Horeee…..eee ! Akhirnya UAS selesai juga. Jadinya Tabita bisa update fic lagi nich, ho…ho…ho…^_^

Ok, ga' usah banyak cincong lagi, lanjuuu…uuut !

Cinta 1000 Tahun

By

Tabita Pinkybunny

Disclaimer :

Sampai kapan pun bahkan sampai

kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap

punya Mr. Masashi Kishimoto

Warning :

Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.

Bahasa dan rangkaian kata kurang

begitu menarik.

Don't like, don't read !

No flame !

Summary :

Sakura awalnya hanyalah gadis biasa

yang hidup dalam

sebuah keluarga sederhana.

Namun kehidupannya berubah drastis

saat dirinya terpaksa harus melakukan

Surrogancy untuk sepasang suami-istri

yang telah lama tak memiliki anak demi

operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya

telah datang, apa yang harus dia lakukan ?

Chapter 3

"Kau pernah dengar istilah Surrogancy?" tanya Mikoto yang langsung mengejutkan Sakura.

"Su...Surrogancy?"

"Ya, Surrogancy. Lakukanlah Surrogancy untuk anak dan menantuku, maka akan aku beri kau uang untuk operasi ayahmu."

Sakura POV.

Butuh waktu yang cukup lama bagiku untuk mencerna kata-kata dari wanita paruh baya didepanku ini. Tapi sepertinya aku memang tak salah dengar. Surrogancy...wanita ini memang tadi mengatakan istilah Surrogancy padaku. Dan dia akan memberikanku sejumlah uang sebagai imbalannya asalkan aku bersedia melakukan Surrogancy untuk anak dan menantunya.

Jujur saja aku memang sangat membutuhkan uang itu untuk operasi ayah, dan aku rasa ini adalah sebuah kesempatan yang baik yang datang padaku yang mungkin tak akan lagi datang dua kali. Namun apakah harus melalui jalan melakukan Surrogancy ? Demi Tuhan aku benar-benar sangat bingung saat ini. Di satu sisi aku memang sangat membutuhkan uang itu untuk biaya operasi ayah yang harus segera dilakukan secepatnya, tapi di sisi lain untuk melakukan Surrogancy aku juga tak sanggup. Lalu, sekarang apa yang harus aku pilih ?

Normal POV.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Mikoto mebuyarkan lamunan Sakura.

"Ah, ya. Saya baik-baik saja, nyonya. Maaf tadi saya melamun." jawab Sakura sambil berusaha tersenyum.

"Lalu bagaimana? Apakah kau menyetujui tawaranku tadi untuk melakukan Surrogancy?" tanya Mikoto mengulangi tawarannya semula pada gadis cantik bermata emerald didepannya.

"Ta...Tapi, bukankah praktek Surrogancy termasuk praktek ilegal, nyonya? Itu setahu saya." tanya Sakura balik pada Mikoto.

"Ya, kau memang benar. Karena itulah aku berencana melakukannya secara diam-diam. Aku kenal beberapa orang yang bisa membantuku melancarkan rencanaku ini. Jadi itu bukanlah masalah yang berarti untukku. Saat ini aku hanya butuh seorang wanita yang subur dan mau melakukannya untukku. Setelah aku mendapatkan wanita yang aku cari, semuanya pasti akan sukses." jawab Mikoto menjelaskan semua rencananya.

"..."

"Dan sekarang apa keputusanmu? Apa kau bersedia melakukannya?" tanya Mikoto sekali lagi pada Sakura.

"I...Itu, bolehkah saya memikirnya sekali lagi?"

"Hm, begitu. Baiklah jika itu maumu. Kau boleh memikirkan matang-matang tawaranku ini sekali lagi. Dan jika kau sudah mendapatkan jawabannya, kau bisa menghubungiku di nomor yang tertera di kartu nama ini." kata Mikoto sambil menyerahkan kartu namanya pada Sakura.

"Ba...Baiklah, nyonya. Jika memang saya sudah menemukan jawaban yang tepat, saya akan segera menghubungi anda." kata Sakura menerima kartu nama itu dan menyimpannya dalam tasnya.

"Aku harap kau tidak mempertimbangkan ini terlalu lama, karena aku yakin operasi ayahmu juga tidak akan bisa menunggu lama kan?" tanya Mikoto.

"Iya, saya mengerti. Saya akan secepatnya menghubungi anda. Jadi anda jangan khawatir, nyonya." jawab Sakura meyakinkan.

"Baguslah, memang itu yang aku harapkan. Baiklah kalau begitu, aku harus segera kembali ke rumah dan aku tunggu kabar selanjutnya. Sampai jumpa..." kata Mikoto mengakhiri percakapan diantara keduanya.

"I...iya, sampai juga lagi, nyonya." jawab Sakura singkat sambil terus memandangi sosok Mikoto yang telah jauh dan menghilang diantara kerumunan pengunjung Supermarket.

Kediaman Uchiha.

"Hah...! Benar-benar hari yang melelahkan." kata Mikoto sesaat setelah memasuki kediamannya dan menghempaskan tubuh letihnya di sebuah sofa.

"Ibu sudah pulang rupanya." kata Kurenai pada mertuanya yang baru kembali dari berpergian.

"Memangnya kau tidak lihat kalau aku sudah pulang? Matamu masih berfungsi dengan baik kan?" jawab Mikoto sedikit kasar.

"Maafkan aku, bu. Maksudku tadi aku..."

"Sudahlah, jangan bicara lagi! Ibu sangat lelah hari ini. Jadi ibu sedang malas berdebat denganmu. Kenapa sepi sekali? Dimana yang lain?" tanya Mikoto karena heran melihat kediamannya yang besar dalam keadaan sepi.

"Sasuke hari ini ada janji dengan teman-temannya, sedangkan Itachi tadi menelepon kalau hari ini dia akan pulang agak terlambat karena harus rapat dengan klien dari Korea." jawab Kurenai menjelaskan.

"Begitu, baguslah. Berarti tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan kita nantinya." kata Mikoto.

"Maksud ibu apa?" tanya Kurenai tak mengerti dengan perkataan ibu mertuanya itu.

"Ada suatu hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Jadi, duduklah dulu!" perintah Mikoto.

Kurenai pun menuruti saja perintah mertuanya, Uchiha Mikoto, untuk duduk dan mendengarkan suatu hal apa yang kiranya akan dibicarakan. Namun jujur saja, saat ini ada sedikit perasaan gundah dan resah menyelimuti hatinya. Dia merasa jika kali ini dia akan benar-benar terlibat dalam masalah yang sangat besar.

"Sebenarnya hal apa yang ingin ibu bicarakan padaku? Sepertinya sangat penting?" tanya Kurenai penasaran.

Mikoto menatap wajah menantunya sejenak, sedikit menghela nafas, sebelum melanjutkan perbincangannya kembali.

"Aku sudah menemukan cara agar kau dan Itachi bisa segera mendapatkan seorang anak." kata Mikoto mengawali perbincangan penting diantara keduanya.

"Cara? Cara apa yang ibu maksud?" tanya Kurenai sekali lagi menambah rasa penasarannya.

"Surrogancy." jawab Mikoto singkat.

"Apa ibu bilang ! Surrogancy? Ma...maksud ibu, ibu menyuruhku melakukan Surrogancy. Begitu, bu?" tanya Kurenai terkejut dengan jawaban Mikoto.

"Itu adalah cara satu-satunya yang menurutku terbaik untuk saat ini. Dan aku rasa cara ini cukup efektif. Jadi mengapa kita tidak mencobanya?"

"..."

"Dengan cara alami dan biasa kita telah gagal berkali-kali. Dan aku juga sudah lelah jika harus menunggu terus menerus untuk sesuatu yang tak pasti dan tak ada hasilnya. Karena itulah..."

"Aku tidak setuju!" kata Kurenai tiba-tiba memotong ucapan Mikoto yang langsung mengejutkannya.

"Apa katamu, tadi? Kau tidak setuju? Berani sekali kau menolak usulanku !"

"Aku bilang aku tidak setuju, bu! Terserah ibu mau berkata apa, tapi yang pasti sampai kapanpun aku tak akan pernah menyetujui usulan ibu yang menurutku sangat konyol." kata Kurenai menentang keras usulan mertuanya.

"Kau...! Apa kau pikir kau punya cara yang lebih baik dari ini, hah! Kau pikir kau punya cara lain yang lebih efektif dari Surrogancy. Begitukah, Kurenai?" tanya Mikoto menghakimi.

"Itu, aku..."

Kurenai kehabisan kata-kata seketika dan tak mampu memberikan jawaban yang terbaik yang dapat memuaskan Mikoto. Jujur saja dia juga tak tahu cara apa yang akan dia gunakan untuk segera memperoleh keturunan dan membahagiakan suami serta mertuanya. Namun jika harus dengan cara melaukan Surrogancy seperti yang diusulkan ibu mertuanya, dia tentu tidak akan mau. Dia belum sanggup dan belum mampu jika harus membagi suaminya dengan wanita lain. Dia belum sanggup untuk melakukannya. Bahkan sampai kapanpun dia tak akan sanggup.

"Kenapa Kurenai? Kenapa kau tak menjawabnya? Apa perlu aku ulangi pertanyaanku tadi, hm?"

"..."

"Kau tidak bisa mengusulkan cara lain kan, Kurenai? Karena itulah kau tak bisa menjawabnya. Tepat seperti dugaanku. Kau memang menantu tak berguna." sindir Mikoto.

Kurenai POV.

DEG ! Aku bagai mendengar petir di siang bolong saat ini, tubuhku seperti terpaku di tempat hingga tak bisa aku gerakkan. Kata-kata ibu mertuaku seperti sebuah belati tajam yang menyayat dan merobek hati dan perasaanku. Dia menyebutku menantu tak berguna tadi. Dan ini, benar-benar membuatku sakit.

Aku akui aku memang belum bisa memberikannya seorang cucu seperti yang dia idamkan selama ini, yang dia harapkan bisa meramaikan suasana rumah dan menemaninya di masa tuanya kelak. Tapi mengapa dia harus menyebutku sebagai seorang menantu tak berguna ? Apakah separah dan seburuk itukah aku di matanya kini ? Demi Tuhan, ini sungguh kejam.

"Ibu aku mohon, jangan sebut aku seperti itu." kataku akhirnya berusaha membela harga diriku.

"Kenapa memang? Apa kau merasa tersendir, Kurenai?" tanya ibu mertuaku itu balik padaku.

"Aku tahu bu, aku memang belum bisa memberi ibu cucu sampai saat ini. Tapi ibu tak berhak menyebutku sebagai seorang menantu tak berguna. Setidaknya, ibu hargai perasaanku sebagai istri Itachi." jawabku akhirnya, walaupun aku sendiri tahu ini terkesan sangat lancang.

"Kau bilang apa tadi? Hargai perasaanmu? Kau menyuruhku menghargai perasaanmu. Ahahahaha...Apa kau sedang bercanda denganku?" kata ibu mertuaku yang kini justru mentertawaiku karena ucapanku tadi.

"Ibu, aku..." kataku berusaha menjawab. Namun lidahku terasa kelu seketika, hingga aku tak mampu lagi berkata apapun. Dan yang bisa aku perbuat hanyalah diam seribu bahasa meski ibu mertuaku terus merendahkan martabat dan harga diriku. Sepertinya ucapannya kali ini benar. Aku memang tak berguna.

Normal POV.

"Memangnya kurang apa aku ini, Kurenai? Selama ini aku sudah cukup baik dan menghargai dirimu sebagai menantuku. Bahkan meskipun sampai saat ini kau belum memberiku seorang cucu sekalipun, aku tetap bersabar padamu dan menerimamu dengan baik di rumah ini. Dan ini semua aku lakukan demi Itachi. Jadi kenapa bisa kau berkata jika aku tak menghargaimu? Sungguh keterlaluan!" kata Mikoto panjang lebar menyudutkan Kurenai.

"Maafkan aku, bu." jawab Kurenai menyesal.

"Sekarang bagaimana? Kau sudah bisa merubah pikiranmu mengenai rencanaku tadi, Kurenai?" tanya Mikoto.

"Entahlah, bu. Aku tak tahu. Jujur, aku belum sanggup jika harus berbagai Itachi dengan wanita lain." jawab Kurenai sambil menunduk menatap lantai marmer kediamannya.

"Aku tak pernah menyuruhmu untuk berbagai Itachi dengan wanita lain." kata Mikoto.

"Ma...Maksud ibu?"

"Kita hanya akan menyewa rahim wanita itu untuk ditanami sperma Itachi, mengandung dan melahirkan anak untuk kalian berdua. Selebihnya wanita itu tak akan terikat apapun dengan Itachi dan keluarga kita. Jadi, Itachi tetap milikmu seutuhnya." jelas Mikoto panjang lebar.

"Tapi bagaimana jika Itachi menolak usul ini, bu? Ibu tahu sendiri bagaimana karakteristik Itachi kan?"

"Karena itulah Itachi jangan sampai mengetahui tentang masalah Surrogancy ini. Ini hanya akan menjadi rahasia kita berdua saja. Dan tugasmu hanya bekerjasama dengan baik saja denganku. Bagaimana, Kurenai?"

"..." Kurenai masih diam dan tak berkomentar apapun. Sesungguhnya hingga detik ini pun dia masih bingung antara harus setuju atau tidak dengan cara Surrogancy itu.

"Dengar Kurenai, jika kau setuju dengan cara ini, tentu kau juga kan yang mendapatkan keuntungan?" kata Mikoto berusaha membujuk menantunya.

"..."

"Itachi pasti akan semakin mencintaimu dan semakin menghargaimu sebagai istrinya. Lagipula jika ada seorang anak diantara kalian, tentunya rumah tangga kalian berdua akan semakin bahagia. Benar kan?"

"Tapi bu, bagaimana jika kelak Itachi mengetahui rahasia ini? Apa yang nantinya harus aku katakan padanya?" tanya Kurenai.

"Kau jangan khawatir soal itu. Aku pastikan sampai mati pun dia tidak akan mengetahui mengenai rahasia ini. Biar aku yang mengaturnya nanti. Jadi kau tak perlu cemas."

"Baiklah jika memang begitu. Aku rasa aku memang tak punya pilihan lain lagi."

"Jadi, apa keputusanmu?" tanya Mikoto.

"Aku..."

"..."

"Baiklah, aku setuju." kata Kurenai akhirnya.

Sakura berjalan menyusuri kawasan pertokoan Tokyo sendirian di waktu menjelang malam. Dia baru saja selesai berkunjung dari rumah sahabat baiknya, Yamanaka Ino, yang hari ini tak masuk kerja dikarena sakit. Kaki jenjang bersepatu high heelsnya masih menapaki setiap jalan pertokoan yang bisa dibilang sepi di waktu seperti ini. Sebenarnya dia tadi mendapatkan tawaran dari Sai, pacar Ino, untuk mengantarkannya pulang agar Sakura tak sendirian melintasi kawasan pertokoan Tokyo yang terbilang cukup rawan akan tindakan kriminal itu. Namun dengan alasan tak mau merepotkan, Sakura pun menolak tawaran itu dan memilih untuk pulang sendiri.

Dan baru setengah perjalan gadis pink ini menyusuri kawasan pertokoan itu, tiba-tiba langkahnya dihentikan oleh dua orang preman bertubuh besar dan bertampang mengerikan yang sepertinya dalam keadaan mabuk berat.

Sakura POV.

Aku baru saja pulang dari rumah sahabatku, Ino, yang hari ini tak masuk kerja dikarenakan sakit. Sebenarnya niatku tadi aku tak ingin pulang malam agar lebih aman dalam perjalanan pulang, namun karena keasyikan mengobrol dengan si cerewet Ino dan pacarnya, Sai, aku jadi lupa waktu dan terpaksa harus pulang jam segini. Dasar.

Tapi sepertinya nasib baik sedang tak berpihak padaku saat ini. Baru setengah perjalanan aku menyusuri kawasan pertokoan ini, tiba-tiba langkahku dihentikan oleh dua orang preman yang mengerikan yang sepertinya sedang dalam keadaan mabuk. Benar-benar sial. Seandainya saja aku tahu hal ini akan menimpaku sekarang, tentunya aku akan dengan senang hati menerima tawaran Sai untuk mengantarkanku pulang sampai ke rumah dan tak harus mengalami hal buruk semacam ini. Namun tepat seperti kata orang yang sudah-sudah...Waktu itu tak bisa diputar kembali seperti semula.

"Hai gadis pink, sedang apa kau malam-malam disini, hm?" tanya salah seorang preman yang bertampang mengerikan itu padaku.

"Mau apa kalian? Cepat minggir! Aku tak ada waktu meladeni kalian." kataku memberanikan diri, meskipun sebenarnya aku takut setengah mati.

"Kau ini galak sekali sich. Jangan galak-galak begitu donk, sayang. Lebih baik kita senang-senang saja. Kebetulan kami juga sedang bosan nich. He...he...he..." kata preman yang satunya lagi yang jauh lebih mengerikan padaku sambil memberikan cengirannya yang tak ingin aku lihat.

"Aku bilang kalian minggir ! Jangan halangi jalanku ! Percuma saja jika kalian meminta uang padaku. Karena aku tak punya uang sama sekali untuk diberikan pada kalian. Jadi biarkan aku lewat." kataku sekali lagi berusaha melawan mereka.

Normal POV.

"Kalau tak punya uang tak masalah bagi kami. Pakai saja tubuh indahmu itu sebgai gantinya. Kami juga tak keberatan kok menerimanya. Benar kan, J? tanya preman itu pada temannya yang diketahui bernama J (?)

"Benar sekali, Takeshi. Bahkan sepertinya tubuh gadis ini lebih menggiurkan dari uang. Aku jadi tidak sabar untuk segera mencicipinya." jawab preman yang bernama Takeshi.

"Jangan kurang ajar kalian! Aku bisa saja teriak dan memanggil orang-orang sekitar untuk mengeroyok kalian berdua. Jadi sebaiknya kalian berdua cepat minggir dari sini." kata Sakura.

"Teriak? Ahahahaha...Kau bilang kau mau teriak? Jika kau memang mau teriak, teriak saja. Tapi aku jamin tak akan ada yang mendengar teriakkanmu itu pinky. Kawasan ini jauh dari pemukiman penduduk. Jadi walaupun kau teriak hingga pita suaramu putus sekalipun, tetap tidak akan ada yang datang menolongmu."

"Yap, itu benar. Jadi jangan lagi membuang waktu, sayang. Mari kita mulai bersenang-senang. Kita mulai dari mana ya? Ahahahaha..." kata preman yang bernama J sambil tertawa mengerikan.

"Jangan harap kalian berdua bisa melakukan itu padaku. Aku tak akan sudi dengan preman tengik macam kalian!" kata Sakura dan berusaha melarikan diri dari hadapan kedua preman itu. Tapi sayang, kedua preman itu jauh lebih cepat menangkapnya, sehingga kini Sakura sudah berada dicengkraman keduanya.

"Lepaskan aku, brengsek! Lepaskan!" kata Sakura berusaha berontak.

"Ssts! Tenanglah sayang, jangan takut begitu. Kami janji tak akan menyakitimu. Kita bermain satu ronde saja." kata preman yang bernama Takeshi sambil memegangi Sakura dan berusaha merebahkan tubuh Sakura di jalan pertokoan.

"Tidak, aku mohon. Jangan lakukan itu padaku! Aku mohon...Hik..hiks…"

"Sudahlah, Takeshi. Jangan pake basa-basi lagi! Langsung saja buka pakaiannya, dan kita bereskan segera gadis pink ini." perintah preman bernama J.

"Baiklah, kalau begitu. Kita mulai saja langsung permainan kita. Aku juga sudah tak sabar." jawab Takeshi dan berusaha membuka kancing baju yang dikenakan Sakura.

"Tidak! Aku mohon. Jangan!" teriak Sakura masih berusaha berontak dan mempertahankan mahkotanya.

Sakura masih berusaha berontak dan berusaha melepaskan diri dari kedua preman itu. Namun seberapa besar tenaga yang dia kerahkan, itu tetap percuma. Tenaganya tak sebanding dengan kekuatan kedua preman itu. Dan yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah menutup mata, pasrah, dan berdoa agar sebuah keajaiban segera terjadi dan membebaskannya dari hal buruk ini.

Dan ketika dia mulai kehilangan tenaganya untuk berteriak dan berontak, tiba-tiba sayup-sayup terdengar oleh indera pendengaranya suara teriakan dan kesakitan dari dua orang pria yang mencoba memperkosanya tadi. Karena penasaran, Sakura pun memberanikan diri membuka mata dan melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Dihadapannya kini berdiri seorang pemuda berambut raven dengan mata onyx yang sepertinya pernah dilihat oleh Sakura sebelumnya.

"Kalian berdua preman tengik yang menggelikan. Beraninya hanya dengan seorang gadis saja. Benar-benar payah!" kata Sasuke mengejek kedua preman yang kini tengah mengerang kesakitan akibat pukulannya.

"Siapa kau? Berani sekali kau mencampuri urusan kami. Kau bosan hidup!"

"Cih, menyebalkan! Seharusnya kalianlah yang harus pergi dari sini. Kalian tahu, aku bisa saja meremukkan tulang-tulang kalian jika aku mau. Jadi sebaiknya, kalian segera enyah dari hadapanku." kata Sasuke dingin.

"Hei, bocah! Memangnya kau pikir kau ini siapa, hah! Berani menghertak kami seperti itu. Lagipula ada hubungan apa kau dengan gadis pink ini? Sehingga kau ikut campur dan mengganggu kesenangan kami."

Sasuke yang mendengar pertanyaan salah seorang preman itu pun sekilas melirik Sakura yang kini tengah meringkuk ketakutan, sebelum melanjutkan perkataannya dan menjawab pertanyaan preman itu.

"Hubunganku dengan gadis pink ini adalah...dia...adalah kekasihku." jawab Sasuke tenang yang langsung mengejutkan Sakura.

"Apa kau bilang? Jangan sembarangan ya! Aku ini bukan..." kata Sakura berusaha menyangkal pernyataan Sasuke, tapi dengan cepat Sasuke langsung memberinya tatapan tajam agar dia tak melanjutkan perkataannya dan menyuruh Sakura untuk diam mengikuti 'permainan' bungsu Uchiha itu.

"Hei, bocah! Jangan coba-coba membohongi kami ya! Mana mungkin gadis ini kekasihmu. Jika pun itu benar, kenapa kau membiarkannya pulang sendiri? Kenapa kau tidak menemaninya? Dasar kau ini bocah tengik! Kau itu tak bisa menipu kami." kata salah seorang preman itu.

"Itu bukan urusan kalian keledai bodoh! Yang aku inginkan adalah sekarang juga kalian berdua minggir dari hadapanku. Karena aku sudah muak dengan kalian berdua." jawab Sasuke.

"Lalu bagaimana jika kami tak mau, hah! Apa yang akan kau lakukan bocah tengik?" tanya preman yang bernama Takeshi.

Sasuke diam sejenak dan mulai berpikir. Dan tak beberapa lama, dia pun tersenyum penuh arti karena barusan saja dia mendapat sebuah ide cemerlang untuk membodohi kedua preman itu.

"Kalian berdua pernah mendengar tentang Black Devil?" tanya Sasuke yang mengejutkan kedua preman itu.

"Black...Black Devil! Maksudmu kelompok yakuza yang terkenal sangat kejam itu?"

"Ya, kurang lebih begitu." jawab Sasuke singkat sambil tangannya memainkan kunci mobilnya santai.

"Memangnya apa hubunganmu dengan kelompok yakuza itu?" tanya preman bernama J.

"Hn, apa ya? Mungkin bisa dibilang aku adalah 'anak emas' mereka."

"APA! KAU ANAK EMAS MEREKA!" teriak kedua preman itu bersamaan.

"Dan kalian tahu, apa yang akan terjadi pada kalian berdua jika mereka tahu kalian sudah berani mengganggu kekasihku? Bayangkan saja sendiri. Karena aku tak sanggup mengatakannya." kata Sasuke sambil memperlihatkan wajah sehoror mungkin.

"Maafkan kami, tuan muda. Kami benar-benar tak tahu jika ternyata tuan ini adalah anggota Black Devil yang terkenal itu. Kami sudah lancang pada tuan dan kekasih tuan. Sekali lagi, maafkanlah kami."

"Baiklah, akan aku maafkan kalian berdua. Tapi kalian berdua cepat pergi dari sini!"

"Ba…..baik, kami akan pergi sekarang juga. Kami akan pergi." kata preman yang bernama J dan langsung melarikan diri bersama temannya dari hadapan Sasuke yang kini tersenyum penuh kemenangan.

"Cih! Dasar preman kampung tolol!" kata Sasuke yang kini berjalan mendekati Sakura dan ingin melihat keadaan gadis pink itu.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke pada Sakura. Namun Sakura hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan Sasuke.

"Kau tidak apa-apa kan?" tanya Sasuke sekali lagi pada gadis itu. Tapi nihil, tetap tidak ada jawaban dari bibir Sakura. Hingga akhirnya...

"HEI PINKY, KAU TIDAK APA-APA KAN!" teriak Sasuke innocent.

"IYA, AKU TIDAK APA-APA! Tanpa berteriak seperti itu bisa kan? Dasar!" jawab Sakura kesal.

"Siapa suruh tidak menjawab pertanyaanku? Makanya aku teriak saja. Cepat berdiri! Mau sampai kapan kau mau meringkuk disini terus, hah!"

"Aku juga mau berdiri kok, tanpa harus kau suruh. Dan satu lagi...jangan lagi panggil aku pinky! Aku itu punya nama. Namaku Sakura, Haruno Sakura. Ingat itu pantat ayam!" kata Sakura bangkit dari duduknya, dan membersihkan pakaiannya yang penuh dengan debu dan kotoran.

"Aku juga punya nama, bodoh! Namaku Uchiha Sasuke. Jadi berhentilah memanggilku dengan pantat ayam! Kau ini, bukannya berterima kasih karena sudah aku tolong, malah justru mengataiku pantat ayam." kata Sasuke tak mau kalah.

"Siapa juga yang ingin ditolong oleh yakuza sepertimu? Kau itu sama saja dengan kedua preman tadi. Kalian sama-sama penjahat."

"Yakuza? Siapa maksudmu? Aku?" tanya Sasuke tak mengerti.

"Tentu saja. Memangnya siapa lagi? Bukannya tadi kau bilang kau kenal dengan kelompok yakuza bernama Black Devil?"

"O, itu maksudmu. Aku tidak kenal dengan mereka. Aku hanya pernah mendengar nama mereka saja. Tapi sebenarnya aku sama sekali tidak kenal dengan mereka." jawab Sasuke.

"Lalu kenapa kedua preman itu lari saat kau bilang kau kenal dengan kelompok yakuza itu?"

"Itu karena mereka bodoh. Salah sendiri kenapa mereka percaya dengan omonganku. Sudahlah, jangan bahas masalah ini lagi. Aku antar kau pulang." kata Sasuke sambil berjalan menuju mobil Lamborgininya yang dia parkir tak jauh dari kawasan pertokoan itu.

"A...Apa? Kau bilang apa tadi?" tanya Sakura sedikit terkejut dengan ajakan Sasuke.

"Aku rasa telingamu masih normal kan? Jadi aku tak perlu mengulangi perkataanku tadi. Kecuali, jika memang telingamu itu bermasalah. Aku mungkin bisa mengantarmu ke THT." kata Sasuke innocent yang membuat Sakura langsung cemberut.

Skip Time.

Mobil Lamborgini hitam melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya Tokyo. Didalamnya ada seorang gadis pink dan seorang pemuda tampan berambut raven yang sedari tadi diam seribu bahasa tanpa ada yang mau memulai percakapan diantara keduanya. Dan karena mulai merasa jenuh dengan keadaan seperti ini, Sakura pun memutuskan untuk memulai percakapan.

"Ano, pan...eh, maksudku Sasuke, sebenarnya..."

"Apa kau suka ice cream?" tanya Sasuke memotong ucapan Sakura.

"Ice cream?"

"Hn, kau suka tidak?"

"Y...Ya, aku suka. Tapi..."

"Baiklah, kita makan ice cream dulu. Setelah itu baru aku antar kau pulang." kata Sasuke yang lagi-lagi memotong ucapan Sakura yang kini sangat kesal karena dari tadi ucapannya terus dipotong. Dasar.

Sakura POV.

Sekarang aku sedang berada di sebuah kedai ice cream yang bisa dibilang cukup terkenal. Sebenarnya tak begitu aneh jika aku pergi ke kedai ini malam hari begini sendirian saja. Tapi yang membuat aneh adalah, karena aku datang ke kedai ini bersama seorang pemuda. Seorang pemuda yang menyebalkan yang baru saja aku kenal karena dia baru saja menyelamatkanku dari dua orang preman yang menggangguku.

"Ice cream disini sangat enak. Makanya kau harus mencobanya, pinky." terang Sasuke sambil memasukkan sesendok ice cream vanilla ke dalam mulutnya. Aku yang mendengar keterangannya hanya ber'oh' ria saja.

"Sebenarnya kau tak perlu mentraktirku seperti ini, Sasuke. Aku sudah banyak merepotkanmu." kataku karena merasa tak enak sudah banyak merepotkannya hari ini.

"Hn, tidak. Aku tidak merasa direpotkan. Aku sendiri yang ingin mengajakmu kemari. Atau mungkin, kau sendiri yang merasa tak nyaman pergi denganku?" tanya pemuda bermata onyx yang aku rasa memang...err...tampan itu padaku.

"Maksudmu?" tanyaku tak mengerti.

"Mungkin sebenarnya kau ada urusan lain? Dengan kekasihmu mungkin?" tanyanya lagi yang membuatku langsung blushing. Demi Tuhanku, kenapa aku jadi salah tingkah begini dihadapan Sasuke. Atau jangan-jangan aku sudah mulai...

Normal POV.

"Kekasih?" tanya Sakura mengulangi pertanyaan Sasuke.

"Hn." jawab Sasuke singkat seperti biasanya.

"A...Aku belum punya kekasih." kata Sakura malu-malu sambil mengaduk-mengaduk ice cream strawberry dihadapannya untuk menutupi kegugupannya.

"Belum punya kekasih? Hn, pantas kalau begitu. Aku tak heran." kata Sasuke mengejek.

Dueng ! Sakura pun langsung sweatdroped di tempat setelah mendengar perkataan Sasuke. Sekarang Sakura baru benar-benar sadar jika Sasuke itu sungguh menyebalkan. Percuma saja dia tadi bersikap santun pada bungsu Uchiha itu.

"APA KAU BILANG! Jadi maksudmu aku ini tidak pantas memiliki seorang kekasih ya? Begitu maksudmu, hah!" kata Sakura sedikit emosi.

"Tidak, bukan begitu. Aku tadi..." Sasuke tiba-tiba memotong ucapannya dan memandang wajah Sakura. Dia pun secara mendadak mendekati gadis cantik itu, sehingga membuat Sakura terkejut.

"Eh, kau mau apa? Apa yang mau kau lakukan? Jangan berani macam-macam ya!" kata Sakura berusaha menghindar. Namun Sasuke tak menghiraukan ucapan Sakura, dan justru semakin mendekatinya. Semakin dekat dan semakin dekat. Hingga jarak diantara keduanya hanya tinggal beberapa inci saja. Jantung Sakura bagai berhenti seketika itu juga. Dan tanpa aba-aba, Sasuke langsung mengusap lembut bibir Sakura dengan jemarinya, dan kemudian menjilat jemarinya sendiri.

"Kyaaa...aaa! Apa yang kau lakukan, hah! Dasar mesum!" teriak Sakura tak jelas karena gugup.

"Manis." kata Sasuke masih menjilat jemarinya yang dia gunakan untuk mengusap bibir Sakura tadi.

"A...Apa? Apa maksudmu dengan manis?" tanya Sakura tak mengerti.

"Tadi ada sisa ice cream menempel di bibirmu. Jadi aku bantu bersihkan. Kenapa? Kau keberatan?"

"Bukannya begitu, hanya saja..." kata-kata Sakura terpotong, karena tiba-tiba handphonenya berdering. Dan ternyata itu telepon dari adik perempuannya, Haruno Himawari.

"Moshi...moshi, ada apa Hima? Apa ada masalah?" tanya Sakura.

"Segeralah ke rumah sakit, kak. Keadaan ayah kritis." jawab Himawari dari seberang telepon.

"A...Apa! Ayah..." kata Sakura bergetar dan langsung menutup sambungan teleponnya.

"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Sasuke penasaran karena melihat raut wajah Sakura yang tiba-tiba berubah tegang.

"Tidak ada apa-apa. Tapi maaf, aku harus segera pergi. Terima kasih untuk semuanya. Permisi..." jawab Sakura sekenanya dan langsung berlalu meninggalkan Sasuke yang kini tengah menatapnya heran.

"Gadis aneh. Tapi cukup menarik." kata Sasuke tersenyum penuh arti.

Kediaman Uchiha.

Mikoto sedang membaca majalah sambil menikmati hangatnya teh hijau di ruang keluarga kediamannya, saat tiba-tiba telepon rumahnya berdering mengganggu acara santai rianya.

"Moshi...moshi, kediaman Uchiha disini. Aku bicara dengan siapa ini?" tanya Mikoto.

"Maaf, apa saya bisa bicara dengan nyonya Uchiha Mikoto?" tanya Sakura.

"Hm, ya. Ini aku. Siapa ini?"

"Nyonya Mikoto, sa...saya Haruno Sakura."

Mikoto yang mendengar nama Sakura disebut pun diam sejenak. Untuk kemudian menarik nafas dan melanjutkan percakapannya.

"Ya, lanjutkan. Katakan apa tujuanmu?"

"Saya rasa saya..."

"..."

"Saya setuju untuk melakukan Surrogancy itu."

TBC

Yeah ! Akhirnya chapter 3 selesai juga. Dan maaf kalau terlalu panjang hingga membuat reader semua bosan membacanya. Tapi Tabita hanya ingin berusaha memberikan yang terbaik saja untuk reader semua ^_^

Balasan Review

Namikaze-Tania-Chan :

Thankz udah mau review lagi. Manggil aku apa aja juga boleh kok. He3...

CherryBlossom Sasuke :

Tenang aja, SasuSaku pasti bersatu kok. Tapi sabar ya...

Nakamura Kumiko-chan :

Kejadian seru di luar dugaan pasti nanti akan muncul. Tunggu aja tanggal mainnya...^_^

Renmi3 novanta :

Salam kenal juga, thankz udah review dan thankz buat kasih semangatnya.

4ntk4-ch4n :

Siap ! Aku akan tetap semangat. He3...

Thankz buat dukungannya.

Lilyna Sky Pea :

Biar ga' penasaran lagi, aku update nich ^_^

Dengan tidak mengurangi rasa hormat,

bolehkah Tabita minta review

sekali lagi ?