Cinta 1000 Tahun
By
Tabita Pinkybunny
Disclaimer :
Sampai kapan pun bahkan sampai
kucing bisa ngomong sekali pun, Naruto tetap
punya Mr. Masashi Kishimoto
Warning :
Cerita GaJe, typo, ancur, dan berantakan.
Bahasa dan rangkaian kata kurang
begitu menarik.
Don't like, don't read !
No flame !
Summary :
Sakura awalnya hanyalah gadis biasa
yang hidup dalam
sebuah keluarga sederhana.
Namun kehidupannya berubah drastis
saat dirinya terpaksa harus melakukan
Surrogancy untuk sepasang suami-istri
yang telah lama tak memiliki anak demi
operasi sang ayah. Dan ketika cinta sejatinya
telah datang, apa yang harus dia lakukan ?
Chapter 4
"Maaf, apa saya bisa bicara dengan nyonya Uchiha Mikoto?" tanya Sakura.
"Hm, ya. Ini aku. Siapa ini?"
"Nyonya Mikoto, sa...saya Haruno Sakura."
Mikoto yang mendengar nama Sakura disebut pun diam sejenak. Untuk kemudian menarik nafas dan melanjutkan percakapannya.
"Ya, lanjutkan. Katakan apa tujuanmu?"
"Saya rasa saya..."
"..."
"Saya setuju untuk melakukan Surrogancy itu."
Mikoto tersenyum penuh arti mendengar pernyataan Sakura itu. Akhirnya rencana yang dia susun sedemikian rupa demi mendapatkan seorang cucu, tinggal beberapa langkah lagi akan membuahkan hasil. Dan sebentar lagi kediaman keluarganya yang besar ini akan segera diramaikan oleh tangis, tawa, dan keceriaan dari seorang anak. Menurutnya ini adalah sebuah jawaban dari kesabaran dan penderitaannya selama ini. Sebuah jawaban dari Tuhan yang tentunya tak akan Mikoto sia-siakan.
"Apa kau sudah benar-benar yakin akan keputusanmu itu?" tanya Mikoto pada Sakura dari seberang telepon untuk meyakinkan gadis itu kalau nantinya dia tak akan berubah pikiran.
"Ya, nyonya. Saya yakin sekali dengan keputusan yang saya ambil ini." jawab Sakura mantap.
"Dan kau tak akan pernah berubah pikiran nantinya?"
"Saya tak akan pernah berubah pikiran. Dan saya jamin itu, nyonya. Percayalah pada saya."
"Baguslah jika memang begitu. Aku sudah menduga sebelumnya, jika kau pasti akan segera menghubungiku. Dan ternyata dugaanku tak meleset." kata Mikoto sambil tersenyum di seberang telepon.
"Tapi maaf nyonya, kira-kira kapan saya bisa menerima uang imbalan untuk Surrogancy itu. Sebab ayah saya harus segera dioperasi dan tak bisa ditunda lagi. Jadi saya..."
"Jangan khawatir, uang itu akan segera kau terima setelah kau melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan sperma putraku sudah berhasil ditanam dalam rahimmu. Dan karena itulah, besok aku harap kau datang ke rumah sakit Konoha untuk menjalani pemeriksaan kandungan pada pukul sembilan pagi. Aku, putraku, dan menantuku juga akan ke sana. Dan untuk selanjutnya, kita atur besok. Bagaimana?" tanya Mikoto setelah memberikan penjelasannya pada Sakura.
"Baiklah, nyonya. Besok saya akan datang ke rumah sakit Konoha untuk menjalani pemeriksaan itu sesuai dengan perintah anda. Kalau begitu sampai jumpa besok, nyonya." kata Sakura.
"Ya, sampai jumpa besok."
Seorang wanita cantik berambut hitam agak bergelombang, tengah sibuk menyiapkan beberapa masakan di dapur kediamannya. Dia, Uchiha Kurenai, kini tengah sibuk menyiapkan sup tomat spesial kesukaan suami dan juga adik iparnya tercinta. Kurenai masih saja berkutat dengan pekerjaan saat tiba-tiba mertuanya, Uchiha Mikoto, menghentikan acara masak-memasaknya untuk menyampaikan sebuah berita yang akan segera merubah kehidupannya.
"Kurenai, aku punya berita bagus untukmu. Ehm, bahkan menurutku ini berita yang bagus untuk keluarga kita." kata Mikoto bersemangat.
"Benarkah, bu. Berita apa itu?" tanya Kurenai bersiap mendengarkan sambil dirinya sibuk mengambil beberapa piring untuk persiapan makan malam.
"Kita bisa melakukan Surrogancy besok pagi."
PYAAA...AAARRR ! Suara beberapa piring jatuh ke lantai terdengar begitu keras menggema di dapur. Kurenai sangat terkejut setelah mendengar berita yang disampaikan ibu mertuanya, sehingga tangannya bergetar hebat dan menyebabkan piring-piring dalam pegangan tangannya pun jatuh seketika membentur lantai keramik. Dan ini membuat Mikoto sedikit heran dengan tindakan ceroboh yang tiba-tiba dilakukan oleh menantunya, yang sepertinya tadi baik-baik saja sebelum mendengar berita darinya.
"Kau kenapa? Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba piring-piring itu bisa jatuh?" tanya Mikoto pada Kurenai yang kini berjongkok dan tengah memunguti pecahan piring yang berserakan di lantai dapur.
"Ah, ti...tidak apa-apa, bu. Aku hanya terkejut saja tadi. Maafkan aku karena memecahkan piring-piring ini. Tapi ibu jangan khawatir, akan segera aku bereskan semua kekacauan ini." jawab Kurenai masih berusaha memunguti pecahan piring yang berserakan dengan tangannya.
"Hah! Kau ini. Kau memang ceroboh, Kurenai. Ya sudah, segera bereskan semua ini. Jangan sampai Itachi dan Sasuke pulang harus melihat semua kekacauan ini."
"Iya, bu. Semuanya pasti akan beres sebelum mereka pulang. Aku akan-aauuww...!" teriak Kurenai saat sebuah pecahan piring menggores dan melukai jarinya yang segera mengeluarkan darah.
"Sekarang apa lagi, hah! Ya Tuhan Kurenai, kau ini memang tidak pernah benar dalam bekerja. Kalau begini jadinya, bagaimana kelak jika kau dan Itachi mempunyai anak? Dasar!" kata Mikoto sedikit kesal.
"Maafkan aku, bu. Aku..."
"Sudahlah, jangan bicara apapun lagi! Sekarang segera bereskan pecahan piring itu dan obati lukamu. Dan jangan lupa Kurenai, besok kau dan Itachi ikut ibu ke rumah sakit Konoha untuk melakukan pemeriksaan kandungan seperti biasa. Besok kita butuh sperma Itachi untuk segera ditanam ke rahim gadis itu. Dan tugasmu lah agar bisa membujuk Itachi untuk melakukan pemeriksaan itu dan memberikan spermanya. Kau paham?"
"I...Iya, bu. Aku paham. Nanti akan aku usahakan agar Itachi bersedia menjalani pemeriksaan itu." jawab Kurenai.
Kurenai kini sedang berdiri sambil menatap suasana taman di malam hari dari balik jendela kamarnya. Tak ada yang bisa dilihat oleh indera penglihatannya sekarang. Semuanya terlihat begitu gelap malam ini. Segelap hati dan perasaannya yang galau setelah mendengar sebuah berita dari mertuanya tadi sebelum jam makan malam.
Kurenai POV.
Malam ini adalah malam yang terasa paling gelap dan paling menyedihkan seumur hidupku. Tadi, tepatnya sebelum jam makan malam, ibu mertuaku telah menyampaikan sebuah berita yang sangat mengejutkan bagiku yang akan segera mengubah kehidupanku untuk selanjutnya.
Gadis yang sebelumnya diminta untuk melakukan Surrogancy dan meminjamkan rahimnya untuk ditanami sperma suamiku ternyata telah setuju untuk melakukan sistem reproduksi itu. Padahal awalnya aku kira gadis itu tak akan pernah setuju dan akan menolak cara gila tersebut. Tapi kenyataannya dugaanku salah. Dengan dalih untuk operasi sang ayah, gadis yang aku tak kenal bahkan belum aku lihat sama sekali itu rela melakukan Surrogancy dan mengorbankan harga diri serta masa depannya yang pasti masih sangat panjang. Tapi sepertinya masalah uang memang adalah sesuatu yang tak bisa dihindari di dunia ini. Dan mungkin alasan inilah yang mendorong gadis asing itu mau melakukan Surrogancy. Aku sangat yakin.
"Kau belum tidur, hm?" tanya suamiku mengagetkanku sambil memeluk tubuhku dari belakang. Dan kurasakan pelukannya begitu erat hingga bahkan aku bisa mendengar deru nafasnya yang begitu menenangkan jiwa.
"Aku belum mengantuk, sayang. Kalau kau lelah, tidurlah lebih dahulu." jawabku masih merasakan dekapannya.
"Aku tak akan tidur, jika istriku yang cantik ini belum tidur." kata Itachi singkat, namun cukup membuat hatiku damai.
Aku kini membalik tubuhku agar aku bisa menatap wajah suamiku secara langsung dengan mataku. Wajah tampan dan mempesona yang selalu bisa memikat hati wanita-wanita di luar sana. Dan aku beruntung karena akulah yang akhirnya berhasil memenangkan hatinya. Hati seorang Uchiha Itachi.
"Itachi..."
"Hn." jawabnya singkat seperti pria-pria Uchiha yang lain, termasuk adik iparku.
"Apa kau mencintaiku?" tanyaku tiba-tiba yang mengejutkannya.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu? Apa telah terjadi sesuatu, Kurenai?"
Normal POV.
Kurenai yang mendengar pertanyaan dari Itachi pun hanya diam saja tanpa ada keinginan dari dirinya untuk menjawab atau menyangkal pertanyaan itu.
"Kurenai, aku tanya sekali lagi padamu. Apa ada yang terjadi selama aku tidak di rumah?" tanya Itachi.
"..."
"Kurenai..."
"Tidak. Tidak ada yang terjadi. Aku hanya ingin tahu saja persaanmu padamu saat ini, Itachi. Apa masih sama seperti dulu atau sudah berubah." kata Kurenai sambil menunduk tak berani menatap mata onyx suaminya langsung.
"Dengar Kurenai, sampai kapanpun rasa cintaku padamu tak akan pernah berubah. Bahkan sampai aku mati pun rasa cintaku padamu tetap sama, tak akan berkurang sama sekali. Aku bersumpah."
"Terima kasih, sayang. Aku percaya padamu." kata Kurenai sambil tersenyum.
"Tapi apa benar tidak ada yang terjadi?"
"Tidak ada. Hanya saja..."
"Hanya saja apa?"
"Apa bisa kau menjalani pemeriksaan dan memberikan spermamu besok pagi di rumah sakit Konoha?" tanya Kurenai balik.
"Apa kau bilang! Sebenarnya untuk apa semua itu? Apa ibu yang menyuruhmu untuk melakukan semua ini?"
"Bukan ibu yang menyuruhku. Ini adalah kemauanku sendiri. Dan aku yakin kali ini pasti akan berhasil. Percayalah, sayang. Kau mau melakukannya kan?"
"Entahlah, aku..."
"Aku mohon, Itachi. Untuk kali ini saja. Aku mohon padamu, hik...hiks..." kata Kurenai memohon yang akhirnya air matanya pun pecah.
"Kurenai..." kata Itachi yang langsung menarik tubuh istrinya dalam dekapannya. Agar sang istri kembali tenang dan tangisnya segera reda.
"Hik...hiks...Itachi, aku mohon."
"..."
"Itachi..."
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Akan aku lakukan pemeriksaan itu besok. Ini aku lakukan demi dirimu, Kurenai. Karena aku sangat mencintaimu."
"Terima kasih, Itachi. Aku yakin kau pasti akan bersedia melakukannya untukku."
Sakura saat ini tengah ada di depan ruang pemeriksaan kandungan di rumah sakit Konoha. Hari ini, tepatnya pagi ini, dia akan segera bertemu dengan Uchiha Mikoto. Seorang wanita yang menjanjikan sejumlah uang untuk operasi sang ayah, dengan imbalan dia harus melakukan Surrogancy. Dan itu adalah tujuannya hari ini datang ke rumah sakit Konoha. Untuk melakukan Surrogancy.
"Haruno Sakura?" tanya seorang wanita berambut hitam pendek pada gadis pink itu.
"Ah, i...iya. Saya Haruno Sakura. Anda ini siapa ya?"
"Perkenalkan, aku Hiroshi Naomi. Aku adalah orang yang disuruh oleh nyonya Uchiha Mikoto untuk menemanimu menjalani pemeriksaan kandungan dan menunggu proses penanaman sperma milik putra nyonya Mikoto di rahimmu." jelas wanita muda yang bernama Naomi itu.
"Tapi kenapa bukan nyonya Uchiha sendiri yang datang menemuiku?"
"Kau tahu, nyonya Uchiha adalah orang yang cukup terpandang di kota ini. Jadi tak mungkin jika dia harus melibatkan dirinya langsung dalam melakukan kegiatan ilegal seperti Surrogancy. Karena itulah aku yang mewakilinya. Kau tak keberatan kan?"
"Jadi hingga saya melahirkan nanti, anda juga yang akan menemani saya?" tanya Sakura.
"Ya, begitulah. Bahkan nyonya Mikoto pun sudah menyewakan kita berdua sebuah rumah untuk masa mengandung sampai melahirkanmu. Dan tentunya jauh dari keluargamu dan keluarga Uchiha."
"Begitu rupanya."
"Sudahlah, jangan buang waktu lagi. Sekarang cepat masuklah ke ruang pemeriksaan. Dokter sudah menunggumu di dalam. Dan dia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Sperma tuan muda sudah tersimpan di dalam sana. Hanya tinggal ditanam saja di rahimmu. Setelah itu beres, dan kau mendapat uang untuk operasi ayahmu."
"Ba...Baiklah, saya tahu itu." kata Sakura dan segera memasuki ruang pemeriksaan dengan Naomi mengikuti dibelakangnya.
Butuh waktu kira-kira satu jam untuk proses penanaman sperma Itachi ke rahim Sakura. Awalnya Sakura memang merasa sakit ketika proses pemasukan sperma itu. Dan hingga saat ini rasa sakit dan nyeri masih dapat Sakura rasakan di bagian kewanitaannya. Namun rasa sakit itu hilang seketika saat dia ingat jika sebentar lagi dia akan segera memperoleh uang untuk operasi jantung sang ayah tercinta.
"Spermanya sudah tertanam dengan baik di rahim anda nona Haruno. Sekarang kita tinggal menunggu perkembangan selanjutnya. Jika berhasil, maka embrio akan segera tumbuh. Dan anda memulai proses mengandung." terang dokter pada Sakura.
"I...iya, dokter. Saya mengerti."
"Lalu kira-kira berapa lama kita bisa melihat hasilnya, dokter?" tanya Naomi pada sang dokter.
"Ehm, mungkin kurang lebih tiga minggu."
"Begitu ya, tidak terlalu lama juga. Benar kan, Sakura?"
"I...iya." jawab Sakura singkat.
"Dan saya sarankan, nona Sakura jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan yang berat dulu. Ini juga demi berhasilnya proses penanaman sperma itu."
"Kalau itu anda tak perlu khawatir, dokter. Saya pastikan saya akan menjaga kondisi Sakura dengan baik." kata Naomi.
"Iya, nyonya. Itu bagus."
"Baiklah, kalau begitu kami pamit pulang. Sampai jumpa, dokter." pamit Naomi.
"Ya, sampai jumpa lagi."
Skip Time.
Sakura sedang menikmati acara makan siangnya saat ini, saat tiba-tiba dia merasakan mual di perutnya yang langsung membuatnya berlari ke kamar mandi. Dan memuntahkan semua yang sudah dimakannya tadi.
"Hoek...hoek...!"
"Kau kenapa, Sakura? Apa kau sakit?" tanya Ino cemas melihat sahabat baiknya muntah-muntah.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya mual saja." jawab Sakura.
"Tapi wajahmu pucat sekali. Mungkin kau masuk angin?"
"Y...Ya, itu mungkin saja. Sebentar lagi aku pasti baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir."
"Sebaiknya kau ijin pulang saja, Sakura. Takutnya, nanti sakitmu akan semakin parah. Biar nanti saja aku yang mengijinkanmu pada manager Anko." kata Ino.
"Baiklah, terima kasih banyak Ino."
Sakura POV.
Aku benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada diriku. Tiba-tiba saja aku merasakan mual yang teramat sangat di perutku saat jam makan siang tadi. Perasaan, tadi di rumah aku baik-baik saja dan tak merasakan sakit apapun. Dan aku juga makan dengan teratur selama ini. Jadi kecil kemungkinan aku bisa sakit. Lalu ada apa sebenarnya denganku ?Tiga minggu ini aku terlambat datang bulan, padahal sebelumnya aku selalu rutin soal hal yang dialami wanita ini. Tapi kenapa kali ini terlambat ? Atau jangan-jangan aku...
Normal POV.
Telepon rumah kediaman Uchiha sore ini berdering, membuat Uchiha Mikoto yang sedang membaca buku pun mau tak mau beranjak dari posisinya dan terpaksa mengangkat benda berdering itu agar tak menimbulkan suara berisik lebih lama lagi dan mengganggu telinganya.
"Moshi...moshi, kediaman Uchiha disini. Dengan siapa aku bicara?" tanya Mikoto.
"Selamat sore, nyonya Mikoto. Saya Hiroshi Naomi. Saya punya berita bagus untuk anda." kata Naomi dari seberang telepon.
"Berita apa? Cepat katakan."
Itachi sedang duduk berdua dengan Sasuke sore ini sambil membicarakan bisnis keluarga mereka yang semakin mengalami kemajuan, saat tiba-tiba terdengar suara teriakan heboh dari ibu mereka, Uchiha Mikoto, mengagetkan kakak-adik itu.
"Itachi...!" teriak Mikoto memanggil nama putra pertamanya itu.
"Ada apa, bu? Kenapa ibu berteriak seperti itu? Apa ada yang terjadi?" tanya Itachi sedikit cemas.
"Iya, bu. Ada apa? Kenapa ibu memanggil kak Itachi sampai seperti itu? Mengagetkan saja." tambah Sasuke.
"Ada kabar gembira untukmu, sayang." jawab Mikoto.
"Kabar gembira apa, bu? Apa maksud ibu?" tanya Itachi tak mengerti dengan ucapan ibunya.
"Kau..."
"..."
"Akan jadi seorang ayah."
TBC
Fiuuu...uuuh ! Akhirnya selesai juga chapter 4. Sebenarnya aku sempat bingung mau nulis ceritanya gimana agar ga' berkesan aneh dan mudah dipahami oleh reader semua. Tapi aku bersyukur karena aku akhirnya bisa meneruskan fic ini. Dan ini semua berkat dukungan reader semua. Karena itulah Tabita ucapkan banyak terima kasih.
Balasan Review
Fuuyuki Azuka :
Gomen, sebenarnya Sakura tetap sama Sasuke. Tapi ada interaksinya juga kok sama Itachi. Ya walaupun dikit ^_^
Namikaze-Tania-Chan :
Tumben ga' login, tapi thankz udah mau review. Kamu memang rajin. He3.
rchrt :
Yang dipakai nanti sel telur Sakura. Karena disini ceritanya si Kurenai ga' subur alias mandul.
Renmi3 novanta :
Thankz a lot udah mau review lagi. Biar ga' semakin penasaran, Tabita udah upadate.
4ntk4-ch4n :
Jangan sedih gitu donk. Sakura tetap milik Sasuke seorang kok. He3.
VVVV :
Karena kamu bilang terharu, aku juga ikut terharu. Hik...hiks...
Namikaze-chan :
Spermanya cuma dimasukin aja kok. Jadi tanpa ada hubungan intim.
Maya :
Siiiap ! Ini udah update ^_^
QRen :
Tenang aja, ntar tetap SasuSaku kok endingnya.
Nakamura Kumiko-chan :
Thankz udah review lagi. Tetap sabar menunggu kejadian di luar dugaannya yach...ho3.
Leader Kimmi :
Udah diupdate nich. Thankz buat reviewnya.
Sky pea-chan :
Nie udah diupdate, biar kamu ga' penasaran lagi ^_^
Dan seperti biasa, Tabita minta review ya?
Please...V^_^
