Sebelumnya saya minta maaf banget ya karena update-an kali ini lumayan lama. Yah maklum saya udah kelas 3 jadi sibuk bgt. Dan minggu kmrn lagi banyak-banyaknya tugas. Jadi, saya ngga sempet buat update. Nah langsung aja ke review

ZoZo : hehehehe..maaf ya update-nya jd lama gini. Abis tugas-tugas pada numpuk sih…iya konflik Ino mulai muncul nih, di chap ini juga bakal dibahas siapa sih yg sebenarnya dibenci Neji. Makasih ya buat reviewnya…..

Icha yukina clyne : waaahhhh makasih buat pujiannya & reviewnya…. Soal konflik Uchiha-Haruno bakal semakin jelas kok di chap ini….. maaf ya kalo kali ini saya update-nya lama…..

Keiko1310 : tenang aja sausaku bakal saya banyakin kok…hehehe kali ini maaf ya agak lama updatenya…thanks for the review

LuthMelody : iya sasusaku kok…tenang aja….

Miss Uchiwa SasuSaku's Lover : maaf ya kali ini updatenya agak lama….hehehe makasih…soal sasusaku pasti akan diperbanyak kok….tapi mungkin di chap depan ya...soalnya saya mau fokus ke neji-ten di sini.

Kazuma big tomat : kalo itu bakal terungkap ko nanti…hehehehe tunggu ya

Rei-chan : soal knp saku cepet bgt mnta maaf itu karena emang ada sebagian ceritanya yang kepotong, saya bru sadar kalo bagian itu hilang. Tapi di chap ini saya sudah membuat alasan knp saku cpt bgt minta maaf….huh lain kali saya akan lebih hati2 suapa ga kejadian kaya gini lagi. Makasih loh udah diingetin

Ricchu : yup gitu deh….wah syukur deh kalo kamu suka…..makasih ya…

Delasachi luphL : makasih… soal munculnya neji-ten sekarang uda muncul tapi kalo sui-karin mungkin chap dpn br bs muncul

4ntk4-ch4n : soal itu bntr lagi bakal terungkap kok…tunggu ya….makasih buat reviewnya

Violet7orange : dendam Neji & Sakura bakal mulai terungkap di chap ini….maaf ya kalo updatenya lama kali ini….makasih buat reviewnya…

Kagurazaka Suzuran : wah maaf ya kalo kali ini saya nggak bisa update cepet….makasih reviewnya…

Micon : hihihi kalo pada jujur semua kan ngga bakal seru nanti….maaf chap ini ngga bisa update kilat….thanks for the review…

Sabaku Gaara fanatic-fans : hehehehe ngga juga…justru kamu yang baik uda mau review cerita ini….di chap depan Gaara bakal ngomong kok…soal ending ngga tau deh tergantung kapan saya bisa update….

Azuka Kanahara : gpp kok….sekarang justru saya yg hrs minta maaf krn updatenya lama…iya saya akan memperbaiki kesalahan saya dichap ini. Makasih reviewnya, senpai

Nah sekian balasan review dari saya, makasih buat kalian yg udah mau menbaca dan mereview cerita ini. Yak langsung aja kita mulai cerita yg udah kalian tunggu-tunggu ini(siapa juga yg nunggu?). Selamat membaca…


Our Way

A Naruto Fanfic

Naruto © Masashi Kishimoto

Romance / Drama / Friendship

T Rated

Warning : AU dan OOC

Summary : Kisah sekumpulan remaja dalam kehidupan anak sma yang diiringi konflik. Bagaimanakah mereka menghadapi semua konflik yang terjadi?


"Aahh! Bodoh! Bodoh!" terdengar suara umpatan dari seorang gadis berambut merah muda. Dengan kesal gadis bermata jade itu menghentak-hentakkan kaki jenjangnya ke lantai sambil mengutuk dirinya sendiri.

"Aduh, kenapa sih tadi aku begitu cepat meminta maaf pada ayam itu? Bodoh banget sih aku ini!" lanjut gadis itu sembari memukul-mukul kepalanya sendiri.

"Sekarang pasti si Uchiha itu jadi besar kepala! Uh, seharusnya tadi aku biarkan saja dia tidak perlu aku minta maaf segala. Ihhhh…..bodooohhhh!"

"Tapi….kenapa waktu lihat wajahnya yang kesal itu, aku jadi takut kalau dia marah padaku, ya? Ah, aku ini aneh sekali sih! Biar saja kalau benar-benar marah padaku! Apa peduliku, toh aku membencinya ini. Kalau dia marah-marah kan tinggal aku balas saja! Arrghhh bodoh sekali sih kau Sakura!" omel Sakura pada dirinya sendiri.

"Dan lagi tadi juga kenapa wajahku pakai memerah segala coba! Dasar wajah bodoh! Bagaimana kalau gara-gara itu si Sasuke jadi mengira kalau aku suka padanya? Ih padahal kan aku benci sekali padanya! Uuhhh!" lanjut Sakura sambil menepuk-nepuk pipinya.

Sambil terus berjalan mulut Sakura terus menggumamkan kata 'Aku benci Sasuke' berulang kali seolah sedang berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia memang benar-benar membenci Sasuke.

"Aku benci Sasuke…..aku benci Sasuke….aku….benci….Sasuke…..aku…..benci Sasuke?" semakin lama semakin terdengar suara gadis itu seperti sedang meragukan ucapannya sendiri.

Perlahan ia menghentikan langkahnya. Sambil menggigit bibir bawahnya, ia bertanya pada dirinya sendiri. Apakah benar ia membenci Sasuke? Dan lagi apa coba yang membuatnya membenci Sasuke? Apakah hanya karena ia seorang Uchiha? Kalau memang itu alasannya, bukankah itu sangat tidak masuk akal?

Membenci seseorang hanya karena keluarga Sasuke pernah berbuat kesalahan pada keluarganya bukan alasan yang tepat untuk membenci Sasuke bukan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi muncul dalam pikirannya.

Satu sisi dari hati Sakura menjawab bahwa sesungguhnya ia sama sekali tak pernah membenci Sasuke dan apa yang ia lakukan selama ini, yaitu bersikap memusuhi Sasuke karena ia adalah seorang Uchiha adalah salah. Tapi satu sisi lainnya mendukung apa yang Sakura lakukan selama ini, yaitu memusuhi seluruh keluarga Uchiha. Sisi itu mengingatkan atas perbuatan keluarga Uchiha pada ibunya, mengangkat kembali luka dan kebencian yang sempat memudar tadi.

Dan sayangnya, Sakura lebih memilih untuk mempercayai sisi hatinya yang kelam. Keyakinan akan perbuatan yang telah ia lakukan selama ini adalah benar kembali muncul. Mata jade-nya perlahan berubah menjadi keruh tak sejernih tadi. Mata itu terlihat menyiratkan berbagai macam perasaan. Kebencian, amarah, kesedihan bercampur jadi satu.

Perlahan Sakura memejamkan matanya. Berusaha menenangkan hatinya yang dipenuhi amarah. Setelah beberapa saat gadis itu membuka matanya dan melanjutkan langkahnya menuju ruang OSIS tanpa mengindahkan ponselnya yang berbunyi dengan wajah datarnya.


"Baiklah, Neji. Nanti aku akan memeriksa proposal acara bakti sosial ini. Mungkin lusa kau bisa mengambilnya kembali untuk diperbaiki jika ada kesalahan. Maaf ya, karena aku tiba-tiba meminta proposal ini sore-sore begini. Soalnya aku harus segera melaporkan ini kepada para donatur sekolah dan Kepala Yayasan. Ya sudah, kau boleh pulang sekarang." ucap seorang wanita berambut pirang yang diketahui sebagai Kepala Sekolah KIHS itu pada pemuda berambut cokelat di depannya.

"Hn. Tak apa nona Tsunade. Baiklah saya permisi dulu Kepala Sekolah, Sakura sudah menunggu saya." jawab pemuda berambut cokelat panjang bernama Neji itu.

"Ya, cepatlah pergi. Kau tahu kan kalau Sakura itu tidak suka menunggu." balas Tsunade.

Neji pun segera melangkah keluar dari ruangan Kepala Sekolah KIHS itu setelah membungkukkan badannya pada Tsunade. Dalam hati sebenarnya ia kesal juga karena tiba-tiba disuruh menyerahkan proposal yang belum selesai itu. Alhasil, jadilah dia bersama para pengurus OSIS yang bertanggung jawab atas acara bakti sosial itu mengerjakan proposal itu sampai sore seperti ini. Tapi apa boleh buat itu memang tugas mereka kan?

Sambil terus berjalan menuju ruang OSIS yang letaknya lumayan jauh dari ruang Kepala Sekolah, Neji mencoba menghubungi Sakura lewat ponselnya. Namun, kekasihnya itu tak juga mengangkat teleponnya. Neji pun menghela nafasnya berat, berpikir mungkin Sakura marah padanya karena telah membuatnya terlalu lama menunggu.

Setelah menimbang-nimbang, Neji pun memutuskan untuk meng-sms Sakura saja. Dengan harapan gadis cantik itu akan membalasnya. Karena sibuk mengetik sms untuk Sakura, Neji jadi tak terlalu memperhatikan langkahnya. Sehingga ia tak melihat ada orang yang berjalan ke arahnya. Dan tampaknya orang itu juga sedang tak memperhatikan langkahnya karena terlihat sedang sibuk membaca sebuah buku.

Dan akibatnya pasti sudah bisa ditebak, bukan?. Ya, tepat sekali Neji dan orang itu yang ternyata adalah seorang gadis saling bertabrakan. Akibat tabrakan itu, sang gadis berambut coklat bercepol dua itu jatuh terduduk yang sepertinya cukup keras, terdengar dari bunyi yang ditimbulkannya.

Sedangkan Neji, terlihat masih berdiri tegak meskipun sempat agak oleng tadi. Segera ia mengulurkan tangannya untuk membantu gadis yang terjatuh tersebut. Namun uluran tangannya terhenti seketika ketika melihat siapa gadis yang ditabraknya tadi itu.

Sang gadis yang merasa kesal karena sang penabrak tak kunjung mengulurkan tangannya, langsung mendongakkan kepalanya untuk mengomel.

"Hei kalau jalan li-" omelan gadis itu terhenti seketika ketika melihat wajah orang yang menabrak tubuhnya. Terlihat seorang pemuda dengan wajah yang tampan berdiri mematung menatapnya. Gadis itu, yang ternyata bernama Ten Ten terpaku melihat wajah tampan yang begitu lama di rindukannya.

Perlahan gadis itu beranjak berdiri. Wajah gadis itu terlihat begitu senang melihat wajah mantan kekasihnya itu. Perlahan ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan pemuda itu.

Namun, belum sempat ia menyentuh lengan itu, sang empunya lengan dengan kasar menampik tangan gadis itu. Dengan mata lavendernya, pemuda itu mendelik tajam menatap sang gadis membuat senyuman yang tadinya muncul diwajah Ten Ten lenyap seketika tergantikan dengan ekspresi sakit hati.

"Neji..." ucap Ten Ten lirih.

Neji yang mendengarnya semakin menatap tajam Ten Ten. Tatapan yang Ten Ten yakini sebagai tatapan kebencian. Tatapan penuh amarah yang membuat nyali Ten Ten untuk berbicara dengan Neji ciut seketika.

"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu! Dan kau tak seharusnya memanggilku dengan nama depanku. Yang boleh memanggilku Neji hanya Sakura, teman-temanku, dan juga keluargaku. Kau bukan siapa-siapa, jadi kau tak berhak memanggilku begitu." ucap Neji dingin.

Mendengarnya, Ten Ten hanya tersenyum pahit. Terlihat bulir-bulir air mata sudah berkumpul di sudut matanya siap untuk mengalir. Perlahan gadis itu berjalan maju mendekati Neji. Neji yang melihatnya langsung berjalan menjauh.

"Jangan dekati aku!" desis Neji tajam.

Ten Ten tak menghiraukan perkataan Neji itu, ia tetap melangkah mendekati Neji. Dan tiba-tiba ia memeluk erat Neji. Membuat sang pemuda yang ia peluk itu terdorong jatuh ke belakang.

"Hiks...Ne...Neji...kenapa kau bersikap begini padaku? Apakah kau masih membenciku? Apakah aku tak mungkin di maafkan?" isak Ten Ten pelan.

"Neji, apakah hatimu benar-benar sudah tertutup untukku?" lanjutnya lagi.

Neji tak sedikit pun membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Ten Ten. Ia hanya diam terpaku. Terlalu terkejut atas tindakan mantan kekasihnya itu. Ten Ten yang tak mendapatkan jawaban dari Neji, hanya menangis semakin kencang sambil mengeratkan pelukannya.


Seorang gadis berambut merah muda terlihat menyusuri lorong yang sepi itu sendirian. Dengan langkahnya yang gontai gadis itu terus berjalan menuju tempat tujuannya, yaitu ruang OSIS. Sesekali ia menghela nafas berat dan memejamkan perlahan matanya. Perlahan gadis itu menghentikan langkahnya dan jatuh terduduk di tengah lorong sekolah yang sepi itu. Dari matanya terlihat bulir-bulir air mata mulai jatuh perlahan.

Hatinya terasa sakit jika mengingat kejadian yang merenggut nyawa ibunya itu. Gadis itu terus menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Rasa bersalah dan kecewa karena tak mampu menolong ibunya perlahan menggerogoti dirinya.

'Kenapa...kenapa aku tak bisa menolong ibuku? Kenapa aku hanya bisa terdiam melihat kejadian itu?' ucap gadis bernama Sakura itu dalam hati.

Semua bayangan akan kejadian itu kembali berputar di kepalanya. Menimbulkan rasa sakit dan marah dalam hatinya. Marah mengingat siapa yang menjadi penyebab ibunya meninggal itu.

"Ini semua...gara-gara kalian keluarga Uchiha. Kalian semua bertanggung jawab atas kematian ibuku. Aku tidak akan memaafkan kalian. Terutama kau Itachi Uchiha." ucap Sakura pelan sambil mengepalkan tangannya.

Tangisan dan amarah gadis itu terhenti seketika ketika mendengar suara isakan seseorang yang berasal dari cabang lorong. Segera Sakura mengusap pipinya yang di basahi oleh air mata itu. Lalu ia pun berjalan menghampiri sumber suara tangisan itu.

Betapa terkejutnya ia melihat seorang gadis berambut cokelat menangis sambil memeluk seorang pemuda yang diam terpaku yang ia kenali sebagai Neji, kekasihnya. Segera ia mengendalikan keterkejutannya dan perlahan melangkah mendekati Neji dan Ten Ten tanpa menimbulkan suara.

"Neji-kun..."


Terdengar suara lembut seorang gadis memanggil nama Neji. Spontan Neji mendongak melihat sumber suara itu. Terkejutlah ia melihat bahwa Sakura, kekasihnya sedang berdiri tepat didepannya. Segera ia mendorong Ten Ten menjauh darinya dan berdiri.

Ten Ten yang kaget karena tiba-tiba didorong seperti itu, mendongak menatap Neji. Dilihatnya arah pandangan pemuda itu terpaku pada sesuatu atau lebih tepatnya seseorang yang berada di depannya. Perlahan ia berdiri dan menoleh ke arah pandangan Neji.

Seketika mulut Ten Ten menganga melihat Sakura yang berdiri tegak di depan Neji. Sakura yang tadinya beradu pandangan dengan Neji, mengalihkan pandangannya pada Ten Ten yang rupanya sudah menyadari kehadirannya.

Merasa bahwa Sakura memandangnya, Ten Ten segera menghapus air matanya. Ia pun menegakkan tubuhnya agar tak terlihat lemah di hadapan Sakura dan balas kembali menatap gadis merah muda itu.

"Jadi, apa yang sedang kau lakukan dengan pacarku, hei mantan pacar?" tanya Sakura dengan tenang.

Ten Ten terdiam mendengat pertanyaan Sakura. Diliriknya Neji yang berdiri di samping Sakura. Sesaat kemudian ia menghela nafasnya pelan.

"Bukan urusanmu, Haruno." ucap Ten Ten dingin.

Sakura terlihat tak puas dengan jawaban Ten Ten. Gadis itu melirik sebentar Neji dari sudut matanya. Terlihat pemuda bermata lavender itu sedang melihat ke arah Ten Ten dengan pandangan yang sulit diartikan. Merasa bahwa diperhatikan, Neji segera mengalihkan tatapannya ke arah Sakura.

"Kenapa, Sakura?" tanya Neji.

"Kenapa apa?" balas Sakura.

Neji hanya mendesah pelan mendengar jawaban Sakura. Dilihatnya mata Sakura mengerling innocent seolah benar-benar tak mengerti maksud Neji. Padahal Neji yakin bahwa gadis bermata jade itu tahu persis maksud dari pertanyaannya.

"Kenapa kau memandangku seperti itu?" Neji mengulang kembali pertanyaannya.

Sakura tersenyum kecil mendengar pertanyaan Neji. Perlahan ia meraih lengan Neji dan menggelayut manja disana. Neji hanya diam saja membiarkan saja perbuatan Sakura. Meskipun dalam hati pemuda itu bertanya-tanya untuk apa Sakura bersikap manja seperti ini. Padahal biasanya ia paling anti memamerkan kemesraan yang berlebihan di depan umum seperti sekarang ini.

Seolah mengerti apa yang ada dalam pikiran Neji, Sakura pun berjinjit dan membisikkan sesuatu di telinga Neji.

"Aku…hanya ingin sedikit menggoda gadismu itu. Tak apa kan, Neji-kun?" bisik Sakura lembut.

Neji mendelik sekilas dan menggelengkan kepalanya pasrah menyikapi ide jahil Sakura itu.

"Dia bukan gadisku….ya sudah lakukan semaumu saja." balas Neji.

Sakura terkikik pelan dan kemudian mengecup sekilas pipi Neji. Setelah itu ia kembali menghadap ke arah Ten Ten. Dan pemandangan yang dilihatnya itu membuat seulas seringai kepuasan terlihat menghiasi bibirnya.

Terlihat di depannya wajah Ten Ten merah menahan marah melihat perlakuan Sakura pada Neji tadi. Mata gadis berambut cokelat itu terlihat berkaca-kaca. Kedua tangannya terkepal erat di sampingnya.

"Ah, kau kenapa Kisaragi-san?" tanya Sakura sok innocent.

Ten Ten hanya menggeram marah mendengarnya. Dalam hatinya ia tahu Sakura melakukan ini memang untuk menyulut rasa cemburunya. Ia sudah berusaha tak terpengaruh dengan perbuatan Sakura itu. Tapi, tetap saja hatinya sakit melihat satu-satunya pria yang ia cintai di cium oleh perempuan lain. Meskipun itu hanya di pipi.

"Cat got you tongue, eh Kisaragi-san?" lanjut Sakura meledek.

"Diam kau, Sakura. Aku tahu kau hanya ingin membuatku cemburu, kan? Sayang sekali kau gagal melakukannya, Sakura." bentak Ten Ten emosi.

Sakura hanya tersenyum menggoda mendengarnya. Perlahan ia melangkah ke arah Ten Ten.

"Aih, pemarah sekali kau ini. Memangnya apa sih yang aku lakukan?" ucap Sakura pelan.

"Tak usah pura-pura tak tahu kau! Aku tahu kau sengaja mencium Neji di depanku untuk memanas-manasiku, kan?" jawab Ten Ten ketus.

"Ah itu…aku kan hanya menunjukkan rasa kasih sayangku pada 'pacar'ku sendiri, Ten Ten. Tak ada maksud untuk memanas-manasimu kok." balas Sakura sambil tersenyum penuh arti.

"Kau!" desis Ten Ten tajam.

"Hm apa?" jawab Sakura.

Setelah itu Ten Ten hanya terdiam mendengar perkataan Sakura. Sebenarnya ia ingin membalas lagi perkataan Sakura, namun ia sadar bahwa itulah yang memang di inginkan Sakura. Akhirnya ia hanya memutuskan diam saja mendengar perkataan Sakura.

Melihat Ten Ten terdiam, Sakura tersenyum penuh kemenangan dan berbalik berjalan ke arah Neji kembali. Segera ia menggandeng tangan Neji.

"Ayo kita pulang, Neji-kun. Sudah mau malam." ajak Sakura.

"Hn. Ayo." balas Neji sambil menggandeng balik Sakura.

Namun, ketika mereka hendak berjalan tiba-tiba saja sebuah pikiran terbesit di kepala Sakura. Perlahan ia melepaskan gandengannya pada Neji membuat pemuda itu menaikkan alisnya sambil menatap Sakura seolah bertanya apa yang membuat langkahnya terhenti.

"Kau duluan saja, Neji-kun. Aku mau bicara sebentar dengan Kisaragi-san." kata Sakura seolah mengerti maksud pandangan Neji.

Neji terdiam sebentar sebelum akhirnya menjawab.

"Baik. Tapi jangan lama-lama. Ini sudah malam. Nanti kau langsung ke mobil dulu saja. Aku mau ambil tas diruang OSIS dulu." jawab Neji sambil mengelus pelan rambut Sakura.

Sakura hanya mengangguk tanda setuju. Setelah itu Neji berjalan menuju ruang OSIS. Setelah Neji tak terlihat lagi, barulah Sakura melangkah ke arah Ten Ten. Setelah sampai tepat di hadapan Ten Ten Sakura mencondongkan tubuhnya ke arah Ten Ten dan bertanya.

"Bagaimana perasaanmu ketika kau melihatku dan Neji tadi?"

Ten Ten hanya mendelik kesal dan memutar bola matanya. 'Belum puas juga perempuan ini.' batin Ten Ten. Baru saja Ten Ten membuka mulutnya untuk menjawab, Sakura sudah terlebih dahulu menyelanya.

"Sakit kan? Pasti kau merasa sakit melihat Neji-mu bermesraan dengan perempuan lain. Tapi rasa sakit yang kau rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang Neji rasakan." ucap Sakura dingin.

Ten Ten hanya terpaku mendengar perkataan Sakura. Matanya terlihat nanar. Setelah mengucapkan itu, Sakura menjauhkan tubuhnya dari Ten Ten dan mulai berjalan menjauhi Ten Ten menuju ke tempat parkir.

Sebelum ia menghilang dari pandangan Ten Ten, Sakura melanjutkan kembali perkataannya.

"Ya, rasa sakit yang kamu rasakan tidak sebanding dengan rasa sakit yang kau timbulkan karena kebohonganmu pada Neji. Kau itu sebenarnya benar-benar mencintai Neji tidak sih? Bisa-bisanya kau menutupi itu semua dari Neji." lanjut Sakura sambil kembali berjalan dan menghilang dari pandangan Ten Ten.

Setelah Sakura hilang dari pandangannya, Ten Ten membiarkan dirinya duduk terkulai lemas di tengah-tengah lorong yang sunyi hanya ditemani oleh isak tangisnya sendiri.


-TBC-

Bagaimana? Memuaskan? Maaf kalo chapnya lebih pendek dari yang kemarin….Jangan lupa review ya? Makasih…..