Hallo semuaaa...aaa ! jumpa lagi sama Tabita Pinkybunny
disini membawa chapter 2 JENG...JENG...JENG !
Aku ucapkan terima kasih banyak buat yang udah mau mereview
fic aku yang ancur dan aneh ini. Biarpun Cuma 6 orang tapi itu
sangatlah berarti dan berharga buatku demi perbaikan fic ini nantinya.
Untuk balasan reviewnya ada dibawah. Jadi yuk mari langsung lanjut... ^_^
Cinta 1000 Tahun
By
Tabita Pinkybunny
Disclaimer :
Sampai kapan pun bahkan sampai
kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap
punya Mr. Masashi Kishimoto
Warning :
Cerita GaJe, ancur, dan berantakan.
Bahasa dan rangkaian kata kurang
begitu menarik.
Don't like, don't read !
No flame !
Summary :
Sakura awalnya hanyalah gadis biasa
yang hidup dalam
sebuah keluarga sederhana.
Namun kehidupannya berubah drastis
saat dirinya terpaksa harus melakukan
Surrogancy untuk sepasang suami-istri
yang telah lama tak memiliki anak demi
operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya
telah datang, apa yang harus dia lakukan ?
Chapter 2
"Memang, berapa biaya operasi ayah, bu?" tanya Sakura akhirnya berusaha mencari tahu.
"Biayanya sangat besar."
"..."
"Kira-kira sebesar 20 juta."
Sakura POV.
Tenggorokanku bagai tercekat sehingga aku tak bisa bernafas, jantungku seperti dihujami dengan pisau tajam berkali-kali saat aku mendengar nominal yang telah disebutkan oleh ibuku. 20 juta ? Ibuku bilang 20 juta untuk operasi ayah. Sungguh...itu sebuah nominal yang sangat besar bagi keluargaku yang memang tergolong menengah kebawah ini.
Bagaimana caranya aku dapat memperoleh uang sebesar itu dalam waktu singkat ? Untuk makan dan kebutuhan ekonomi keluargaku sehari-hari saja aku harus banting tulang bekerja sebagai seorang pramuniaga yang bisa dibilang gajiku tidak besar. Bahkan terkadang aku mencari kerja sambilan lain demi menambah pundit-pundi uang. Dan sekarang aku harus mendapatkan uang sebanyak 20 juta untuk operasi ayah, darimana aku bisa mendapatkannya ?
Demi Tuhan...betapa beratnya beban ini.
"Sakura, kau baik-baik saja?" tanya ibuku membuyarkan lamunanku.
"Ah, ya. Aku baik-baik saja, bu." jawabku tenang meskipun sebenarnya aku tak bisa untuk melakukannya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Sakura? Darimana kita dapat memperoleh uang sebesar itu untuk operasi ayah? Meminjam dari sanak keluarga kita juga adalah suatu hal yang mustahil. Kau tahu kan keluarga kita rata-rata orang yang tak berpunya juga." kata Haruno Tsubaki.
"Bagaimana jika kita meminjam uang dari paman Yamato? Aku rasa dia pasti bersedia membantu meminjamkan uang untuk operasi ayah. Paman Yamato dan ayah kan sudah berteman lama, bu." usul adikku Himawari yang kini baru berusia 15 tahun.
"Tidak ! Kita tak bisa meminjam uang padanya." kata ibuku menolak usul yang kurasa cukup bagus disaat seperti ini.
"Ke...kenapa tidak, bu? Apa alasannya?" tanya Himawari tak mengerti dengan alasan ibuku menolak usulnya.
"Keluarga kita sudah banyak merepotkan paman Yamato selama ini. Dia sudah sering sekali memberikan bantuan yang besar untuk keluarga kita. Bahkan terakhir kali, dia juga membantu membiayai hutang ayahmu pada rentenir. Jadi mana boleh kita merepotkannya lagi kali ini." jawab ibuku berusaha menjelaskan pada adikku alasannya menolak meminjam uang pada teman baik ayahku.
Tapi kata-kata ibuku ada benarnya juga. Memang paman Yamato sudah sangat banyak membantu keluarga kami selama ini, jadi sungguh keterlaluan jika kali ini kami merepotkannya lagi demi biaya operasi ayah yang tak sedikit itu.
Normal POV.
"Tapi, bukankah kita tak punya pilihan lain? Hanya paman Yamato saja yang bisa membantu kita saat ini, bu." kata Himawari berusaha keras agar ibunya berubah pikiran dan beralih menyetujui usulnya.
"Jika ibu bilang tidak, itu artinya tidak!" kata Tsubaki masih dengan pendiriannya.
"Tapi bu..."
"Cukup, Himawari! Jangan berdebat lagi dengan ibu! Kita tidak akan meminjam uang dari paman Yamato, seperti kata ibu tadi." kata Sakura memotong ucapan adik yang sangat disayanginya itu.
"Tapi kenapa, kak? Ayah harus segera dioperasi, jadi dalam waktu singkat ini kita sudah harus memperoleh uang 20 juta itu."
"Aku tahu itu, Hima. Aku akan berusaha keras untuk mendapatkan uang untuk operasi ayah. Jadi kau tak perlu khawatir lagi." jawab Sakura menenangkan Himawari.
"Kau akan mencari uang sebanyak itu kemana, sayang ? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Tsubaki.
"Biar aku nanti yang memikirnya, bu. Ibu dan Hima tenang saja dan jangan terlalu khawatir. Ibu dan Hima jaga ayah saja dengan baik disini. Aku yakin aku akan segera memperoleh uang 20 juta itu." jawab Sakura sambil tersenyum meyakinkan ibu dan adiknya.
"Baiklah, jika itu maumu. Ibu dan Himawari hanya bisa membantu dengan doa saja agar Tuhan memudahkan semua jalanmu."
"Terima kasih, bu. Kalau begitu, aku pergi dulu. Tapi jika ada apa-apa dengan ayah segera kabari aku." kata Sakura dan bersiap untuk pergi.
"Iya, ibu akan kabari kau jika terjadi sesuatu dengan ayahmu. Sekarang kau pergilah..." jawab Tsubaki pada putri sulungnya itu.
Sebuah mobil Lamborgini hitam melaju dengan kecepatan tinggi melintasi jalan raya kota Tokyo. Didalamya, seorang pemuda tampan bermata onyx dengan rambut model pantat ayam tengah menyetir sambil mendengarkan i-pod di telingannya (Ya iyalah, di telinga. Masa di kepala).
Dari wajah rupawannya terlukis dengan jelas ada rasa kekasalan yang dia rasakan. Entah masalah apa yang barusan dia alami sebelumnya, namun yang pasti saat ini moodnya sedang tak bagus.
Sasuke POV.
Hari ini adalah hari yang sial yang aku alami. Setelah tadi di rumah ada perdebatan antara ibu dan kakak laki-lakiku yang membuat pusing, beberapa menit yang lalu aku juga harus mengalami kejadian buruk yang memuakkan. Dan ini semua berawal dari kencan buta 'bodoh' yang dibuat Naruto.
Flashback.
"Teme, disini!" teriak si bodoh Naruto padaku begitu mengetahui aku telah memasuki restoran tempat sebelumnya kami berdua janjian bertemu. Aku pun segera melangkahkan kakiku menuju meja dimana Naruto berada. Dan ternyata dia tak sendiri. Disampingnya duduk seorang gadis berambut merah dan berkacamata yang aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Mungkin pacar Naruto selain Hinata, pikirku.
"Ayo duduk, teme! Kau pasti lelah kan panas-panasan di luar sana?" kata Naruto sambil nyengir kuda yang tidak ingin aku lihat.
"Hn." jawabku singkat seperti biasanya, dan segera mengambil duduk dihadapannya.
"Kau mau pesan apa, teme? Hari ini aku yang traktir. Jadi kau bisa pesan apapun sesukamu." tawar Naruto padaku. Tumben sekali anak itu mau mentraktirku. Biasanya dialah yang sering makan gratis karena selalu aku yang membayar semua makanan yang dia makan. Dan ini suatu keajaiban dunia ke delapan jika hari ini dia yang akan mentraktir.
"Jus tomat saja." jawabku.
"Baiklah. Pelayan...!" panggil Naruto pada seorang pelayan wanita di restoran itu yang segera datang menghampiri meja kami.
"Berikan segelas jus tomat untuk tuan tampan ini. Tidak pake lama." kata Naruto pada pelayan wanita itu.
"Baik, tuan. Apa ada lagi ?" tanya pelayan itu.
"Tidak. Itu saja, nona." jawab Naruto sambil tersenyum genit pada si pelayan. Sungguh menjijikkan.
Dan setelah si pelayan selesai mencatat pesanan, dia segera kembali ke dapur untuk membuatkan jus tomat pesananku.
"Sebenarnya, apa tujuanmu menyuruhku datang kemari, dobe ? Kau tahu kan aku sangat sibuk?" tanyaku langsung pada pokok masalah.
"Iya, aku tahu. Jadi karena itulah aku tak akan membuang waktumu lama disini. Sebenarnya aku ingin memperkenalkanmu pada seseorang." kata Naruto sambil melirik wanita berkacamata disebelahnya.
"..."
"Dan aku harap kau bisa menyukainya, teme." kata si rambut durian itu lagi sambil tersenyum padaku. Ini tambah menyebalkan.
"Mengenalkanku pada seseorang? Siapa maksudmu?" tanyaku penasaran.
"Dia itu..."
"Hai, namaku Karin ! Kau Uchiha Sasuke kan? Aku sangat senang sekali bertemu denganmu. Apalagi kau sangat tampan." kata wanita yang mengaku namanya Karin itu tiba-tiba padaku.
"Hn." jawabku singkat.
"Aku ini sudah lama mendengar banyak tentang dirimu dari Naruto lho...Dan aku benar-benar gembira karena bisa bertatapan langsung denganmu. Ya Tuhan, aku sungguh-sungguh tak menyangka kalau ini benar terjadi. Bagikan mimpi saja. Kencan buta ini sungguh menakjubkan!" kata Karin kembali heboh.
"Hn." jawabku singkat sekali lagi. Tapi tunggu dulu ! Dia tadi bilang apa ? Kencan buta ? Maksudnya saat ini aku dan dia sedang melakukan kencan buta ?
Ini tidak mungkin. Aku pasti salah dengar.
"Kau tadi bilang apa ? Kencan buta ?" tanyaku akhirnya.
"Yap! Kencan buta." jawabnya.
"Siapa yang melakukan kencan buta, hah!" tanyaku sekali lagi.
" Tentu saja kita berdua, sayang. Kau dan aku. Dan ini atas ide Naruto." jawab Karin sambil menunjuk pada Naruto.
"Bisa jelaskan sesuatu, dobe?" tanyaku sambil melirik pada bocah rubah itu dan melancarkan deathglare andalanku.
"Ah, i...itu, itu..." kata Naruto kebingungan sambil menggaruk belakang kepalanya yang aku yakin tidak gatal.
"Itu apa, hah!" teriakku meminta penjelasan.
"Itu, aku baru ingat kalau aku ada janji dengan Hinata. Jadi aku pergi dulu ya, teme. Sampai jumpaaa...aaaa..." jawab Naruto seenaknya dan langsung kabur dari TKP (?)
"DOBE, TUNGGU!" teriakku padanya. Namun dia sudah melarikan diri.
"Cih, sial!" jawabku kesal.
"Sudahlah, sayang. Biarkanlah saja dia. Bukankah lebih bagus kalau kita hanya berdua, hm?" kata Karin padaku sambil melancarkan puppyeyes. Karin mulai mendekatiku perlahan, dan dia kini sudah ada tepat disebelahku.
"Menyingkirlah dariku!" perintahku. Namun bukannya menurut, dia justru berani mendekatiku lebih jauh dan berusaha merangkul tubuhku.
"Jangan kasar begitu, sayang. Aku tidak akan menyakitimu kok, sungguh. Aku justru bisa memberikan kebahagiaan untukmu. Bukankah selama ini kau kesepian?" tanyanya secentil mungkin.
"Aku rasa kau salah dengar, nona. Jadi sekarang menjauhlah !" perintahku sekali lagi.
" Bagaimana kalau kita jadian saja ? Kebetulan aku juga tidak punya pacar. Dan sepertinya kita berdua cocok satu sama lain." rayunya lagi. Demi Tuhan yang telah menciptakan, ini semakin membuatku gila.
"Maaf saja ya nona, kau bukan tipeku. Lagipula aku tak suka wanita. Jadi jangan ganggu aku lagi. KAU PAHAM!" kataku berbohong dan langsung meninggalkannya yang sweatdroped di tempat setelah mendengar ucapanku.
Flashback End.
"Dasar dobe kurang ajar! Lihat saja nanti, aku pasti akan mencincangmu hidup-hidup dan menjadikanmu abon jika kita bertemu nanti." kataku kesal jika ingat kejadian mengerikan di restoran tadi.
Normal POV.
Sasuke masih mengenderai Lamborgininya dengan kecepatan tinggi sambil mendengarkan lagu 'Favorite Girl-Justin Bieber' dari i-pod kesayangannya, saat seorang gadis berambut merah muda menyeberang tiba-tiba di depan mobilnya.
" KYAAA...AAA!" teriak Sakura saat mengetahui sebuah mobil akan menabraknya.
CKIEEET ! Suara mobil di rem terdengar menggema di jalan raya. Menandakan betapa kasarnya mobil itu diberhentikan secara mendadak. Membuat si pemilik mobil, Uchiha Sasuke, begitu terkejut dan segera keluar dari mobilmya menghampiri wanita muda yang hampir menjadi korban tabrakan mautnya.
"HEI, BODOH ! KAU CARI MATI YA!" teriak Sasuke kesal pada wanita berambut merah muda dan berjidat lebar dihadapannya.
"A...apa kau bilang? Aku bodoh? Kau bilang aku bodoh, hah!" tanya Sakura terkejut karena pria yang hampir menghilangkan nyawanya mengatainya bodoh.
"Iya, kau bodoh! Kau tiba-tiba saja menyeberang di jalan raya tanpa memperhatikan keadaan lalu lintas sehingga hampir tertabrak oleh mobilku. Lalu, apa namanya jika bukan bodoh? Jika kau memang mau mati bunuh diri, cari saja mobil lain. Jangan mobilku! Karena aku tidak mau nantinya berurusan dengan polisi karena sudah menabrak wanita aneh, gila, dan berambut mencolok sepertimu." jawab Sasuke innocent.
"Kau ini! Keterlaluan sekali kau mengatakan semua itu padaku. Seharusnya kau itu minta maaf padaku karena sudah hampir menabrakku. Bukannya justru marah-marah." kata Sakura kesal dengan pria dihadapannya yang dia rasa err...sangat tampan itu.
"Kau bilang apa! Minta maaf? Kau bilang aku harus minta maaf padamu? Dasar gila! Seharusnya yang minta maaf itu kau, bukannya aku. Aku heran bagaimana mungkin wanita liar sepertimu bisa berkeliaran di jalanan seperti ini dan membahayakan orang lain." kata Sasuke sambil memandangi Sakura dari ujung kepala hingga ujung kaki yang langsung membuat Sakura berblushing ria.
"Tadi kau bilang aku bodoh, gila, dan aneh. Lalu sekarang kau mengataiku liar, sebenarnya apa maumu, hah!"
"Mauku adalah kau segera enyah dari hadapanku karena kau sudah banyak membuang waktuku. Kau tahu, aku itu orang sibuk. Jadi aku tak punya waktu mengurusi hal-hal yang tidak penting. Termasuk dirimu." jawab Sasuke seenaknya yang semakin membuat Sakura kesal.
"Dasar sombong! Kau pikir hanya kau saja yang sibuk? Aku itu juga sibuk tahu! Jadi kaulah yang menyingkir dari hadapanku pantat ayam jelek!"
"Apa kau bilang! Pantat ayam? Berani sekali kau mengataiku pantat ayam. Kau bosan hidup ya!" kata Sasuke kesal karena Sakura membawa-bawa masalah model rambutnya dalam perdebatan.
"Aku tidak takut padamu pantat ayam. Kau itu memang pantat ayam jelek. Aku ulangi lagi, KAU PANTAT AYAM JELEK!" jawab Sakura mengulangi karta-katanya.
"KAU...!" teriak Sasuke marah dan hampir menampar Sakura. Namun Sakura jauh lebih cepat menahan tangan Sasuke sebelum tangan Sasuke mendarat di pipi mulusnya.
"Jangan harap kau bisa menamparku, pantat ayam! Karena aku tak akan pernah membiarkanmu melakukannya padaku. WEEE...EEEK!" kata Sakura mengejek, dan langsung lari meninggalkan Sasuke.
"Gadis pink, kurang ajar! Aku harap aku tak akan pernah bertemu lagi denganmu." jawab Sasuke kesal dan segera memasuki mobilnya. Dan pulang ke rumah.
Seperti biasa, hari ini Sakura kembali bekerja sebagai seorang pramuniaga di Supermarket Konoha. Bagaimana pun juga dia harus rajin bekerja agar dapat segera mengumpulkan uang demi membiayai operasi sang ayah, meski itu adalah suatu hal mustahil mengingat jumlah uang untuk biaya operasi jantung itu sangat besar.
"Sakura, ada apa denganmu? Dari tadi aku perhatikan kau sering sekali melamun." tanya Ino pada Sakura, ketika dari tadi dia melihat sahabat baiknya itu tidak konsentrasi dalam bekerja.
"Aku tidak apa-apa kok. Sungguh..." jawab Sakura berbohong.
Namun Ino yang telah lama bersahabat denga Sakura segera tahu jika Sakura saat ini mempunyai masalah yang berat yang sengaja Sakura tutupi darinya.
"Jangan bohong padaku! Aku tahu, saat ini kau pasti mempunyai masalah kan? Ceritakan saja padaku. Mungkin aku bisa membantu." tawar gadis cantik dan seksi berambut pirang ini.
"Sebenarnya, aku membutuhkan uang untuk biaya operasi ayahku." kata Sakura akhirnya berterus terang.
"Jadi paman harus dioperasi? Apakah separah itu sakitnya?" tanya Ino.
"Ya, begitulah. Penyakit jantung ayahku sudah sangat parah, jadi dokter menyarankan untuk melakukan operasi. Dan biaya operasi itu sangatlah besar. Sedangkan aku tak punya uang sebanyak itu untuk membiayai operasi ayah." jawab Sakura sedih karena dia merasa sebagai seorang anak yang tak berguna.
"Kalau aku boleh tahu, berapa biaya operasi paman, Sakura?" tanya Ino.
"Biayanya sangatlah besar. Kira-kira 20 juta." jawab Sakura.
"Astaga, besar sekali! Pasti sangat sulit mengumpulkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Sebenarnya aku ingin membantu, tapi aku juga tak punya uang sebanyak itu. Maafkan aku Sakura, karena sebagai seorang sahabat aku tidak dapat banyak membantumu." kata Ino menyesal.
"Ino, kenapa kau bicara seperti itu? Bagiku, asalkan kau selalu ada disampingku dan selalu mendukungku itu lebih dari cukup. Kau adalah sahabat terbaik yang aku miliki." kata Sakura sambil tersenyum.
"Sakura..." kata Ino langsung memeluk erat tubuh Sakura hingga dia susah bernafas.
"Ino, tolong lepaskan aku! Kau itu membuatku sesak nafas tahu!"
"Ah, iya. Maaf ya Sakura, habisnya aku terharu sekali. He...he...he..." jawab innocent.
"Uh, dasar Ino pig!" kata Sakura cemburut.
"Oh, iya, aku hampir lupa. Hari ini kan aku harus bertemu manager Anko. Bagaimana aku bisa lupa ya? Sakura, aku tinggal sebentar tak apa-apa kan?" tanya Ino pada gadis pink itu.
"Iya, kau tenang saja. Sekarang cepat sana temui manager Anko! Jangan sampai kau dimarahi olehnya karena tidak segera menemuinya."
"Baiklah, aku pergi dulu ya. Sampai jumpa nanti, Sakura..." pamit Ino.
"Hm, ya." jawab Sakura singkat dan langsung melanjutkan pekerjaannya.
"Permisi..." kata Mikoto pada Sakura tiba-tiba.
"Ah, ya. Ada apa, nyonya? Ada yang bisa saya bantu? Anda membutuhkan barang apa?" tanya Sakura ramah.
"Ehm, tidak. Aku tidak mencari apapun. Aku hanya ingin bicara denganmu saja." jawab Mikoto.
"Bicara dengan saya ? Memangnya ada apa ya, nyonya?"
Mikoto sejenak menarik nafas untuk mempersiapkan diri membicarakan masalah penting yang ada dibenaknya. Masalah yang akan segera merubah hidup keluarganya, termasuk merubah kehidupan Sakura.
"Aku dengar kau membutuhkan uang untuk operasi ayahmu. Apa itu benar?" tanya Mikoto.
"Bagaimana anda bisa tahu?" tanya Sakura balik pada Mikoto.
"Tadi aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan temanmu. Jadi benar kau butuh uang?" tanya Mikoto sekali lagi.
"Ya, kira-kira begitu." jawab Sakura jujur.
"Aku bisa membantumu kalau kau mau. Dan aku bisa memberikan uang yang kau perlukan untuk operasi ayahmu. Bahkan aku bisa memberikan uang lebih banyak dari jumlah yang kau butuhkan." kata Mikoto menjelaskan.
Sakura bagaikan mendengar sebuah berita yang menakjubkan saat ini. Dia tak menyangka jika bantuan Tuhan akan datang secepat ini padanya. Bantuan yang datang lewat perantara salah satu pengunjung Supermarket dimana dia bekerja.
"Lalu apa yang harus saya lakukan sebagai imbalannya?" tanya Sakura.
Mikoto yang mendengar pertanyaan Sakura pun tersenyum senang. Dia yakin jika dalam waktu dekat keinginannya akan segera terwujud.
"Kau pernah dengar istilah Surrogancy?" tanya Mikoto yang langsung mengejutkan Sakura.
"Su...Surrogancy?"
"Ya, Surrogancy. Lakukanlah Surrogancy untuk anak dan menantuku, maka akan aku beri kau uang untuk operasi ayahmu."
TBC
Surrogancy : suatu metode reproduksi dimana seorang perempuan setuju untuk hamil, meminjamkan rahimnya untuk ditanami embrio, dan bersedia memberikan anak untuk sepasang suami-istri dengan sebuah perjanjian atau kontrak.
Balasan Review
cherrysakusasu :
He3, thanks udah bilang ceritanya menarik. Biar ga' penasaran udah aku update nich...
Nakamura Kumiko-chan :
Syukurlah bisa merasa nyaman baca fic yang aneh ini. Thanks.
Kazuma B'tomat :
He3, maklum aku author baru yang belum perpengalaman. Thanks buat sarannya. Aku akan berusaha lebih baik lagi.
4ntk4-ch4n :
Siiiaaap! Ini udah dilanjut ^_^
cherryharuno :
Hallo juga, Asuma nya lagi dinas ke luar kota. Makanya Kurenai cari gebetan baru "PLETAK !" langsung dijitak ama Asuma.
Namikaze-Tania-Chan :
Salam kenal juga, umurku sekarang 19 tahun. Bulan Maret depan 20 tahun, udah tua kan ? He3.
Thanks buat sarannya, akan aku perbaiki lagi fic aku ini.
Sekali lagi Tabita ucapkan thanks a lot buat yang
udah mau baca dan mereview fic ini.
Saran yang telah diberikan
semakin membuat
Tabita semangat lagi dalam
melanjutkan fic ini.
Akhir kata, bolehkah minta REVIEW ? ^_^
