Ah, akhirnya bisa ketemu kalian lagi. Untuk sementara ini Yan update fic yang ini dulu. Buat yang nunggu fic I Dont Want To Lose You Again! Mohon ditunggu. Kemungkinan Yan bakal update setelah UN...

Disclaimer : Bleach © Tite Kubo.

Pairing : IchiRuki always.

Genre : Romance, Frienship.

Warning : AU, OOC, typo(s), gaje.

Secret of My Heart © Yanz Namiyukimi-chan.

Chapter 3

Aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan perasaanku pada Ichigo. Yang bisa aku lakukan sekarang adalah hanya mencintainya dengan caraku sendiri.

-Rukia Kuchiki-


Saat mendengar bel istirahat berbunyi, Ichigo langsung melesat menuju ke kelas Rukia. Ichigo dan Rukia memang tidak satu kelas dan itu membuat Ichigo tidak bisa selalu mengawasi Rukia.

Ichigo POV.

Dengan langkah sedikit tergesah-gesah, aku melangkah menuju kelas Rukia berharap kalau si midget itu belum meninggalkan kelasnya.

Ngomong-ngomong tentang Rukia. Menurutku dia adalah gadis tomboy yang cebol tapi berwajah imut. Dia juga sahabatku dari SMP. Aku masih ingat bagaimana awal pertemuan kami. Ya, bisa dikatakan jika pertemuan pertama kami terkesan buruk. Membuat kami selalu bertengkar, bahkan bersaing. Entah kenapa kami bisa menjadi sahabat yang saling memahami dan saling membutuhkan.

Nah, itu dia. Rukia baru saja keluar dari kelasnya. Dengan langkah yang mengambil jarak yang cukup jauh, aku mengikuti Rukia dari belakang.

Sebenarnya aku memang tidak berniat untuk menghampirinya hari ini, melainkan mengikuti kemana Si midget itu pergi.

Hei! Aku tidak peduli kalian akan menganggapku sebagai penguntit. Lagipula ini bukan salahku juga kenapa menjadi OOC begini. Seorang Ichigo Kurosaki yang dikenal cuek, sekarang berpindah menjadi seorang penguntit?

Akh, lupakan! Jangan salahkan aku. Salahkan Si baboon dan Si midget yang membuatku penasaran. Apa katanya tadi? Rahasia?

Oh, baiklah. Aku akan mencari tahu sendiri apa yang akan mereka lakukan di belakangku.

Mungkin sikapku berlebihan menurut kalian. Tapi kurasa tidak. Sudah kubilang jika Rukia sudah seperti saudaraku sendiri. Dan aku tidak buta kalau lelaki yang ada di SMA Karakura ini mulai tertarik pada Rukia. Termasuk Si kucing biru muda itu. Rukia memang berbeda dari kebanyakan gadis lainnya. Dia bukan tipe gadis feminim dan lembut atau pemalu jika berhadapan dengan lawan jenisnya.

Seperti lelaki lainnya, aku sadar pesona yang menguar di balik tubuh mungil itu. Sikap kasarnya akan menjadi lembut seperti seorang ibu. Dia juga seorang pendengar yang baik. Dia selalu mendengarkan keluh kesah seseorang. Dia juga bisa menjadi malaikat kecil penolong jika ada temannya yang perlu bantuannya. Dan satu lagi, senyumnya yang ceria membuat orang-orang ingin tetap menjaganya.

Aduh, kenapa wajahku terasa panas saat membayangkan senyum manis Rukia? Apa ini karena efek dari global warming yang membuat suhu panas jadi naik?

"KEPALA JERUK!"

DUAGH!

Sial! Siapa yang berani melemparku dengan sepatu!

Oh, tidak! Aku lupa kalau aku sedang menguntit Rukia.

End Ichigo POV.

"KEPALA JERUK!"

Sebuah sepatu melayang ke arah Ichigo dan sukses tepat sasaran mengenai wajah Ichigo.

"Apa yang kau lakukan, midget?" teriak Ichigo kesal.

"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Apa yang kau lakukan? Kau menguntitku?"

Sebenarnya Rukia sudah tahu jika dirinya sedang diikuti oleh seseorang. Dan ternyata benar saja ada yang sedang menguntitnya. Makhluk berkepala orange ini telah menguntitnya.

"Apa? Menguntitmu? Jangan GR, midget!"

"Oh, begitu?" ucap Rukia, "Lalu apa yang sedang dilakukan seorang Ichigo Kurosaki di tempat seperti ini?"

'Oh, sial!' rutuk hati Ichigo.

Lihat sekelilingnya. Di sini sepi. Koridor sekolah ini tidak terdapat siswa-siswi yang biasa berlalu lalang. Hanya ada dirinya dan Rukia.

Ichigo merutuki kebodohannya. Kenapa tadi ia sempat-sempat melamun? Kalau saja ia tidak melamun, mungkin ia tidak akan ketahuan.

Lalu sekarang apa yang akan ia katakan pada Rukia? Masa ia harus mengakui jika dirinya memang sedang menguntit, sih?

Dilihatnya Rukia sedang menanti penjelasan dari Ichigo sambil melipat kedua tangan di depan dadanya.

"Ng... Ng... I-itu..."

"Sudahlah, jeruk. Akui saja. Kalau kau memang menguntitku!" seru Rukia melihat Ichigo yang tidak bisa memberikan penjelasan padanya.

"Terserah apa katamu, midget! Yang jelas aku tidak menguntitmu!" erang frustasi Ichigo sambil sepatu Rukia yang menjadikannya korban lemparan.

Dengan gerak refleks Rukia menangkap sepatunya. Kalau tidak, ia akan mempunyai nasib yang sama dengan Si jeruk yang berada di hadapannya.

Rukia sudah menduga kalau reaksinya akan seperti ini. Asalkan kalian tahu, Ichigo itu bukan tipe orang yang mudah mengakui sesuatu.

"Lalu, apa yang masih kau lakukan di sini?" tanya Rukia penuh selidik.

"Memang kenapa? Tidak boleh?"

"Hah... Terserah kaulah, jeruk!"

Rukia berjalan ke arah Ichigo berniat meninggalkannya, tapi langkahnya terhenti saat Rukia merasakan tarikan halus pada pergelangan tangannya.

"Kau mau ke mana? Ayo kita makan siang bersama."

Entah karena salah lihat, Rukia merasa jika Ichigo sempat blushing tadi. Tapi kali ia memilih mengabaikannya.

"Tidak bisa, Ichigo. Kau saja yang pergi makan siang. Lagipula aku ada urusan yang penting dan aku tidak bisa meninggalkannya."

Ichigo merasa sedikit kecewa karena ajakannya ditolak oleh Rukia.

"Kalau begitu, aku ikut!"

"Ti-tidak boleh!" larang Rukia gugup sehingga mendapat tatapan mencurigakan dari Ichigo.

"Kenapa tidak boleh?" tanya Ichigo sambil mendekatkan wajahnya ke arah Rukia.

"Po-pokoknya kau tidak boleh ikut!"

Tiba-tiba saja Rukia menyeringai, "Jangan-jangan kau menguntitku karena masalah ini?"

Dan sekarang keadaan berbalik. Rukia mendekatkan wajahnya pada Ichigo dan giliran Ichigo sekarang yang gugup.

"A-apa? Sudah kubilang aku tidak menguntitmu!"

"Kalau begitu cepat sana pergi! Hush! Hush! Hush!"

Rukia mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Ichigo dengan wajah innocentnya.

Dengan berat hati Ichigo melangkah kakinya meninggalkan Rukia.

"Rukia! Nanti kau harus-" Ichigo cengo di tempat.

Bagaimana tidak? Saat ia berbalik untuk mengajak Rukia pulang sekolah bersamanya tanpa kata penolakan, Si gadis mungil itu dengan ajaibnya sudah menghilang dari pandangannya.

"Sial, dia menipuku!"

Ichigo langsung berlari ke arah yang mungkin Rukia lalui. Tanpa Ichigo ketahui, Rukia bersembunyi di balik tembok.

Setelah memastikan Ichigo telah pergi jauh, Rukia keluar dari persembunyiannya kemudian berlari berlawanan arah dengan Ichigo.

Terdengar pekikan girang dari Rukia, "Ice Cream Blueberry. Aku datang!"


"Sial! Ke mana Si midget itu pergi?"

Ichigo sibuk mencari Rukia. Tidak menyadari bahwa ada orang yang sedang tergesah-gesah di dekatnya.

BRAK!

Sebuah tabrakan yang tidak diingikan terjadi.

"Ma-maaf!" suara seorang perempuan meminta maaf sambil memungut buku-bukunya yang berserakan di lantai. Ichigo yang merasa juga penyebabnya tabrakan itu terjadi membantu gadis itu memungut buku yang berserakan. Saat buku terakhir yang masih tergeletak pasrah, secara bersamaan dua tangan itu tidak sengaja bersentuhan.

"Ma-maaf," pekik gadis itu. Samar-samar terlihat semburat merah tampil di wajah gadis itu.

"Tidak apa-apa!" ucap Ichigo tenang.

"Terima kasih," ucap gadis itu saat Ichigo menyerahkan buku yang berhasil ia pungut.

"Tidak usah sungkan seperti itu," seru Ichigo dengan sedikit menyunggingkan senyumnya. Lagi-lagi terlihat semburat merah di wajah gadis itu. Namun yang ini tampak lebih jelas.

"ORIHIME!"

Dari arah barat terlihat seorang perempuan yang memilik gaya tomboy ke arah Ichigo dan gadis yang dipanggil Orihime.

"Apa yang kau lakukan di sini? Ayo kita harus cepat mengembalikan bukunya ke ruang guru!" seru gadis itu pada Orihime.

"I-iya Tatsuki," lalu Orihime berbalik menghadap Ichigo kemudian membungkukan badannya.

"Te-terima kasih karena sudah membantuku," ucapnya kemudian berlari bersama gadis yang bernama Tatsuki.

"Orihime, ya? Gadis yang manis," guman Ichigo.

"Fokus, Ichigo!" ucap Ichigo pada dirinya sendiri sambil menepuk-nepuk kepala orangenya.

"Kau harus menemukan Rukia sebelum dimangsa seseorang," serunya ngaco.

Tak lama kemudian Ichigo menepuk jidatnya menyadari sesuatu.

"Baiklah aku duluan, ok? Pokoknya aku tunggu kau di lapangan saat istirahat!"

"Bodoh! Kenapa baru ingat?" rutuk Ichigo berlari ke lapangan. Tempat di mana Rukia dan Renji akan bertemu.


"Ayo jangan mau kalah!"

"Rukia! Rukia! Rukia!"

"KYAAA... Grimmjow keren sekali!"

"Ayo, Renji!"

"Hisagi semangat! Jangan mau kalah!"

Suara riuh di lapangan begitu ramai. Berbagai teriakan pun keluar. Teriakan histeris, kagum, pekikan tertahan sampai teriakan pemberi semangan ada di sini.

Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa begitu tampak seru? Kenapa terlihat begitu menarik untuk dilihat?

Lihat saja! Ada tontonan menarik di tengah lapangan. Sebuah pertandingan basket yang cukup sengit terjadi di antara dua tim tersebut. Pertandingan yang hanya dimainkan oleh dua orang di masing-masing kubu. Sebut saja, kubu pertama terdiri dari Renji dan Hisagi dan kubu kedua adalah Rukia dan Grimmjow, Si playboy sekolah kita.

Awalnya Rukia menolak keras karena satu tim dengan Grimmjow, lelaki yang selalu menggodanya. Tapi mau bagaimana lagi, ternyata hasil undian -suit- membuat dirinya tidak bisa menolak.

"Sudahlah, Rukia. Kau menyerah saja! Skor kami lebih unggul dari kalian," seru Renji menghalangi Rukia maju lebih jauh ke daerah kawasannya.

"Huh, enak saja menyuruhku menyerah! Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan Ice Cream kesukaanku!" balas Rukia terus mendrible bola.

Dengan gerak cepat, bola itu berpindah alih ke tangan kirinya. Memutar tubuhnya dengan gesit kemudian melangkah maju melewati Renji yang menjaganya. Lalu mengoper bolanya pada Grimmjow yang sudah siap menerima operan darinya.

Tubuh tegap itu berlari dengan gesit kemudian memasukan bola ke ring dengan gaya slamdunk, membuat teriakan histeris dari para gadis semakin keras saja.

"Terima kasih. Ini berkat dukungan kalian semua," ucap Grimmjow menebar pesonanya.

GUBRAK!

Semua gadis yang terkena virus pesona dari Grimmjow langsung pingsan di tempat dengan wajah blushing.

"Ruki sayang! Aku berhasil mencetak poin," seru Grimmjow siap menerjang Rukia dari belakang.

BRUK!

Rukia menyikut perut Grimmjow sebelum ia berhasil memeluknya. Dan hebatnya, Rukia tak perlu melihat dulu sang objek untuk melakukannya. Rukia tidak memperdulikan rintihan Grimmjow di belakangnya. Ia malah tersenyum kemenangan ke arah Renji.

"Dua poin bertambah lagi,"

"Sial!"

"Maaf, Renji. Aku tidak bisa menjaga Grimmjow dengan baik," sesal Hisagi.

"Tak apa, Hisagi. Kita masih unggul sekarang. Yang perlu kita lakukan hanya mencegah mereka untuk memasukan bola lebih banyak lagi. Kalau tidak, kita akan kalah taruhan."

Taruhan? Ini memang pertandingan untuk memenangkan taruhan yang memang sudah mereka sepakati.

Tapi taruhan apa itu? Em... Bukankah tadi Rukia mengatakan Ice Cream kesukaannya? Itu berarti tentang traktir mentraktir.

"Iya aku tahu, Renji! Aku tidak bisa membayangkan dompetku akan dikeruk habis oleh mereka. Kau tahu bukan, mereka itu orang-orang yang rakus jika sudah menghadapi makanan kesukaan mereka masing-masing."

"Iya, maka dari itu kita jangan kalah dari mereka,"

Oh... Memang benar soal taruhan itu adalah traktir mentraktir. Dan kali ini adalah siapa yang menang, dia yang akan ditraktir sepuasnya. Oh, siapa yang tidak mau?

Mereka merasa aneh sendiri, kenapa Rukia memiliki tubuh yang kecil? Padahal gadis mungil ini senang sekali ngemil. Apalagi Rukia adalah perempuan. Bukankah perempuan itu gampang gemuk jika sering ngemil? Sepertinya itu tidak berlaku untuk Rukia.

Awalnya, Renji begitu percaya diri menghadapi Rukia karena ia yakin ia akan menang melihat postur tubuh Rukia yang kecil. Apalagi jika mengingat dirinya yang juga merupakan pemain basket. Dibandingkan dengan Rukia yang tak pernah mengikuti ekstrakuler apapun, tentu saja ia yang akan menjadi pemenangnya.

Tapi ternyata tanggapannya salah. Ternyata gadis mungil itu pandai sekali bermain basket. Bahkan dengan postur tubuh yang mungil itu, Rukia mampu mencetak poin dari jarak jauh. Atau kita sebut saja tri poin. Dan tembakannya selalu tepat sasaran.

Rukia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah FG Grimmjow. Kadang Rukia heran kenapa banyak sekali gadis yang suka pada Grimmjow. Bahkan mereka rela menjadi pacar Grimmjow yang ke berapa pun asal bisa bersama Grimmjow. Padahal menurut Rukia Grimmjow itu aneh. Senang sekali mencari kesempatan dalam kesempitan yang membuatnya harus selalu waspada.


Ichigo akhirnya sampai di lapangan. Tapi ia merasa aneh ketika melihat siswa-siswi yang diam di pinggir lapangan. Seolah sedang menonton sesuatu. Sorak-sorak semangat dari siswa-siswi SMA Karakura semakin membuat Ichigo penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Ichigo harus ikut berdesakan untuk melihat ke tengah lapangan. Ternyata ada sebuah pertandingan dan di sana ia bisa melihat gadis mungil yang tadi dicari-carinya sedang bermain basket.

Ichigo mengatami gerak-gerik Rukia yang sedang menghalangi Hisagi yang membawa bola. Rukia memang bukan anak dari club basket, tapi jangan meragukan kemampuannya. Ia pandai bermain basket. Kadang dirinya juga sering menjadi lawan main Rukia.

"Rukia!"

Rukia menangkap bola operan dari Grimmjow. Lalu ia berlari cepat menggiring bola dengan sisa tenaganya yang sudah terkuras habis. Ia berusaha memasukan bola ke dalam ring untuk menambah poin.

"Sial!" rutuk Rukia saat melihat bola yang ia lempar ke arah ring malah memantul ke papan ring dan gagal memasukan bola.

SYUT!

"MASUKKK!"

Tidak disangka bola pantulan Rukia diambil oleh Grimmjow lalu memasukan bola itu ke ring.

PRIT! PRIT!

"YEIIII!"

Suara peluit tanda pertandingan berakhir membuat Rukia berteriak girang. Tentu saja sekarang skor yang dimilikinya berbalik unggul daripada skor milik Renji.

Ichigo yang memperhatikan dari jauh hanya tersenyum tipis melihat tingkah Rukia yang bahagia atas kemenangannya. Grimmjow Jeagerjaques, ia mengakui kemampuan lelaki itu. Ia memang pandai mencetak bola dari jarak dekat. Ia bisa mencetak bola dalam keadaan yang tak terduga. Sebagai seorang kapten basket, tentu saja Ichigo merasa bangga mempunyai Grimmjow dalam club basketnya. Tapi tetap saja sikap Grimmjow itu terkadang membuatnya kesal. Apalagi saat Grimmjow yang mencoba menarik perhatian Rukia.

"YEIII... Kita menang!"

Tidak disangka Rukia datang menerjang Grimmjow. Memeluk lelaki kepala biru itu tanpa sadar.

Grimmjow yang tiba-tiba mendapat pelukan dari Rukia tentu kaget. Tapi ternyata gerak refleksnya bergerak sangat baik. Tangan kekar itu membalas pelukan Rukia. Memeluk tubuh rengkih itu dengan hangat. Ikut tersenyum bahagia merasakan perasaan Rukia yang sedang berbunga-bunga.

HUP!

Tiba-tiba Grimmjow mengangkat tubuh Rukia. Menggendongnya dengan ala bridal style. Rukia yang baru sadar dengan apa yang terjadi langsung berontak dalam gendongan Grimmjow.

"Grimmjow turunkan aku!" seru Rukia panik dengan memukul dada bidang Grimmjow.

HUP!

Grimmjow melempar sesuatu ke arah Hisagi. Hisagi yang tahu itu refleks menangkap benda itu yang ternyata sebuah handphone. Hisagi mengernyit, buat apa Grimmjow memberikan handphone itu kepadanya?

"Tolong foto kami berdua!"

Kini Hisagi mengerti maksud dari Grimmjow. Tersenyum menyeringai, Hisagi mengarahkan handphone itu pada objek yang akan dipotretnya.

"Jangan macam-macam! Cepat turun aku!"

Kesal karena Rukia yang terus memberontak, akhir Grimmjow mengambil satu tindakan. Ia melambungkan tubuh Rukia setinggi dadanya dan itu sukses membuat Rukia memeluk erat lehernya.

CUP!

KLIK!

Tertampanglah gambar di mana Rukia memeluk erat leher Grimmjow dengan wajah menghadap ke Kamera. Dan ciuman dari Grimmjow di pipi Rukia menambah kesan mesra di foto itu.

Grimmjow tersenyum menyeringai saat melihat ekspresi terkejut Rukia. Ia juga merasakan kalau tubuh gadis yang berada di gendongannya ini menegang.

Grimmjow benar-benar tersenyum puas. Kapan lagi ia bisa mencium gadis yang telah menarik perhatiannya.

"Grimmjow Jeagerjaques," suara dingin penuh antimidasi dari arah belakang Grimmjow membuat tubuhnya membeku untuk sesaat. Ditambah lagi aura hitam yang ia rasakan membuatnya ragu untuk menoleh ke belakang. Perlahan Grimmjow menurunkan tubuh Rukia. Lalu dengan gerakan begitu kaku Grimmjow menolah ke belakang.

Tak lama kemudian matanya membelalakak terkejut.

Apa yang terjadi?

TBC

Chapter 3 selesai!

Mungkin Yan bakal melanjutkan fic lainnya setelah UN. Yosh, kita berjuang bersama untuk mendapat nilai yang terbaik!

Thanks for reviews :

Reina Rukii

Aizawa Ayumu Oz Vessalius

ojou-chan

Ruki Yagami

Reiji Mitsurugi

yuuna hihara

mieya

Kyucchi

OzyJulitte

Minami Tsubaki

Chikuma new

maaf yan belum bisa balas review kalian!

Review Please...