Our Way
A Naruto Fanfic
Naruto © Masashi Kishimoto
Romance / Drama / Friendship
T Rated
Warning : AU dan OOC
Summary : Kisah sekumpulan remaja dalam kehidupan anak SMA yang diiringi konflik. Bagaimanakah mereka menghadapi semua konflik yang terjadi?
Sebuah mobil sport biru terlihat memasuki pekarangan sebuah rumah mewah berarsitektur kuno. Meskipun kuno, rumah itu terlihat begitu elegan dan berkelas seolah mencerminkan pemiliknya. Ya, pemilik dari rumah mewah tersebut tak lain dan tak bukan adalah keluarga Uchiha, keluarga pemilik perusahaan Uchiha Corporation yang bergerak dalam bidang industri perminyakan dan gas alam.
Uchiha adalah salah satu keluarga paling disegani di Konoha ini. Hal itu tentu saja karena kekuasaan dan kekayaan mereka yang begitu melimpah ruah. Keluarga Uchiha juga mendapat julukan 'The Greatest' karena memang mereka selalu menjadi yang terbaik dimana pun mereka berada. Lihat saja kedua putra pewaris Uchiha Corporation itu, mereka selalu menjadi yang terbaik di kampus atau sekolah mereka.
Sang putra sulung, Itachi Uchiha adalah lulusan terbaik Tokyo University yang lulus tahun kemarin. Dia mendapatkan nilai kelulusan sempurna dan menjadi satu-satunya yang mendapatkan nilai sempurna di Tokyo University setelah 15 tahun tak ada yang mendapat nilai sempurna seperti itu.
Selain pintar, Itachi juga dikenal sebagai seseorang yang berjiwa kepemimpinan yang sangat tinggi dan juga kharismatik. Itulah yang membuatnya sudah di percaya oleh ayahnya memegang salah satu jabatan tertinggi di Uchiha Coorporation meskipun usianya terbilang masih sangat muda.
Lalu sang putra bungsu, Sasuke Uchiha juga menjadi murid terpandai di sekolahnya saat ini, Konoha International Senior High School. Bahkan saat dia SMP, nilai ujian negaranya merupakan nilai tertinggi seantero Jepang. Sampai saat ini belum pernah Sasuke mendapatkan peringkat selain peringkat 1, padahal menurut teman-teman dekatnya, Sasuke itu sangat jarang belajar. Jadi, bisa kita simpulkan bahwa Sasuke adalah seorang jenius sejati.
Selain sukses dalam bidang akademis, Itachi dan Sasuke juga sangat sukses dalam bidang menarik perhatian para wanita. Kemana pun mereka berjalan, tatapan penuh kekaguman dari seorang wanita tak pernah absen mengikuti mereka. Sehingga mereka berdua disebut-sebut sebagai 'Magnet Wanita'.
Tentu saja faktor kekayaan dan ketampanan merekalah yang membuat para wanita terlihat begitu tergila-gila pada mereka. Terlebih pada Itachi. Sifatnya yang jauh lebih ramah bila dibandingkan Sasuke membuat Itachi lebih disenangi. Selain itu Itachi juga murah senyum, berbeda sekali dengan Sasuke yang anti terhadap senyuman. Dimana pun dia berada wajahnya hampir tak pernah menampakkan sebuah senyuman walau hanya sedikit pun.
Namun, ada yang berbeda hari ini. Sang Tuan Muda Uchiha tersebut terlihat tersenyum lebar sambil berjalan menuju ke rumahnya. Hal ini tentu saja membuat para pelayannya menjadi kebingungan.
Apakah yang bisa membuat tuan muda mereka yang bersifat dingin seperti es itu tersenyum layaknya orang baru memenangkan lotre behadiah trilyunan? Begitulah kira-kira pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepala para pekerja di rumah Sasuke melihat perubahan sifat Sasuke itu.
Sasuke yang sadar telah menjadi pusat perhatian itu pun menghentikan langkahnya dan langsung mendelik kepada para pelayannya itu. Melihat Sasuke memberikan deathglare andalannya, para pekerja pun langsung menunduk takut dan mengalihkan pandangan mereka dari Sasuke.
Setelah itu, Sasuke pun kembali melangkah menuju rumahnya dengan wajah stoic-nya kali ini. Ketika ia memasuki ruang makan, terlihatlah sang Ibu, Mikoto Uchiha sedang menyiapkan meja untuk makan malam dibantu oleh para pelayan. Melihat sang bungsu datang, Mikoto langsung menghentikan pekerjaannya dan menghampiri putranya itu.
"Sasuke….kau baru pulang?" tanya Mikoto lembut.
Mendengar suara sang Ibu, Sasuke yang tadinya hendak langsung ke kamarnya menghentikan langkahnya. Dibawa pandangannya ke arah sang Ibu yang kali ini mengenakan gaun semi formal bewarna krem yang terlihat cocok dengan warna kulitnya, tersenyum lembut ke arahnya.
"Hn, Ibu. Maaf aku terlambat tadi aku ada urusan penting." jawab Sasuke sambil memberikan alasan atas keterlambatannya.
"Tak apa Sasuke…yang penting sekarang kau sudah sampai. Memangnya ada urusan apa tadi?" tanya Mikoto lagi.
Sasuke terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Hn, urusan dengan Sakura." jawab Sasuke pelan.
Mendengar nama Sakura disebut, raut wajah Mikoto berubah menjadi sedih. Perlahan ia berjalan menuju kursi meja makan dan mendudukinya. Sasuke yang melihat wajah murung Mikoto itu, segera berjalan menghampiri ibunya dan mendudukkan diri di sampingnya.
"Hn, Ibu kenapa? Apa kau marah karena aku masih berhubungan dengan Sakura?" tanya Sasuke.
Mikoto menggelengkan kepalanya perlahan dan tersenyum pilu. Sambil menggenggam tangan putranya, ia menjawab, "Tidak, Sasuke. Ibu hanya…hanya berpikir apakah Sakura masih membenci kita. Sedih rasanya hati ibu jika mengingat bagaimana Sakura yang dulu sangat dekat dengan kita menjadi memusuhi kita seperti sekarang."
'Bukan hanya ibu saja yang sedih. Aku pun juga merasakan hal yang sama, bu.' kata Sasuke dalam hatinya.
"Sudahlah ibu jangan sedih lagi. Aku yakin suatu saat nanti pasti Sakura akan kembali seperti semula. Menjadi Sakura yang dulu lagi." ucap Sasuke sambil memeluk ibunya.
"Hhhh….ibu harap juga begitu Sasuke." balas Mikoto sambil balik memeluk putranya itu.
Tak lama kemudian datanglah sang Tuan Besar keluarga Uchiha, yaitu Fugaku Uchiha. Derap langkah tegasnya terhenti ketika melihat adegan peluk-peluk antara istri dan putra bungsunya. Sejenak ia mengerutkan kening sebelum akhirnya memecah kesunyian dengan suaranya.
"Ada apa ini, Mikoto?" tanya Fugaku pada istrinya.
Sasuke dan Mikoto segera melepaskan pelukan mereka begitu mendengar suara Fugaku. Mereka berdua berdiri secara bersamaan begitu melihat Fugaku. Segera Mikoto menghampiri suaminya tersebut.
"Ah, Fugaku kau sudah pulang rupanya." ucap Mikoto sambil berjalan.
"Hn. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau dan Sasuke berpelukan seperti itu? Memangnya apa yang terjadi."
"Ah tidak ada apa-apa. Memangnya aku tidak boleh memeluk putraku sendiri?"
"Hn, bukan begitu. Hanya saja tumben sekali melihat Sasuke mau peluk-pelukan seperti itu." jawab Fugaku yang langsung disambut deathglare oleh putra bungsunya itu.
Mikoto hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya, "Kami baru membicarakan Sakura, Fugaku. Aku sedih bila mengingat betapa dekatnya kita dengan Sakura dulu. Bahkan aku sudah menganggapnya sebagai putriku sendiri. Tapi sekarang dia malah bersikap memusuhi kita. Dan Sasuke berusaha menghiburku yang bersedih tadi, makanya kami berpelukan." terang Mikoto.
Mendengar nama Sakura, raut wajah Fugaku sedikit berubah. Terlihat raut kesedihan disana. Namun, buru-buru dipasangnya wajah datarnya kembali sebelum terlihat oleh Mikoto dan Sasuke.
"Hn. Ya sudah kau tak usah bersedih lagi. Suatu saat nanti Sakura yang dulu pasti kembali. Dia hanya butuh waktu. Ayo kita segera makan malam." ujar Fugaku.
"Ah apa sebaiknya kita tidak menunggu Itachi? Dia belum pu-" perkataan Mikoto terpotong oleh suara Itachi.
"Aku pulang." ucap Itachi memberi salam.
"Itu dia sudah datang. Ayo sebaiknya kita makan sekarang." ucap Fugaku yang diiringi dengan anggukan dari Mikoto, Sasuke, dan Itachi.
Sunyi. Itulah suasana yang terasa dalam sebuah mobil sport hitam yang dikemudikan oleh seorang pemuda berambut cokelat. Di samping pemuda itu seorang gadis berambut merah muda terlihat sedang memandang keluar jendela tanpa sedikit pun mengeluarkan suaranya. Untuk menghidupkan suasana, sang pemuda akhirnya membuka mulutnya juga untuk berbicara.
"Sakura, kau tak ke makam ibumu hari ini?" Tanya sang pemuda pada gadis di sampingnya.
Pertanyaan dari sang pemuda sukses membawa pandangan mata emerald sang gadis beralih dari luar jendela ke arah pemuda itu. Sambil mendengus, perlahan Sakura membalikkan badannya ke arah pemuda itu.
"Huh jangan bercanda kau Neji. Buat apa malam-malam begini aku pergi ke kuburan. Nanti bisa-bisa aku ini dikira orang yang ikut pesugihan atau maling mayat lagi." jawab gadis itu sambil memajukan bibir merah mudanya.
Neji hanya terkikik pelan mendengar jawaban yang dilontarkan kekasihnya itu. Sambil mengerling jahil ia membalas, "Hn, siapa tahu saja kau ingin memajukan rumah sakit ayahmu dengan ikut pesugihan. Yah hitung-hitung membantu ayahmu."
Mendengar balasan Neji, Sakura langsung melotot menatap Neji. Dipukulnya bahu pemuda itu dengan pelan. Sambil menghempaskan tubuhnya ke jok mobil dan melipat kedua tangannya gadis itu menjawab.
"Ha-ha-ha brilian sekali idemu, Neji. Kenapa tak sekalian saja kau terjunkan mobil ini ke sungai. Yah hitung-hitung menambah pasien ayah. Itu membantu juga kan namanya." jawabnya asal.
"Daripada aku ikut pesugihan belum tentu juga rumah sakit ayah benar-benar akan maju. Kalau kau menerjunkan mobil ini kan paling tidak rumah sakit ayahku mengalami kemajuan dalam hal bertambahnya pasien. Yah walaupun cuma dua orang sih." lanjutnya lagi.
"Hn. Jangan ngawur kau Sakura. Kalau kita berhasil dibawa ke rumah sakit sih mending. Tapi kalau tak ada yang mengetahui kita kecelakaan dan akhirnya kita berdua meninggal tenggelam di sungai bagaimana? Adanya bukan membuat ayahmu senang karena rumah sakitnya maju malah membuatnya jantungan lagi karena putri kesanyangannya meninggal karena ide bodohnya sendiri." balas Neji.
"Lagian kau duluan sih. Ah sudah tak usah membahas ini lagi. Lebih baik kau fokus menyetir ke depan supaya kita tak benar-benar terjun ke sungai." jawab Sakura.
Diam kembali menghiasi suasana antara sepasang muda-mudi itu sampai akhirnya mereka tiba di rumah Sakura.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang. Sudah malam kau tak usah mampir, ya. Besok pagi antar aku ke makam ibuku. Ingat jangan sampai lupa." kata Sakura sambil membuka sabuk pengamannya.
"Hn, sopan sekali kau langsung menyuruhku pulang." balas Neji sarkastik.
"Ah sudah tak usah cerewet. Pokoknya besok pagi kau harus mengantarku. Besok kan Sabtu jadi pasti kau bisa." ujar Sakura ngotot.
"Iya, 'Angel' Sakura. Besok aku akan mengantarmu ke makam ibumu. Sudah sana cepat turun." jawab Neji sambil mengecup dahi Sakura.
"Huh, begini kek dari tadi kan kita tak usah berdebat dulu jadinya. Buang-buang energi saja. Ya sudah aku turun. Kau hati-hati di jalan jangan sampai mobilmu benar-benar terjun ke sungai." balas Sakura sambil mengecup pipi Neji dan turun dari mobil.
"Hn." balas Neji yang kemudian menjalankan mobilnya diiringi lambaian tangan Sakura.
Pagi yang cerah mengawali akhir pekan di Konoha. Langit terlihat terang tanpa sedikitpun awan mendung menutupi seperti pagi kemarin. Umumnya akhir pekan seperti ini dihabiskan dengan tinggal dirumah dan bermalas-malasan. Namun ada yang berbeda dengan apa yang terjadi di kediaman Uchiha.
Terlihat seluruh anggota keluarga tersebut bersiap-siap pergi bersama-sama ke suatu tempat. Mungkin mereka akan piknik menghabiskan akhir pekan bersama pagi ini. Tapi, kalau memang ingin piknik buat apa membawa seikat bunga segala? Hmmmm aneh sekali. Daripada menebak-nebak yang belum tentu benar lebih baik kita lihat saja kemana mereka sebenarnya pergi.
Perlahan sebuah mobil mewah yang dikemudikan oleh seorang pemuda bernama Itachi Uchiha terlihat meninggalkan kediaman megah keluarga Uchiha. Dengan mulus mobil seri terbaru tersebut melenggang di jalan raya Konoha.
Sekitar lima belas menit kemudian mobil tersebut berhenti tepat didepan sebuah kompleks pemakaman mewah. Ya, kalian tidak salah baca. Pemakaman. Itulah tempat yang mereka tuju. Berarti mereka bukan piknik untuk mengisi libur akhir pekan dong? Ya sudah pasti bukan lah. Mana ada orang yang piknik di pemakaman? Yah, sekalipun pemakaman ini pemakaman elit tetap saja mustahil buat piknik disini.
Setelah memarkirkan mobil, mereka sekeluarga berjalan bersama ke dalam pemakaman itu. Tak berapa lama kemudian sampailah mereka di sebuah makam yang terlihat sangat terawat tesebut. Pada nisannya terukir sebuah nama yang sudah sangat mereka kenali. Misaki Haruno. Itulah nama yang terpahat di batu nisan tersebut. Nama dari ibu seorang gadis yang sudah sangat kita kenal, yaitu Sakura Haruno.
"Argghhh! Lama sekali sih si Neji!". Terdengar pekikan kesal menggema di ruang tamu kediaman Haruno. Seorang gadis yang merupakan sumber suara itu terlihat berjalan mondar-mandir sambil merengutkan wajah cantiknya. Sesekali matanya melihat jam tangan manis yang terpajang indah di tangan putih mulusnya.
"Uhhhhh! Benar-benar si Neji ini disuruh datang pagi kok belum muncul-muncul juga. Padahal sudah mau jam 10 ini." gerutu sang gadis.
"Awas saja ya kalau 15 menit lagi dia belum datang juga, aku jadikan dia teman ibuku di makam sana." rutuk sang gadis sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Seolah takut mendengar rutukan gadis itu, seorang pemuda berambut cokelat bernama Neji terlihat datang memasuki ruang tamu kediaman Haruno itu. Terlihat keningnya sedikit basah karena keringat, nafasnya juga sedikit ngos-ngosan. Mungkin ia terburu-buru datang tadi.
Sambil menyunggingkan senyum tipisnya, Neji melangkah mendekati Sakura yang mendelik padanya. Setelah sampai tepat di depan Sakura ia menatapnya sebentar. Lalu sambil mendengus pasrah ia berkata, "Maaf aku terlambat, Sakura. Tadi aku kesiangan bangun. Habis tadi malam aku menger-".
"Ah sudah tak usah banyak alasan. Lebih baik kita segera berangkat saja. Ibuku sudah menunggu pasti." potong Sakura sambil berjalan meninggalkan Neji yang hanya tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu dan segera mengikuti langkah Sakura.
Setelah mampir ke toko bunga langganannya, Sakura dan Neji tentunya sampai di kompleks pemakaman tempat ibu Sakura dimakamkan. Baru sebentar mereka berjalan, secara tiba-tiba Sakura berhenti mendadak dan menjatuhkan rangkaian bunga yang dibelinya tadi. Neji yang bingung melihat tingkah Sakura lalu bertanya pada Sakura.
"Ada apa Sakura?" tanya Neji.
Bukannya menjawab, Sakura malah terdiam sambil memandangi sebuah mobil mewah yang terparkir di bawah pohon besar yang ada di sekitar pemakaman itu. Neji yang bingung lalu mengikuti arah pandangan Sakura. Terlihat matanya sedikit melebar ketika melihat plat mobil tersebut. Plat mobil yang menandakan bahwa mobil itu adalah milik keluarga Uchiha.
"Sial." umpat Neji sambil melirik Sakura yang masih terpaku menatap mobil itu.
Dan apa yang Neji takutkan pun terjadi. Sambil mengepalkan tangannya, Sakura segera berlari ke dalam pemakaman. Neji tentu saja tak tinggal diam melihatnya, segera ia berlari mengikuti Sakura.
Dengan kencang Sakura terus berlari tanpa menghiraukan panggilan Neji menuju makam ibunya. Dan apa yang dilihatnya benar benar membuat darah di seluruh tubuhnya terasa mendidih. Terlihat di depan makam ibunya, berdirilah keluarga Uchiha. Keluarga yang telah membunuh ibunya.
Dengan berapi-api Sakura berjalan ke arah mereka. Begitu ia sampai kira-kira 3 meter dari tempat keluarga Uchiha berdiri ia pun menghentikan langkahnya. Sambil memejamkan matanya ia menarik nafasnya perlahan mencoba mengontrol emosinya. Setelah ia merasa sudah cukup tenang, perlahan ia membuka mata dan mulutnya.
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Mendengar suara yang tiba-tiba saja muncul, sontak membuat keluarga Uchiha mengalihkan pandangan mereka ke sumber suara. Dan apa yang mereka lihat benar-benar membuat mereka terkejut. Di sana berdiri seorang gadis cantik menatap tajam ke arah mereka. Terlihat pancaran amarah yang begitu besar terpancar dari kedua bola mata emeraldnya.
"Sakura….." ujar Sasuke pelan.
"Sekali lagi aku tanya apa yang kalian lakukan di sini?" terdengar suara Sakura mulai bergetar menahan emosi.
"Ah, kami hanya ingin berziarah ke makam ibumu, Sakura-ch-" kata-kata Mikoto terpotong oleh teriakan Sakura.
"MAKANYA AKU TANYA APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI? KALIAN KAN SUDAH AKU DAN AYAHKU LARANG UNTUK KE SINI LAGI! BUAT APA KALIAN KE SINI LAGI? KALIAN TAK PANTAS UNTUK BERDIRI DI DEPAN MAKAM IBUKU, PENJAHAT!"
Mikoto tersentak mendengar perkataan Sakura itu. Perlahan matanya mulai terlihat nanar dengan air mata. Fugaku yang melihat keadaan istrinya itu, segera merangkulnya ke dalam pelukannya.
"Kami hanya ingin melihat ibumu saja, Sakura. Maaf kalau itu membuatmu terganggu." balas Fugaku dengan tenang.
"Hahahaha…..terganggu kata kalian? Terganggu? Aku bukannya terganggu lagi tapi aku sudah muak melihat penjahat seperti kalian bebas berkeliaran. Terutama kau Itachi Uchiha."
Itachi yang sedari tadi menunduk, begitu mendengar namanya disebut langsung mengangkat kepalanya. Dengan sendu ia menatap wajah Sakura.
"Apa….kau….belum bisa memaafkanku, Sakura?" tanya Itachi pelan.
"Apa kau bilang? Memaafkanmu? Jangan mimpi kau! Seumur hidup aku tak akan memaafkanmu pembunuh! Aku tak akan pernah bisa memaafkan perbuatan yang kau lakukan pada ibuku."
Flashback
Seorang gadis kecil berambut merah muda berusia terlihat berjalan bergandengan tangan dengan seorang wanita cantik yang memiliki warna rambut yang sama dengannya. Kebahagiaan terpancar dengan jelas dari wajah gadis cilik tersebut. Berbeda dengan raut wajah ibunya yang sulit diartikan tersebut.
"Ibu…memangnya masih jauh ya? Sakura udah capek nih. Memang toko kuenya dimana sih?" tanya gadis cilik itu setelah cukup lama mereka berjalan.
"Sebentar lagi kok, Sakura." jawab ibu gadis itu sambil tersenyum.
"Kenapa ibu beli kue ulang tahun Sakura jauh-jauh amat sih, bu? Kenapa tidak ditoko biasanya saja?" gadis cilik itu kembali bertanya.
"Soalnya ulang tahunmu kali ini spesial, Sakura."
"Spesial kenapa?"
"Soalnya kan hari ini ayah juga ikut merayakannya dengan kita, jadi ibu ingin agar kue ulang tahunmu kali ini lebih spesial. Toko kue tempat ibu memesan kue ulang tahun untukmu adalah toko kue favorit ayahmu." jawab ibu Sakura sambil menatap wajah putrid satu-satunya itu.
"Ummhhh begitu. Berarti lebih enak dong, bu?"
"Sudah pasti itu. Ah ngomong-ngomong kita sudah sampai. Itu tokonya diseberang jalan. Sakura kamu haus tidak?"
"Iya sih bu, memangnya kenapa?"
"Kamu beli minuman saja di toko kecil itu. Biar ibu saja yang menyeberang dan mengambil kuenya."
"Boleh bu? Wah kalau begitu baiklah. Terima kasih ibu. Ibu cantik deh. Hehehehehe."
"Huh kamu bisa saja ya memuji ibu saat seperti ini. Ini uangnya."
"Makasih ibu. Ibu hati-hati ya kalau menyeberang."
"Iya, Sakura. Ibu akan hati-hati. Lagipula jalanan ini kan sepi jadi tak akan berbahaya."
"Yasudah kalau begitu."
Ketika Sakura ingin berjalan, tiba-tiba ibunya memeluknya dengan sangat erat dan menciumi pucuk kepalanya. Sakura yang bingung bertanya kenapa ibunya tiba-tiba memeluknya seperti ini. Namun, ibunya hanya menggeleng pelan dan kemudian melepaskan pelukannya. Setelah itu Sakura berjalan menuju toko tersebut.
Baru saja ia tiba didepan toko tersebut, terdengar suara decitan mobil dan suara benturan yang cukup keras. Spontan Sakura melihat ke arah sumber suara, betapa terkejutnya ia melihat ibunya tergeletak bersimbah darah tertabrak mobil di tengah jalan.
Segera ia berlari menghampiri ibunya. Sambil bercucuran air mata ia memanggil-manggil nama ibunya sambil berteriak minta tolong. Kemudian ia mendengar suara pintu mobil terbuka dan suara langkah kaki.
"Sa-Saku…ra?" terdengar suara seorang lelaki memanggil namanya,
Spontan Sakura mendongak melihat sumber suara. Betapa terkejutnya ia melihat sosok yang menabrak ibunya tadi adalah orang yang sangat dikenalinya, Itachi Uchiha. Segera ia bangkit menghampiri Itachi.
"Kak…Itachi tolong ibu Sakura kak. Sakura mohon." terdengar suara Sakura lirih karena menahan tangisannya.
Itachi pun segera mengannguk, namun baru saja ia ingin menghampiri korban tabraknya, telepon genggamnya berbunyi dengan nyaring. Sesaat ia melihat caller id-nya dan langung buru buru mengangkatnya.
"Apa? Ibu kenapa? Ba-baik aku akan segera ke sana." terdengar suara Itachi berbicara dengan orang ditelepon itu dan memutuskan hubungan teleponnya.
Sambil menatap bingung ibu Sakura yang tegeletak ia menggigit bibir bawahnya. Ia kemudian berjongkok dan memegang kepala Sakura.
"Sakura…maaf kakak tidak bisa menolong ibumu sekarang. Ibu kakak sekarang sedang dirumah sakit juga. Kondisinya kritis, Sakura. Tapi kakak akan menghubungi orang untuk meminta pertolongan jadi kamu tunggu disini ya." ucap Itachi.
"Ta…tapi kak, kalu ibu nggak segera ditolong ibu bi-"
Belum sempat Sakura menyelesaikan ucapannya telepon genggam Itachi sudah berbunyi kembali. Segera Itachi bangkit dan masuk ke dalam mobilnya.
Ketika Itachi mau menjalankan mobilnya, Sakura menggedor-gedor kaca jendelanya sambil berteriak agar Itachi mau membawa ibunya ke rumah sakit. Sebenarnya dalam hati Itachi sangat ingin menolong Sakura, apalagi begitu melihat air mata mengalir dengan derasnya.
Tapi, bayangan akan ibu kandungnya sendiri yang sedang meregang nyawa di rumah sakit membuatnya tega meninggalkan Sakura dan ibunya. Terlihat dari kaca spionnya, Sakura kecil berlari mengejar mobilnya sambil menangis dan akhirnya terjatuh. Itachi yang sebenarnya pilu melihat Sakura segera menambah kecepatan laju mobilnya agar tak melihat pemandangan pilu itu lagi.
Sakura yang terjatuh berusaha bangkit dan ingin mengejar Itachi lagi, namun panggilan dari ibunya membuatnya mengurungkan niatnya dan berlari menghampiri ibunya. Ia lalu berjongkok dan memegang tangan ibunya yang berlumuran darah.
"Sa…ku…ra…" panggil ibunya.
"i…hiks…ya…hiks…bu…." jawab sakura sambil tersisak.
"Ja…ngan…me…na…ngis…..nak." ucap ibunya sambil menghapus air matanya perlahan.
"Ber…jan…ji…lah….pa…da….i…bu…un…tuk….ti…dak…..me…na….ngis."
"Dan ju….ga….se…la…lu….i….ngat…bah….wa…i…bu….akan….te..rus….ber…ada…di….sam…ping….mu….apa….pun….yang…ter…ja…di." pesan ibu Sakura.
Sakura yang mendengarnya berusaha untuk tidak mengangis. Perlahan ia merasakan bahwa pegangan tangan ibunya mulai menegendur.
"Ma…af….ka…lau…begi…ni….ja…di…nya…." gumam ibu Sakura sambil menghembuskan nafas terakhirnya.
"TI….TIDAKKK! IBU…..IBU…..JANGAN TINGGALIN SAKURA….IBU….HUAAAAAAAAAA!" Teriakan Sakura menggema dijalanan yang sepi itu membuat orang-orang mulai keluar melihat sumber teriakan tersebut. Betapa terkejutnya mereka melihat ada seorang wanita yang tergeletak bersimbah darah dan seorang gadis kecil yang menangis sambil memeluknya.
Segera orang-orang tersebut memanggil pertolongan dan berusaha menggotong Ibu Sakura ke pinggir jalan. Sakura hanya diam saja melihat ibunya digotong oleh orang-orang itu. Ia hanya duduk terdiam tak mengiraukan beberapa orang yang berusaha membawanya ke pinggir jalan. Sakura tahu betul bahwa ibunya sudah tak mungkin selamat lagi. Ia tahu dengan pasti bahwa ibunya sudah meninggal.
Bersamaan dengan itu, hujan turun dengan derasnya dari langit yang awalnya cerah. Seoalh ikut merasakan tangisan yang ada dalam hati Sakura. Melihat hujan turun Sakura menengadahkan wajahnya ke langit. Perlahan ia memejamkan matanya menikmati aliran air hujan yang membasahinya.
Sedetik kemudia ia membuka mata emeraldnya yang kini dihiasi oleh kebencian yang begitu mendalam.
"Aku….nggak akan memaafkanmu….kak Itachi." desisnya tajam.
End of Flashback
"Kau tak merasakan bagaimana rasanya jadi aku waktu itu. Aku yang kebingungan melihat ibuku meregang nyawa dijalan dan memohon bantuan kepadamu yang sudah menabraknya untuk menolongnya dan kau tak menggubrisnya." ujar Sakura
"Aku…aku berusaha menolong, Sakura. Aku sudah mengirimkan orang ke sana untuk membawa ibumu ke rumah sakit tapi ternyata ibumu sud-"
"SUDAH! HENTIKAN PEMBELAANMU YANG TAK PENTING ITU! APA KAU PIKIR JIKA KAU MENGATAKAN HAL YANG SUDAH KAU KATAKAN PADAKU BERIBU-RIBU KALI ITU AKAN MEMBUAT IBUKU HIDUP LAGI?"
Itachi yang merasa frustasi dengan situasi ini ikut berteriak, "MEMANGNYA KAU PIKIR AKU MAU MENABRAK IBUMU HAH? TIDAK SAKURA. DEMI TUHAN AKU BERSUMPAH AKU TIDAK MELIHAT ADA ORANG MENYEBRANG JALAN DAN TIBA-TIBA SAJA IBUMU ADA DAN A-"
Sakura yang mendengar perkataan Itachi segera memotongnya sambil mendelik marah, "OHHH….JADI SEKARANG KAU MAU BILANG BAHWA IBUKU MENABRAKKAN DIRINYA SENDIRI, HA? OMONG KOSONG! DASAR PEMBOHONG PE-"
"CUKUUUPPPP! INI PEMAKAMAN BISAKAH KALIAN TENANG SEDIKIT?" suara teriakan Fugaku Uchiha menggema di kompleks pemakaman yang sepi itu. Terlihat Mikoto Uchiha, sang istri menangis tersedu-sedu mendengar perkelahian antara anak yang sudah dianggap seperti putri kandungnya sendiri dengan putra sulungnya tersebut.
Mendengar perkataan Fugaku, Sakura dan Itachi pun menghentikan perkelahian mereka. Itachi memejamkan matanya dan meremas kepalanya keras. Sedangkan Sakura ia hanya menarik nafasnya sambil menatap makam ibunya.
"Neji-kun…." ucap Sakura lirih.
Neji yang entah sejak kapan berada dibelakang Sakura segera menghampirinya begitu mendengar namanya dipanggil. Dengan lembut ia merangkul pinggang Sakura dan mendekatkan telinganya ke mulut Sakura begitu diberi isyarat untuk melakukannya oleh Sakura. Terlihat sekarang Sakura sedang membisikkan sesuatu pada Neji. Neji hanya mengangguk mendengarnya.
Setelah itu Neji mengalihkan pandangannya ke keluarga Uchiha, dilihatnya mereka secara seksama sebelum akhirnya ia membuka mulutnya, "Aku dan Sakura akan pulang duluan. Lebih baik sekarang kalian juga pergi dari sini. Dan aku harap kalian tidak akan pernah mengunjungi makam ibu Sakura ini."
Selesai berbicara seperti itu, Neji lalu menggendong Sakura ala bridal style dan mulai berjalan meninggalkan pemakaman itu. Sakura menyembunyikan wajahnya dileher Neji dan merangkulkan tangannya pada leher Neji pula. Terdengar isakan kecil dari mulut gadis cantik itu. Neji hanya terus berjalan sambil membisikkan kata-kata yang mungkin dapat menenangkan Sakura.
Kepergian Neji dan Sakura itu diiringi oleh tatapan sendu dan ketiga Uchiha dan sebuah tatapan menusuk diberikan oleh sang bungsu Uchiha pada mereka atau lebih tepatnya pada Neji.
"Sebaiknya kita juga pergi sekarang." ucap Sasuke yang kemudian diamini oleh keluarganya.
Sementara itu di suatu tempat terlihat seorang wanita berambut hitam pendek duduk terdiam memandangi sebuah kotak. Perlahan dibukanya kotak tersebut. Terlihat terdapat sebuah amplop kusam didalamnya. Lalu dengan perasaan tak menentu diraihlah amplop tersebut oleh wanita itu.
Mata hitamnya terlihat menelusuri sebuah tulisan pada amplop tersebut. Lebih tepatnya sebuah nama yang merupakan nama sang calon penerima amplop yang ternyata berisi surat tersebut. Sakura Haruno. Itulah nama yang tertera diamplop tersebut.
"Sebentar lagi, Sakura. Sebentar lagi kau akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kuharap dengan surat ini, rasa benci yang terkurung dalam hatimu selama bertahun-tahun itu bisa hilang." ucap wanita itu sambil memejamkan matanya.
Pelan namun pasti sang wanita berdiri dan melangkah menuju sebuah jendela yang terletak di ruangan tempat wanita itu berada. Disingkapnya korden yang menutupi jendela tersebut. Hujan. Itulah pemandangan yang terlihat oleh wanita itu.
"Aku akan segera memenuhi janjiku padamu, kak Misaki. Aku akan segera membebaskan putrimu dari rasa benci yang mengikatnya." gumam wanita itu pelan yang diiringi oleh suara petir yang bergemuruh.
-TBC-
Huaaahhh….bagaimana? Maaf banget kalo updatenya luama banget. Mudik soalnya. Ini aja saya baru pulang kemarin dan langsung mengetik ini. Chapter ini udah terbongkar bagaimana sebenarnya kejadian masa lalu Uchiha-Haruno. Tapi ini belum selesai saudara-saudara. Masih ada konflik yang menunggu…..maaf kalo jelek ya….saya soalnya terburu-buru ngetiknya. Maklum banyak tugas yang belum saya kerjakan padahal Senin sudah masuk. Tapi tetep meskipun jelek saya minta reviewnya ya…..Maaf kalo ngga bisa bales review juga….saya bener-bener ngga sempet 40 soal kimia sudah menanti dan saya baru mengerjakan 5 saja saudara-saudara.
Tapi makasih loh buat reviewnya dan jangan lupa review saya lagi. Oke?
Makasih buanyak buat yang udah review chap 4 kemarin :
Keiko1310, 4ntk4-ch4n, ZoZo, Icha yukina clyne, Sabaku Gaara fanatic-fans, Kagurazaka Suzuran, Ricchu, Rei-chan, Nakamura Kumiko-chan, Miss Uchiwa SasuSaku, LuthMelody, DeviL's of KunoiChi, luluseason, uchiha ran, Delasachi luphL, amie uzumaki, Kira Desuke, smirk, luluseason.
Pokoknya maksih banyak buat kalian yang sudah mau review fic saya ini….i love you so much guys….hihihihihi.
Sampai ketemu di chap selanjutnya yaaaaa…
