Pagi yang cerah menghiasi hari ini. Matahari sudah keluar dari singgasana yang nyaman untuk menggantikan tugas sang bulan. Membangunkan setiap makhluk hidup untuk memulai aktivitas mereka yang baru dengan semangat baru.
Disclaimer : BLEACH © TITE KUBO
Genre : Romance, Hurt/Comport
Pairing : IchiRuki
Rate : T
Warning : AU, OOC, typo(s) gaje, POV Rukia, Don't Like Don't Read.
Secret of My Heart © Yanz Namiyukimi-chan
Hai aku Rukia Kuchiki aku adalah hasil hubungan dari Hisana Kuchiki dan Byakuya Kuchiki, orang tuaku. Aku sekolah di SMA Karakura dan aku merupakan salah satu senior di sana. Ya, sekarang aku sudah kelas tiga SMA, lebih tepatnya kelas 12-3.
Menurutku hidupku biasa saja. Ayahku merupakan salah satu dokter rumah sakit Karakura Interasional dan ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa.
Hmm... Kurasa dengan pekerjaan ayahku yang sekarang ini sudah cukup untuk menghidupi kami bertiga. Apalagi mengingat ayahku itu bekerja di RS terbesar Karakura.
"Rukia... Kau sudah bangun ?"
Akh... itu suara ibuku sudah memanggilku.
"Iya aku sudah bangun, Kaa-san!"
"Kalau begitu cepat turun dan sarapan!"
"Baik. Sebentar lagi."
Ok. Aku cek dulu penampilanku. Rambut hitamku yang panjangnya sebahu sudah rapi. Lalu kemeja putih lengkap dengan dasi berwarna merah merah. Rok coklatku juga sudah terpasang rapi di pinggangku dan legging diatas lutut, begitu pas di pahaku.
Oh... pasti kalian bertanya kenapa aku memakai legging yang jelas-jelas panjangnya lebih dari rok sekolahku. Ya, karena menurutku rok sekolahku itu terlalu pendek sehingga menampilkan paha mulusku. Mungkin itu suatu hal yang lumrah mengenakan rok yang begitu pendek. Tapi aku berbeda. Aku merasa risih mengenakannya. Coba kau bayangkan bagaimana jika tiba-tiba ada angin kencang lalu menerbangkan rokku lalu...
KYAAAA...
Sudah cukup aku tak mau membayangkannya. Mungkin menurutmu terlalu berlebih, tapi bagiku tidak. Ini adalah untuk antipasi bahaya yang akan datang.
Baiklah kurasa semua sudah beres. Aku mengambil tas sekolahku yang berada di atas meja belajarku.
Jangan aneh jika aku tidak mengecek bagaimana dandananku. Ya, seperti pada seorang gadis pada umumnya yang selalu menggunakan make-up di wajah mereka. Seperti bedak, lipgloss agar bibir mereka tampil sedikit menggoda lalu juga parfum yang disemprotkan di sekitar tubuh agar wangi sepanjang hari.
Jujur saja aku bukan tipe seperti itu. Ya, mungkin aku termasuk salah satu cewek tomboy yang tidak suka dengan berdandan.
Aku menuruni tangga dengan agak tergesah-gesah sambil menyampirkan tasku di bahu.
"Ohayou Kaa-san, Tou-san!"
Aku lihat ibuku sedang menyiapkan kopi untuk ayahku dan seperti biasa ayahku menunggunya sambil membaca koran. Melipat kaki kanannya di atas kaki kirinya dengan wajah kalem. Aku sangat mirip dengan Ibuku. Mungkin yang membedakannya adalah sifat kami yang berbeda jauh, hehe...
"Ohayou Rukia!"
"Ohayou!"
Aku tersenyum lalu mencomot sandwich yang sudah disiapkan oleh ibuku dan mulai mengunyahnya perlahan.
"Kaa-san aku berangkat dulu!"
"Eh? Berangkat sekarang?"
"Ya, aku takut terlambat," ucapku sambil mendekati ibuku lalu mencium pipinya.
"Ya, baiklah. Hati-hati di jalan!"
"Hn."
Lalu aku mendekati ayahku dan mencium pipinya.
"Aku berangkat Tou-san!"
"Hn," dengan nada dingin.
Hahaha... itu memang ciri khas ayahku, jadi jangan harap mendapat perlakuan lebih dari itu. Tapi di balik itu semua, dia punya sikap overprotektif tingkat aku padaku dan juga ibuku. Jadi jangan macam-macam ya!
Akupun segera keluar dari rumahku. Sekarang tujuanku adalah sekolah tempatku menimba ilmu.
"Hei midget, kau lama sekali!"
Seorang lelaki memiliki rambut orange yang mencolok sedang bersandar pada tembok pagar rumah yang ada di seberang rumahku. Dengan gaya memasukan kedua tangannya kedalam saku celana.
"Huh ! Memang siapa yang menyuruhmu menungguku?" seruku jedus.
Aku melangkahkan kaki tanpa menghiraukan lelaki itu.
"Hei! hei! Boleh saja kau marah padaku! Tapi apa kau tidak malu berangkat dengan resleting rokmu yang terbuka?"
Aku langsung menghentikan langkahku. Tubuhku langsung membeku mendengar apa yang diucapkan lelaki itu. Rasanya wajahku panas.
Dengan gerak patah-patah aku mulai meraba bagian resleting rokku yang ternyata tidak terbuka. Lalu aku mendengar kikiKan geli dari belakangku.
ehhhgg... Rasanya aku ingin menghajar kepala orange itu sekarang juga. Berani-beraninya ia mengerjaiku.
"Terserah apa katamu, jeruk!"
Aku langsung melangkahkan kaki lagi. Aku tahu dia itu senang sekali mengerjaiku, makanya aku biarkan saja nanti juga dia capek sendiri. Biasanya kalau aku ladenin pasti dia tak akan pernah puas.
Tak lama aku merasa ada yang menarik tanganku membuatku harus berbalik pada sang pelaku.
"Hei... Kau marah?"
"Hn."
"Hei, apa aku keterlaluan? Jangan marah begitu, Rukia. Aku 'kan hanya bercanda," jelasnya tapi aku tetap tak peduli.
"Hn."
Aku dengar helaan nafas dari lelaki di sampingku. Kurasa dia sudah tahu, kalau aku sudah begini apapun yang dia lakukan padaku percuma saja. Enak saja cuma bercanda. Aku hampir terkena serangan jantung karena kelakuannya.
Kamipun berjalan dalam keheningan. Perkenalkan lelaki yang berjalan beriringan denganku adalah sahabatku, Ichigo Kurosaki. Dia merupakan temanku dari SMP. Dia juga adalah tetanggaku, rumahnya tepat di seberang rumahku. Jadi mau tak mau aku akan berangkat sekolah bersamanya. Kalian pasti bertanya kenapa aku baru mengenal Ichigo dari SMP. Itu karena aku bukan berasal dari Karakura. Dulu aku tinggal di Seireitei, tapi aku pindah ke Karakura karena Ayahku pindah dinas. Jadi mau tak mau aku pindah ke sini dan bertemu dengan Ichigo.
Kami ini merupakan dua manusia yang berbeda yang dipertemukan oleh takdir. Jika kami bertemu selalu saja bertengkar, saling mengejek, dan memperdebatkan hal-hal yang sepele.
Aku masih ingat saat pertama kali bertemu dengannya. Aku hampir menghancurkan kelasku sendiri karena dia berani mengataiku pendek secara terang-terangan.
Ya, aku akui tinggi tubuhku ini kurang normal pada usiaku saat ini. Dibandingkan dengan Ichigo aku kalah jauh dengannya. Tinggi tubuhku sendiri hanya sampai dadanya saja. Sudah aku bilang kami itu berbeda. Selain tinggi badan, sikap kami bertolak belakang dan juga status kami saat di sekolah.
Aku hanya seorang gadis biasa, tidak populer seperti Ichigo yang selalu ditatap kagum oleh gadis-gadis. Aku hanya seorang gadis tomboy yang senang bergaul dengan laki-laki. Ya, itu menurutku membosankan jika berkumpul dengan teman-teman perempuan yang hanya bergosip, membicarakan pacar, shopping, baju dan yang lainnya. Itu benar-benar bukan gayaku. Menurutku berteman dengan anak laki-laki itu lebih menyenangkan. Mereka itu blak blakan, membicarakan segala hal. Pokoknya aku merasa senang dengan mereka. Jadi jangan aneh jika aku tidak terlalu dekat dengan anak perempuan di sekolahku.
Sedangkan Ichigo merupakan idola di sekolah kami. Tubuhnya yang tinggi. Dadanya yang bidang dan parasnya juga yang tampan. Dia juga termasuk anak yang pintar dan juga merupakan kapten tim basket di sekolah kami. Cuma kalian bayangkan seberapa populernya dia.
Banyak gadis-gadis yang tertarik padanya. Tapi anehnya sampai sekarang ia belum punya pacar. Aku juga menyadari bahwa Ichigo tumbuh menjadi sosok yang mempesona dan itu membuatku jatuh cinta padanya.
Ya, aku Rukia Kuchiki telah jatuh cinta padanya dan aku tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh dihatiku.
"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu?" suara itu menyadarkanku yang ternyata sedari tadi aku terus memperhatikan Ichigo.
"Tidak," kilahku pada Ichigo.
Aduh wajahku terasa panas karena ketahuan diam-diam memperhatikannya. Semoga saja dia tidak melihat perubahan yang terjadi pada wajahku.
Ohya, ini juga menjadi rahasiaku yang aku simpan rapat-rapat. Hebatnya tak ada satupun temanku yang tahu akan perasaanku pada Ichigo. Aku bersyukur diberi bakat akting oleh Kami-sama, karena dengan ini aku bisa menyembunyikan perasaanku dengan baik. Aku telah memilih untuk menyimpan perasaan ini. Aku takut jika Ichigo tahu aku memiliki perasaan lebih padanya dan membuat persahabatan kami menjadi renggang. Mungkin itu salah satu alasanku untuk tetap menyimpan perasaanku. Atau aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan perasaanku pada Ichigo.
Yang bisa aku lakukan sekarang adalah hanya mencintainya dengan caraku sendiri.
TBC
Ini fic yang untuk sekian kalinya bertemakan IchiRuki. Yach mau gimana lagi Yan udh jatuh cinta sama mereka. Yan mohon kritik dan sarannya untuk cerita ini. Arigatou buat kalian yang selalu baca fic buatan Yan.
sankyuu...
mind RnR
.
.
