita ini jadi makin gaje*bungkuk-bungkuk minta maaf sama readers* Satu permintaan saya REVIEW, PLEASE?
