Our Way
A Naruto Fanfic
Naruto © Masashi Kishimoto
Romance / Drama / Friendship
T Rated
Warning : AU dan OOC
Summary : Kisah sekumpulan remaja dalam kehidupan anak SMA yang diiringi konflik. Bagaimanakah mereka menghadapi semua konflik yang terjadi?
Brak! Terdengar bunyi pintu mobil di tutup dengan kasarnya atau lebih tepatnya di banting oleh seorang pemuda tampan berambut biru tua yang langsung melengos masuk ke dalam rumah megah keluarga Uchiha dengan wajah menahan amarah. Dibelakangnya seorang pemuda yang berperawakan sama namun terlihat lebih tua berlari mengikutinya sambil meneriakkan namanya.
"Sasuke...Sasuke...tunggu dengarkan aku dulu!" teriak pemuda yang bernama Itachi tersebut.
Sedang yang dipanggil bersikap seperti orang tuli saja alias sama sekali tidak menghiraukan teriakan itu seolah-olah tidak mendengarnya. Sasuke terus saja berjalan meninggalkan kakaknya itu.
Ketika ia hendak menaiki tangga menuju kamarnya yang terletak dilantai dua tersebut, secara tiba-tiba seseorang menarik bahunya, menghalanginya untuk menaiki tangga. Sambil menggertakkan rahangnya, Sasuke sudah bersiap memaki orang yang sudah seenaknya menarik bahunya itu.
Namun segera diurungkan niatannya itu ketika melihat orang yang berdiri dihadapannya tak lain adalah sang kepala keluarga Uchiha, Fugaku Uchiha. Sasuke hanya diam memandangi ayahnya dengan tatapan meminta penjelasan atas tindakan ayahnya yang tiba-tiba menariknya itu.
Seolah mengetahui arti tatapan putra bungsunya itu, Fugaku segera membuka mulutnya.
"Lebih baik kita dengarkan penjelasan Itachi dulu, Sasuke." ucap Fugaku singkat.
"Dengar apalagi ayah? Mendengarkan kebohongannya lagi? Aku sudah muak mendengar semua omong kosong ini!" jawab Sasuke meledak-ledak.
"Aku tahu kau pasti merasa sakit hati dibohongi seperti itu. Tapi aku yakin kakakmu pasti memiliki alasan atas perbuatannya itu."
"Benar, Sasuke. Ibu rasa kita patut memberi kesempatan pada Itachi kenapa dia sampai membohongi kita." ucap Mikoto yang tiba-tiba berada dibelakang Fugaku.
Sesaat Sasuke terdiam mendengar perkataan ayah dan ibunya tersebut. Kemudian ia menatap kakaknya yang berdiri disamping ibunya yang balas memandangnya dengan tatapan putus asa. Sasuke lalu menghela nafas panjang dan memandang Itachi dengan tatapan menusuknya.
"Lebih baik kau memberikan alasan yang bagus atas kebohonganmu Itachi Uchiha!" ucap Sasuke dingin.
"Iya, Ino...aku pasti akan ingat janji kita besok. Aku nggak akan telat deh. I swear, Princess. Sudah sana kau makan dulu. Aku juga mau makan dulu. Nanti setelah makan aku telepon lagi. Iya...i love you too. Bye."
"Haaah...dasar Ino menelepon kok lama sekali. Kupingku sampai panas begini." terdengar suara keluhan seorang pemuda tampan berambut cokelat dengan tato segitiga merah dikedua pipinya.
Pemuda itu, Kiba Inuzuka, baru saja menerima teror melalui telepon dari pacarnya sendiri, Ino Yamanaka. Kenapa dibilang teror? Bukankah sudah sewajarnya kalau seorang pacar menelepon pacarnya? Malah seharusnya senang dong ditelepon pacarnya sendiri, sampai lama lagi. Tapi kalau pacarnya seperti Ino siapapun pasti akan menyetujui pendapat Kiba yang yang menganggap telepon dari Ino adalah teror.
Gimana nggak disebut teror kalau setiap Ino menelepon, gadis cantik itu selalu mengancam Kiba supaya tidak telat saat menjemputnya untuk pergi ke sekolah atau saat kencan mereka.
Kiba tahu dengan jelas sih kalau dia memang tukang ngaret. Tapi untuk mengingatkannya kan nggak perlu berkali-kali. Masa Ino terus mengingatkannya sampai 5 kali sehari? Minum obat saja kalah. Gimana Kiba nggak kesal.
"Kiba...jangan pacaran terus ayo makan."
Terdengar teriakan kakak Kiba, Hana Inuzuka, memanggil Kiba untuk makan. Setelah menjawab iya dengan teriakannya, Kiba bergegas turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke bawah menuju ruang makan.
Sesampainya ia diruang makan, terlihat ayah, ibu, dan kakaknya sudah duduk rapi di meja makan. Segera ia duduk ditempatnya. Setelah berdoa bersama, mereka sekeluarga pun segera memulai acara makan malam.
Setelah selesai makan Kiba langsung berdiri dan hendak berjalan kembali ke kamarnya. Namun, sebelum ia sempat melangkah, ibunya sudah terlebih dulu memanggilnya.
"Kiba...jangan pergi dulu. Ada yang ingin ibu tanyakan padamu, Nak."
"Hmmm...ada apa, Bu?" jawab Kiba yang telah kembali duduk.
"Apa kau berpacaran dengan Ino-chan?" tanya ibu Kiba lembut.
"Hah? Tentu saja kan? Bukannya ibu sudah tahu dari dulu. Aku kan pacarannya sejak SMP, Bu. Ibu gimana sih." cerocos Kiba sambil memandang aneh ibunya.
"Heh! Maksudnya bukan begitu, Baka!" ucap Hana sambil menjitak kepala Kiba.
"Maksud ibumu, pacaran dalam arti yang sebenarnya, Kiba." kali ini ayah Kiba ikut berbicara.
Setelah terdiam beberapa saat untuk mencerna apa maksud perkataan orangtuanya itu, sang Inuzuka muda itu pun seolah mendapat pencerahan tentang apa maksud orangtuanya itu. Namun, ia kembali terdiam kembali. Bukan karena tidak mengerti maksud perkataan orangtuanya, tapi ia bingung harus menjawab bagaimana. Setelah beberapa saat Kiba pun mulai membuka mulutnya.
"Yah, bagaimana ya, Bu? Secara status sih aku memang pacarnya, tapi...aku nggak tahu apa Ino benar-benar mencintaiku atau nggak. Aku nggak mau terlalu memaksanya. Bu. Aku malah takut ia lari dariku lagi."
Ibu Kiba hanya tersenyum lembut pada anak laki-laki satu-satunya itu. Sementara Hana hanya bisa menatap adiknya prihatin.
"Pemikiranmu itu baik, Kiba. Tapi jangan hanya menunggu terus, kau juga harus mulai bertindak. Nanti dia keburu terpikat yang lain lho." nasihat ayah Kiba padanya.
"Siiip. Ayah tenang saja. Aku pasti akan bertindak. Tapi aku harus tunggu saat yang tepat. Tapi aku yakin suatu saat nanti kami pasti akan menjadi pasangan kekasih yang sesungguhnya. Bukan pura-pura seperti sekarang." balas Kiba dengan seringaiannya.
"Mudah-mudahan saja itu terjadi, Nak. Ibu, ayah, dan kakak pasti akan mendukungmu." ucap ibunya.
"Hahahaha...terima kasih, Bu. Ah aku ke atas dulu ya. Mau menelepon Ino dulu. Tadi aku sudah janji selesai makan akan meneleponnya. Selamat malam ayah, ibu, kakak." ujar Kiba sambil bergegas menuju kamarnya kembali.
"Sakura..."
"Hik...apa...Neji-kuuuuuun?"
"Kau mabuk."
"Hik...siapaaaaa... yang mabuuukkk? Aku kan...hik...cuma...hik...minum colaa."
"Hn."
Begitulah kira-kira percakapan Neji dan sang gadis pink disebelahnya yang terlihat sedang mabuk karena emmmh cola? Yah mungkin sekarang kalian sedang berpikir mana ada orang yang bisa mabuk karena cola? Tapi hal itu benar terjadi pada Sakura Haruno. Siswi populer di Konoha International High School yang mendapat julukan 'Angel' Sakura mabuk karena 'overdosis' meminum cola. Ya 'overdosis'. Itulah istilah yang muncul dalam otak kekasih dari Sakura, Neji Hyuuga, yang sedari tadi hanya menatap aneh Sakura.
'Hn. Tak pernah kusangka bahwa ada orang yang begitu aneh yang bisa mabuk hanya karena cola. Dan lebih hebatnya lagi orang itu adalah pacarku. Hn. Dunia ini memang aneh' pikir Neji sembari menatap Sakura.
Setelah menghela nafas panjang pemuda berambut coklat panjang itu membuka mulutnya kembali.
"Sakura...sekarang lebih baik kita pulang. Sekarang sudah larut." ujar Neji sambil melirik jam tangannya.
"Pulang? Pulang kemanaaaa? Hik...aku nggak mauuuu...aku nggak mauu pu..lang...hik."
"Haaah...Sakura kalu kau nggak pulang nanti dicari ayahmu. Bisa-bisa dikira aku berbuat yang tidak-tidak padamu lagi."
"Hik...pokoknya aku nggak mau...hik...dirumahku nggak ada ibu...hik...aku mau pulang ke tempat yang ada ibu..." jawab Sakura ngotot.
'Hah...ini orang benar-benar. Bahkan ketika dia mabuk dia tetap saja egois. Hn. Dasar merepotkan.' ucap Neji dalam hati.
"Sakura masa kau minta aku mengantarkanmu ke tempat ibumu? Kau kan harus mati dulu baru bisa ke tempat ibumu. Kalu kau minta aku mengantarmu bisa-bisa aku dipenjara seumur hidup karena dituduh melakukan pembunuhan berencana padamu."
"Hik...hihihi...Neji-kun...hik...bodoh deh...kalau kau ...hik...takut dipenjara kau ikut mati saja bersamaku...hik...hihihihi."
Neji menatap ngeri Sakura setelah menatap pacarnya itu. Sejenak terlintas dikepalanya berita mengenai mereka berdua akan menjadi berita utama disemua media massa dengan judul 'Pewaris Keluarga Haruno dan Hyuuga Tewas Mengenaskan Akibat Bunuh Diri. Cinta Tak Direstuikah Penyebab Utamanya?'.
Segera Neji menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir pikiran ngelanturnya itu. Hah bisa-bisa kalau dia terus berlama-lama dengan Sakura seperti ini pikirannya juga bisa ikur kacau seperti gadis itu. Dengan cepat segera dia mengambil ponselnya yang ada dalam sakunya dan menelepon Hinata, sepupunya.
"Hinata? Ya ini aku Neji. Hari ini Sakura mabuk. Jadi aku akan membawanya pulang ke rumahku. Tapi, tolong kau telepon ke rumah Sakura bilang dia menginap di rumahmu. Pasti paman Seiji tidak akan mengizinkan bila ia menginap dirumahku. Alasan kenapa Sakura sampai menginap segala semua terserah kau. Cerita kenapa Sakura bisa mabuk, besok saja kau tanyakan sendiri pada orangnya. Sudah ya, Hinata. Arigatou. Ja Ne."
Tanpa memberi kesempatan sepupunya itu berbicara, Neji segera menyudahi teleponnya. Setelah memasukkan ponselnya kembali, ia kembali menatap gadis pink dihadapannya yang terlihat sudah tertidur lelap.
Segera digendongnya gadis cantik itu lalu dengan perlahan ia berjalan menuju mobilnya. Setelah menidurkan Sakura dikursi belakang ia segera duduk dikursi pengemudi dan menjalankan mobilnya menuju kediamannya.
-TBC-
Hwaaaaaahhhhhh...saya benar-benar minta maaf banget-nget-nget udah update lama sekalinya update pendek gini. T_T. Mohon maaf yah buat para reader saya bener2 lagi sibuk2nya. Maklum kelas 3. Saya janji begitu ada waktu saya pasti akan update. Tapi walaupun chap ini pendek tetep review dong ya? Plis bgt. Oh iya ngomong2 saya lagi nyari beta reader nih ada yang berminat ngga? Kalo memang berminat bales direview saya aja ya. Makasih ya buat kalian yang udah membaca fict aneh saya ini. Sampai jumpa dichapter depaaannn...Oh iya makasih juga buat yang udah review chap kemarin. Maaf lagi saya blm bs bales reviewnya. Sekali lagi maaaaffffff...
